Jumat, 04 Mei 2012

RESPEK MAKIN LANGKA (1 Tesalonika 5:12-15)

A. Tujuan : Mengajar Jemaat bagaimana bersikap respek dalam berelasi dan bergereja, khususnya terhadap para pelayan-pelayan Tuhan PENDAHULUAN Bila kita melihat pada bagian sebelumnya, Rasul Paulus menjelaskan mengenai kedatangan Tuhan (4:13-18). Namun tidak ada seorang pun yang tahu apakah Tuhan akan kembali hari ini atau di masa depan yang jauh. Karena itu rasul Paulus pada bagian-bagian berikutnya mengajar jemaat Kristen di Tesalonika untuk hidup berjaga-jaga sambil menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Salah satunya adalah pada bagian ini, di mana Jemaat di Tesalonika diajak oleh Rasul Paulus untuk selalu menghormati pemimpin mereka yang bekerja keras dalam pekerjaan Tuhan (12-13a). Para pemimpin dalam pekerjaan Tuhan mungkin adalah para penatua, yang memegang posisi kepemimpinan dan tanggung jawab agar semuanya berfungsi dengan lancar. Dimana tua-tua gereja bertugas memberikan pengawasan, perlindungan, disiplin, pengajaran, dan arah untuk orang percaya lainnya. Inilah alasan mengapa para pemimpin gereja perlu kita hormati. Hal ini jugalah yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada Timotius dalam 1 Timotius 5:17, “penatua-penatua yang baik kepemimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar.” Para pemimpin ini dihormati bukan karena rasa takut, tapi dengan cinta. Para pemimpin ini harus dihormati dan dicintai, bukan dengan rasa takut dan juga bukan hanya karena posisi dan tanggung jawab mereka. Tapi karena dedikasi pekerjaan atau pelayanan yang mereka lakukan. Ketika orang beriman menghormati para pemimpin, dan bergabung dalam kerajaan Allah, maka gereja akan bertumbuh. Perintah “menghormati pemimpin” ini muncul mungkin karena kekhawatiran Paulus mengenai kurangnya rasa hormat orang Kristen terhadap para pemimpin mereka. Kalau kita membaca buku “Pendetaku seperti Superman,” di sana dikatakan: Jika ia berusia muda, ia dianggap kurang berpengalaman; namun jika rambutnya telah memutih, ia dianggap terlalu tua bagi kaum muda. Jika ia dikaruniai lima atau enam anak, ia dianggap tidak tahu diri; namun jika ia tidak punya anak, ia dianggap memberi teladan yang buruk. Jika ia berkhotbah dengan catatan, maka dicap kurang persiapan namun jika ia tidak memakai catatan ia dianggap tidak persiapan. Jika ia memakai terlalu banyak Ilustrasi dalam khotbahnya, ia dianggap mengabaikan Alkitab; namun jika ia tidak memasukkan kisah nyata dalam khotbahnya, maka jemaat akan bingung dan tidak mengerti. Bagi Jemaat, pendeta yang ideal adalah: Ia harus seorang yang mengerti Mandarin, terutama mereka yang melayani di gereja berbahasa Mandarin. Ia harus fasih berbicara supaya kaum muda dapat merasa tertarik dan mengerti khotbahnya. Ia harus seorang yang mendalami Alkitab dengan sungguh-sungguh, penuh semangat dan kasih. Ia harus memiliki kepribadian yang menarik dan dan enak dipandang, supaya kalau khotbahnya membuat ngantuk, jemaat masih terhibur melihat kecantikan dan ketampanan hamba Tuhannya. BISS, tanpa melalui buku ini pun, kita menyadari bahwa kehidupan seorang hamba Tuhan begitu disorot dan seringkali menjadi sasaran kritikan jemaat. Tapi biasanya kritikan itu akan hilang ketika jemaat melihat dedikasi, kerendahan hati dan kelembutan kita di dalam pelayanan dan menghadapi jemaat. Namun yang patut kita renungkan melalui bagian Firman Tuhan ini adalah mengapa banyak jemaat saat ini yang kurang memberikan penghormatan kepada pemimpin jemaat? Dan bagaimana kita sebagai pemimpin-pemimpin jemaat menyikapi hal tersebut? B. Penghormatan bukan hanya karena yang ada di luar orang tersebut, tetapi juga karena yang ada di dalam diri seseorang. Harus ada integritas, karena ketika seseorang respek ada syarat untuk dipenuhi untuk seseorang dapat respek. C. Orang akan respek ketika seseorang bekerja keras, bekerja keras melakukan firman Tuhan, menjadi teladan. Orang yang tidak menghormati hamba Tuhan, biasanya hidupnya tidak diberkati. Tuntutan jemaat terhadap hamba Tuhan sangat tinggi sekali. Paulus ingin membawa jemaat bahwa sekalipun hamba Tuhan tidak sempurna, namun tetap harus dihormati. Kita perlu menjaga diri kita, namun jangan sampai menyenangkan manusia. D. Yang paling penting bagaimana jemaat menghormati kita, tetapi kita bagaimana kita saling menghormati. Roma 12:10, tujuan saling menghormati agar membangun suasana jemaat yang kondusif. Supaya dalam gereja ada suasana yang kondusif, menggairahkan jemaat untuk beribadah. Jika daa seseorang yang tidak respek, mereka perlu ditegor. Sebagai pemimpin harus memiliki kesabaran. Usahakanlah senantiasa yang baik terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang. Gereja membutuhkan keteladanan dari pemimpin. E. Hormatilah mereka, dalam terjemahan aslinya adalah “your leader”, pemimpin ada di mana-mana, bukan hanya ada di gereja, tetapi juga ada di rumah tangga, dll. Seringkali seseorang respek kepada orang yang kaya, punya kuasa, dll. Paulus mencoba membangun respek di dalam konteks yang luar biasa. Ketika kita hidup, bagaimana kita hidup dihadapan Tuhan. Ketika kita hidup di hadapan Tuhan, respek itu akan muncul, orang yang hidup di hadapan Tuhan pasti dia akan: 1. Bekerja keras (memiliki etos kerja melebihi pekerja-pekerja biasa), 2. Hidup benar 3. Menghibur hati yang tawar 4. Mengusahakan yang baik (ay. 15)  berhubungan dengan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. F. Respek bisa datang dari diri hamba Tuhan sendiri, jemaat, dll. Berdasarkan nats ini respek bisa muncul dari beberapa hal. Saling menasihati, saling membangun, saling menghormati yang bekerja keras, saling menegur, saling menghibur, dll. Bagaimana kita membawa diri, sehingga itu bisa membawa respek dari orang lain. Ketika kita mengerjakan segala sesuatu, kita harus menyenangkan hati Tuhan bukan menyenangkan manusia. Jangan menjadi rata-rata, tetapi harus lebih dari rata-rata. G. Yang penting itu bukan menuntut orang untuk menghormati kita, tetapi pikirkanlah bagaimana agar orang lain menghormati dan menghargai kita. H. Respek itu datang dari diri sendiri. Yaitu dengan disiplin terhadap diri sendiri. Seorang pempin juga harus memiliki compasion. Ay. 15 mengatakan bahwa seorang pemimpin harus tulus. Seorang pemipin jika ingin orang lain respek maka harus datang dari diri sendiri terlebih dahulu. I. Kita harus membedakan antara 2 ekstrem: disukai dan ditakuti. Jadi respek tidak sama dengan disukai dan ditakuti. Tetapi bagaimana seseorang respek itulah yang sulit. Respek itu muncul ketika seseorang memiliki integritas, memiliki prinsip hidup, teladan hidup. Respek itu muncul mungkin bukan hari ini, tetapi nanti ketika kita menghasilkan sesuatu J. Jemaat akan menghormati hamba Tuhan jika memiliki beberapa aspek utama : 1. Vocation is not vacation. Vocation adalah kata dari bahasa latin voco = I call = saya memanggil. Panggilan Tuhan akan memberi arah yang jelas bagi hidupnya. Vacation = berlibur atau mencari kesenangan. Sebaliknya, pergumulan dan perjuangan yang berat dapat dilalui karena berpijak pada panggilan. 2. Intergity makes Character. Kepribadian yang serupa dengan Kristus, lembut namun tegas, kemana Ia pergi akan selalu menjadi berkat. 3. Comitment makes concistency. Menunjukkan mau bekerja keras dan tanggung jawab dalam penggembalaa, fokus pada rela bayar harga bukan pasang harga. Improvement makes Development. Di tengah tantangan hidup yang selalu berubah dan berkembang, maka hamba Tuhan harus mampu menjawab tantangan itu dengan meng “up date” diri dan selalu menjadi berkat dalam konteks kekinian. K. Paulus mengatakan “kami minta kepadamu”, tetapi paulus mengatakan bahwa “kami minta untuk mereka”. Minta kepada mereka supaya menghormati mereka yang bekerja keras. Minta itu berarti dalam satu posisi sepertinya lemah, tetapi ini permintaan yang kudus. Kita perlu merenungkan Paulus lebih dalam, sehingga dia berani mengatakan hal ini. Begitu juga dengan kita semua. L. Setiap manusia memiliki sifat alamiah ingin dihargai atau dihormati. Keinginan mendapat penghormatan atau penghargaan didorong oleh perasaaan untuk mendapat pengakuan. Merasa diakui, keberadaannya diperhitungkan, merupakan sesuatu yang harus diperhatikan dalam menjalin hubungan antar pribadi di rumah, tempat kerja, atau organisasi. Ada lima kategori pribadi yang harus kita hormati: 1. Allah; 2. Orangtua jasmani; 3. Pemerintah; 4. Atasan/majikan; 5. Gembala/pemimpin rohani. Perikop ini ditujukan kepada orang Kristen di gereja. Pemimpin-pemimpin gereja dimaksud di sini adalah para tua-tua (elders) gereja. Mereka bekerja keras menyediakan pelayanan penggembalaan (pastoral care) bagi para umat. Mereka adalah para pemimpin rohani (spiritual leaders) di gereja dan mereka bertanggung jawab kepada Allah atas apa yang dipercayakan (Ibr. 13:7). Ada tiga nasihat kepada jemaat gereja terkait dengan sikap mereka terhadap para pemimpin gereja. 1. Mereka harus menghormati pemimpin rohani (1Tes. 5:12). Istilah “eidenai” artinya to know, termasuk apresiasi dan respek kepada pemimpin dan pekerjaan mereka. 2. Mereka perlu menjunjung tinggi pemimpin rohani demi pekerjaan mereka (Ibr. 13:17) (hold them in the highest regard). Mengapa memberi respek? Karena mereka melakukan pelayanan yang baik kepada jemaat; ingat pengajaran (teaching) mereka; ingat tanggung jawab mereka kepada Allah; ingat tugas penggembalaan/pastoral care mereka. Karena itu, mereka perlu dihargai dan dikasihi. Paulus tidak katakan berikan beberapa respek, tetapi berikan respek yang tertinggi kepada pemimpin rohani. Itu berasal dari hati yang mengasihi mereka, karena pekerjaan mereka. 3. Hidup damai satu dengan yang lain (1Tes. 5:13). Ini adalah buah atau hasil dari ketaatan kepada instruksi terdahulu. Intinya memelihara damai lebih penting daripada mengusahakan damai itu. Kondisi yang damai terdapat di jemaat di Tesalonika, namun mereka tetap harus memelihara dan melanjutkan damai itu agar tidak hilang. Ini adalah perintah. Banyak perselisihan yang terjadi digereja sekarang terjadi karena jemaat tidak mentaati perintah ini. M. Pada bagian ini, Rasul Paulus mengajak jemaat Tesalonika menghormati para pemimpin yang telah berjerih payah membimbing mereka mengenal Kristus. Para pemimpin itu tidak selalu tampil simpatik. Kadang mereka harus menegur jemaat yang hidup tidak tertib (ayat 12,14). Sebuah teguran bisa menyakitkan, mendorong, atau Membuka aib. Yang ditegur bisa terpancing untuk balas melukai hati pemimpinnya. Paulus melarang sikap itu. Ia meminta jemaat terus mendukung pemimpin mereka dalam kasih dan damai (ayat 13). Kalau ada hati untuk saling memaafkan, mengampuni maka akan muncul damai dihati satu dengan lainnya. Paulus meminta jemaat untuk menaruh hormat bukan karena pribadi sang pemimpin, melainkan karena mereka melakukan pekerjaan yang Tuhan percayakan kepadanya. Sudahkah Anda menaruh hormat pada mereka yang telah memimpin Anda mengenal Kristus? Bagaimana Anda bisa menunjukkan rasa respek dan dukungan secara nyata? Mana yang lebih sering Anda lakukan: menghargai atau mencela mereka? N. Paulus menasihati jemaat Tesalonika agar menghormati para pemimpin yg telah bekerja sesuai dengan jabatannya. Karena tugas mereka adalah membimbing dan memberi nasihat kepada jemaatnya. Selain itu, tugas mereka adalah membaw kesejahteraan bagi jiwa jemaat. Karena itu, para jemaat harus bidup dalam damai sejahtera, memberi spirit kepada mereka yg lelah dan tawar hati, membela yg lemah & melakukan hal yg baik. O. Kehidupan para hamba Tuhan diwarnai empat hal: kesepian, rasa terisolasi, rasa tidak aman, dan rasa tidak mampu. Penyebabnya, mereka dituntut banyak, tetapi dihargai terlalu sedikit. Mereka harus terlihat “tanpa dosa”. Sedikit berbuat kesalahan membuatnya jadi bahan omongan. Sebaliknya, kerja keras dan pengorbanannya kerap dianggap biasa. Sudah lumrah. “Miskinnya pujian dan penghargaan membuat 80% pendeta pernah berpikir pindah dari gerejanya,” ujar Jane Rubietta, penulis buku Bagaimana Memperhatikan Pendeta yang Anda