Jumat, 27 April 2012

PEKERJAANKU ADALAH MISIKU (Titus 2:6-10)

Tujuan: Memotivasi jemaat agar menjadikan pekerjaan, profesi, karir sebagai bagian hidup untuk bermisi dan bersaksi bagi Kristus. Pendahuluan Surat Titus merupakan surat Paulus yang secara khusus dan pribadi ditujukan kepada pengikutnya yang setia bernama Titus. Sebagaimana informasi pada 1:5, Paulus menempatkan Titus dalam perjalanan misinya guna mengatur dan melayani jemaat di Kreta. Tugas pertamanya ialah menetapkan para penatua-penatua dengan syarat jelas dari Paulus yang berperan sebagai “penilik” jemaat mengajar, membina, dan memimpin kehidupan jemaat Kreta agar hidup baik dan benar di hadapan Allah dan juga sesama manusia. Mengapa hal ini begitu penting? Sebagaimana yang Paulus amati, kehidupan orang-orang Kreta saat itu sudah tidak tertib lagi (ay. 10). Bahkan yang tidak tertib tersebut adalah orang-orang yang berpegang pada “hukum sunat”; pengikut fanatisme hukum taurat. Apa yang mereka lakukan? Dikatakan mereka mengajarkan hal yang salah dengan motivasi mendapat untung (ay. 11). Dan masih mengikuti hukum manusia yang berpaling pada kebenaran (ay. 14). Akibatnya, bagi mereka semua yang ada di dunia ini tidak ada yang suci sebab kedegilan dan kenajisan hati mereka (ay. 15). Di tengah persoalan seperti ini, Paulus rindu Titus sebagai hamba Tuhan yang setia tetap mengajarkan sesuai dengan ajaran yang sehat, dimana ia mengajak setiap jemaat Tuhan di Kreta tetap hidup tertib (ay. 1-5). Secara khusus Paulus ingin Titus pun menjadi teladan hidup yang berbicara secara nyata dan jelas bagi orang-orang di Kreta sehingga tiap mereka “dalam segala hal memuliakan Allah” (ay. 10). Jika ditanya, apakah konteks permasalahan jemaat di Kreta juga dialami oleh jemaat Tuhan saat ini? Tentu saja iya. Tidak sedikit diantara orang Kristen pun menganut “ajaran-ajaran hukum sunat” ini yang berusaha memisahkan antara apa yang rohani dan apa yang duniawi (profan). Bagi mereka bekerja adalah hal duniawi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal rohani (baca: sekuler). Akibatnya mereka tidak lagi menikmati dan menganggap pekerjaan sebagai anugerah Tuhan bagi setiap orang percaya. Tulisan Paulus kepada Titus mengajak setiap orang percaya menikmati anugerah Tuhan yang begitu luar biasa. Anugerah Tuhan sebagaimana dijelaskan Paulus (2:11) merupakan dasar bagi tiap orang percaya untuk hidup benar di hadapan Tuhan, serta melakukan apa yang baik dan berkenan bagi semua orang, sehingga setiap pekerjaan mereka pun dapat dikatakan sebagai wujud melayani Tuhan. Dengan demikian, setiap pekerjaan apa pun setidaknya merupakan kesempatan bagi tiap orang percaya menyatakan kesaksian yang benar, dimana Kristus benar-benar hadir dalam hidup setiap mereka. A. Berbicara mengenai etos kerja sebagai kesaksian hidup. Di dalam ayat 9 ditekankan bagaimana seharusnya seorang pekerja itu melakukan tugasnya di dalam Tuhan dan memuliakan Tuhan. Di dalam ayat 2 pekerja harus menjaga integritas diri. Mengupas beberapa bagian etika Kristen di dalam pekerjaan . B. 1. Remaja memiliki 2 ekstrim : yang sadar akan Tuhan dan yang tidak sadar akan Tuhan. 2. Tuhan ingin memakai remaja di dalam kehidupannya untuk menjadi alat di tangan Tuhan. Banyak tokoh di alkitab yang dalam usia remaja mereka dipakai oleh Tuhan untuk menjadi teladan bagi orang – orang di sekitarnya. 3. Kehidupan remaja khususnya di sekolah dapat dipakai menjadi tempat dimana Tuhan akan menjadikan mereka menjadi saksi untuk Tuhan. C. Remaja menyadari bahwa pelayanan mereka tidak hanya di gereja, tetapi di sekolah juga adalah sebuah pelayanan. D. Manusia terkadang memisahkan kerja dan pelayanan, sebagai suatu yang rohani dan tidak rohani. Tetapi harus mempertahankan identitas hidup sebagai umat Tuhan. Sehingga di tempat pekerjaan pun harus dapat menjadi orang yang tidak bercela, dan memuliakan nama Tuhan. E. Standard hidup kerajaan sorga ( ayat 10 ) harus jelas dan tegas. Integritas hidup orang Kristen harus nampak, untuk membayar harga bagi Tuhan. F. Situasi, keadaan waktu surat Titus ditulis tidak berbeda jauh dengan keadaan hari ini, hidup dalam kemalasan, kesombongan, dan lain – lain, dan hari ini juga banyak orang berjalan didorong oleh situasi arus dunia. Bagian ini adalah agar Titus dapat menjadi saksi Kristus. (1) Penguasaan diri. Napoleon : “apabila orang tidak bisa memimpin dirinya sendiri maka dia tidak akan bisa memimpin orang lain.” (2) Teladan mampu menggerakkan dunia, untuk mengubah apapun. Teladan remaja akan membawa teman mereka hidup di dalam Kristus. (3) Ketaatan, remaja seringkali menghadapi ajaran-ajaran yang tidak benar, dan mereka seharusnya tetap taat di dalam Firman Tuhan untuk dapat dilihat oleh dunia sebagai sebuah kesaksian. G. (1) Di dalam misi kita sebagai orang percaya, adalah penguasaan diri ( ayat 5 ) (2) Menjadi teladan ( ayat 9 ) Dari penguasaan diri maka akan memunculkan sebuah keteladanan. Banyak hal yang tidak terbentuk dalam ketertiban ( pasal 1 : 10 ), mengajarkan yang tidak benar ( ayat 11), kebohongan, iman mereka tidak sehat. Orang percaya harus tertib, dan mengajarkan yang baik, tulus, tidak curang, dan memiliki iman yang sehat. H. (1) Tuhan tidak meminta Dia yang nomor satu tetapi satu – satunya (2) Tuhan ingin kita melakukan panggilan kita sebagai orang percaya yang memiliki integritas sebagai umat Tuhan, untuk menunjukkan pada orang lain bahwa kita memuliakan Tuhan I. Memotivasi jemaat agar menjadikan pekerjaan, profesi dan karir sebagai bagian hidup untuk bermisi dan bersaksi bagi Kristus. Kekristenan bukan sekedar embel-embel rohani. Juga bukan sekadar filsafat yang bagus. Kekristenan adalah kehidupan. Sesuatu yang dijalani 24 jam sehari dan 365 hari setahun. Iman seorang Kristen mempunyai relasi dengan pekerjaannya sehari-hari. Kadangkala ada jurang pemisah yang lebar yang memisahkan antara kebaktian gereja pada hari minggu pagi dari kegiatan ditempat kerja dari hari senin sampai sabtu. Gereja ya gereja dan pekerjaan ya pekerjaan. Dalam PB, Tuhan tidak menggambarkan kehidupan Kristen sebagai sesuatu yang terbagi dua menjadi kudus dan sekuler. Sebaliknya menyatakan bahwa kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang utuh, yang dapat dipakai untuk melayani Tuhan tanpa mendua hati sekalipun dalam pekerjaan kita sehari-hari. Dalam Titus 2:9-10, Paulus berbicara mengenai kewajiban seorang hamba terhadap tuannya. Peran seorang hamba Kristen di gereja pada abab pertama sangat signifikan sebagai bentuk tanggung jawab memuliakan dan menghormati Allah melalui hidup mereka. Di 1Tim. 6:1-2, Paulus juga berbicara soal peran seorang hamba terhadap tuanya. Dalam konteks hidup menjadi berkat itulah Paulus mendorong Titus agar menasehati jemaat yang dilayaninya yang ada di daerah Kreta, khususnya yang menjadi hamba agar hidup menjadi berkat. Ada lima kualitas karakter orang Kristen yang melayani sebagai hamba. 1. Mentaati tuannya dalam segala hal (tobe subject to their servan in everything). Tanggung jawab seorang hamba adalah tunduk kepada tuan mereka. Paulus menasehati para hamba dan tuan saling mengasihi dan bertanggung jawab atas sikap mereka (Ef. 6:5-9). 2. Mencoba menyenangkan hati tuannya (to try to please them). Sebagai hamba Kristus; dengan segenab hati lakukan kehendak Allah (Ef. 6:6). Tidak hanya ketika dilihat tuannya, tetapi sekalipun tidak dilihat. Apakah anda memperlakukan karyawanmu sebagai manusia bukan mesin? 3. Tidak membantah perintah tuannya (not to talk back to them). Pada zaman kekaisaran Romawi ada jutaan budak di sana. Sebagian budak dan para tuan sudah menjadi Kristen. Paulus menekankan akan relasi yang harmonis antara para hamba dengan tuan mereka. Paulus ajarkan soal integritas dan dan tanggung jawab dalam pekerjaan. 4. Rajin dan suka Bekerja keras. Tugas seorang hamba atau karyawan yang adalah menunjukkan sikap yang rajin dan suka bekerja keras. Ini adalah tanggung jawab seorang karyawan kepada majikannya. Pekerja Kristen harus melakukan pekerjaan mereka seperti untuk Kristus. Bos Kristen harus memperlakukan karyawan mereka dengan adil dan hormat. Salomo mengajar kita agar belajar kepada semut yang meskipun kecil, tetapi rajin dan kerja keras (Ams. 6:6-11). Paulus ajarkan kita jika mau makan, maka harus bekerja (2Tes. 3:10). Apakah anda tetap bekerja keras dan tetap antusias, tetkala majikan tidak melihat anda? 5. Menunjukkan sikap jujur dan dapat dipercaya (2:7) (they can be fully trusted). Seorang hamba harus menjauhkan diri dari kebiasaan mencuri (2:10). Apakah anda orang yang dapat dipercaya untuk melakukan pekerjaan yang baik, ketika tidak ada bos di sana? Alkitab berkata bahwa siapa setia dalam perkara yang kecil, maka kepadanya akan dipercayakan perkara yang besar (Mat. 25:21,23). Dari perspektif Kristen (kerajaan Allah), seorang hamba Kristen melayani tuannya di duniawi, harus dipahami sebagai bentuk pelayanan yang ditujukan seperti melayani Kristus (Kol. 3:23-24). Karena itu, harus memiliki sikap yang setia, rajin, jujur, kerja keras, miliki loyalitas yang tinggi kepada majikan kita. J. Kita tidak bisa memiliki pola hidup secara ganda (seperti bunglon), dimana antara kehidupan rohani dan sekuler kita pisahkan. Banyak orang, khususnya orang Kristen, yang memiliki peran ganda dalam hidupnya, ketika dalam lingkungan Gereja atau pelayanan memiliki pola hidup yang baik, tetapi di dalam kehidupan umum berubah secara total, hidup bebas tanpa ada aturan. Sehingga kita menjadi orang munafik, penuh dengan kepura-puraan dalam menjalankan hidup. Bahkan terlalu banyak topeng-topeng yang kita kenakan dalam hidup kita. Ayat 6, mengingatkan kepada setiap kita untuk menguasai diri dalam segala hal. Artinya tidak ada ruang dalam diri kita yang tersembunyi, tertutupi oleh dosa atau tabiat dosa. Kita harus memiliki integritas di dalam hidup kita sehingga menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekitar kita. K. Pola pikir seseorang biasanya akan mempengaruhi pola hidupnya. Paulus mengingatkan Titus agar menguasai diri, bisa menjadi teladan dan hidup dalam keindahan. Dengan demikian Titus akan menjadi hamba Tuhan yang dihormati dan dihargai oleh jemaat yang dilayaninya. Paulus sangat mengaharapkan Titus melayani dengan hati dan hidupnya, sehingga pekerjaannya menyatakan kemuliaan Allah. L. Dunia kerja adalah panggilan ilahi untuk kita menjadi terang dan garam. Orang Kristen suka terbalik. Untuk itu, ada 3 hal 1. Ayat 6 menguasai diri dalam segala hal untuk membangun kualitas hidup. Kita akan belajar banyak, kalau kita bisa menguasai diri untuk tidak melakukan apa yang kita mau. Itu yang banyak kali terjadi. Kita tidak belajar karena yang kita lakukan adalah yang kita mau dan yang kita suka. Seorang yang akan menjadi pekerja yang baik dapat bekerja dengan maksimal kalau dia memperlengkapi dirinya untuk belajar dalam segala hal menjadi orang yang berkualitas. 2. Ayat 7 menjadi teladan dalam berbuat kebenaran. Untuk menunjukkan kualitas hidup. Jadi seorang yang bekerja, dimanapun, hal yang mutlak adalah menjadi teladan di dalam kebenaran, sebagai suatu kualitas hidup yang ada pada dirinya. Jadi kualitas hidup seseorang ditunjukkan melalui teladan hidup. 3. Ayat 9 taat pada pimpinan. Ini menunjukkan wujud kualitas hidup. Taat pada pimpinan bukan karena takut kepada pimpinan, tetapi karena takut kepada Tuhan. kalau ternyata apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan pimpinan, itu bukan urusan kita, yang harus kita perdulikan adalah bagaimana menyenangkan Tuhan. kualitas hidup yang kita miliki itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa ditutupi dan tidak bisa dikelabui atau dimanipulasi oleh siapapun juga. Jadi pekerjaanku adalah misiku, jadi dengan pekerjaan bisa bersaksi dan memperkenalkan kristus. M. Hidup kita kadang-kadang sama seperti lingkaran, yang diulang tidak ada habis-habisnya. Pagi-pagi bekerja. Tetapi bekerja untuk apa? Untuk dapat uang. Untuk dapat uang untuk apa? Untuk beli makanan, dst. apakah kita bekerja hanya untuk mencari makan? Atau kita makan untuk bekerja? Apa sich bekerja itu? untuk siapa kita bekerja? Kata bekerja di dalam PL artinya sama dengan beribadah. Jadi kita bekerja ya, kita beribadah. Seringkali ada pemisahan-pemisahan yang rohani itu yang dilakukan di dalam gereja, atau yang tidak sehari-hari. Dan yang sehari-hari bagi kita adalah duniawi. Kalau duniawi, maka kita tidak bisa berjumpa dengan Allah. Calvin menekankan bahwa tiap jenis pekerjaan adalah penetapan dan panggilan dari Allah. jadi Tuhan menetapkan tugas-tugas bagi setiap orang menurut jalan hidupnya masing-masing. tidak ada pekerjaan apapun betapa pun kecil dan hinanya itu berharga di mata Tuhan. jadi di dalam ajarannya Calvin mengatakan bahwa pekerjaan itu adalah penetapan dari Tuhan. itulah sebabnya, melalui pekerjaan kita harus mendatangkan faedah bukan hanya bagi keberlangsungan hidup bagi diri kita sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain. jadi melalui pekerjaan kita membawa misi Allah. N. Ada ajaran agama tertentu yang membedakan jasmani maupun rohani. Yang masing-masing tidak tercampur seperti air dan minyak. Demikian juga ajaran Gnostik membedakan yang jasmani maupun rohani. Bahkan ada orang Kristen yang juga membedakan jasmani maupun rohani, ada pekerjaan jasmani ada pekerjaan rohani. Hal tersebut tidak sesuai dengan jaran Alkitab. Dimana tidak ada perbedaan antara jasmani dan rohani. Semuanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak ada pemisahan antara pekerja jasmani maupun rohani. Kolose 3:17, 23 menjelaskan tentang apapun yang dilakukan lakukanlah untuk Tuhan. jadi, kita sebagai orang percaya, harus menjadi saksi bagi Tuhan dalam pekerjaan kita dan harus menjadi misi kita. Dalam pekerjaan dan misi kita, kita harus menguasai diri dalam segala hal. Menjadi teladan dalam berbuat baik, jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaran, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaan, taat, tidak curang, selalu tulus dan setia dalam segala hal untuk memuliakan Allah. O. Jadi kita kalau bekerja, bukan hanya untuk menyenangkan bos kita, tetapi kita bertanggungjawab kepada Tuhan. P. Berpikir tentang spiritualitas dan kerja. Spiritualitas biasanya terlepas dari kerja, dan biasanya hanya dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya rohani, misalnya ibadah, pelayanan, dsb. Memang gereja sebelum reformasi itu memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang sifatnya duniawi. Tetapi harusnya spiritualitas bukan saja mewarnai kerja, tetapi harus mendasari kerja itu. sehingga spiritualitas itu bisa terintegrasi di dalam pekerjaan. Dan punya kaitan dengan yang sangat erat pekerjaan. Orang yang punya spiritualitas yang semakin baik, harusnya punya pandangannya yang semakin baik tentang pekerjaan. Jadi tempat kerja adalah tempat kita menaruh pelita kita, untuk menjadi garam dan terang dan memuliakan Tuhan melalui pekerjaan kita. Setelah reformasi, mengubah wajah dan seluruh dunia. Waktu itu terutama peradaban eropa, bahwa bekerja tidak lagi sebagai sesuatu yang duniawi, tetapi dihayati sama mulianya dan derajatnya. Pekerjaan dipandang sebagai panggilan Allah. spiritualitas yang teintegrasi harus menyangkut : 1. Head / Kepala – mendapat pengajaran Kristen yang benar dan sehat 2. Heart / Hati – punya kerinduan dan keinginan untuk menerapkan kebenaran yang sehat itu dalam kehidupan sehari-hari. 3. Hand / Tangan – punya kemampuan untuk memberikan teladan kepada orang lain. (Matius 5:16) Q. Pekerjaan adalah panggilan Allah bagi setiap pribadi manusia. sebab Allah juga masih juga bekerja dan terus bekerja. Tujuan pekerjaan menentukan bagaimana sikap seseorang dalam bekerja. Kalau hanya cari uang, ya curang. Para ahli psikolog pernah berkata : ukuran seorang yang normal akan nampak dari pekerjaan dan tanggungjawabnya. Untuk itu ada 3 hal : 1. Misi dalam pribadi. Tiap2 orang harus punya misi dalam pribadinya masing2, sehingga misi itu akan menjadi dasar dari seluruh hidupnya. Laki-laki tua, harus punya misi hidup sederhana, terhormat, sehat dalam kasih, bijaksana, sehat dalam iman, tekun. Ini harus ada seorang laki-laki yang dewasa. Perempuan yang dewasa harus hidup beribadah, jangan suka fitnah, jangan jadi hamba anggur, cakap mengajar, mampu mendidik perempuan muda supaya mengasihi suami dan anak, hidup bijaksana, suci, rajin atur rumah tangga, baik hati, dan taat kepada suami. Orang muda, supaya mereka hidup benar-benar dengan panggilannya. 2. Misi dalam pekerjaan. Menyangkut karakter. Dia harus menjadi teladan, hierarki atau organisasi sangat penting. Sebab dalam hal ini, jika kita punya sikap dalam hierarki ini, kita tenang. 3. Misi dalam memuliakan Tuhan. ayat 9-10. a. Tanggung jawab b. Relasi antara pribadi dengan pribadi, relasi dengan pekerjaan. R. Kita harus memikirkan keberadaan kita, bagaimana tingkah laku kita dalam bagaimana bekerja. Baik jadi tuan maupun sebagai karyawan. Kalau jadi tuan bagaimana memperlakukan karyawan kita, begitu sebaliknya. Jadi dalam pekerjaan kita, kita bisa menjadi saksi bagi Tuhan. jadi waktu orang melihat, mereka melihat bahwa kita berbeda dengan orang-orang di dunia dan ini menjadi daya tarik bagi mereka. Ayat 8 dengan jelas mengatakan. Jadi pekerjaan kita bisa menjadi suatu daya tarik bagi mereka. S. Rasul Paulus meninggalkan Titus di pulau Kreta dengan tujuan supaya mengatur apa yang masih perlu diatur dan menetapkan penatua di setiap kota (Titus 1:5). Mereka haruslah memiliki kedewasaan rohani di dalam jemaat. Untuk menetapkan aturan di dalam gereja, Paulus memberikan instruksi kepada Titus untuk memperhatikan tingkah laku dari jemaat. Titus diinstruksikan untuk menantang supaya jemaat memiliki gaya hidup yang suci. Realita kehidupan kota Kreta : Titus 1:10-16. Kreta adalah kota yang sangat buruk. Lalu apa yang harusnya dilakukan oleh orang yang mengenal Kristus? Realita hidup orang Kristen dalam pekerjaan : apa yang membedakan orang Kristen bekerja dengan orang yang tidak Kristen dalam bekerja. - Menjadi orang yang baik tidaklah cukup. - Menjadi orang yang bermoral tidaklah cukup. - Menjadi orang yang beragama tidaklah cukup. - Haruslah mengalami hidup yang baru alias lahir baru. Bdk. Yoh 3:3 - Lalu bagaimana supaya hidup sebagai ciptaan yang baru itu menjadi sesuatu yang berguna? Live it. Hidupilah itu di dalam hidupmu sehari-hari. Bdk. Matius 12:33 dari buahnyalah pohon itu dikenal. Lalu apa yang harus dilakukan secara praktis : 1. Exhortation / memberi nasihat (ayat 6) – perkataan 2. Example / memberi contoh (ayat 7) – perbuatan C. H. Spurgeon : Hidup seseorang akan selalu lebih berbicara dibandingkan apa yang sedang dia bicarakan. Ketika seseorang memperhitungkan dia, maka mereka akan menghitung perbuatannya seperti uang satu dollar, dan perkataanya seperti uang satu sen. Jika hidup dan pengajaranya tidak seimbang, maka orang akan menerima apa yang dilakukan dalam hidupnya dan menolak pengajarannya. 3. Effect / memberi dampak (ayat 8) – perubahan. Dampak ini bisa terwujud jika hidup seseorang baik perkataan dan perbuatan itu terintegrasi dengan benar.