Jumat, 16 Maret 2012

Sharing and Caring; Just Do It (I Korintus 3:1-9)

A.
Persoalan jemaat di Korintus adalah terjadinya pengkotak-kotakkan atau klasifikasi, pembedaaan sepert ini ada di dalam gereja manapun, di dalam misi tidak ada pembedaan ini, kita mungkin bias beda dalam fungsi struktural dan fungsi yang lain tetapi tugas penginjilan adalah sama. Gerakan kaum awam yang menggerakkan misi penginjilan sedang bergerak. Di dalam misi Allah tidak ada klasifikasi tetapi semua bertanggung jawab dalam misiTuhan sekalipun kaum awam. Dapat dikaitkan dalam Filipi 1:15, yang terpenting adalah injil diberitakan. Saksikan Kristus dalam hidup setiap kita. Just Do It!

B.
Paulus berbicara dari kehidupan jemaat yang nyata dari Korintus adalah mereka mengalami perpecahan. Yang menarik adalah ayat 1 “aku saudara-saudara”. Paulus tetap melihat mereka sebagai saudara. Di dalam ayat 1 ini adalah kelanjutan dari pasal ke-2 menggunakan kata ganti aku, menunjukkan bahwa rasul Paulus menjelaskan kehidupan nasrani yang benar. Dalam ayat ke-3 menunjukkan adanya permasalahan dalam kehidupan dan iri hati serta perselisihan adalah manusia lama bukan orang Kristen yang dewasa. Kata tetapi merupakan penekanan yang kuat untuk menekankan orang yang masih bayi atau dewasa.Orang Kristen adalah orang yang bukan hanya KTP tetapi merupakan Kristus yang menjadi pusat seluruh kehidupan. Setiap hati yang percaya kepada Kristus adalah pemberita injil tetapi setiap hati yang belum percaya Kristus adalah ladang Allah.

C.
Dalam konteksnya adalah jemaat di Korintus terjadi ke-tidak sinkron-an, ada yang menjadi pengikut Paulus ada yang menjadi pengikutApolos. Paulus melihat bahwa kondisi yang demikian menjadikan gereja tidak memiliki fokus yang sama, seharusnya fokusnya adalah gereja menjadi pewaris bahkan pemberita injil, dalam kondisi inilah Paulus mengirimkan surat kepada jemaat untuk kembali kepada panggilan injil ini.
1. Setiap orang Kristen adalah hamba (ay.5) Paulus ingin mengatakan bahwa kita semua hanyalah seorang pelayan, tidak lebih maupun kurang dan dipakai Tuhan untuk membawa orang-orang kepada Kristus. Seharusnya kalau kesadaran bahwa kita adalah pelayan Tuhan maka tidak ada yang menggagap siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Menjadi pelayan Tuhan adalah sesuatu yang istimewa.
2. Paulus ingin mengatakan bahwa setiap orang percaya harus tahu bahwa hanya Tuhan yang membuat pertumbuhan (ay.6) bukan Paulus atau Apolos bahkanPetrus yang membuat pertumbuhan tetapi hanya Tuhan yang membuat, artinya semua itu harus difokuskan kepada Tuhan. Setiap yang sudah dilakukan harus meminta Tuhan yang memberikan pertumbuhan. Jadi apakah itu menanam, menyiram harus malah dari hati kita dan semuanya pada akhirnya tidak ada gunanya kalau Tuhan tidak memberikan pertumbuhan. Kehebatan dan strategi kita dalam pelayanan gereja tidak akan jalan kalau tidak bergantung kepada Tuhan. Dalam setiap aspek harus menyerahkan kepada Tuhan.

D.
Mendorong jemaat untuk memberitakan injil. Dilanjutkan ke ayat 11. Mendorong jemaat menjadi mitra Allah menjadi kawan sekerja Allah. Yang terpenting dalam ay.10 menjelaskan bagaimana orang di dalam gereja itu berfungsi untuk meletakkan dasar. Contohnya menjadi guru sekolah minggu, menjadi ketua care group, pemimpin P.A. dalam ayat ke-10 kalimat terakhir menjelaskan bahwa dalam pelayanan harus dapat diteruskan atau ber-regenerasi dan terus mengambil bagian dalam pelayanan. Tidak ada seorangpun boleh meletakkan dasar lain selain dasar yang telah diletakkan Yesus Kristus. Dalam kita melayani mencari jiwa harus meletakkan dasar yang benar yaitu Yesus Kristus yang diberitakan dan disampaikan. Pada 2:4 “mengandalkan Roh Kudus” percayalah bahwa Roh Kudus itu menyertai kita bahkan di dalam sederhananya pelayanan yang kita lakukan, dengan kekuatan dari Roh Kudus akan ada jiwa yang dimenangkan. Mendorong jemaat untuk belajar mengandalkan kekuatan Roh Kudus sehingga gereja kita makin bertumbuh.

E.
Seluruh aturan di dunia adalah beragama atau tidak beragama, di dalam kontek kerajaan Allah semua orang adalah pelayan Allah, tidak ada yang lebih penting ataupun tidak penting. Setiap orang Kristen adalah pelayan dan harus melakukan. Dalam penginjilan tidak ada mengkotak-kotakan yang penting adalah injil disampaikan. Di dalam penginjilan selalu ada motivasi yang salah tetapi yang penting adalah injil disampaikan. Di dalam bulan PMPI ini setiap orang, setiap hati memberikan panggilan kesukaan ini karena inilah tugas orang-orang Kristen.

F.
“Jadilah teman doa” di dalam bulan PI ini saya punya keyakinan bahwa setiap aktivis bahkan pendeta, penginjil diaken, pasti punya kerinduan untuk memenangkan jiwa. Ketika kerinduan ini dibagikan ada berbagai kendala. Kendala itu akan menciptakan permasalahan yang baru. Kuasa Roh kudus sangat besar untuk memberikan kita kekuatan, adanya kebutuhan...
Kita adalah kawan sekerja Allah, bukan kita yang terpenting tetapi Allah, bukan kesenangan kita bukan kebaikkan kita tetapi semua berpusat kepada Allah. Kita adalah kawan sekerja Allah dan hanya Allah yang berhak menentukan segala sesuatu. Sebagai kawan sekerja Allah kita harus :
1. Menjadi teladan.
2. Berani membuka diri karena digerakkan oleh Roh Kudus.
3. Menjalankan amanat agung Tuhan. Semua dinamika kehidupan manusia harus berhubungan dengan amanat agung Tuhan. Amanat agung harus menjadi derap bersama dalam pelayanan Tuhan.
4. Semua manusia equal di hadapan Tuhan, guru KAA, penyambutan, semuanya equal di hadapan Tuhan. Semua orang ini bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Jadi kalau ada motovasi yang tidak benar harus sampai pada akhirnya. Team work harus dijaga, team work harus bias mewujudkan kehadiran Allah dalam pelayanan.

G.
Tema surat 1 Korintus adalah masalah-masalah jemaat dan pemecahannya. Perikop di pasal 3 ayat 1-9 berbicara tentang perselisihan dalam gereja. Untuk memahami sumber perselisihan tersebut, maka Paulus menguraikan ada tiga kelompok manusia di jemaat Korintus (2:14-3:9).
1. Manusia yang tidak rohani atau duniawi (2:14). Mereka yang belum dilahirkan kembali. Mereka yang hidupnya hanya diperintah oleh naluri jasmaniah (2Ptr. 2:12), belum memiliki Roh Kudus dan dibawah kuasa iblis (Rm. 8:9; Kis. 26:18).
2. Manusia yang rohani, tetapi masih bayi rohani (3:1-3). Mereka yang sudah dilahirkan kembali, namun belum bertumbuh, sebab mereka masih bayi rohani, sehingga “susu” yang Paulus berikan kepada mereka. Meskipun mereka sudah menerima Kristus, namun pengaruh dari duniawi masih sangat kuat dalam hidup jemaat. Kristen bayi rohani ini ditandai oleh adanya iri hati, perselisihan dan perpecahan dalam komunitas umat percaya di mana masing-masing membangun tembok pemisah dan membanggakan kelompoknya (3:5-9).
3. Manusia yang dewasa secara rohani (2:15-16). Mereka adalah orang yang sudah lahir baru dan bertumbuh dalam rohani, ditandai dengan memiliki pikiran Kristus seperti Paulus. Artinya bahwa Paulus mengerti kehendak dan rencana Allah dalam hidupnya. Memandang dan menilai segala hal dengan cara pandang Allah. Mereka memiliki sikap dan karakter Kristus yang rendah hati, bukan tinggi hati; yang lemah lembut, bukan keras dan kasar (Mat. 11:29); yang melepaskan hak-haknya, jadi hamba dan rela berkorban bagi orang lain (Flp. 2:5-8).

Adapun perbedaan antara Kristen bayi rohani dan dewasa rohani di atas dapat di dilihat dari sikap dan karakter sharing and caring. Orang yang bayi rohani justu kebanyakan menuntut untuk diperhatikan, diutamakan dan dilayani. Sedangkan yang dewasa rohani, ada kecenderungan berbagi kasih, perhatian, pelayanan, waktu, daya dan dana. Karena itu, dalam even PMPI ini, marilah kita tunjukkan kedewasaan rohani kita dengan berbagian dalam pelayanan misi melalui dukungan doa, daya dan dana. Mulailah dari lingkup yang terkecil dan terdekat dengan kita, yakni keluarga kita.

I.
Konflik dan perselisihan menimbulkan kehancuran, tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi pekerjaan Tuhan. Interest pribadi seorang pelayan Tuhan sering kali menjadi penyebab perpecahan, entah karena jabatan, kuasa, uang dll. Pelayanan dan pekerjaan Tuhan adalah milik Tuhan, oleh karena itu siapa pun pelakunya, dia hanya seorang hamba (dulos). Dengan menyadari hal ini, maka setiap pelayan Tuhan untuk belajar taat, setia dan tunduk pada Allah untuk melaksanakan tugas panggilan Ilahi. Satu tujuan utama dari pelayanan Tuhan yaitu, supaya nama Kristus ditinggikan. Sedangkan, para pelayan Tuhan hanya seorang hamba dan alat di tangan Tuhan.

J.
Kedewasaan rohani seseorang akan mempengaruhinya dalam mengambil keputusan serta kemampuan menerima nasehat dan masukan. Jemaat Korintus belum dewasa secara rohani sehingga sulit sekali menanggapi dan menyelesaikan setiap problem dengan baik, hal inilah yang menyebabkan adanya perselisihan dan “pro” kepada “tokoh dan idola” mereka sehingga mereka mengabaikan pekerjaan Tuhan yang telah Allah kerjakan melalui mereka. Setiap orang punya kelebihan masing-masing dalam bekerja dan melayani namun dibalik semuanya Allahlah yang memberi kemampuan kepada mereka sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Saling melengkapi dan berbagi itulah yang seharusnya terjadi dalam satu pelayanan.

K.
Jemaat Korintus adalah jemaat Tuhan yang berpola pikir dan hati duniawi, dimana mereka tidak hidup rukun dan damai, jemaat tidak bertumbuh dan tidak dewasa dalam Kristus (ay 1). Ada iri hati dan perselisihan yang menunjukkan mereka manusia duniawi bukan rohani (ay 3). Mereka membentuk kubu yang menimbulkan perpecahan dengan memposisikan diri mereka sebagai golongan Paulus atau Apolos (ay 4). Paulus menegur jemaat Korintus dengan menempatkan dirinya dan Apolos sebagai sesama pelayan Tuhan, dan mengajak jemaat untuk mengerti akan peran mereka sebagai pelayan Tuhan. Tidak ada perbedaan antara mereka sebagi pemimpin, hanya yang membedakan mereka adalah karunia rohani yang saling melengkapi demi pembangunan Tubuh Kristus. Apa yang dialami jemaat Korintus, bukan tidak mungkin dialami juga jemaat zaman sekarang bahkan mungkin jemaat kita. Oleh sebab itu keberadaan jemaat Korintus biarlah menjadi suatu cermin bagi kita semua.
Bagaimana sikap kita sebagai gereja Tuhan ?
1. Kita seharusnya menjadikan Kristus sebagai kepala gereja dan memuliakan Tuhan, bukan memuliakan pemimpin gereja kita dan membentuk kubu dalam gereja sehingga terjadi perpecahan yang merugikan pekerjaan Tuhan.
2. Kita perlu belajar untuk saling menghormati satu sama lain, peduli akan satu sama lain, dengan saling melayani, saling berbagi dan bersama-sama bermisi untuk kemulian Tuhan kita Yesus Kristus.
3. Kita dapat bertumbuh menjadi dewasa dalam Kristus dengan bergantung dan berharap pada Tuhan yang memberi pertumbuhan, dengan menjauhkan iri hati, mengejar ketulusan sehingga pekerjaan Tuhan dapat berkembang, kita dapat menjadi saksi Kristus.

L.
Apolos itu berasal dari Alexandria. Fasih berbicara dan sangat mahir dalam hal kitab suci. Dia semagat melayani Tuhan dan memberitakan tentang Yesus kepada orang banyak, meskipun yang dia ketahui hanya tentang baptisanYohanes.
Akhirnya dia bertemu dengan Priskila dan Akuila yang kemudian mengajarkan kebenaran yang lebih dalam kepadanya.
Paulus menyatakan bahwa Apolos ini berperan sebagai penyiram yang baik bagi jemaat Korintus, sehingga tidak perlu terjadi perselisihan yang membandingkan ajaran Apolos dengan ajarannya. Dalam hali ni, Paulus tidak pernah merasa tersaingi dengan kehadiran Apolos.
Banyak orang akan merasa terancam ketika ada orang lain yang kemampuannya lebih menonjol dari dirinya sendiri, sehingga menimbulkan perselisihan. Hal ini bukanlah karakter hamba Tuhan yang baik. Jadi, kita harus belajar seperti sikap Paulus yang menghargai keberadaan orang lain.

M.
Dikatakan oleh Paulus bahwa Apolos berperan sebagai ‘penyiram’ yang baik bagi jemaat Korintus, artinya ia melanjutkan pengajaran yang ditanam Paulus sebelumnya. Lambat laun Apolos semakin dikenal oleh jemaat Korintus, sampai-sampai di antara jemaat mulai timbul perselisihan karena mereka membanding-bandingkan pelayanan Paulus dan Apolos. Ada yang memihak Paulus, ada pula yang lebih memilih Apolos. Paulus pun berkata, “…aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos.” (1 Korintus 1:11-12). Walaupun lebih senior, Paulus tidak pernah merasa tersaingi apalagi terganggu dengan kehadiran Apolos yang menyita perhatian jemaat, justru sebaliknya dia terus mendukung dan memotivasi Apolos (bnd 1 Korintus 16:12).
Motivasi memberitakan Injil ini, Paulus pun tidak keberatan, selama yang penting adalah Kristus diberitakan kepada orang lain, dan semakin banyak orang akan dapat mendengar tentang kabar keselamatan tersebut. Paulus bersukacita selama apa yang disampaikan adalah Injil yang benar dan bukan “Injil yang palsu” atau ajaran-ajaran sesat. Mengapa Paulus bisa bersukacita? Karena Paulus sadar bahwa ketika Injil diberitakan, berarti ada orang yang mendengar keselamatan dan akan diselamatkan. Bagi Paulus, tidak ada kabar yang lebih membuatnya bersukacita dibandingkan dengan mendengar ada orang yang diselamatkan karena kasih Kristus. Paulus dan Apolos adalah kawan sekerja milik Allah, karena Paulus menanam, Apolos menyiram, dan Allah memberi pertumbuhan. Semuanya mengambil bagian dalam pertumbuhan jemaat. Dalam hal ini, Etika rekan sekerja Allah dalam menghadapi suasana pelik seperti di Korintus adalah meninggikan Allah, dan bukan meninggikan diri. Tidak boleh saling menjatuhkan atau melemahkan. Tidak boleh mengambil kesempatan dalam kesempitan.

N.
Tema ini mengingatkan kita suatu hubungan yang luar biasa bahwa Allah menjadikan kita sebagai “mitra”-Nya. Mitra Allah berarti Allah menjadikan kita rekan, kawan atau teman kerja-Nya. (I Korintus 3:9). Adalah hal yang luar biasa jika Sang Pencipta, mau bekerja sama dengan ciptaan-Nya. Sang Penebus bekerja bersama dengan yang ditebusNya.Allah yang Mahakudus menjadikan kita manusia berdosa sebagai kawan sekerja-Nya.
Di sinilah kita disadarkan bahwa kita dipanggil bukan hanya untuk percaya kepada Allah saja dan menerima berkat-berkat-Nya, tetapi juga untuk bekerja bersama Dia. Allah bekerja sejak awal dan sampai sekarang (Kejadian 1, Yohanes 5:17, 9:4).Dan Dia mengajak kita mengambil bagian atau berpartisipasi dalam pekerjaan-Nya mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi dunia ini.
Jika Allah menjadikan kita mitra-Nya, ini berarti kita adalah orang yang dipercaya Allah, orang yang dianggap mampu atau dianggap cakap untuk mengerjakan urusan Kerajaan Allah. Ini juga berarti Allah telah mengubah status kita yang semula musuh menjadi rekan kerja.
Apa yang diharapkan jika kita sebagai mitra Allah? Menjadi mitra Allah bukan seperti suatu kongsi usaha, yang mengharapkan keuntungan bagi hasil. Tetapi bersama Allah menghadirkan syalom bagi seluruh ciptaan, khususnya keselamatan manusia dari dosa. Hasilnya bukan untuk kita, tetapi melalui itu kita akan mengalami kebahagiaan, kepuasan, sukacita yang bersifat kekal. Kiranya Tuhan memampukan kita menjadi mitra-Nya.