Jumat, 17 Februari 2012

Transforming the Family (Kolose 3:18-21)

Transforming the Family
Kolose 3:18-21

A
1. Bagian sebelumnya (3:5-17) Paulus berbicara tentang “manusia baru di dalam Tuhan” sebagai manusia baru maka ada tiga hal yang harus terjadi :
1. “Mematikan” tabiat duniawi (5-7) karena tabiat duniawi akan mendatangkan murka Allah
2. “Membuang” Tabiat manusia lama (8- 11) karena akan menghambat pertumbuhan iman, juga relasi dengan Tuhan dan sesama.
3. “Mengenakan” sifat-sifat manusia baru di dalam Tuhan (12-17). Konteks ini Paulus menghendaki supaya ditengah-tengah tantangan zaman, orang percaya di Kolose terus memiliki Integritas hidup di dalam Tuhan.

2. Dalam Pasal 3:18-25: Paulus berbicara tentang prinsip-prinsip dari “Hidup baru di Dalam Kristus” harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, secara Khusus dalam keluarga. Paulus sangat mengharapkan masing-masing anggota keluarga dapat menjalankan hak dan kewajibannya, secara tertib dan teratur supaya nama Tuhan dimuliakan.
• Salah satu tujuan pokok yang ingin di capai Paulus dalam konteks ini terdapat pada ayat 24b: “Kristus harus menjadi Tuan dalam keluarga dan seluruh anggota keluarga adalah hamba-Nya”. Ketika seluruh anggota keluarga memahami posisi ini maka akan terbentuklah sebuah keluarga yang sehat, kuat dan memiliki relasi yang indah dengan Tuhan dan sesama anggota.
• CONFUCIUS, Berkata “Kekuatan suatu bangsa berasal dari integritas keluarga”. Artinya kalau keluarga kuat maka gereja dan negara kuat. Karena itu penting kita menjadi keluarga yang kuat dan memiliki relasi indah dengan Tuhan dan sesama anggota keluarga.

3. Pertanyaan : Dari mana kita memulai, Pembangunan sebuah keluarga yang mengalami perubahan, sehat, kuat, dan memiliki relasi indah dengan Tuhan dan sesama? Ada tiga hal (Fondasi, Relasi dan Motivasi).
a. Bangunlah keluarga di atas FONDASI yang kuat! – kata “di dalam Tuhan” diulang 2 x pada ay 18,20 = Tuhan Harus menjadi Fondasi dalam membangun keluarga yang sehat.
• Fondasi adalah penentu besar dan kuatnya sebuah bangunan.
• Fondasi keluarga yang kuat dan sehat adalah Batu karang yang kokoh yaitu Tuhan Yesus Kristus.
• Apa yang menjadi fondasi keluarga anda? Materikah?, ketenarankah?, kuasakah?

b. Bangunlah keluarga di dalam RELASI yang benar! –kata “Tunduklah, kasihilah dan Taatilah” (ay 18 -20)
• Relasi sesama anggota keluarga sangat menentukan kekuatan dan sehatnya sebuah keluarga.
• Jika relasi antar anggota keluarga berjalan normal, maka ketundukan, mengasihi dan ketaatan, bukan menjadi suatu beban yang berat untuk dilakukan, tetapi dipandang sebagai sesuatu panggilan yang indah di dalam Tuhan (ayat 20 b).
• Di dalam Relasi yang baik, semua masalah dalam rumah tangga pasti dapat diselesaikan.
• Di dalam relasi yang sehat ada, semangat dan kerinduan untuk bersekutu, saling mendoakan, saling membangun, saling menghargai, saling mendahulukan & saling mengasihi (Family altar) fasal 4:2-6

c. Bangunlah keluarga diatas MOTIVASI yang benar. Ayat 23 – “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”
• Disini Paulus ingin mengingatkan kita semua, secara khusus keluarga. Kalau kita dapat melakukan hak dan kewajiban dalam keluarga motifnya hanya satu yaitu Tuhan dimuliakan, bukan mencari pujian, keuntungan secara pribadi.
Ketika istri tunduk, ketika suami mengasihi dan ketika anak-anak taat dan hormat kepada orang tua, semuanya harus dikerjakan seperti untuk Tuhan. Ada ketulusan, kejujuran, dan motivasi yang benar - Jangan seperti pepatah “ada udang dibalik batu”

B
Ada 3 kata kunci untuk transformasi:
1) Ayat 18-19. Kasih (Love) dikaitkan dengan suami, pemimpin harus mengalami dan menyalurkan kasih. Band Efe 5:25, kasihi “seperti Kristus mengasihi jemaat”, suami sebagai kepala harus mengalami kasih Kristus terlebih dahulu kemudian menyalurkan kepada istri dan anak-anak. Suami harus memiliki Kristus dan mengalami kasih Kristus yang mengubah hidupnya, ada Allah yang mengasihinya.
2) Ayat 18. Tunduk (Submit). Istri adalah orang yang paling tahu kelemahan suami, penolong yang Tuhan berikan.
3) Ay. 20 Patuh (Obey), tujuannya menyenangkan hati Tuhan. Seringkali dalam kehidupan orientasinya adalah menyenangkan hati anggota keluarga, tapi fokus utama dalam keluarga adalah menyenangkan hati Tuhan.

C
Dasar yang terpenting dalam keluarga adalah Ordo (order, pemimpin dan yang dipimpin) baik dalam unit besar maupun terkecil, keluarga. Suami adalah pemimpin, mengayomi, melindungi keluarga. Mengapa “istri” lebih dulu, mengapa istri sulit submit karena sering kali ordo terbalik. Transformasi dapat terjadi: jika ada kesepakatan sebelum dan sesudah pernikahan, apa yang akan dijalani dalam segala hal. 2) Ketulusan: sangat menyedihkan jika kasih yang pura-pura. Relasi keluarga yang baik harus dibangun berdasarkan relasi dengan Tuhan.

D
Dalam keluarga harus ada fondasi: Allah – Manusia, di tengah harus ada Kristus sebagai mediator, sehingga dasar yang kuat. Bagaimana caranya agar punya dasar yang kuat: perlu ada mezbah keluarga sehingga membangun hubungan yang erat dengan Tuhan.

E
Ay. 20 dikatakan: anak-anak taatilah orang tuamu dalam segala hal… Seringkali anak-anak melihat kekacauan dalam orang tua, seringkali ayah dan ibu tidak sama suaranya, sehingga anak-anak bingung. Sehingga orangtua perlu intropeksi diri sehingga menjaga kekonsistenan dalam keluarga.

F
Transformasi keluarga: dimulai oleh kepala keluarga; harus dilaksanakan sama semua anggota keluarga; hasilnya harus dialami keluarga bahkan memberkati keluarga yang lain.
Dikaitkan dengan visi gereja: 1) Sejauh mana gereja memperhatikan dan mempedulikan keluarga. Dalam setiap keragaman usia, mereka diperhatikan sesuai dengan kebutuhan. 2) Apa yang dapat dilakukan gereja bagi keluarga-keluarga. 3) Dalam keluarga hamba Tuhan, apa yang kita alami yang dapat kita bagikan kepada keluarga dalam jemaat.

G
Pemimpin keluarga adalah suami, namun perlu diikuti dengan wanita berperan dengan baik dalam keluarga.

H
Daud – rumah yang paling tepat adalah rumah Tuhan, bagaimana jika itu diterapkan dalam rumah tangga, menjadi rumah tangga dimana Tuhan hadir, semua berfokus kepada Tuhan, kita semua tunduk dalam aturan main yang Tuhan berikan, maka akan aman dan terjadi perubahan.

I
Kalimat perintah yang dipakai tunduklah, kasihilah, taatilah – perintah yang harus dilakukan terus menerus, setiap saat, mengandung ekspresi yang positif tdak dapat dilepaskan dari kalimat sebelumnya, berakar dan bertumbuh menuju kedewasaan kerohanian. Relasi suami istri dan anak, majikan dan bawahan seperti relasi dengan Tuhan.

J
Bagaimana peran istri dan suami, peran merupakan sesuatu yang natural. Paulus mengajarkan peran keluarga adalah menanamkan nilai-nilai kekristenan, bagaimana mengalami perubahan hidup sebagai orang Kristen. Kuncinya Kolose 3:14 Kenakan KASIH yang mengikat.
Kasih Kristus masuk melalui perempuan, orang Kristen mudah dihancurkan jika keluarganya hancur. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana keluarga kita menjadi teladan bagi jemaat. Jika keluarga menjadi teladan maka jemaat dapat dipengaruhi.

K
Hirarki = berkat Tuhan. Bagaimana jika jemaat mengalami suami yang tidak seideal dengan yang dikatakan Alkitab (tidak mau berjuang, kelincahan kalah dengan istrinya, dsb). Secara natural maka istri akan mencari titik keseimbangan sehingga mengambil alih perekonomian keluarga. Problemnya adalah ketika pendapatan istri lebih besar, apakah bisa tetap tunduk kepada suaminya? Prinsip submit harus terus menerus dilakukan dalam situasi unconditional.

L
Ada 2 yang berkaitan dengan Transformasi keluarga: hubungan dengan Kristus dan Kasih. Apa yang dikatakan rasul Paulus adalah standar keluarga Kristiani yang harus ada, corak mungkin berbeda tapi struktur harus ada. Keliarga modern seringkali mengubah struktur atau order, kadang bukan karena maunya istri, tetapi terjadi pembiaran. Yang merupakan fungsi suami tidak terjadi, sehingga keluarga mengalami perubahan yang merusak. Sebagai organisme pasti mengalami perubahan, perubahan harus dikonstruksi, keluarga yang baik harus selalu dibentuk dan dikonstruksi. Keluarga yang baik harus didasari dengan hubungan dengan Allah. Family Altar
menjadi pintu masuk untuk menjaga hubungan dengan Allah, baik doa bersama maupun kebaktian keluarga merupakan hal yang sangat penting.

M
Mother Teresa berkata, “Pulanglah dan kasihilah keluarga Anda.” Keluarga itu penting dan setiap kita terpanggil untuk mentransformasi keluarga. 1) Kita harus kembali kepada tatanan yang ditentukan Allah untuk keluarga, kembali kepada apa yang Allah minta dalam keluarga. Apa yang Allah mau itu yang paling penting. 2) Kita harus mengalami transformasi diri lebih dahulu, menempatkan diri untuk apa yang Allah minta harus ada dalam diri kita, dimulai dari diri kita. Jangan menuntut orang lain berubah, sebelum kita sendiri berubah. 3) Kita seringkali lemah, kadang tidak dapat melakukan apa yang Allah minta, oleh karena itu relasi dengan Tuhan itu sangat penting. 4) Komunikasi, ada seni dalam berkomunikasi. Keluarga harus ada keterbukaan dalam keluarga, kunci pernikahan yang baik adalah komunikasi. Harus berani membuka diri untuk berkomunikasi dengan sesama anggota keluarga.

N
Ordo yang dibuat suapaya berfungsi dalam perkembangan kepribadian tiap anggota – dapat menghargai satu sama lain – memberikan fungsi bagi masyarakat secara luas. Mengasihi orang lain seperti diri sendiri (prinsip Alkitabiah) – berusaha mencintai orang lain seperti yang diinginkan anggota keluarga. Berani mengubah apa yang dapat diubah, berani menerima apa yang tidak dapat diubah, dengan bijak melihat apa yang dapat diubah dan tidak dapat dibuah. Cinta – dapat menumbuhkan kepribadian, memberdayakan dan bukan memanfaatkan. Mari melatih cinta dimulai dengan pemberian kata-kata yang mendukung.

O
Banyak keluarga akhir-akhir ini mengalami keretakan dan kehancuran. Ini disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari masalah ekonomi, pekerjaan, perbedaan sikap dan karakter, juga disebabkan karena suami istri tidak memiliki relasi yang benar dalam berkeluarga. Karena itu untuk menciptakan keluarga yang kuat, maka diperlukan kondisi keluarga yang rukun dan harmonis. Sebab itu setiap jemaat harus berusaha membangun kehidupan keluarga yang sesuai dengan kehendak Allah. Kuncinya adalah mentransformasi keluarga kita. Bagaimana cara mentransformasi keluarga?
Tema surat Paulus kepada jemaat di Kolose adalah maturity in Christ (1:28). Dalam konteks mencapai kedewasaan dalam Kristus, maka pasal 3:18-4:1, Paulus menekankan sisi implementasi hidup umat percaya dalam outer interpersonal relationship dengan anggota keluarga. Di ayat 18-21, Paulus menjelaskan tentang tugas dan tanggung jawab setiap anggota keluarga dalam mencapai kedewasaan rohani.
Pertama, Para istri tunduk kepada suami sebagai kepala keluarga (Kol. 3:18). Istilah tunduk dan hormat mungkin merupakan istilah yang menjengkelkan bagi istri yang dominan terhadap suami, terlebih bagi istri yang memiliki alasan rasional untuk dominan dalam keluarga. Namun agar keluarga menjadi bahagia, prinsip-prinsip keluarga dalam Alkitab perlu ditaati. Allah telah mengajarkan bagaimana istri berlaku kepada suami, yaitu tunduk dan hormat. Penundukan seorang istri tidak hanya terbatas dan berlaku di zaman Paulus, tetapi juga untuk segala zaman, karena dua alasan: (1) the order of creation (1Tim. 2:13), dimana pria diciptakan dahulu, kemudian disusul oleh wanita. (2) the order within the Godhead (1Kor. 11:3). Seperti Kristus tunduk kepada Allah Bapa. Ini perlu diperjelas bahwa penundukan istri kepada suami tidak berarti ia lebih rendah (inferior) dari suaminya, tetapi karena suami adalah kepala keluarga. Itu pun ada limitasinya, yaitu sebatas dalam kehendak dan kebenaran Tuhan (fitting in the Lord). Jadi tugas istri adalah tunduk, hormat dan jadi penolong (bukan penodong dan perongrong) suami.
Kedua, Para suami mengasihi istri (Kol. 3:19,21). Apa peran seorang ayah dalam keluarga?
(1) Ayah sebagai pemimpin (Kol 3:18; Ef 5:23). Allah telah menetapkan ayah sebagai kepala dan wakil Allah dalam keluarga. Dengan kedudukan sebagai wakil Allah, memiliki amanat untuk memimpin keluarga sesuai dengan kehendak dan tujuan Allah dalam keluarga. Kedudukan tersebut sebagai lanjutan wewenang yang telah Allah berikan di taman Eden (Kej 1:26-28; 2:15). Ayah harus merefleksikan sinar kasih, kekudusan, kemuliaan dan kehendak Allah dalam keluarga Kristen.
(2) Ayah sebagai kepala. Ayah bertugas sebagai kepala dalam membawa bahtera rumah tangga melewati tiap tantangan dan godaan (Ef 5:23; 1Kor. 11:3). Pengertian ayah sebagai kepala dapat dilihat dari empat dimensi, yaitu: Kekuasaan; Posisi; Fungsi; dan Hubungan. Dimensi kekuasaan, Kristus menguasai jemaat, begitu juga suami berkuasa atas istri dan keluarganya. Dimensi posisi, kepala adalah pemimpin. Dimensi fungsi, memperlihatkan kepala bertugas menghidupkan, melindungi, menggerakkan dan mengatur. Kepala menyelamatkan, melindungi, mengasihi, melayani tubuh. Menjadi kepala berarti suami harus mengasihi istri anak dan keluarga (Ef. 5:23).
(3) Pemimpin rohani terhadap Istri. Pemimpin rohani terhadap istri berarti suami harus mendoakan, mengasihi dan memimpim istri sesuai dengan peraturan Allah. Kepemimpinan rohani terhadap istri memberikan wibawa terhadap istri dan anak: contoh Akuila dan Priskila (Kis. 3:11; Rm. 16).
(4) Pemimpin Anak. Penanggung utama terhadap anak (Ams. 1:8; 6:20). Ayah adalah pemimpin anak, malalui pikiran, perbuatan dan teladan (1 Kor. 3:11; Ef. 5:23). Memperhatikan kebutuhan anak secara total, tubuh jiwa dan roh. Pada zaman itu justru kebutuhan esensial (Rohani) anak tidak diperhatikan. Memberi teladan bagi anak untuk hidup hormat dan takut akan Tuhan. Keluarga Kristen tidak hanya membawa anak beragama, sekolah dan hidup yang baik, namun tiap anak harus didoakan/dibimbing untuk bertobat dan mengenal Tuhan Yesus secara sungguh-sungguh. Disiplin ditanamkan mulai sejak anak kecil.
Ketiga, Anak-anak mentaati orang tua (Kol. 3:20; Ef. 6:1-4). Mendidik anak-anak untuk taat kepada orang tua merupakan suatu tantangan sekaligus sebuah seni dan ketrampilan yang harus dimiliki oleh setiap orang tua. Tugas seorang anak adalah: Menghormati orang tua. Salah satu dari 10 Hukum Tuhan adalah “Hormatilah ayahmu dan ibumu…” (Kel. 20:12). Hormat berarti bersikap santun dan patuh terhadap orang tua. “Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati” (Im. 20:9). Hormat berarti bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orang tua (Mat. 15:3-6). Juga, sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia meminta Yohanes untuk memelihara Maria, ibu-Nya (Yoh. 19:26-27). Semua ini memperlihatkan bahwa Tuhan menginginkan kita untuk bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orang tua kita. Namun kita juga harus memahami batas hormat kepada orang tua sebab perintah ini diberikan bukan tanpa batas, tetapi sebatas tidak kontras dengan sifat dan karakter kebenaran dan kekudusan Allah.

P
Keluarga adalah sarana untuk belajar serta bertumbuh kembang dalam segala hal bagi hidup seorang manusia. Seorang anak belajar tentang kehidupan dari keluarganya, belajar tentang etika, agama, moral, budaya, norma- norma berasal dari keluarga khususnya orang tua. Tetapi jika ditelusuri lebih dalam, ternyata banyak pasangan suami istri tidak memiliki konsep yang jelas dalam membangun keluarganya, tujuan hidup berumah tangga tidak tahu bahkan fungsi dan peran serta tanggung jawab dalam berumah tangga juga tidak tahu. Disatu sisi, memang tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, tidak ada lembaga yang mengajarkan bagaimana menjadi orang tua yang baik, demikian juga Gereja terkadang tidak memperlengkapi keluarga-keluarga jemaat tentang konsep Alkitab tentang keluarga. sehingga jika dilihat faktor yang demikian maka tidak heran jika munculnya berbagai macam problematika rumah tangga. Situasi seperti ini harus segera disadari oleh setiap keluarga Kristen untuk mulai mencari cara bagaimana mempertahankan serta membangun sebuah keluarga. Allah yang menciptakan lembaga keluarga tetapi Allah tidak membiarkan keluarga begitu saja, Allah telah memberikan banyak petunjuk dan bimbingan dalam membangun sebuah keluarga sehingga setiap keluarga mengalami perubahan serta pembaharuan di dalam Allah (transforming the family). Untuk mengalami hal ini maka setiap keluarga perlu membangun mezbah keluarga serta mengajarkan kebenaran firman Tuhan bagi seisi anggota keluarga. jika keluarga mendasari rumah tangganya dengan kebenaran firman, keluarga memiliki benteng pertahanan yang kokoh dari setiap serangan yang menyerang keluarga melalui berbagai macam persoalan rumah tangga. Sebab Allah akan menjaga dan memelihara setiap keluarga dalam kasihNya yang besar.

Q
Keindahan keluarga terjadi bila setiap anggotanya memahami dan melaksanakan setiap tanggung jawab dan panggilannya. Istri tunduk pada suami, suami mengasihi istri, anak hormat dan taat pada orang tua, ayah menjadi pemimpin dan kepala keluarga yang baik

R
Bagi masyarakat Yahudi dan Yunani hubungan suami istri dan anak sangat jauh berbeda dengan apa yang Tuhan kehendaki. Menurut William Barclay hukum Yahudi menganggap wanita sebagai sebuah benda milik suaminya. Wanita tidak punya hak apapun, seorang suami Yahudi dapat menceraikan istrinya dengan alasan apapun, berbeda dengan istrinya tidak punya hak untuk menceraikan suaminya kecuali suaminya berpenyakit kusta, murtad atau memperkosa seorang perawan. Sedangkan dalam masyarakat Yunani, wanita yang terhormat menjalani hidup yang terasing, dia tidak boleh berjalan sendirian maupun berbelanja. Ia tinggal di apartemen khusus wanita dan tidak ikut saudara laki-lakinya untuk makan bersama. Ia dituntut menjaga kesucian secara total; namun suaminya boleh pergi dan menjalin hubungan diluar nikah yang diinginkannya tanpa dianggap tercela.
Bagi anak-anak, mereka sangat dikuasai oleh orang tuanya, dimana seorang bapak boleh berbuat apa saja terhadap anaknya , termasuk menjualnya sebagai budak, menyuruh bekerja, menghukum anak sampai mati, semua dibawah kendali orang tua.
Berdasarkan latar belakang yang demikian, maka Rasul Paulus memberi nasehat kepada orang percaya agar berubah, tidak sama seperti dahulu. Perubahan hidup dapat terlihat terutama dalam hubungan dalam keluarga, yaitu hubungan suami istri dan anak-anak.
Bagaimana sikap orang percaya dalam keluarga yang telah berubah ?
I. Hubungan suami istri (3: 18-19)
1. Istri harus tunduk kepada suami supaya jangan sampai dianggap salah dan terjadi pergunjingan dari masyarakat Yahudi maupun Yunani. Tunduk yang dimaksud bukan berarti istri harus mengalah kepada suami, tetapi mengakui kepemimpinan suami dalam keluarga, agar hubungan baik, tertip dalam masyarakat dan keluarga tetap terpelihara.
2. Suami mengasihi istri dan tidak berlaku kasar terhadapnya. Mengasihi agar suami dapat menjadi pendamping istri dengan saling menghormati, menghargai dan menolong. “ Jangan berlaku kasar” dengan kata lain berhenti berlaku kasar, kebiasaan yang merupakan dosa bagi suami khususnya manusia lama yang mudah sekali bagi suami untuk melampiaskan kemarahan dengan berlaku kasar terhadap istri.
II.Hubungan Anak Dan Orang Tua (3:20-21)
1. Anak-anak diperintahkan untuk mentaati orang tua mereka, ketaatan anak kepada orang tua merupakan suatu kewajiban, karena orang tua diberi wewenang untuk mendidik anak-anak dalam Tuhan.
2. Orang tua tidak menyakiti hati anak-anak dan membuat mereka tawar hati, orang tua harus mendidik anak-anaknya dalam kasih seperti Bapa mengasihi anak-anakNya.

S
Bagian ini merupakan suatu pengaturan Tuhan dalam kehidupan Rumahtangga Kristen. inti dari relasi mengenai istri, suami dan anak tergantung dari kata saling. Dan terutama dalam hal ini saling merendahkan diri di dalam Kristus. Sebagai satu prinsip rohani yang umum. Prinsip ini pertama-tama harus diterapkan dalam keluarga Kristen, prinsip toleransi, kerendahan hati, dsb. Ini merupakan cirri khas dari keluarga Kristen.
Istri harus tunduk kepada suami. Istri harus menghormati dan menghargai suami sebagai seorang pemimpin yang telah ditetapkan oleh Allah. sebab kepala keluarga sesuai dengan efesus 5:23, suami adalah kepala. Tetapi sebagai kepala, suami harus mengasihi istri. Kasih sebagai dasar relasi.
Ini relevansinya : sekarang tren istri jadi kepala. Dominant wife. Pihak lain suami sebagai kepala banyak yang memperlakukan istri dengan kasar.

T
Teks kolose 3:18-21 berbicara tentang 3 hal yaitu :
1. Siapa yang harus melakukan? Bicara mengenai siapa, maka hal ini menyingung masalah person. Paulus tidak mengatakan hai perempuan, tetapi hai istri-istri. Artinya ini bicara mengenai tugas pribadi yang harus dilakukan oleh seorang istri. Begitu pula dengan suami, anak-anak dan bapa sebagai kepala keluarga. Hal lain yang menarik dalam pertanyaan ini adalah urutan daripada perintah yang dialamatkan Rasul Paulus. Paulus pertama-tama mengalamatkan pesannya kepada relasi yang paling dekat, yakni suami – istri, kemudian orangtua anak, dan yang terakhir dalam teks Kolose 4:1 adalah tuan dan hamba. Pesan sederhana melalui pertanyaan ini adalah Tuhan sangat memperhatikan setiap pribadi dan juga memperhatikan relasi yang paling dekat/inti di dalam kehidupan khususnya keluarga.
2. Apa yang harus dilakukan?
a. Bagi istri : Tunduklah (ayat 18) – dalam bentuk middle voice yang seharusnya diartikan : voluntary submission. Dengan demikian, istri tunduk kepada suami merupakan suatu tindakan sukarela yang dilakukan istri.
b. Bagi suami : kasihilah dan jangan sakiti istrimu. Kata kasih dalam teks ini berasal dari kata yunani, agape. Dengan demikian, suami seharusnya mengasihi istri bukan sekadar dengan kasih phileo atau eros, tetapi kasih yang sifatnya unconditional dan sacrificial. Karena dengan menghidupi kasih agape, maka seharusnya seorang suami tidak akan dengan sengaja menyakiti hati istrinya.
c. Anak-anak : taatilah orangtuamu dalam segala hal. Bagian ini merupakan penegasan yang sudah sejak lama dinyatakan yakni dalam keluaran 20:12.
d. Bapa-bapa : jangan sakiti hati anakmu. Peran seorang kepala keluarga terhadap kehidupan seorang anak sangat penting, bdk : Ulangan 6:6-7
3. Mengapa harus melakukan?
Perintah (imperative) yang diberikan oleh Rasul Paulus kepada istri, suami, ayah, anak didasari dengan alasan bahwa semuanya itu harus dilakukan di dalam Tuhan. ini alasan yang menjadi dasar atas setiap tindakan yang dilakukan, dan sekaligus yang membedakan antara tindakan yang dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Tuhan dan yang sudah di dalam Tuhan Yesus. Bdk. Kolose 3:17, 18, 20,22-23.

U
Keluarga adalah lingkungan tempat menjadi sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Jadi, semua kebenaran Firman Tuhan bagi setiap pribadi memiliki tempat yang khusus untuk dipraktikkan lebih dulu di dalam keluarga. Keluarga tempat mempraktikkan Firman TUhan seutuhnya. Keluarga sebagai benteng dalam pengaruh kejahatan dunia. Banyak orang-orang terkenal yang hancur karena tidak punya keluarga yang baik. ditambah dengan perceraian, dsb.
Iblis menghancurkan keluarga, karena dengan demikian, pribadi-pribadi yang di dalamnya menjadi hancur. Jadi dengan demikian, penting sekali untuk memperhatikan keluarga. Kalau keluarga tidak harmonis, akan mencari tempat yang nyaman buat dia. dan tempat yang nyaman seringkali adalah tempat dugem.
Keluarga adalah sekolah TUhan yang mendidik kita bertumbuh menjadi dewasa. Karena di dlaam keluarga kita belajar sabar, memahami, mengampuni, dsb. Maka dari itu keluarga menjadi sesuatu yang paling rawan, karena banyak orang yang tidak siap bertumbuh. Pernikahan tujuannya bukan bahagia, tetapi bertumbuh. Keluarga tempat pembentukan untuk bertumbuh.

W
Roma 12:2 : transform your mind. Kata transform ini merupakan sebuah proses kearah perubahan yang jauh lebih baik indah dan mulai. Misalnya proses dari metamorphosis. Betapa indahnya perubahan itu dari sebuah makhluk yang keci. Kalau kupu2 saja proses perubahannya begitu panjang, maka berangkat dari transform maka orang Kristen harusnya juga ada pembaharuan dalam keluarga. Perubahan yang harus terjadi :
1. Paradigm transform. Istilah paradigm dipopulerkan oleh Thomas cunn. Ia mendefinisikan paradigm sebagai cara memandang memikirkan realitas tentang kehidupan. Paradigm adalah lensa dan filter menafsirkan data. Misalnya jaman gereja awal2 : gereja katolik punya satu teori, yaitu teori geosentris. Teori ini didukung juga oleh ahli2 yunani, tetapi beberapa tahun kemudian, Galileo galilei menentang teori tersebut karena muncul kebenaran yang baru. Bumi mengitari matahari. Tapi gereja pegang mati2an dan Galileo-galilei dipenjarakan. Ini merupakan sebuah paradigm yang lama yang harusnya diperbaiki.
2. Perubahan kebiasaan. Suami istri pacaran, setelah menikah banyak yang shok. Kebiasaan itu dibawa. Orang tidak bisa excuse mengasihani diri dengan mengatakan inilah gue, dsb. Itulah sebabnya orang harus belajar kebiasaan2 yang harus diperbaiki.
3. Perubahan karakter. Pembaharuan dari dalam. Kebiasaan yang kelihatan. Karakter dari dalam. Seringkali orang tidak mau berubah. Menikmati karakter yang lamanya. Seringkali kadang kala kasihan sebelum menikah dan setelah menikah tidak ada perubahan. Di dalam membina rumahtangga harus ada memperbaiki diri. Semuanya juga.

X
Kenapa keluarga perlu di transform? Penguasaan hak menjadi individual, sehingga relasi dan tunduk, kasih, taat itu menghilang. Karena individual seseorang tidak lagi bisa mengasihi. Padahal ketiga hal ini merupakan basic human relationship.
1. Yang pertama untuk tunduk sebenarnya bukan hanya istri saja. Semua belajar tunduk. Tapi itu dimulai dari seorang istri. Submit dibutuhkan kesadaran diri dari seseorang. dengan seluruh kemampuan kesetaraan, untuk tunduk adalah hal yang sangat sulit, tanpa kesediaan dan kesadaran dari seseorang. sama sekali tidak tergantung dari orang lain. tunduk tidak mungkin tanpa dari diri kita sendiri. tunduk memberikan kebahagiaan tersendiri buat seseorang yang bisa melakukannya karena dia akan menjadi seorang yang lemah lembut ditengah kepahlawanannya.
2. Mengasihi + janganlah berlaku kasar. Perintah dan sekaligus larangan buat seorang suami. Manusia yang paling kasar di dunia adalah perempuan sebenarnya. Sebab, hadiah ulang tahun yang pernah diminta adalah kepala. Pria diminta untuk tidak berlaku kasar tetapi mengasihi dalam perkataan, sikap dan perlakuan. Sebab natur seorang pria adalah orang yang berhadapan dengan onak dan duri. Dia berhadapan dengan sesuatu yang kasar. Duri itu bukan sekadar duri di semak2, tetapi penuh dengan pertempuran. Maka pria harus hidup dari hati yang mengasihi sehingga kasarnya itu diimbangi. Seorang suami tidak boleh memperlakukan orang lain seperti yang dikatakan dalam teks ini. khusus bagi istri, suami. Lebih fokus kepada sebuah pribadi. Ketika seorang suami mampu mengasihi, dia menjadi seorang pria yang sesungguhnya. Atau tidak menjadi pria yang kasar. Pria yang kasar, tidak akan mampu hidup harmonis dengan perempuan.
3. Taat. Tanpa ketaatan, seseorang akan terus mengalami masalah dalam hidupnya dan tidak akan mampu keluar dari masalah. Selama seseorang tidak taat, dia memperlakukan dirinya sangat2 tidak baik. masalahnya orangtua sekarang tidak lagi menekankan ketaatan kepada anak2nya. Ini penting sekali bagi anak2.ketaatan harus ditanamkan sejak kecil. Segala masalah dalam dunia ini muncul dari ketidaktaatan.

Y
Teks ini bisa dibandingkan dengan Efesus 5 dimana : suami istri, kristus dan gereja. Allah menciptakan manusia, perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Tulang rusuk itu sesuatu yang harus dijaga dilindungi. Jadi hubungan antara suami istri bukan hubungan antara kedudukan. Jadi Paulus menganalogikan Kristus dan gereja menganalogikan suami dan istri. Tetapi untuk saling mengasihi.

Z
Transformasi adalah, suatu perubahan yang harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, transformasi tidak dimulai atau berakhir hanya dalam waktu sehari, tapi merupakan suatu proses untuk menuju pada kedewasaan rohani.

AA
Keluarga adalah tempat yang sangat ideal bagi pembentukan kehidupan seorang anak manusia, bahkan dapat disebutkan sebagai sekolah terbaik bagi pemulihan pribadi yang bahkan berefek pada pemulihan atau pembaharuan sebuah bangsa. Bayangkan saja bahwa, di dalam sebuah keluarga terdapat suami dan istri (yaitu laki laki dan perempuan) yang dalam hal ini masing-masing mereka adalah individu yang lahir dan bertumbuh
dalam lingkungan keluarga yang eksklusif (budaya keluarga yang berbeda). Saat mereka dipersatukan dalam sebuah pernikahan maka, di sana pasti akan adapergesekan-pergesekan (karakter, kebiasaan dan lain sebagainya). Dalam kondisi seperti ini, tidak banyak pasangan yang menemukan jalan buntu karena masing-masing mempertahankan status quo dan harus berakhir pada sebuah pertikaian tanpa ujung. Itulah sebabnya Firman Tuhan dalam Kolose 3:18 & 19 memerintahkan agar suami mengasihi istri dan istri menghormati suami. Artinya bahwa, ada hubungan yang jelas dalam hubungan suami istri, terutama saat mereka bersehati untuk membangun mesbah keluarga. Mereka pasti akan memahami prinsip-prinsip Firman Tuhan yang akan semakin membentuk mereka dalam rangka menjadi manusia yang diubahkan atau dibaharui. Ketika keluarga tersebut dikaruniakan anggota keluarga yang baru (anak anak) maka, tingkat kerumitan dalam pembaharuan keluarga tersebut akan semakin kompleks. Hal ini disebabkan oleh hadirnya seorang pribadi yang baru dengan keunikannya masing-masing. Dan dalam keunikan inilah masing masing pribadi dalam sebuah keluarga saling belajar satu dengan yang lain. Terkadang orang tua dilatih untuk bersikap sabar dan lembut kepada anak perempuan mereka, atau bersikap penuh pengampunan dan ketegasan terhadap anak laki laki mereka. Dalam kondisi ini pun, Firman Tuhan tetaplah menjadi "alat" nomor satu yang mampu mentransformasi seluruh anggota keluarga.
Oleh sebab itu, sebagai keluarga Kristen kita harus :
1. Membangun nilai hidup berdasarkan prinsip-prinsip Firman Tuhan
2. Melakukan (menjadi teladan) prinsip-prinsip Firman Tuhan tersebut
3. Memberi diri untuk sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan keluarga