Jumat, 22 Juli 2011

Yang Empunya Kerajaan Sorga (Markus 10:13-16)

A.
Yang empunya Kerajaan Allah adalah orang yang memiliki dan dimiliki Kristus.
- Merindukan persekutuan dan pengenalan dalam Dia.
- Menyerahkan hati, pikiran jiwa untuk taat
- Memakai segala ketrampilan untuk karunia tubuh Kristus
- Memegang teguh komitmen dan prinsip
- PI
- Menjaga kekudusan
- Menikmati damai sejahtera dalam Kristus

B.
o Kerajaan sorga fiktif atau tidak ? Banyak agama punya konsep tentang sorga.Dari alkitab kerajaan sorga sudah ada sejak Tuhan Yesus datang, tetapi wujud nyatanya nanti setelah kedatangan Yesus kedua kali. Dengan iman percaya.

o Yang empunya kerajaan sorga. Kita anak – anaknya adalah budak yang berdosa, tetapi Yesus rela menebus kita, dan yang empunya kerajaan sorga adalah yang seperti anak – anak, yang sepertinya ditolak, tetapi sifat mereka yang murni, rendah hati, dan punya kepercayaan penuh. Anak – anak selalu bergantung penuh dengan orang yang dipercayanya.

o Yang menyambut kerajaan Allah ini seperti anak – anak, akan diberikan baginya kerajaan Allah. Hendaknya manusia menyadari akan anugerah Allah ini.
o Yang dapat masuk ke dalam kerajaan sorga adalah di ayat 15, tidak perlu menjadi dewasa, tapi perlu pertobatan. Yohanes 3 ; 16, 14 : 6.
o Semua orang ditawarkan kerajaan sorga, tetapi yang tidak masuk adalah :
- Mengikuti perbuatan daging ( Galatia 5 )
- Yang tidak adil, yang suka mencari kesalahan orang lain. ( I Korintus )
- Yang tidak percaya Yesus Kristus
- Penyembah berhala ( Efesus 5 : 5 ), orang yang menyesatkan

C.
Dua pengertian tentang arti anak :
- Anak Teknon = remaja, yang sudah memiliki hak.
- Anak Paidion = KAA, yang belum mempunyai hak apa – apa, tapi diberi anugerah penuh oleh Allah. Ini yang digunakan di dalam perikop ini.

D.
- Mat 5 : 3  jiwa anak – anak sebenarnya miskin dalam pengertian tidak membawa atribut apapun yang bisa menghalangi seseorang untuk datang kepada Allah.
- Lukas 18  orang farisi, orang dewasa, justru mereka menganggap dirinya rohani, tapi berlebihan, anggapan yang membernarkan diri sendiri, tetapi pemungut cukai dengan segala kerendahan hati.
- Kekosongan diri dan kerendahan hati menjadi inti yang penting untuk seseorang masuk Kerajaan Allah

E.
- Anak dalam kepolosannya masih dapat dibentuk menjadi seperti apa. Orang tua ini menyerahkan anak – anak mereka kepada Yesus, mereka masih sangat muda, tetapi tetap diberikan pada Yesus. Potensi besar untuk anak – anak dibentuk menjadi pewaris Kerajaan Allah.
- Yesus menyambut mereka, dan menerima mereka, Yesus bukan sembarang guru, tetapi adalah Allah. Tidak meremehkan anak – anak.

F.
- Alkitab mengkontraskan apa yang dianggap enteng oleh dunia tetapi dianggap berarti oleh Tuhan.
- Makin dewasa seharusnya makin bergantung pada Tuhan, dan makin berserah pada Tuhan, seperti anak – anak kecil tersebut.

G.
- Kepercayaan yang tulus.
- Kebergantungan pada Tuhan
- Mudah mengampuni dan melupakan hal – hal yang terjadi

I.
- Kerajaan Allah  tempat dimana Tuhan itu ada dan tinggal. Wahyu 21.
- Otoriti dari Tuhan, Tuhan tinggal pada orang – orang percaya. Matius 6 : 10  pemerintahan Allah di sorga dapat dihadirkan di bumi, jika orang – orang itu tinggal di dalam Dia, dan menjadi presentasi akan Allah.
- Anak – anak yang benar – benar kecil  sering kali diremehkan, sungguh tidak berdaya, dan dalam kondisi demikian diharapkan seorang anak meminta pertolongan Tuhan, dan bergantung mutlak pada Tuhan. Kondisi seperti inilah yang diharapkan saat seseorang mengharapkan Tuhan dalam hidup kita.
- Jika kita memiliki sifat anak – anak :
(1) Trust. Anak mudah percaya, mudah ditipu, dibohongi. Kepercayaan penuh.
(2) Faith / iman. Sifat kebergantungan mutlak yang bisa ditemukan dalam diri seorang anak.

J.
- Tidak aneh – aneh. Seorang anak bertanya tentang sex, mamahnya jelaskan ga ngerti, papahnya jelaskan juga tetap tidak ngerti, ternyata yang ditanyakan anak hanya jenis kelamin, dan bukan yang macam – macam.
- Tidak menuntut.

K.
Perlu digali dari Roma 14 : 17.

L.
Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah adalah satu tema yang sama artinya di seluruh Alkitab. Mengapa muncul dua istilah ini? Bagi orang Yahudi kata “Allah” sangat sakral untuk digunakan sembarangan, maka Matius yang menulis (Injil Matius) kepada orang Yahudi, dia sering memakai istilah "Kerajaan Sorga." Sebaliknya Markus dan Lukas tidak pernah menggunakan istilah "Kerajaan Sorga" tetapi memakai istilah "Kerajaan Allah" karena ditujukan kepada orang non-Yahudi. Ke-2-nya sama maknanya. Dr. Peter Wongso (Buku: Obrolan Seorang Gembala) berkata: Kerjaan surga adalah pemerintahan Allah yang bersifat rohani yg melampaui ruang dan waktu yg non-materi. Jika demikian, apakah KS itu hanya suatu konsep abstrak dan yg sebenarnya tidak ada? Jawab: dari pengajaran Tuhan Yesus, jelas bahwa meskipun KS itu sifatnya rohani, namun itu real dan eksis. Tepatnya: dimana saja diberlakukan kehendak Allah, penguasaan Allah dan adanya umat Allah di situ hadir KS. Jadi KS bicara soal kehendak dan kuasa Allah atas individu yang menerima kontrol otoritas Allah yang menerima Kristus sebagai penguasa hidupnya. Siapakah yang memiliki kerajaan sorga?
1. Orang yang merasa dirinya tidak berdaya seperti seorang anak kecil yang tidak berdaya.
Jika Anda telusuri konteksnya, Yesus tidak sedang berbicara kepada orang non-Kristen, Yesus sedang berbicara kepada para murid. Dia menyuruh para murid untuk membiarkan anak-anak itu datang kepada-nya (Mrk. 10:15). Siapakah orang-orang yang akan diselamatkan atau pemilik kerajaan sorga itu? Seorang bayi adalah sosok yang sama sekali tidak berdaya. Ia sama sekali tidak mampu melakukan apa-apa. Tidak dapat makan, tidak bisa berbicara, tak dapat mengekspresikan diri, sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa! Kerajaan Sorga diperuntukan kepada mereka yang menyadari bahwa secara rohani mereka itu tidak berdaya, yang menyadari bahwa mereka sepenuhnya bergantung kepada kemurahan kasih karunia Allah, mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk menjamin kehidupan kekal mereka, mereka tidak mampu untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Karena itu, kita harus memiliki sikap seperti seorang anak kecil: kerendahan hati, ketaatan, percaya dan tidak mendendam.
2. Orang yang tanpa syarat datang kepada Yesus dan menerima anugerah keselamatan oleh iman. Ayat 13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ayat 14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Istilah “Datang” ερχομαι/ Erchomai, dalam bentuk Verb present middle infinitive and imperfect tenses: to come; come enter (sedang datang atau sedang masuk). Istilah “Menyambut/menerima” Δέχομαι/ Dechomai dalam bentuk, Verb aorist middle subjunctive, 3 person singular: to receive; accept, take. Artinya: kerajaan sorga itu diperuntukkan kepada orang yang membuat keputusan secara pribadi untuk merespons anugerah Allah dengan cara menerima atau mengambilnya, secara sadar dan sukarela, tanpa ada paksaan atau intimidasi pihak lain. Apakah anda bersedia menjadi seperti anak kecil yang tidak berdaya untuk menerima anugerah Allah? Kuncinya: mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus itu Tuhan dan percaya dalam hatimu bahwa Yesus sudah mati dan bangkit, maka engkau diselamatkan (Rm. 10:9-10). Jika anda menerima Yesus menjadi Tuhan dan Juruselamatmu, maka anda pasti diselamatkan (Yoh. 10:28-29; Rm. 5:9-10).

M.
Pada bagi ini Yesus banyak berbicara tentang Kerajaan Allah. Dia berulang kali berbicara tentang Kerajaan dan hal memasuki Kerajaan sama seperti di dalam Matius 18:1-5. Setiap kesempatan pasti dimanfaatkan oleh Yesus untuk memberi uraian kepada para murid, bahkan saat dia memberkati anak-anak. Yesus mengatakan, "Aku berkata kepadamu," dalam kalimat ini, jika ditelusuri konteksnya, Yesus tidak sedang berbicara kepada orang non-Kristen, Yesus sedang berbicara kepada para murid. Dia menyuruh para murid untuk membiarkan anak-anak itu datang kepada-nya, lalu - di dalam Markus 10:15 - Yesus melanjutkan, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."
Dalam ini Yesus ingin mengatakan kepada setiap orang pada waktu itu dan kepada kita pada masa sekarang ini tentang hal masuk dalam kerajaan sorga bukan bicara soal perilaku tetapi masalah sikap hati. Karena masuk sorga bukan karena amal perbuatan baik kita tetapi karena anugerah Allah semata-mata, yang penting disini adalah, kita memiliki sikap seperti seorang anak kecil. Yang menarik, Yesus ingin mengajarkan kepada kita bahwa sikap anak kecil identik dengan KEJUJURAN, KETULUSAN, dan KEPASRAAN.
Seorang anak tidak memiliki kemunafikan, mereka tulus dalam hatinya demikian juga anak selalu pasrah dan bersandar pada Tuhan (dalam hal ini orang tuanya). Sikap ini harus dimiliki bagi setiap kita yang ingin masuk dalam kerajaan sorga, kita harus belajar untuk memiliki sikap seperti seorang anak kecil yang penuh dengan keindahan.

N.
Dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus berulang kali bicara tentang kerajaan Allah. Dalam bagian ini Dia mengajarkan tentang siapa yang akan masuk dalam kerajaan Allah. Mereka yang menyambut kerajaan Allah seperti anak kecil menyambut kerajaan dialah yang akan memilikinya. Anak kecil memiliki ketulusan, percaya penuh, kesungguhan dalam mengasihi dan menyatakan kasih. Pelayanan, percaya dan kasih kita kepada Tuhan seringkali kita lakukan karena kita punya “maksud” tertentu entak itu kelancaran, berkat, kesehatan atau yang lain. Anak kecil menyembut Tuhan Yesus karena memang ia mengasihi-Nya bukan karena hal yang lain.

O.
Tuhan Yesus sangat menghargai seorang anak, bukan karena mau meremehkan/merendahkan orang dewasa/orang tua dari sisi lamanya hidup. Tetapi karena seorang anak mempunyai beberapa hal yang patut menjadi perhatian para orangtua, yaitu :
1. Jiwa dan hatinya masih polos, membutuhkan pengajaran, pengarahan & pembimbingan yang akan menjadi dasar yang kuat untuk dia menghadapi hidup di masa yang akan datang.
2. Jiwa dan hatinya masih haus, menyebabkan daya serap terhadap pengajaran, pengarahan & pembimbingan yang diberikan kepadanya sangat tinggi.
3.Jiwa dan hatinya masih lentur, membuat dia siap untuk diajar, diarahkan & dibimbing menjadi seperti yang seharusnya, jika ajaran Firman Tuhan memenuhi seluruh hidupnya, maka arah hidup, tujuan hidup, prinsip hidup & falsafah hidupnya benar seperti yang dikehendaki Tuhan.
Tuhan Yesus mengatakan kepada murid2Nya “jangan halang2i mereka, sebab orang2 yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah”, apa maksudnya ? Orang tua Yahudi sejak mula sudah diperintahkan Allah melalui Musa untuk mendidik anak2nya (Ulangan 6:6-9) dengan serius dan sepenuh hati, nilai seorang anak begitu berharga di mata Allah, karena pendidikan seorang manusia dimulai dari sejak seorang anak berusia dini (0-7 tahun), itu sebabnya dalam tradisi Yahudi pendidikan terhadap anak menduduki tempat yang utama, Amsal 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu.” Artinya pendidikan yang diberikan pada seorang anak akan mempengaruhi pembentukan wataknya.
Bagi orang Yahudi pendidikan di mulai dari dalam keluarga, kemudian baru dilanjutkan di sekolah. Bagi tradisi Yahudi pendidikan menjadi basis utama dalam membangun komunitas beriman, dan keluarga harus memikul tanggungjawab utama dalam proses pendidikan anak2nya.
Tuhan Yesus mau menyadarkan murid2Nya dan kita semua, betapa pentingnya anak2 di mata Yesus, anak2 harus menjadi perhatian utama untuk dibawa kepada Kristus karena anak2 sangat membutuhkan Yesus dalam kehidupan mereka, itulah sebabnya Yesus memeluk dan memberkati mereka.

P.
1. Dalam bahasa Inggris Children tetapi dalam bhsYunani “Paidia” 18 hari sampai12 thn. Disini dikatakan orang-orang membawa mereka kepada Tuhan. Apapun alasannya itu berarti ada kepeduliaan terhadap jiwa anak-anak.
2. Orang tua percaya bahwa berkat dari Tuhan Yesus Kristus adalah ekbaikan bagi jiwa anak-anak mereka. 13 supaya Ia menjamah mereka “menjangkau hati anak-anak itu” ada satu kontras, dimanamurid memearahi tetapi Yesus menyambut. Khususnya ayat 16 ada kaitan antara anak kecil dan kerajaan sorga. Karakteristik anak:
a. Taat / obey kepada orang tua
b. Trust = percaya sekali. Kaitannya dalam hal kerajaan sorga kita harus memiliki sikap seperti itu.
Respons Tuhan Yesus dlm ayat 16 adalah Tuhan Yesus memeluk dan memberkati anak-anak. Dengan demikian kita melihat betapa pentingnya seorang anak di hadapan Kristus

Q.
Ada satu kebiasaan ibu2 Yahudi senang membawa anak2 mereka untuk diberkati. Biasanya pada ulang tahun yang pertama. Tapi justru murid2 itu menghalani karena mereka tidak ingin Yesus di ganggu dalam pelayanan Nya. Tetapi Yesus justru menekankan kebenaran “this is the truth I tell You” menyambut anak sama dengan menyambut Yesus itu sendiri. dan dimata Yesus, anak-anak semuanya penting, berharga, dan perlu diselamatkan. Dalam ayat 15 untuk masuk ekdalam kerajaan sorga kita harus memiliki kualitas seperti anak. Ini tidak berarti bahwa anak-anak outomatic masuk ke dalam kerajaan
Sorga, itu sebabnya anak-anak harus dibawa kepada Kristus. itu sebabnya iman kepada Kristus harus diwujudkan dalam orang tua untuk membawa anak-anak kepada Yesus.

R.
Lukas 18:15 dijelaskan bahwa yang dibawa itu adalah bayi atau balita. Bayi atau balita itulah yang empunya kerajaan Sorga. Mengapa demikian? Bukan karena kebaikan atau perbuatan dari seorang anak. Tetapi kepercayaan kepada Yesus itulah yang membuat mereka memiliki kerajaan Sorga. Kepercayaan yang bagaimana:
1. Bayi atau anak-anak itu tidak berdaya. Waktu ia datang bukan karena kekuatan dan kepintarannya tetapi karena dari Allah sendiri.
2. Tidak mempunyai motivasi yang rumit, jahat.
3. Dapat menerima kasih dengan baik jika seseorang itu sungguh mengasihinya.
4. Bayi tidak berpura-pura karena mereka tulus apa adanya. Jika mereka sesuatu dapat menerima dengan sukacita dan bergembira.
Jadi banyak orang dewasa mendapat anugerah keselamatan tidak bersukacita. Tapi anak-anak begitu tulus menerimanya.

S.
1. Setiap orang perlu datang kepada Tuhan Yesus tidak tergantung berapapun usianya. Karena begitu manusia ada dalam dunia, manusia adalah orang berdosa yang tidak pernah berhenti dikuasai oleh dosa. Semakin lama seseorang hidup tanpa Yesus semakin menderita seseorang hidup dalam dunia ini.
2. Menyambut kerajaan Allah sepenuh hati tanpa motivasi yang lain. Karena seorang anak tidak memiliki yang lain kecuali karena ia datang kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus itu baik. Dia tidak pernah jahat. Itu sebabnya sikap hati seorang anak begitu murni dalam menerima Kristus.
3. Jamahan Kristus adalah berkat yang mendalami seluruh hidup seseorang. Semakin cepat seseorang mengalami jamahan Yesus dalam hidupnya semakin indah hidupnya sekalipun ada dalam dunia yang penuh kejahatan.

Jumat, 15 Juli 2011

Mendidik Untuk Dipersembahkan BagiNya (Ef 2:10; I Kor 12:18)

Mendidik Untuk Dipersembahkan bagiNya
Efesus 2:10, I Korintus 12:18


2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.

A.
1. Setiap orang percaya adalah ciptaan Allah dalam Yesus Kristus menjadi anggota tubuh
2. Melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah
Tuhan mempersiapkan dengan karunia-karunia yang berbeda dan dengan penempatan khusus. Itulah sebabnya kita harus menemukan karunia yang diberikan Tuhan, agar dapat melakukan tugas yang sesuai.
Menurut ayat2 yang lain, karunai ada dua macam, dan kedua hal dibawah ini sangat penting, saling melengkapi.
1. Karunia yang berkaitan dengan keterampilan.
2. Karunia yang berkaitan dengan karakter atau sifat seseorang  Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan.... (2 Tim 1:7)

a. Karunia bawaan  Mozart
b. Karunia yang diberikan karena dibutuhkan. Itulah sebabnya jangan iri hati atau tinggi hati, karena karunia berasal dari Tuhan, dan juga jangan merasa bahwa bila tidak dirinya maka gereja tidak bisa berkembang. Itulah sebabnya marilah kita saling melengkapi dengan kehadiran orang lain.

1. Karunia berkaitan dengan temperamen seseorang  introvert tidak cocok berpidato di depan umum.
2. Berkaitan dengan pendidikan seseorang  Petrus dan Yohanes adalah seorang nelayan, Paulus dididik oleh Gamaliel, sehingga surat yang ditulis pun berbeda.
3. Orang Kristen harus dilibatkan dalam pelayanan, sehingga ditemukan karunia dan bakat mereka.
4. Mendorong dan mengobarkan semangat seseorang dalam melayani, sehingga dapat semakin terasah karunianya  Barnabas yang mengangkat Paulus dan Markus, menjadi orang yang melayani dengan indah.
5. Karunia itu terlihat dari hasil pelayanan.
Tujuan karunia diberikan adalah untuk memuliakan Tuhan, menjadi berkat bagi jemaat Tuhan, maupun di luar jemaat Tuhan.

B.
Ada beberapa arti kata “PENDIDIKAN”
KBBI  memelihara dan memberi latihan, ajaran, bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran
Ki Hajar Dewantoro proses perubahan individu menjadi dewasa melalui proses pembelajaran, pembiasaan dan pengajaran.
Paulo Freire  proses liberasi atau pembebasan pikiran.
Pendidikan dalam kekristenan adalah untuk melakukan pekerjaan baik, untuk berhasil hidup bagi Allah. Kecenderungan manusia zaman ini adalah menekankan intelektual dan kurang menekankan iman. Padahal yang paling penting dalam hidup ini adalah memuliakan nama Tuhan.
Pendidikan harus diberikan secara khusus, tidak hanya secara umum.

C.
上帝所预备给我们所行的。并不是我们的功劳,是要一个新造的人。父母的责任就是要让孩子们可以跟神有完美的关系。Efesus 2:10 dilihat secara terbalik. Yang disiapkan Tuhan utk memuliakan Tuhan, yaitu mengerjakan pekerjaan baik. Dan seseorang dapat melakukan pekerjaan baik, kalau ia ada dalam ciptaan baru dalam Tuhan. Pekerjaan baik bukanlah segala sesuatu yang baik, melainkan pekerjaan baik yang Tuhan ingin kita kerjakan. Ini bukanlah hasil dari kita sendiri melainkan pekerjaan Allah. Jika dibicarakan dengan pendidikan, maka seringkali orangtua meminta anak melakukan pekerjaan baik, ini kehendak orang tua. Maka sebagai orangtua harus membawa anak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Ia sendiri menjadi tahu apa yg Tuhan ingin lakukan. Cth: di China banyak anak2 kecil yang berbeban berat, dari sekolah maupun pelajaran tambahan dari luar.

D.
“Diciptakan dalam Kristus Yesus”  artinya kita telah mendapatkan keselamatan, dengan tujuan untuk melakukan pekerjaan baik, yang telah dipersiapkan dan dikehendaki oleh Allah. Lalu bagaimanakah peran orang tua dalam mendidik anak?
1. Menemukan karunia Allah untuk dipersembahkan bagi Tuhan.
2. Mendidik anak sehingga memiliki kesadaran untuk mempersembahkan diri bagi Tuhan.

E.
1. Talenta untuk kemuliaan Tuhan
2. Talenta harus dikembalikan kepada Tuhan
3. Dalam mendidik anak, yang penting adalah kesatuan dalam keluarga, sehingga pendidikan anak diisi teladan dan kasih Kristus sendiri.

F.
1. Mendidik adalah tugas dan tanggung jawab orang tua, yang tidak dapat diserahkan kepada orang lain, atau lembaga apapun.
2. Mengakui otoritas Alkitab dan panggilannya  anak titipan Tuhan yang harus diurus dan dipersiapkan. Ada 2 contoh, PL  Samuel, PB  Timotius
3. Mempersembahkan bagi Tuhan, harus ikut KB. Keluarga yang direncanakan dengan baik.
4. Menentukan prioritas atau fokus dalam kehidupan anak-anak.
5. Menciptakan nuansa pembelajaran
6. Menegakkan disiplin pada anak, sedini mungkin.
7. Mendoakan dan menyelenggarakan ibadah keluarga, sehingga dalam hal kerohanian dapat dipupuk dengan baik.

G.
Ada 2 ciptaan Allah yang luar biasa: 1. Manusia, 2. Keselamatan. Manusia yang baru diciptakan dengan tujuan untuk melakukan sesuatu yang baik.

H.
Conny Newman, Tuhan menciptakan anak2 sesuai dengan desain yang Allah rencanakan untuk pekerjaan baik. Bukan untuk memaksakan konsep dan ide orangtua kepada anak.

I.
Ada yang melihat anak seperti malaikat sehingga dimanjakan, Ada yang melihat anak sebagai objek prestasi orangtua = prestasi anak, ada juga anak yang tdk dapat menjadi pribadi sendiri.
Anak adalah titipan Tuhan dan masuk dalam konsep perjanjian Allah.
Mendidik anak adalah ketetapan Tuhan dan harus dilakukan oleh orangtua.
Anak adalah titipan Tuhan yang sangat berharga, ada tiga hal yang harus dimiliki orang tua:
1. Iman yang nyata.
2. Pelayanan yang nyata.
3. Hati yang nyata, hati yang diubahkan Tuhan ketika mendidik anak.

J.
1) Kita adalah his workmanship, artinya orangtua memiliki tugas, tanggung jawab, dan panggilan untuk membawa anak mengexplore dirinya sendiri.
2) Tujuan utamanya untuk membawa hidupnya kepada Allah.

K.
Dalam dunia pendidikan sudah jauh melenceng dari pendidikan Kristen yang seharusnya. Pendidikan itu berarti memelihara dan menggali. Bible base education  mengakar pada pendidikan Ibrani. SOT  School of Tomorrow. Pendidiknya adalah orang tua, gereja mendidik orang tua, agar orang tua mendidik anak-anak.

L.
Tema surat Efesus adalah: Kristus dan Gereja. Surat ini tidak ditulis sebagai jawaban terhadap suatu kontroversi doktrinal atau persoalan pastoral seperti banyak surat lainnya. Paulus menulis surat ini ketika ia dipenjara kemungkinan di Roma (Ef. 3:1; 4:1; 6:20). Tujuan Paulus menulis surat ini tersirat dalam 1:15-17. Ia berdoa supaya pembacanya bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat, dan penyataan Bapa yang mulia. Ia merindukan hidup jemaat layak dihadapan Tuhan (Ef. 4:1-3; 5:1-2). Karena itu, ia berusaha menguatkan iman dan hidup rohani mereka dengan penyataan kepenuhan maksud kekal Allah dari penebusan dalam Kristus (Ef. 1:3-14; 3:10-12) untuk gereja (Ef. 1:22-23; 2:11-22; 3:21-4:11-16; 5:25-27) dan untuk setiap orang (1:15-21; 2:1-10; 3:16-20; 4:1-3; 17-32; 5:1-6:20). Paulus menegaskan kepada jemaat di Efesus bahwa ketika mereka menjadi percaya, mereka sudah menerima berkat rohani dalam Kristus (Ef. 1:3-14; 2:8-9). Hasil dari iman adalah mereka akan selalu berdoa dan bersyukur kepada Tuhan (Ef. 1:15-23). Kemudian mereka akan hidup di dalam pekerjaan yang baik (Ef. 2:10). Ada tiga hal yang ditekankan:
1. Allah menciptakan setiap anak secara unik dan pasti memiliki tujuan masing-masing. Paulus menegaskan dalam 1 Korintus 12:18 bahwa Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.
2. Tujuan bakat dan talenta anak adalah untuk memuliakan Allah. Nabi Yesaya tegaskan bahwa Allah menciptakan manusia untuk kemulian-Nya (Yes. 43:7). Setelah Paulus menjelaskan tentang anugerah keselamatan dalam Kristus (Ef. 2:8-9), ia melanjutkan dengan menegaskan bahwa tujuan dari keselamatan bukan hanya untuk masuk ke dalam kerajaan sorga, melainkan supaya melakukan misi Allah (Missio Dei), yakni melakukan pekerjaan yang baik (Ef. 2:10). Tuhan Yesus menegaskan hal serupa di dalam Matius 5:16, bahwa melalui perbuatan yang baik yang hasilkan dari orang percaya, Bapa di sorga akan dipermuliakan. Orang tua harus mampu mengajarkan anak mereka untuk mengingat Allah pencipta mereka pada masa muda mereka (Pkh. 12:1).
3. Tugas dan tanggung jawab langsung dari orang tua dan jemaat adalah untuk menemukan, mengembangkan dan menggunakan bakat dan talenta pada anak-anak mereka. Karena itu, setiap orang tua harus memahami dan menggumulkan keunikan/bakat dalam diri anak mereka sesuai dengan rencana Allah. Untuk itu perlu adanya pendidikan anak sedini mungkin tentang mengasihi dan takut akan Allah oleh setiap orang tua secara konstan (Ul. 6:4-9; Ams. 1:18).

M.
Manusia di ciptakan Allah pada dasarnya untuk belajar supaya bisa mengelola semua ciptaan Tuhan (mandat budaya). Apa saja yang harus dipelajari oleh manusia? Semua hal tentang kehidupan ini serta tentang alam semesta. Manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk bisa mempelajari segala sesuatu karena Allah telah mengaruniakan kemampuan otak dan hikmat sebagai kelengkapan proses belajar.
Mengapa manusia harus belajar? Supaya manusia memiliki “skill” yang baik untuk bisa mengelola alam semesta ini dan mempertahankan hidupnya bahkan segala kemampuan yang manusia miliki dipersembahkan pada Allah. Sebab, Allah menciptakan manusia diberikan talenta dan karunia yang harus dipakai dan dikembangkan. Demikian juga, kita diciptakan oleh Allah dengan tujuan memuliakan Allah dengan segala kemampuan serta kelebihan yang dimilikinya. Oleh karena itu setiap orang harus belajar untuk memberikan persembahan yang terbaik bagi Allah, tanpa belajar dan memiliki kualitas yang baik, maka tidak ada sesuatu hal apa pun yang layak dipersembahan kepada Allah. Jadi, belajar adalah kebutuhan mutlak yang harus dikerjakan oleh setiap orang jika ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan.

N.
Ketika Allah menempatkan kita disuatu tempat, pasti ada sesuatu yang harus kita kerjakan bagi kemuliaan-Nya. Bahkan ketika ‘tempat’ itu sangat tidak menyenangkan bagi kita namun disitulah Allah ingin memmbentuk dan mendidik kita. Yang perlu terus kita pikirkan adalah apakah kita telah melakukan seperti yang Tuhan inginkan, dengan demikian kita akan bertindak dan melangkah dengan baik untuk kemuliaa-Nya


O.
Apa tujuan pendidikan = disepanjang sejarah
Plato  buku Republic: pendidikan itu berusaha untuk mewujudkan sebuah negara yang lebih baik. Pendidikan itu akanmembentuk manusia yang utuh, yang akhirnya akan menghantarkan kepada kebajikan yang tinggi.

Aristoteles  tujuan pendidikan haruslah sama dengan tujuan akhir, yaitu mencapai keadilan dan kebaikan maka prosesnya harus diarahkan ke sana. Tapi ia lebih menekankan kepada konstitusi agar negara membuat peraturan yang lebih baik agar tercipta kehidupan yg lebih baik.

Lalu di Eropa abad 14 membuat konsep agar pendidikan mencari kebenaran dan negara tidak boleh mencampuri pendidikan. Agar bebas dari politik. Maka karena mereka mandiri, muncul banyak universitas yang terkenal.

Di Jepang, khususnya pada zaman pemulihan Meiji. Pendidikan dirancang untuk kepentingan negara. Moriarino arsitek pendidikan mendisain sebegitu rupa sehingga mampu bersaing dengan negara lain.
Berangkat dari situlah kita melihat bahwa semuanya sangat humanis.

Maka Paulus pernah berkata “apapun yg kita perbuat kita harus buat seperti untuk Tuhan” Kolose 3:23. Orang Kristen terpanggil dalam segala hal bukan hanya untuk dirinya, karena selalu ada link bahwa segalanya adalah Tuhan dimuliakan.

P.
Mendidik = Ibrani “mengabdikan” jadi pendidikan Kristen itu bertujuan agar anak-anak mengabdikan anak-anak kita kepada Allah dan kehendak Nya. Bukan untuk mengharuskan anak-anak memenuhi ambisi orang tua.
Apa yang dikehendaki Allah bagi anak itu?
1. Dalam akar kata yg sama “menstimulirkan anak untuk merindukan, mencari dan mengerti Tuhan” para bidan pd waktu membantu kelahiran, ia akan mengoles bibir bayi itu dgn cairan manis agar ia rindu dengan air susu.
2. orang tua harus menolong anak-anak untuk menemukan dan mengembangkan talentanya agar dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan.

Q.
1. Sejak kita percaya yesus maka tujuan hidup yg ditetapkan oleh Tuhan adalah melakukan pekerjaan baik yang telah ditetapkan oleh Allah.
2. Lingkungan hidup tempat dimana kita memraktekkannya adalah Gereja. Kesalahan orang tua, sibuk menyediakan hal jasmani dan melupakan hal rohani, sehingga ketika ia dewasa ia hanya punya tempat yg sgt minim untuk Tuhan.
Banyak hal yg membuktikan bahwa anak yang sejak kecil bertumbuh di dalam rumah Tuhan, maka kehidupannya dan rumah tangganya dilingkupi suasana rohani yg kental yang akan mewarnai hidupnya dan masa depannya.

1. Setiap orang tua bertanggung jawab untuk mencari tahu apa bakat dan talenta yg dimiliki anaknya untuk dipakai melayani Tuhan dalam Gerejanya.
2. Tugas orang tua untuk membawa anak-anaknya itu menemukan kerinduan dan kesukaan untuk melayani Tuhan di Gereja. I Kor 12:18. Setiap orang yang percaya kepada Tuhan. Maka semua orang percaya mempunyai fungsi khusus dalam rumah Tuhan. Itu Tuhan sudah berikan kepada setiap orang.

R.
Orang tua kristen terpanggil untuk memperlengkapi anak dalam:
1. Kemampuan untuk mengenali dan mengembangkan potensi yg ada dalam dirinya dalam bentuk talenta dan karunia.
2. Memahami panggilan hidupnya sebagai anak Tuhan.
3. Mempersiapkan anak menjadi anak yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman.
Kuncinya supaya anak mempunyai kerinduan untuk mempersembahkan semua talenta dan karunia kepada Tuhan, setiap anak harus bertemu dengan Yesus kristus sebagai Juruselamat.

S.
Allah menciptakan manusia baik adanya, tetapi manusia menjadi rusak dan meyimpang dari rencana Allah yg baik. Anak dilahirkan sudah memiliki benih dosa atau kejahatan yg terus bertumbuh dan berbuah jika tidak hancurkan.
Untuk menghambat dosa perlu pendidikan atau pengajaran supaya ikut ke jalan yg benar sesuai rencana Allah. Allah tidak menggunakan otoritasnya untuk memaksa agar anak bertumbuh tetapi memberikan wewenang kepada orang tua agar mendidik anak untuk dipersembahkan kepada Tuhan.
Bagaimana mendidik untuk mempersembahkan bagi Dia:
1. Memberitahukan hakekat, akibat dan tanggung jawab terhadap dosa.
2. Keselamatan bukan karena perbuatan baik tetapi anugerah dalam iman kepada Yesus Kristus.
3. Sebagai buatan Allah, yg diciptakan baru dalam Kristus Yesus maka orang percaya harus berbuat baik sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.
4. Allah telah memperlengkapi setiap orang percaya dengan karunia rohani. Maka orang tua harus mendidik untuk menemukan dan mengembangkannya untuk dipakai dalam pelayanan untuk kemuliaan Tuhan.

T.
Pendidikan itu menyangkut pendidik dan yang dididik. Bagaimana mungkin anak-anak dibawa kepada Tuhan jika pendidik itu sendiri tidak mengenal Tuhan. Maka pendidik sendiri harus bertemu dengan Tuhan secara pribadi.

U.
1. Mengapa mendidik anak? Karena itu adalah perintah langsung dari Tuhan. Hanya itu perintah Tuhan bagi orang tua. Efesus 6:4. Ulangan 6:1-9. Amsal 22:6
2. Bagaimana mendidik? Dalam ajaran (mengajar banyak hal yang belum diketahui anak-anak, dan tidak mungkin diajarkan oleh dunia) nasihat (mengarahkan, membimbing)
Mendidik untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk memuaskan diri sendiri. tanpa tujuan lain selain untuk memuliakan Tuhan karena suatu saat kita akan bertemu dengan Tuhan.

Jumat, 08 Juli 2011

Mendidik di Tengah Arus Zaman (Amsal 1:8-19)

MENDIDIK DI TENGAH ARUS ZAMAN
Amsal 1:8-19

PENDAHULUAN
Pendidikan adalah hal yang penting bagi anak karena keberhasilan anak dimasa mendatang, salah satunya dapat ditentukan dari seberapa baik pendidikan yang diberikan kepadanya. Akan tetapi seringkali ada konsep yang keliru dari para ortu mengenai pendidikan. Mrk hanya menyerahkan pendidikan kepada pihak sekolah ataupun kepada bimbel2 yang ada sedangkan ortu hanya disibukkan dg bekerja mencari uang. Padahal bimbingan atau nasehat dari ortu mrp pendidikan yang paling erat dan paling dekat dalam mendidik anak2. Bahkan ams 1:9 menuliskan bahwa ajaran ortu bagaikan karangan bunga bagi kepalamu dan kalung bagi lehermu. Hal ini menandakan bahwa nasehat ortu sll melekat dan membekali sang anak kemanapun dia pergi, dan mll nasehat itu pula anak2 mmlk dasar yang benar dalam mengambil setiap keputusan di dalam hidupnya. Oleh karenanya, sesuai dg ayat ke 8, maka pendidik dalam keluarga adalah ke 2 ortu bukannya hanya ibu atau bpknya saja.
Dalam meresponi tawaran dunia untuk hidup dalam kenikmatan dosa, maka disinilah pentingnya bagaimana peranan ortu dalam memberikan pendidikan yang benar dan sesuai dengan nilai2 firman Tuhan mutlak diperlukan. Jikalau melihat ayat ke 11-14, maka bs diketahui bgm dunia ini menawarkan kehidupan yang disertai dengan ketidakjujuran, pembunuhan, perjudian, mendapatkan uang atau jabatan dalam pekerjaan dengan cara yang salah, memperoleh kesenangan dengan cara2 yang dibenci oleh Tuhan. Dengan kata lain, dunia ini menawarkan kenikmatan2 meskipun harus ditempuh dengan cara2 yang tidak benar dan sgt bertentangan dg firman Tuhan. Itu sebabnya ada pepatah yang mengatakan “ora melu edan ora keduman”. Inilah tantangan yang besar yang hrs dihadapi oleh anak2 Tuhan saat ini, yaitu bgm tetap menikmati berkat2 dan penyertaan Tuhan dalam dunia ini meskipun tetap berada di jalur yang benar.
Di sisi yang lain, seringkali cinta ortu kpd anak2 hanya diluapkan dengan menyekolahkan anak di sekolah yang terkenal dan memberikan les matematika, bahasa inggris, mandarin, renang, gitar, piano, nyanyi, nari, dsb. Akan tetapi, tanpa adanya rasa takut akan Tuhan dalam diri anak tsb, maka apa yang telah dipelajari oleh anak tsb akan digunakannya untuk menyenangkan dirinya sendiri dan bukan untuk menyenangkan Tuhan. Kalau anak tsb pandai menyanyi maka kepandaian menyanyinya akan dipersembahkan kepada dunia ini dan bukannya kepada Tuhan, kalau anak itu pandai dalam bidang hukum maka kepandaiannya pun akan digunakan sbg alat iblis untuk menyenangkan dirinya sendiri dan menjatuhkan orang lain, dan bukan untuk kemuliaan Tuhan. Itulah sebabnya kenapa ortu hrs menekankan nilai2 firman Tuhan kepada setiap anak2nya. Ams 1:7 dituliskan bahwa hanya takut akan Tuhanlah terdapat segala pengetahuan yang benar. Dan di dalam ams 3:5 dituliskan percaya lah kepada Tuhan dan bukan kepada pengertianmu sendiri. Dengan kata lain, diperlukan secara mutklak tentang hidup takut dihadapan Tuhan dalam menjadikan seorang anak menjadi manusia yang berkenan di hadapan Tuhan. Oleh karenanya, janganlah ortu mmlk pandangan yang remeh thd pendidikan kekristenan, baik itu yang disampaikan kepada anak di dalam rumah, sekolah, ataupun gereja. (ex: ironis sekali kalau ortu akan marah kalau anaknya bolos sekolah, tetapi ortu tidak marah ketika anaknya tidak pergi sekolah mgg).
Sebagai kesimpulan, apa yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak di tengah arus zaman: 1). Peranan ortu yang sesunguhnya thd anak2. Bahwa ortu adalah wakil Tuhan maka secara tidak langsung Tuhan menuntut para ortu utk menjalankan peranan mrk secara benar, dan tidak bs memberikan tanggungan kepada suami atau istri saja dalam mendidik anak2, begitu pula dengan sekolah ataupun bimbel2 yang ada. Jangan sampai pula anak merasa lebih dekat kpd pembantu daripada ke 2 ortunya, krn banyak anak sejak pagi sampai tdr di malam hari tdk bs lepas dr pembantunya. Anak manusia bukanlah spt anak penyu dimana stl ditelurkan maka bs langsung ditinggal, ttp mrk memerlukan pendidikan ataupun nasehat ortu untuk mjd manusia yg benar dan berkenan di hadapan Tuhan. 2). Pembekalan nilai2 firman Tuhan sejak dini kepada anak2. Hal ini dapat sebagai bekal bagi anak2 dalam membedakan nasehat dunia dg nasehat ortu yang takut akan Tuhan sehingga masa depan anak2 pun pasti akan selaras dg nilai2 firman Tuhan. selain itu, Tuhan juga akan memandang gagal terhadap ortu yang lalai dalam menekankan nilai2 kebenaran firman Tuhan thd anak2. perlu juga diketahui bahwa jikalau anak mmlk rasa takut akan Tuhan, maka dia pasti akan hormat kpd ortu, tidak akan membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, tidak saksi dusta, dan tidak akan mengingini milik org lain. Dengan kata lain, keberadaan firman Tuhan yang kuat dalam diri si anak akan menjadikan anak tersebut siap menghadapi tantangan2 dunia yang bobrok ini.

A.
Salomo menulis kitab Amsal ini, seperti yang kita lihat dalam kehidupan Salomo yang gagal membesarkan anaknya.
1. Firman Tuhan bukan sebuah konsep tapi kebenaran yang harus dihidupi.
2. Firman Tuhan bukan sekedar pengetahuan tapi menjadi mentor.
3. Makin hari kebenaran tidak menjadi suatu hal yang sangat kruasial atau mutlak.

B.
Ada beberapa ayat yang berbicara mengenai pendidikan anak yaitu Amsal 22:6; 29:17. Kedua ayat ini jelas sekali menceritakan tanggung jawab orang tua untuk mendidik. Mendidik bukan menguasai atau mendominasi anak kita. Kesalahan orang tua adalah dalam mendidik anak sesuai dengan impian mereka atau cara dari mereka memperoleh didikan dari pendahulu mereka. Tujuan pendidikan adalah supaya anak kita tidak menyimpang melainkan memperoleh makna dalam hidup anak kita. Kita harus mendidik mereka karena mereka tidak tahu menjalani kehidupan ini. Karena itu sejak masih muda kita harus mendidik mereka. Dan ini harus dilakukan oleh kedua orang tua (ayah dan ibu). Mendidik anak bukan satu arah tapi menjadi rekan bagi anak kita.

C.
Kuasa orang tua terdapat dari teladan mereka, karena anak mereka yang melihat teladan orang tua akan memiliki modal yang sangat kuat di masa yang akan datang.

D.
Ayat 8, merupakan teguran atau peringatan kepada orang tua agar anak-anak mereka mengikuti apa yang mereka ajarkan. Survey menemukan bahwa orang tua hanya menghabiskan waktu selama 2 menit untuk berbincang-bincang dengan anaknya. Sedangkan survey yang lain menemukan bahwa anak-anak menghabiskan 2 jam untuk menonton televisi. Jadi, mana mungkin orang tua dapat mempengaruhi dan mengajar anak-anaknya bila hanya memiliki waktu 2 menit untuk anak-anaknya. Makanya tidak mengherankan bila anak-anak zaman ini lebih banyak diajar oleh media daripada oleh orang tua. Karena itu, orang tua harus menyediakan waktu untuk anak-anaknya.

E.
Fakta tentang anak – anak :
• Anak-anak lebih mendengarkan apa kata teman – temannya
• Anak – anak lebih mementingkan apa kata dunia dari pada orang tuanya
• Anak-anak berani menentang orang tua demi sebuah penerimaan di dunia ini
• Anak-anak suka tantangan yang mereka hadapi tapi tidak berhasil untuk melaluinya
Fakta tentang orang tua :
• Banyak yang mengurung anak – anaknya agar lebih baik
• Membatasi anak – anak tidak pulang malam agar lebih baik
• Memarahi dan menghajar anak – anak agar lebih disiplin, ternyata tidak
Fakta pendidikan :
• Kebenaran firman Tuhan harus diberitakan, dilakukan, diterapkan, dan juga dilakukan dimulai oleh orang tua sebagai teladan, agar anak – anak dapat mengenal kasih Tuhan dari keluarga mereka dan tumbuh menang atas arus zaman yang dipenuhi dosa ini.

F.
Robert Kiyosaki bercerita suatu kali ada seorang guru mengajar muridnya. Guru ini bertanya: lebih untung mana 5 tepung roti dengan harga 3500 atau 2 tepung roti dengan harga 2000? Kebanyakan anak memilih 5 tepung roti dengan harga 3500, tapi ada satu anak memilih untuk 2 tepung roti dengan harga 2000. Guru ini memarahi muridnya, tapi muridnya berkata bahwa yang dibutuhkan dirumahnya hanya 2 tepung roti. Seringkali kita kurang sabar untuk mendidik anak-anak kita dan tidak memberikan alasan-alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan anak-anak kita (lih. ayat 8 . . . yaitu memberikan pengertian dalam mengajar anak-anak kita). Intinya mendidik anak dengan hati dan akal budi.

G.
Ada 3 bagian dalam bagian ini yaitu konteks (8-9), point 1 (10-17), point 2 (18-19).
Konteks (ayat 8-9) untuk mendidik anak, karena itu:
1. Didikan untuk tidak hidup sama seperti dalam dunia ini, karena orang dunia ini dapat mempengaruhi kita menjadi orang yang jahat (10-17)
2. Kehidupan sama seperti orang dunia itu akan hanya akan membawa kehancuran (18-19)

H.
Pendidikan dalam rumah itu merupakan satu hal yang penting untuk menghadapi tantangan yang ada di luar rumah. Ayat 8 sangat penting yaitu, orang tua harus memiliki wibawa di dalam reward dan punishment dengan memberikan dialog untuk memberikan pengertian kepada anak-anak kita.

I.
Ayat 8, Salomo sungguh mengerti Firman Tuhan karena dia orang yang paling bijaksana tapi ia sulit mempraktekkannya karena hatinya condong kepada istri-istrinya yang tidak percaya sehingga ia tidak dapat mengajar anak-anaknya karena tidak memiliki dasar yang sama. Di dalam mengajar kebenaran bukan hanya sama imannya tapi juga memiliki hati yang sama untuk takut akan Tuhan. Di dalam mendidik anak, orang tua harus melakukan pengajaran ini secara konsisten dan berulang-ulang.

J.
Zaman ini adalah zaman yang bebas yang berpegang pada pengetahuan. Karena itu anak-anak dibiarkan oleh orang tua untuk menyenangkan anak-anaknya. Namun Firman Tuhan mengatakan dengan tegas untuk mendidik anak-anak kita. Karena itu, seorang bapa harus mendidik dan memberikan prinsip kepada anak-anaknya, sedangkan ibu mengajar untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Suami istri menjadi satu kesatuan di dalam mendidik anak, bukan untuk membingungkan anak. Saat ini banyak ayah yang tidak mengambil peran untuk memberikan pendidikan, semuanya diambil alih oleh ibunya, sehingga feminisme kuat di dalam diri seorang anak. Seorang anak harus memiliki gentle dan feminis, karena wibawa seorang ayah dibutuhkan dalam mendidik anak. Orang tua juga menjadi teladan, terbuka dihadapan anak-anaknya sehingga apa yang dipahami dan dilakukan orang tua dimengerti oleh anak-anaknya.

K.
Anak itu penting dan berarti, tapi bukan segala-galanya. Dalam keluarga, anak harus melihat posisi mereka di bawah orang tua. Dan orang tua harus memberikan pendidikan ini kepada anak-anaknya.
1. Pentingnya pendampingan orang tua kepada anak-anaknya. Kehadiran orang tua sangat dibutuhkan khususnya ketika anak membutuhkan orang tua (pendampingan dapat dinyatakan melalui nasihat, kehadiran, teladan, ketegasan).
2. Pentingnya kesatuan hati orang tua di dalam mendidik anak. Pertentangan dalam mendidik anak akan menghasilkan kebingungan kepada anak-anaknya.

L.
link : http://kevinjthompson.wordpress.com/2008/03/24/my-philosophy-of-christian-education/
http://hdr.undp.org/en/statistics/index.html#hdirank

M.
Hari ini kita belajar satu tema: Mendidik ditengah arus zaman. Raja Salomo memberikan kita banyak nasihat dalam kitab Amsal perihal mendidik anak. Tema Amsal: Hikmat untuk hidup dengan benar. Amsal 1:1-7 berisikan prolog; Amsal 1:8-9:18 berisikan 13 ajaran hikmat bagi kaum muda. Secara khusus dalam pasal 1:8-19 berbicara tentang nasihat Salomo mengenai pentingnya mendidik anak supaya mereka tidak terjerat dalam pergaulan yang buruk yang akan merusak masa depan mereka. Ada tiga hal yang penulis tekankan:
Pertama, mendidik anak adalah perintah langsung dari Tuhan (Ams. 1:8-9). Mendidik anak adalah tugas dan tanggung jawab yang Tuhan bebankan kepada orang tua. Mengapa? karena anak-anak tidak dilahirkan otomatis tahu apa yang baik dan tidak baik; yang benar dan tidak benar. Mereka belum bisa membedakan keduanya karena itu kita perlu mendidik mereka soal etika, moral, ajaran dan nasihat firman Tuhan. Dalam hal mendidik anak ada dua hal yang ditekankan Alkitab: (1) Orang tua bertanggung jawab mendidik anak. Bagaimana cara mendidik mereka? (a) Mengajar secara verbal: melalui perkataan; nasihat; berdasarkan firman Tuhan (Ul. 6:6-9; Ams. 22:6; 23:13; 29:17; Ef. 6:4). (b) Mengajar melalui contoh; teladan hidup. (c) Mengajar melalui disiplin, tatkala anaknya menolak didikan (Ams. 19:18; 23:13-14). (2) Anak-anak harus mau dididik oleh orang tua mereka, caranya: dengarkan nasihat orang tua dan taati apa yang mereka ajarkan dan nasehatkan Ams. 1:8-9).
Kedua, supaya anak kita hidup menjadi berkat bagi Tuhan, orang tua dan sesama (Ams. 1:10-15).
Anak-anak yang Tuhan titipkan kepada keluarga kita bisa menjadi berkat dan kutuk bagi keluarga dan orang lain. Anak-anak paling mudah dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan di mana mereka berada. Bisa pengaruh yang baik dan jahat. Sebab itu, Salomo mengingatkan bahwa mendidik anak tujuannya supaya mereka tidak terjerat oleh jebakan-jebakan dosa (ay. 10, 15). Dalam kehidupan anak muda juga sering berhadapan dengan pengaruh dari teman-teman untuk berbuat dosa. Tekanan dan pengaruh dari teman sebaya mereka akan menggoda mereka untuk bergabung dengan golongan mayoritas untuk menikmati kesenangan-kesenangan berdosa. Bagaimana menghadapi pengaruh dan godaan yang jahat itu? Orang muda dapat menolak godaan dosa dengan cara: (1) menjalin hubungan yang dekat dengan Tuhan; (2) berkomitmen hidup berdasarkan terang firman Tuhan (ay. 15-16); (3). menyadari bahwa hidup berkompromi dengan dosa dan kesenangan duniawi akan menuai sakit hati, kesukaran, malapetaka dan kebinasaan (ay. 27; Mat. 4:1-11).

N.
Tantangan dan arus jaman selalu mengalami perubahan dan kesulitan yang berbeda. Perubahan jaman selala membawa dampak positif dan negatif, dan hal ini perlu disikapi dengan arif bijaksana, terutama dalam soal pendidikan dan pengajaran anak. Sebab jika kita tidak mempersiapkan pendidikan serta pengajaran yang benar kepada anak dapat dipastikan anak akan tergerus oleh arus jaman ini. Arus jaman ini dapat membawa anak-anak kita ke dalam keruskan moral yang berat. Oleh karena itu, hal ini perlu diwaspadai dengan bijak dalam pola pendidikan anak-anak, apa yang harus dilakukan dalam mempersiapkan generasi muda sekarang ini?
I. mendidik anak-anak takut akan Tuhan.
II. Memberikan teladan yang benar sesusi dengan FT
III. Melatih dan Mempersiapkan anak-anak menghadapi perjuangan hidup.
Anak adalah titipan Tuhan yang harus didik, diajar dan dibimbing menjadi pribadi seperti yang Tuhan kehendaki. Supaya, anak-anak ini menjadi garam dan terang yang membawa pengaruh yang besar bagi lingkungannya. Sehingga bukan anak-anak kita yang teroengaruh oleh arus jaman ini tetapi justru mereka mempengaruhi dunia ini bisa mengenal Allah.

O.
Jaman ini kebutuhan finansial cukup tinggi, itulah sebabnya banyak keluarga bekerja mati-matian, mengejar karier dengan berbagai cara. Namun disisi lain anak-anak butuh kehadiran orang tuanya mendampingi pertumbuhan mereka seiring dengan pesatnya perkembangan jaman ini. Tidak mudah bagi keluarga bisa menjaga keseimbangan antara pendidikan karakter dan pemenuhan kebutuhan financial bagi generasi sekarang ini. Namun Amsal sekali lagi mengingatkan peran ayah dan ibu dalam mendidik dan mengajar anak-anaknya. Orang tua harus mengajarkan kepada anak-anaknya berkata tidak terhadap hal-hal yang membawa kehancuran meskipun ada resiko, ini harus dikatakan dan diajarkan berulan