Jumat, 18 November 2011

Membawa Kasih & Damai (1 Ptr 3:8-12)

MEMBAWA KASIH DAN DAMAI
(1 PETRUS 3:8-12)

3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,
3:9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:
3:10 "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.
3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."

Tujuan :
- Jemaat memahami jati diri seorang pengikut Kristus sebagai pembawa kasih dan damai, bukan sebaliknya.
- Jemaat membawa kehidupan yang menjadi berkat bagi orang sekitarnya.

PENDAHULUAN
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa penerima Surat Petrus yang pertama ini adalah jemaat non-Yahudi sebagai pendatang yang hidup di beberapa kota: Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (1:1). Mereka hidup dalam penganiayaan bukan karena mereka sudah melakukan suatu kesalahan tertentu, melainkan karena status mereka sebagai orang Kristen. Hal inilah yang kemudian menjadi tujuan surat penggembalaan (sekaligus konteks penerima surat) ini yaitu agar jemaat tetap tegar dan teguh di tengah penganiayaan yang berusaha menghimpit mereka dan mencabut iman mereka.

PENJELASAN
Perikop yang dibahas pada pertemuan ini (1Ptr. 3:8-12) adalah sebuah kesimpulan yang disampaikan oleh rasul Petrus (perhatikan frasa “Dan akhirnya”). Kesimpulan dari apa? Kesimpulan dari segala nasihat yang disampaikan mulai dari 2:11 yang sekaligus menjadi konteks dekatnya.
Dalam kesimpulannya yang dimulai di ayat 8, rasul Petrus memberikan lima perintah:
1. Hendaklah kamu semua seia sekata (NRSV-unity in spirit),
2. (Hendaklah kamu semua) seperasaan (NLT-sympathize with each other),
3. (Hendaklah kamu semua) mengasihi saudara-saudara (NLT-love each other as brothers and sisters),
4. (Hendaklah kamu semua) penyayang (NASB-kindhearted),
5. (Hendaklah kamu semua) rendah hati (NLT-keep in a humble attitude).

Kemudian rasul Petrus juga mengingatkan agar setiap jemaat meneladani Tuhan Yesus, yang sudah memanggil mereka “ke luar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (2:9b), dengan cara tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, atau (membalas) caci maki dengan caci maki (lih. Mat. 5:38-48 dan Luk. 6:27-36), melainkan membalasnya dengan kebaikan (3:9).

KESIMPULAN
Manusia memiliki kecenderungan untuk membalas kejahatan dengan segala macam alasan dan pertimbangan yang masuk akal dan dapat ditoleransi, terlebih kalau mereka dizolimi dan diperlakukan dengan tidak adil. Akan tetapi Tuhan justru meminta agar setiap orang percaya mengingat “panggilan Kristen” kita untuk memberkati orang lain, bahkan kepada mereka yang telah berbuat jahat. Inilah tuntutan Tuhan atas hidup Kristen kita, yang berbeda dengan cara pandang dan pola pikir dunia. Bukan hanya melakukan hal yang baik kepada orang yang berbuat baik, melainkan juga kepada orang yang bersalah kepada kita. Bagian kita adalah untuk taat dan melakukan segala yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus kepada kita, dan niscaya Dia akan memperkenan hidup Kristen kita dan memberkati kita “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya kepada permohonan mereka yang minta tolong” (3:12).

A
Ay. 12, menjadi dasar pengungkapan Petrus tentang kasih dan damai, Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat." Istilah “coram deo”, hidup di hadapan Tuhan, sebagai orang percaya kehidupan kita diperhatikan oleh Tuhan. Sehingga kita bertanggungjawab atas apapun yang kita lakukan. Bila Tuhan menjadi pondasi dalam kehidupan kita, sehingga ada 3 hal:
1. Ay 8, hidup dalam harmoni, hanya bisa terjadi bila ada simpatik, kasih persaudaraan, perhatian, dan kerendahan hati. Itu semua adalah karakter Tuhan, yang juga seharusnya kita hadirkan dalam diri, sehingga hidup harmoni di dalam Tuhan.
2. Ay. 9, jadilah berkat. Kecenderungan manusia adalah membalas kejahatan 2-3x lipat, bila ada kesempatan untuk melampiaskannya. Hal ini dapat merusak harmoni, itulah sebabnya Petrus mengajarkan kepada kita agar kita membalas dengan berkat, tidak dengan kejahatan.
3. Ay. 10, “ia akan melihat hari-hari baik”, ketika melewati hari dengan pertengkaran, pembunuhan, percekcokan, itu bukan hari-hari baik. Namun, kita harus mengusahakan hidup dengan kasih dan damai.

B
1 Petrus,
1. hubungan manusia dengan Tuhan
2. hubungan dengan orang-orang terdekat
3. hubungan dengan saudara seiman
4. hubungan dengan semua orang.
Mudah bagi manusia berhubungan baik dengan Tuhan dan keluarganya, namun yang menjadi masalah adalah dengan sesamanya. Dalam 1 Petrus ada 5 M(mencintai hidup, mau melihat hari-hari baik, menjauhi yang jahat, melakukan yang baik, mencari perdamaian). Mencintai hidup  mencintai Tuhan yang memberikan hidup, sehingga dapat membawa kasih dari Tuhan kepada lingkungannya, bahkan orang yang belum percaya kepada Tuhan. Hidup dalam Tuhan, menjadi sumber damai bagi kehidupan.

C
Ay. 9, dipanggil untuk memperoleh berkat. Bila ada seorang yang bersalah, pertanyaan pertama adalah “apakah kamu orang Kristen?” bila berkompromi maka dibebaskan. Berkat yang dimaksudkan Petrus adalah dalam 1 Petrus 1:6-7, iman yang teruji yang muncul seperti emas. Iman itu terwujud dalam perbuatan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, atau dengan caci maki.

D
Apa yang dipikirkan lingkungan tentang orang Kristen?

E
Petrus berbicara panggilan hidup bagi orang percaya, penekanan 9-12, hidup yang diberkati agar menjadi saluran berkat. Kejahatan dibalas dengan kejahatan manusiawi, Kebaikan kebaikan alami, Kebaikan dengan kejahatan duniawi, Kejahatan dengan kebaikan sorgawi.

F
Instropeksi: apakah kita sudah menjalankan apa yang kita kotbahkan? Menjadi teladan bagi jemaat kita?

G
Orientasi hidup kita terhadap pola hidup, berkat, dan pemikiran, bila itu semua telah berada dalam lingkaran firman Tuhan. Maka kehadiran kita dapat membawa berkat dan damai. Teladan Kristus dalam prinsip inkarnasi adalah orientasi hidupNya bukan untuk kepentingan sendiri, melainkan untuk membawa kasih dan damai.

H
Harga yang perlu dibayar ketika kita membawa kasih dan damai:
1. Siap disakiti dan diperangi – ayt 9
2. Siap mengasihi orang yang tidak layak dikasihi.
3. Siap memberkati orang yang tidak layak diberkati.

I
Kita tidak dapat membawakan kasih dan damai. Karena mereka menghadapi kenyataan hidup yang menjepit mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam 1 Petrus ditegaskan untuk melakukan perbuatan baik, dimanapun kita berada melakukan perbuatan baik, dengan demikian kasih dan damai terkandung dalam perbuatan baik kita.

J
Latar belakang yang penting disampaikan dengan lugas adalah seia-sekata, seperasaan, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan.
1. Penderitaan itu membawa efek, bisa membuat orang menjadi egois,
2. penderitaan yang disebabkan oleh pemerintahan Romawi, namun Petrus menegaskan untuk mengasihi mereka yang menyebabkan penderitaan.
Teladan Dalam pasal 2, ditekankan tentang penderitaan Kristus yang luar biasa.
Pemeliharaan Tuhan, ay 12. Dalam kondisi apapun juga, percayalah bahwa Tuhan memelihara, “hidup dalam persaudaraan, dalam kasih.”

K
Pada waktu Petrus menuliskan surat ini ditujukan kepada mereka yang menderita oleh karena penganiayaan yang bukan karena kesalahan mereka. Biasanya responnya adalah mata ganti mata, gigi ganti gigi. Bagaimana seharusnya kita berespon?
1. Bertindak berdasarkan belas kasihan  karena seperti itulah Tuhan memperlakukan kita.
2. Menjadi teladan dengan meneladani Kristus, yang membalas kejahatan dengan kebaikan.

L
Bobby Leach, pd 1911, tokoh stuntman yang paling disegani, terjun ke air terjun Niagara dengan sebuah tong, namun suatu saat dia terpeleset kulit jeruk dan meninggal dunia.
1. Seringkali perdamaian rusak karena hal yang kecil
Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian,
jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan,
jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan,
jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan,
jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan,
jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan,
jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan,
jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur,
memahami dari pada dipahami,
mencintai dari pada dicintai,
sebab
dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi,
untuk hidup selama-lamanya.
Amin.

M
Konteks dari 1 Petrus 3:8-12 adalah berbicara tentang karakteristik orang Kristen yaitu hidup dalam kasih dan damai diantara saudara seiman. Kita sering berpikir bahwa hidup damai berarti tidak hadirnya konflik. Seorang pembuat damai yang efektif ialah orang yang mengusahakan damai dengan membangun relasi yang baik dan tahu bahwa damai itu hasil dari sebuah komitmen. Pembuat damai mengantisipasi masalah dan berhubungan dengan masalah itu sebelum ia muncul. Tatkala masalah muncul, itu diselesaikan sedini mungkin, sebelum sampai membesar. Bagaimana hidup dalam kasih dan damai dalam gereja Tuhan?
1. Hidup dalam keharmonisan. Pada ayat 8, Petrus mendaftarkan empat kualitas hidup yang harus mewarnai karakter orang percaya. Kualitas-kualitas ini akan menolong orang percaya dalam melayani Allah secara efektif.
a. Simpati.
b. Mengasihi.
c. Berbelaskasihan.
d. Rendah hati.
2. Melepaskan hak untuk menuntut balas. Hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa, soal membalas jahat dengan jahat; saling menjatuhkan dan saling membunuh, itu hal yang biasa. Namun hidup dalam kerajaan Allah soal membalas kejahatan itu bukanlah sikap dan gaya hidup orang percaya. Pada ayar 9, Petrus tegaskan bahwa orang percaya tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. Itu adalah haknya Tuhan (Rm. 12:19). Pengampunan bukanlah hal yang adil. Sungguh tidak adil ketika Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan juga tidak adil ketika Anda harus mengampuni orang lain. Langkah pertama dalam memaafkan adalah tidak mengambil tindakan penegakan keadilan secara pribadi. Biarlah Allah yang akan menjadi Hakim yang tidak memihak. Setiap kali anda teringat betapa anda telah disakiti, lepaskanlah ingatan itu. Sangatlah menyenangkan bisa tetap teguh. Saat Yesus ditanyai berapa kali kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, Dia menjawab 70 kali 7. Dengan kata lain, kita harus terus mengampuni, tanpa batas.
3. Menguasai perkataan kita agar menjadi berkat. Pada ayat 10, Petrus ingatkan kita agar berhati-hati dengan perkataan. Hidup mengontrol lidah juga dijelaskan dalam Yakobus 3:2-18. Dalam budaya Yahudi, mengajar adalah sebuah profesi yang dianggap sangat bernilai dan terhormat. Sehingga banyak orang Yahudi termasuk yang Kristen ingin menjadi guru. Namun Yakobus mengingatkan kita bahwa mengajar itu memiliki tanggung jawab yang besar. Karena perkataan dan teladan hidup kita akan mempengaruhi kehidupan rohani orang lain. Tuhan Yesus menegaskan hal yang sama dalam Matius 12:36-37, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." Semakin banyak kita berhasil control lidah/perkataan, semakin banyak kerusakan dapat dikurangi. Karena itu, mari kita control lidah atau perkataan kita. Jika kita adalah seorang guru atau pemimpin, apakah anda membawa dampak yang baik bagi mereka yang anda pimpin?

N
Standar moral orang percaya harus berbeda dengan standar umum, kalau dunia memiliki semboyan kejahatan di balas dengan kejahatan tetapi dalam pandangan iman Kristen kejahatan di balas dengan kasih. Dari perbedaan prinsip ini akan membawa hasil yang berbeda pula, kejahatan di balas dengan kejahatan akan menghasilkan dendam yang berkepanjangan tetapi kejahatan di balas dengan kasih akan membawa damai serta kerukunan dalam hidup bermasyarakat. Karena kasih menutupi segala kebencian, amarah dan hawa nafsu manusia.
Kasih ilahi harus dijadikan dasar dalam hidup bersosialisasi baik dalam lingkungan orang percaya (gereja) terlebih dalam lingkungan masyarakat luas, sehingga memberikan ciri tersendiri bagi orang percaya. Sehingga orang lain melihat bahwa di dalam iman Kristen ada keunikan yang indah untuk diteladani dan di imani.

O
Hidup bersama dengan rukun dan damai merupakan dambaan bagi setiap orang. Untuk menciptakan hidup rukun dengan dilandasi kasih tidak mungkin datang dengan sendirinya, harus ada perjungan dan pengorbanan. Pengorbanan apa? yaitu memwujudkan kasih persaudaraan dengan tulus. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi dengan kasih seperti yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita. Jika setiap orang percaya berusaha mewujudkan kasih itu maka hidup rukun bersama dalam damai pasti akan terjadi.

P
Adanya kasih dan damai, timbul dari kesadaran karena org itu mau merendahkan diri, disamping itu kedamaian juga berkaitan dengan keadilan. Keadilan memberikan andil didalam kedamaian, keadilan sendiri juga berdasarkan kasih. Olek karena itu Yesus selalu berbicara tentang Kasih, karena dengan kasih, ada kedamaian, dan karena kasih ada keadilan. Jadi kalau segalanya bermuara pada kasih, maka kita sudah mendatangkan kerajaan Allah.( Matius 5 : 9). Paulus mengatakan bahwa orng boleh memiliki segalanya, bahkan boleh berbicara dengan bahasa malaikat, namun, jika tidak ada kasih semuanya sia2.

Q
Mengapa orang Kristen harus membawa KASIH dan DAMAI?
Karena memang itulah yang diperintahkan YESUS.
Ciri seseorang yang telah memiliki KRISTUS adalah memiliki Kasih. Kasih bertolak belakang dengan Kebencian, Kasar, tidak mengampuni, tidak suka menolong, egois dsb. Sehingga, jika sesorang memiliki Kasih, dimanapun ia berada, dalam situasi apapun, berhadapan dengan tipe manusia apapun, pasti ada DAMAI.
Hanya dengan memiliki kerendahan hati, seseorang bisa memiliki kasih dan damai. Dengan sifat yang penuh kasih dan suka berdamai kita bisa menjadi berkat bagi lingkungan kita. Di rumah tangga, pekerjaan, dan dalam pelayanan kita.

R
Orang percaya harus mampu menghadirkan kasih dan damai yang sejati bagi dunia ini, agar olehnya dunia dapat berdamai dengan Allah. Sebagaimana Kristus hadir dalam sejarah umat manusia, Ia mampu memperlihatkan sebuah perbedaan kualitas hidup yang tiada taranya. Tuhan Yesus mampu menyentuh hati orang2 dalam lingkungannya dengan sentuhan kasihNya yang melimpah ruah. Ia memperlihatkan bagaimana caranya mengasihi orang berdosa dan mengampuni mereka. Bahkan dengan kasihNya tak terbatas Ia telah mengampuni orang yang telah menghina, memfitnah, menganiaya dan memusuhinya. Kehidupan kasih Yesus telah mendamaikan manusia dengan Allah. Bagaimana dengan kita?

S
Meskipun orang Kristen tidak mempunyai pemikiran yang sama dengan tepat, mereka harus memiliki Kasih diantara satu dengan yang lainnya. Jika seseorang ingin hidupnya nyaman di dunia, dan memiliki hidup kekal, ia harus menjaga lidahnya dari yang jahat dan dari kata2 yang menipu. Ia harus meninggalkan perbuatan yang jahat dan melakukan perbuatan yang baik, sehingga bisa mendatangkan damai sejahtera di antara sesama. Setiap orang meneladani kehidupan Yesus dan melakukan kebaikan dengan sempurna.