Jumat, 14 Oktober 2011

Keluarga Tempat Bersemainya Iman (2 Tim 1:5)

Keluarga Tempat Bersemainya Iman
2 Timotius 1:5

Tujuan :
1. Jemaat memahami iman yang bertumbuh dan berkembang akan menjadi warisan yang indah bagi keturunan dari beberapa generasi.
2. Jemaat terlibat dalam menjadikan keluarga sebagai wadah pertumbuhan iman.

LATAR BELAKANG
Timotius telah dididik dalam Alkitab sejak masa kanak-kanaknya, sesuai dengan perintah Allah dan adat bangsa Yahudi. Hal itu juga telah dinyatakan oleh rasul Paulus, "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepada-Mu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus." (2Timotius 3:15).
Paulus berbicara tentang keharusan membina dan mendisiplin anak- anak kita secara terus-menerus: seperti yang diteladankan oleh Lois dan Eunike "Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu." (2Timotius 1:5).
Kis 16:1-3,…..
Berbicara tentang Timotius, kita tidak bisa terlepas dari didikan yang diterimanya. Timotius yang masih muda dapat menjadi pemimpin bahkan menjadi perintis pekabaran Injil serta pemikir Kristen adalah karena didikan yang diterimanya. Paulus, rasul yang besar dan terkenal bahkan menyebutnya sebagai satu-satunya orang ‘yang sehati dan sepikir’ dan yang tidak mencari kepentingannya sendiri melainkan kepentingan Kristus (Flp. 2:20).
Nama Timotius berasal dari kata Yunani yakni Timotheo artinya menghargai Allah, takut akan Tuhan. Timotius adalah putra seorang wanita Yahudi beragama Kristen bernama Eunike yang bersuami seorang Yunani (lih. Kis. 16:1).. Timotius dididik secara kristiani oleh ibunya. Selain itu dia juga menerima didikan secara kristiani dari neneknya yang bernama Lois (lih. 2 Tim. 1:5). Alkitab menjelaskan bahwa pengaruh pertama yang dialami Timotius adalah pengaruh asuhan orangtuanya dan terutama ibu dan neneknya yang mengajarnya Alkitab sejak ia kecil. Nama Lois dan Eunike hanya muncul sekali dalam Alkitab, nama mereka tercatat dalam sejarah karena mereka meninggalkan kesan yang tidak terhapuskan pada Rasul Paulus.
Perkenalan Paulus dengan Timotius dicatat di Kis. 16:1-3. Di situ, Timotius muda dipercaya Paulus untuk ikut dalam pelayanan misinya yang kedua (Kis. 15:36-18:22). Melalui pelayanan inilah, Timotius bertumbuh menjadi murid dan anak rohani Paulus. Paulus merasa yakin bahwa pendidikan rohani dan bantuan yang telah diberikannya kepada Timotius tidak akan berhenti sampai di situ saja, sebab Timotius sudah membuktikan bahwa ia telah menerima pelajaran itu dengan sungguh-sungguh. Sekali lagi Paulus mengarahkan Timotius kepada tugas yang terbentang di hadapannya (2:2)
Lois dan Eunike memakai setiap kesempatan untuk mendidik Timotius sejak kecil dalam pengenalan tentang Alkitab. Dan tidak hanya itu, mereka menunjukkan kepadanya melalui kehidupan mereka bagaimana iman harus diterapkan dalam keluarga. Lois dan Eunike bersyukur ketika Timotius memulai tugasnya untuk memberitakan injil. Lois dan Eunike bukan saja meletakkan dasar firman Tuhan bagi Timotius tapi juga mempersiapkannya untuk pekerjaan pelayanan Timotius.  firman Tuhan menjadi petunjuk, dan Timotius berpegang teguh pada firman itu dan melaksanakannya di dalam kehidupan.

A
Keluarga Timotius adalah keluarga yang menjadi teladan bagi keluarga kristen hari ini, di mana ada iman dan teladan yang dipraktekkan. Kemudian kalau kita melihat bahwa keluarga tempat bersemainya imam, maka anak-anak harus bisa melihat kalau keluarga bukan sekedar hotel atau tempat persinggahan, tetapi tempat naungan di mana keluarga menjadi tempat ditanamnya nilai-nilai hidup. (Tolong penekanan untuk menggunakan buku keluarga yang dibagikan, sehingga para bapa bisa menjadi imam bagi keluarga).

B
Keluarga remaja saat ini adalah keluarga yang tidak normal, di mana orang tua tidak saling mengasihi. Karena itu, perlu diingatkan bahwa pendidikan iman penting sekali, krisis terbesar adalah ketika cinta meninggalkan keluarga.

C
Prioritas menjadi keluarga itu adalah penting. Dalam kehidupan Timotius, prioritas adalah kehidupan iman untuk takut dan taat kepada Tuhan sehingga pada masa dewasa mereka tidak menyimpang. Karena itu, pada masa kini, orang tua harus kembali kepada pola asuh yang benar sehingga pendidikan iman itu dapat diajarkan dan diterapkan (termasuk para hamba Tuhan).

D
Timotius adalah keluarga yang mendapat belas kasihan dari Tuhan, sebab orang tuanya bukanlah pasangan yang sepadan. Namun demikian, pendidikan itu sangat kuat sekali dalam keluarganya, sehingga iman itu bersemai dalam keluarganya. Penekanan kepada jemaat: Jangan meniru pernikahan beda iman, sehingga bisa mendidik anak dalam iman yang sama.
Sistem pendidikan pada waktu itu sampai abad 18, TK tidak ada. Pendidikan anak, ibu diserahkan waktu 6 tahun untuk mengajar anak-anaknya. Maka pengaruh ibu itu sangat penting sekali. Karena itu, seorang ibu harus memprioritas pendidikan anaknya sampai anak berusia 6 tahun. Pada usia 7 tahun, seorang ayah menunjukkan bertahan dalam iman. Iman yang tulus (sine cere) memiliki arti tanpa dempul, yaitu iman yang kelihatan tanpa menutupi. Jadi keluarga tempat bersemainya iman, artinya memelihara.

E
Statistic orang menerima Tuhan Yesus, dalam usia:
4-14 tahun : 85 %
15-18 tahun : 4 %
19- : 6 %
Ilustrasi: Perbedaan keturunan antara Jonathan Edward dan Max Jukes adalah karena orang tua yang mengajarkan pengajaran iman.

F
Iman yang tulus ikhlas adalah iman yang tidak munafik atau apa adanya ketika menghadapi penderitaan dan pengajaran sesat. Paulus mengingatkan kepada Timotius agar tetap kuat menghadapi tantangan tersebut, sebab iman yang diajarkan kepadanya adalah iman yang kuat. Jemaat harus menyadari bahwa iman diajarkan bukan disekolah atau di gereja saja tapi juga dalam keluarga. (con: Nietsche dan Marx)

G
Iman adalah anugerah Allah, tapi iman tidak dapat bertumbuh secara otomatis tapi juga diajarkan. Hal ini yang terlihat dari pengajaran Eunike dan Louis kepada Timotius. Walaupun ayahnya bukan orang percaya, tapi di sisi lain ada anggota keluarga lain yang memiliki iman yang kuat sehingga Timotius (artinya: menghormati Tuhan) bisa menjadi teladan.

H
Esensi: (bdk Ul. 6:6-9), harus diperhatikan (disimpan dalam pikiran dan hati) yaitu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Orang tua tidak bisa pura-pura selama 24 jam, karena itu orang tua harus terus menghidupi imannya sehingga bisa ditiru oleh anaknya. Berulang-ulang yaitu secara terus menerus. Dalam semua kesempatan, orang tua harus available untuk anak-anaknya. Dengan demikian, orang tua bisa mengajarkan iman kepada anak-anaknya sesuai dengan jenjang usianya.

I
Arti nama Louis (lebih diinginkan atau lebih baik); Eunike (kemenangan yang baik). Dalam pendidikan ada 3 hal: knowledge, understanding, wise (sharing of life). Berbagi hidup ini tentu saja dari orang tua yang hidup bersama-sama dengan anak-anaknya, teladan inilah yang membangun iman anak-anaknya.
(lihat Veritas, Oktober 2005).

J
Pengenalan akan Tuhan kepada Anak membutuhkan konsistensi dengan ketekunan dari orang tua. Anak dapat mengenal Allah melalui pengajaran dan keteladanan iman dari orang tua atau keluarga. Anak dapat cepat belajar dari melihat dan mengalami secara langsung dalam hidupnya, demikian juga tentang Allah, anak dapat belajar dan mengenal Allah dari lingkungan keluarga yang percaya kepada Tuhan. Sayang banyak keluarga kurang memperhatikan bahkan cenderung mengabaikan dalam hal ini, sehingga anak-anak tidak memiliki konsep iman jelas dan kuat tentang Allah. Oleh karena itu setiap keluarga perlu menyadari, betapa pentingnya untuk menanamkan iman tentang Allah sedini mungkin kepada anak.

K
Keluarga merupakan tempat anak bertumbuh secara jasmani, mental dan spiritual. Keteladanan menjadi bagian yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan tersebut. Timotius bertumbuh dalam keluarga yang mengenal Allah dan iman keluarga tersebut diturunkan pada generasi berikutnya. Pendidikan iman orang Israel sungguh luar biasa (Ul. 6:4-9); pertama keteladanan (sebelum mereka mengajarkan kepada anak-anak; mereka harus terlebih dulu melakukan pengajaran itu dan memperhatikan pengajaran tersebut dengan sungguh, ay 5-6), kedua keseriusan (tidak dilakukan sambil lalu, tapi berulang-ulang ay 7). Pendidikan iman adalah tanggung jawab orang tua bukan lembaga gereja atau sekolah.

L
Timotius adalah seorang muda yang mempunyai iman yang tulus ikhlas yang diwarisi neneknya Lois dan ibunya Eunike. Iman yang dimiliki Lois dan Eunike adalah iman yang benar-benar mengusai hidup mereka sehingga iman yang demikian mempengaruhi iman dan hidup dari Timotius. Iman Timotius bertumbuh berkat didikan dari nenek dan ibunya yang sungguh-sungguh hidup dalam iman dan menghidupi iman tersebut. Lois berarti disetujui atau dikehendaki adalah seorang penganut Yahudi yang tinggal di Listra. Lois memiliki anak perempuan yang diberi nama Eunike yang berarti “kemenangan atau sukacita kemenangan”, dimana Eunike dididik dalam Tuhan oleh Lois, dan meskipun menikah dengan pria Yunani, Eunike tetap teguh pada imannya. Sesuai dengan nama Eunike, diamen dapat kemenangan atau sukacita kemenangan, atas suaminya dan orang disekitarnya yang menyembah illah lain.
Timotius nama yang diberi oleh Eunike yang berarti “orang yang takut pada Tuhan”. Lois dan Eunike mendidik Timotius sesuai dengan namanya yaitu takut pada Tuhan. Pada waktu Injil yang diberitakan oleh Paulus ketika ia mengunjungi Derbe dan Listra, Lois, Eunike dan Timotius menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat.
Pada kunjungan Paulus yang kedua, dia mendengar perbincangan di jemaat Listra dan Ikonium tentang kesalehan Timotius yang masih muda yang membuat Paulus memutuskan mengajak Timotius untuk bersamanya melayani dan mengiring perjalanannya.
Timotius mengikuti Paulus ke Prigia, Galatia, Misia, Troas, Filipidan Berea. Dia juga bersama Paulus ketika di Atena, yang kemudian bersama Silas diutus ke Tesalonika. Bersama Paulus ke Korintus dan tinggal di Efesus, terus diutus ke Makedonia. Selanjutnya bersama Paulus ke Asia. Pada waktu Paulus dipenjara di Roma, Timotius mengunjunginya dan bersama ikut dipenjara. Ketika Paulus dipenjara lagi, dia menulis surat pada Timotius untuk membawakan jubah, kitab-kitab dan perkamen yang tertinggal di Troas (2 Timotius 4:13)
Paulus sangat terkesan pada kesetiaan dan kesungguhan pelayanan Timotius. Sehingga Paulus memuji iman Timotius yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. (2 Timotius 1:5). Semuanya karena persemaian iman dalam keluarganya, yang seharusnya menjadi contoh bagi kita untuk menjadikan keluarga sebagai tempat yang subur bagi persemaian iman.
Bagaimana kita dapat menjadikan keluarga tempat bersemainya iman :
1. Orang Tua harus mempunyai iman yang tulus ikhlas.
2. Orang Tua menyatakan atau mengajarkan FirmanTuhan kepada anak-anak sejak kecil.
3. Orang tua member contoh bagaimana hidup dalam iman, yang bukan hanya sebagai teori saja tetapi mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

M
II Tim 3;15 ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal kitab suci. Ini berarti sejak kecil ada yang memperkenalkannya kepada dia. Itu adalah peran nenek dan ibunya yang mendidik Timotius berdasarkan firman Allah. menstimulir orang untuk selalu haus akan kebenaran firman Allah. sekalipun bukan hal yang mudah untuk mengajarkan kebenaran firman Tuhan. Eunike benar2 mempertahankan kebenaran firman Tuhan dalam pendidikan karena suaminya seorang Yunani. Firman itulah yang telah menuntun Timotius kepada keselamatan bahkan kepada pelayanan bersama Paulus. Kesimpulannya: keluarga memang adalah tempat persemaian iman. Dan orang tua adalah alat di dalam tangan Allah untuk mendidik anak kepada Tuhan.
Pdt. Unandi:
1. Iman mulai dari firman yang didengar dan diajarkan serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Iman harus dengan ketulusan dan kebenaran  banyak hal-hal iman yang terjadi dalam kehidupan orang percaya. Tetapi Timotius memiliki iman yang tulus ikhlas. Iman tidak bisa bertumbuh dalam kemunafikan, motivasi yang lain dan sembarangan. Iman yang tdk dibangun dlm kebenaran, kejujuran.
3. Iman harus berbuah dan hidup dalam pelayanan yang memuliakan Allah. iman harus nyata dalam sikap hidup kita.

N
Tuhan memberikan mandat kepada orang tua untuk mendidik anak, tetapi kadang orang tua sibuk dengan memenuhi kebutuhan anak secara materi, bukan rohani. Apa yang ditabur orang tua sejak kecil kepada anak-anak akan memeberikan pengaruh yang besar dikemudian hari. Orang tua dapat mendidik dan menularkan iman kepada anak. Melalui teladan sehari-hari. Ibadah keluarga yang sejati bukan sekedar rutinitas, tetapi harus menghidupkannya dalam setiap pribadi keluarga.

O
James Fowler  dia adalah orang yang mencetuskan faith development teori. Orang ini dithabiskan sbg pendeta gereja di methodist di Amerika. Pandangannya: beragama itu adalah bagian dari proses mencari makna, sebab itu adalah meaning maker, manusia adalah pencipta makna pada sesuatu /iman/agama. Sederhananya bagi Fowler iman adalah sesuatu yang luar dari sekedar percaya.
1. Iman sejati itu berkaitan dengan pengetahuan. Seseorang tidak mungkin bisa berkata ia beriman kalau ia tidak mengerti tentang imannya berdasarkan atau berakar pada apa. Iman itu bukan sekedar pecaya, tetapi hrs didasari pada fondasi yang benar.
2. Iman harus berdasarkan iman, kasih dan pengharapan. Inilah yang telah dikatakan oleh Paulus.
3. Iman itu berkaitan dengan percaya dan mempercayakan diri kepada Allah.

P
Timotius menjadi murid yang baik ketika Paulus menemukan dia di Derbe dan Listra. Dan itu disebut oleh Paulus karena iman dari Lois neneknya dan Eunike ibunya. Timotius adalah seorang bishop yang pertama di Efesus II Timotius. Dari keluarganya Timotius belajar memiliki iman yang tulus dan teguh. Walaupun ia memiliki bapa seorang Yunani, tetapi ia memiliki nenek dan ibu yang beriman.
1. Iman yang benar didasarkan pada Firman Tuhan dan pertobatan pribadi.
2. Iman yang benar bertahan dalam segala persoalan dan tantangan hidup. Segala masalah dalam keluarga atau yang dihadapi dalam keluarga, seharusnya membangun iman kepada Tuhan.
3. Iman yang benar adalah iman yang membuat orang memberi hidupnya kepada Tuhan.

Q
Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa keluarga memiliki peran penting dalam kehidupan bergereja. Dgn perkembangan jaman yg begitu cepat dan berbagai tantangan serta godaan yg menggiurkan maka penting sekali anak2 Tuhan memperkuatkan imannya agar tidak tergoda dan tidak jatuh dalam dosa. Iman seperti apa yang bersemai didalam keluarga
1. Iman yang siap berhadapan dengan realita tidak lari dari tanggung jawab. Berani menghadapi apa yang terjadi saat sekarang ataupun peristiwa yang akan datang.
2. Iman yang disertai dengan perbuatan.
Timotius menerima warisan iman dari neneknya. Disini dituntut setiap kita untuk diproses mengalami pembentukan yang melahirkan karakter anak Tuhan sehingga menjadi berkat dalam keluarga dalam bergereja sehingga menjadi berkat dalam keluarga, dalam gereja dan lingkungannya.

R
Keluarga adalah lembaga pertama yg dibentuk oleh Tuhan sendiri, dan menjadi lembaga tertua di muka bumi ini. Sebagai lembaga yg langsung dibentuk oleh Tuhan, keluarga memiliki tujuan yg mulia yaitu Untuk memuliakan Tuhan. Timotius adalah anak yang hidup dan bertumbuh dalam sebuah keluarga yang sangat mengasihi Tuhan dan mendukung penuh pertumubuhan dan pendewasaan iman Timotius. Bagaimana sebuah keluarga dapat menjadi tempat bersemainya iman.
1. Sungguh2 hadir dalam kehidupan keluarga
2. Menjadi keluarga dalam kehidupan keluarga
3. Membangung nilai2 kekal dalam kehidupan keluarga

S
Paulus mengingatkan kepada Timotius tentang warisan iman keluarganya, dari neneknya Louis dan ibunya Eunike.Bagaimana memelihara warisan iman itu.
1. Mengobarkan karunia Allah yg ada padanya.
2. Jangan takut menghadapi tantangan dalam pelayanan
3. Jangan malu bersaksi

T
Gereja yang kuat terdiri dari keluarga yang kuat. Sangat penting menanamkan nilai2 kerohanian dalam keluarga. Dengan Cara :
1. Orang tua terlebih dahulu menjadi teladan rohani bagi anak2.
2. Sangat penting ada persekutuan keluarga
3. Sangat penting menciptakan atmosfir rohani dalam keluarga (lagu, film, gambar2 dinding)
4. Sangat penting peranan Ayah (sebagai imam dalam keluarga) dan peranan ibu.
5. Sangat penting membawa seluruh keluarga melayani Tuhan.
Ada janji Tuhan…jangan takut dan tetap menyaksikan Kasih Tuhan.