Sabtu, 22 Oktober 2011

Keluarga Dalam Pemeliharaan Allah (Habakuk 3:17-19)

KELUARGA DALAM PEMELIHARAAN ALLAH
Habakuk 3:17-19

A
Inti dalam pemberitaan Habakuk (konteks Israel suku Yehuda di selatan dalam pembuangan) adalah bahwa: Orang benar akan hidup oleh imannya, dikutip dalam Roma 1:17. Hidup orang benar didasarkan bukan kemampuan namun iman yang menjadi fondasi untuk menguatkan kondisi manusia dalam pergumulan.
Ada 2 alasan:
1) Kondisi yang diwarnai kejahatan (penindasan). Hukum terbalik  manusia tidak mentaati hokum, namun perbuatan/kekerasan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Akibatnya akan menimbulkan pergumulan bagi bangsa (konteks keluarga)
2) Kondisi yang penuh dosa. Tuhan membangkitkan orang Kasdim utk menghukum orang Israel yang hidupnya berantakan.
Masihkah ada harapan/pemeliharaan Tuhan yang tidak hanya untuk bangsa Israel dalam kondisi yang kacau?
Masih ada harapan, karena 4 alasan:
1) Orang yang hidup dalam iman adalah orang yang memiliki ketenangan, ketika memiliki Tuhan, apapun persoalan kita, maka akan tenang. Orang yang tenang dalam Tuhan, Tuhan menjadi kekuatan.
2) Orang yang mengandalkan Tuhan dalam iman, akan memiliki keyakinan yang penuh (ay.17). Kondisi tidak memungkinkan untuk berharap, namun mereka memiliki keyakinan. Di dalam kehidupan pasti ada duka dan suka, ada kegagalan dan ada keberhasilan.
3) Orang yang beriman akan tetap berada dalam Tuhan. Di dalam Tuhan ada sukacita, sorak-sorai, keselamatan (Maz 127:1).
4) Orang yang hidup dalam iman/bergantung pada Tuhan, maka senantiasa akan bersandar kepada Tuhan. Kata “kekuatan” dibandingkan dengan Rusa memiliki kekuatan di kakinya. Kekuatan yang kita miliki suatu saat akan habis, maka kekuatan dari Tuhan yang akan membuat kita bertahan untuk melewati dengan pertolongan dari Tuhan.

B
Habakuk menyinggung mengenai kekecewaan (ay 17), kita perlu mendukung dan menguatkan jemaat yang mengalami kekecewaan dalam kehidupan rumah tangganya. Habakuk mengingatkan dalam penglihatan itu bahwa Tuhan akan bertindak untuk menyelamatkan umatmu (ay.13). Aplikasi: sekalipun rumah tangga tidak terlepas dari suka dan duka, yang penting jangan sampai kecewa baik kepada Tuhan maupun kepada apa yang ia jalani (pilihannya).

C
Allah memelihara orang percaya dalam segala perkara dan keadaan. Sebagai manusia hidup kita ini seperti roda yang berputar, dan seperi uap yang sebentar hilang. Siapa yang dipelihara Tuhan ? Orang yang percaya ( Hab 2 : 4 ). Orang yang mengandalkan Tuhan ( Hab 1 : 11, dan Hab 3 : 17)

D
Latar belakangnya adalah dia merespon akan kefasikan umat Tuhan dalam segala keadaan. Menyikapi sikap bangsa Israel yang tidak mau berubah. Habakuk berseru mengenai bahwa ia akan bersorak-sorai pada Allah yang menyelamatkan  tidak lagi didasari oleh fenomena, namun kemudian ia memiliki pembaharuan komitmen bahwa Allah yang bekerja. Bukan dengan syarat apa yang harus dilakukan atau apa yang terjadi, sehingga ia melihat Allah yang tetap mengasihinya.
Aplikasi: Allah selalu akan menyatakan diri dalam keluarga, seperti Habakuk yang bertumbuh dan kembali membangun komitmen, melatih diri dalam kesetiaan dalam segala kondisi bersama dengan Allah. Hegel: Kita harus belajar dari sejarah, karena kita akan bertemu dengan Allah yang memelihara. Agustinus: Tidak ada satupun kenikmatan dunia yang dapat ditukarkan dengan kenikmatan bersama dengan Allah.

E
Kitab Habakuk memiliki pesan utama bahwa Allah mendidik umatNya untuk membawa kepada pertobatan. Allah seolah berdiam diri membiarkan umat Israel suku Yehuda tertindas oleh bangsa Kasdim yang terkenal kejam. Situasi pada masa pemerintahan raja Yoyakim yang berkarakter lalim dan tidak percaya Allah Yahwe membawa Israel hidup menjauhi Allah dan larut dalam perilaku penuh ketidakadilan, tidak pernah menghargai kemuliaan Allah. Maka Allah “mengijinkan” orang Kasdim menindas orang Israel, agar mereka bertobat dan berbalik kepada hidup takut akan Allah. Apa yang dapat kita pelajari bersama?
Kenyataan yang lebih banyak berbeda dengan harapan. Dimana hal ini diungkap dalam bahasa metafora, seperti pohon ara yang tidak tidak berbuah dsb. Habakuk melihat banyak orang yang hidup berbalik meninggalkan kebenaran. Konteks pada hari ini keluarga banyak meninggalkan komitmen, meninggalkan hidup berdasar iman sehingga mengalami berbagai kekecewaan hidup.
Allah Yahwe adalah Allah yang menyelamatkan memberi harapan. Habakuk membandingkan dengan allah buatan manusia yang sia-sia (Habakuk 2 : 18 – 20) dengan kemuliaan Allah yang tidak tertandingi. Habakuk dengan tenang bahkan bersuka ria meski harus melalui kesukaran hidup karena perpegang kepada pengharapan yang diberikan Allah yang benar.
Makna hidup sejati ketika berjalan di dalam jalan Tuhan. Hal ini digambarkan secara metafora bahwa Habakuk mampu berjejak dibukit seperti kaki rusa. Pengharapan yang diberikan bukan hanya masa yang akan datang, tetapi juga pada konteks masa kini dimana Allah memberikan jalan keluar atas segala permasalahan hidup.

F
Ada beberapa tahapan Iman seperti Knowledge of Faith, Dichotomic of Faith (Iman yang bertentangan dengan kenyataan hidup). Pergumulan dalam hidup dapat membuat seorang bertumbuh dalam iman. Iman bukan hanya diketahui dan didengar melalui firman, namun iman kontras dengan hidupnya, dan mengakhirinya dengan komitmen.

G
Membandingkan Habakuk dengan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, mereka adalah orang-orang yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala kondisi. Banyak keluarga menghadapi pergumulan yang sangat sulit, namun Tuhan tidak pernah meninggalkan.

H
Dalam konteks remaja: Keluarga yang dipelihara, identik pemeliharaan dalam materi. Seringkali anak kurang menyadari perannya dalam keluarga, (Mazmur 127:3). Hubungan dan relasi dengan Tuhan sangat penting untuk dapat hidup dengan benar, meskipun ada kekecewaan.

I
Habakuk punya harapan besar dalam keterpurukan orang Israel, semangat ini yang harus diajarkan bagi jemaat. Kadang keluarga menginginkan ada perubahan, namun seringkali tidak terjadi perubahan. Namun bersyukur ketika bergumul bersama dengan Tuhan, ada harapan dan kekuatan ada untuk berjalan membangun keluarga yang masih tersisa. Penting untuk menaruh harapan dalam Tuhan, meskipun kandas.

J
Ada harapan bahwa Injil yang diberitakan tidak akan berhenti kepada yang menolak/mengeraskan hati, Injil dapat mengubah.
1) Keselamatan adalah inisiatif Tuhan yang berbeda dari apa yang manusia pikirkan. Manusia saat ini egois dan mengatakan dan memikirkan bahwa yang dapat menyelamatkan adalah diri kita sendiri. Kebanggaan adalah duniawi/materi: pohon yang berbuah, ternak dan kekayaan, dan yakin bahwa ini dapat menyelamatkan manusia.
2) Ketika mulai percaya diri kita tdk mengijinkan Tuhan intervensi, seolah2 tidak perlu ada pengaruh dari luar untuk menolong kita. Padahal keselamatan terjadi dalam ketaatan kita dalam Tuhan, melalui iman.
3) Fokus bukan pada kekuatan diri sendiri dan mengakui bahwa Tuhan menyelesaikan dengan cara Tuhan, meskipun tidak masuk di akal, namun itu yang Tuhan anugerahkan. Keselamatan adalah anugerah Tuhan.

K
Tema kitab Habakuk adalah Hidup dengan iman. Di pasal 1-2, Habakuk melihat banyak kejahatan dan penyembahan berhala yang dilakukan di Yehuda. Ia mempertanyakan bagaimana Allah dapat membiarkan umat-Nya yang memberontak dan berbuat dosa tidak dihukum (1:2-4)? Allah menjawab bahwa Dia akan memakai Babel untuk menghukum Yehuda (1:5-11). Pertanyaan berikutnya, bagaimana Allah bisa memakai bangsa Babel yang lebih jahat daripada Yehuda sebagai alat untuk menghukum (1:12-2:1)? Allah menjawab bahwa Dia juga akan menghukum Babel (2:2-20). Pada pasal 3 berisikan doa dan nyanyian Habakuk. Secara khusus pada pasal 3:17-19 berbicara tentang iman Habakuk. Pasal 3 merupakan respons Habakuk terhadap jawaban Allah dalam pasal 2. Dalam situasi yang sulit ia menaikkan doa: 1. Ia berdoa agar Tuhan menyatakan kuasa-Nya di tengah umat Yehuda. 2. Dia berdoa agar pada masa yang sulit Allah tetap menunjukkan kasih sayang-Nya kepada umat Yehuda. Kemudian Habakuk bersorak sorai di dalam Tuhan. Ia bersaksi bahwa ia melayani Allah bukan karena diberi berkat tetapi karena Dia itu Allah. Bahkan di tengah hukuman Allah atas Yehuda, Habakuk memilih untuk bersukacita di dalam Tuhan, karena Dia menjadi Juruselamatnya dan sumber kekuatannya. Ia beriman bahwa umat Yehuda yang tersisa akan selamat dari serbuan Babel dan ia memberitakan kemenangan terakhir dari semua orang yang hidup oleh iman (2:4). Bagaimana mengalami pemeliharaan Allah itu?
1. Hidup dikontrol oleh iman, bukan oleh perasaan. Ayat 17, menceritakan meskipun semua tanaman dan hewan ternak yang menjadi andalan dan sandaran hidup sudah musnah bahkan keselamatan dan keamanan sudah lenyap dari umat Yehuda, namun Habakuk tetap bersukacita dan bergembira didalam Tuhan. Di sini kita melihat bahwa perasaan Habakuk tidak dipengaruhi atau tidak dikontrol oleh kejadian yang terjadi, tetapi dikontrol oleh iman kepada Allah.
2. Hidup bersandar kepada Allah. Habakuk mengakui bahwa Allah yang menyelamatkan dia (ay. 18b); Allah adalah kekuatannya (ay.19). Dengan kata lain, ia selalu bersandar kepada Allah sumber keselamatan dan kekuatan dalam mengatasi segala pencobaan dan kesulitan hidup. Melalui teks ini, mari kita mengajak keluarga jemaat yang berada di tengah tantangan dan kesulitan agar selalu mengutamakan Tuhan dan bersandar kepada-Nya (Mat. 11:28-29).

L
Tidak satu keluargapun yang hidupnya terus lancar, adakalanya mengalami liku-liku perjalanan hidup serta kerikil tajam dalam keluarga. Bahkan tidak jarang keluarga diperhadapkan pada persimpangan jalan, tidak mudah untuk memutuskan kemana harus melangkah. Disinilah proses pengujian serta pembentukan Allah sedang terjadi di dalam keluarga. Apakah seisi anggota keluarga percaya kepada Allah serta berharap pada kekuatan Allah yang akan menolong. Apakah keluarga percaya akan janji-janji Allah yang telah dikatakannya dalam firmanNya. Jika seisi anggota keluarga percaya kepada Tuhan dan beriman kepadaNya maka Allah akan bertindak sesuai dengan karyaNya yang ajaib.
Pemeliharaan Allah itu nyata, kasih Allah tidak pernah berubah dari dahulu, sekarang dan selama-lamanya Allah tidak pernah meninggalkan kita. Pada akhirnya setiap kesulitan dan pergumulan hidup ada kemenangan atau sukacita yang Allah berikan untuk hidup dalam anugerah Allah.

M
Bukanlah hal mudah saat kita melihat anak Tuhan ditekan orang yang tidak mengenal Tuhan. Habakuk melihat orang Israel diperlakuakn dengan kejam oleh bangsa Kasdim; ironisnya Allah seakan-akan diam dan berpangku tangan. Habakuk berteriak, mengeluh dan meratapi bangsanya. Namun dalam perenungannya akhirnya dia menemukan jawaban bahwa kesetiaan Tuhan tetap sama sekalipun fakta disekililing kita begitu buram. Habakuk mengangkat hatinya melihat Allah dan menyatakan imannya; sekalipun kehidupan kurang baik, pemasukan kurang lancar, stock makanan sangat terbatas namun pemeliharaan Allah akan tetap nyata.

N
Kitab Habakuk satu-satunya kitab yang menyebut "Nabi" sebagai gelarnya. Tentang Habakuk sendiri, praktis kitab ini tidak menceritakan apa pun. Ada penafsir yang mengatakan bahwa Habakuk adalah imam Bait Allah yang sekaligus menjadi nabi. Kitab Habakuk ditulis pada saat bangsa Babel (Kasdim) sedang menuju puncak kejayaannya (1:6). Pada 625 sM, Nabopolasar menjadi raja Babel dengan memberontak terhadap Asyur. Setelah mengalahkan Asyur secara telak (612 sM) dan Mesir (605 sM), Babel menjadi negara adikuasa menggantikan kejayaan Asyur. Pada tahun 598 sM Nebukadnezar (putra Nabopolasar) menyerbu Yehuda dan memulai penawanan raja dan para bangsawannya ke Babel. Jadi, diperkirakan Kitab Habakuk ini ditulis antara tahun 625 sM-598 sM. Pada saat yang sama, di Yehuda pada pemerintahan raja-raja sesudah Yosia (sesudah 609 sM), kekacauan dalam bidang sosial politik dan ekonomi semakin menjadi-jadi. Ketidakadilan dalam masyarakat merajalela, akibatnya kaum berkuasa, bangsawan, pejabat negara menindas kaum lemah dan rakyat jelata yang miskin. Hal ini bisa kita lihat dalam pertanyaan Habakuk kepada Allah: "Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik" (Hab. 1:2-4). Pertanyaan Habakuk dan jawaban Allah mengisi bagian pertama dari kitab ini. Dalam dialog terungkap kedaulatan Allah menggunakan bangsa kafir untuk menghukum umat-Nya yang jahat, namun tidak berhenti di situ karena Allah juga menghukum bangsa kafir tersebut ketika tindakan mereka menjadi berlebihan dan kejam. Habakuk belajar memercayakan diri kepada Allah yang akan bertindak adil pada waktu-Nya. Iman menjadi kata kunci kitab ini (2:4a) yang kemudian hari dikutip oleh Rasul Paulus dalam Roma 1:17, Galatia 3:11, dan oleh penulis Ibrani (Ibr. 10:38). Mazmur yang digubah Habakuk mengekspresikan iman kristiani yang percaya kepada Allah walaupun situasinya seperti tidak berpengharapan (Hab. 3:17-19).

O
Kitab ini unik karena bukan suatu nubuat yang diarahkan langsung kepada Israel tetapi malah sebuah dialog antara Allah dan sang nabi. Dalam pergumulan yang hebat dan berat Habakuk mengajukan pertanyaan mengapa Allah tidak berbuat sesuatu? Berapa lama lagi Tuhan aku berteriak? Mengapa Allah menghukum umatnya melalui bangsa yang lebih jahat daripada mereka? Tetapi kita mendapati Habakuk pada akhirnya mengandalkan Allah dan hidup dengan iman dalam jalan Allah tanpa menghiraukan keadaan.

P
Kitab ini dalam situasi banyak kesulitan dan pergumulan yang berat, sampai akhirnya dia mengatakan dalam ayat 17-19 itu. Kemelut bangsa berdampak pada keluarga yang dihadapi oleh Habakuk. Dia melihat bahwha ketenangan hidup itu pada kestabilan situasi atau perubahan keadaan buruk menjadi baik. Atau, kelegaan itu bukan lagi soal memiliki ekonomi yang baik, memiliki rumah, anak-anak yang manis, suami istri yang penuh pengertian. Tetapi letaknya pada ketidakberubahan Tuhan, janji-Nya tidaka berubah. Inilah yang menjadi kedamaian dalam hati seseorng. Setelah mengalami banyak kesusahan, Habakuk menyimpulkan Allah harus menjadi pusat hidup. Ini menunjukkan bahwa relasi dengan Tuhan iu sebagai kunci menghadapi semua kesulitan itu. Tuhan menggunakan penderitaan, kesusahan, keadilan untuk tujuan yang lebih besar untuk mengalami Tuhan dan janji-Nya secara penuh. Misalnya, ada keluarga yang sakit mengingatkan kita bukan pada kesembuhan tetapi pada sang Penymbuh itu. Kemiskinan itu bukan menarik kita pada kekayaan, tetapi kepada Allah. Kesedihan itu bukan menarik kita pada penghiburan, tetapi pada Penghiburan. Kecelakaana itu bukan menarik itu pada keselamatan, tetapi Juruselamat.

Q
Habakuk hidup dalam jaman yang sulit di mana umat Tuhan ditindas, dianaiya, dan kekerasan ada di mana-mana, juga pertikaian, ketidakadilan. Perekonomian dalam keadaan yang sulit karena hasil pertanian tidak dapat diharapkan. Kluarga-keluarga ornag percaya banyak mengalami pergmulan. Habakuk protes kepada Tuhan menapa orang percaya ditindas oleh orang fasik? Allah menjawab bahwa Dia memakai orang fasik unuk memjrnikan iman orang percaya dan selanjutnya orang fasik akan dihukum. Habakuk baru bisa melihat akan penyertaan Tuhan dan pemeliharaan Tuhan terhadap keluarga-keluarga orang percaya. Di tengah-tengah kesulitan mereka semua dilindungi oleh Tuhan. Oleh sebab itulah, Habakuk berkata dalam ayat 17-18, mengapa:
1. Karena dia tinggal dan hidup dalam Tuhan (ayat 18)
2. Karena Tuhan menyelamatkannya (ayat 18)
3. Karena Tuhan memberi kekuatan (ayat 19)

R
1. Situasi hidup bisa berubah. Jangan pernah berpikir bahwa kehidupan itu akan berjalan dan semua diatur dalam tangan kita. Kita tidak tahu maksud dan rencana Allah dalam kehidupan kita dan kita tidak tahu ijin yang diberikan Allah kepada iblis untuk mencobai kita.
2. Persoalan hidup bisa menjadi sulit dan kadang-kadang tidak terpecahkan yang membuat keadaan tidak berpengharapan.
3. Ada pengharapan di dalam Tuhan (lih. Ayat 17). Harapan itu tidak dia lihat di depan mata, tetapi suatu hari akan terwujud. Menghadapi kesuliatan dan pergumulan itu perlu iman yang sungguh di dalam Tuhan. Kita masih tetap bisa melangkah seperti dalam ayat 19 itu. Tuhan masih mengijinkan kita mencapai apa yang kita kerjakan untuk memuliakan Tuhan.

S
Habakuk hidup pada zaman bgs Israel di tindas musuhnya. Bukan hal yg mudah baginya utk mempertahankan imannya. Masa-masa sukar seperti ini membawa aspek kehidupan bgs Israel dan keluarga-keluarganya terpengaruh. Ladang menjadi tempat mendatangkan penghasilan tidak lagi membuahkan hasil. Ternak yang harta kekayaan terhalau dari kurungannya, tdak ada lagi simpanan.
Kondisi seperti ini banyak dialami oleh umat Tuhan dewasa ini. Krisis-krisis yang terjadi belakangan ini dampaknya sangat besar, banyak pengangguran di mana-mana, pekerjaan bisnis juga tidak mudah, tekanan hidup semakin banyak, keluarga-keluarga juga mengalami krisis. Kita perlu belajar dari Habakuk bagaimana mendapat kekuatan pada masa-masa sukar.
1. Bersorak sorak di dalam Tuhan (Hab. 3 :18a)
Seperti bgs Israel mengelilingi kota Yeriorakhko mereka bersorak sorai.

Aplikasi:
1. Demikian juga pada saat masalah besar yg kota hadapi,kiita belajar bersorak dalam Tuhan dengan segenap hati.
2. Seperti rasul Paulus pd waktu pednderitaan, ia menasehati jemaat Filipi spy bersukacita senantiasa, disitulah letak kekuatan Tuhan
3. Berharap kepada Tuhan (Hab.3 :19b)
Kita perlu menempatkan kita dan keluarga kita kepada Tuhan, maka Ia akan membela kita.

T
Kitab Habakuk ditulis kira-kira antara 18-20 th sebelum Yerusalem hancur, yaitu pada tahun 580 SM. Sangat mungkin ia hidup dan menyaksikan kehancuran Yerusalem, ia juga mungkin terbunuh dalam pertempuran atau ia juga mungkin menderita kelaparan dalam masa pengepungan tentara musuh. Ia mungkin hidup dalam masa-masa itu.
Jadi, bacaan kita hari ini jelas sekali memperlihatkan bahwa, kondisi Israel sangat penuh dengan tekanan dan penderitaan yang sangat memprihatinkan.
Sumber kehidupan bangsa Israel di zaman itu sangat bergantung pada pertanian dan peternakan. Namun semua ketergantungan masyarakat Israel pada pertanian dan petrnakan itu sirna ketika peperangan, pengepungan dan penjajahan terjadi. Semua yang diharapkan dari tanaman maupun ternak tidak mampu menolong siapapun, termasuk sang empunya lahan pertanian dan perternakan. Kemungkinananya bisa terjadi karena : Situasi pergolakan menyebabkan kesulitan untuk bercocok tanam dan merawat ternak. Kemungkinan yang paling ditakuti adalah perampokan dan pengambilan secara paksa. Kondisi seperti ini mendatangkan kehidupan yang serba tertekan dan terinjak injak.
Bacaan kita hari ini memperlihatkan bahwa, segala sesuatu boleh lenyap dari kehidupan ini, tetapi ketika Tuhan ada bersama-sama kita, ia akan tetap memelihara kita dan melindungi kita dengan caraNya yang melampaui akal dan pikiran manusia.
Itulah sebabnya meskipun dalam keadaan susah, terhimpit dan terinjak sekalipun, orang percaya masih bisa memuji Tuhan, karena Allah tetap menyertai.

U
Pada bagian ini melukiskan akibat-akibat dari penyerbuan musuh yang begitu dasyat dan gencar kepada bangsa Israel, sehingga berdampak pada mata pencaharian mereka dan mengalami tekanan pada jiwa mereka. Sehingga Habakuk hampir putus asa, Habakuk berteriak tetapi seolah Tuhan tidak mendengar (1:2), namun Habakuk patut jadi teladan bagi kita dalam menghadapi tekanan hidup karena dia tetap bertahan dalam masa-masa sulit, iman tetap teguh dan selalu yakin akan pemeliharaan Allah.