Jumat, 16 September 2011

Atheis Praktis (Mazmur 53)

Atheis Praktis
Mazmur 53

Tujuan
a. Jemaat mengerti bahwa atheism berkembang dimana-mana, melalui gaya hidup tanpa Tuhan pada berbagai generasi hari ini.
b. Jemaat menerapkan prinsip-prinsip Alkitab dalam menghadapi ajaran sesat

A.
Mazmur ini mempunyai kesamaan dengan mzr 14. Misalnya saja ayat 2 dari mazmur 53 diawali suatu pernyataan mengenai “pikiran” atau “doktrin” orang bebal yang berpendapat bahwa Allah tidak ada. Istilah “orang bebal” diterjemahkan dalam terbitan bahasa sehari-hari, “orang dungu” atau “orang dursila” menunjuk pada sekelompok orang yang sama sekali tidak punya pengertian dan pemahaman bahwa Allah itu tidak ada.
Pada bagian ayat.3-4, diakui bahwa “tidakada Allah” yang bukan sekedar teori, tetapi dinyatakan dalam bentuk tindakan praktis. Maka tidak mengherankan jika seluruh perbuatan orang bebal diwarnai kecurangan, penyimpangan dan tak seorang pun di antara mereka yang mencari Allah, dan tak seorangpun yang berbuat baik dan berakal budi.
Ayat 5: Kegemaran orang bebal melakukan segala bentuk kejahatan dan menindas umat Tuhan digambarkan seperti “makan roti” artinya tidak ada perasaan takut sedikitpun, bahkan mereka berkata: “kita boleh melakukan segala bentuk kejahatan apapun, tanpa mempertanggungjawabkannya kepada Allah” karena Allah tidak ada.
Ayat 3 “Allah memandang kebawah dari sorga” menunjuk kepada pengertian bahwa Allah bukanlah penonton yang pasif, tetapi Dia memperhatikan dengan cermat segala perbuatan manusia di muka bumi ini.Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya, Dia tahu siapa yang tergolong orang bebal dan yang tergolong orang yang berakal budi dan mencari Allah.
Ayat 6-7 .Satu saat nanti Allah akan berperkara:
a. Terhadap orang bebal, Allah akan menghamburkan, mempermalukan dan menolak mereka. Pembalasan Allah pasti setimpal dengan perbuatan dan kejahatan mereka.
b. Terhadap umat kepunyaan-Nya, Allah akan memulihkan, sehingga mereka bersorak2 dan bersukacita.

B.
Bagian mzr 14 amat menarik sebab sangat parallel dengan Mzr 53.Siapa kahateis itu?Mereka adalah orang yang tidak bertuhan. Bahayanya mereka itu orang-orang yang berkata dalam hatinya “tidak ada Allah”, namun hidup sebagaimana orang beragama, yang juga beribadah kepada Tuhan. Ada dua ciri besar dari atheis praktis ini:
a. Berbuat suatu kebohongan besar. Betapa tidak! Mereka hidup beragama tapi serasa tidak ada Tuhan. Tidak heran jika mereka berkata “apa yang saya percaya, itu hanya urusan saya; apa yang saya lakukan dalam hati tidak ada pengaruhnya pada orang lain.”
b. Gagal dalam membangun relasi dengan orang lain. Mengapa dikatakan gagal? Ya tentu saja mereka hadir di tengah masyarakat, bukan menjadi berkat malah mengambil keuntungan dari orang lain. Tidak heran mereka inilah jadi “batu sandungan”
Jadi apa yang harus kita ingat? Marilah kita mengingat Mazmur 14:5, dimana dikatakan; “Allah menyertai angkatan yang benar.”Hanya mereka yang hidup benar sajalah mampu hidup sebagamana karya Allah yang bekerja dalam hati dan pikirannya. Satu lagi, pemazmur mengingatkan agar tiap orang percaya berdoa bagi “mereka” (orang yang tidakpercayaTuhan), “ya, datanglah kiranya dari Sion keselamatan bagi Israel” (ay. 7a). Inilah ucapan doa yang dipanjatkan orang-orang benar. Oleh karenanya, biarlah kita berdoa bagi “mereka” agar mereka sadar, dan bertobat dari kehidupannya yang Nampak beragama tetapi tidak percaya Tuhan.

C.
Konteks penulisan Mazmur, dimana orang Israel diserang oleh musuh. Siapakah musuh tersebut? Mereka tidak lain adalah “orang bebal”. Mereka itu tidak lain adalah orang Atheis murni; sama sekali tidak beribadah, kafir, tidak peduli.

D.
utsi Deus non daretur diartikan sebagai orang-orang yang mempercayai adanya Allah tetapi hidup seolah-olah Allah tidak ada, dengan kata lain atheis praktis. Mereka tidak berbakti kepada Allah ataupun memuliakan Allah, sebaliknya mereka hidup untuk dunia dan dirinya sendiri. Di dalam konteks kehidupan gerejapun ada banyak orang yang hidup seakan-akan Allah tidak ada, dan makin mendekati akhir jaman / kedatangan Yesus yang kedua kalinya, makin banyak orang ‘kristen’ yang seperti ini ( Bdk. 2Tim 3:1-5 Tit 1:16). Takut akan Tuhan berarti, content of faith haruslah menjadi action of faith dimana the true spirituality menghubungkan keduanya. Apabila hanya memiliki content of faith tanpa action of faith, inilah yang disebut atheis praktis.
Mazmur 53 membahas bahwa banyak orang pada zaman itu hidup memusuhi Allah Israel, dimana pola hidup mereka juga merambah orang Israel, sehingga pemazmur memiliki pengharapan Zion akan segera dipulihkan dimana semua orang-orang akan kembali hidup takut kepada Allah. Konteks kehidupan di akhir zaman analog dengan masa itu, dimana ketika kita sedang menantikan Allah menyatakan kedatanganNya kedua kali banyak orang hidup di luar takut akan Allah.

F.
Kutipandari Gordon Fee:“kehidupan yang tanpa doa adalah kehidupan yang secara praktis adalah atheis.”

G.
Jemaat mengerti atehisme berkembang di mana-mana melalui gaya hidup tanpa Tuhan, gaya hidup yang bersandar kepada harta, kepintaran dan kekuatan diri sendiri. Padahal Alkitab menegaskan bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri yang hatinya jauh dari Tuhan. Tetapi diberkatilah mereka yang percaya dan bersandar kepada Tuhan (Yer. 17:5; bdk. Ams. 16:18; 1Ptr. 5:5; Ibr. 11:6). Tema Mazmur 53 adalah semua orang sudah berdosa (All have sinned). Karena dosa, maka tidak ada seorang pun dengan usaha sendiri dapat menemukan Allah. Kecuali hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita. Sebab itu manusia harus mengakui adanya Allah, percaya dan bersandar kepada-Nya. Sebenarnya, gaya hidup atheis sudah ada sejak zaman PL. Mazmur 53:1, orang bebal berkata, “Tidak ada Allah.” Mengapa? Karena manusia berdosa cenderung menganggap dirinya adalah allah. Gaya hidupnya bukan God senter, tatapi man senter. Manusia berdosa hidup berfokus kepada diri sendiri. Ia hidup menuruti hawa nafsu dan kesenangan diri sendiri. Meskipun Allah sudah menyatakan diri-Nya lewat general revelation (creation) (Mzm. 19), namun mereka tetap mengeraskan hati tidak mau percaya atau memuliakan Allah sebaliknya mereka sengaja hidup dalam dosa dan terus menindas kebenaran dengan kelaliman (Rm. 1:18-21). Karena itu, jemaat harus menolak gaya hidup atheisme dan menerapkan prinsip-prinsip iman Kristen dalam hidup setiap hari, yang beriman, bersandar dan berharap kepada Tuhan. Gaya hidup yang atheis atau tanpa Tuhan sangat jelas dalam perikop ini:
1. Penganut paham atheis, mengakui di hati bahwa tidak ada Tuhan dalam hidup ini (ay. 1). Orang Kristen bisa terjebak dalam pengakuan di mulut percaya kepada Tuhan, namun perilaku, gaya hidup dan perbuatan mereka mencerminkan bahwa mereka tidak percaya Tuhan (Tit. 1:16).
2. Manusia tidak ada yang mencari dan berseru kepada Tuhan (ay. 2, 4).
3. Mentalitas hidup yang tanpa Tuhan menghasilkan: gaya hidup yang curang, menjijikan, bejat, menyimpang, berbuat jahat (ay.1, 4, 5); tidak ada yang berbuat baik (ay.1, 4).
4. Penghukuman: Allah menghamburkan tulang-tulang mereka, mempermalukan dan menolak mereka. Sebaliknya bagi orang beriman, Allah berkenan memberikan keselamatan kepada mereka dan mereka akan bersukacita di dalam Tuhan (ay.6, 7).

H.
Orang-orang yang berpandangan atheis sesungguhnya adalah orang yang mengingkari kebenaran. Sebenarnya, di dalam hati mereka yang paling dalam sadar ada Allah yang berkuasa tetapi mereka menolak dan tidak mau mengakui keberadaan Allah dengan menggunakan rasio atau logikan mereka untuk menyangkal Allah. Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk membuktikan tidak ada Allah padahal sejujurnya mereka sadar lebih sulit membuktikan Allah tidak ada daripada membuktikan bahwa Allah itu ada.
Bentuk penyangkalan diri orang-orang atheis adalah dengan berpikir dan berperilaku hidup bebas. Tidak ada hukum dan peraturan yang mengikat mereka, segala sesuatu yang dianggap baik menurut pemikiran mereka maka mereka lakukan dengan bebas.
Mazmur 53 sama dengan mazmur 14, berbicara tentang orang-orang atheis, sebenarnya adalah orang-orang bodoh yang terlalu picik untuk mengakui kebenaran. Kebenaran Allah itu ada, hati nurani mereka juga berbicara, tetapi mereka adalah orang bodoh dan munafik untuk mengakui keberadaan Allah.
Orang atheis praktis adalah orang yang percaya dan mengenal Allah dengan jelas tetapi orang-orang seperti ini tidak menjadi pelaku firman. Mereka tidak hidup di dalam kebenaran Allah sehingga pikiran dan perbuatannya sama dengan orang yang tidak mengenal Allah.

I.
Orang atheis menanamkan pada dirinya bahwa Allah tidak ada; segala sesuatu terjadi begitu saja dan secara kebetulan. Mereka berpikir dan bertindak bahwa Allah tidak ada. Kalau kita tidak hati-hati kita bisa terjatuh seperti orang Farisi. Mereka tahu banyak tentang Allah dan peraturan-Nya namun perbuatan mereka menyangkal keberadaan Allah (Titus 1:16)

J.
Menurut Wikipedia Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan. Ateisme pertama kali digunakan untuk merujuk pada "kepercayaan tersendiri" pada akhir abad ke-18 di Eropa, utamanya merujuk pada ketidakpercayaan pada Tuhan monoteis. Pada abad ke-20, globalisasi memperluas definisi istilah ini untuk merujuk pada "ketidakpercayaan pada semua tuhan/dewa", walaupun adalah masih umum untuk merujuk ateisme sebagai "ketidakpercayaan pada Tuhan (monoteis)". Akhir-akhir ini, terdapat suatu desakan di dalam kelompok filosofi tertentu untuk mendefinisikan ulang ateisme sebagai "ketiadaan kepercayaan pada dewa/dewi", daripada ateisme sebagai kepercayaan itu sendiri. Definisi ini sangat populer di antara komunitas ateis, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas.

Ateis Praktis
Apa yang dimaksud dengan ateis praktis? Masih menurut Wikipedia, ateisme praktis atau pragmatis, yang juga dikenal sebagai apateisme, individu hidup tanpa tuhan dan menjelaskan fenomena alam tanpa menggunakan alasan supranatural. Menurut pandangan ini, keberadaan tuhan tidaklah disangkal, namun dapat dianggap sebagai tidak penting dan tidak berguna; tuhan tidaklah memberikan kita tujuan hidup, ataupun memengaruhi kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk ateisme praktis dengan implikasinya dalam komunitas ilmiah adalah naturalisme metodologis, yaitu pengambilan asumsi naturalisme filosofis dalam metode ilmiah yang tidak diucapkan dengan ataupun tanpa secara penuh menerima atau memercayainya." Ateisme praktis dapat berupa:
1. Ketiadaan motivasi religius, yakni kepercayaan pada tuhan tidak memotivasi tindakan moral, religi, ataupun bentuk-bentuk tindakan lainnya (ternyata hal ini banyak juga terjadi dalam diri orang-orang Kristen yang tiap minggu beribadah tetapi tidak memiliki motivasi yang kuat dan tindakan moral yang memprihatinkan).
2. Pengesampingan masalah tuhan dan religi secara aktif dari penelusuran intelek dan tindakan praktis (orang- orang Kristen juga banyak yang tidak menganggap penting hal-hal tentang Tuhan dan keyakinannya kepada Tuhan)
3. Pengabaian, yakni ketiadaan ketertarikan apapun pada permasalahan tuhan dan agama (topik-topik tentang doktrin, pendalaman iman, memikirkan tentang keberadaan Tuhan semakin dijauhi oleh banyak orang Kristen. Dianggapnya terlalu berat dan membebani)
4. Ketidaktahuan akan konsep tuhan dan dewa (banyak orang Kristen juga yang lemah dan kurang sekali dalam pemahamannya tentang Tuhan)

K.
Atheis Praktis bukan berarti seseorang tidak punya agama, melainkan mengaku beragama tetapi dalam kehidupannya menunjukkan bahwa dia tidak beragama. Atheisme praktis adalah orang yang memiliki konsep tentang Tuhan serta percaya pada Tuhan, tetapi dalam praktek hidupnya tidak sesuai dengan apa yang dia percayai. Dalam Mazmur 53:2 pemazmur berkata orang bodoh berkata dalam hatinya “Tidak ada Allah”. Ia berkata dalam hatinya, bukan dengan lidahnya, atau di dalam pikirannya. Ia tidak pernah tegas dengan pikirnya mengenai adanya Allah, atau mungkin ia ragu apakah ada Allah atau tidak. Tidak ada Allah dimengerti sebagai penolakan terhadap pemeliharaan Allah dan tidak mengandalkan Tuhan. Atheis Praktis juga disebut orang bodoh karena apa yang dipikirkan bertentangan dengan perbuatannya. Tuhan Yesus mengecam Orang Farisi dan Ahli Taurat dengan mengutip nubuat nabi Yesaya :Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku (Mrk 7:6). Orang Farisi dan ahli Taurat dalam kasus ini bias saja dimasukkan dalam golongan atheis praktis. Kita juga dapat menemui atheis praktis dalam gereja, dimana ada orang rajin ke gereja, tetapi tidak pernah berubah. Atheis praktis percaya pada Tuhan, tetapi hidup seolah-olah Tuhan tidak ada. Pemazmur mengatakan orang bebal mengucapkan dalam hatinya Tidak ada Allah adalah busuk dan jijik. Menyangkal adanya Allah akan menimbulkan kejahatan, karena tidak ada yang ditakutkan. Allah melihat apa yang dilakukan manusia, ternyata tidak ada yang baik, tidak ada yang mencari Allah (ay 3) dan mereka menjadi bejat (ay 4). Manusia bias binasa dimangsa habis seperti orang menyantap roti, mereka yang tidak percaya kepada Allah tidak berseru lagi kepada Allah, karena Allah telah disingkirkan dari kehidupan mereka (ay.5). Mereka mengira Allah tidak ada, tetapi tiba-tiba Allah muncul dan bertindak, sehingga mereka ditimpa kekejutan besar. Mereka dipermalukan karena telah menyatakan Allah tidak ada, ternyata Allah ada dan bertindak keras terhadap mereka. Allah telah menolak mereka karena mereka terlebih dahulu menolak Allah (ay.6).
Beberapa ciri atheis praktis Kristen antara lain :
1. Mengaku orang percaya tetapi tidak dating berbakti di gereja, tidak membaca dan mempelajari Firman Tuhan.
2. Berdoa secara formalitas karena tradisi, tidak percaya akan kuasa doa dan tidak mempunyai hubungan yang akrab dengan Tuhan.
3. Hidup penuh dengan kekuatiran dan tanpa pengharapan, takut menghadapi kematian.
4. Lebih mengutamakan harta daripada kerajaan Allah (Bd. Mat 6: 33)
5. Membuat rencana tanpa melibatkan Tuhan (Yak 4:13-15), dll

L.
Apa itu ateisme? Dalam dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, artikel 19, dijabarkan adanya beberapa versi pemahaman dan fakta ateisme (a: anti, tidak ada; theos: Tuhan). Pertama, ateisme berarti pengingkaran eksistensi Allah. Terserah apapun argumentasinya, pokoknya orang tidak percaya akan adanya Allah. Kedua, ateisme berarti penolakan terhadap pengetahuan akan Allah. Ketiga, ateisme berarti pemutlakan ilmu-ilmu positif (seperti fisika, kimia, matematika) untuk menjelaskan realitas semesta. Di hadapan ilmu positif yang mutlak ini, tentulah tidak ada tempat bagi segala hal yang tidak dapat dibuktikan misalnya secara matematis.
Keempat, ateisme berarti juga pemutlakan humanisme. Humanisme yang menempatkan manusia sebagai tujuan hidup. Kebebasan manusia dimutlakkan sedemikian rupa sehingga pilihannya adalah: Tuhan atau manusia yang ada. Kalau Tuhan ada, berarti manusia tidak bebas. Kalau manusia bebas, berarti Tuhan tidak ada. Ajaran ateisme jelas dan tegas: Tuhan itu tidak ada. Menurut orang atheis Allah itu omong kosong, pelarian saja; dan agama hanyalah candu. Alam semesta dan hidup manusia sama sekali tidak bergantung pada kekuatan lain apa pun. Manusia memiliki arti dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, ateisme memang berusaha menghancurkan pondasi agama. Kalau Tuhan memang tidak ada,tentu tidak ada alasan bagi adanya agama.

M.
Mereka yang menganut ateis praktis, mereka tidak menyangkal keberadaan Tuhan tetapi dalam sikap hidupnya, mereka tidak mencerminkan bahwa Tuhan itu ada. Ateis praktis ini justru dianut orang beragama.
Dalam ateisme praktis atau pragmatis, orang hidup tanpa Tuhan .Menurut pandangan ini, keberadaan Tuhan tidaklah disangkal, namun dapat dianggap sebagai tidak penting dan tidak berguna; Tuhan tidaklah memberikan kita tujuan hidup, ataupun mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
1. Ciri orang Atehis:
• Bebal
• Busuk
• Menjijikkan
• Bejat
• Jahat
• Tidak berseru kepada Allah
• Mengalami ketakutan sekalipun tidak ada yang menakutkan
2. Allah itu ada sekalipun kita tidak mempercayaiNya.
3. Allah itu ada sekalipun kita tidak mempercayaiNya.
4. Percaya adalah pilihan dan akibatnya bagi manusia sendiri.

N.
Ateis praktis memiliki konsep tentang Tuhan serta percaya pada Tuhan, tetapi dalam praktek hidupnya tidak menjalankan printah, nasihat dan hukum-hukum Tuhan. Salah satu gaya hidup Ateis Praktis adalah Percaya pada Tuhan tetapi tetap melakukan apa saja yang mereka inginkan. “mereka berkata aku ingin Tuhan menyelamatkanku dari neraka, membawaku ke surga, tetapi aku tidak ingin mengubah gaya hidupku”.

O.
Ada 2 cara mengkaji tentang ateis. Yaitu:
1. Secara historis, ketika terjadi pengianiayaan orang Kristen di Roma, ada banyak cap negative yg ditujuakan kepada mereka. Misalnya mereka digolongkan gololongan ateis karena tidak mempunyai kuil utk beribadah dan tidak mengenal patung2 dalam tempat ibadah.
2. Secara etimologis, ateis terdiri dari : “a” (tanpa koma berlawanan dengan) dan “teos” (Allah, Tuhan ). Ateis yg mengikari keberadaan Tuhan.
Dengan perbedaan tersebut ada 2 kelompok yg berbeda, yaitu pengikut Kristus dan golongan ateis. Namun, ada kelompok ke 3 yaitu ; Ateis Praktis. Mereka tidak menyangkal keberadaan Tuhan, tetapi sikap hidup mereka tidak mencerminkan bahwa Tuhan itu ada. Ateis praktis ini justru di anut oleh orang beragama.
Beberapa contoh ateis praktis dalam Alkitab adalah :
1. Yudas Iskariot yang sering mengambil uang Kas
2. Ananias dan Safira, Demas rekan Paulus.

P.
Tanpa di sadari kehidupan orang yang mengaku percaya Tuhan justru pengikut Ateis praktis. Mengapa? Mereka akui ada Tuhan bahkan percaya pada Tuhan tetapi pada waktu diperhadapan dengan kehidupan nyata yang penuh dengan tantangan, mereka mengandalkan kekuatan mereka sendiri, ( harta, pengetahuan) Mereka tidak percaya Tuhan sanggup menolong. Dan itu berdampak juga pada sikap hidup mereka yang ”mengaku percaya Tuhan” tetapi sikap hidup mereka sehari-hari tidak menunjukkan bahwa mereka percaya Tuhan. (hidup dalam dosa).
Ironis lagi ada diantara mereka yang masih hidup dalam penyembahan berhala, berhubungan dengan kuasa2 kegelapan. ( minta kekayaan, minta kesembuhan dll), ini justru membuktikan sebenarnya mereka tidak percaya adanya Tuhan.