Jumat, 26 Februari 2010

YESUS, ROTI HIDUP!

YESUS, ROTI HIDUP!
Yoh 6:25-59

Pembahasan Firman Tuhan

Hamba Tuhan Pooling Garut


Peristiwa dalam teks Yohanes 6:25-59, merupakan kelanjutan dari pasca terjadinya mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan (6:1-15). Keesokan harinya banyak orang mencari-Nya, lalu apa motivasi mereka mencari Yesus? Apakah karena mereka benar-benar mengasihi Yesus dan percaya kepada-Nya? Dari cerita ini, kita melihat ada dua motivasi orang banyak mencari dan mengikut Yesus roti hidup, apakah itu?

1. Motivasi mengikut Yesus karena kebutuhan fisik. Pada ayat 22-24 dikatakan bahwa orang banyak mencari Yesus karena mereka melihat mukjizat penyembuhan (6:2) dan mukjizat 5 roti dan 2 ikan (6:14). Akibatnya, mereka mau menjadikan Dia raja (6:15). Karena itu, banyak orang mencari Yesus. Lalu apa motivasi mereka mencari Yesus? Di ayat 26 memberikan jawaban: Yesus berkata, “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda/signs and wonders), melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Di sini Yesus langsung menunjuk pada motivasi mereka yang mencari dan mengikuti Dia, tentu bukan karena percaya, tetapi karena mukjizat. Lalu Ia mengoreksi motivasi yang salah tersebut. Bukankah motivasi yang sama dapat kita temukan pada orang Kristen saat ini yang hanya menekankan soal mukjizat dan berkat materi dalam mengikut Yesus? Jangan jadikan “mukjizat” sebagai tujuan, melainkan sebagai “sarana” yang olehnya, banyak orang boleh ditarik untuk datang percaya kepada Kristus. Bagaimana dengan saudara? Yesus berkata, “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat. 6:33).

2. Motivasi mengikut Yesus karena percaya dan mengasihi-Nya. Pada poin ini, Yesus tidak berkata bahwa makanan/kebutuhan fisik itu tidak penting. Sebaliknya Dia tahu kita membutuhkan semuanya itu (Mat. 6:32), karena Ia sendiri pernah menjadi manusia, tahu namanya lapar dan Ia memberi makan 5000 orang. Tetapi di ayat 27-29 ini, Yesus berbicara soal prioritas, mana yang harus lebih diutamakan. Mana yang bernilai kekal dan yang sementara. Jadi motivasi utama ikut Yesus adalah karena hal-hal yang bernilai kekal (Mat. 16:26). Yesus berkata, “Hendaklah kamu percaya kepada Dia yang diutas Allah.” (Yoh. 6:29). Lalu di ayat 35, dengan tegas Yesus menyatakan bahwa dirinya adalah Roti Hidup. Ini adalah pernyataan pertama dari ke-7 pernyataan Yesus adalah yang dicatat Yohanes yang mana setiap pernyaan ini menekankan aspek penting dari pelayanan Yesus. 2)Terang dunia (8:12); 3) Pintu (10:9); 4) Gembala yang baik (10:11); 5) Kebangkitan dan hidup (11:25); 6) Jalan, kebenaran dan hidup (14:6); 7) Dan pokok anggur yang benar (15:1,5). Penekanan “Akulah Roti Hidup” memberitahukan kita: Yesus adalah makanan yang memelihara kehidupan rohani (6:35), siapa yang makan dagingNya dan minum darahNya, beroleh hidup kekal (6:51-54), siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan lapar dan haus lagi secara rohani, karena Roh Kudus mendiami orang percaya (6:40). Hasilnya adalah, (1) Mereka tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (6:39,40); (2) Mereka akan dibangkitkan pada akhir zaman (6:39,40; bdk. 1Tes. 4:15-17; 1Kor. 15:51-53). Paulus berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya” (2Tim. 1:12). Bagaimana dengan saudara?

Kebutuhan utama manusia secara fisik untuk hidup adalah makanan. Dengan makanan yang cukup maka manusia bisa tumbuh dengan sehat dalam dirinya. Manusia bekerja dan berusaha siang dan malam hanya memenuhi kebutuhan jasmaninya tetapi mengabaikan kebutuhan rohaninya. Secara fisik manusia itu sehat, tetapi secara rohani manusia benar-banar kelaparan serta penurunan rohani karena tidak mendapat makanan rohani yang cukup.
Yesus datang menawarkan kebutuhan rohani manusia yang paling esensi, ia sebagai roti hidup. Bukan roti biasa yang membuat manusia lapar lagi (ayat 35). Inilah tujuan utama Yesus datang ke dunia ini menemui manusia yang mengalami “kelaparan” rohaninya. Orang banyak mencari Yesus bukan ingin mendapatkan roti hidup yang kekal itu, mereka mencari Yesus karena mereka ingin mendapatkan roti jasmani saja, sebab Yesus baru saja melakukan mujizat dengan memberi makan 5 roti dan 2 ikan untuk 5000 orang (Yoh 6:1-15). Mereka berpikir Yesus akan terus memberikan roti jasmani itu setiap hari (seperti kontek pemberian mana seperti jaman nenek moyang mereka dulu). Padahal tujuan Yesus bukan ingin memberikan roti jasmani itu, tetapi roti yang memberikan kehidupan kekal. Bagaimana untuk mendapatkan roti hidup itu?
• Percaya dan menerima Yesus (ayat 35)
• Allah akan menerima dan tidak akan membuangnya (ayat 37-39)
• Mendapat hidup kekal dan kebangkitan pada akhir zaman (ayat 40)
Banyak orang mencari Yesus hanya senang pada berkatNya bukan pribadi Yesus sendiri, sehingga mereka kehilangan esensi dasar dari pengajaran Yesus tentang keselamatan.

Pencarian di tempat yang salah itulah gambaran orang-orang yang mencari Tuhan Yesus pada waktu itu. Mereka mencari sesuatu yang salah yaitu roti mati untuk kebutuhan sesaat sedangkan Tuhan Yesus menawarkan roti hidup untuk kebutuhan kekal. Mereka mencari Yesus bukan untuk memuaskan hati mereka akan kebenaran firman tetapi memuaskan mulut dan perut; sehingga tidak pernah terpuaskan dan mengalami kekecewaan.
Kekecewaan mereka menjadi lengkap karena Tuhan Yesus tidak memberi apa yang mereka cari, pengajaranNya tidak dipahami karena mereka tidak datang dengan hati yang mencari Tuhan. Kadangkala jemaat datang ke gereja ada banyak motifasi yang tidak benar seperti orang Yahudi, tetapi minggu PI ini biarlah membawa mereka pada pencarian yang benar di tempat yang benar maka akan terpuaskan sebab jemaat akan bertemu dengan Tuhan secara pribadi.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta

Focus pada kata “Roti Hidup” (v 35). Dalam Injil Yohanes, ada “The 7 I Am Saying”
Akulah pokok anggur (Yoh. 15:1)
Akulah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6).
Akulah kebangkitan dan hidup (Yoh. 11:25).
Akulah Yoh. 10:11
Akulah gembala yang baik (Yoh. 10:9).
Yoh. 8:12
Akulah Roti Hidup (Yoh. 7:35).

Bagian sebelumnya ada 2 miracles, yaitu Yesus memberi makan 5000 orang dan Yesus berjalan di atas air. Setelah melihat mujizat yang ke 2 itu, makin banyak orang mengikut Yesus. Yesus menyembunyikan diri di atas gunung. Esok harinya, mereka menemukan Yesus di Kapernaum. Kemudian, terjadilah dialog dan diskusi dengan Yesus.

1. Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?
Pertanyaan ini menunjukkan keheranan mereka.
Mereka tidak melihat Yesus menyeberang dari Galilea ke Kapernaum, padahal jaraknya 20 km.
Biasanya orang akan senang kalau dieluk-elukkan seperti itu.

2. Reaksi Yesus.
Tapi, Yesus menjawab dengan keras (v 26).
Yesus tidak hanya melihat kerajinan / kegigihan / semangat, tapi motivasi dari orang mengikut Yesus itulah yang dilihat-Nya.
Motivasi mereka mencari Yesus, sebenarnya bukan mau bertemu Yesus.
Calvin mengatakan bahwa mereka mencari dalam Kristus, sesuatu yang lain dari Kristus itu sendiri.
Barclay mengatakan kamu tidak dapat berpikir tentang jiwamu, kalau kamu berpikir tentang perutmu.

3. Yesus menegur dengan membandingkan dengan orang yang bekerja (v 27).
Ayat ini tidak berarti bahwa kita tak boleh bekerja untuk makan, tapi harus lebih mengutamakan pekerjaan yang bernilai kekal. Juga berarti lebih mementingkan Kristus dari yang lain.

4. Mereka masih meminta tanda (mujizat) lagi (v 30).
Mereka ingin membandingkan Yesus dengan Musa. Yesus hanya memberi makan 1x kepada 5000 orang dari 5 roti biasa dan 2 ikan. Musa memberi makan roti dari Sorga, berkali-kali selama 40 tahun kepada 2 juta orang dengan tangan kosong.

Orang yang datang dan percaya kepada Yesus sebagai roti hidup, maka:
1. Ia tidak lapar dan haus lagi (v 35) = ia akan dipuaskan.
2. Ia akan dipuaskan selamanya (v 50, 51, 58) = ia akan mendapat hidup yang kekal.
Yesus membandingkan manna (nenek moyang Israel makan manna dan mereka sudah mati), tapi yang makan roti hidup, akan memperoleh hidup yang kekal.
3. Ia akan hidup bersama Yesus selamanya. Yang makan roti akan bersatu dengan tubuh Yesus. Tuhan tak akan meninggalkannya selamanya.

Pada dasarnya manusia fokusnya pada hal yang fisikal dan material. Itulah yang mereka cari. Yesus tahu bahwa kebutuhan manusia bukan hanya itu saja, tapi hal yang lebih mendalam, yaitu hal yang spiritual, yang memenuhi kebutuhan rohaninya.
Maka Yesus mengatakan bahwa akulah roti hidup. Itu adalah personal pronoun. Ho artos adalah maskulin, kepada pribadi Yesus, yang bukan berasal dari dunia, tapi dari Allah, yang akan memuaskan kebutuhan manusia.

Pernyataan Yesus roti hidup adalah pernyataan pertama dari siapakah Yesus dalam Injil Yohanes. Setiap pernyataan menunjukkan aspek penting dalam pelayanan Yesus. Pernyataan itu adalah pernyataan yang menunjukkan Yesus yang memelihara kehidupan rohani. Kuncinya adalah datang dan percaya, maka kamu akan beroleh hidup. Tapi, bagi orang Yahudi untuk datang dan percaya, tidak mudah. Mereka mengukur segala sesuatu dengan ukuran lahiriah. Mereka menganggap Yesus hanyalah anak tukang kayu dari Nazaret, sehingga mereka menolak Yesus. Kalau mereka menolak Yesus, berarti mereka menolak hidup kekal. Siapa yang datang pada Yesus, maka Ia akan memuaskan hati, jiwa dan pikirannya.

Topic minggu ini masih seputar makanan.
1. Tuhan dan manusia sama-sama tahu kebutuhan manusia, tapi memiliki perbedaan yang hakiki, karena manusia hanya tahu yang fana dan sementara, sedangkan Tuhan tahu yang kekal dan abadi.
2. Tuhan dan manusia sama-sama memenuhi kebutuhan manusia. Manusia bekerja habis-habisan. Tapi dalam v 27, Tuhan menegur agar manusia jangan bekerja untuk yang sementara saja, lalu binasa. Sedangkan Tuhan memenuhi kebutuhan rohani sampai kekekalan (v 48).
3. Tuhan tidak hanya memenuhi kebutuhan rohani, tapi segala yang kita butuhkan Tuhanlah yang mengadakan.
Kalau kita ingat Ishak, ia memilih lembah Gerar, padahal lembah Gerar adalah tempat yang tidak bagus, kering, tapi di situlah Ishak menjadi kaya dan sangat kaya.
Mat. 6:32, semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, akan tetapi Bapamu yang di Sorga tahu bahwa kamu membutuhkan semua itu.
Jadi, tidak berarti orang yang dekat dengan Tuhan hanya tercukupi kebutuhan rohaninya, tapi juga jasmaninya.


Makin banyak orang yang tak mempedulikan hal-hal yang spiritual. Mereka tak tahu Alkitab, bahkan mereka juga tak mengenal siapakah Yesus.

Yohanes tahu betul siapakah Yesus.
3x Jesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah roti hidup, v 35, 48, 51.
Itu adalah bagian dari usaha Yohanes menjelaskan siapakah Yesus.
Yohanes mengatakan 7 ego eimi, kemudian melakukan 7 mujizat. Di sana, Yohanes tidak hanya menjelaskan siapa diri Yesus, tapi juga kehidupan-Nya, being dan doing.
Yohanes menyajikan sisi keras dan tegas dari Yesus. Yesus tidak hanya baik dalam arti lembek dan kompromis, tapi tegas. Ia berkata dengan keras pada orang yang mengikuti-Nya, tapi bahkan mengusir murid-murid-Nya yang dikasihi-Nya, Petrus. Yesus ingin menekankan kualitas lebih penting dari pada kuantitas.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung


Apabila melihat Yoh.6:1 kita mendapatkan informasi bahwa oleh karena melihat mujizat kesembuhan terhadap orang sakit, belum lagi bagaimaan Tuhan Yesus berjalan di atas air, menjelaskan mengapa ada begitu banyak orang yang mengikut Tuhan Yesus, kemudian diikuti dengan suatu peristiwa luar biasa, yaitu Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang. Satu hal yang tersirat bahwa tidak semua yang mengikut Tuhan Yesus sungguh mengerti dengan apa yang Tuhan kerjakan bagi mereka. besar kemungkinannya, setiap orang punya motif tertentu dalam hal mengikut Tuhan.
Satu motif yang Tuhan Yesus perlihatkan yang sekaligus menjadi latar belakang dilakukannya ketika Tuhan Yesus sedang mengajar di rumah ibadat tejadi percakapan antara Tuhan Yesus dengan orang banyak pada waktu itu terdapat pada ayat 26  ada orang banyak mencari Yesus (ay.1 & 24) – tampaknya baik – tapi bukan karena melihat tanda (bagaimana 5 roti dan 2 ikan cukup bahkan lebih untuk diberikan kepada 5000 orang) itu terjadi, tapi lebih tertuju pada berkat (jasmani) yang telah mereka alami, nikmati dan terpuaskan oleh apa yang Tuhan Yesus sudah lakukan. Sangat mungkin saat ini ada orang datang ke gereja bukan karena mengasihi dan datang kepada Tuhan tapi karena ada makan. Mereka tidak mengerti dengan apa yang Tuhan Yesus katakan, sampai pada akhirnya mereka masih juga bertanya-tanya tentang tanda yang dapat membuat mereka percaya kepada Tuhan meskipun sebenarnya mereka telah melihat tanda itu. Terlihat bahwa orang banyak itu kesulitan untuk memahami TuhanYesus, mereka meminta roti (ay.34) tetapi menolak bahwa Yesus datang dari surga (ay.41-42). Dalam percakapan itulah Tuhan Yesus 3 kali mengidentifikasi dirinya “Akulah roti hidup.” Ada tiga hal penting dalam pengidentifikasian diri Tuhan Yesus “Akulah roti hidup” :
1. ayat 27 Yesus, roti hidup adalah Tuhan yang menghendaki kita belajar satu prinsip hidup bahwa bekerja bukan hanya untuk memikirkan perkara jasmani tapi juga terlebih memikirkan perkara rohani dimana Tuhan tidak akan meninggalkan kita (Matius 4:4 ” tetapi Yesus menjawab : ”Ada tertulis, manusia hidup bukan dari Roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”)
2. ay. 35 datanglah dan percayalah kepada Yesus Roti Hidup dan Ia memenuhkan hidupmu
3. ay. 47 percayalah dan teruslah percaya, dan Tuhan tidak akan mengecewakan.

1. ay. 25-35, Yesus adalah roti hidup. Supaya pendengar mengerti mereka perlu percaya kepada Yesus sendiri, bukan kepada penglihatan dan mujizat atau makanan jasmani(ay 26). Suasana imlek dilakukan semua supaya dapat berkat. Di gereja juga ada yang demikian, contoh : perpuluhan untuk mendapat berkat. Kalau menabur maka kita akan menuai, lebih dari bunga bank. Ini konsep yang salah.
2. ay 36- 46, Yesus mengkritik orang-orang Farisi. Belum tentu suatu pernyataan tidak benar, jangan langsung ditolak. Bagaimana makan roti hidup? A. Datang dan percaya kepadaNya.(ay. 35b). b. Makan daging dan minum darah, merupakan kiasan terhadap pengorbananNya dikayu salib.
Aplikasi : Bawa jemaat supaya percaya sampai kayu salib. Sehingga mereka tidak akan lapar dan haus lagi. Jangan andalkan roti saja. Roh kita perlu makanan yang hanya dapat dipenuhi oleh Yesus sendiri.

Manusia jangan hanya mengandalkan roti jasmani, tetapi roh jiwa perlu roti hidup untuk memuaskannya. Apa yang bisa memuaskan hati manusia? Apakah kedudukan, reputasi, uang, sex? Banyak yang sudah memiliki semua, contohnya Salomo, tetapi ia menyimpulkan : kesia-siaan belaka. Apa yang masuk ke hati? Dosa, dunia, atau iblis. Ini semua akan merusak kita. Tetapi kalau Yesus diterima akan memuaskan hati kita. Tanpa Yesus kita tak akan puas. Percaya Yesus agar roh jiwa dipuaskan. Datang kepada Yesus. Bukan hanya menjadi anggota gereja. Tinggalkan keduniawian, dosa-dosa, yang menghalangi dapat datang kepada Yesus, dan kemudian percayalah kepada Yesus.

Yesus ingin menegur mereka, orang banyak karena :
1. Motivasi. Mereka mencari karena sudah dikenyangkan secara jasmani. Aplikasi : Bagaimana motivasi kita saat iring Tuhan, jangan hanya karena sesuap nasi, tetapi sesuatu yang lebih bernilai.
2. Membangun rasa puas diri lewat iman yang aktif, yang mempercayakan diri kepada Tuhan.
3. Jangan memusatkan pada yang jasmani saja agar dapat menemukan hal yang pokok/penting.

Jumat, 19 Februari 2010

MEKAR DI MASA SUKAR

MEKAR DI MASA SUKAR
Kejadian 26:18-22

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Garut

Ayat mas dr perikop ini ayat 22 : Ishak berkata : Sekarang Tuhan telah memberikan kelonggaran kpd kita.
- Kalau sdr disuruh memilih, baju sesak dengan baju longgar mana yg lebih baik, yg lebih enak ? Yg pas tentu yg paling baik, paling enak. Ttp masalahnya kan tdk selalu bisa demikian bukan ? Dimana hidup selalu pas ? Kadang hidup bisa jatuh dlm sesak sedemikian rupa atau longgar sedemikian rupa. Longgar adalah satu situasi yg jauh lebih baik drpd sesak.
- Kalau sdr disuruh memilih, nafas sesak atau nafas longgar ? Tentu yg longgar. Sdr bisa bayangkan kalau org lagi sesak nafas ? Nafas yg lega adalah harapan kita semua.
- Kalau hidup diilustrasikan spt baju atau nafas, maka pert adalah apakah kita hari ini sedang sesak/ longgar dlm hidup ini ? Kalau longgar, puji Tuhan, relatif tdk ada persoalan yg krusial. Ttp jika hari ini hidup sdr sedang sesak, bagaimana kita menghadapinya, itu persoalannya ? Menyerah kalah atau tetap bertahan bahkan menang ?
Pembacaan kita mencatat, Ishak anak Abraham dlm hidupnya ternyata juga hrs melewati saat2 yg tdk mudah yg dpt dikatakan sebagai kesesakan dlm hidup ini. Bayangkan, anak Abraham, Ishak, baru saja Allah memberikan janji kpd ayahnya, Abraham, bgs yg diberkati dan menjadi berkat, ttp tdk lama kemudian ternyata anaknya hrs menghadapi persoalan yg tdk mudah. Bukankah sehrsnya anak Abraham tdk boleh ada persoalan. Maka siapa kita yg boleh berkata jng ada persoalan dlm hidup ini ? Apa kesesakannya itu ?
1) Judul perikop pembacaan kita : Ishak di negeri org Filistin. Perikop kita memberitahu, ada kelaparan yg sedang terjadi, ada paceklik kira2 begitu, suatu situasi yg sulit, sampai2 Ishak anak Abraham yg mendptkan janji berkat2 besar hrs mengungsi. Ironis. Ttp memberitahu kita apa ? Ini kebenaran, fakta, org percaya tdk lepas dr persoalan dan kadang Tuhan ijinkan org ‘dunia’ membantu org beriman/percaya.
2) Ada ancaman. Dari mana kita tahu ? Ayat 7 ketika org2 ditempat itu bertanya ttg istrinya, berkatalah ia : Dia saudaraku sebab ia takut mengatakan Ia istriku, jng2 aku dibunuh, krn istrinya cantik. Menjadi ancaman buat Ishak. Ini realita hidup Ishak, juga realita hidup mns pd umumnya, ada kesulitan, ada ketakutan. Lalu bagaimana ? Indah, krn tema kita : Mekar di masa sukar ! Tuhan memberi kelonggaran kpd Ishak ! Tentu juga diharapkan kpd setiap kita ! Apa yg terkandung di dlmnya ? Bagaimana Ishak bisa ada kelonggaran dlm hidupnya ?
1. Dalam kesesakan, Ishak memegang Janji Tuhan ayat 2-5 ; 24-25
Menarik, begitu ada persoalan, begitu ada kesesakan, Tuhan langsung menyatakan atau menegaskan janjiNya, apa ? Ayat 2-5 Aku menyertai, Aku menepati. Tuhan tdk pernah meninggalkan Ishak dan keluarganya, org dan umat yg dikasihiNya sekalipun ada kesesakan. Bukan cuma satu kali, ayat 24-25 dlm perjlnan masih dlm kesesakan itu, ditengah adanya persoalan yg lain, ditegaskan kembali janji Tuhan ini. Apa yg kita lihat ?
- Allah yg tdk berubah. Allah Abraham adalah juga Allah Ishak, juga Allah Yakub. Artinya Allah adalah Allah yg kemarin, pd jaman Abraham, Allah hari ini pd jaman Ishak bahkan pd jaman yad yaitu Yakub.
- Allah yg menyertai. Aku akan menyertai engkau, termasuk di Filistin di negeri asing ini, saat melewati saat2 yg tdk mudah. Di pengasingan, menjadi istimewa, tempat tdk membuat penyertaan Tuhan menjadi berubah

- Allah yg memberkati. Aku akan memberkati engkau, sebab kpdmulah dan kpd kuturunanmulah akan kuberikan seluruh negeri ini. Dlm kesulitan ada pengharapan akan ada kecukupan bahkan kelimpahan. Bahkan yg menarik tdk lama kemudian, janji itu digenapi ayat 12-14 kaya, kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya
- Yang indah, Ishak meresponi semua ini dng mendirikan mezbah, menyembah Tuhan yg sedemikian itu. Ishak tdk curiga, tdk kecewa, tdk menyesali semua yg terjadi.
2. Dalam kesesakan, Ishak hidup tetap sbg “org asing” ayat 3
Tinggallah dinegeri ini sbg org asing. Artinya, Ishak tidak boleh hidup bercampur dng penduduk setempat. Apakah ayat ini memberikan indikasi utk kita hidup eksklusif ? Tdk boleh bercampur dng org2 didunia ini ? Bagaimana kita memahami kata TY kamulah terang dunia, kamulah garam dunia, hendaklah cerdik spt ular ttp tulus spt merpati ?
Tdk boleh kawin mengawinkan dng penduduk setempat. Karena perkawinan dng penduduk setempat berarti juga akan membawa masuk dewa2 dr penduduk setempat itu. Ada godaan utk menyembah dewa2, sesuatu yg dilarang Tuhan.
Tuhan ingin tdk ada ilah lain dlm hidup ini. Tuhan ingin org2 Israel hanya menyembah Tuhan satu2 nya, Tuhan saja tdk ada ilah atau sesuatu yg lain. Tuhan ingin umatNya terpelihara, terjaga, selalu berada dlm kemurnian. Percampuran itu menghancurkan, Esau, percampuran itu menjadi duri.
3. Dalam kesesakan Ishak, pd waktuNya Tuhan memberi kelonggaran ayat 22
Mengungsi, ketakutan, berkali2 ribut, ada masalah, pertengkaran, ada intimidasi dll ttp pd akhirnya ada kemenangan, ada jln keluar, ada pengharapan, ada sukacita, ada kegembiraan. Maka mulai bisa beranak cucu yg juga menggenapkan rencana Tuhan menanti kedatangan mesias itu Sumur itu dinamai Rehobot sebab Tuhan telah memberi kelonggaran. Setelah perjlnan yg panjang dng kesesakan toh pd akhirnya ada kelonggaran. Beranak cucu, lalu mrk menabur dan panen. Demikian hidup ini tdk selamanya ada kesesakan, pd waktunya akan ada kelonggaran.

Ishak bersama keluarganya sedang menjalani masa pengembaraan di negri orang, sebab ada kelaparan hebat sedang terjadi. Allah menuntun Ishak untuk memasuki Filistin sebab Allah tetap menyertai Ishak bersama keluarganya. Ia memulai kehidupannya dengan bercocok tanam dan berternak, Allah memberkatinya dengan kekayaan yang sangat melimpah (ayat12). Sehingga menimbulkan kecemburuan bagi orang-orang Filistin, maka ia mengalami kesulitan serta tekanan dari orang-orang Filistin
Sumur-sumur sebagai mata air ditutup oleh orang Filistin tetapi Allah memberkati sehingga digali lagi dan mengeluarkan air yang melimpah. Tetapi sumur-sumur itu dikuasi oleh orang Filistin sehingga Ishak menggali sumur lagi dan Allah sekali lagi memberkati dengan melimpahkan air yang banyak. Sehingga akhirnya orang-orang filistin mengakui penyertaan Allah kepada Ishak sangat nyata, tidak seorang pun yang dapat menghalangiNya. Meskipun berkali-kali orang Filistin berusaha menghalangi dan memberikan tekanan, tetapi pertolongan Allah selalu terjadi.
Allah menjaga, melindungi serta memberkati mereka meskipun mendapatkan banyak kesulitan dan tekanan hidup yang berat. Di tengah kesulitan ada jalan keluar yang Allah sediakan sehingga Ishak tidak sendirian. Penyertaan Tuhan atas hidup kita sangat terbukti tidak ada satu kuasapun yang dapat menghalangi berkat dan pertolongan Tuhan jika Allah beserta dengan kita.

Abraham juga pernah tinggal di Filistin (Kej 20 dan 21:22-34)) dan sekarang Ishak juga tinggal di Filistin sebagai orang asing. Semasa hidupnya mungkin Abraham pernah menceritakan masa kelaparan yang pernah melandanya dan mereka mengungsi di Mesir(kej 12:10-20), sehingga pada saat kelaparan melanda Ishak mungkin dia juga memikirkan akan mengungsi ke Mesir. Namun yang membedakan waktu Abraham ke Mesir dia tidak menungguk petunjuk dari Tuhan sedangkan Ishak sebelum memutuskan ke Mesir, ia mendengar suara Tuhan sehingga membatalkan rencananya dan tetap tinggal di Filistin. Ishak memilih mendengar suara Tuhan di saat sukar maka Ishak mendapat berkat yang utama dan pertama yaitu mengalami penyertaan Tuhan (3-6). Berkat yang kedua adalah berkat materi yang melimpah (12-14), berkat ketiga adalah terpandang di negeri orang (16), berkat yang empat kemudahan-kemudahan saat kesulitan datang (mendapatkan air)

Tahun Baru Imlek 2561 kali ini adalah tahun macan yang menurut ramalan para ahli feung sui, tahun yang sulit dilewati karena ada banyak kemalangan, bencana dan kesulitan yang akan muncul secara mendadak. Sebagai orang percaya, tentu kita tidak sependapat dengan hal ini. Namun tatkala disimak kondisi sekitar kita akhir-akhir ini yang diliputi oleh bencana alam berupa banjir, tanah longsor, belum lagi kapal karam, pesawat jatuh, termasuk era perdagangan bebas yang mengancam hasil produksi dalam negeri yang disinyalir bakalan membawa efek kebangkrutan banyak perusahaan dalam negeri dan pada gilirannya akan menambah tingkat pengangguran dan kemiskinan di tanah air. Fenomena demikian menimbulkan rasa takut, cemas dan kuatir di hati. Tetapi firman Tuhan dalam Kejadian 26:18-22 memberikan keyakinan dan harapan kita bahwa pada masa yang paling sulitpun Allah tetap bekerja untuk memberikan berkat dan anugerah-Nya kepada orang percaya. Sehingga kemekaran dalam mengembangkan segala aspek kehidupan tetap dapat terjadi karena perbuatan Allah sendiri. Pengalaman Ishak melewati masa kelaparan dan dalam hal menggali sumur lalu mendapatkan air mengajarkan kita beberapa hal:
Pertama, percaya dan bersandar kepada Allah sumber berkat, maka orang percaya tetap mekar di masa sukar. Pengalaman Ishat membuktikan hal ini. Kesuksesan Ishak bukan karena kehebatan dan kekuatannya sendiri, melainkan karena Tuhan yang selalu menyertai dan memberkatinya (ay.3,4, 12-14, 24,25,28; bdk. Yos. 1:7-9; Ams. 10:22; Yer. 17:5-8). Bagi orang yang diberkati Tuhan seperti Ishak, tidak perduli masa yang sukar dan tidak menjadi masalah di mana ia menggali sumur dan berapa sering orang Filistin berupaya menghalanginya, namun Allah selalu menolongnya. Bahkan sumur yang sudah ditutup sekalipun, tatkala digali kembali masih mengeluarkan air (ay. 18-19). Kehidupan Ishak di tengah kesukaran, akhirnya membuahkan hasil karena ada Allah yang menyertai dia dan menjadi tempat bersandar baginya.

Kedua, bersedia mengalah untuk menang. Pada waktu diusir oleh Abimelekh keluar dari Gerar, Ishak tidak melawan (ay. 16,17. Ketika menemukan air pada sumur yang ditutup, terjadilah pertengkaran antara para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: "Air ini kepunyaan kami." Apa dan bagaimana respons Ishak dalam peristiwa itu? Alkitab berkata bahwa Ishak berjiwa besar mau mengalah dan memberikan sumur itu kepada orang Filistin (ay. 19-21).

Ketiga, mau bekerja keras. Pengalaman Ishak mengajarkan kita bahwa tatkala menghadapi krisis dan masalah jangan cepat putusasa dan gampang menyerah. Meskipun timbul kelaparan yang hebat dan berada dinegeri orang, ia tetap mau bekerja keras dengan menabur benih, sehingga ia menuai hasil seratus kali lipat (ay. 12). Berulang kali direbut orang sumur yang digali Ishak, namun ia tidak cepat putusasa dan menyerah. Ia tetap tekun dan mau bekerja keras menggali sumur yang lain. Akhirnya atas pertolongan Tuhan dan kerjakerasnya ia menemukan sumur yang berair (ay.22, 32,33). Rasul Paulus berkata, "… Orang yang tidak mau bekerja, tidak boleh makan” (2Tes. 3:10). Salomo menegaskan, “Orang yang suka tidur akan jatuh miskin. Orang yang rajin bekerja mempunyai banyak makanan” (Ams. 20:13).

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta


Pada waktu kelaparan di Kanaan Ishak pergi ke Gerar, sebab pada waktu kelaparan Abraham ayahnya ke Gerar. Gerar terletak dijalan raya menuju Mesir, sekitar 11 mil disebelah tenggara Gaza. Ishak bermaksud menjadi Gerar tempat transit untuk menuju Mesir, oleh sebab itulah Allah memerintahkan Ishak untuk tidak pergi ke Mesir, tetapi tetap di Gerar, dan Tuhan akan menyertai dan memberkatinya (26:2-3). Ishak taat, dia menabur dan Tuhan memberkati dan mendapat hasil 100 kali lipat, sehingga timbul iri hati orang Filistin, Abimelekh mengusir Ishak untuk meninggalkan daerah mereka. Ishak pergi kelembah Gerar dimana Ayahnya Abraham pergi, dia mengalami kesulitan karena harus memulai usaha dari awal dan mengali sumur yang digali oleh Ayahnya telah ditutup oleh orang Filistin. Tetapi Ishak tetap tegar dimasa sulit, karena dia tahu Allah akan menyertai dan memberkatinya.
Meskipun Ishak mengetahui bahwa Allah menyertai dan memberkatinya bukan berarti dia hanya menerima dengan pasif tetapi dengan aktif menerima janji-janji itu. Dia tidak berpangku tangan, tetapi melakukan sesuatu yang menjadi bagiannya, antara lain :
1. Setia dan Taat Pada Tuhan
Ishak Setia pada Allah meskipun dalam keadaan yang sukar, dia tidak mengeluh dan berubah setia. Selain itu dia taat pada perintah Allah pada waktu Allah memerintahkan pada dirinya untuk tidak ke Mesiri dan tinggal di Gerar dia mau mendengar dan taaat pada perintah Allah (26:1-6)
2. Tekun dan Rajin
Ishak berhasil dan menjadi kaya karena penyertaan dan berkat Tuhan, bukan berarti dia pasif, dia aktif dengan menabur atau bertani serta berternak. Dan untuk mendukung keberhasilan dari pertanian dan peternakan maka Ishak berusaha mengali sumur yang dulu digali oleh Abraham Ayahnya. Ternyata gangguan dari orang Filistin belum selesai, pada waktu selesai mengali dan dia mendapat air yang banyak orang Filistin bertengkar untuk memperebutkan sumur itu sehingga Ishak menamainya Esek yang berarti bertengkar atau pertikaian, dan sumur kedua juga terjadi pertengkaran sehingga dinamainya Sitna yang berarti permusuhan. Ishak tidak menjadi putus asa dan menghentikan pengalian sumur, dia terus berusaha dengan tekun dan rajin yang pada akhirnya orang Filistin tidak mengganggu lagi karena melihat ketekunan Ishak dan melihat penyertaan Tuhan atasnya.
3. Hanya Bergantung Pada Allah
Di daerah Palestina untuk mendapatkan air tidak gampang, belum tentu pada waktu mengali sumur ada airnya. Tetapi setiap kali Ishak mengali sumur ada airnya. Sumur yang berair dengan susah payah didapat untuk mendukung keberhasilan pertanian dan peternakan, direbut tidak membuat Ishak putus asa, dia tidak bergantung pada air sumur tetapi pada Allah. Ishak tahu mengucap syukur dan berterima kasih, dia mendirikan Mezbah dan memanggil nama Allah (26:25)

1. Ishak terkena bencana kelaparan. Tidak ada anak Tuhan yang kebal atas bencana. Bisa datang kapan dan di mana saja. Firman Tuhan: melarang Ishak pergi ke Mesir. Pada waktu kelaparan di jaman Abraham, Tuhan tidak memerintahkan atau melarang pergi ke Mesir. Jaman Yakub, Tuhan menyuruh pergi ke Mesir (Kej. 46:3). Ishak, Tuhan melarang pergi ke sana. Dalam hal ini Tuhan berdaulat atas rencana Allah dalam hidup anak-anak-Nya.
2. Tuhan menyuruh Ishak tinggal di Gerar sebagai orang asing. Apa maksudnya? Supaya ia bisa menjadi saksi dan menyaksikan Tuhan dalam hidupnya. Tetapi ia sempat gagal karena menyembunyikan status istrinya. Tetapi Tuhan menyingkapan kebenaran yang ditutupinya itu dan membukakan kuasa Tuhan bahwa apa yang ditakutinya tidak terbukti malah sebaliknya, orang yang dianggap ancaman menjadi pelindung bagi dirinya.
3. Ishak rajin bekerja: Tuhan memberkati 100 kali lipat. Ishak tidak mengejar kekayaan dan ngotot menjadi kaya, tetapi Tuhan yang menjadikannya kaya. Setelah kaya, banyak ternak ia diusir oleh Abimelek. Ishak tidak melawan atau membela diri. Padahal dia punya banyak kekayaan dan bisa melawan Abimelekh. Tetapi ia tetap pergi. Bagi ternaknya yang begitu banyak sulit bagi Ishak bagaimana caranya bisa memberi minum. Apalagi masih dalam suasana kelaparan dan kemarau. Sumur-sumur yang sudah ditutup oleh orang Filistin di jaman Abraham Tuhan bukakan dengan ajaib. Airnya melimpah ruah. Apa yang mustahil dan tidak mungkin bagi manusia, Tuhan menjadikannya mungkin.

1. Pribadi Ishak adalah orang yang beriman. Keberhasilan seseorang tidak lepas dari iman dan keepribadiannya yang baik. Ketika terjadi kelaparan Tuhan melarang ke Mesir, ia taat.
2. Ishak tidak luput dari kesalahan. Saat tinggal di Gerar ia berbohong bahwa istrinya adalah saudaranya, karena takut nyawanya terancam. Ia ditegur oleh Abimelekh dan berjanji melindungi Ishak dan istrinya. Sifat karakter Ishak adalah tekun berusaha, ia juga suka mengalah karena ia berharap kepada Tuhan. Tuhan memberikan janji penyertaan-Nya (ayat 24).
Berita kepada jemaat: jangat takut menghadapi masa yang sulit. Tuhan menyediakan berkt-Nya kepada orang yang mau berharap kepada-Nya. Tuhan tidak tinggal diam atas penderitaan anak-anak-Nya apabila ia tekun dan percaya kepada Allah.

Sumur menjadi persoalan penting karena menjadi sumber kehidupan untuk mencukupi masalah mereka yang hidup di padang pasir. Bagaimana hidup di masa sukar?
1. Iman dan taat (ayat 11). Diperintahkan tidak pergi ke Mesir, Ishak taat atas perinta-Nya.
2. Berdoa dan bekerja (ayat 18, 22). Yang menggali sumur adalah Ishak. Dia yang memulai dan bukan pegawainya.
3. Pembawa damai. Berkali-kali Ishak mengalah terus mengenai perebutan sumur. Gampang bagi Ishak untuk bisa melawan dan bertengkar mengenai hal ini. Tetapi Ishak tidak melakukannya. Ia lebih suka membawa damai daripada keributan.

Meski Ishak orang yang tekun dan iman, ia memiliki masalah tetapi tetap dapat dihadapi bersama-sama dengan Tuhan. Sehingga, dia dapat mekar di masa sukar.

Karakter Ishak yang indah: suka mengalah. Sebisanya kita hidup rukun dengan semua orang. Ishak tidak mau menambah korban dalam peperangan. Demi kebahagiaan orang banyak, Ishak mengalah. Ishak tahu, bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Ishak juga mendoakan dan memberkati orang-orang yang memusuhinya (Rm. 12:9-20).

Ayat 13 banyak disukai oleh gereja dan teolog-teolog kemakmuran. Kondisi Ishak dan jaman sekarang tidak jauh berbeda. Kondisi Ishak pada jaman itu sulit:
1. Ia mengalami kondisi perang. Bapaknya Ishak, Abraham juga sering berperang.
2. Ishak diijinkan Tuhan mengalami kebutaan (Kej. 27:1). Pada umur 137 ia mengalami kebutaan. Ia meninggal umur 180 (Kej. 35). Melalui kebutaannya ia ditipu anaknya.
3. Ishak juga mengalami keparan pada jaman berikutnya (Kej. 47)
Dari semua pergumulannya itu, tidak membuat ia meninggalkan Tuhan. Ia sangat bergantung kepada Tuhan sehingga ia tetap mekar di masa sukar. Apa rahasinya? Ia diberkati dan disertai Tuhan. Yusuf disertai Tuhan (Kej. 39, kata “disertai Tuhan” ada 4 kali. Untuk Ishak ada 7 kali).

1. Ishak berada dalam keadaan yang sulit bukan karena dosa dan kesalahan melakukan sesuatu tetapi karena ada kelaparan.
2. Ishak belajar taat kepada Tuhan. Waktu dikatakan jangan pergi ke Mesir, ia taat tidak pergi. Ia melakukan itu karena ia berpegang pada janji Tuhan ia akan disertai Tuhan.
3. Ishak menyatakan pada kita bahwa berkat Tuhan terbukti dalam hidupnya. Di tengah kesusahan itu kadang sulit mempercayai Tuhan itu memberkati. Kita lebih percaya kepada tawaran yang lain. Bisa kah kita tetap menunggu Tuhan di masa-masa yang sulit? Saat kepepet paling sulit mempercayai Tuhan. Ishak diberkati 100 kali lipat, sumur yang ditutup melimpah dengan air, karena ia mempercayai Tuhan.

Mekar di masa sukar saat kita baca di ayat 26 memang Ishak mengalami masa yang sulit. Di sana terjadi kelaparan yang menjadi kebutuhan pokok manusia. Kelaparan ini menyebabkan Ishak pergi ke Gerar. Kesukaran yang kedua ia hidup di tengah-tengah orang asing. Budaya, kebiasaan, kondisi jauh berbeda dengan negeri sebelumnya. Ia tetap mekar karena Tuhan menyertai dan memberkatinya, meski ia tinggal di negeri asing. Di mana pun saya tinggal, asal Tuhan bersama kita, itu pasti indah. Dia tetap mekar di masa sukar karena tetap berpegang pada janji Tuhan. Walaupun Tuhan janji memberkati tidak berarti kita berpangku tangan. Ia bekerja keras. Ia menabur di tanah itu dan memberkati tanah yang ditaburnya. Hasilnya luar biasa, 100 kali lipat. Sesudah sukses, ia diusir oleh Abimelekh. Saat pergi ia menggali, menggali, dan menggali sumur. Ini pekerjaan yang sulit. Tetapi ia terus melakukan.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung


Dapat diumpamakan kesukaran itu sepeti koin; sisi 1 yang positif sebagai sarana penggemblengan ujian untuk mencapai kesuksesan. Negative; kesukaran dapat menjadi sarana untuk mengocoh iman untuk menghancurkan. Tinggal bagaimana cara pandang terhadap kesulitan.
Nama “Ishak” artinya “orang tertawa”. Arti dari nama ini ada dua kejadian; 1) pada saat Sara usia 90 tahun hamil sara tertawa karena lucu seorang nenek hamil. Tapi kenyataannya sungguh Allah membuat sesuatu yang ajaib, dimasa kesukaran Allah membuat Sara mekar imannya. 2) ay.22-ishak tertawa karena Tuhan memberi kelonggaran karena sudah tidak bertengkar lagi dan mereka boleh tinggal di gerar dengan tenang.
Melalui hal ini ada 2 hal:
1) Masa sukar yang dihadapi oleh Ishak dan Sara, sungguh melihat bagaimana hidup mereka mekar di masa sukar.
2) Alkitab selalu meyebut Allah Abraham, Ishak, Yakub ini berarti mereka adalah bapak beriman, tapi mereka punya kelemahan masing-masing yang membuat mereka mengalami kesukaran, tapi iman mereka yang menuntun mereka untuk mengalami kemekaran  a) Lih.ay.12 – Tuhan memberkati usaha mereka. b) Lih. Ay. 22- istilah kelonggaran disini menunjuk pada konsep pertolongan Tuhan pada saat Ishak mendapat tekanan.

Karakter ishak itu luar biasa. Dia dicemburui karena dia kaya, dia disuruh pergi, lalu dia mendapat semangat, lalu membangun lagi (sumur mati-ini tidak mudah). Bahkan, Abimelek mengadakan perjanjian dengan Ishak; bagi Tuhan jikalau Tuhan berkenan musuhpun akan diperdamaikan oleh Tuhan.

Dimanakah Allah saat kesukaran hidup tiba? Mengapa kali ini Allah seolah-olah berdiam diri membiarkan hal-hal yang “buruk” terjadi? Apakah Allah yang dahulu begitu baik, sekarang sedang berubah sikap? Sampai kapan kita harus menebak-nebak sikap Allah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut manusiawi, menggambarkan keterbatasan kita bagaimana memahami rencana Allah. Bagaimana sudut pandang Alkitab terhadap kesukaran hidup, penderitaan bahkan kepahitan hidup?
Rehobot adalah nama sebuah sumur yang memiliki sejarah pada zaman Ishak, sumur ini adalah sumur yang ketiga yang digali oleh Ishak, dimana sumur-sumur yang terdahulu yang adalah warisan ayahnya menjadi salah satu sumber konflik dengan orang Filistin. Tetapi melalui konflik, kesukaran hidup kita melihat Allah sedang menyatakan pemeliharaanNya agar rencanaNya tergenapi. Alkitab menyaksikan bahwa Allah melibatkan orang-orang pilihannya dalam sejarah keselamatan (history of salvation) yang puncaknya adalah karya keselamatan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus (The Finality of Christ). Mulai dari Abraham, Ishak, Yakub, Musa sampai kepada zaman Paulus bahkan sampai pada zaman ini, orang-orang yang dipakai Allah tidaklah pernah luput dari penderitaan dan kesukaran hidup, tetapi justru melalui berbagai kesukaran itulah karya dan rencana Allah menjadi nyata.
Paul Stoltz mencermati ketangguhan seseorang dalam menghadapi kesukarann hidup bahkan penderitaan memberikan inspirasi yang melahirkan gagasan AQ (Adversity Qoutients), dimana melalui AQ kita melihat bagaimana respon seseorang ketika menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Melihat AQ dijabarkan dalam sebuah akronim CORE (Control, Origin, Reach dan Endurance), sbb:
1. Control, sejauhmana seseorang dapat mengontrol masalah yang terjadi, atau ia selalu dikendalikan oleh masalah? Respon Ishak tidaklah memerangi orang yang memusuhinya (Filistin).
2. Origin, bagaimana melihat asal usul masalah secara obyektif, entah kesalahan dari dalam diri sendiri atau dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
3. Reach, sejauhmana permasalahan mencapai kinerja seseorang dalam kurun waktu tertentu. Pribadi yang memiliki AQ yang baik tidak akan membiarkan masalah merambah seluruh hidupnya melainkan ia mampu memilah-milah massalah.
4. Endurance, merupakan ketahanan seseorang untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Kehidupan Ishak mempresentasikan CORE yang sangat baik. Setelah mengevaluasi bagaimana diri kita dengan akronim tersebut, maka langkah konkret adalah LEAD (Listen , Explore, Analyze dan yang terakhir Do).
1. Listen, memperhatikan masalah yang terjadi dimana setiap masalah dilihat secara proposional: masalah besar tidak dianggap kecil, masalah kecil tidak dianggap besar.
2. Explore, menguraikan masalah hidup yang terjadi dengan jeli dengan melihat sebab akibat masalah itu.
3. Analyze, mencari solusi dibalik tantangan/masalah yang terjadi.
4. Do, melakukan apa yang seharusnya dilakukan bukan melakukan apa yang ingin dilakukan.

Perbedaan antara mental seorang pecundang dan pemenang. Seorang pecundang; berpikir negatif, selalu pikir pesimis. Seorang pemenang; berpikir positif, selalu optimis, kepastian dan pengharapan. Apa yang dialami oleh Ishak, adalah lukisan dari kehidupan yang juga kerap kali dialami oleh kita. Ishak pernah mengalami masa yang surplus, terpandang, kaya raya, tetapi ada saatnya dimana ia mengalami satu masa paceklik, masa suram dan pahit. Ada pepatah hidup itu seperti roda berputar, kadang dibawah, kadang di atas, di tengah.
Ada 2 hal yang bisa dipelajari;
1) Ay.24-ini adalah pegangan buat Ishak. 20 tahun pernikahannya, mandul. Ishak berdoa; dan Tuhan buka rahim-penggenapan perjanjian Tuhan atas dirinya.
2) Ishak punya pikiran optimis; keletihan menjadi penyebab no.1 kekecewaan.

Kej.26-kej.20-Abraham berbohong begitu juga Ishak berbohong. Peristiwa yang sama ini terjadi untuk ketiga kalinya. Ishak mengalami kesulitan kelaparan; ini tejadi secara berkala dan Ishak berencana untk pergi ke Mesir, tapi dia taat dan dia memegang janji Allah. Sebagai orang percaya, kita tidak boleh mengambil keputusan sendiri, kita harus meminta pimpinan Tuhan.

Ishak adalah seorang yang pendamai; dimana mereka tinggal air merupakan kebutuhan mereka. tapi pada waktu sumur diklaim oleh orang lain, Ishak tidak ngotot2an. Ini adalah sikap yang harus ada untuk menikmati segala berkat Tuhan.

Kesukaran dalam kehidupan seseorang, bisa dilihat secara internal atau eksternal. Mekar adalah sesuatu yang betumbuh dan menghasilkan seseuatu. Tapi ada 3 sikap orang dalam menghadapi kesukaran:
1. Menghadapi kesukaran dengan keterpurukan
2. Terapung; diam tapi tidak menghasilkan atau melakukan apapun juga
3. Terus berusaha dan tetap pecaya pada Tuhan; tetap melihat bahwa di dalam Tuhan tetap ada jalan.

2 hal yang sering terjadi dalam hidup manusia;
1. janji begitu diyakini sehingga orang yang menerima janji itu hanya menunggu.
2. Serentetan kesukaran membuat seseorang melarikan diri dari kehidpan. Ishak; dia memiliki suatu modal kehidupan dalam hidupnya, sehingga di tengah masa sukar dia tetap dapat mekar; modal; ay.12 – bekerja keras dan rajin dan ay.14-16 – di tengah berkat Tuhan yang diberikan, ada realita bahwa kesukaran itu tetap ada –dia berhadapan dengan orang filistin, Abimelek, dia adalah seorang yang bertahan. Ay.15-22 – memperlihatkan 2 hal tentang ishak; 1) dia adalah orang yang sabar terhadap segala yang terjadi, dia mengalah. 2) dia orang yang bertekun untuk mencari peluang mencari kesempatan yang lain.

Ada 5 keunggulan dari Ishak
1. Mengalah; dia tidak berontak karena
2. Ay.25- dia membangun mezbah; ditengah kesukaran ada ibadah di hadapan Tuhan dan
3. dia membangun tenda untuk melindungi keluarga
4. Dia menggali sumur; dia berusaha untuk mata pencarian. Ini memerlukan skill.
5. Dia menjamu musuh ay.30; bahwa ternyata Ishak tidak balas jahat dengan jahat.

Ada 6 aplikasi dalam mencapai kesuksesan:
6. Dia membangun iman dan karakter
7. Dia memiliki mental baja; pantang menyerah
8. Dia mengubah masalah menjadi peluang
9. Membangun kasih dan kebersamaan demi kemajuan
10. Tidak membuang energi yang kontra produktif
11. Tidak mengadop perilaku duniawi (memberontak dan melawan)

Sumur itu menunjukkan air. Persoalannya adalah air, air menunjukkan persoalan kebutuhan kehidupan. Ini menjadi suatu pergumulan Ishak bersama rombongannya. Ini juga menjadi persoalan menyentuh wanita Samaria, Yesus bicara tentang air bicara tentang kehidupan. Sumur itu juga dinamai, itu menunjukkan pentingnya. Nama disini penting; pertama esek; konotasinya adalah kepuasan, sitnah; konotasinya adalah pertengkaran dan rehobot; konotasinya adalah perluasan dari Allah  semua ini memperlihatkan pergumulan Ishak dengan Tuhan. Sumur itu adalah pergumulan hidupnya, maka dia menamai dengan konotasinya.

Dalam kehidupan Ishak, dalam keluarga dia termasuk orang yang hidup paling tenang dan selalu hidup bahagia, yang paling penting dalam hidupnya adalah mendirikan kemah dan mendirikan mezbah. Tuhan menjanjikan covenant pada Abraham, maka itu diturunkan kepada Ishak, maka Allah disebut sebagai Allah Abraham dan Allah Ishak. Suatu iman yang diturunkan itu penting sekali.
Disini kita melihat bagaimana seseorang mengalami pergumulan; setelah mezbah dibangun lalu kemah. Tidak ada mezbah maka tidak ada kemah yang tenang. Hidup tidak selamanya lancar bahagia, kadang ada permusuhan, tapi ada kalanya Tuhan melindungi kita dan menjadi kesaksian luar biasa, karena Tuhanmenyatakan kekuatan-Nya, sehingga akhirnya dia diberkati dalam kelapangan dan kemakmuran. Ini merupakan kesaksian yang baik, karena datang orang Filistin. Sifat yang diwarisi Ishak, harus diwarisi oleh generasi penerus kita. Walaupun Ishak pernah gagal, kita melihat dengan jelas bahwa Ishak mengalami yang dialami Abraham–ingat janji Tuhan tidak pernah berubah. Ishak juga mewarisi satu hal yaitu mengalah, supaya orang menikmati apa yang dia punya. Pada hal ini, pada waktu Lot ribut dengan Abraham, tapi Tuhan menyatakan diri kepadanya, yang diperoleh oleh Lot juga pada akhirnya dimiliki oleh Abraham dan keturunannya.

Ada 7 hal penting:
1. Terima berkah mengembangkan yang ada
2. Rendah hati rela mengalah
3. Rajin berkarya hikmatbertambah
4. Tidak bantah damai terlaksana
5. Lapang dada bersyukur senantiasa
6. Tuhan serta derita jadi suka
Makmur jaya kasihnya terpesona



Jumat, 12 Februari 2010

MENUAI DENGAN SUKACITA

MENUAI DENGAN SUKACITA
(Mazmur 126:1-6)

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Garut


Pendahuluan: Tema Mazmur 126 adalah: Pengharapan di tengah-tengah penderitaan. Konteksnya adalah pemulihan keadaan sion yang terjadi tahun 701 SM saat ancaman Sanhenrib untuk menyerbu Yerusalem digagalkan sebagai penggenapan nubuat sehingga bangsa-bangsa mengirimkan hadiah kepada raja Hizkia (2Taw. 32:22-23). Pemulihan yang berikut adalah ketika orang Yahudi kembali ke Yerusalem pasca pembuangan ke babel pada tahun 538 SM. Allah dapat melakukan perkara yang besar. Kuasa-Nya tidak hanya melepaskan kita dari perhambaan dosa, tetapi juga membawa kita kembali kepada-Nya. Penulis Mazmur ini tidak diketahui, namun kemungkinan ditulis untuk merayakan kembalinya umat Yahudi dari pembuangan ke Babel (Ezra 1). Apakah kunci untuk menuai dengan sukacita?

1. Kita harus setia menabur kebaikan, kesetiaan, kebenaran dan doa. Umat Yahugi ditempat pembuangan menabur dengan pertobatan, iman dan doa syafaat, maka Tuhan mendengar doa mereka. Mereka berseru, “Pulihakanlah kami ya Tuhan….” (ayat 4). Orang yang menabur kesedihan, sambil bergumul dalam doa. Orang percaya diyakinkan bahwa apa yang mereka tabor dengan rajin sekarang ini akan diberkati dengan berlimpah-limpas oleh Tuhan di masa depan. Marilah kita setia menabur kebaikan, kesetiaan, kebenaran dan doa syafaat. Meskipun mengalami kepedihan karena mengetahui bahwa aka nada tuaian berkat Allah yang besar (Yer. 31:9).
2. Hasilnya: kita menuai dengan sukacita. Kita akan menuai berkat-berkat dari Allah berupa pembaharuan, kebangunan dan perbuatan ajaib (Mat. 5:4; 2Kor. 9:6). Ayat 2-3, mulut orang benar penuh dengan tertawa dan lidah penuh dengan sorak sorai karena sukacita.

Mudahkah kita berkata kepada sekian banyak petani di negeri ini, dengan ribuan hektar tanaman padinya yang puso atau gagal panen karena banjir dimana-mana sekarang ini : “Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang menangis sambil menabur akan pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Mereka akan menjawab, “Kami menabur dan menuai dengan air mata yang sama, menabur dan menuai dengan tangisan.” Berita ini bukan kabar baik yang mudah untuk diterima oleh mereka-mereka ini.

1. Ada realita hidup yang tidak mudah atas para petani, juga orang-orang percaya pada masa kini. Maka yang begitu nyata dalam hidup ini adalah adanya orang-orang menabur dan menuai dengan mencucurkan air mata yang sama, adanya berbagai tangisan dan kepedihan dalam hidup ini. Lalu apakah kita menjadi orang-orang yang tidak berpengharapan ?
2. Ada pertolongan dan pemulihan. Bersama dengan Pemazmur yang berseru dalam Mazmur 121:1-2 Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah akan datang pertolonganku ? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi. Maka pertolongan dan pemulihan akan terjadi. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, dicatat dua kali dalam ayat-ayat ini artinya ya dan amin. Seperti mimpi artinya seperti tidak masuk diakal, tidak terpikirkan tetapi itu yang terjadi. Seperti memulihkan batang air kering di tanah Negeb, sesuatu yang mustahil, tetapi sungguh terjadi. Betul-betul pekerjaan Tuhan telah terjadi tanpa peran atau jasa manusia. Ayat 1,4
3. Ada hasil dari pertolongan Tuhan : ada tertawa, sorak sorai, sukacita. Ada perkara besar yang mengubah telah terjadi dan hal ini juga diakui oleh orang-orang pada umumnya, menjadi kesaksian yang indah. Ada kata ‘kita’ internal dan ‘orang-orang ini’ eksternal. Ayat 2,3
4. Ada janji Tuhan : kita dapat mengatasi realita-realita hidup yang ada yang bahkan kelihatannya mustahil yaitu : “Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang menangis sambil menabur akan pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kemampuan Allah melampaui ketidakmampuan kita. Ayat 5,6

Persoalan hidup yang dialami oleh umat Tuhan terkadang beragam bentuknya bahkan terkadang diliputi air mata karena beratnya persoalan hidup. Terkadang kita harus menghadapi semua persoalan itu dengan pergumulan tidak mudah. Penyerahan dan persandaran kepada Tuhan menjadi satu kunci yang penting dalam mengatasi hal ini. sebab dengan persandaran serta penyerahan diri kepada Allah akan memampukan kita untuk menghadapi persoalan hidup ini.
Dibalik kesulitan yang Tuhan ijinkan untuk kita alami, ada rencana dan maksud Tuhan yang indah. Allah sedang mengajarkan sesuatu kepada kita, supaya kita belajar percaya dan memiliki
ketabahan dalam menghadapi hidup ini. Mungkin ada sesuatu yang perlu kita intropeksi dalam hidup kita yang Tuhan ingin ingatkan supaya kita mengoreksi serta merubahnya. Pada akhirnya ketika Allah bekerja dan kita percaya kepada Allah maka ada sukacita yang telah Allah sediakan bagi kita. Biarlah sukcaita itu membuat kita semakin mengenal Allah serta mengalami pertumbuhan iman yang nyata dalam hidup ini.
Jangan cepat menyerah, terus berjuang sampai akhir. Kesetiaan dibuktikan bukan melalui ikrar yang nyaring tetapi melalui ketetapan hati yang lirih untuk tetap bertahan di jalan Tuhan. Kadang jalan ini mengundang tetesan air mata namun ingatlah, di akhir jalan, kita akan bersorak sorai memetik buah kemenangan dan menerima mahkota kehidupan.

Dipulihkan oleh Tuhan merupakan sesuatu yang sangat penting. Memasuki tahun baru ini apa yang harus dipulihkan dalam kehidupan kita. Mungkin penderitaan dan kesulitan membuat kita tidak bisa melihat Allah dengan jelas atau mungkin ada hal yang lain yang memang perlu dipulihkan. Ketika pemulihan sudah dikerjakan oleh Tuhan apa yang harus kita kerjakan untuk pekerjaan Tuhan. Bagi orang yang sudah bekerja (menabur) ada upah yaitu menuai (ini adalah hukum alam). Biarlah memasuki tahun baru imlek jemaat boleh menuai tetapi sebelum menuai mereka harus menabur dulu.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta


 Mz. 120-134 adalah mazmur ziarah.
4 ditulis oleh David; 1 oleh Salomo; 10 tak diketahui penulisnya.
 Memulihkan keadaan Sion = memulangkan / mengembalikan tawanan Sion (v 1).
Turned again (KJV) / brought back (NAS, NIV).
 Pemulihan = keadaan sebelumnya lebih baik.
Tuhan bisa membuat sesuatu lebih baik, dari sebelumnya yang tak pernah dialami. Atau mengembalikan dari kepada keadaan yang lebih baik sebelumnya. Sekali lagi, perlu digarisbawahi, bahwa Tuhan bisa. Manusia mungkin tak bisa, tapi Tuhan bisa.
Dan kalau Tuhan melakukan, sungguh jauh dari pikiran kita = dreams comes true (v 1).
Itu berarti, keadaan sekarang mereka tidak baik. Keadaan sebelumnya: bebas.
Bebas di kota sendiri secara politik (Zion = Jerusalem / kota Daud, II Sam. 5:9).
Zion disebutkan = 7x (ch. 125, 126, 128, 129, 132, 133, 134).
Dan dalam kitab Mazmur, Zion disebutkan 38x.
Bebas beribadah kepada Tuhan secara rohani = temple is on the top of Zion
“Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya” (Ps. 132:13).
Sekarang: dalam pembuangan. Mereka merindukan pulang kembali ke Jerusalem (v 1, BIS  membawa kami pulang ke Jerusalem).
 Pemulihan:
1. Pertobatan (v 1).
Segala sesuatu dimulai dari pertobatan. Jadi, bukan berusaha / bekerja dulu.
Ketika hubungan dengan Tuhan beres, maka yang lain menyusul / mengalir.
Karena, semua berkat adalah dari Tuhan.
“Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu” (Ps. 128:5).
“Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Ps. 133:3).
“Kiranya TUHAN yang menjadikan langit dan bumi, memberkati engkau dari Sion” (Ps. 134:3).
Tuhanlah yang memberkati / memagari (Job 1:10) / meneguhkan (Ps. 125:1).
“Nyanyian ziarah. Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya” (Ps. 125:1).
Tatkala hubungan beres dengan Tuhan, orang yang melawan orang ini = melawan Tuhan.
“Semua orang yang membenci Sion akan mendapat malu dan akan mundur” (Ps. 129:5).
2. Pulang (v 1-3).
Tempat / wilayah / teritori.
[a]. Sebagian dari pemulihan ini terjadi pada tahun 701 SM ketika ancaman Sanherib untuk menyerbu Yerusalem digagalkan sebagai penggenapan nubuat dan bangsa-bangsa di sekitar Yehuda mengirim hadiah kepada Hizkia (2 Taw 32:22-23).
[b]. Pemulihan yang lebih besar terjadi ketika orang Yahudi kembali ke Yerusalem dari Babel pada tahun 538 SM.
3. Panen (v 4-6).
Tidak hanya meminta panen, tapi mereka mau bekerja / berusaha keras.
Di tempat yang sulitpun, bisa berbuah.
Negev (the south country = the land where the Amalekites lived, stony area, and very difficult to live, cf. Ps. 126:4).

1. Tuhan telah memulihkan keadaan kita seperti memulihkan batang air yang kering. 126:1&4
2. Tuhan telah melakukan perkara besar. 126:2&3
3. Telah berjerih lelah dan menikmati hasil seperti pepatah berakit-rakit dahulu, berenang-renang ketepian. 126:5&6

Kata memulihkan bisa berarti mengembalikan, menyembuhkan. Kata menyembuhkan dalam arti politik & spiritual. Secara politik berarti mereka dikembalikan dari orang buangan menjadi orang yang dikasihi Allah. Secara spiritual, Yerusalem dipulihkan dan ibadah bias dilangsungkan kembali. Perubahan radikal ini dirasakan seperti mimpi, waktu mereka sadar, mereka tertawa kegirangan. Tuhan telah melakukan perkara yang besar di masa lalu dan juga mengadakan pembaharuan hidup di antara umat Israel baik secara politis & spiritual.

Allah dikenal sebagai Allah yang berdaulat dalam kehidupan manusia & bertanggungjawab atas kehidupan manusia, manusia sering ingin mengatur kehidupannya sendiri tetapi sering gagal. 126:1-4
Allah sekalipun berkuasa & berjanji, tetapi tidak meniadakan tanggungjawab manusia, manusia harus bertanggungjawab atas apa yang diberikan Tuhan atas dirinya. 126:5
Usaha manusia diberkati Tuhan adalah sukacita tersendiri dalam hidup kita. Orang percaya akan mendapat konfirmasi dari Allah tentang berkat Allah atas apa yang telah ia kerjakan. 126:6

1. Tuhan kita adalah Tuhan yang memulihkan. Terkadang Ia mengijinkan penderitaan tetapi sebenarnya Ia menghendaki sukacita dan penderitaan, tetapi kemenangan adalah kehendak Tuhan. Pemulihan bukan hanya sekedar sembuh tetapi dipulihkan kembali kepada keadaan yang sempurna. Hanya Tuhan yg dapat melakukan pemulihan, karena manusia hanya bisa memaafkan.
2. Pemulihan itu dikerjakan Tuhan melalui proses menabur yang dikerjakan melalui berkorban dan mengasihi. Ada orang yang ingin berkorban tetapi mengorbankan orang lain.
3. Pemulihan merupakan wujud dari penuaian yang dipenuhi Tuhan dengan sorak sorai kemenangan. Ia menghendaki kita menuai dengan hasil yang penuh sorak sorai.

Ternyata bangsa ini ada dalam kondisi penderitaan yang sangat berat. Bekerja, bahkan sambil mengeluarkan air mata. Penderitaan itu begitu berat untuk menjalani hidup ini. Kita melihat suatu kenyataan yang ada dalam pengalaman hidup manusia.
1. Hidup ini adalah sebuah perjuangan dan penuh penderitaan. Tekanan sebagai tawanan, hidup di negri orang, dibawah pemerintahan dan aturan yang sangat berbeda.
2. Hidup ini tidak pernah lepas dari campur tangan Allah. Ia perduli dengan seluruh penderitaan dan kehidupan manusia. Ia tidak meninggalkan manusia dalam seluruh keberadaannya. Ia sendiri akan bertindak dan melakukan banyak hal bagi orang-orang yang bersama denganNya. Itu sebabnya orang-orang lain melihat dan mengatakan “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini” pemulihan yang hanya Allah yang mengerjakannya bagi kita. Tidak ada manusia dapat mengerjakan pemulihan. Hanya Allah yang mau mengerjakan bagi kita.
3. Hidup ini menuju kepada penuaian, apa yang kita tabur dan tuai akan menjadi suatu kenyataan. Taburlah benih yang baik, meskipun bekerja keras karena pasti akan menuai pada akhirnya.
Jangan takut penderitaan atau air mata, karena semua itu merupakan bagian dari tuaian. Kalau kita menabur dengan air mata, itu membawa kita memiliki pengharapan ketika kita memandang kepada tuaian.

Kata seperti mimpi  bukan dejavu, bukan karena factor yang lain atau pengalaman maya. Kata seperti mimpi = sessuatu yang mustahil, tak terbayangkan tetapi terjadi dan dialami. Mereka dulu hidup dalam kemakmuran, bangsa yang ditakuti dan dihormati pada zaman Daud dan Salomo. Mereka pernah mendengar semua kejayaan bagi bangsa itu. Mereka kembali ke tanah mereka (for good) bukan dari liburan, tetapi benar-benar dari suatu pembungan, dimana jiwa mereka tertawan, hati mereka tertawan. Bukan sekedar pemulihan pemerintahan, derajat bangsa, Yerusalem. Tetapi suatu pemulihan bahwa Tuhan membebaskan jiwa mereka. Lebih kepada pemulihan internal, tatanan masyarakat. Dimana mereka bisa mengalami relasi dengan Tuhan. Sama dengan computer yang bermasalah, di restorasi secara internal. Maka bangsa ini mengalami restorasi secara internal hati dan jiwa manusia itu sendiri.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung


Konteks Mazmur ini adalah kembalinya bangsa Israel dari pembuangan di Babel ke tanah air mereka. Di dalam penderitaan, Tuhan datang menolong mereka. Meskipun mereka kembali karena izin raja Koresy, dari perspektif iman, pemazmur melihat bahwa sumber kelepasan itu bukan manusia, melainkan Tuhan.
Pengalaman ditolong Tuhan itu begitu ajaib sehingga bagi mereka seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dulu realita hidup mereka pahit, mereka hidup sebagai bangsa asing, sekarang mereka dipulihkan. Sekarang bahkan mereka bisa beribadah lagi di Yerusalem. Dulu kelepasan itu hanya diangan-angankan, sekarang menjadi kenyataan.
Meresponi kenyataan itu, dari mulut mereka meluap ucapan syukur. Hati mereka bersukacita. Bahkan syukur dan sukacita itu tidak bisa disembunyikan. Mereka tidak hanya bersyukur dalam hati, tetapi menyorakkannya. Ucapan syukur itu menjadi ungkapan seluruh umat. Pemazmur menggunakan istilah “mulut” dan “lidah” (ay.2) dalam bentuk kata benda tunggal dengan maksud mengatakan bahwa seluruh umat satu suara, satu hati, satu mulut dan lidah untuk memuji dan memuliakan Tuhan.
Dampak pekerjaan Tuhan bukan saja membawa sukacita ke dalam diri komunitas, tetapi membawa dampak ke luar komunitas, yaitu kemuliaan Allah nyata bagi bangsa lain yang tidak mengenal Dia. Bangsa-bangsa lain juga terheran-heran. Mereka juga mengakui bahwa Allah Israel pastilah sumber transformasi itu. Dengan kata lain, pekerjaan Tuhan menjadi alat kesaksian kepada bangsa-bangsa asing.
Lebih lanjut, ingatan akan pekerjaan Allah di masa lalu sekarang ini menjadi dasar untuk percaya dan berharap bahwa Allah akan intervensi lagi pada masa kini. Masa lalu menjadi dasar untuk mengharapkan masa depan. Sekarang, ketika hidup kembali menghadapi masalah, maka jalan terbaik adalah berdoa memohon pemulihan, agar Allah mengulang tindakan keselamatanNya.
Perjalanan hidup tidak otomatis selesai setelah kita mengalami karya keselamatan Allah. Masih ada realita yang harus dihadapi. Realita hidup itu tidak mudah. Kita melangkah dengan ragu, apakah usaha kita menghasilkan sesuatu. Ada bayang-bayang frustrasi. Benih kita sedikit. Benih itu untuk menopang hidup. Jika disimpan, ia tetap akan habis dikonsumsi. Tetapi kalau ditaburkan, ada dua kemungkinan: tumbuh dan menghasilkan buah atau mati terkubur, hilang semuanya. Di dalam kebimbangan itu, ada pernyataan peneguhan iman. (ay.5-6). Kalau Tuhan dapat diandalkan pada masa lalu, maka pada masa sekarang pun Ia dapat diandalkan.
Tentang pentingnya menabur itu, Charles Spurgeon mengatakan: “Sorrow is our sowing, rejoicing shall be our reaping. If there were no sowing in tears there would be no reaping in joy. If we were never captives we could never lead out captivity captive. Our mouth had never been filled with holy laughter if it had not been first filled with the bitterness of grief.” (Menabur itu dukacita, menuai itu sukacita. Jika tidak pernah menabur dengan berlinang air mata, tidak akan menuai dengan sukacita. … Mulut kita tidak akan pernah dipenuhi tawa suci jika tidak pernah dipenuhi dukacita yang pahit).
Kekuasaan Allah atas sejarah dipertegas oleh kuasaNya atas alam. Allah mengisi sungai-sungai yang kering kerontang di Negeb, dengan air berlimpah ketika musim dingin tiba. Tuhan sanggup mengubah keadaan kering kerontang menjadi berlimpah air. Tidak ada alasan bagi kita menganggap bahwa kesulitan sekarang akan berlangsung selamanya. Tuhan tidak melupakan umatNya. Filipi 1:6 “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
Selama kita bersandar pada Dia pada masa “menabur” meskipun diiringi linangan air mata, tak akan kekurangan alasan bagi kita untuk bersyukur dan bersukacita.

Perikop ini ditulis oleh Ezra, masih dalam pembuangan, dan mungkin juga dinyanyikan sebelum masuk ke Yerusalem. Ini merupakan suatu jeritan iman memohon pertolongan Tuhan dan meski sudah dijanjikan Raja Koresh untuk kembali, tetapi belum terjadi.

1. Ayat 1-2 --- suatu nubuatan, segala penderitaan akan berlalu
2. Ayat 3 --- suatu kesaksian, Tuhan telah melakukan perkara besar bagi kita
3. Ayat 4 --- doa, percaya terus tanpa henti
4. Ayat 5 --- ada keyakinan iman

Seseorang yang “menuai”: 1) harus berani membayar harga dengan tangisan dan air mata 2)dan memerlukan suatu inisiatif untuk berjalan maju, 3) investasi, juga harus berani menaruh benih di tanah yang gembur bukan di tanah berbatu, 4)harusmengandalkan, mengharapakan pada kemurahan Allah. Kita harus berani memiliki visi dan misi ilahi yang merupakan insight dari kita. Bangunlah kerangka hidup kita berdasarkan misi dan visi ilahi. Menanam benih kepada tiap-tiap orang (bandingkan Maz 112). Harus menanamkan kedewasaan jemaat (Ef.4), termasuk pertumbuhan kerohanian jemaat.

Ayat 5 dan 6, ada orang yang menabur, seorang petani dan benih. Kita sebagi benih juga sebagai penabur. Benih harus mati dan baru bisa menghasilkan. Tunas baru bisa menjadi satu tanaman. Hidup kita bagai benih, mati dalam Tuhan dan hidup bagi Tuhan. Sebagai seorang penabur, keluar dan menabur benih bagi dunia.

Kita mengenal beras merah dan beras putih. Beras merah ditanam di ladang, tempat yang lebih kecil. Beras putih di tanam di sawah, tempat yang luas. Meski beras merah di tanam di tempat yang kecil, tetapi lebih baik dari beras putih. Petani sangat menabur mengapa menangis? Karena saat menanam mereka ‘habis-habisan’, menggunakan seluruh hartanya untuk menabur, sehingga mereka menaruh harapan yang besar agar apa yang ditabur bertumbuh dan berbuah banyak.

Bandingkan Yeremia 25:10-11. Allah memulihkan hidup bangsa ini di hadapan Tuhan. Pembuangan di Babel ada ketandusan dan penderitaan, tetapi Tuhan membangun kembali hidup mereka, sehingga mulut mereka penuh dengan tawa. Tahun baru Imlek merupakan suatu perayaan, mereka bersukacita karena bisa melewati musim dingin.

3 kata kunci:
1. Miracle of life, bukan perbuatan biasa, tetapi ditambahkan oleh Allah. Selama kita bersandar pada Dia pada masa “menabur” meskipun diiringi linangan air mata, tak akan kekurangan alasan bagi kita untuk bersyukur dan bersukacita. bukan perbuatan biasa, tetapi ditambahkan oleh Allah.
2. Modification, dari benih menjadi satu berkas, pekerjaan diberkati, hati penuh sukacita, kesaksian melimpah ruah. Modification, dari benih menjadi satu berkas, pekerjaan diberkati, hati penuh sukacita, kesaksian melimpah ruah.
3. The living seed. Pentingnya benih yang hidup, benih yang hidup akan menghasilkan hasil yang berlimpah. Benih yang dipilih Tuhan akan menjadi berkat bagi banyak orang. The living seed. Pentingnya benih yang hidup, benih yang hidup akan menghasilkan hasil yang berlimpah. Benih yang dipilih Tuhan akan menjadi berkat bagi banyak orang.

Kapan Tuhan memulihkan Sion? Kapan mulut mereka penuh dengan sorak-sorai. Ayat 2b, pada saat Tuhan bertindak, semua itu terjadi. Kata ‘memulihkan’: mengembalikan mereka sebagai suatu bangsa, pengertian kedua, kondisi mereka saat dibawah ke tanah mereka, mereka melihat keadaan tanah mereka porak poranda, tetapi mereka tetap percaya, Tuhan membawa mereka kembali maka Tuhan akan memulihkan segalanya. Jika ada benih yang dimiliki, ditabur, tetapi jika Tuhan tidak mengijinkan, maka tidak akan ada keberhasilan.

Ada 15 lagu ziarah, 7, ( 7 di depan, 7 di belakang, ke 8 ziarah dari Salomo) tuhan sbg penuntun, pemimpin, yg memberkati umat-Nya.
Kembali ke Yerusalem bukan berarti selesai semuanya, ada perjuangan yang harus dilakukan. Lagu ziarah ini adalah lagu yang dinyanyikan oleh mereka yang kembali ke Yerusalem. Mereka berharap yang belum kembali berani membayar harga untuk berani kembali.
Ada tiga istilah:
1. Impian, bermimpi untuk kembali ke tanah Israel, karena mereka menderita dan hidup dalam kegelapan. Oleh karena, mereka bermimpi untuk kembali ke tanah perjanjian Tuhan.
2. Setelah dpt berkat bgm? Berlutut, berdoa, pulihkanlah kami bagi mereka yg belum kembali! V 5 tdk bisa berhenti disitu saja,ada satu janji!
3. Berjalan : Keep life on, tetap berjalan dlm keadaan apapun juga!Bersorak sorai dan sukacita.

Jumat, 05 Februari 2010

PERLUKAH SAMPAI KE LANGIT

PERLUKAH SAMPAI KE LANGIT
Kejadian 11:1-9

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Garut


Dosa umat di Sinear adalah keinginan untuk menguasai dunia dan nasib mereka terlepas dari Allah melalui kesatuan organisatoris, kuasa dan keberhasilan besar yang berpusatkan pada manusia. Tujuan ini berlandaskan kesombongan dan pemberontakan terhadap Allah. Allah membinasakan usaha mereka dengan mengacaukan dan memperbanyak bahasa sehingga mereka tidak dapat berkomunikasi satu dengan yang lain (ay. 7). Peristiwa ini menjelaskan keanekaragaman bangsa dan bahasa di dunia. Alasan Allah murka kepada manusia pada peristiwa menara babel adalah?
1. Manusia menyombongkan diri di hadapan Tuhan. Tujuan manusia membangun menara yang mencapai langit adalah untuk mencari nama. Ini menunjukkan kesombongan dan pemberontakan mereka terhadap Allah. Sebenarnya kita tidak perlu sombong dan tinggi hati, tetapi yang perlu kita lakukan adalah menyadari kelemahan diri sendiri dan datang bersandar kepada Tuhan, karena Tuhan menentang orang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati (1Ptr. 5:5).
2. Manusia meninggalkan Allah dan menyembah berhala. Pada saat itu manusia berbalik dari Allah kepada berhala, sihir dan nujum (Yes. 47:12). Kerohania manusia zaman itu digambarkan dalam Roma 1:21-28. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah dan menyembah kepada-Nya. Akibatnya Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas dengan melampiaskan hawa nafsu dosa yang memalukan (Rm. 1:24,26,28).

Mengapa manusia pada waktu itu membangun Menara Babel? Kejadian 11: 4 menjelaskan bahwa tindakan ini dimotivasi oleh dua hal. Pertama, supaya para pembangunnya mendapatkan nama atau kemasyuran dengan mendirikan sebuah bangunan yang prestisius. Tujuan mereka membangun menara yang tinggi ingin menyamai Allah.
Kedua, supaya manusia tidak terserak ke seluruh bumi. Mereka memiliki bahasa yang sama dan kebiasaan yang sama sehingga manusia pada waktu itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Segala sesuatu yang mereka rencanakan pasti berhasil tidak ada yang gagal (ayat 6). Oleh karena itu mereka tidak mau terserak ke seluruh bumi.
Mengapa Tuhan mengacaukan pembangunan Menara Babel? Manusia terlalu sombongan, manusia ingin menyamai Allah. sebab tujuan dalam membangun Menara Babel ini yang menyebabkan Allah murka. Karena keinginan mereka untuk bersatu bisa dipandang sebagai perlawanan terhadap kehendak Allah untuk menyebarkan manusia ke seluruh dunia. Tetapi ada alasan yang lebih serius daripada dua hal tersebut. Mereka bersatu dalam dosa, dalam Kej 11:3,4 jelas terlihat bahwa semua orang-orang itu mempunyai keinginan untuk berdosa. Tidak ada yang menentang usul itu, atau menegur orang-orang yang merencanakan rencana berdosa itu. Manusia bersepakat berbuat dosa untuk melawan dan menentang Allah.

Menara Babel mengingatkan kita akan ketidakpuasan manusia terhadap pemberian Tuhan. menara Babel juga mengingatkan kita tentang kecongkaan manusia yang ingin menyamai Tuhan. Kesombongan selalu membawa kegagalan dan kehancuran. Biarlah menara Babel mengingatkan kita untuk menempatkan Tuhan pada tempatnya dan menempatkan diri pada tempat yang semestinya

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta


Pelajaran cerita ini:
[a]. Allah mau hidup kita maksimal = menggunakan talenta dan kemampuan.
Allah bukan tak mau mereka berhasil, berusaha, berjuang (Mat. 25:21-23).

[b]. Allah memberi kesempatan kita berkarya seluas-luasnya, dengan tujuan mencapai rancangan damai sejahtera (Yer. 29:11).

[c]. Allah punya tujuan kekal dalam hidup kita, menjadi berkat bagi orang lain (I Tim. 4:12).

[a]. Dosa manusia.
Menara Babel ini bicara mengenai dosa. Dosanya di mana? Kalau orang pada zaman itu, orang memakai sumber daya, kekuatannya, apa salah?
Dosanya bukan pada perbuatannya, tapi motivasinya.
Apa motivasinya? Mari cari nama / reputasi (v 4).
Menara = migdal, bahasa Ibrani.
Migdal berhubungan dengan great = hebat.
Menara adalah simbol kekuatan / kebanggaan (Yesaya 20:35, 33:18) = tak disukai Allah.
Orang yang membangunnya, menjadi agung = mau menyamakan diri dengan Allah.

[b]. Sikap / tindakan Allah (v 5).
Allah turun untuk melihat. Ini anthropomorfis, yang menunjukkan Allah yang mengawasi. Tak ada 1 dosa yang luput dari Allah.
Pembangunan itu sudah berjalan sampai tahap tertentu = Allah membiarkan mereka sampai tahap tertentu.
Bagi Allah itu hal yang kecil (permulaan, embrio), dan belum ada dampaknya, tapi Allah sudah melihat itu = menunjukkan kekritisan / kewaspadaan terhadap apa yang dilihat.

[c]. Akibatnya (v 7).
Mengacaubalaukan bahasa mereka = metode Allah sangat mengejutkan. Mengapa Allah tidak merobohkan menaranya saja? Tapi, tindakan Allah masuk ke akar masalah, yaitu mengacaubalaukan bahasa.
Kalau dirobohkan menara, mereka bisa bangun lagi.

Pemimpin menara Babel adalah Nimrod, cucu Ham.
Nimrod = pelawan.
Babel = kacau balau.

Mengapa mendirikan menara Babel?
[a]. Mau cari nama (v 4).
Mereka mau mendapat pujian. Mereka mau menunjukkan, bahwa tanpa Tuhan, mereka bisa.
[b]. Tidak mau taat pada Tuhan. Allah memerintahkan untuk memenuhi bumi (Kej. 1:28), tapi mereka tidak mau berserak ke seluruh bumi (11:4).
[c]. Mereka tidak mau percaya janji Allah yang tidak akan menghukum dengan air bah (8:21-22; 9:13-17). Mereka membuat menara babel, supaya kalau ada air bah, mereka bisa selamat.

Nampaknya, rencana mereka akan berhasil, karena:
[a]. Seluruh bumi 1 logatnya = bahasa mereka sama (11:1).
[b]. Ada kesepakatan (11:3).
[c]. Ada kerja sama yang baik (11:6).
Tapi, mereka gagal, karena kesombongan mereka.
Tuhan tidak berkenan, dan akibatnya, ada kekacauan.

Manusia adalah mahluk yang bergerak, sehingga diwarnai oleh perpindahan. Manusia juga mencari terus untuk membahagiakan diri.
Sebelum manusia berdosa, manusia ingin melakukan kehendak Allah (1:28).
Setelah berdosa, manusia ingin mencari kesenangannya sendiri (11:4).
Tuhan memang memberi kuasa pada manusia.
Kuasa itu bersifat representatif, untuk menguasai bumi dan isinya.
Kuasa itu harus dijalankan berdasarkan kehendak Allah dan akan dipertanggungjawabkan pada Allah.
Apa yang bisa kita pelajari?
[a]. Manusia itu egosentris. Manusia ingin melepaskan diri dari penguasaan Tuhan. Itu hidup yang sangat berbahaya dan akan menghancurkan diri sendiri. Kalau kita melihat sejarah Tiongkok, mengapa banyak pertengkaran, karena ingin menjadi nomor 1.
[b]. Manusia merasa paling hebat (superioritas) = penyakit rohani yang mendatangkan malapetaka bagi umat manusia. Mis.: Hitler, mau sukunya menjadi yang paling hebat, sehingga membunuh 6 juta. Mao Tze Tung membunuh 10 juta dalam revolusi budaya. Killing Field di Kamboja, juga membunuh 2 juta orang.
[c]. Tuhan menghentikan menara Babel, untuk menunjukkan kasih-Nya pada manusia.

Jangan menjadikan bagian ini menjadi perdebatan teologis, yang penting isinya harus disampaikan.
Manusia
[a]. Manusia memiliki keinginan, hasrat, oleh karena basicnya adalah mau menjadi hebat.
[b]. Motivasi yang muncul dalam diri manusia adalah tidak memerlukan Allah.
[c]. Manusia melawan Allah. Kebersatuan itu baik, tapi kalau untuk melawan Allah, Allah akan menghancurkan.

Allah

[a]. Apakah Allah sirik kalau manusia hebat? Allah tidak takut, gentar, atau iri, karena Allah tahu keterbatasan manusia. Allah juga dengan sangat mudah menghancurkan manusia. Ditekuk sedikit saja sarafnya, maka manusia pian sui (mati separuh). Manusia memiliki kehebatan, tapi juga keterbatasan yang fatal.
[b]. Allah tahu kecenderungan hati manusia adalah jahat (6:5).
[c]. Allah intervensi dalam hidup manusia, bukan kepada karya manusia, tapi pada hidupnya itu sendiri.

Maka, kehebatan manusia itu harus ditaklukkan kepada Allah. Agar prestasi yang dipercayakan Tuhan padanya, dapat memuliakan Tuhan.

[a]. Seberapapun hebat manusia, masih sangat jauh dibanding Tuhan. Maka, Tuhan masih “Turun” (v 5).
[b]. Tuhan bertindak pada saat yang paling menyakitkan, untuk merepresentasikan sakit hati-Nya Tuhan. Tuhan tidak langsung menghukum, tapi menunggu saat yang paling menyakitkan. Itupun sebetulnya tidak bisa menggambarkan sakit hati Tuhan yang sangat sakit. Tuhan mau manusia ”Mencicipi” sakit hati-Nya (“Pilu,” 6:6).
[c]. Kehendak Tuhan tak dimengerti manusia, maka sekarang Tuhan mengacaukan bahasa mereka, supaya mereka merasakan bagaimana tak dimengerti itu.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung


Negeri Babel memiliki peradaban dan ambisi yang tinggi, dan mereka membangun suatu bangunan yang dianggap sangat tinggi (zigorat), sebagai simbul pencapaian budaya manusia, mereka berbahasa satu dan menjadi pengakuan bersama. Mereka berambisi mencari nama besar yang seharusnya menjadi hak prerogatif Allah. Perhatikan kata ’mari kita mengacaukan’, dalam bahasa Ibrani: manusia menyatukan tetapi Tuhan mengacaukan. Hal ini merupakan simbol kegagalan manusia yang ingin lepas dari Allah, yang juga merupakan suatu kenaifan. Dalam sejarah peradaban, setiap budaya atau peradaban memiliki kenaifan tersendiri. (contoh: Petronas di Malaysia; Gedung 101 di Taiwan; Dubai). Kenaifan sampai ke langit, tetapi manusia tidak tahu langit itu sebenarnya ada dimana, dan ini mnejadi kecongkakan bangsa Babel.

Menara adalah simbol keberhasilan sebuah peradaban. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia cenderung menggeser kedaulatan Allah yang adalah pusat segala sesuatu menjadi manusia adalah pusat segala sesuatu. Menara Babel dirikan untuk mempersatukan komunitas pada zaman itu, tetapi komunitas yang meninggikan dirinya sendiri bukan untuk memuliakan Allah. Allah tidak pernah berkenan atas apa yang dipandang baik dalam cara pandang manusia yang sudah tercemar oleh dosa.Melihat konteks Indonesia dengan GNP yang rendah, masalah social-ekonomi yang tidak kunjung selesai sampai hari ini apa yang menjadi prioritas Gereja Indonesia saat ini? Kondisi kita bukanlah sama dengan masyarakat Los Angeles di Amerika, juga berbeda dengan Seoul di Korea Selatan. Perlukah Gereja di Indonesia membangun ”gedung” yang bersaing dengan Crystal Catherdal dan Yoido Hall yang dibangun oleh Yonggi Cho? Mari kita mencari pimpinan dan kehendak Allah bagaimana GerejaNya harus dibangun dalam konteks Indonesia? Pesan utama bagian ini, sebuah introspeksi diri sebagai sebuah komunitas Kristiani apakah yang menjadi definisi sebuah ”keberhasilan”, gedung?, popularitas? Otoritas? Mari kita kembali kepada prinsip Roma 11:36, ” Sabab saniskara oge Mantenna anu nyiptakeun. Sakabehna asal ti Mantenna, keur Mantenna. Sanggakeun puji ka Allah, salalanggengna! Amin”. (bdk Theocentris-anthropocentris, altruis-egocentris).

Kebudayaan merupakan wadah bagi kehidupan manusia, sedang ekonomi merupakan penggeraknya dan agama merupakan mahkotanya. Dalam kebudayaan bangsa-bangsa di dunia, tidak banyak bangsa yang bisa membangun ketiganya dengan megah dan besar. Bangsa Babel salah satu yang bisa membangun Zigurat atau piramid selain di Mesir dan Maya. Jadi mereka merupakan bangsa yang maju, kaya dan agamis. Pertanyaannya adalah untuk apa dan siapa semua itu dibangun?

Haruskah sampai ke langit? Manusia cenderung membangun satu menara untuk menonjolkan kekuatan dan kebanggaan. Dosa dari orang Babel adalah kesombongan. Mereka kumpul di satu tempat padahal Tuhan memerintahkan untuk memenuhi bumi. Menara Babel memiliki tangga sampai ke puncak yang berbentuk Zigurat, dimana di kamar teratas adalah tempat untuk menyambut dewa. Dengan membangun ini berarti memperlakukan Tuhan seperti manusia. Kenyataannya Babel adalah:
1. Suatu daerah dimana dalam sejarah manusia pertama kali Tuhan tidak diakui sebagai pencipta dan penguasa
2. Manusia pertama kali mengangkat raja
3. Pertama kali manusia membangun rumah dewa
4. Pertama kali astrologi dikembangkan untuk mengetahui rejeki dan nasib manusia

Martin Buber: I and though mencoba membandingkan hubungan pribadi. I though: aku dengan Allah. Dengan hubungan bukan pribadi. I it: aku dengan sesuatu. Suatu kehidupan yang ideal adalah suatu hubungan yang berlangsung dalam ikatan. I though dan bukan I it, karena ketika hubungan I though itu tidak ada lagi, maka yang akan terjadi adalah Cheos (kekacauan). Yang puncaknya samapi ke langit adalah keponggahan manusia. Manusia menginginkan keamanan, kenyamanan yang tak terganggu gugat, yang tak tersaingi oleh apapun dan siapapun. Namun, ambisi keinginan itu merupakan suatu pelanggaran terhadap batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Kejadian 11 membawa kita untuk merenungkan makna komitmen manusia, kebolehan manusia dan kebanggaan manusia dari rancangan Allah bagi kesejahteraan manusia. Dan penghakiman Allah terhadap satu usaha manusia utnuk melintasi batas antara apa yang merupakan wilayah insani dan apa yang merupakan wilayah ilahi.
1. Ambisi yang memberontak terhadap Allah
2. Ambisi manusia dan kecongkakkan tekhnologi
3. Ambisi yang menghilangkan persekutuan dengan Allah dan kebersamaan dengan sesama

Manusia memiliki suatu tujuan tetapi gagal, karena Allah menggagalkan mereka: mereka lupa akan Allah, motivasi yang salah, tidak melibatkan Allah di dalmnya. Orientasi pada diri sendiri bukan pada Allah. Kegagalan akan menghampiri jika tidak melibatkan Allah.

”marilah” membangun, membuat bata, mencari nama, manusia memakai fasilitas dari Allah untuk nama sendiri bukan untuk Allah, di dalam ladang Allah. Mencari nama adalah pengkhianatan kepada Allah. Dari kehidupan Israel dapat dilihat bagaimana manusia tidak hormat kepada Allah dan mengkhianati Allah. Pertanyaannya: Apa yang harus kita perbuat bagi Allah.

Kesuksesan menjadi milik mereka pada jaman itu:
1. Memiliki alat komunikasi yang satu --- satu bahasa
2. Memiliki kesatuan hati
3. Memiliki ambisi dan cita-cita yang tinggi
4. Perencanaan yang baik
5. Ketrampilan untuk mencapainya
6. Properti yang baik, Sinear, tanah yang subur
7. Ada kekuatan Agama yang menarik hati untuk bekerja bersama
Perlukah sampai ke langit? Untuk apa? Untuk nama sendiri atau untuk Allah?

Manusia pada awalnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan, tetapi arahnya hanya untuk melakukan kejahatan. Untuk membuktikan eksistensi manusia, seringkali lupa untuk apa ada dalam dunia ini. Seharusnya pencapaian yang terbesar adalah tetap setia kepada Allah, tanpa harus membangun suatu yang tinggi.

Tujuan manusia:
1. Uang
2. Popularitas
3. Kekuasaan
4. Prestasi
Ayat 6 --- apakah itu berkat dari Allah?

Manusia diciptakan dan diberikan kuat kuasa yang tidak jauh berbeda dengan Allah, tetapi karena dosa, orientasinya bukan pada Allah. Karena jauh dari Allah, maka hanya Allah yang dapat mematahkannya.

Mengapa Tuhan turun melihat? Sebenarnya apa yang dibuat oleh manusia sangat kecil sehingga Tuhan harus turun melihat. Tidak ada tujuan yang sampai ke langit, kalau mau mencapai kelangit mengapa tidak bangun di gunung?

Piramida atau menara ini adalah suatu simbol penentangan kepada Allah. Lucifer jatuh karena menentang Allah, dan ini menjadi penyebab utama manusia pertama jatuh dalam dosa. Dalam gereja, masalah pencapaian target, akhirnya pengerja gereja mencari cara-cara untuk mencapai target tersebut. Manusia seharusnya tahu diri, mengenal dirinya sendiri. Mempunyai ambisi memuliakan Tuhan. Bahasa yang mempersatukan kita yaitu firman Tuhan.

Keturunan Sem, Ham dan Yafet tersebar kemana-mana, dan Nimrod adalah keturunan dari Ham, dan dia yang beinisiatif membangun Babel. Negara ini dihancurkan karena anak-anak Tuhan terkungkung disini. Motivasinya Egosentris atau Theosentris. Di atas manusia ada manusia, di atas langit ada langit. Persatuan dan kesatuan mempunyai unsur yang penting dan indah, jikalau bisa satu bangsa, bahasa, satu negara adalah baik, seperti Indonesia, tetapi jika tidak terkoodinir, maka akan menjadi terpecah-pecah. Babel, mereka merasa sengsara dan tidak mau menjadi pengembara lagi, mereka tidak mau terpisah-pisah, mereka mengalami kesulitan dalam bahasa, mereka tercecer dimana-mana dan mereka menginginkan kebersamaan dan tujuan yang sama. Penyatuan dan kesatuan dan dipersatukan adalah baik dan indah. Budaya dan urbanisasi hanya membawa manusia semakin tinggi tetapi tidak mendalam. Contoh: tingginya pohon sama dengan dalamnya akar, satu melebar yang lainnya mendalam. Yang mendalam tidak memakan tempat dan mengganggu yang lain.
Bagaimana belajar menjadi rendah hati:
1. Rendah hati bukan rendah diri 谦卑
2. Mengalah谦让
3. Menghargai谦恭
4. Ramah谦顺
5. Tenang dan damai谦和

Sebagai perbandingan:
1. Materi --- bandingkan dengan orang miskin
2. Moralitas --- bandingkan dengan yang luhur