Jumat, 26 Maret 2010

SANG KUDUS DARI ALLAH

Sang Kudus dari Allah

Yohanes 6:66-69

Pembahasan Firman Tuhan

Hamba Tuhan Pooling Garut

Ada peribahasa yang berbunyi, “Tak kenal maka tak sayang,” artinya seseorang bisa menyayangi orang lain, karena didahului oleh perkenalan. Hal yang sama terjadi dalam pengenalan Petrus akan Yesus. Meskipun banyak murid mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Yesus (Yoh. 6:66), namun Petrus tetap setia kepada-Nya. Hal ini terjadi karena ia mengenal siapa Yesus, melalui pengakuannya bahwa Ia adalah yang kudus dari Allah (Yoh. 6:69). Paulus berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya” (2Tim. 1:12). Perikop pada Yohanes 6:67-69 ini menyingkapkan pribadi Yesus yang adalah Allah yang kudus yang mengasihi manusia berdosa. Ke-Allahan dan kekudusan-Nya selain menghancurkan dosa, juga memilih dan menyelamatkan kita supaya menjadi umat kemuliaan-Nya. Apakah makna Sang Kudus dari Allah?

1. Yesus adalah representatif Allah sendiri. Ia adalah Allah Sang pencipta yang penuh kuasa dan memiliki otoritas untuk memberikan hidup yang kekal kepada manusia. Dalam PL, Yang kudus dari Allah menunjuk kepada Yahweh sendiri (Yes. 40:25; 43:15; Ibr. 1:12; 3:3). Di sini ke-12 murid-Nya membuat pengakuan iman yang singkat dan jelas seperti Marta (Yoh. 11:27), dan Thomas (Yoh. 20:28) bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal ini sesuai dengan tujuan injil Yohanes, “Supaya mereka percaya bahwa Yesus adalah Tuhan” (Yoh. 20:31). Dalam Yohanes 1:1-2,14, menegaskan bahwa Yesus adalah benar-benar Allah yang berinkarnasi menjadi manusia dan mati di salib untuk menebus manusia dari segala dosa mereka (Yoh. 1:29). Ke-Allahan Yesus juga dibuktikan dari segala mukjizat yang telah Ia lakukan. Ia menyembuhkan anak pegawai istana (Yoh. 4:46-54). Ia menyembuhkan seorang lumpuh di kolam Betesda (Yoh. 5:1-18). Ia memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan (Yoh. 6:1-14). Jika kita mengakui Yesus adalah Tuhan, apakah kita menghormati dan memuliakan-Nya? Apakah kita hidup takut akan Dia melalui sikap hidup dalam kekudusan dan kebenaran?

2. Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi dan menyelamatkan orang berdosa. Karena Yesus adalah Allah, maka ia berkuasa menghakimi orang berdosa, sebab penghakiman itu sudah diberikan Allah Bapa kepada-Nya (Yoh. 5:22-23). Ia berkuasa memberikan hidup kekal bagi mereka yang beriman kepada-Nya (6:40,47). Yesus berkata, “Hendaklah kamu percaya kepada Dia yang diutas Allah” (6:29). Lalu di ayat 35, dengan tegas Yesus menyatakan bahwa dirinya adalah Roti Hidup. Hal ini memberitahukan kita: Yesus adalah makanan yang memelihara kehidupan rohani, siapa yang makan dagingNya dan minum darahNya, beroleh hidup kekal (Yoh. 6:35,51-54), artinya, siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan lapar dan haus lagi secara rohani, karena Roh Kudus mendiami orang percaya (6:40). Hasilnya adalah, (1) Mereka tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (6:39-40); (2) Mereka akan dibangkitkan pada akhir zaman (6:39,40; bdk. 1Tes. 4:15-17; 1Kor. 15:51-53). Jadi pengenalan yang benar akan siapa Yesus, itu hal yang penting namun yang terpenting, apakah saudara sendiri sudah mengalami perjumpaan pribadi dengan Dia melalui iman dan pertobatan?

Murid-murid Yesus tidak siap menerima perkataan Yesus yang keras. Hampir semua dari mereka tertegur dan meninggalkan Yesus. Sebab Yesus tahu, ada diantara mereka yang akan mengkianatiNya. Ia menegaskan kepada murid-muridNya kalau Ia berasal dari sorga. Yesus ingin mengajarkan kepada mereka bahwa keselamatan dari Allah itu adalah anugerah Allah, bukan karena kemampuan manusia.
Yesus memanggil kepada semua orang agar mereka percaya dan mengenal Dia. Tetapi sebagian besar diantara mereka pergi meninggalkan Yesus kecuali 12 murid. Sehingga Yesus bertanya kepada mereka, “apakah kamu tidak pergi juga? Pertanyaan ini sebagai pertanyaan yang penting untuk murid-murid bahkan hidup manusia. Pengenalan seseorang akan Tuhan serta imannya akan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Petrus memberikan pengakuan (kredo iman) yang luar biasa, Tuhan kepada siapa kami harus pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal, dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah. ini adalah satu pengakuan iman yang jelas tentang Yesus, bahwa Yesus Yang Kudus dari Allah. sehingga mereka memilih tidak meninggalkan Yesus seperti murid-murid yang lain.

Meskipun murid-murid Tuhan Yesus sampai saat terakhir belum mengenal secara utuh dan sempurna siapa pribadi Yesus, tetapi dalam bagian ini kita melihat bahwa karunia Allah dan belas kasihanNya mencelikkan mata rohani mereka untuk melihat Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah. Ini boleh dikatan sebagai langkah awal bagi mereka untuk lebih mengenal Yesus dengan cara yang benar. Pengenalan yang benar terhadap Yesus membuat murid-murid tetap mengikut Dia, meskipun sempat dalam hidup mereka meninggalkan Yesus saat penyaliban, tetapi kemurahan Allah meneguhkan iman mereka, melayakkan mereka untuk melayani kembali bahkan menjadi martir.
Di dalam “keterbatasan” mengenal Yesus ternyata Petrus melihat bahwa perkataan, pengajaran dan kehidupanNya merupakan Firman yang hidup dan kekal sehingga dia percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Allahnya.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta


Yesus berbicara keras kepada orang-orang Yahudi yang selama ini mengikuti Dia, ada 2 hal yang menjadi dasar : ada murid yang ikut Yesus tetapi akan berkhianat (6:64), dan ada murid yang ikut Yesus dengan ragu & mempunyai motivasi yang tidak benar (6:26).
Yesus menyampaikan 2 hal penting tentang mengikut Yesus, yaitu : siapa yang percaya mempunyai hidup kekal disebut sebagai orang pilihan Allah, yang tetap setia mengikut Yesus walau bagaimana susah & menderitanya; tetapi juga ada orang mau ikut Yesus dengan motivasi yang salah dan tidak akan bertahan untuk terus ikut Yesus dalam susah & derita.
Yesus mengatakan bahwa orang-orang yang mengikut Dia diberikan Allah (6:39) dan harus dijagaNya & akan bangkit bersamaNya pada akhir zaman. Yesus juga memberi petunjuk bahwa ada di antara murid yang sesungguhnya tidak percaya kepadaNya karena memang itu keputusan ybs. (6:64)
Yesus ada bersama-sama dengan 12 muridNya ditengah situasi banyak diantara orang-orang yang mengikuti dengan setia mulai mengundurkan diri (6:66) dan Yudas yang akan mengkhianatiNya, Dia bertanya kepada mereka “Apakah kamu tidak mau pergi juga ?” (6:67)
Dalam konteks inilah Simon Petrus menjawab Yesus ”Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi ? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (6:68-69).
Mengapa Simon Petrus mengatakan demikian ?
I. Karena perkataan-perkataan Yesus didasarkan pada hikmat Allah, bukan hikmat dunia. Yoh 4:29  4:17-18; 14:29-31
II. Kata perkataan-perkataan Yesus disertai kuasa dan kebenaran. Yoh 7:46; 8:38; Lukas 4:32; Mrk 1:27
III. Kata perkataan-perkataan Yesus dihidupi secara nyata dalam seluruh kehidupanNya. Yoh 16:4; 18:38b

Bagian ini menekankan sifat Kristus. Kristus disebut kudus. Tidak ada yang disebut kudus, selain Allah. Malaikat dan manusia disebut kudus dalam relasinya yang benar dengan Tuhan, yaitu saat mereka mentaati kebenaran Tuhan / Firman Tuhan.
Malaikat tidak kudus/berdosa, karena meninggalkan kedudukannya (Yudas 6).
Jadi, Yesus disebut kudus, sebagai Anak Allah, memiliki kuasa, memberi hidup dan menguduskan setiap orang yang taat dan percaya pada-Nya.
Kudus adalah saat seseorang dipulihkan kembali hubungannya dengan Tuhan. Tuhan menguduskan orang percaya dengan Firman-Nya (Yoh. 17:17). Dan di dalam Firman itu juga, manusia diberi hidup dan kemampuan untuk berhubungan benar dengan Tuhan. Sekali lagi diingatkan bahwa para baptisan baru Minggu ini, bahwa mereka harus mengetahui kebenaran ini, agar senantiasa mereka hidup dalam kekudusan.
Kekudusan adalah kekuatan kesaksian orang percaya dalam dunia untuk menyatakan kebaikan Tuhan = kodrat ilahi (II Pet. 1:4).
Orang yang tak percaya Firman-Nya adalah orang yang berdosa.

Kalimat ini disebutkan 2x dalam Injil, yaitu yang pertama oleh Petrus, salah satu murid kesayangan Yesus, yang pernah disebut “Iblis” (Yoh. 6:69, Mat. 16:23), dan yang satu lagi oleh Iblis (Mk. 1:23-24).
Padahal di sini ada teguran yang sangat keras (v 60). Dalam 6 mujizat yang lain, dalam injil Yohanes, tak ada teguran.
Teguran-Nya keras = skleros, Gk., = hard, harsh (kasar), rough, stiff, stern (jahat, tegang), violent, offensible, intolerable.
Yesus sendiri mengakui bahwa perkataan-Nya “Menggoncangkan” = offend / scandalize / cause you to stumble (KJV); tersinggung (BIS), v 61.
Tapi, tak pernah dikatakan “Severe” (= bengis / sangat sekali); “Cruel” (= kejam / bengis / lalim).
4x Jesus menyebut ular beludak (3x dalam injil Matthew+1x dalam injil Luke).
31x Jesus menyebut celakalah (woe, 14x dalam injil Matthew+2x dalam injil Mark+15x dalam injil Lukas).
5x Jesus menyebut buta.
5x Jesus menyebut bodoh (fool, 2x dalam injil Matthew+3x dalam injil Luke).
18x Jesus menyebut munafik (14x dalam injil Matthew+1x dalam injil Mark+3x dalam injil Luke).
5x Jesus menyebut anjing.

Bukan hanya kata-kata-Nya, tapi perbuatan-Nya juga sering menyinggung orang.
2 kejadian di bawah ini dicatat dalam 3 injil, Matthew, Mark, and Luke.
>> Waktu memetik bulir gandum pada hari sabat (Matt. 12:1-8).
>> Waktu menyembuhkan orang mati sebelah tangan (stroke?) pada hari sabat (Matt. 12:10-14).

2 kejadian di bawah ini hanya dicatat dalam Luke.
>> Waktu menyembuhkan seorang wanita yang kerasukan setan 18 tahun sehingga bungkuk (Lk. 13:11-14).
>> Waktu menyembuhkan seorang yang busung air (= dropsy, Lk. 14:2-4).

2 kejadian di bawah ini hanya dicatat dalam John.
>> Waktu menyembuhkan orang lumpuh 38 tahun di kolam Bethesda (Jn. 5:1-9).
>> Waktu menyembuhkan orang buta dengan mengaduk ludah+tanah (Jn. 9:14).

Tapi, selain Petrus dan Iblis, kepala pasukan menyebut-Nya, “Sungguh, Ia adalah Anak Allah” (Matt. 27:54).

Thomas, si peragu, menyebut-Nya, “Ya Tuhanku dan Allahku” (Jn. 20:28).

Paulus menyebut-Nya, “Tuhan kita Yesus Kristus” (I Thess. 1:3).

Yesus sendiri menyebut diri dengan 7 ego eimi.
4 diantaranya ada kata “Hidup”  Aku adalah air hidup (ch. 4); Aku adalah roti hidup (ch. 6); Akulah kebangkitan dan hidup (ch. 11); Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup (ch. 14).
3 lainnya  Akulah gembala yang baik dan pintu (ch. 10); Akulah pokok anggur yang benar (ch. 15).

Pengakuan Yustinus Martir (150 M), “Yesus adalah sabda Allah yang pertama, dan Ia adalah Allah.”
Pengakuan Irenaeus (185 M), “Yesus adalah Tuhan dan Allah, dan Juruselamat dan Raja.”

Puncaknya, Allah menyebut-Nya sebagai yang “Kukasihi” (Matt. 3:17); “Berkenan,” (Matt. 17:5); “Ku pilih” (Matt. 12:18).
Kukasihi  3x dalam Matthew.
Berkenan  3x dalam Matthew.

Hujatan Dan Brown, Da Vinci Code, “Yesus adalah Allah sejak pengakuan Constantine, pd sidang Nicea, 325.”
Brown berkata, “Until that moment, Jesus was viewed by his followers as a mortal prophet, a great and powerful man, but a man nonetheless.”

1. He is cursed in order to bear all of our sins and everything else.
If he is called “The sinner,” he is in essence not sin.
He is called the sinner, because he bears our sin (Heb. 9:28).

Bukan hanya menanggung dosa (spiritual), tapi:
[a]. Mental / emotional / psychological.
Griefs and sorrows (Isa. 53:4).
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”

KJV, NAS  Surely he hath borne our griefs, and carried our sorrows: yet we did esteem him stricken, smitten of God, and afflicted.

NIV  Surely he took up our infirmities and carried our sorrows, yet we considered him stricken by God, smitten by him, and afflicted.

[b]. Physical.
> Kelemahan-kelemahan kita (infirmities, Matt. 8:17).
> Penyakit-penyakit kita (disease / sicknesses, Matt. 8:17).
> Penderitaan-penderitaan (sufferings, Matt. 16:21).

[c]. Spiritual.
> Pelanggaranku (transgressions, Ps. 39:8 / trespasses, II Cor. 5:19).
> Kesalahanku (iniquities, Ps. 51:9).
> Dosa-dosa kita (Heb. 9:28).
> Bantahan (gainsaying / contradiction / opposition / rebellion, Heb. 12:3).

Banyak ya istilahnya = mengimplikasikan banyaknya dosa kita.

2. He is cursed in order that we may be freed / saved (Heb. 9:28).

3. He is cursed in order that we may live for him in truth (I Pet. 2:24).

Kekudusan Allah adalah bagian dari keilahian Yesus. Tak ada orang yang tidak berdosa. Pengajaran ini sangat penting, karena bila ajaran ini benar, maka Kekristenan menjadi otoritatif. Bila tidak, maka Kristen sama dengan agama-agama yang lain.
Yesus Kudus karena:
1. Yesus mengatakan diri sebagai Tuhan (Jn. 8:58).
2. Yesus mengatakan diri sebagai Mesias = yang diurapi/dijanjikan/menggenapi janji Allah. Waktu ditanya oleh imam besar, ”Apakah Engkau Mesias.” Yesus menjawab, ”Akulah Dia” (Mk. 14:61-62).
3. Yesus menerima penyembahan (Mt. 8:2; Jn. 5:38).
4. Perkataan Yesus sangat berotoritas (Mt. 24:35; 28:18). Yesus mengusir setan juga hanya dengan 1 kata, ”Keluar.”
5. Yesus memerintah agar kita berdoa dalam nama-Nya.

Banyak orang mengikut Yesus karena melihat mujizat dan makan roti. Teguran Yesus membuat mereka undur. Yesus juga menyuruh murid-Nya untuk pergi, tapi mereka tak mau pergi, karena mereka tahu, bahwa Yesus Yang Kudus dari Allah, kecuali Yudas, karena tak percaya (Jn. 64, 71).
Yesus bertanya, ”Apakah kamu tak mau pergi juga?” Supaya mereka sungguh-sungguh mempertimbangkan ikut Yesus, karena:
1. Ikut Yesus tidak gampang.
[a]. Serigala mempunyai liang, Mt. 8:20; Lk. 9:58).
[b]. Harus pikul salib (Lk. 14:27).

2. Ikut Yesus harus suka rela.
Jangan ikut-ikutan, tapi kesadaran sendiri, bukan terpaksa (Lk. 9:62).
Waktu memilih harus suka rela, setelah memilih, harus/wajib/tak main-main.

3. Ikut Yesus harus mengenal siapa Dia sesungguhnya.
Murid-murid tak meninggalkan Yesus karena mereka tahu siapa yang mereka percaya, yaitu Yang Kudus dari Allah.
Ia adalah mesias juru selamat dunia yang memiliki hidup kekal.

Orang banyak mencari Yesus dengan motivasi yang berlainan. Yesus menegur mereka dengan sangat keras. Kalau kita melihat perikop sebelumnya, Yesus bicara mengenai diri sebagai Roti Hidup dari Surga yang memberi hidup kekal. Tapi, banyak murid-Nya justru mengundurkan diri setelah mendengar kata Yesus. Tapi, Petrus justru keluar 1 statement yang luar biasa, ”Engkau adalah yang kudus dari Allah.” Yesus memilih, menguduskan yang percaya. Banyak orang ikut Yesus hanya mau cari selamat, tapi tak mau ikut proses pengudusan Allah selama hidup kita.
1. Pengudusan itu adalah pekerjaan Roh Kudus yang membebaskan kita dari dosa (Rom. 6:1-11).
2. Pengudusan itu adalah kehendak Allah dari sejak zaman bangsa Israel. Karena Israel dikuduskan / dipisahkan dari bangsa-bangsa kafir.
3. Pengudusan itu adalah kehendak Allah dalam zaman PB (Ibr. 12:14).

Bagaimana hidup dalam kudus?
1. Memisahkan diri dari sistim dunia yang bejat. Tidak kompromi. Membenci dosa/kejahatan.
2. Bertekun dalam keselamatan/iman, mau hidup bagi Allah.

Murid-murid berkata bahwa perkataan ini keras.
Menurut Petrus, ”Perkataan-Mu adalah hidup yang kekal.”
Menurut Yesus, ”Perkataanku adalah Roh dan hidup.”

Murid-murid yang berkata keras, meninggalkan Yesus.
Petrus sempat menyangkal Yesus.
Yesus tidak berubah.

KUDUS =
1. Tidak terpengaruh apa kata orang / respon orang dan dampaknya.
2. Yesus tahu hati setiap orang. Manusia suka menilai dari diri sendiri. Dan Yesus juga tak menghakimi berdasarkan perbuatan saja, tapi hati juga. Hati yang utama.
3. Kalau bukan karunia Bapa, tak ada seorangpun bisa datang pada Yesus, walaupun dia mau (v 70). Kita dipilih berdasarkan karunia. Yudas dapat karunia, dipilih, tapi tak sungguh-sungguh menerimanya.
Orang boleh tahu siapa Yesus. Tapi, orang bisa percaya adalah keputusan-Nya.

Sebelum dipilih, orang tak tahu apa itu Kekristenan. Ia bisa mengatakan, ”Semua agama sama.” Akhirnya, ia bisa kompromi. Tapi, kalau sudah mau jadi Kristen, maka harus serius, wajib, pikul salib, menjalani proses kekudusan, bayar harga.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung


Dalam Injil Yohanes, kata iman dalam bentuk kata benda pistis tidak pernah muncul. Sebaliknya, kata percaya dalam bentuk kata kerja pisteuo muncul hampir seratus kali. Dan kata percaya/pisteuo ini terdapat dalam pasal 1-12.
Mengapa Yohanes tidak pernah memakai kata benda iman/pistis dan selalu memakai kata kerja percaya/pisteuo? Karena Yohanes menginginkan tindakan/sikap percaya lebih daripada isinya. Percaya di sini lebih ditekankan sebagai respon manusia terhadap tawaran kasih Allah dan anugerah keselamatan-Nya. Maka kata pisteuo seringkali diikuti dengan kata eis, yang artinya kepercayaan itu ditujukan kepada suatu oknum atau person. Artinya pada waktu kita percaya pada seseorang, kita sepertinya masuk pada orang itu dan berserah sepenuhnya pada pribadi orang itu (eis artinya into atau masuk ke dalam ). Percaya dalam Injil Yohanes selalu di hubungkan dengan person Kristus, yang kemudian memimpin orang percaya itu kepada Allah (iman – Kristus – Allah).
Kata kedua yang menjadi penekanan dalam Injil Yohanes adalah mengaku. Dalam surat Yohanes dikatakan,”Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah” (1 Yoh. 4:15). Konsep ini sama dengan tulisan Rasul Paulus yang mengatakan: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10:9). Kata mengaku di sini penekananya sama dengan percaya.
Beberapa literatur mengatakan, Petrus mengaku Tuhan Yesus sebagai “Yang Kudus dari Allah”, dan pengakuan itu sesungguhnya sama dengan mengaku “Yesus sebagai Kristus, Anak Allah yang Hidup”. Dalam seluruh PB, sebutan “Yang Kudus dari Allah” hanya dipakai sebanyak 3 kali, yaitu dalam Yohanes 6:69; Markus 1:24; Lukas 4:34. Ungkapan ini mirip dengan sebutan “Yang Kudus dari Israel”, suatu sebutan mengenai Allah dalam PL.
Pengakuan Petrus ini mirip dengan pengakuannya yang dicatat di dalam Injil Sinoptik (Mat. 16:13-20; Mrk. 8:27-30; Luk. 9:18-21). Dilihat dari konteksnya, pengakuan Petrus dalam Injil Sinoptik adalah dalam rangka Yesus bertanya tentang pribadi-Nya, “Siapakah Aku ini?”. Sedangkan yang dicatat dalam Injil Yohanes berkenaan dengan masalah mengikut Tuhan. Secara lokasi pengakuan yang di Sinoptik terjadi di Kaisarea Filipi, sedang yang di Injil Yohanes di Kapernaum. Jadi Petrus pernah dua kali memberikan pengakuan imannya tentang Kristus.
Kata “bahwa” dalam pengakuan Petrus di atas dalam bahasa Yunani adalah hoti, yang berarti kalimat ini berbicara tentang the content of Peter’s belief. Kata pisteuo apabila diikuti dengan kata hoti, seringkali berbicara mengenai the content of Christian belief. Petrus percaya bahwa “Yesus adalah yang Kudus dari Allah”. Khususnya dalam kisah ini, Petrus sangat terkesan dengan perkataan Tuhan Yesus yang sebelumnya tatkala Ia berbicara mengenai Roti Hidup.
Jadi, setelah mengikut Yesus sekian lama, dan setelah mengamati pekerjaan dan ajaran Yesus, kini Petrus sampai pada satu kesimpulan bahwa perkataan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. Dengan perkataan ini, Petrus yakin dan berketetapan untuk tidak mengikuti orang lain selain Yesus, sebab Petrus telah pisteuo/percaya dan ginosko/tahu (kata ginosko sesungguhnya lebih tepat diartikan mengenal), bahwa “Yesus adalah Yang Kudus dari Allah”.
Perlu kita perhatikan bahwa kata pisteuo dan ginosko keduanya ditulis dalam bentuk perfect tense, yang artinya Petrus telah percaya dan seterusnya tetap percaya bahwa “Yesus adalah Yang Kudus dari Allah” Maka di sinilah Petrus bisa mengatakan, “Tuhan kepada siapa kami akan pergi?”

Markus 1 : 24 setan pun tahu tentang Kristus yang Maha Kudus. Tetapi gelar Maha Kudus ini hanya diberikan pada Kristus. Petrus sangat peka akan hal itu. Yesus ingin menjelaskan bahwa Yang Maha Kudus ini tidak pernah bergantung pada manusia. John Calvin : kepergian hanya membawa kematian. Ada 3 jenis orang : (1) orang yang memanfaatkan Yesus, untuk mendapatkan makan. (2) Murid Yesus yang memanfaatkan Yesus, mengkhianati, Yudas, dalam dia bertahan, dia menjual Tuhan. (3) Petrus, dia tidak mau pergi, karena dia tahu Yesus adalah Yang Kekal, merupakan finalitas.

Dibalik perkataan Yesus, menunjukkan bahwa Dia adalah Allah sendiri. Mengatakan Dia Anak Domba Allah.

Engkaulah yang Kudus dari Allah, apa maknanya?
1. Mereka tahu KebenaranNya
a. Ayat 68b, perkataanMu adalah Perkataan Hidup ( berkuasa, menggubahkan ) yang kekal.
b. Yang Kudus dari Allah,
i. Memahami tanda – tanda yang menyertai orang yang kudus yang berasal dari Allah.
ii. Kebenaran
iii. Kuasa
iv. Keselamatan
2. Mereka mengenalNya, dalam arti mereka sudah mengenal yang lain, sehingga mereka mengatakan ( ay.68 ) Tuhan kepada siapakah kami pergi, murid – murid sudah berjalan bersama Yesus sekian lama, sehingga hal ini menjadi dasar akan apa yang mereka dapat katakana.
a. Hari ini, kepada siapa kami pergi ?
i. Siapa yang dicari
ii. Siapa yang diharapkan
iii. Siapa yang menjadi sandaran / kekuatan

b. Murid – murid berkata : KAMI telah PERCAYA dan TAHU, sungguhkah kita sudah percaya dan tahu ?
i. Konsekuensinya : hidup bersama dengan Tuhan dan sesuai dengan FirmanNya.

Mempertanyakan tentang kualitas kita mengikuti Tuhan. (1) Yahudi – menentang. (2) Murid2 – termasuk 12 murid. Ada 3 poin (1) Otoritas Kristus (2) Penggenapan janji (3) Memahami Kristus sebagai sumber kebenaran.

Know about God and knowing about God ( J.A. Parker ). Orang - orang disana baru “know” dan belum “knowing.” Pengenalan kepada Allah membutuhkan proses. Petrus lebih mengenal Yesus dari pada orang lain. Pengenalan kepada The Word, Firman Tuhan – perkataan hidup yang kekal, Pater G mengatakan seseorang belajar tentang kebenaran harus berubah, kalau tidak kebenaran itu salah atau orangnya salah. Pengenalan yang kedua kepada The Person, Engkau adalah Yang Kudus dari Allah, yaitu pengakuan Petrus kepada Yesus yang adalah Mesias, Yang Diurapi.

Perlu disinggung tidak hanya finalitas Allah, tapi juga The Absoluteness, tentang kebenaran yang mutlak. Ketika banyak orang mengenal akan kebenaran mutlak itu orang–orang malah pergi.
(Yohanes 6 :66).