Jumat, 05 Februari 2010

PERLUKAH SAMPAI KE LANGIT

PERLUKAH SAMPAI KE LANGIT
Kejadian 11:1-9

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Garut


Dosa umat di Sinear adalah keinginan untuk menguasai dunia dan nasib mereka terlepas dari Allah melalui kesatuan organisatoris, kuasa dan keberhasilan besar yang berpusatkan pada manusia. Tujuan ini berlandaskan kesombongan dan pemberontakan terhadap Allah. Allah membinasakan usaha mereka dengan mengacaukan dan memperbanyak bahasa sehingga mereka tidak dapat berkomunikasi satu dengan yang lain (ay. 7). Peristiwa ini menjelaskan keanekaragaman bangsa dan bahasa di dunia. Alasan Allah murka kepada manusia pada peristiwa menara babel adalah?
1. Manusia menyombongkan diri di hadapan Tuhan. Tujuan manusia membangun menara yang mencapai langit adalah untuk mencari nama. Ini menunjukkan kesombongan dan pemberontakan mereka terhadap Allah. Sebenarnya kita tidak perlu sombong dan tinggi hati, tetapi yang perlu kita lakukan adalah menyadari kelemahan diri sendiri dan datang bersandar kepada Tuhan, karena Tuhan menentang orang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati (1Ptr. 5:5).
2. Manusia meninggalkan Allah dan menyembah berhala. Pada saat itu manusia berbalik dari Allah kepada berhala, sihir dan nujum (Yes. 47:12). Kerohania manusia zaman itu digambarkan dalam Roma 1:21-28. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah dan menyembah kepada-Nya. Akibatnya Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas dengan melampiaskan hawa nafsu dosa yang memalukan (Rm. 1:24,26,28).

Mengapa manusia pada waktu itu membangun Menara Babel? Kejadian 11: 4 menjelaskan bahwa tindakan ini dimotivasi oleh dua hal. Pertama, supaya para pembangunnya mendapatkan nama atau kemasyuran dengan mendirikan sebuah bangunan yang prestisius. Tujuan mereka membangun menara yang tinggi ingin menyamai Allah.
Kedua, supaya manusia tidak terserak ke seluruh bumi. Mereka memiliki bahasa yang sama dan kebiasaan yang sama sehingga manusia pada waktu itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Segala sesuatu yang mereka rencanakan pasti berhasil tidak ada yang gagal (ayat 6). Oleh karena itu mereka tidak mau terserak ke seluruh bumi.
Mengapa Tuhan mengacaukan pembangunan Menara Babel? Manusia terlalu sombongan, manusia ingin menyamai Allah. sebab tujuan dalam membangun Menara Babel ini yang menyebabkan Allah murka. Karena keinginan mereka untuk bersatu bisa dipandang sebagai perlawanan terhadap kehendak Allah untuk menyebarkan manusia ke seluruh dunia. Tetapi ada alasan yang lebih serius daripada dua hal tersebut. Mereka bersatu dalam dosa, dalam Kej 11:3,4 jelas terlihat bahwa semua orang-orang itu mempunyai keinginan untuk berdosa. Tidak ada yang menentang usul itu, atau menegur orang-orang yang merencanakan rencana berdosa itu. Manusia bersepakat berbuat dosa untuk melawan dan menentang Allah.

Menara Babel mengingatkan kita akan ketidakpuasan manusia terhadap pemberian Tuhan. menara Babel juga mengingatkan kita tentang kecongkaan manusia yang ingin menyamai Tuhan. Kesombongan selalu membawa kegagalan dan kehancuran. Biarlah menara Babel mengingatkan kita untuk menempatkan Tuhan pada tempatnya dan menempatkan diri pada tempat yang semestinya

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta


Pelajaran cerita ini:
[a]. Allah mau hidup kita maksimal = menggunakan talenta dan kemampuan.
Allah bukan tak mau mereka berhasil, berusaha, berjuang (Mat. 25:21-23).

[b]. Allah memberi kesempatan kita berkarya seluas-luasnya, dengan tujuan mencapai rancangan damai sejahtera (Yer. 29:11).

[c]. Allah punya tujuan kekal dalam hidup kita, menjadi berkat bagi orang lain (I Tim. 4:12).

[a]. Dosa manusia.
Menara Babel ini bicara mengenai dosa. Dosanya di mana? Kalau orang pada zaman itu, orang memakai sumber daya, kekuatannya, apa salah?
Dosanya bukan pada perbuatannya, tapi motivasinya.
Apa motivasinya? Mari cari nama / reputasi (v 4).
Menara = migdal, bahasa Ibrani.
Migdal berhubungan dengan great = hebat.
Menara adalah simbol kekuatan / kebanggaan (Yesaya 20:35, 33:18) = tak disukai Allah.
Orang yang membangunnya, menjadi agung = mau menyamakan diri dengan Allah.

[b]. Sikap / tindakan Allah (v 5).
Allah turun untuk melihat. Ini anthropomorfis, yang menunjukkan Allah yang mengawasi. Tak ada 1 dosa yang luput dari Allah.
Pembangunan itu sudah berjalan sampai tahap tertentu = Allah membiarkan mereka sampai tahap tertentu.
Bagi Allah itu hal yang kecil (permulaan, embrio), dan belum ada dampaknya, tapi Allah sudah melihat itu = menunjukkan kekritisan / kewaspadaan terhadap apa yang dilihat.

[c]. Akibatnya (v 7).
Mengacaubalaukan bahasa mereka = metode Allah sangat mengejutkan. Mengapa Allah tidak merobohkan menaranya saja? Tapi, tindakan Allah masuk ke akar masalah, yaitu mengacaubalaukan bahasa.
Kalau dirobohkan menara, mereka bisa bangun lagi.

Pemimpin menara Babel adalah Nimrod, cucu Ham.
Nimrod = pelawan.
Babel = kacau balau.

Mengapa mendirikan menara Babel?
[a]. Mau cari nama (v 4).
Mereka mau mendapat pujian. Mereka mau menunjukkan, bahwa tanpa Tuhan, mereka bisa.
[b]. Tidak mau taat pada Tuhan. Allah memerintahkan untuk memenuhi bumi (Kej. 1:28), tapi mereka tidak mau berserak ke seluruh bumi (11:4).
[c]. Mereka tidak mau percaya janji Allah yang tidak akan menghukum dengan air bah (8:21-22; 9:13-17). Mereka membuat menara babel, supaya kalau ada air bah, mereka bisa selamat.

Nampaknya, rencana mereka akan berhasil, karena:
[a]. Seluruh bumi 1 logatnya = bahasa mereka sama (11:1).
[b]. Ada kesepakatan (11:3).
[c]. Ada kerja sama yang baik (11:6).
Tapi, mereka gagal, karena kesombongan mereka.
Tuhan tidak berkenan, dan akibatnya, ada kekacauan.

Manusia adalah mahluk yang bergerak, sehingga diwarnai oleh perpindahan. Manusia juga mencari terus untuk membahagiakan diri.
Sebelum manusia berdosa, manusia ingin melakukan kehendak Allah (1:28).
Setelah berdosa, manusia ingin mencari kesenangannya sendiri (11:4).
Tuhan memang memberi kuasa pada manusia.
Kuasa itu bersifat representatif, untuk menguasai bumi dan isinya.
Kuasa itu harus dijalankan berdasarkan kehendak Allah dan akan dipertanggungjawabkan pada Allah.
Apa yang bisa kita pelajari?
[a]. Manusia itu egosentris. Manusia ingin melepaskan diri dari penguasaan Tuhan. Itu hidup yang sangat berbahaya dan akan menghancurkan diri sendiri. Kalau kita melihat sejarah Tiongkok, mengapa banyak pertengkaran, karena ingin menjadi nomor 1.
[b]. Manusia merasa paling hebat (superioritas) = penyakit rohani yang mendatangkan malapetaka bagi umat manusia. Mis.: Hitler, mau sukunya menjadi yang paling hebat, sehingga membunuh 6 juta. Mao Tze Tung membunuh 10 juta dalam revolusi budaya. Killing Field di Kamboja, juga membunuh 2 juta orang.
[c]. Tuhan menghentikan menara Babel, untuk menunjukkan kasih-Nya pada manusia.

Jangan menjadikan bagian ini menjadi perdebatan teologis, yang penting isinya harus disampaikan.
Manusia
[a]. Manusia memiliki keinginan, hasrat, oleh karena basicnya adalah mau menjadi hebat.
[b]. Motivasi yang muncul dalam diri manusia adalah tidak memerlukan Allah.
[c]. Manusia melawan Allah. Kebersatuan itu baik, tapi kalau untuk melawan Allah, Allah akan menghancurkan.

Allah

[a]. Apakah Allah sirik kalau manusia hebat? Allah tidak takut, gentar, atau iri, karena Allah tahu keterbatasan manusia. Allah juga dengan sangat mudah menghancurkan manusia. Ditekuk sedikit saja sarafnya, maka manusia pian sui (mati separuh). Manusia memiliki kehebatan, tapi juga keterbatasan yang fatal.
[b]. Allah tahu kecenderungan hati manusia adalah jahat (6:5).
[c]. Allah intervensi dalam hidup manusia, bukan kepada karya manusia, tapi pada hidupnya itu sendiri.

Maka, kehebatan manusia itu harus ditaklukkan kepada Allah. Agar prestasi yang dipercayakan Tuhan padanya, dapat memuliakan Tuhan.

[a]. Seberapapun hebat manusia, masih sangat jauh dibanding Tuhan. Maka, Tuhan masih “Turun” (v 5).
[b]. Tuhan bertindak pada saat yang paling menyakitkan, untuk merepresentasikan sakit hati-Nya Tuhan. Tuhan tidak langsung menghukum, tapi menunggu saat yang paling menyakitkan. Itupun sebetulnya tidak bisa menggambarkan sakit hati Tuhan yang sangat sakit. Tuhan mau manusia ”Mencicipi” sakit hati-Nya (“Pilu,” 6:6).
[c]. Kehendak Tuhan tak dimengerti manusia, maka sekarang Tuhan mengacaukan bahasa mereka, supaya mereka merasakan bagaimana tak dimengerti itu.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung


Negeri Babel memiliki peradaban dan ambisi yang tinggi, dan mereka membangun suatu bangunan yang dianggap sangat tinggi (zigorat), sebagai simbul pencapaian budaya manusia, mereka berbahasa satu dan menjadi pengakuan bersama. Mereka berambisi mencari nama besar yang seharusnya menjadi hak prerogatif Allah. Perhatikan kata ’mari kita mengacaukan’, dalam bahasa Ibrani: manusia menyatukan tetapi Tuhan mengacaukan. Hal ini merupakan simbol kegagalan manusia yang ingin lepas dari Allah, yang juga merupakan suatu kenaifan. Dalam sejarah peradaban, setiap budaya atau peradaban memiliki kenaifan tersendiri. (contoh: Petronas di Malaysia; Gedung 101 di Taiwan; Dubai). Kenaifan sampai ke langit, tetapi manusia tidak tahu langit itu sebenarnya ada dimana, dan ini mnejadi kecongkakan bangsa Babel.

Menara adalah simbol keberhasilan sebuah peradaban. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia cenderung menggeser kedaulatan Allah yang adalah pusat segala sesuatu menjadi manusia adalah pusat segala sesuatu. Menara Babel dirikan untuk mempersatukan komunitas pada zaman itu, tetapi komunitas yang meninggikan dirinya sendiri bukan untuk memuliakan Allah. Allah tidak pernah berkenan atas apa yang dipandang baik dalam cara pandang manusia yang sudah tercemar oleh dosa.Melihat konteks Indonesia dengan GNP yang rendah, masalah social-ekonomi yang tidak kunjung selesai sampai hari ini apa yang menjadi prioritas Gereja Indonesia saat ini? Kondisi kita bukanlah sama dengan masyarakat Los Angeles di Amerika, juga berbeda dengan Seoul di Korea Selatan. Perlukah Gereja di Indonesia membangun ”gedung” yang bersaing dengan Crystal Catherdal dan Yoido Hall yang dibangun oleh Yonggi Cho? Mari kita mencari pimpinan dan kehendak Allah bagaimana GerejaNya harus dibangun dalam konteks Indonesia? Pesan utama bagian ini, sebuah introspeksi diri sebagai sebuah komunitas Kristiani apakah yang menjadi definisi sebuah ”keberhasilan”, gedung?, popularitas? Otoritas? Mari kita kembali kepada prinsip Roma 11:36, ” Sabab saniskara oge Mantenna anu nyiptakeun. Sakabehna asal ti Mantenna, keur Mantenna. Sanggakeun puji ka Allah, salalanggengna! Amin”. (bdk Theocentris-anthropocentris, altruis-egocentris).

Kebudayaan merupakan wadah bagi kehidupan manusia, sedang ekonomi merupakan penggeraknya dan agama merupakan mahkotanya. Dalam kebudayaan bangsa-bangsa di dunia, tidak banyak bangsa yang bisa membangun ketiganya dengan megah dan besar. Bangsa Babel salah satu yang bisa membangun Zigurat atau piramid selain di Mesir dan Maya. Jadi mereka merupakan bangsa yang maju, kaya dan agamis. Pertanyaannya adalah untuk apa dan siapa semua itu dibangun?

Haruskah sampai ke langit? Manusia cenderung membangun satu menara untuk menonjolkan kekuatan dan kebanggaan. Dosa dari orang Babel adalah kesombongan. Mereka kumpul di satu tempat padahal Tuhan memerintahkan untuk memenuhi bumi. Menara Babel memiliki tangga sampai ke puncak yang berbentuk Zigurat, dimana di kamar teratas adalah tempat untuk menyambut dewa. Dengan membangun ini berarti memperlakukan Tuhan seperti manusia. Kenyataannya Babel adalah:
1. Suatu daerah dimana dalam sejarah manusia pertama kali Tuhan tidak diakui sebagai pencipta dan penguasa
2. Manusia pertama kali mengangkat raja
3. Pertama kali manusia membangun rumah dewa
4. Pertama kali astrologi dikembangkan untuk mengetahui rejeki dan nasib manusia

Martin Buber: I and though mencoba membandingkan hubungan pribadi. I though: aku dengan Allah. Dengan hubungan bukan pribadi. I it: aku dengan sesuatu. Suatu kehidupan yang ideal adalah suatu hubungan yang berlangsung dalam ikatan. I though dan bukan I it, karena ketika hubungan I though itu tidak ada lagi, maka yang akan terjadi adalah Cheos (kekacauan). Yang puncaknya samapi ke langit adalah keponggahan manusia. Manusia menginginkan keamanan, kenyamanan yang tak terganggu gugat, yang tak tersaingi oleh apapun dan siapapun. Namun, ambisi keinginan itu merupakan suatu pelanggaran terhadap batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Kejadian 11 membawa kita untuk merenungkan makna komitmen manusia, kebolehan manusia dan kebanggaan manusia dari rancangan Allah bagi kesejahteraan manusia. Dan penghakiman Allah terhadap satu usaha manusia utnuk melintasi batas antara apa yang merupakan wilayah insani dan apa yang merupakan wilayah ilahi.
1. Ambisi yang memberontak terhadap Allah
2. Ambisi manusia dan kecongkakkan tekhnologi
3. Ambisi yang menghilangkan persekutuan dengan Allah dan kebersamaan dengan sesama

Manusia memiliki suatu tujuan tetapi gagal, karena Allah menggagalkan mereka: mereka lupa akan Allah, motivasi yang salah, tidak melibatkan Allah di dalmnya. Orientasi pada diri sendiri bukan pada Allah. Kegagalan akan menghampiri jika tidak melibatkan Allah.

”marilah” membangun, membuat bata, mencari nama, manusia memakai fasilitas dari Allah untuk nama sendiri bukan untuk Allah, di dalam ladang Allah. Mencari nama adalah pengkhianatan kepada Allah. Dari kehidupan Israel dapat dilihat bagaimana manusia tidak hormat kepada Allah dan mengkhianati Allah. Pertanyaannya: Apa yang harus kita perbuat bagi Allah.

Kesuksesan menjadi milik mereka pada jaman itu:
1. Memiliki alat komunikasi yang satu --- satu bahasa
2. Memiliki kesatuan hati
3. Memiliki ambisi dan cita-cita yang tinggi
4. Perencanaan yang baik
5. Ketrampilan untuk mencapainya
6. Properti yang baik, Sinear, tanah yang subur
7. Ada kekuatan Agama yang menarik hati untuk bekerja bersama
Perlukah sampai ke langit? Untuk apa? Untuk nama sendiri atau untuk Allah?

Manusia pada awalnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan, tetapi arahnya hanya untuk melakukan kejahatan. Untuk membuktikan eksistensi manusia, seringkali lupa untuk apa ada dalam dunia ini. Seharusnya pencapaian yang terbesar adalah tetap setia kepada Allah, tanpa harus membangun suatu yang tinggi.

Tujuan manusia:
1. Uang
2. Popularitas
3. Kekuasaan
4. Prestasi
Ayat 6 --- apakah itu berkat dari Allah?

Manusia diciptakan dan diberikan kuat kuasa yang tidak jauh berbeda dengan Allah, tetapi karena dosa, orientasinya bukan pada Allah. Karena jauh dari Allah, maka hanya Allah yang dapat mematahkannya.

Mengapa Tuhan turun melihat? Sebenarnya apa yang dibuat oleh manusia sangat kecil sehingga Tuhan harus turun melihat. Tidak ada tujuan yang sampai ke langit, kalau mau mencapai kelangit mengapa tidak bangun di gunung?

Piramida atau menara ini adalah suatu simbol penentangan kepada Allah. Lucifer jatuh karena menentang Allah, dan ini menjadi penyebab utama manusia pertama jatuh dalam dosa. Dalam gereja, masalah pencapaian target, akhirnya pengerja gereja mencari cara-cara untuk mencapai target tersebut. Manusia seharusnya tahu diri, mengenal dirinya sendiri. Mempunyai ambisi memuliakan Tuhan. Bahasa yang mempersatukan kita yaitu firman Tuhan.

Keturunan Sem, Ham dan Yafet tersebar kemana-mana, dan Nimrod adalah keturunan dari Ham, dan dia yang beinisiatif membangun Babel. Negara ini dihancurkan karena anak-anak Tuhan terkungkung disini. Motivasinya Egosentris atau Theosentris. Di atas manusia ada manusia, di atas langit ada langit. Persatuan dan kesatuan mempunyai unsur yang penting dan indah, jikalau bisa satu bangsa, bahasa, satu negara adalah baik, seperti Indonesia, tetapi jika tidak terkoodinir, maka akan menjadi terpecah-pecah. Babel, mereka merasa sengsara dan tidak mau menjadi pengembara lagi, mereka tidak mau terpisah-pisah, mereka mengalami kesulitan dalam bahasa, mereka tercecer dimana-mana dan mereka menginginkan kebersamaan dan tujuan yang sama. Penyatuan dan kesatuan dan dipersatukan adalah baik dan indah. Budaya dan urbanisasi hanya membawa manusia semakin tinggi tetapi tidak mendalam. Contoh: tingginya pohon sama dengan dalamnya akar, satu melebar yang lainnya mendalam. Yang mendalam tidak memakan tempat dan mengganggu yang lain.
Bagaimana belajar menjadi rendah hati:
1. Rendah hati bukan rendah diri 谦卑
2. Mengalah谦让
3. Menghargai谦恭
4. Ramah谦顺
5. Tenang dan damai谦和

Sebagai perbandingan:
1. Materi --- bandingkan dengan orang miskin
2. Moralitas --- bandingkan dengan yang luhur