Jumat, 12 Februari 2010

MENUAI DENGAN SUKACITA

MENUAI DENGAN SUKACITA
(Mazmur 126:1-6)

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Garut


Pendahuluan: Tema Mazmur 126 adalah: Pengharapan di tengah-tengah penderitaan. Konteksnya adalah pemulihan keadaan sion yang terjadi tahun 701 SM saat ancaman Sanhenrib untuk menyerbu Yerusalem digagalkan sebagai penggenapan nubuat sehingga bangsa-bangsa mengirimkan hadiah kepada raja Hizkia (2Taw. 32:22-23). Pemulihan yang berikut adalah ketika orang Yahudi kembali ke Yerusalem pasca pembuangan ke babel pada tahun 538 SM. Allah dapat melakukan perkara yang besar. Kuasa-Nya tidak hanya melepaskan kita dari perhambaan dosa, tetapi juga membawa kita kembali kepada-Nya. Penulis Mazmur ini tidak diketahui, namun kemungkinan ditulis untuk merayakan kembalinya umat Yahudi dari pembuangan ke Babel (Ezra 1). Apakah kunci untuk menuai dengan sukacita?

1. Kita harus setia menabur kebaikan, kesetiaan, kebenaran dan doa. Umat Yahugi ditempat pembuangan menabur dengan pertobatan, iman dan doa syafaat, maka Tuhan mendengar doa mereka. Mereka berseru, “Pulihakanlah kami ya Tuhan….” (ayat 4). Orang yang menabur kesedihan, sambil bergumul dalam doa. Orang percaya diyakinkan bahwa apa yang mereka tabor dengan rajin sekarang ini akan diberkati dengan berlimpah-limpas oleh Tuhan di masa depan. Marilah kita setia menabur kebaikan, kesetiaan, kebenaran dan doa syafaat. Meskipun mengalami kepedihan karena mengetahui bahwa aka nada tuaian berkat Allah yang besar (Yer. 31:9).
2. Hasilnya: kita menuai dengan sukacita. Kita akan menuai berkat-berkat dari Allah berupa pembaharuan, kebangunan dan perbuatan ajaib (Mat. 5:4; 2Kor. 9:6). Ayat 2-3, mulut orang benar penuh dengan tertawa dan lidah penuh dengan sorak sorai karena sukacita.

Mudahkah kita berkata kepada sekian banyak petani di negeri ini, dengan ribuan hektar tanaman padinya yang puso atau gagal panen karena banjir dimana-mana sekarang ini : “Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang menangis sambil menabur akan pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Mereka akan menjawab, “Kami menabur dan menuai dengan air mata yang sama, menabur dan menuai dengan tangisan.” Berita ini bukan kabar baik yang mudah untuk diterima oleh mereka-mereka ini.

1. Ada realita hidup yang tidak mudah atas para petani, juga orang-orang percaya pada masa kini. Maka yang begitu nyata dalam hidup ini adalah adanya orang-orang menabur dan menuai dengan mencucurkan air mata yang sama, adanya berbagai tangisan dan kepedihan dalam hidup ini. Lalu apakah kita menjadi orang-orang yang tidak berpengharapan ?
2. Ada pertolongan dan pemulihan. Bersama dengan Pemazmur yang berseru dalam Mazmur 121:1-2 Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah akan datang pertolonganku ? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi. Maka pertolongan dan pemulihan akan terjadi. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, dicatat dua kali dalam ayat-ayat ini artinya ya dan amin. Seperti mimpi artinya seperti tidak masuk diakal, tidak terpikirkan tetapi itu yang terjadi. Seperti memulihkan batang air kering di tanah Negeb, sesuatu yang mustahil, tetapi sungguh terjadi. Betul-betul pekerjaan Tuhan telah terjadi tanpa peran atau jasa manusia. Ayat 1,4
3. Ada hasil dari pertolongan Tuhan : ada tertawa, sorak sorai, sukacita. Ada perkara besar yang mengubah telah terjadi dan hal ini juga diakui oleh orang-orang pada umumnya, menjadi kesaksian yang indah. Ada kata ‘kita’ internal dan ‘orang-orang ini’ eksternal. Ayat 2,3
4. Ada janji Tuhan : kita dapat mengatasi realita-realita hidup yang ada yang bahkan kelihatannya mustahil yaitu : “Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang menangis sambil menabur akan pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kemampuan Allah melampaui ketidakmampuan kita. Ayat 5,6

Persoalan hidup yang dialami oleh umat Tuhan terkadang beragam bentuknya bahkan terkadang diliputi air mata karena beratnya persoalan hidup. Terkadang kita harus menghadapi semua persoalan itu dengan pergumulan tidak mudah. Penyerahan dan persandaran kepada Tuhan menjadi satu kunci yang penting dalam mengatasi hal ini. sebab dengan persandaran serta penyerahan diri kepada Allah akan memampukan kita untuk menghadapi persoalan hidup ini.
Dibalik kesulitan yang Tuhan ijinkan untuk kita alami, ada rencana dan maksud Tuhan yang indah. Allah sedang mengajarkan sesuatu kepada kita, supaya kita belajar percaya dan memiliki
ketabahan dalam menghadapi hidup ini. Mungkin ada sesuatu yang perlu kita intropeksi dalam hidup kita yang Tuhan ingin ingatkan supaya kita mengoreksi serta merubahnya. Pada akhirnya ketika Allah bekerja dan kita percaya kepada Allah maka ada sukacita yang telah Allah sediakan bagi kita. Biarlah sukcaita itu membuat kita semakin mengenal Allah serta mengalami pertumbuhan iman yang nyata dalam hidup ini.
Jangan cepat menyerah, terus berjuang sampai akhir. Kesetiaan dibuktikan bukan melalui ikrar yang nyaring tetapi melalui ketetapan hati yang lirih untuk tetap bertahan di jalan Tuhan. Kadang jalan ini mengundang tetesan air mata namun ingatlah, di akhir jalan, kita akan bersorak sorai memetik buah kemenangan dan menerima mahkota kehidupan.

Dipulihkan oleh Tuhan merupakan sesuatu yang sangat penting. Memasuki tahun baru ini apa yang harus dipulihkan dalam kehidupan kita. Mungkin penderitaan dan kesulitan membuat kita tidak bisa melihat Allah dengan jelas atau mungkin ada hal yang lain yang memang perlu dipulihkan. Ketika pemulihan sudah dikerjakan oleh Tuhan apa yang harus kita kerjakan untuk pekerjaan Tuhan. Bagi orang yang sudah bekerja (menabur) ada upah yaitu menuai (ini adalah hukum alam). Biarlah memasuki tahun baru imlek jemaat boleh menuai tetapi sebelum menuai mereka harus menabur dulu.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta


 Mz. 120-134 adalah mazmur ziarah.
4 ditulis oleh David; 1 oleh Salomo; 10 tak diketahui penulisnya.
 Memulihkan keadaan Sion = memulangkan / mengembalikan tawanan Sion (v 1).
Turned again (KJV) / brought back (NAS, NIV).
 Pemulihan = keadaan sebelumnya lebih baik.
Tuhan bisa membuat sesuatu lebih baik, dari sebelumnya yang tak pernah dialami. Atau mengembalikan dari kepada keadaan yang lebih baik sebelumnya. Sekali lagi, perlu digarisbawahi, bahwa Tuhan bisa. Manusia mungkin tak bisa, tapi Tuhan bisa.
Dan kalau Tuhan melakukan, sungguh jauh dari pikiran kita = dreams comes true (v 1).
Itu berarti, keadaan sekarang mereka tidak baik. Keadaan sebelumnya: bebas.
Bebas di kota sendiri secara politik (Zion = Jerusalem / kota Daud, II Sam. 5:9).
Zion disebutkan = 7x (ch. 125, 126, 128, 129, 132, 133, 134).
Dan dalam kitab Mazmur, Zion disebutkan 38x.
Bebas beribadah kepada Tuhan secara rohani = temple is on the top of Zion
“Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya” (Ps. 132:13).
Sekarang: dalam pembuangan. Mereka merindukan pulang kembali ke Jerusalem (v 1, BIS  membawa kami pulang ke Jerusalem).
 Pemulihan:
1. Pertobatan (v 1).
Segala sesuatu dimulai dari pertobatan. Jadi, bukan berusaha / bekerja dulu.
Ketika hubungan dengan Tuhan beres, maka yang lain menyusul / mengalir.
Karena, semua berkat adalah dari Tuhan.
“Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu” (Ps. 128:5).
“Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Ps. 133:3).
“Kiranya TUHAN yang menjadikan langit dan bumi, memberkati engkau dari Sion” (Ps. 134:3).
Tuhanlah yang memberkati / memagari (Job 1:10) / meneguhkan (Ps. 125:1).
“Nyanyian ziarah. Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya” (Ps. 125:1).
Tatkala hubungan beres dengan Tuhan, orang yang melawan orang ini = melawan Tuhan.
“Semua orang yang membenci Sion akan mendapat malu dan akan mundur” (Ps. 129:5).
2. Pulang (v 1-3).
Tempat / wilayah / teritori.
[a]. Sebagian dari pemulihan ini terjadi pada tahun 701 SM ketika ancaman Sanherib untuk menyerbu Yerusalem digagalkan sebagai penggenapan nubuat dan bangsa-bangsa di sekitar Yehuda mengirim hadiah kepada Hizkia (2 Taw 32:22-23).
[b]. Pemulihan yang lebih besar terjadi ketika orang Yahudi kembali ke Yerusalem dari Babel pada tahun 538 SM.
3. Panen (v 4-6).
Tidak hanya meminta panen, tapi mereka mau bekerja / berusaha keras.
Di tempat yang sulitpun, bisa berbuah.
Negev (the south country = the land where the Amalekites lived, stony area, and very difficult to live, cf. Ps. 126:4).

1. Tuhan telah memulihkan keadaan kita seperti memulihkan batang air yang kering. 126:1&4
2. Tuhan telah melakukan perkara besar. 126:2&3
3. Telah berjerih lelah dan menikmati hasil seperti pepatah berakit-rakit dahulu, berenang-renang ketepian. 126:5&6

Kata memulihkan bisa berarti mengembalikan, menyembuhkan. Kata menyembuhkan dalam arti politik & spiritual. Secara politik berarti mereka dikembalikan dari orang buangan menjadi orang yang dikasihi Allah. Secara spiritual, Yerusalem dipulihkan dan ibadah bias dilangsungkan kembali. Perubahan radikal ini dirasakan seperti mimpi, waktu mereka sadar, mereka tertawa kegirangan. Tuhan telah melakukan perkara yang besar di masa lalu dan juga mengadakan pembaharuan hidup di antara umat Israel baik secara politis & spiritual.

Allah dikenal sebagai Allah yang berdaulat dalam kehidupan manusia & bertanggungjawab atas kehidupan manusia, manusia sering ingin mengatur kehidupannya sendiri tetapi sering gagal. 126:1-4
Allah sekalipun berkuasa & berjanji, tetapi tidak meniadakan tanggungjawab manusia, manusia harus bertanggungjawab atas apa yang diberikan Tuhan atas dirinya. 126:5
Usaha manusia diberkati Tuhan adalah sukacita tersendiri dalam hidup kita. Orang percaya akan mendapat konfirmasi dari Allah tentang berkat Allah atas apa yang telah ia kerjakan. 126:6

1. Tuhan kita adalah Tuhan yang memulihkan. Terkadang Ia mengijinkan penderitaan tetapi sebenarnya Ia menghendaki sukacita dan penderitaan, tetapi kemenangan adalah kehendak Tuhan. Pemulihan bukan hanya sekedar sembuh tetapi dipulihkan kembali kepada keadaan yang sempurna. Hanya Tuhan yg dapat melakukan pemulihan, karena manusia hanya bisa memaafkan.
2. Pemulihan itu dikerjakan Tuhan melalui proses menabur yang dikerjakan melalui berkorban dan mengasihi. Ada orang yang ingin berkorban tetapi mengorbankan orang lain.
3. Pemulihan merupakan wujud dari penuaian yang dipenuhi Tuhan dengan sorak sorai kemenangan. Ia menghendaki kita menuai dengan hasil yang penuh sorak sorai.

Ternyata bangsa ini ada dalam kondisi penderitaan yang sangat berat. Bekerja, bahkan sambil mengeluarkan air mata. Penderitaan itu begitu berat untuk menjalani hidup ini. Kita melihat suatu kenyataan yang ada dalam pengalaman hidup manusia.
1. Hidup ini adalah sebuah perjuangan dan penuh penderitaan. Tekanan sebagai tawanan, hidup di negri orang, dibawah pemerintahan dan aturan yang sangat berbeda.
2. Hidup ini tidak pernah lepas dari campur tangan Allah. Ia perduli dengan seluruh penderitaan dan kehidupan manusia. Ia tidak meninggalkan manusia dalam seluruh keberadaannya. Ia sendiri akan bertindak dan melakukan banyak hal bagi orang-orang yang bersama denganNya. Itu sebabnya orang-orang lain melihat dan mengatakan “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini” pemulihan yang hanya Allah yang mengerjakannya bagi kita. Tidak ada manusia dapat mengerjakan pemulihan. Hanya Allah yang mau mengerjakan bagi kita.
3. Hidup ini menuju kepada penuaian, apa yang kita tabur dan tuai akan menjadi suatu kenyataan. Taburlah benih yang baik, meskipun bekerja keras karena pasti akan menuai pada akhirnya.
Jangan takut penderitaan atau air mata, karena semua itu merupakan bagian dari tuaian. Kalau kita menabur dengan air mata, itu membawa kita memiliki pengharapan ketika kita memandang kepada tuaian.

Kata seperti mimpi  bukan dejavu, bukan karena factor yang lain atau pengalaman maya. Kata seperti mimpi = sessuatu yang mustahil, tak terbayangkan tetapi terjadi dan dialami. Mereka dulu hidup dalam kemakmuran, bangsa yang ditakuti dan dihormati pada zaman Daud dan Salomo. Mereka pernah mendengar semua kejayaan bagi bangsa itu. Mereka kembali ke tanah mereka (for good) bukan dari liburan, tetapi benar-benar dari suatu pembungan, dimana jiwa mereka tertawan, hati mereka tertawan. Bukan sekedar pemulihan pemerintahan, derajat bangsa, Yerusalem. Tetapi suatu pemulihan bahwa Tuhan membebaskan jiwa mereka. Lebih kepada pemulihan internal, tatanan masyarakat. Dimana mereka bisa mengalami relasi dengan Tuhan. Sama dengan computer yang bermasalah, di restorasi secara internal. Maka bangsa ini mengalami restorasi secara internal hati dan jiwa manusia itu sendiri.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung


Konteks Mazmur ini adalah kembalinya bangsa Israel dari pembuangan di Babel ke tanah air mereka. Di dalam penderitaan, Tuhan datang menolong mereka. Meskipun mereka kembali karena izin raja Koresy, dari perspektif iman, pemazmur melihat bahwa sumber kelepasan itu bukan manusia, melainkan Tuhan.
Pengalaman ditolong Tuhan itu begitu ajaib sehingga bagi mereka seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dulu realita hidup mereka pahit, mereka hidup sebagai bangsa asing, sekarang mereka dipulihkan. Sekarang bahkan mereka bisa beribadah lagi di Yerusalem. Dulu kelepasan itu hanya diangan-angankan, sekarang menjadi kenyataan.
Meresponi kenyataan itu, dari mulut mereka meluap ucapan syukur. Hati mereka bersukacita. Bahkan syukur dan sukacita itu tidak bisa disembunyikan. Mereka tidak hanya bersyukur dalam hati, tetapi menyorakkannya. Ucapan syukur itu menjadi ungkapan seluruh umat. Pemazmur menggunakan istilah “mulut” dan “lidah” (ay.2) dalam bentuk kata benda tunggal dengan maksud mengatakan bahwa seluruh umat satu suara, satu hati, satu mulut dan lidah untuk memuji dan memuliakan Tuhan.
Dampak pekerjaan Tuhan bukan saja membawa sukacita ke dalam diri komunitas, tetapi membawa dampak ke luar komunitas, yaitu kemuliaan Allah nyata bagi bangsa lain yang tidak mengenal Dia. Bangsa-bangsa lain juga terheran-heran. Mereka juga mengakui bahwa Allah Israel pastilah sumber transformasi itu. Dengan kata lain, pekerjaan Tuhan menjadi alat kesaksian kepada bangsa-bangsa asing.
Lebih lanjut, ingatan akan pekerjaan Allah di masa lalu sekarang ini menjadi dasar untuk percaya dan berharap bahwa Allah akan intervensi lagi pada masa kini. Masa lalu menjadi dasar untuk mengharapkan masa depan. Sekarang, ketika hidup kembali menghadapi masalah, maka jalan terbaik adalah berdoa memohon pemulihan, agar Allah mengulang tindakan keselamatanNya.
Perjalanan hidup tidak otomatis selesai setelah kita mengalami karya keselamatan Allah. Masih ada realita yang harus dihadapi. Realita hidup itu tidak mudah. Kita melangkah dengan ragu, apakah usaha kita menghasilkan sesuatu. Ada bayang-bayang frustrasi. Benih kita sedikit. Benih itu untuk menopang hidup. Jika disimpan, ia tetap akan habis dikonsumsi. Tetapi kalau ditaburkan, ada dua kemungkinan: tumbuh dan menghasilkan buah atau mati terkubur, hilang semuanya. Di dalam kebimbangan itu, ada pernyataan peneguhan iman. (ay.5-6). Kalau Tuhan dapat diandalkan pada masa lalu, maka pada masa sekarang pun Ia dapat diandalkan.
Tentang pentingnya menabur itu, Charles Spurgeon mengatakan: “Sorrow is our sowing, rejoicing shall be our reaping. If there were no sowing in tears there would be no reaping in joy. If we were never captives we could never lead out captivity captive. Our mouth had never been filled with holy laughter if it had not been first filled with the bitterness of grief.” (Menabur itu dukacita, menuai itu sukacita. Jika tidak pernah menabur dengan berlinang air mata, tidak akan menuai dengan sukacita. … Mulut kita tidak akan pernah dipenuhi tawa suci jika tidak pernah dipenuhi dukacita yang pahit).
Kekuasaan Allah atas sejarah dipertegas oleh kuasaNya atas alam. Allah mengisi sungai-sungai yang kering kerontang di Negeb, dengan air berlimpah ketika musim dingin tiba. Tuhan sanggup mengubah keadaan kering kerontang menjadi berlimpah air. Tidak ada alasan bagi kita menganggap bahwa kesulitan sekarang akan berlangsung selamanya. Tuhan tidak melupakan umatNya. Filipi 1:6 “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
Selama kita bersandar pada Dia pada masa “menabur” meskipun diiringi linangan air mata, tak akan kekurangan alasan bagi kita untuk bersyukur dan bersukacita.

Perikop ini ditulis oleh Ezra, masih dalam pembuangan, dan mungkin juga dinyanyikan sebelum masuk ke Yerusalem. Ini merupakan suatu jeritan iman memohon pertolongan Tuhan dan meski sudah dijanjikan Raja Koresh untuk kembali, tetapi belum terjadi.

1. Ayat 1-2 --- suatu nubuatan, segala penderitaan akan berlalu
2. Ayat 3 --- suatu kesaksian, Tuhan telah melakukan perkara besar bagi kita
3. Ayat 4 --- doa, percaya terus tanpa henti
4. Ayat 5 --- ada keyakinan iman

Seseorang yang “menuai”: 1) harus berani membayar harga dengan tangisan dan air mata 2)dan memerlukan suatu inisiatif untuk berjalan maju, 3) investasi, juga harus berani menaruh benih di tanah yang gembur bukan di tanah berbatu, 4)harusmengandalkan, mengharapakan pada kemurahan Allah. Kita harus berani memiliki visi dan misi ilahi yang merupakan insight dari kita. Bangunlah kerangka hidup kita berdasarkan misi dan visi ilahi. Menanam benih kepada tiap-tiap orang (bandingkan Maz 112). Harus menanamkan kedewasaan jemaat (Ef.4), termasuk pertumbuhan kerohanian jemaat.

Ayat 5 dan 6, ada orang yang menabur, seorang petani dan benih. Kita sebagi benih juga sebagai penabur. Benih harus mati dan baru bisa menghasilkan. Tunas baru bisa menjadi satu tanaman. Hidup kita bagai benih, mati dalam Tuhan dan hidup bagi Tuhan. Sebagai seorang penabur, keluar dan menabur benih bagi dunia.

Kita mengenal beras merah dan beras putih. Beras merah ditanam di ladang, tempat yang lebih kecil. Beras putih di tanam di sawah, tempat yang luas. Meski beras merah di tanam di tempat yang kecil, tetapi lebih baik dari beras putih. Petani sangat menabur mengapa menangis? Karena saat menanam mereka ‘habis-habisan’, menggunakan seluruh hartanya untuk menabur, sehingga mereka menaruh harapan yang besar agar apa yang ditabur bertumbuh dan berbuah banyak.

Bandingkan Yeremia 25:10-11. Allah memulihkan hidup bangsa ini di hadapan Tuhan. Pembuangan di Babel ada ketandusan dan penderitaan, tetapi Tuhan membangun kembali hidup mereka, sehingga mulut mereka penuh dengan tawa. Tahun baru Imlek merupakan suatu perayaan, mereka bersukacita karena bisa melewati musim dingin.

3 kata kunci:
1. Miracle of life, bukan perbuatan biasa, tetapi ditambahkan oleh Allah. Selama kita bersandar pada Dia pada masa “menabur” meskipun diiringi linangan air mata, tak akan kekurangan alasan bagi kita untuk bersyukur dan bersukacita. bukan perbuatan biasa, tetapi ditambahkan oleh Allah.
2. Modification, dari benih menjadi satu berkas, pekerjaan diberkati, hati penuh sukacita, kesaksian melimpah ruah. Modification, dari benih menjadi satu berkas, pekerjaan diberkati, hati penuh sukacita, kesaksian melimpah ruah.
3. The living seed. Pentingnya benih yang hidup, benih yang hidup akan menghasilkan hasil yang berlimpah. Benih yang dipilih Tuhan akan menjadi berkat bagi banyak orang. The living seed. Pentingnya benih yang hidup, benih yang hidup akan menghasilkan hasil yang berlimpah. Benih yang dipilih Tuhan akan menjadi berkat bagi banyak orang.

Kapan Tuhan memulihkan Sion? Kapan mulut mereka penuh dengan sorak-sorai. Ayat 2b, pada saat Tuhan bertindak, semua itu terjadi. Kata ‘memulihkan’: mengembalikan mereka sebagai suatu bangsa, pengertian kedua, kondisi mereka saat dibawah ke tanah mereka, mereka melihat keadaan tanah mereka porak poranda, tetapi mereka tetap percaya, Tuhan membawa mereka kembali maka Tuhan akan memulihkan segalanya. Jika ada benih yang dimiliki, ditabur, tetapi jika Tuhan tidak mengijinkan, maka tidak akan ada keberhasilan.

Ada 15 lagu ziarah, 7, ( 7 di depan, 7 di belakang, ke 8 ziarah dari Salomo) tuhan sbg penuntun, pemimpin, yg memberkati umat-Nya.
Kembali ke Yerusalem bukan berarti selesai semuanya, ada perjuangan yang harus dilakukan. Lagu ziarah ini adalah lagu yang dinyanyikan oleh mereka yang kembali ke Yerusalem. Mereka berharap yang belum kembali berani membayar harga untuk berani kembali.
Ada tiga istilah:
1. Impian, bermimpi untuk kembali ke tanah Israel, karena mereka menderita dan hidup dalam kegelapan. Oleh karena, mereka bermimpi untuk kembali ke tanah perjanjian Tuhan.
2. Setelah dpt berkat bgm? Berlutut, berdoa, pulihkanlah kami bagi mereka yg belum kembali! V 5 tdk bisa berhenti disitu saja,ada satu janji!
3. Berjalan : Keep life on, tetap berjalan dlm keadaan apapun juga!Bersorak sorai dan sukacita.