Jumat, 22 Januari 2010

MARI LIHATLAH
Yohanes 4:1-42



Pembahasan Firman Tuhan
Pooling Garut


“Mari lihatlah” (ayat 29) adalah seruan seorang Wanita Samaria yang menyaksikan pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan Yesus. Percakapan Yesus dengan wanita Samaria ini membuktikan bahwa Dia mengasihi semua manusia tanpa pandang bulu dengan tujuan untuk menyelamatkannya. Karena Ia datang untuk menyelamatkan orang yang terhilang (Luk. 19:10). Dalam kisah perjumpaan Yesus dengan wanita Samaria ini ada beberapa hal penting yang dapat kita pelajari:

I) Keselamatan bukan hasil usaha kita melainkan karena kasih karunia Tuhan (Yoh. 4:1-13).
Dalam kisah ini, Tuhan Yesuslah inisiator dari karya keselamatan. Dia proaktif mencari dan mendatangi orang berdosa. Dia melintas daerah Samaria dan mampir di kota Sikar untuk menjumpai seorang wanita Samaria. Dari pembicaraan soal air biasa, Yesus menuntunnya kepada air rohani. Sampai puncaknya, wanita itu disadarkan akan dosa dan kesalahannya dalam hal moralitas, lalu ia berotbat. Rasul Paulus menegaskan bahwa karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman; itu bukan asil usaha kita, tetapi pemberian Allah (Ef. 2:8-9).

II) Keselamatan yang Tuhan tawarkan menuntut respons iman secara pribadi (Yoh. 4:14-15).
Keselamatan diberikan kepada mereka yang mendengar berita Injil dan meresponinya dengan beriman kepada Kristus yang dibuktikan dengan penyesalan komitmen untuk bertobat dan hidup di dalam kebenaran dan kekudusan. Wanita Samaria itu begitu mendengar perkataan Yesus yang membuka segala rahasia hidupnya, lalu ia mengenal Yesus sebagai Nabi dan Mesias (ay.19, 29). Kisah ini menunjukkan bahwa untuk memperoleh air kehidupan (hidup kekal) maka kita harus menerima dan meminum air itu. Tindakan meminum bukan hanya sekali saja, melainkan tindakan yang bersifat kontinuitas dan konstan. Karena kata “minum” (Yun. pineto) adalah bentuk imperative masa kini yang berarti suatu tindakan yang berkesinambungan atau berulang kali. Ini menuntut persekutuan yang terus menerus dengan sumbernya yakni Yesus Kristus.

III) Keselamatan yang diterima harus disaksikan kepada orang lain (Yoh. 4:28-30; 38-42).
Setelah mendengar perkataan Yesus, mengalami sukacita besar, kemudian ia segera tinggalkan tempayannya dan segera pergi ke kota untuk menyaksikan Yesus kepada teman temannya (ay.28-30). Hasilnya: banyak orang Samaria menjadi percaya karena kesaksian wanita itu (ay. 38-42). Kita pun wajib memberitakan/ menyaksikan berita Injil kepada orang-orang lain mulai dari anggota keluarga sendiri, tetanggan dan teman-teman kita.

Ketidak mengertian perempuan Samaria terhadap Yesus adalah hal yang wajar, karena ia tidak mengerti siapa sebenarnya Yesus. Sebab fokus hidup perempuan samaria sama dengan kebanyakan orang pada umumnya yang tidak percaya Yesus. Orang yang belum mengenal Allah, hati dan pikirannya diselimuti tabir kegelapan dosa. Sehingga ia tidak tahu kebenaran dan tidak pemahaman tentang Allah. hidupnya penuh dengan kegelapan tetapi ia tidak merasa berdosa, karena itu adalah sebuah kewajaran dalam hidupnya. Melalui percakapan Yesus dengan perempuan Samaria, perempuan ini mengalami perubahan dalam hidupnya serta mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Allah.

Percakapan perempuan Samaria bersama Yesus membuka tabir pintu hatinya serta pikirannya yang gelap untuk mengenal Allah degan lebih jelas. Dia akhirnya memiliki paradikma yang baru dalam hidupnya dalam memandang kehidupan sehingga ada perubahan nyata dalam dirinya. Perubahan dalam hidupnya, menjadikan dia orang yang mewartakan keselamatan dalam Yesus kepada semua orang. Ia menjadi pribadi yang telah berubah dan telah diubahkan oleh Allah. Hidup yang berfokus serta memandang kepada Allah akan merubah seseorang dalam dirinya menjadi pribadi yang diperbaharui dalam Roh Kudus.

Sebenarnya perempuan Samaria mengalami dua kehausan yaitu secara jasmani dan rohani. Ia sadar kehausan jasmaninya sehingga ia mencari air meskipun dia harus menerima banyak cemoohan dari tetangganya karena kehidupannya yang tidak beres, tetapi ia tidak pernah sadar akan kehausan rohaninya.
Yesus datang menjawab dan memenuhi kehausan rohaninya sehingga perempuan itu menyadari bahwa kehausan jasmani bukan yang paling utama sehingga ia meninggalkan tempayannya dan pulang ke rumah untuk memberitahukan tentang Yesus.
Yesus bukan hanya menjawab tetapi Dia menyatakan diriNya secara gamblang bahwa Dia adalah Mesias hal ini merupakan hal yang besar karena jarang sekali Yesus menyatakan dirinya secara gamblang.

Pembahasan Firman Tuhan
Pooling Jakarta


Latar belakang: wanita pada zaman itu memiliki kedudukan yg rendah, dan seorang rabi juga pantang berbicara kepada wanita di depan umum, termasuk kepada istri dan anak perempuannya. Orang Samaria adalah orang Yahudi yang telah kawin campur dengan bangsa non-Yahudi. Itu sebabnya, orang Yahudi tidak mau berbicara dengan Samaria. Mereka sudah musuh puluhan tahun. Kalau seorang Yahudi menikah dengan Samaria, maka keluarga Yahudi itu membuat upacara pemakaman, dianggap sudah mati. Jalan menuju Galilia-Yerusalem harus melintasi Samaria. Tetapi Yahudi akan memilih jalan lain, tidak melintasi Samaria. Saat itu, ada seorang wanita yang dianggap sebagai wanita tidak terhormat. Tetapi Yesus malah mau berbicara dengan wanita itu. Percakapan Yesus ini menghasilkan:
1. Memperkanalkan Allah yang benar dan manusia harus menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran.
2. Membawa wanita itu kepada keselamatan, air hidup, dan tentang hidup yang kekal.
3. Membawa perubahan hidup yang besar bagi wanita itu. Meninggalkan tempayannya, dan memberitakan tentang Yesus kepada orang-orang yang mencibirnya.
4. Banyak orang percaya melalui kesaksian wanita itu.

Tuhan Yesus di sini memberi perhatian kepada individu dengan baik. Pelayanan di gereja harus meliputi bukan hanya kepada orang banyak, tetapi juga kepada pribadi. Dalam percakapan pribadi ini, Yesus melihat jauh ke dalam lubuk hati perempuan ini. Ketika berbicara air, Yesus menyentuh ada air yang tidak habis. Ini berbicara mengenai kebutuhan spiritual. Karena manusia sudah banyak kehilangan masalah ini. Berikutnya, dihadapan Yesus tidak ada satu hal yang tersembunyi bagi-Nya. Yesus tahu dengan jelas status wanita itu sebenarnya. Yesus ingin agar wanita itu tersadar dan mengakui dosanya. Yesus ingin supaya wanita itu menyadari bahwa ia butuh pengampunan dari Yesus. Lalu, ketika wanita itu mengenal Yesus ia mengalami perubahan hidup dan menyampaikan berita itu kepada orang lain.

Di sini ada satu fakta bahwa manusia selalu mencari kepuasan dan kebahagiaan. Ada 3 bidang yang dicari orang manusia: harta, kuasa (nama baik), kepuasan seksual. Perempuan Samaria itu mencari kepuasan semuanya itu. Tetapi sayang, wanita itu kehilangan hal yang penting dalam hidupnya, hal spiritual. Ia tidak sadar. Apa yang terjadi ketika bertemu Yesus?
1. Mata rohaninya dibukakan.
2. Iman dan pengharapannya dipulihkan oleh Yesus.
3. Ada perubahan konsep hidup yang merubah tingkah lakunya. Ia berani bertemu orang banyak dan mengabarkan kabar baik tentang Yesus.
4. Ia menjadi saksi Kristus dengan membawa orang lain kepada-Nya.

Nampaknya, ini buka sembarang perempuan. Ini buka kebetulan, tetapi sengaja bertemu dan berbicara dengan perempuan itu.
1. Perempuan itu membandingkan perkataan Yesus dengan nenek moyang mereka.
2. Perempuan itu membangdingkan Yesus dengan para nabi.
3. kebenaran. Paul Tilich mengatakan, “Kita tahu kebenaran, tetapi tidak bisa menghidupkan kebenaran.”

Philip Yancey dalam bukunya The Jesus I Never Knew pernah menceritakan ada seorang wanita yang datang kepada sahabatnya. Ia adalah wanita yang terjerat narkoba dan telah menjual anak perempuannya yang masih kecil kepada pria hidung belang hanya untuk membeli narkoba. Hidupnya hancur dan berantakan. Ia frustasi dan menangis dengan histeris. Ia sangat membutuhkan pertolongan. Teman Yancey mendengarkan dengan baik, lalu berkata kepada wanita itu: “Apakah kamu pernah meminta bantuan kepada gereja?” Jawaban yang diterima begitu mengejutkan. “Apa? Gereja?! Gereja telah membuat keadaan saya semakin lebih buruk?”. Ia tidak diterima kehadirannya di gereja, dan orang-orang gereja menjauhinya. Sering kali ketika kita melihat orang seperti ini kita membuat jarak, memisahkan diri, dan menganggap diri lebih baik darinya. Apa perbedaan kita dengan orang-orang dipenjara? Jawabannya: mereka ketahuan, kita tidak ketahuan! Di mata Yesus kita semua adalah orang-orang berdosa. Berhadapan dengan perempuan Samaria, Yesus mau berbicara dengan mereka, menyentuh kebutuhan hatinya, memberitakan kebenaran kepadanya, mengubah hidupnya, dan bahkan mau berbaur dengan warga Samaria dengan tinggal 2 hari ditengah-tengah mereka (ayat 40).

Dalam PI kita perlu meneladani Yesus:
1. Peduli kepada orang yang berdosa. Timbul belas kasihan kepada perempuan Samaria. Tuhan ingin melepaskan mereka dari dosa dan menerima keselamatan.
2. Kita meneladani Tuhan Yesus akan kerelaan-Nya. Ia memberikan waktunya, diri-Nya, meski Ia sendiri sangat lelah.
3. Ada kesabaran dalam diri Tuhan Yesus. Ia sabar membimbing perempuan Samaria sampai mengerti akan kebenaran.

Perempuan ini adalah perempuan Samaria, itu sebabnya ia tidak mati dirajam batu. Karena orang seperti ini di kalangan bangsa Yahudi sudah lama mati, bukan tunggu sampai suami ke lima atau suami orang. Peristiwa ini ada di luar garis bangsa pilihan. Namun hari ini, kita melihat sang pemberi kasih karunia itu mengunjungi-nya dengan kebenaran abadi yang tidak meyakiti tetapi memeperlihatkan / memaparkan sumber dimana persoalan / masalahnya. di sanalah ia perlu di sembuhkan dipulihkan.
Perempuan ini seorang yang:
Menikah 5 kali, dan sekarang hidup dengan bukan suaminya.
Ia seorang perempuan yang pintar secara budaya dan kultur (yahudi dan samaria)
Ia seorang perempuan yang mengerti tentang hal-hal rohani. Berbicara tentang penyembahan ia paham benar. Bahkan ia tahu bahwa suatu saat akan datang Mesias, Kristus. tetapi ia tidak mengenal Kristus.
1. Tuhan Yesus menemui setiap orang sesuai dengan kebutuhan pribadi seseorang.(apapun kebutuhanmu, sesungguhnya Tuhan Yesus perduli) bahkan kebutuhan yang menyebabkan orang mencari dan mencari dalam hidupnya sampai salah arah dan salah langkah, karena banyak orang tidak tahu kebutuhan yang utama dalam hidupnya. Itu sebabnya Ia berbicara tentang kebutuhan akan air. (minum air semua orang perlu, bahkan Yesuspun) tapi kebutuhan perempuan itu bukan air, ia ternyata membutuhkan air yang tidak pernah habis.
2. Tuhan Yesus memenuhi kebutuhan perempuan ini. Ia tahu hanya kasih karunia yang dibutuhkan oleh perempuan ini, semua dia punya. Pengalaman hidupnya cukup piawai, tapi ia salah memenuhi dirinya. Maka ia terus kering dan kehabisan.
3. Tuhan Yesus mengubah pola hidup seseorang yang tidak pernah mungkin di ubahkan oleh budaya, pengetahuan agama bahkan segala sesuatu yang diberikan oleh dunia ini termasuk kenikmatan seksual.

Dilihat dari sudut Tuhan Yesus: kata “Mari lihatlah” di sini mengacu pada lihatlah Yesus. Di media masa ada pemimpin di Cirebon yang menganggap diri sebagai nabi. Juga, kasus-kasus lain seperti Century. Yang terlibat adalah notabene adalah masuk kategori anak-anak Tuhan. Yesus yang kita percaya itu apakah Dia Tuhan yang benar? Lalu, mengapa orang-orang Kristen banyak terlibat masalah yang menyedihkan? Yesus yang kita percaya adalah benar Tuhan yang hidup. Kuasa-Nya nyata dan benar-benar hidup dalam diri orang percaya. Kata “lihatlah” dalam Injil Yohanes ada 7 kali. Yesus adalah Anak Domba Allah. Ini gelar yang disebut oleh Yohanes. Dihdapan Pilatus pun Yesus tidak ditemukan kesalahan apa-apa. Biarlah Yesus yang berkuasa itu kuasanya kita alami dalam kehidupan kita.

Wanita ini hebat dan juga wanita yg menjadi idola. Dia berusaha mencari pemenuhan kebutuhannya ia sudah mendapatkannya. Tetapi kebutuhan lain yang hakiki akan jiwanya belum dia dapatkan. Lalu dia bertemu dengan Yesus. Ketika bertemu dengan Yesus dia menemukan jawaban akan kebutuhan hidupnya yang mendasar itu. Waktu wanita itu melepaskan semua yang menjadi masa lalu hidupnya dan menemukan kebenaran dari Yesus, dia mendapatkan pengampunan. Dia akhirnya menerima Yesus. Orang yang merasa dirinya baik paling susah ditawarkan Yesus, sebaliknya orang yang hancur, berdosa, sangat peka dan butuh Yesus. Strategi Yesus bukan mencari orang baik2 melainkan orang-orang berdosa. Kepenuhan dari dunia menciptakan kekosongan, tetapi kepenuhan dari Tuhan mengajak orang lain.

Mari Lihat adalah perkataan perempuan Samaria untuk mengajak orang lain kepada Kristus. Pertama, dia sudah percaya pada Yesus dan mau rekan-rekannya itu membuktikan sendiri siapa Yesus itu sesungguhnya. Kedua, Kristus bukan hanya tahu dan mengerti tetapi juga mampu menolong. Ketiga, Yesus mampu mengubah hidup yang sia-sia, tidak berarti menjadi hidup yang berarti dan penuh pengharapan.

Pembahasan Firman Tuhan
Pooling Bandung


Dalam Yoh, Yesus dikenalkan sebagai anak domba Allah. Maka mulailah murid Yohanes Pembaptis mengikut Yesus. Sejak itu mereka mengenal Dia sebagai Mesias. Berkat ini tidak hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk orang Samaria yang terpencil. Tuhan beri berkat yang sama kepada orang Samaria melalui wanita yang hina. Orang Samaria adalah orang yang asing, terpencil, terhina oleh orang Yahudi. Ketika bait Allah dibangun kembali, orang Samaria tidak diizinkan ambil bagian. Maka mereka membangun bait Allah sendiri, di gunung Gerizim. Orang Samaria memegang hanya 5 kitab Taurat. Di dalam hidup mereka percaya bahwa Mesias akan datang dan mengungkapkan semua rahasia kepada mereka tentang hidup, ibadah, tata masyarakat, dsb. Mereka percaya ada Juruselamat yang namanya disebut sebagai pemulih bagi Samaria. Dia adalah bintang. Dia adalah taheb.
Wanita ini menimba air di siang bolong karena malu. Di ps.4 adalah istilah Yesus “harus” lewat Samaria. “Harus” artinya intensif, khusus, proaktif karena umumnya orang Yahudi memilih jalan lain. Dengan kata lain, Yesus khusus datang untuk menyelamatkan perempuan itu. Mula-mula Yesus dianggap sebagai musuh, kemudian tuan, nabi dan Mesias. Ketika ia bertobat, ia tinggalkan tempayannya. Artinya ia tidak lagi perlu air sumur sebab ia sudah dapat air hidup yang tidak akan membuatnya haus lagi. Ketika berjumpa Yesus, segala sesuatu menjadi suram dan tak berharga di bawah sinar kemuliaan Tuhan. Ia kenal Yesus sebagai Juruselamat, pemulih, penolong. Ay.28-30: orang Samaria tercengang melihat wanita berdosa ini bertobat. Mereka ingin tahu siapa yang membuat ia berubah. Maka ay.40-42, mereka undang Yesus untuk tinggal di situ dan mereka mengenal Yesus sendiri, bukan hanya mendengar.
Tentang wanita ini:
Seorang bejad moral, kesepian, bimbang, kecewa, rendah diri, malu, durhaka karena melampiaskan nafsu, cari kepuasan nafsu, mengambil hak orang lain karena merebut suami orang. Ia tidak punya suami yg betul mengasihi dia. Ia pernah bersuami 5 kali, berarti pernah lima kali gagal dan tidak puas. Tuhan Yesus meneropong ke dalam dia, sehingga yang tersembunyi terbongkar, sehingga ia mulai mengalihkan percakapan.
Konklusi kita: ia tidak dihina oleh Tuhan. Ia mengalami pembaruan: moralitas; kepuasan hati; keputusan yang indah; iman yang nyata; perubahan hidup yang berbeda; gairah dan dinamika utk menginjili; hidup yg cemerlang dan indah.
-
Lihat, artinya
1. Mari meneliti
2. Mari kita menentapkan suatu yang nyata
3. Alami sesuatu yang indah

Lihat = insight, sehingga tidak menyesal

Beri aku minum, kamu laki, aku perempuan samaria, tidak bergaul, tidak pakai benda sama-sama. Mengapa karena berkaitan dengan perbedaan, dan ada kecemaran yangterjadi. Namun Tuhan Yesus tidak memperbedakan.
Mari lihatlah, artinya?
Lihat Yesus, atau lihat saya melihat Yesus,

Karena Kristus sendiri, dan orang Kristen yang;
1. Penuh displin
2. antusias
3. bersatu
4. penuh harapan
5. Hidup penuh kekudusan
Tuhan Yesus, karena ajaran dan pribadi-Nya, ajarannya membawa kuasa mengajak, mengapa karena Keilahian-Nya.

Yesus paling tahu dengan tepat jalan menuju keselamatan.
Apa yang dianggap kelemahan manusia (minta minum) dipakai Yesus sebagai jalan pembuka untuk masuk dalam PI.
Yesus tahu keadaan diri seseorang yg tersembunyi sekalipun dan itu diungkap oleh Dia.
Yesus hadir dalam diri seseorang untuk membawa keselamatan, karena itu inti keselamatan adalah kehadiran Yesus sendiri.
Yesus harus diberitakan kembali oleh setiap orang yang telah percaya kepadaNya.

Tiga poin: (1) Yesus tidak pernah mengabaikan satu pribadi pun utk Ia jangkau dengan berita Injil. Kalau kita tidak meneladani Dia untuk menginjili siapakah kita. (2) Ketika Yesus mengungkapkan kebobrokan wanita itu, ia pun terbuka untuk dikonfrontasi shg ia bisa dibawa untuk mengalami keselamatan. (3) Ia bukan hanya terbuka pada apa yang Yesus katakan, tetapi meresponi.

Kisah perempuan Samaria ini berbicara tentang Yesus Juruselamaku (29), juga Juruselamat dunia (42). Neil T.Anderson: “Hubungan kita dengan Tuhan melalui Yesus Kristus merupakan batu penjuru dari identitas kita.” Perempuan Samaria punya dua masalah besar: tidak hidup benar dan tidak kenal Tuhan. setelah berjumpa dengan Yesus, ia mengenal Allah yang membawanya hidup benar.

Pola hidup perempuan Samaria: tidak kenal Tuhan yang benar tidak kenal diri (hidup di dalam dosa tanpa rasa salah)  tidak kenal tujuan hidup yang benar (hanya mencari kepuasan).
Pola yang Tuhan Yesus ajarkan: kenal Tuhan yang benar (Yesus Juruselamat)  kenal diri (sadar orang berdosa dan bertobat)  kenal tujuan hidup yang benar Tuhan dan melayaniNya).

Sejak ia bertemu Yesus, Ia rela tinggalkan tempayan untuk menceritakan tentang Yesus. Tujuan ambil air penting, ttp setelah bertemu Yesus, Yesus lebih penting baginya.

Mari lihatlah: (1) ayat 27 : ungkapan "heran" dari murid-murid menunjukkan keheranan lebih dari pada sekedar kemungkinan mengenal siapa wanita ini yang hidupnya
sangat rusak. Keheranan lebih terkait:
a. orang Yahudi yang anggao orang Samaria sebagai orang kafir atau bukan
bagian dari umat Allah. kebencian orang Yahudi sangat nyata kepada
orang-orang Samaria.
b. peraturan Rabi Yahudi bahwa ada larangan seorang pria berbicara
dengan perempuan bila masing sudah berkeluarga ditempat seperti
penginapan.
Namun keheranan murid2x mengambarkan kekontrasan sikap dan perlakuan
Kristus kepada semua orang termasuk seperti perempuan samaria. Nilai
kasih Allah dipresentasikan oleh Kristus
(2) ayat 29 "Mari, Lihat"
Sebuah share wanita samaria ini ditengah pengetahuan orang banyak
tentang hidupnya. Share yang merupakan gambaran yang mengesampingkan
ketakuta ditolak, dicerca dan dipertanyakan.
Berarti wanita samaria ini telah mendapatkan yang lebih berarti untuk
dirinya daripada segala yang didapatkan selama ini dalam kepuasan diri.
Itulah sebabnya dia berkata Mungkinkan Kristus, sebagai penegasan
betapa sebenaranya dia tidak layak namun kasih Allah datang kepadanya.
(3) ayat 42 ungkapan orang banyak bahwa mereka percaya bukan sekedar yang
dikatakan wanita samaria.
Ini memperlihatkan betapa terlihat perjumpaaan orang lain dengan
Kristus karena fakta terbuktinya bahwa perjumpaan dengan Kristus
merupakan yang terindah. orang banyak mendapatkan konfirmasi dari
kehidupan perubahan dari wanita samaria ini.

Ketika perempuan Samaria ini bertemu Tuhan, pengenalannya berkembang. Pertama, seorang Yahudi, seorang musuh. Lalu setelah interaksi, ia mengenal Yesus sebagai nabi. Lalu ia mengenal Yesus sebagai Mesias.

Mari lihatlah, adalah seruan yang antusias, yang menggerakan dia. Ia meninggalkan untuk mendapatkan, bukan hanya hidup kekal, tetapi jiwa-jiwa yang belum percaya. Ia membawa berita tentang suatu Pribadi yang mengubah hidupnya.
Mungkinkah Dia Kristus? Konsekuensi bagi wanita ini adalah perubahan dalam hidupnya.

Orang Yahudi menganggap rendah dia karena: (1) wanita (2) orang Samaria (3) kegagalan hidup (4) orang tersisih dalam masyarakat, kesepian. (5) seorang yang terikat belenggu dosa. Untuk orang seperti ini, Yesus harus melintasi. Keharusan yang bertujuan untuk mencari dia. Juruselamat adalah yang: lintas gender, budaya, sosial, usia.

Dalam dunia yang dehidrasi
Mari lihat, mari datang pada Yesus. Ketika kita datang pada Yesus, kita diteropong shg dapat lihat diri sebenarnya. Hati, jiwa merana shg tidak bisa pancarkan kemuliaan Allah.
Mari datang, mari minum. Yesus adalah solusinya. Yesus sumber air hidup yang tidak akan berhenti.
Mari bagi. Orang yang bertemu dengan air hidup akan naturally berbagi.
Banyak orang Kristen tetap kering kerontang shg tidak dapat berbagi.

Mari lihat!
Yesus yang kenal dan peduli kepadamu.
Yesus sanggup ubah hidup orang berdosa dan hidupmu.
Yesus yang memampukan orang bersaksi.

Kedatangan Yesus memberikan world view / cara pandang *) yang baru :
1. Exclusivisme menjadi Inclusivisme,
Perjanjian dengan Allah bukan tertutup hanya bagi bangsa Yahudi, dan ditengah isu gender (pria lebih utama dari wanita), telah berubah menjadi terbuka juga bagi semua orang bahkan yang dipandang paling hina pada zaman itu termasuk Samaria. Demikian pada konteks zaman ini anugerah Allah diberikan kepada seluruh bangsa di dunia ini (bdk Yoh 3:16, Roma 10:12). Para penulis Injil dan Yesus selalu memberikan kontras bahwa justru orang-orang Samaria (bdk Samaria yg baik hati), pemungut cukai yang berdosa, juga orang-orang Majus justru yang memiliki respon terhadap anugerah Allah.
2. Makna Textual menjadi makna kontextual,
Pengertian air hidup bukan sekedar makna harafiah yang dapat melepas dahaga secara jasmani, melainkan air hidup yang memiliki makna rohani dimana hanya oleh anugerah Allah hasrat manusia untuk memperoleh arti hidup dapat terpuaskan (bdk Kerajaan Allah menurut orang Yahudi adalah pemulihan kembali pada kejayaan Daud, tetapi menurut Yesus kerajaanNya tidak sama dengan dunia ini; Allah mengumpulkan umat pilihanNya, menurut orang Yahudi mereka akan dikumpulkan balik ke Yerusalem, ternyata yang dimaksud umat pilihan adalah seluruh orang yang percaya).
3. Nilai yang Paling Berharga.
Yesus adalah air hidup yang sejati, yang mampu memuaskan dahaga jiwa.Hal yang dipandang rendah oleh dunia, justru di dalamnya tersimpan rahasia Kemuliaan Allah dimana kedatangan dan pelayanan Yesus ditolak justru oleh orang-orang Yahudi, tetapi ternyata disitulah anugerah Allah dinyatakan.
4. Respon manusia : bukan sekedar rasionalisne,tetapi mencakup empirisme.
Anugerah Allah bukan sekedar dipahami, melainkan juga harus diterima secara pribadi sehingga mampu menyampaikan kepada orang lain. Perempuan Samaria mengalami semuanya itu dan menceritakan kepada orang-orang Samaria yang lain sehingga mereka menjadi percaya (Yohanes 4:39)