Sabtu, 28 Maret 2009

SAATNYA DIMULIAKAN

SAATNYA DIMULIAKAN
Yohanes 12:20-36

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
25 Maret 2009
Yohanes 12:19, diakihir dengan kalimat pernyataan ” lihatlah, semua dunia datang mengikuti Dia” . Ayat 20-22 adalah percakapan murid-murid Yesus dengan orang Yunani, dan mereka meminta untuk bertemu Yesus.
Tetapi Yesus tidak meresponi mereka namun mulai berbicara ayat 23, ”Telah tiba saatnya Anak Manusia di muliakan”.
Joh 12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Yesus bicara tentang hari kematian-Nya di kayu salib semakin dekat.
Dan kemtaian-Nya di kayu sakib dikaitkan dengan saatnya kemuliaan
1. Tidak ada kemuliaan tanpa salib, harus menyangkal diri memikul salib bisa memuliakan Yesus.
2. Membawa dunia datang kepada Kristus melalui salib. Pemberitaan salib harus menjadi pusat pemberitaan untuk membawa dunia kepada Kristus
3. Hanya dengan meninggikan Kristus yang di salib, maka kita bisa membawa dunia datang kepada Kristus dan memuliakan-Nya bagian ini Yesus ingin menegaskan tentang berkata bahwa ini waktunya disalib.
Hanya dengan mencintai Tuhan kita dapat mencitai diri kita dengan benar dan mencintai orang yang kita cintai dengan tepat.
Yesus mengosongkan diri = tak mencintai diri.
James Elliot mengatakan, ”Orang yang bijak adalah orang yang tak mempertahankan apa yang tak mungkin dipertahankan.” Semua orang pasti mati, bedanya mati karena apa?
Mati karena kekenyangan, keenakan, atau mati karena Tuhan?

Diceritakan di sini bahwa orang Yunani datang kepada Filipus. Mengapa harus ke Filipus? Penafsir mengatakan bahwa Filipus adalah nama Yunani, jadi orang Yunani datang kepada orang Yunani. Filipus datang pada Andreas. Andreas adalah nama Yunani. Filipus dan Andreas membawa orang-orang itu pada Yesus. Banyak orang tak bisa membawa / mempertemukan orang pada Yesus.
V 23, ”Telah tiba saatnya,” Yesus berkata berkali-kali bahwa waktu-Nya belum tiba. Tapi di sini, sekarang waktunya telah tiba.
”Dimuliakan” = konsep pendengar Yesus waktu itu berbeda dengan maksud Yesus. Pendengar menganggap bahwa dimuliakan = penjajah akan dikalahkan / bertekuk lutut. Tapi maksud Yesus adalah kematian-Nya.
V 24, biji itu harus mati, sama seperti Yesus yang harus mati, supaya Ia harus menghasilkan banyak buah.
V 25, barangsiapa cinta nyawanya akan kehilangan. Ini diucapkan Yesus berulang-ulang (Mis.: Lk. 17:33), menunjukkan kalimat ini sangat penting, maka diulang-ulang.
Mencintai nyawa = egoisme dan keinginan merasa aman.
Melalui kalimat ini, Yesus berkata bahwa kita harus rela mati bila memang itu berguna bagi Tuhan.

Apa yang ditawarkan Yesus ini bukan jalan yang populer. Dunia menawarkan jalan instant, mudah, enak, etc. Dunia menawarkan bahwa orang umur 40 ke atas kalau bisa tak usah bekerja lagi. Maka bisnis MLM begitu populer. Mengorbankan orang lain tak apa, yang penting diri sendiri mencapai sukses dan pensiun dini.
Yesus menawarkan jalan yang berlawanan dengan jalan dunia.
Mario Teguh begitu populer, mengapa banyak pendeta yang mengabarkan nilai-nilai yang jauh lebih dalam dari Mario (berasal dari Alkitab) koq kurang populer?
Mario bicara mengenai hal yang umum dan dengan skill komunikasi yang baik.

Manusia memang suka langsung hasilnya, tapi tak mau prosesnya. Tuhan berkata bahwa jalan kemuliaan itu lewat proses jalan penderitaan. Kalau mau dimuliakan, kita harus lewat proses mati terhadap dosa.
Harga yang harus dibayar ”Tidak seberapa,” karena 1 yang mati, tapi dilipatgandakan. Seperti anak kecil menyerahkan 5 roti dan 2 ikan, diserahkan pada Tuhan, maka bisa berlipat ganda.

Yesus melalui kematian untuk memperoleh kemuliaan. Saat kita menerima Yesus = kita mematikan si aku yang lama. Kalau kita mematikan si aku yang lama, maka kita akan bertumbuh, dan akan bertambah-tambah karunia rohani, sehingga kita bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Orang yang begini tidak egois, bahkan rela menyerahkan nyawa bagi orang lain. Wan cheng ta wo, xi sheng xiao wo.

Telah tiba saatnya = merujuk pada peristiwa yang belum terjadi, yaitu kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya dan kedatangan-Nya. Ke 3 hal itu merupakan 1 kesatuan.
Melalui kalimat itu, Yesus ingin mengatakan bahwa hidup itu datang melalui kematian. Hal ini sulit dimengerti manusia, karena manusia berpikir bahwa setelah mati, ya selesai, tak ada hidup. Mati = tak ada hidup. Tapi, melalui salib, hal yang paradox ini, menjadi kebenaran.
Kematian Yesus disamakan dengan biji gandum yang mati = Yesus taat pada Bapa untuk mati bagi umat manusia. Melalui kematian-Nya ada banyak buah / keselamatan.
Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi Yesus, tapi juga bagi kita. Kita harus rela berkorban untuk injil, sehingga banyak orang diselamatkan.

No cross, no crown. No guts, no glory. Tanpa salib, tak ada kemuliaan. Melalui salib, Yesus menunjukkan ketaatan, kesetiaan dan kuasa yang sempurna.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum’at, 27 Maret 2009

Konteks dari perikop ini (Yoh. 12:20-36) adalah dimulai dari pelayanan Tuhan Yesus yang membangkitkan Lazarus dari kematian. Mukjizat ini menarik banyak orang Yahudi termasuk orang Yunani datang percaya kepada-Nya (Yoh. 12:11, 17-19). Kemudian Yesus memasuki kota Yerusalem disambut dengan puji-pujian (Yoh. 12:12-19). Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan, mengapa?

1. Karena Yesus akan segera mati, bangkit, dan dimuliakan di sorga (Yoh. 12:16, 23, 33; 17:1, 5; bdk. Why. 5:6-14)à Ini adalah fokus kepada pribadi Yesus Kristus yang dimuliakan, setelah melakukan karya penebusan dosa manusia melalui kematian, dan kebangkitan-Nya dari kematian. Istilah “dimuliakan” Yun. verb. “doxazō” (to render glorious, full of glory, honour and magnify), artinya: diberikan kemuliaan, dipenuhi oleh kemuliaan, hormat dan keagungan. Noun: Yun. “doxa” (glory, honour, dignity, praise, worship; God’s glory, God’s splendor). Dengan kata lain, Yesus menjawab mereka, bahwa waktunya sudah tiba untuk membuka jalan kepada Allah bagi orang-orang percaya Yunani (Gentiles) dan Yahudi (Jewish) dan menyatukan (to fuse) mereka ke dalam satu tubuh, yaitu tubuh Kristus melalui pengorban-Nya di kayu salib (Yoh. 10:16).

2. Karena melalui kematian Yesus banyak orang akan diselamatkan dan memuliakan Tuhan (Yoh.12:24-25) Fokus pada poin ini adalah bahwa kematian Kristus, tidak hanya membawa kemuliaan bagi diri-Nya sendiri, tetapi juga mendatangkan kemuliaan bagi banyak orang. Manusia berdosa seharusnya mati, binasa dan masuk dalam hukuman di neraka, tetapi kini mereka dapat diselamatkan, dimuliakan dan membawa kemuliakan bagi Allah.
Yesus menggambarkan tujuan kematian-Nya dengan memakai istilah perkebunan atau anatomi tanaman, yaitu sebutir biji gandum. Jika satu biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, maka ia akan menghasilkan banyak buah. Demikian juga dengan Kristus. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia akan menyelamatkan banyak orang berdosa dan mereka akan memuliakan Allah. Kematian dan kebangkitan Kristus menunjukkan bahwa Ia telah membayar hukuman dosa kita dan bahwa Ia berkuasa terhadap kematian serta membuktikan Ia memiliki hidup yang kekal karena Dia adalah Allah. Karena itu, Tuhan Yesus berkuasa memberikan hidup yang kekal itu kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Mengenai tujuan dari kematian Kristus, John F. Walvoord (The Bible Knowledge Commentary: Victor Books, 1983) menulis: “His (Jesus) death led to glory and life not only for Himself but also for others.” Pada ayat 25, Tuhan Yesus berkata, “Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Istilah “tidak mencintai nyawanya” tidak berarti kita boleh bunuh diri, tidak perduli dengan hidup ini, dan boleh menghancurkan hidup yang Tuhan beri ini. Tetapi, dipakai sebagai perbandingan dengan tindakan Kristus yang rela berkorban dan mati bagi kita. Ini berarti: kita juga dituntut mau dan bersedia mati demi iman atau keyakinan kita dalam Kristus, jika hal ini memuliakan Kristus. Dengan kata lain, seorang Kristen tidak lagi hidup mengutamakan dirinya sendiri, tetapi mengutamakan kepentingan orang lain. Dia menjadikan Kristus sebagai tuan dan Tuhan di atas kepentingan pribadi. Karena itu, serahkanlah diri saudara kepada Kristus yang mengontrolnya, maka hidup kekal dan abadi menjadi milik saudara.
Kesimpulan: Tuhan Yesus berkata: “Saatnya Ia Dimuliakan” karena?
1. Ia akan segera mati, bangkit dan dimuliakan di surga.
2. Melalui kematian-Nya banyak jiwa diselamatkan dan akan memuliakan Allah.

Perkataan Tuhan Yesus ”Telah tiba anak manusia dimuliakan” menurut Alkitab New International Version Tuhan Yesus sedang berbicara mengenai kematian dan kebangkitannya. Kedatangan orang-orang Yunani, juga berbicara mengenai cakupan keefektifkan dari penyaliban Tuhan Yesus. Artinya, kematian dan kebangkitan Yesus juga ditujukan untuk bangsa-bangsa lain.

Sudah tiba saatnya, yaitu kematian Tuhan Yesus. Saat itu dinyatakan sebagai saat kemuliaan Kristus, dimana Kristus sebagai sumber kehidupan baru bagi siapa yang mau mengikut Dia dan melayani Dia. Dalam bagian sebelumnya orang-orang Farisi berkata : “Lihat, seluruh dunia datang mengikuti Dia.” Dalam Ay 20 dikatakan ada beberapa orang Yunani yang mendekati para murid dan mengajukan permintaan : “Tuan, kami ingin bertemu Yesus”. Ketika murid-murid memberitahukan hal itu kepada Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus mengatakan “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.”
Sebelumnya selalu dikatakan saatNya belum tiba ( 7:30, 8:20)
Saat kematian Tuhan Yesus digambarkan sebagai saat pemuliaanNya (ay 24)
Pertama : Karena ada kaitan erat antara salib dan kebangkitan, diantara penderitaan dan pemuliaan.
Kedua : Kematian Tuhan Yesus digambarkan seperti jatuhnya biji gandum ketanah kemudian bertumbuh dan berbuah banyak. Gambaran biji gandum sering dipakai para rabi Yahudi untuk menjelaskan kebangkitan. Sama seperti biji gandum yang jatuh ketanah dan mati, namun kemudian tumbuh, demikian juga orang-orang yang beriman itu akan mati, namun nanti akan bangkit dalam kemuliaan. Tuhan Yesus mengkaitkan gambaran yang sudah dikenal tersebut, dengan mengkaitkan kehidupanNya, melalui kematianNya akan menghasilkan buah yang berkelimpahan. Apa yang dikatakan Tuhan Yesus terhadap diriNya juga berlaku bagi murid-muridNya.
Biji gandum yang jatuh ketanah dan mati untuk menghasilkan buah yang banyak antara lain :
I. Mengambarkan karya penyelamatan Tuhan Yesus yang mati, bangkit, dan naik ke Sorga.
II. Mengambarkan jalan yang juga harus ditempuh oleh orang-orang yang percaya, karena relasi yang erat antara Tuhan Yesus dan jemaat.
III. Mengambarkan gereja yang missioner berarti menjadi gereja seperti biji gandum yang jatuh ketanah dan mati untuk menghasilkan buah bagi banyak orang.
Pertama, kemuliaan Kristus berhubungan erat dengan kemuliaan salib Kristus itu sendiri. Kedua, kemuliaan berkaitan dengan pelayanan. Barangsiapa melayani Aku ia akan dimuliakan Bapa. Pelayanan ini juga mencakup pelayanan penginjilan kepada orang-orang Yahudi dan Yunani. Ketiga, tujuan akhir dari pelayan adalah Allah Bapa dimuliakan.

Winston Churchill: We make a living by what we get. We make a life by what we give. Hidup yang bermakna agung adalah hidup yang memberi. Dalam bagian ini Yesus mengajarkan paradoks bahwa: mati adalah jalan untuk hidup, direndahkan untuk ditinggikan, dihina untuk dimuliakan, menderita untuk mengalami kebahagiaan.

P.T. Fouryth (teolog Inggris): ”Bagi kita Kristus adalah salib-Nya. Keseleuruhan Kristus baik di sorga atau di bumi terletak di dalam apa yang Dia kerjakan di atas salib. Kita belum mengerti tentang Kristus sampai kita mengerti arti salib-Nya.” Dalam Injil Yohanes, penekanan tentang Messias yang menderita. Kayu salib merupakan berita yang santer! Dan itulah tujuan utama dari Yohanes: Kristus yang menderita dan dimuliakan yang puncaknya adalah kayu salib. Kita tahu bahwa kisah Injil adalah kisah kayu salib. Injil ditulis pada akhirnya adalah untuk mengisahkan tentang kayu salib. Injil Yohanes adalah kisah salib itu sendiri. Dan itulah saat-Nya, Kristus memperoleh kemenangan mutlak, dan Ia mendapatkan kemuliaan yang diberikan oleh Bapa-Nya. Rasul Paulus mengatakan, ”Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia, dan mengaruniakan nama di atas segala nama.”

Puncak dari popularitas Yesus sampai didatangi oleh orang2 Yunani. Nampaknya mereka adalah para pembesar karena ada semacam protokoler. Dalam kondisi ini TY tidak terpancing jatuh dalam popularitas. Murid-murid ingin terkenal, tetapi TY malah lebih mempersiapkan kematiaannya. Yang sulit adalah menangkap perasaan TY ketika Dia berkata ”Saatnya akan tiba untuk dimuliakan”. Murid-murid tidak bisa menyelami hal itu.

Fokus dari pernyataan Tuhan Yesus itu adalah soal kedatangan-Nya ke dunia. Apa yang dibicarakan di sini berbicara dua hal: Pertama, berkorban untuk orang banyak. Kedua, menggenapi rencana Allah untuk melayani manusia. Makna telah tiba saatnya bisa dikontraskan dengan ayat 43, bukan dalam arti menjadi terkenal, tetapi menggenapi kehendak Allah Bapa, datang ke dalam dunia, mati bagi umat manusia. TY juga datang untuk menjadi terang bagi umat manusia. Dengan kematian-Nya banyak orang akan diselamatkan, sama seperti biji gandum yang jatuh dan mati.

Enam karya Keselamatan:
Humiliation (kehinaan)
Inkarnasi
Kematian
Turun Ke dalam Kerajaan Maut
Kemuliaan (exaltation)
d. Kebangkitan
e. Naik Ke Sorga
f. Datang ke 2 Kali

Dalam bagian ini ada dua hal penting: Ada penyertaan Tuhan dan akan dihormati Allah Bapa. Kalau mau disertai dan dihormati Allah Bapa, dia harus mengikuti Aku. Analoginya seperti biji gandum, dari tempat/posisi di bawah, mati, baru bisa ditempati di atas, atau dimuliakan. Analogi ini sama dengan proses bagaimana Kristus dimuliakan. Secara teori hal ini gampang dibicarakan, tetapi realitanya sangat sulit. Yesus pernah berkata, ”Jiwaku terharu” dalam bahasa Mandarin disebut ”Jiwaku sedih sekali”. Yesus tahu akan tujuannya datang ke dalam dunia ini, mati, disalibkan bagi umat manusia.

Minggu ini adalah minggu Palm. Minggu Palm mengingatkan jemaat untuk mempersiapkan diri untuk menyambut Kristus. Ada istilah Efipani, kunjungan, di mana sama seperti seorang raja yang sedang menaiki kuda, berarti ada berita bahaya atau menyedihkan. Kalau naik keledai, itu berarti ada berita sukacita. Bagian perikop ini merupakan saat-saat yang menegangkan dimana Tuhan Yesus akan mengakhiri pelayanan-Nya dan menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Ini juga berarti, apa yang sudah Tuhan Yesus lakukan adalah hal yang sempurna, dan siap menerima kemuliaan.

Mengapa hidup Yesus sangat mulia?
Yesus melepaskan haknya sebagai Anak Allah, keseteraan dengan Allah Bapa pun dilepas-Nya.
Yesus memberi hidup-Nya. Lih. Ayat 25. Yesus memberi hidupnya sehingga lewat kematian-Nya menjadikan orang lain hidup.
Yesus melayani umat-Nya. Lih. Ayat 26. Yesus memenuhi setiap kebutuhan hidup umat-Nya.

Banyak orang berbicara kehormatan dan kekuatan bila mereka memiliki harta benda, uang, dan kekayaan lainnya. Di dalam perikop ini kita melihat cara Yesus yang sangat berbeda. Untuk dimuliakan Tuhan Yesus taat dan tunduk pada kehendak Allah Bapa. Melaluinya kita juga bisa belajar bagaimana melayani Allah dengan benar, hidup dengan benar dihapan Allah, dan berkenan dihadapan Allah.

Para Yunani itu kemungkinan adalah orang terkenal, dan tenar maka mereka ingin bertemu dengan Yesus yang terkenal. Tetapi pada saat ini Yesus sedang memberitakan tentang kemuliaan yang tidak sama dengan yang manusia kenal tentang kemuliaan. Manusia mengenal kemuliaan itu semuanya bagi diri sendiri, bagi ketenaran dan kehebatannya. Tidak jarang untuk mendapatkan kemuliaan itu bagi dirinya, manusia rela mengorbankan orang lain demi kemuliaan bagi dirinya. Tetapi kemuliaan yang dikatakan dan dijelaskan oleh Yesus, sangat berbeda dari konsep kemuliaan dunia. Ia membicarakan inti kemuliaan yang sejati:
1. Kemuliaan itu adalah karya penyelamatan à Ia layak di muliakan karena Ia menyelamatkan orang berdosa dan bukan justru mengorbankan orang lain untuk mencapai kemuliaan bagi dirinya.
2. Kemuliaan itu adalah kematian dan kebangkitan à Ia memberikan diri-Nya sebagai korban bagi orang berdosa. Ini standart kemuliaan yang tidak dapat dicapai oleh siapapun.
3. Kemuliaan itu adalah melayani Dia, menurut Tuhan Yesus. à orang yang melayani Bapa harus mengikuti Yesus. Dihormati oleh Bapa adalah kemuliaan yang bukan dari dunia ini.
Kalau orang ingin bertemu dengan Yesus karena popularitas dan ingin menunjukkan kemuliaannya, ia tidak akan pernah bertemu dengan Yesus dan malah Yesus tidak akan pernah ditemui, tetapi pertemuan dengan Yesus tanpa popularitas adalah pertemuan yang berkualitas yang menyebabkan kita mengerti bahkan mengenal makna kemuliaan yang Yesus sampaikan.

Di Filipina biasa dilakukan peristiwa penyaliban, di mana ada orang-orang yang rela disalib. Tujuan dari orang-orang yang melakukan itu adalah ingin merasakan bagaimana Yesus itu disalib. Orang-orang Katolik pun kadang bisa mengalami apa yang disebut: stigmata (ada tanda-tanda penyiksaan penyaliban). Tetapi kemuliaan Yesus dilakukan dengan pengorbanan dirinya dan penggantian hukuman yang seharusnya diterima oleh orang-orang berdosa.

Sabtu, 21 Maret 2009

KEHILANGAN KEMULIAANNYA

KEHILANGAN KEMULIAANNYA
Roma 3:21-31
Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
Kamis, 19 Maret 2009
Dalam perikop ayat 21-26, Paulus menekankan mengenai suatu masa baru, yaitu masa Mesianik. Dalam sejarah keagamaan Yahudi ada 3 zaman, yaitu zaman pra taurat; zaman taurat dan zaman Mesianik.

Dalam zaman Mesianik ini ada kontras antara keberdosaan manusia dan kesucian Tuhan.
Seluruh umat manusia telah berdosa.
Bukan pengalamannya berdosa, tapi sifat dosa itu (sinful nature).
Karena sinful nature itu, maka manusia tak berdaya untuk melepaskan diri dari belenggu / kuasa / hukum dosa.
Keterpisahan manusia dari Allah.
Manusia dengan kekuatannya sendiri tak mampu bersekutu dengan Allah yang kudus.
Allah menghukum dosa berdasarkan keadilan-Nya.
Berita pengharapan.
Ada jalan penebusan / pendamaian bagi manusia yang berdosa, yaitu dalam Kristus melalui iman.
Manusia harus menerima fakta kematian Yesus bagi dirinya.
Apa artinya beriman pada Kristus?
Beriman bukan hanya mengetahui secara rasio / pikiran, tapi dengan penuh kesadaran mengakui, menerima bahkan menyerahkan dirinya secara utuh kepada Kristus.
Konsekuensi iman adalah orang tersebut selalu taat pada perintah / Firman Tuhan.
Ia tunduk / mengakui otoritas Tuhan.
Ia mempasrahkan diri kepada kehendak Tuhan.

Kehilangan kemuliaan Allah = manusia jatuh dalam dosa, maka akibatnya:
Kita tak kenal Allah.
Manusia tak jelas mengenai dunia roh / rohani: Allah, malaikat, setan, Sorga, neraka, etc.
Manusia berpikir bahwa setelah meninggal, semuanya habis.
Kita tak kenal diri sendiri.
Manusia tak jelas apa itu benar / salah. Sehingga ia jatuh lagi dan lagi dalam dosa. Mis.: Karena keinginan mata (Hawa), keinginan daging dan keangkuhan hidup (I Yoh. 2). Manusia tak bisa menggunakan dengan baik-baik untuk hal yang baik semua keinginan itu.
Mis.: Hari Minggu tak bisa digunakan sesuai keinginan kita: rekreasi, bisnis, etc.
Bahkan dosa dilakukan dalam hal kecil: meludah di jalan, buang tissue di ruang kebaktian.
Dosa adalah dosa. Dosa bukan kelemahan. Manusia mencari self excuse dengan mengatakan, ”Kita kan masih manusia.”
Semua dosa pasti ada akibatnya.
Syukur pada Tuhan bahwa ada Yesus yang mau menebus / menggantikan kita. Penebusan Tuhan bukan pembatasan terhadap keinginan kita, tapi menjadikan hidup kita indah.
Kebebasan yang sejati adalah bisa melakukan dan bisa tidak melakukan.

Ada 3 kata yang akan kita bahas:
Dosa.
V 23 berkata bahwa ”Semua orang” telah berdosa.
Semua orang = bukan hanya orang bangsa tertentu / usia tertentu / keadaan ekonomi tertentu, tapi semua.
Banyak orang merasa tak berdosa, karena dosa dikaitkan dengan perbuatan. Mereka berkata bahwa mereka tak berbuat zinah, bohong, etc.
Padahal dosa itu tak memenuhi target Tuhan (hamartia).
Kemuliaan.
Kehilangan kemuliaan Allah = manusia tak bisa memenuhi standart Allah, kekudusan, terang.
Kasih karunia.
Syarat keselamatan itu hanya kasih karunia, bukan iman + perbuatan baik.
Banyak orang dalam katekisasi, waktu ditanya bagaimana caranya diselamatkan, menjawab iman + perbuatan baik.

Ada 2 jalan:
Jalan taat pada hukum taurat.
Orang Yahudi sangat bermegah atas ketaatannya pada hukum taurat.
Tapi, Paulus berkata bahwa semua orang telah dibawah kuasa dosa (Rm 3:9-18). Rasa takut pada Allah sudah tidak ada. Orang Yahudi mungkin ”Bisa” melakukan hukum taurat, tapi
Jalan kasih karunia.
Menekankan pada apa yang Allah telah lakukan untuk manusia, yaitu jalan penebusan / pendamaian.
Istilah-istilah itu adalah istilah dalam pengadilan.
Allah dalam kemurahan-Nya yang besar telah memperlakukan sebagai orang yang tak pernah berbuat salah (not guilty). Dibebaskan / dimerdekakan dari semua tuduhan.
Bahkan korban pendamaian itu memadamkan murka Allah.

Akibat manusia jatuh dalam dosa adalah sangat mengerikan. V 23 memberi tahu akibat jatuh dalam dosa, yaitu kehilangan kemuliaan Allah.
Kehilangan (husteronte) = gagal memperoleh terang cahaya kemuliaan / kehormatan Allah.
Manusia yang seharusnya bisa bersekutu dengan Allah, tapi karena dosa manusia kehilangan bagian dalam kemuliaan Allah. Kehilangan persekutuan dengan Allah. Sebagai gambar Allah, manusia seharusnya bisa bersekutu dengan Allah, tapi karena dosa, maka manusia kehilangan hal tersebut.

Kemuliaan Allah juga berhubungan dengan kekudusan Allah. Manusia bisa mendapat kekudusan, hanya jika hubungannya dengan Allah dipulihkan. Seperti Musa yang hidup dalam persekutuan dengan Allah di atas Allah, maka wajahnya bersinar.

Dalam Rom. 3:23 merupakan kesimpulan dari romasa pasal 2, Paulus memberi kesimpulan bahwa dosa itu universal. Semua orang, baik beragama atau tidak beragama / , beradab / biadab, berpendidikan atau tidak, pejabat atau rakyat, kaya atau miskin etc., semua orang telah berdosa.
Dosa itu sangat serius itu sebabnya di kaitkan dengan kehilangan kemuliaan – Allah, jadi dosa pertama berkaitan dengan Tuhan. Karena Dia menciptakan manusia sebagai gambar & rupa Allah tetapi manusia memberontak melawan maksud sang Pencipta
Zaman ini banyak orang menganggap dosa tidak serius, karena hanya di lihat dari sudut pandang disiplin ilmu, sosilogi, psyikologi, pendidikan, politik, dan filsafat dan bahkan agama Mereka menganggap bahwa dosa itu kelemahan manusia, kegagalan lingkungan, kesalahan masyrakat. dst
Dosa itu tak pernah mereka kaitkan dengan diri sendiri dan Tuhan. Tapi, Paulus mengatakan bahwa karena dosa, manusia telah kehilangan fungsi diri sebagai reflektor Allah.
Dosa bukan di luar manusia, tapi diri manusia itu sendiri yang berdosa.
Paulus juga bergumul dengan dosa. Setiap kali ingin berbuat baik, ada dosa juga (Rm 7).
Hanya Kristus satu-satunya yang bisa memulihkan / mengembalikan kemuliaan Allah dalam diri manusia. Bukan karena jabatan, pendidikan, pengaruh, kekayaan- kepopuleran.

Raja Belsyasar dinilai / ditimbang Tuhan ternyata tak memenuhi syarat. Orang Islam memiliki konsep bahwa orang bisa masuk Surga dengan cara ditimbang. Tapi, menurut Tuhan, semua orang telah ditimbang dan tidak memenuhi syarat.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum’at, 20 Maret 2009

Di dalam fasal pertama kita mendapatkan bahwa kejahatan manusia yang digambarkan melalui kelaliman dan kefasikan, pada dasarnya telah membuat manusia jauh dari Tuhan. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi adalah manusia dengan sengaja membuat kejahatan tersebut meskipun mereka tahu akan adanya Allah (ay. 19-23,25,32). Pada fasal kedua kita mengetahui bahwa Allah akan menghukum semua orang yang tidak percaya kepada-Nya dan akan menyelamatkan mereka yang percaya. Dalam hal ini Allah tidak akan membedakan akan suku bangsa yang dimiliki oleh orang tersebut (ay.9-11). Sedangkan pada fasal ke tiga, kita mendapati bahwa orang Yahudi dan Yunani saling menganggap diri benar dengan segala hal yang telah mereka perbuat, termasuk melakukan tindakan keagamawian di dalamnya. Padahal mereka semua adalah di bawah kuasa dosa dan tindakan keagamawian mereka bukanlah jalan untuk menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka. Sebagai contoh dari dosa-dosa mereka dapat dilihat dari fasal 3:11-18.
Pada fasal 3:23 ini, jika melihat ke dalam terjemahan yang aslinya, maka kata yang menjelaskan “kehilangan” sebenarnya adalah “kekurangan”. Hal ini lebih dapat diterima bila dibandingkan dengan keadaan manusia, sebab keberadaannya adalah kekurangan kemuliaan Allah dan bukannya kehilangan kemuliaan Allah. Oleh karenanya, dengan keberadaan manusia yang telah terjatuh ke dalam dosa, telah memberikan suatu kenyataan yang baru yaitu bahwa kemuliaan Allah yang ada pada manusia, dimana manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, telah menjadi rusak dan bukannya hilang. Hal ini dikarenakan bahwa di dalam diri manusia masih terdapat tindakan-tindakan yang mengarah kepada kebaikan. Dengan rusaknya rupa dan gambar Allah dalam diri manusia atau dapat dikatakan bahwa manusia telah kekurangan kemuliaan Allah, maka keberadaan manusia adalah suatu keberadaan yang tidak mungkin untuk tidak berbuat dosa. Misalnya saja: Abraham dimana dia pernah berbohong dengan mengatakan bahwa istrinya adalah saudaranya, Daud dengan dosa perzinahannya, Yesaya dengan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang berdosa, Ayub dimana dia tidak berani mengangkat kepalanya karena dosa-dosanya, atau Paulus dimana dia sangat tahu hukum Tuhan tetapi dia justru membunuh dan menganiaya orang Kristen. Dengan kata lain, tidak ada seorangpun yang dapat hidup dengan tanpa berbuat dosa. Seperti juga yang dituliskan oleh Paulus di dalam Rm 7:18-19 yaitu bahwa di dalam diri manusia tidak ada yang baik dan hanya cenderung untuk melakukan hal-hal yang berbau dosa. Hal ini sungguh ironis sekali karena di dalam Rm 6:23 dikatakan bahwa upah dosa ialah maut, kebinasaan, dan keterpisahan dari Allah untuk selama-lamanya. Tentunya hal tersebut merupakan suatu konsekuensi yang begitu mengerikan dari dosa-dosa yang membelenggu umat manusia.
Ditengah-tengah kejatuhan manusia ke dalam dosa yang sedemikian rupa, dan dengan melihat bahwa Yesus telah menjadi satu-satunya jalan pendamaian antara Allah dan manusia, maka kita dapat mengenal Allah kita dengan jelas yaitu bahwa Allah adalah Allah yang memiliki kasih yang begitu mulia bagi manusia yang percaya kepada-Nya. Bahkan dengan kasih-Nya tersebut, Allah tidak menetapkan berapa besar dan banyak usaha yang harus dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan keselamatannya. Akan tetapi, keselamatan tersebut justru diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang percaya kepada-Nya seperti yang tertulis di dalam Rm 3:24. Bahkan kata cuma-cuma tersebut mengindikasikan bahwa keselamatan yang dari Allah adalah pemberian yang tidak disertai dengan adanya harga yang harus dibayarkan. Akan tetapi yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah, bahwa keselamatan tersebut akan diterima oleh manusia jika manusia itu memiliki iman kepada Tuhan seperti yang tertulis di dalam ayat ke 27. Selain itu, dengan memiliki iman, maka di dalam Rm 5:1 dituliskan bahwa dengan iman kepada Allah maka akan membuat manusia itu hidup damai sejahtera bersama dengan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa damai sejahtera bukan menjadi sesuatu yang asing bagi kita, tetapi menjadi milik kepunyaan kita karena kita telah dibenarkan melalui iman.
Oleh sebab itu, dengan mengenal bahwa Allah kita adalah Allah yang mulia, dimana hal itu terpancar dari kasih ilahi-Nya yang telah memberikan keselamaan kepada kita, maka sebagai remaja-remaja Kristen apa yang harus kita lakukan, apalagi mengingat bahwa kita akan memasuki minggu-minggu paskah? 1). Berkomitmen untuk bertobat dan tidak kembali lagi kepada kehidupan yang lama. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan tetapi ketika kita melakukannya dengan iman yang tertuju kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita semua, sebab tanpa iman maka kita akan menjalani pertobatan dengan tidak serius dan tidak akan mampu untuk menjalankan pertobatan tersebut. 2). Berkomitmen untuk menghargai pengorbanan yang telah Yesus lakukan di atas kayu salib.
Roma 3:23, ay 10-18 manusia berbuat dosa yg kehilangan kemuliaan Allah digambarkan dengan:tidak berakal budi, jahat, dll. Seseorang yang telah kehilangan kemuliaan Allah sudah tidak berpusat kepada Allah, tidak bisa mencari Allah, melakukan segala sesuatu yang tidak mencari Allah. Kehidupan yang berdosa dan tidak mau mencari Allah adalah kehidupan yang tanpa damai dan sukacita. Roma. Orang yang membiarkan kehilangan kemuliaan Allah dan tidak mau kembali kepada jalanNya adalah orang yang akan segera menerima murka Allah. Dalam khotbah ini kita harus mengembalikan manusia kepada jalan benar supaya tidak dihukum dan menuju kebinasaan.

Mengenai kata “kekurangan” bukan “kekurangan” tetapi seharusnya “kehilangan”.

Dosa berpengaruh luar biasa, dia bisa menurun. Contohnya Yakub ketika menipu ayahnya, dia juga ditipu anaknya. Yehuda anak dari Yakub juga ditipu oleh Tamar (Kej 28). Apakah ini dosa turunan/karma? kenyataan bisa demikian. Ilustrasi;seorang nenek diasingkan diberi makan dengan tempurung kelapa, .. hati-hati dengan dosa kalau tidak peka bisa berbahaya, Allah bisa membengkokkan kepada jalan penghukuman bila diingatkan tidak putus hubungan dengan dosa. Dosa hanya bisa dibereskan dengan datang kepada Kristus, Kristus ditentukan untuk membereskan dosa. (Rm 3:23) pasal 1 berbicara kpd orang Yunani yang kafir, pasal 2 kepada orang Yahudi yang berdosa, pasal 3 kesimpulan bahwa semua orang telah berdosa. Pasal 4 solusi bahwa Kristus menjadi pendamai. Hanya dalam Krisus ada keselamatan.

1. All have sinned.
2. Fall short of the glory of God.
3. When we concern thenglory of God we will see.
a. We are weak.
b. We need help of Jesus.
4. Glorify God.

Ada 3 pertanyaan penting.
1. Apa pengertian kemuliaan Allah (Kej1:26, image of God) calvin, totalitas manusia sebagai gambar keberadaan dari Allah. Manusa terdiri atas materi dan imateri semuanya itu adalah bagian dari Allah.
2. Sampai sejauh mana kehilangan kemuliaan Allah, kehilangan dalam pengertian rusak dan tercemar. Yesaya mencatat bahwa manusaia diciptakan untuk kemuliaanNya, karena dosa manusia hidup dalam dosa dan pelanggaran dan puncaknya kehilangan kemuliaanNya.
3. Kehilangan Allah bisa dipulihkan. “Penebusan” terjual oleh dosa dan ditebus, dikaitkan dengan ay 25, menunjuk pada pendamaian, ketika manusai jatuh dalam dosa Kristus menjadi korban untuk meredakan murka Allah

1. Status manusia yang berdosa tidak lagi utuh, dia kehilangan, tercemar. Tragis memang karena dosa menjadi rusak.
2. Ketidakberdayaan manusai akibat kehilangan kamuliaan sehingga tidak bisa menikmati kehidupan dan bertentangan dengen Allah, manusa dan dengan ciptaan Allah yang lain.
3. Bagaimana kemuliaan itu kembali? hanya kepada Kristus, datang kepadaNya.

Ay 24 tentang kasih karunia, charis=membungkuk dan mengasihani, spt seorang ibu yang membungkuk ketika anaknya terjatuh. Spt itulah kasih karunia Allah, Dia membungkuk dan menerima kembali manusia yang terjatuh itu, segala kesalahan kita tidak lagi diperhitungkan Allah, segala kasihNya dicurahkan kepada kita. Agustinus membuat suatu pernyataan: ”Bahwa dalam memberi ganjaran kepada kita, dalam kenyataannya, Allah mengaruniakan anugerahNya sendiri”.

Setiap akibat pasti ada akibatnya, akibat kejatuhan Adam dan Hawa jatuh dlam dosa manusia kehilangan kemuliaanNya. Apakah implikasi kehilangan kemuliaan Allah.
1. Semua orang layak dihukum, upah dosa adalah maut. Demi tuntutan Allah, Dia yang adil maka manusia dihukum. Penjelasan dosa;manusia dari Adam s/d kita semua berdosa.
2. Allah menawarkan pengampunan dan keselamatan di dalam Kristrus, Allah inisiator yang menawarkan keselamatan keapada manusia yang berdosa. Diumumkan benar, dasaranya adalah anugerah. Penebusan melalui Anaknya yang tunggal, pendamaian;belas kasihan membuat damai Allah menyelamatkan orang berdosa. Napoleon ketika dibuang di pulau St Helena, ditempat itu dia melihat sebuah gambar yang menggambarkan kesengsaraan Kristus, dia memanggil pengawal tahanan dan mengatakan:”Aku dan Alexander Agung, serta penakluk dunia lainnya menaklukkan bangsa-bangsa dengan kuasa pedang dan penumpahan darah, naumu Yesus Kristus menaklukkan bangsa-bangsa dengan kasih dan menumpahkan darahnya sendiri.”
3. Tantangan; supaya merespon panggilan Tuhan, implikasi dosa bahwa manusaia harus menghadapi penghukuman tetapi anugerah Allah menyelamatkan.

1. Apakah yang dimagsud dengan kemuliaan Allah? kemuliaan Allah adalah kemampuan manusia untuk berelasi dengen Tuhan. Ketika relasi itu hilang maka manusia celaka/parah.
2. Konteks, manusa mencari-cari akibat kehilangan relasi dengan Allah. Dengan adat istiadat, dengan sunat, relasi itu bisa dipulihkan bukan dengan Tuarat tetapi melalui relasi dengan Kristus.

Persamaan dan perbedaan Mc. Paulus menyebutkan 5
1. Manusi sama-sama berdosa
2. Manusia sama-sama Kehilangan kemuliaan Allah
3. Manusia sama-sama Dibenarkan dengan Cuma-Cuma
4. Manusia sama-sama Ditebus oleh Kristus
5. Manusia sama-sama Dibenarkan karena iman

Perbedaan mausia 2 Kor 6:14
1. Kebenaran dan kedurhakaan
2. Terang dan gelap
3. Kristus dan belial
4. Percaya dan tidak
5. Bait Allah dan berhala
Kenapa perbedaan itu terjadi? sebenarnya tidak ada, tetapi kenapa berbeda?, yaitu ketika seseoraang menanggapi pekrjaan Allah dalam Kristus.

Pengertian Dosa secara umumà dikaitkan selalu dengan masalah perilaku danbukan dengan status dan keberadaan
Kekristenan à dosa adalah suatu yang hakiki. Kehilangan kemuliaan Allah.
Dosa itu menjadi keberaadaan seusai dengan tolok ukur dalam dirinya dan luar dirinya. Di dalam diri manusia selalu menganggap dirinya benar, tetapi di luar diri yaitu standart Allah dengan demikian maka itu merupakan kebutuhan akan pengampunan dari Allah.

Kemuliaan adaalah salah satu sifat dari Tuhan, sifat yang patut untuk dipuji. Dalam bahasa Ibrani “kabot”, artinya berbobot, bila itu berkurang berarti ada yang kurang. Yunani “doxa” manusa berdosa maka kehilangan mulia. Alam semsta menceritakan kemuliaan Allah, kita melihat keagungan Allah. Dalam manusia kemuliaan Allah juga dinyatakan, tetapi karena dosa kemuliaan Allah itu hilang. Pemulihannya ada 3 :
1. Dari pihak Allah melalui anugerah dan kesabaranNya,
2. Melalui Yesus penebusan dan darahNya.
3. Dari manusia melalui iman kita dipulihkan dan didamaikan. Bukan perbuatan dan menjalankan HT, secara Cuma-Cuma diberikan kepada manusia itu sendiri. Kemuliaan itu dirusak oleh dosa tetapi dipulihkan oleh Yesus

à semua orang telah berbuat dosa. Mereka telah kehilangan kemuliaan Allah (ayat 10) dengan semua daftar sifat dan perilaku yang dimunculkan. Orang yang berdosa itu tidak pernah memiliki orientasi kepada Allah. Sehingga mereka tidak pernah mengalami anugerah dari Allah, mereka sedang menantikan penghukuman yang kekal, setiap orang perlu menyadari dirinya
1. Came short of the glory of God à menjadi kurang=mengurangi, mendiskredit, sehingga kemuliaan Tuhan tidak nampak oleh manusia berdosa. Manusia tidak dapat mengekspresikan
2. Are unworthy of God Praiseà tidak layak untuk memuji Tuhan, tidak layak untuk menjadi pemuji. Maka alat2 yang najis tidak akan dipakai oleh Tuhan
3. non athined the gloriuos likeness of God à standart manusia seharusnya demikian ideal, ini mengenai imago. Kehendak Tuhan tidak tersalur dalam hidup kita seag
4. all fact short God gloriuos ideal à kodrat dari Allah itu tidak lagi serupa dengan Allah. Dosa itu membuat keindahan ktia rusak.
5. Lack the glory which come from God à karena dosa itu maka manusia kehilangan kemuliaan yang dari Tuhan. Malu yang ditonjolkan bukan kemuliaan.(tetapi anak kecil tidak malu tanpa pakaian tetapi sesudah dewasa menjadi malu)
6. Fall short in being any glory to God à kita menjadi satu being kenyataan kehadiran eksistensi Allah.
7. Are deprived of the devine spelendour à tidak bisa mempertahankan sesuatu keindahan yang mempesona sebagai karya masterpiece.
a. Perempuan Samaria di tepi sumur di Sikhar, ia mengalami pemulihan melalui keselamatan dari Allah.
b. Manusia melihat berapa yang bisa dia berikan kepada Tuhan, tetapi Allah menghitung berapa yang tersisa dalam dirinya.
c. Kain à terharu untuk bertobat tetapi tidak pernah meninggalkan kesalahannya. Orang muda yang terharu akan dosanya tetapi tidak bertobat.
Dalam bagian ini Tuhan concent akan manusia, ini tentang sesuatu yang sgt penting. Karenamanusia tidak dapat memenuhi standart kemuliaan Tuhan. Kita tidak dapat mengatasi kejahatan dan dosa. Kita sering hanya mampu memikirkan tentang kemanusiaan kita tetapi bila kita melihat kebenaran firman Tuhan, maka kita akan menemukan bahwa di dalam Allah ada penyelesaian akan dosa.
Kita harus memberitahukan bahwa bagaimana dengan kemuliaan Tuhan yang telah hilang? Apa yang menjadi standart kita sebagai manusia, karena kita sangat lemah dan berdosa untuk kembali kepada kemuliaan Tuhan. Itu sebabnya kita memerlukan Tuhan Yesus untuk kembali dalam kemuliaan Tuhan karena kemuliaan Tuhan hanya ada pada Dia.

Sabtu, 14 Maret 2009

CELAKALAH AKU, BILA TIDAK !

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
Kamis, 12 Maret 2009

CELAKALAH AKU, BILA TIDAK !
1Korintus 9:16
Paulus berkata 3x ”Celakalah” è Rom. 7:24; 14:20 dan I Kor. 9:16.
Bahasa aslinya dalam I Kor. 9:16 diterjemahkan ”Grief.”
Grief adalah tingkat kesedihan yang ke 4 = tertinggi (sad, unhappy, sorrow dan grief).
Paulus sangat sedih kalau ia tak memberitakan injil.
Apa yang membuat kita sangat sedih hari ini???
Apa motivasi Paulus memberitakan injil?
Bukan supaya mendapatkan banyak harta.
Ada orang melayani supaya jemaatnya banyak dan . . . persembahannya banyak.

Bukan karena takut kehilangan pekerjaan.
Ia sudah memiliki pekerjaan tukang tenda.
Ia bisa dikata tak takut kehilangan pekerjaan sebagai hamba Tuhan.

Bukan karena supaya namanya / gerejanya berkembang.
Ia bukan melayani untuk gereja / dirinya sendiri.

Ia melayani hanya karena kasih Tuhan yang besar kepada dirinya dan kepada orang lain.
Kasih Allah lebih besar dari semua kejahatan manusia.
Memang manusia kadang bisa begitu jahat, mis.: orang Niniwe (Asyur), tapi kasih Tuhan masih lebih besar.

Ada perubahan hidup Paulus setelah diubah oleh Tuhan.
Paulus memiliki image / harga diri yang baru, yaitu Kristosentris.
Di pasal 9 ini, ia sedang mengalami kritikan mengenai kerasulannya.
Karena, walaupun ia adalah rasul, tapi ia memiliki pekerjaan sebagai tukang tenda.
Paulus menjawab melalui pernyataan, bahwa:
Goal dalam hidup bukan seperti yang diinginkan oleh kebanyakan orang. Paulus mau hidupnya bukan sebagai rintangan bagi pemberitaan injil (v 12b).
Paulus ingin hidup memberikan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya untuk Tuhan (v 15).
Paulus ingin memberitakan injil. Karena ia tahu bahwa hanya Kristus yang menentukan hidup manusia (II Kor. 5:10, 18, 19).

Dari kata ini, kita melihat kesedihan Paulus bukan karena ia dikritik/dituduh bukan rasul, tapi karena tak memberitakan injil.
Memang dalam bagian sebelumnya, Paulus membuat pembelaan diri mengenai dirinya sebagai rasul.
Tapi, hal itu bukan kesedihannya yang mendalam, tapi kalau ia tak memberitakan injil.
Mengapa ia begitu semangat?
Karena ia yakin kuasa injil (Rom1:16) dan tak merasa malu untuk terus memberitakan injil.Orang Roma punya konsep bahwa berita injil itu adalah kebodohan.
Maka orang banyak tak berani memberitakan injil karena akan dianggap bodoh.
Dari angket GII Hok Im Tong, diketahui bahwa hal yang paling lemah adalah tak memberitakan injil. GBI Keluarga Allah, Solo, tukang becak, pembantu RT, dll, begitu berani untuk memberitakan injil.
Paulus memiliki hak sebagai rasul dan hak hidup dari pemberitaan injilnya.
Ia melepaskan hak sebagai rasulnya dan hak untuk mendapat hidup dari pemberitaan injilnya itu (IKor. 9:19).
Hamba tak memerlukan jubah kebesaran, dihargai manusia, atau menyenangkan manusia.
Tujuan hamba Tuhan adalah untuk menyenangkan Tuhan.

Pemberitaan injil adalah kewajiban untuk membalas kasih Tuhan.
Atau dianggap sebagai hutang.
Membayar hutang adalah kewajiban (Rom. 1:14-15).
Orang membayar hutang bukan untuk dipuji, tapi memang karena kewajiban.
Justru orang yang tak membayar hutang yang menjadi bahan cibiran.

Mengapa Paulus begitu semangat untuk PI?
1. Karena, ia merasakan begitu besarnya anugerah keselamatan dari Tuhan kepada dirinya yang berdosa, dan dia mengatakan bahkan dia lebih berdosa dari semua orang (I Tim. 1:15-16).

2. Oleh karena itu, waktu ia mengatakan ”Celakalah,” ia berkata mengenai dirinya sendiri, sebagai orang yang sudah menerima anugerah besar itu, seharusnya ia memberitakan pada orang lain, supaya orang lain juga mendapatkan anugerah keselamtan yang sama.

3. Karena ia sadar bahwa sebagai orang yang mengalami penebusan dia harus mentaati amanat agung memberitakan injil (Mat. 28:19).

V 16-17 :
1 Memberitakan injil adalah hidupnya à Tentu di dasarkan kepada pemikiran bahwa hidupnya bukan miliknya tapi miliki Kristus Gal 2:19-20, IKor 6:19-20 dia telah mengalami penebusan dari budak dosa dari hukuman Allah. Jadi kalau masih ada di dunia adalah memberitakan Injil satu keharusan.
2 Memberitakan Injil bukan untuk memegahkan diri. PI adalah kehidupannya. Hidupnya harus memberitakan injil. Jadi, kalau ia PI, bukan untuk dibanggakan. Karena hidupnya, tidak bisa tidak memberitakan injil.
Orang percaya seperti seorg budak yang telah mengalami penebusan kalau dia bekerja bukan untuk memegahkan dirinya tetapi menjadi “ kebangggan “karena bisa dipakai Tuhan memberitakan Injil Yesus . Ia tak bisa bangga karena ia sudah bekerja.
Atau seorang anak belajar, ia tak perlu bangga. Karena, memang tugas seorang pelajar adalah belajar.
3 PI hanya dalam dunia. Di Surga, kita tak PI. Di Surga, kita memuji Tuhan, dll., tapi, tak PI.

Paulus mengerti bahwa agenda Allah hanya 1 untuk menyelesaikan persoalan dosa dalam dunia adalah dengan PI. kalau agenda Allah itu, mengapa kita tak menyesuaikan agenda kita dengan agenda Tuhan.
Dalam Alkitab, ada 2 orang yang rela namanya di hapuskan dalam kitab kehidupan, yaitu Musa dan Paulus (Rom. 9:3). Paulus mencintai orang Israel dia rindu agar mereka menerima Kristus. Kata celakahlah aku itu adalah bentuk keseriusan Paulus dalam memberitakan Injil, bahwa hanya di dunia ini dan itu adalah agenda serius dari Tuhan.
Sudahkah kita hamba Tuham memiliki cinta mati kepada orang berdosa ini / untuk PI?
Kalau pemimpin gereja saja tak memiliki, bagaimana jemaat bisa memiliki?

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum.at, 13 Maret 2009

Paulus adalah Rasul terakhir yang bergabung dengan murid-murid Kristus yang tidak berguru langsung seperti murid yang lain, tetapi ia menjadi salah satu rasul karena langsung mengalami tangan Tuhan dalam hidupnya. Tidak bisa lari dan tidak bisa menghindar. Nampaknya ia seperti dipaksa oleh Allah dalam memutar haluan hidupnya yang sangat bertentangan dengan Injil itu sendiri. Tetapi bila mempelajari kehidupan Paulus kita akan melihat dia begitu agresif terhadap pemberitaan Injil. (Ia menjadi begitu buas, kuat, luar biasa, pokoknya ia akan bangkit bagi Injil) Bagi dia hidup ini adalah memberitakan Injil. Istilah yang di pakai dalam bagian ini memberitakan Injil, memenangkan, menyelamatkan.
Paulus mengatakan “celakalah aku, bila tidak memberitakan Injil” celaka ini bukan suatu ungkapan biasa, tetapi suatu ungkapan yang mengerikan, menakutkan dan membuat Paulus begitu sulit hidup bila ia ternyata tidak memberitakan Injil.
Manusia menganggap bahwa kalau tidak ada makanan, pakaian, rumah atau jatuh sakit dll berarti celakalah hidupnya. Tetapi Paulus tidak memandang itu semua sebagai penyebab dari celakanya hidup ini, bagi dia yang paling celaka itu adalah jika tidak memberitakan Injil. Mengapa memberitakan Injil?
1. Karena celaka bagi orang percaya yang tidak memberitakannya. (apakah bukti bahwa sesorang sudah percaya? Tidak ada bukti lain selain dari pada ia memberitakan Injil)
2. Karena injil itu memenangkan orang dari suatu pertarungan dosa.
3. Karena Injil itu menyelamatkan orang dari kematian kekal kepada hidup kekal.
Mungkin kita tidak perduli dengan jiwa yang binasa, orang2 disekitar kita, atau kita berkata bahwa kita sudah cukup padat melayani Tuhan. Apapun alasannya, pokoknya bukti seseorang sudah percaya dan hidup di dalam Kristus maka ia pasti memberitakan Injil. Karena dia tahu khasiat, makna, betapa pentingnya Injil itu. Injil itu satu-satunya khabar yang baik di dengar oleh siapapun karena Injil itu mengandung makna hidup di dunia ini dan hidup nanti.

· Pemberita Injil adalah suatu keharusan (ay.16)
· Pemberita Injil adalah tugas penyelengaraan (ay.17)
· Pemberita Injil adalah penguasaan dan penyangkalan diri (ay.19)
· Pemberita Injil adalah tujuan hidup (ay.24-27)

Ada dua hal yg berhubungan dengan kewajiban: obligatory dan facultative. Panggilan ini memberitakan Injil adalah obligatory. Paulus tidak membuat keputusan sendiri, tetapi ditentukan oleh Allah. Hal ini didasari pemahaman tentang hubungannya dengan Tuhan, yaitu hubungan tuan dan hamba. Sebagai hamba, ia tidak punya pilihan, kecuali melakukan perintah tuannya. Jika tidak melakukan, maka aku membangkang.

Kalimat intropeksi diri. Orang percaya pasti berkaitan dengan Injil. Hal ini adalah suatu hubungan yang dalam dengan Injil, pemahaman yang mendalam, sama seperti dalam Rom 1:16-17. Sehingga ada kesimpulan bahwa tidak bisa tidak ia akan memberitakan Injil. Kita tidak hanya menjadi pendukung dan orang percaya saja, tapi menjadi pemberita Injil.

Apa jadinya kalau ada seseorang yang mendapatkan sesuatu yang penting dan luar biasa tetapi dia tidak memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan? Misal: obat penyakit Kanker. Dia akan disebut orang pelit, egois dan kejam. Kalau seseorang mendapatkan dan memiliki sesuatu yang luar biasa, maka ia seharusnya akan menyampaikannya kepada yang lain. Hal ini yang menjadi pemikiran dari Rasul Paulus sehingga berkata “Celakalah aku bila tidak menyampaikan Injil. Mengapa dia berkata seperti itu? Ada 3 hal yang mendesak Paulus untuk memberitakan Injil:
1. Spiritual necessity. Keperluan rohani yang muncul sebagai hasil dari kejatuhan dan keberdosaan manusia yang tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Rasul Paulus mengatakan bahwa hal ini lebih dari sekedar willingness tetapi adanya suatu compelling force. Suatu kebutuhan yang mendesak.
2. A stewardship entrusted. Tugas pelayanan yang dipercayakan oleh Allah dalam rangka tujuan penyelamatan Allah yang harus digenapi, yang harus dilakukan dengan setia (full commited) oleh karena anugrah Allah yang sudah dialami.
3. The Gospel itself. Ada kuasa dari Injil tersebut, kuasa Injil yang mendobrak, kuasa Injil yang mematahkan dan kuasa Injil yang menyelamatkan

Paulus mengerti bahwa ia dapat percaya kepada Tuhan, bukan karena paksaan, melainkan anugrah yang ia dapatkan. Sehingga pada waktu ia dilarang, maka ia tetap memberitakan Injil karena itu adalah hak khusus, karena ia menyadari bahwa apa yang sudah dialaminya menjadi nyata. Mat 28:18-20 merupakan penyataan segala kuasa sudah diberikan kepadanya dan Tuhan akan menyertai murid-muridNya. Karena itu seandainya seseorang tidak memberitakan Injil, Celakakalah aku jika tidak…. (1) maka ia tidak akan mengalami kuasa Tuhan, kuasa yang menyertai, contoh yang mengalami kuasa Tuhan: Petrus, dan Yohanes, ada mujizat dan kuasa Tuhan dinyatakan . (2) tidak disertai Tuhan, banyak yang tidak menyadari bahwa Tuhan tidak menyertai lagi, contoh seperti keberadaan tabut Allah, tidak berarti Allah hadir jikalau mereka tidak taat pada Tuhan (3) celaka karena kehilangan jiwa yang tersesat dan hilang.
Hal ini berkaitan dengan tugas yang utama dalam hidupnya. Ada banyak tokoh misi yang menyatakan kehidupan mereka yang membayar harga yang besar mengekspresikan spirit yang sama. Pemahaman celaka perlu dipahami;
1. Bagaimanakah tiba pada kesadaran Celakalah..
1. Perenungan yang terus berlanjut akan nilai keselamatan yang diterimanya
2. Kerugian besar: mengerogoti kerohaniannya sendiri
3. keuntungan: mendapatkan berkat dan pengalaman rohani bersama dengan Allah (menjadi orang yang sangat bodoh)
2. Tuntutan pemberitaan Injil
1. Bahwa tugas pelayanan pemberitaan Injil dan pelayanan misi merupakan panggilan yang menuntut ketaatan yang sepenuhnya .
2. Pelayanan tugas pemberitaan Injil dan merupakan keharusan bagi setiap orang percaya karena menyatu dengan hati Allah yang penuh kasih bagi manusia yang berdosa dan bagi mereka yang hidup bagaikan domba tak bergembala yang tidak mengenal dan percaya kepada Allah yang benar.
3. Dalam pemahaman dan kesadaran panggilan tugas pelayanan pemberitaan Injil sebagai tugas yang mulia dari Allah maka ada kerelaan melepaskan untuk menerima hak-hak yang menghalangi diri dalam ketaatan memenuhi tugas panggilan mulia ini.
4. Setiap orang percaya harus memahami seperti Rasul Paulus berkata ”Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” sehingga tugas pemberitaan Injil menjadi keharusan dan ”life style”.

“Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”.
Konteks :
Pekabaran Injil yang disampaikan oleh Paulus bukan sekedar verbalisme, melainkan motivasi dan komitmen secara total kepada berita Injil. Jadi segala kiprah dalam hidupnya hanya untuk satu tujuan, yakni: Berita Injil. Untuk itu Paulus bayar harga, rela melepaskan hak bahkan rela memberi seutuh hidupnya.

Selain hal itu, Paulus melayani dengan bijak, mengerti konteks “dunia” dimana Allah menempatkan dia baik di kalangan orang Yahudi maupun non yahudi sehingga jerih lelah pelayanannya memberi dampak yang jelas bagi kemajuan berita Injil.

Dietrich Boenhoffer, dalam buku The Cost of Discipleship memberikan 2 istilah antara cheap grace dan cost grace. Pada masa pelayanannya, Gereja banyak memberitakan cheap grace, dimana kasih tanpa keadilan, pengampunan tanpa tanggung jawab; tetapi cost grace, anugerah yang mahal yang harus diberitakan dengan komitmen.yang memberikan perubahan.

Sekilas info tentang Crystal Cathedral yang didirikan oleh Robert Schuller, terkena imbas krisis global. Cash flow untuk maintenance dan persembahan yang masuk tidak mencapai balance sehingga beberapa senior pastor harus mendapatkan pemutusan hubungan kerja (majalah standart edisi terakhir). Nampaknya kita harus jeli melihat antara “symbol” pekabaran Injil dan realitas pekabaran Injil itu sendiri, sehingga jerih lelah yang kita lakukan bukan sekedar untuk memperjuangkan sebuah symbol.

Bagi yang tidak menerima : (1)karena mereka dibawah murka Allah (2) hidup dalam ketidakpastian (3) kebinasaan
Bagi yang tidak memberitakan (1) berhutang atas injil (2) tidak taat akan perintah Allah

Background tentang celakalah sebenarnya berkaitan dengan makanan yang dipersembahkan, dan Paulus membela akan hak-haknya; dan diantaranya ia harus disejahterakan oleh jemaatnya, namun ia dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak mau menerima hal ini. Banyak orang yang hitung untung dan rugi dalam pemberitaan Injil. Dan Menarik bahwa Paulus dalam kebutuhan yang utama ia tidak minta, malahan ia mengatakan bahwa ia celaka jika tidak memberitakan Injil. Banyak orang lebih berat kepada kebutuhan hidup, daripada hidup bersekutu dengan Tuhan. Perlu mendorong jemaat lebih melihat nilai hidup. Dan ketika Paulus mengatakan celakalah sebenarnya berkaitan dengan kuasa Roh Kudus, karena sebesar apapun kalau tidak ada kuasa dan perkerjaan Roh Kudus maka tidak ada perkara yang terjadi. Jadi harus dimulai dengan suatu pertobatan total.

Paulus adalah orang yang mengenal dirinya, sehingga ia berkata demikian. Ia pernah berkata dirinya orang yang paling berdosa. Ia pun mengerti bahwa dirinya tak berlayak atas jabatan rasul, maka ia melihat anugrah yang besar dan ia tahu celakalah jikalau tidak. (1) Perlu pemenangan bagi jiwa yang menjadi prioritas dan bukan hanya job (2) membangun networking dan jaringan yang lebih luas, dan supaya pemberitaan lebih mudah . Paulus sadar bahwa ia adalah hamba, dan ia siap diutus oleh yang memilikinya.

Paulus punya keyakinan yang kokoh, di Galatia, ia mengatakan jikalau ada orang yang menyampaikan hal yang lain, maka terkutuklah ia. Dalam Filipi juga sama, yang penting adalah Kristus yang diberitakan. Lukas 10, diungkapkan Yesus mengutus murid2Nya, ternyata saat ia pulang, murid2Nya bersukacita karena berita Injil, hal ini dicatat sebagai hal yang berkenan pada Allah Bapa. Sukacita pemberitaan Injil akan mengobarkan semanggat untuk melakukannya

I. karena Semua Manusia Membutuhkan Keselamatan (1Kor 9:19-23). Apakah tujuan Paulus memberitakan Injil? Supaya ia boleh memenangkan sebanyak mungkin orang berdosa bagi Kristus. Istilah, “supaya aku dapat memenangkan/ menyelamatkan” diulang sebanyak enam kali (6X) pada ayat 19-23. Menyelamatkan jiwa yang terhilang merupakan sasaran atau tujuan dari penginjilan yang ditekankan Paulus.
II. Karena Memberitakan Injil adalah Kewajiban Setiap Orang Kristen (1Kor 9:16). Paulus memakai frasa “Itu (PI) adalah keharusan bagiku.” Istilah “keharusan” menekankan suatu kewajiban yang muntak dan harus dilakukan. Jika tidak, hanya ada dua kemungkinan: kita taat kepada Allah atau melawan Allah. Itu berarti: memberitakan Injil bukan suatu pilihan dan keputusannya ditentukan diri kita masing-masing. Artinya: anda suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, itu merupakan kewajiban yang harus segera dilaksanakan
III. Karena Adanya Pertanggungjawaban di Hadapan Allah (1Kor 9:24-27). Ketika Paulus berbicara tentang kewajiban memberitakan Injil, yang ia sadari adalah adanya evaluasi atau penghakiman akhir atas setiap aspek hidupnya, pada saat Kristus datang kedua kali untuk menjemput umat tebusan-Nya

Orang yang terangkat sampai ke tingkat ke-3 di langit. Tidak pernah bicara tentang hal itu. Ia sudah mengalami anugrah yang luar biasa. Ia tidak menjadi membanggakan diri, namun merendahkan diri, yang terkecil, dan bahwa pada masa tuanya ia mengatakan bahwa ia adalah orang yang paling berdosa. Maka sikap apakah yang harus dimiliki? Dalam bagian ini pun Paulus tidak menuntut upah apapun. Celakalah aku bila Tidak, tidak hanya memberitakan Injil, namun bagimana konklusi dalam hidup kita, arti dan hakekat hidup kita. Hati-hati jangan memikirkan tentang kehidupan belaka, namun sebaliknya bagaimana hidup di hadapan Tuhan. Bonhoffer rela dari Amerika kembali ke Jerman, orang-orang percaya yang menderita. Dalam misi kali ini kita tidak hanya meminta dana, namun minta hati mereka untuk melayani;
· Paulus mulai dengan rasa berat menghadapi orang yang susah banget
· Berjerih payah tanpa imbalan apa-apa
· Rela berasimili demi injil dengan pelbagai kiat
· Menjadi segala-galanya asal orang percaya, menghadap Allah tanpa kecewa, karena tekun dan serius agar tidak suam2 dibuang

Paradoks :
· Rela sekalipun terpaksa, rela memaksa diri
· Upah tanpa upah
· Seperti namun bukan
· Utuh karena terbagi-bagi

Arti Celakalah Aku
1. Aku tidak terpilih lagi, tidak ingin menjadi hamba Tuhan yang sembarangan, bukan orang yang boleh ada dan boleh tidak
2. Tidak terpakai lagi, ada hadir, namun tidak berguna
3. Tidak berhasil, karena tanpa tujuan, berlari-lari tanpa pahala
4. Tidak bertahan, tidak ada sesuatu yang dipertahankan, tidak dibuang artinya:
a. ditolak, seperti jaman Yehezkiel, ada di bait Allah namun menyembah berhala
b. dibuang, pernah dipakai, namun tidak terpakai lagi, ini ada harga yang harus dibayar
c. ditenggelamkan, karena keteledoran
d. dimuntahkan , sama seperti jemaat di Laodikia, tidak dapat dinikmati

4 macam salesman ;
1. Menjual sesuatu yang tidak mau beli jadi beli
2. Menjual sesuatu yang tidak ada kepada orang yang mencari
3. Terjadi trasnsaksi yang dijual bukan milik sendiri dan pembeli tidak ingin membeli Barang.
4. Lebih dari butir 3, ditambah dengan tidak rela menjadi rela.

Demikianlah Tugas pemberitaan Injil menyatakan kebutuhan yang utama, dan orang dari yang tidak mau akhirnya mengalami anugrah yang berlimpah karena pekerjaan pemberitaan Injil

Sabtu, 07 Maret 2009

“BAGAIMANA MUNGKIN TIDAK SAYANG”

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum.at, 06 Maret 2009


“BAGAIMANA MUNGKIN TIDAK SAYANG”
Yunus 4:11
Yunus adalah orang yang keras hati. Dengan melihat sikap Asyur (sadis, menyiksa, tawanan dikuliti hidup-hidup, dibungkus dengan kulit lalu dijemur hidup-hidup), kita bisa memaklumi sikap Yunus. Yunus seorang nasionalis yang sejati, dia tau bersikap kepada bangsanya, dia menunggu keadilan Allah. Tetapi justru Allah yang menuntut dia untuk memberitakan Injil kepada Niniwe. Yunus marah ketika terjadi pertobatan. Kemudian terjadi percakapan, Allah mengatakan “Bagaimana mungkin Aku tidak berbelas kasihan dengan Niniwe?” padahal demikian bejatnya mereka, sampai dikatakan tidak bisa memberdakan tangan kanan dan tangan kiri. Dari sini kita lihat rahmat dan belaskasihan Allah melampaui apa yang bisa dipikirkan.

Konteks mengarah keselamatan berkaitan dengan PMPI. Ayat 9 mengatakan keselamatan adalah dari Tuhan. Tiga hal yang sulit dalam kitab Yunus, yaitu: (1) Ayat 3: Niniwe percaya kepada Allah. Teguran Yunus membuat mereka berpuasa, gambaran kejahatan mereka sulit dipahami. (2) Ayat 10: bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, “maka menyesallah Allah.” Bagaimana Allah merancangkan sesuatu lalu menyesal. (3) Bagaimana orang yang ditelan ikan lalu masih bisa hidup. Ketiga hal ini harus hati-hati dalam menyingkapinya.
Kasih sayang Allah, “Allah yang rahmani dan rahimi …” (4:2), artinya dalam berita Yunus Allah masih memberi kesempatan kepada manusia untuk pertobatan, sehingga keselamatan itu menjadi bagian dari hidup manusia.

Kota Niniwe didirikan oleh Nimrot, dinamai kota penumpah darah. Kota yang kaya, kuat, hidup dari perdagangan. Tetapi juga dikatakan sebagai kota penyembah berhala, penuh dengan dusta, penuh persundalan. Namun demikian, Tuhan mengirim seorang nabi untuk mempertobatkan kota itu.

Ada 4 hal tentang cinta kasih Allah: (1) Allah menyayangi ciptaanNya. (2) Allah datang karena Dia menyayanyi manusia. (3) Dari segala macam kesulitan tujuannya untuk menantang manusia supaya lebih beriman. (4) Dari kematian. Hidup ini memang melelahkan tetapi Allah menjanjikan kelepasan melalui kematian.

Tema kitab ini, “luasnya kasih saying Allah yang menyelamatkan”. Tema dari perikop kita baca adalah pertobatan Niniwe. Menunjukkan teguran dan pangajaran Allah kepada Yunus tentang kasih sayang Allah yang tidak terbatas. Ini mencerminkan kasih Allah kepada semua manusia yang berdosa.
1. Allah itu adalah kasih. Penyataan ini menjadi dasar bagi Yunus untuk menolak panggilan Allah, karena dia sebenarnya menanti penghukuman bagi niniwe bukan pengampunan Allah. Dari sini kita lihat kasih Allah tidak memandang bulu. Kasih Allah untuk semua orang. 1 Yoh 4:8, “Allah adalah kasih.” Ia menyatakan kasihNya melalui Yesus Kristus. Hudson Taylor pernah mengatakan, “Satu-satunya yang membuat kita bisa bertahan dalam penginjilan, jika kasih Kristus yang menggerakkan kita untuk bermisi.” Jika kita mengasihi Tuhan maka kita pasti melakukan yang terbaik sebagai ketaatan kepada Tuhan.
2. Kasih Allah menjangkau semua orang berdosa. Ayat 4-11, pembelajaran Yunus dari sebatang pohon. Allah tidak hanya peduli pada Niniwe tetapi juga diri Yunus sendiri. Yunus sendiri sudah merasakan kasih sayang Allah, meski ditelan ikan tetapi dimuntahkan dan tetap hidup.
3. Iman dan pertobatan menghasilkan keselamatan. Ayat 5, mereka percaya Tuhan dengan pertobatan. Belas kasihan Allah dinyatakan.

Bagian ini menyatakan suatu kerinduan hati Allah. Kasih Allah tidak tertahan oleh karena dosa. Sebesar apapun dosa, kasih Allah lebih besar. J.I. Packer mengatakan natur Allah yang paling sederhana dan paling besar adalah kasih Allah. Dengan kasih, demi kasih, oleh kasih keselamatan diberikan.

“Yunus melarikan diri jauh dari hadapan Tuhan” (diulang dua kali). Konsep pada waktu itu, dewa itu sifatnya teritorial. Ia hanya berkuasa local, di satu daerah dia berkuasa tetapi di daerah lain tidak. Tuhan yang menyatakan diri kepada Yunus, bukan demikian.
Konsep lain yang ingin diungkapkan bahwa Yunus sengaja pergi menjauh, karena bagi dia orang Niniwe itu layak mendapatkan hukuman. Mereka kejam sekali. Untuk apa diberikan kelaskasihan. Keadilan itu adalah jika ada yang salah maka mutlak mendapatkan hukuman. Di sini ditunjukkan justru Tuhan melihat sebaiknya (4:11), istilah “tidak bisa membedakan tangan kanan dan tangan kiri” artinya tidak bisa membedakan antara kebenaran dan kejahatan. Ketika mereka melakukan kejahatan itu mereka anggap sebagai kebenaran. Pada waktu Yesus disalib ia berdoa, “Bapa ampuni mereka, karena mereka tidak tau apa yang mereka lakukan.” Mereka perlu diberi tahu, oleh sebab itu Yunus diutus.

1. Konteks sejarah, Yunus melayani pada masa Yerobeam II (793-753 BC) dimana Israel telah goyah dan mengalami perpecahan menjadi 12 suku, 10 suku di utara dan 2 suku di selatan. Sementara Asyur berkembang menjadi bangsa yang kuat namun hanya sebagian kecil dari mereka mengenal Allah Yahwe, sebagian besar hidup dalam kekafiran dan kefasikan pada jamannya.
2. Yunus meski nabi kecil tapi merupakan tokoh sejarah yang penting, yang pernah dikutip oleh Yesus dalam menyatakan nubuatan tentang kematian dan kebangkitanNya (Mat 12:39-41, Lukas 11:29-32), dimana karya Kristus ini membuka “tabir” bahwa Allah menyelamatkan seluruh bangsa-bangsa di dunia bukan hanya Israel saja.
3. kerangka khotbah:
i. Prolegomena : dunia kontemporer (post moderisme) yang membawa kemajuan peradaban, tapi kehilangan kasih dan bukan semakin baik, karena semua hal menjadi relative, menolak kemutlakan satu satunya Allah yang benar.
ii. Main Message : kasih Allah setiap zaman tetap relevan bagi jawaban atas makna hidup manusia.
iii. Exegese:
a. Unconditional Love, kasih yang tidak bergantung dalam situasi dan kondisi yang terjadi…(yg tidak bisa membedakan tangan kanan/kiri)
b. Great love for all, tidak hanya untuk Yahudi tapi juga untuk orang Asyur demikian juga pada konteks jaman ini….(bgmn Allah tidak sayang?)
c. To see as God sees, pertobatan yang memperbaharui hidup dan membawa makna hidup….(mereka doa puasa dan menyesali dosa-dosanya).
Kepustakaan: http://en.wikipedia.org/wiki/Jonah; artikel tentang postmoderisme, majalah Euangelion edisi terakhir; http://www.zianet.com/maxey/Proph8.htm

Dua hal berjalan: yang satu kerjanya marah dan menolak yaitu Yunus; sementara Tuhan dari awal menunjukkan kasih setiaNya. Bagaimana membawa jemaat kita “boleh marah” tetapi Allah berotoritas, otoritas yang penuh kasih.

Ayat 11, di Niniwe ada 120 ribu orang yang tidak bisa membedakan tangan kiri dan kanan. (1) Tuhan menghitung. Kenapa? Karena Tuhan menghitung milikNya. Paulus di Korintus “jangan diam dan jangan takut karena kota ini ada umatKu.” Ini adalah barang berharga Tuhan. Tuhan menghargai setiap manusia yang dihitung. (2) Tuhan mengerti mereka. Tuhan tau jelas urusan batiniah dan lahiriah (perbuatan) setiap orang. Sekalipun mereka jahat, tepai mereka merupakan kesayangan Tuhan karena mereka diciptakan immortal. Pohon jarak hanya semalam tetapi manusia dicipta untuk selama-lamanya. Pohon digigit ular mati, manusia masuk neraka tidak mati. Allah menciptakan dan Allah menopang manusia. (3) Pertobatan membawa pada keselamatan. (4) Tuhan dapat memakai siapapun: pohon jarak, ulat, semua dipakai Tuhan termasuk Yunus yang tidak taat, akhirnya orang-orang Niniwe yang bertobat lainnya. Kesimpulan, Tuhan saying, mengerti, mengubah, dan memakai mereka.

Manusia cenderung memperjuangkan sesuatu yang tidak bernilai. Sama seperti Yunus: keinginannya, pohon jarak, dan sebagainya. Yunus membenci yang baik dan benar dari Allah. Selesai dia memberitakan ia tetap menantikan penghukuman itu. Tuhan memperjuangkan dan mengasihi sesuatu yang sangat bernilai.

Ayat 3 dan 8, keinginan Yunus adalah mati. (1) Dia kecewa kepada Tuhan. Tuhan tidak bertindak seperti apa yang ia inginkan. Ia menginkan penghukuman. (2) Ia kecewa karena Allah tidak adil. Ia tidak megerti bahwa Allah penuh pengampunan. (3) Ia kecewa dan tidak mau melayani. Ini beda dengan keinginan Elia, tetapi ada pemulihan dan ia kembali melayani Tuhan.

Pra PMPI dikaitkan dengan PMPI. Paulus punya hati seperti Kristus. Apakah Yunus juga? Kitab ini menceritakan kegagalan Yunus, supaya kita tidak turut seperti dia. Yunus ingin menjadi nabi seperti keinginan dia, bukan seperti keinginan Tuhan. Konsep yang sulit, “Allah menyesal.” Kemurahan dan keadilan ditegakkan bersamaan, jika manusia tidak bertobat maka akan dihukum dan jika bertobat maka akan menerima kemurahan Allah. Tidak bisa hanya menekankan kedilan tanpa kemurahan. Ini sesuatu yang paradox. Ini konteksnya. Kitab ini bicara masalah “hati” Allah.
Contoh pertobatan John Wesley yang melalui group Puritan kemudian kebangunan rohani di England. Khotbahnya sangat kaya dan kadang tidak cukup bahan khotbah . Disaat gereja kehilangan cinta kasih kepada manusia yang berdosa. Maka muncul William Booth (The Salvation Army). Dipinggir jalan (lampu merah) jenis orang yang terbuang diabaikan dilayani. Gereja menghukum William Booth karena melayani orang yang dianggap terbuang dimana bagi Gereja merasa itu tidak boleh dilayani. William Booth muncul ketika gereja kehilangan panggilan untuk memberitakan penginjilan. Ia dan istrinya memberitakan injil kepada orang-orang yang marginal. Berhatikan seperti Kristus, artinya punya pikiran dan perasaan seperti Kristus. Moto William Booth, “others.” Selama masih ada jeritan dari janda, yatim piatu dan penderitaan dari orang miskin, Aku tetap berjuang. Dia punya pikiran dan perasaan kepada orang lain. Bagaimana memenangkan orang-orang jahat “yang tidak tau membedakan tangan kiri dan tangan kanan.” Perlu merenungkan pegangan dasar Firman Tuhan dalam membangun pelayanan dan dukungan. Perlu punya hati dan perasaan seperti Kristus (Filipi 2:5).
Yunus punya ayat mas, 2:9. Keselamatan itu milik Tuhan, oleh sebab itu kepada siapa Dia memberikan, itu adalah hak Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa mencegah.
1. Gereja dalam pertumbuhannya, kalau yang masuk lebih banyak dari pada yang keluar itu bertumbuh. Kalau imbang itu pasti stag. Kalau yang keluar lebih banyak dari yang masuk gereja pasti tutup.
2. melayani Tuhan perlu tekanan supaya bertumbuh dan mengerakkan orang melayani Tuhan. Harus minta diri maka Tuhan kasih waktu. Minta waktu maka dikasi uang. Bila minta uang maka dapat kosong. Kita jangan menjadi Yunus dan jangan jemaat seperti Yunus melarikan diri.
3. Sikap Yunus: 1) kesal; 2) doa; 3) minta mati.
4. Sikap orang niniwe-pertobatan:
1. menyatakan puasa
2. turun dari tahta
3. mengenakan kain kabung
4. melepaskan jubah
5. duduk pada abu
6. mohon dengan sangat
7. berbalik dari kejahatan
8. meninggalkan kesadisan
9. menyatakan kasih Allah
10. menerima berkat Tuhan