Jumat, 13 November 2009

PENCOBAAN

PENCOBAAN
Yakobus 1:12-18

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta


Dalam bahasa Inggris disebut trials. Ada 4 perbedaan antara ujian dan pencobaan:
1. Perbedaan sumber. Pencobaan itu dari setan, ujian dari Allah.
2. Perbedaan motivasi. Pencobaan motivasinya jelak, bertujuan meninggalkan Tuhan, hidup dalam doa. Ujian bermaksud baik, memurnikan diri kita.
3. Perbedaan tujuan. Pencobaan itu tujuannya memisahkan kita dari Allah, memberontak kepada Tuhan. Ujian bertujuan mengkonfirmasikan kita masuk ke dalam kesempurnaan.
4. Perbedaan fenomena. Pencobaan pasti dimulai dengan keindahan, kenikmatan, tetapi diakhiri dengan kepahitan dan penyesalan. Ujian biasanya dimulai dengan penderitaan dan kepahitan tetapi diakhiri dengan kemenangan dan keindahan.

Kita bisa mengalami salah satu saja, tetapi bisa kedua-duanya. Iblis bisa juga menggunakan pencobaan itu. Misalnya, Ayub mendapatkan cobaan dan ujian itu dari Iblis dan Tuhan mengetahuinya. Yakabos mengatakan mereka yang tahan uji akan mendapatkan mahkota. Kata “tahan uji” di sana disebut test. Mahkota kehidupan itu dimaksudkan dengan kualitas kehidupan rohani orang yang bersangkutan. Mahkota itu bukan dari emas atau permata, tetapi hidup yang kekal. Mahkota bukan saasaran mereka tetapi hadiah yang Tuhan berikan. Pencobaan itu bukan dari Allah, tetapi oleh keinginan diri sendiri.

1. Tuhan tidak akan mencobai siapapun.
2. Tidak ada seorang pun yang kebal atas pencobaan. Pencobaan pasti datang dan bisa setiap hari pencobaan itu datang. Jenis pencobaan itu kadang cocok dengan kelemahan kita. Setelah Tuhan Yesus berpuasa 40 hari, Iblis datang mencobai soal makanan.
3. Doa berasal dari sebuah keinginan diri sendiri. Keinginan berkaitan dengan hati (lih. Yer. 17:9-10). Bukan hanya dengan hati tetapi seluruh keberadaan manusia itu sendiri (pikiran, perasaan dan nafsu dalam dirinya).
Luther mengatakan kita tidak bisa melarang burung terbang di atas kepala kita tetapi kita bisa mencegah dia membuat sarang di atas kepala kita. Hal yang sama berlaku dengan pencobaan.

Dalam ayat 12 ada kata menarik: Mengasihi Dia. Ini adalah kunci untuk menang dan tahan uji. Jikalau kita mengasihi Tuhan dan Tuhan mengasihi kita, maka relasi yang indah itu akan muncul suatu keyakinan:
1. Tuhan ada bersama kita saat menghadapi pencobaan.
2. Tuhan itu tidak akan menyakiti kita dan tidak merencanakan yang jahat bagi kita.
3. Tuhan tidak akan membiarkan kita sampai tergeletak (Maz. 37:24)

Pencobaan:
1. Pencobaan itu bukan dosa
2. Pencobaan dari diri sendiri
3. Pencobaan adalah keputusan untuk memilih
4. Pencobaan itu tidak langsung, tetapi bertahap

Ujian:
1. Ujian itu adalah tanggung-jawab untukdiselesaikan
2. Berakhir pada mahkota kehidupan
3. Memurnikan
4. Sebuah kebahagiaan
Kunci menang atas pencobaa: Mengasihi Tuhan.

Pencobaan dan ujian itu seperti mata uang. Karena waktu kita menghadapi ujian dari Tuhan, iblis pun tahu. Hanya saja, pencobaan itu dilawan, ujian dijalani. Sikap kita terhadap pencobaan adalah harus ada kerinduan kita bahagia kalau menang. Harus ada sukacita yang besar dalam menghadapi pencobaan. Pencobaan itu biasa, dan selalu ada jalan keluar dari Tuhan. Orang menghadapi pencobaan itu bisa panjang. Dalam pencobaan tidak ada peranan Allah, karena Allah tidak mencobai siapapun.

Dalam ayat 12 akan memulai dengan satu kata yang kontradiksi, Yakobus bilang :berbahagialah, tetapi dalam doa Yesus supaya kita jangan dibawa kepada pencobaan. Ini menarik. Di sana ditemukan, kata “jatuh” itu artinya bertemu, menghadapi, mengalami. Bukan jatuhnya, tetapi mengalaminya. Kedua kata itu memiliki hal yang mendasar. Jatuh itu berarti setelah mengalami, tetapi bertemu adalah awal perjumpaan. Ayat ini lebih tepat diterjemahkan berbahagialah orang yang bertemu dengan pencobaan.
Kata “berbahagialah” di sini sama dengan ucapan bahagia yang terdapat dalam Matius. Kata yang dipakai ini adalah “kara” (sukacita), artinya dari dalam diri kita. Pencobaan dan ujian? Apakah kita bisa memilih atau mengalami salah satu saja? Apakah tidak harus mengalami dua-duanya. Tiap orang harus mengalami kedua-duanya, baik ujian dan pencobaan. Mana duluan? Dari pencobaan dulu (dari yang jahat dulu), setelah itu baru ujian (dari Tuhan). Mana yang lebih berat? Pencoban dan ujian kedua-duanya harus dialami supaya kita mengalami berkat2 Tuhan. Ujian dan pencobaan itu adalah dua suap obat kuat dari Tuhan. Mengapa disebut berbahagia?
1. Karena mendewasakan kita, membuat kita jadi orang yang kuat, tangguh.
2. Karena kita melihat kekuasaan Tuhan. Dia sanggup menolong kita.
3. Kita mendapatkan mahkota kehidupan.

Ada 5 macam mahkota:
1. Mahkota abadi (II Cor. 9:24-27). Dalam kontex melatih dan menguasai (v 26-27), maka mahkota ini diberikan pada mereka yang terus menerus menaklukan keinginan daging di bawah control Roh Kudus.
2. Mahkota kemegahan (Phil. 4:1; I Thess. 2:19-20). Mahkota ini bagi mereka yang memenangkan jiwa.
3. Mahkota kebenaran (II Tim. 4:7-8). Mahkota ini bagi mereka yang hidup setiap hari dalam kasih, rindu akan kedatangan-Nya yang ke 2, dan selalu melakukan hal-hal yang memiliki nilai kekal.
4. Mahkota kehidupan (James 1:12). Mahkota ini diberikan bagi mereka yang menderita karena kebenaran. Diberikannya nanti setelah meninggal.
5. Mahkota kemuliaan (I Pet. 5:1-4). Mahkota ini bagi mereka yang setia menggembalakan.

Tips menghadapi pencobaan:
1. Mendekatlah pada Allah dan lawanlah iblis (Yak. 4:7)
2. Jagalah hatimu dengan kewaspadaan (Ams. 4:23)
3. Jangan merasa diri kuat
4. Jangan member kesempatan kepada iblis

Seluruh isi Yakobus membicarakan kualitas hidup orang percaya. Dalam bagian ini menekankan kehidupan orang Kristen dalam pertumbuhan dan kekudusan. Bagian ini disebut pendisiplinan kehidupan orang percaya yang menuntut ketaatannya bertumbuh secara progresif, khususnya bagaimana mereka mengendalikan diri akan keinginan dan sifat-sifat lamanya. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
1. Jangan menyalahkan Allah dalam hal kelemahan sifat diri (sinful nature). Dalam teologi Yahudi ada pengajaran bahwa Allah adalah sumber segala-galanya. Tetapi tidak dengan Yakobus. Peran manusia ikut ambil bagian dalam pencobaan (lih. Yak. 1:17)
2. Adanya keinginan manusia yang cenderung terikat oleh dosa.
3. Orang percaya itu harus bertahan dalam pencobaan. Bertahan mempunya arti: sabar dan ada ketekunan. Orang Kristen harus bertahan dan jangan melarikan diri. Mereka yang bertahan dan menang atas pencobaan akan menerima mahkota.
Itu sebabnya untuk mengatasi pencobaan kita perlu hikmat Tuhan dan hidup takut akan Tuhan.

Pencobaan yang dialami setiap orang percaya adalah pencobaan biasa bukan luar biasa (1 Kor. 10:13). Pencobaan adalah bagian hidup dari seseorang. Oleh sebab itu, dalam Yak 1:13 dimulai dengan kata “apabila”, dan bukan “jika”. Pencobaan bukan dari Allah karena Allah sumber dari segala yang baik, tetapi datangnya dari diri sendiri karena tersesat dan terpikat olehnya. Pencobaan bisa juga dari setan. Tetapi pencobaan itu tidak akan menjadi pencobaan bagi yang tidak tersesat. Adam dan Hawa dicobai oleh setan, mereka jatuh, karena terpikat oleh rayuan iblis. Berat atau tidak pencobaan tergantung kebiasaan dan kondisi kerohanian seseorang.
Bagaimana cara menang atas pencobaan:
1. Jangan meremehkan pencobaan dan menganggap diri kuat.
2. Jangan membesar-besarkan pencobaan.
3. Arahkan pandangan pada Kristus yang lebih besar dari pencobaan
4. Datang pada Kristus, berserah, berharap, belajar pada-Nya (Mat. 11:28-29).

Bagaimana Yakobus menghadapi pencobaan:
1. Hadapi dengan hati yang bersukacita (ayat 2). Alasannya: pertama, kesedihan tidak menyelesaikan cobaan; kedua, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu (Rm. 8:28); ketiga, Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya (Pkh. 3:11); keempat, ada reward mahkota yang telah tersedia (Yak. 1:12).
2. Hadapi dengan hati yang tabah dan sabar. Alkitab memakai kata “ketekunan”, Ayat 3, ujian terhadap pencobaan menghasilkan ketekunan.Orang Kristen harus berpikiran positif (positive thinking) dan jangan melarikan diri dari cobaan, tetapi tetaplah tabah dan sabar, karena lewat pencobaan ini Allah sedang menguji kesungguhan dan keseriusan iman kita kepada-Nya.
3. Sadarilah bahwa pencobaan bertujuan membuat kita menjadi lebih kuat, tangguh, dan menjadikan kita dewasa.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Garut


1) Allah tidak pernah mencobai siapapun. (ayat 13) Ayub dicobai oleh iblis dengan seijin Allah. (Ayub 1:6-12) Bagi Allah pencobaan oleh iblis atas Ayub dijadikan ujian untuk meneguhkan iman Ayub supaya iman Ayub menjadi sempurna dan lengkap dalam pengenalannya akan Allah. (Ayub 42:5-6) Sebagai bonusnya Allah mengembalikan berlipat apa yang dimiliki Ayub. (Ayub 42:7-17)

2) Pencobaan datang dari diri manusia itu sendiri. (ayat 14-15) Yudas dicobai oleh ketamakan dirinya sendiri akan uang dan berakhir dengan maut, Yudas mati dengan menggantung diri. (Markus 14:10-11, Matius 27:3-5). Petrus juga dicobai oleh iblis dan Tuhan Yesus memberitahukan hal ini kepada Petrus. Sekalipun Petrus berkata dengan kesombongannya tidak akan menyangkal tetapi pada akhirnya Petrus menyangkal juga namun janji Tuhan Yesus bahwa Ia akan memelihara iman Petrus maka Petrus menangis dan ia boleh kembali kepada Tuhan. (Lukas 22:31-32)

Dari jaman Adam dan Hawa, manusia dicobai dalam tiga hal jatuh yaitu keinginan mata, kenikmatan hidup bahkan keangkuhan hidup, dan Adam dan Hawa jatuh melalui ketiga hal tersebut. Maka Yohanes berkata dalam I Yoh 2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

3) Allah sumber kebaikan dan kebenaran. (ayat 16-18) Pemberian Tuhan itu selalu baik, anugerahNya sempurna. Allah adalah terang maka pasti tidak ada kegelapan didalamnya. Allah tidak pernah berubah bahkan mengangkat kita menjadi anak-anak Nya. Jaminannya adalah seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia ?

Pencobaan hidup adalah bagian yang tidak banyak orang yang mau membicarakannya bahkan cenderung menghindari membhasnya. Orang lebih senang membahas dan membicarakan berkat, kesuksesan dan hal-hal lain yang menyenangkan. Tetapi pada faktanya pencobaan menjadi bagian hidup yang tidak bisa dilepaskan dalam hidup manusia. Bahkan di dalam ps 1:12 mengatakan , “berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, …”
Mengapa kita bisa berbahagia ketika pencobaan itu melanda hidup kita? Ia akan menerima Mahkota kehidupan. Tetapi untuk mendapatkan mahkota kehidupan syaratnya ia harus tahan uji. Sebab untuk mendapatkan sebuah mahkota tidak dengan mudah ada perjuangan serta pergumulan yan berat. Hal ini memerlukan kesabaran dan kesetiaan kita pada Allah, supaya kita dimampukan untuk menghadapi berbagai pencobaan itu. Sebab melalui pencobaan Allah mengajarkan kita banyak hal yaitu supaya kita bertekun, supaya kita belajar percaya dan bersandar pada Tuhan. Seringkali kita tidak sabar, kurang percaya demikian juga kurang setia dalam menghadapi pencobaan akhirnya kita tidak mendapatkan mahkota kehidupan seperti Tuhan janjikan. Sebab ketika pencobaan itu melanda hidup kita, respon yang seringkali muncul dalam diri kita , kita sedih, marah, kita berbuat dosa bahkan menyalahkan Tuhan. Dengan sikap seperti ini akhirnya membuat kita tidak bisa belajar sesuatu, apalagi mendapatkan mahkota kehidupan. Marilah kita belajar setia dan percaya pada Tuhan dalam menghadapi pencobaan supaya berkat Tuhan turun atas kita sekalian.

Pencobaan datang dari keinginan yang jahat bukan dari Allah, apabila keinginan dibuahi akan melahirkan dosa yang bisa mengakibatkan maut. Karena keinginan dan nafsu yang jahat seperti bola salju yang digelindingkan makin lama makin besar tidak pernah puas sehingga tidak ada yang sanggup menghentikannya.Bola salju itu bisa menghacurkan siapa saja bahkan diri sendiri dan celakanya seringkali manusia tidak sadar akan pencobaan tersebut tahu-tahu sudah mengalami kehancuran yang parah. Seringkali orang salah mengerti perbedaan antara pencobaan dan ujian.dari hasilnyalah biasanya orang akan mengerti. Pencobaan membawa maut tetapi ujian membawa pertumbuhan iman (I Kor 10:13). Kita bisa menang dari pencobaan jika kita menjadikan Tuhan sebagai sumber kekuatan kita dan memilih taat pada firmanNya.

Ketika kita percaya kepada Kristus dan mempercayakan hidup kepada-Nya, secara posisional kita menjadi orang kudus (positional sanctifiction). Maksudnya, kita menjadi orang kepunyaan-Nya dengan segala tugas, panggilan dan tanggung jawab. Namun demikian, kita dituntut untuk menjalani hidup kudus, bertumbuh menjadi serupa dengan Dia dalam karakter, sifat, kelakuan hidup kita (progressive sanctification). Pada akhirnya dalam sekejap mata kita diubahkan menjadi seperti Kristus (final sanctification). Dalam proses penyucian, kita harus menghadapi tantangan, godaan dan cobaan dari dunia, dosa dan sinfulnature kita yang lama. Yakobus memberikan lima tips untuk mengatasinya pencobaan, yaitu:
1) Ingatlah mahkota kehidupan bagi orang yang menang (Yak. 1:12). Allah menjanjikan mahkota kehidupan, bagi orang yang mengasihi Dia, yakni bagi orang yang memilih untuk menolak godaan dan melakukan firman-Nya. Mahkota ini adalah harta terindah dan terbaik yang akan kita persembahkan bagi kemuliaan Anak Domba Allah (Why. 4:10).
2) Ingatlah sumber godaan itu bukan dari Allah (Yak. 1:13). Ketika seseorang dicobai, janganlah ia berkata "Pencobaan ini datang dari Allah!" Alasannya adalah karena Allah tidak pernah sedikitpun hendak menjerumuskan kita ke dalam dosa. Datangnya godaan itu adalah dari keinginan-keinginan kita sendiri. Dosa terjadi ketika kita memenuhi keinginan itu dengan motif, cara, dan tujuan yang berlawanan dengan firman-Nya.
3) Ingatlah konsekuensi perbuatan dosa (Yak. 1:15). Kata Yakobus, apabila keinginan itu dibuahi, maka menghasilkan dosa, dan apabila dosa itu sudah matang, maka ia melahirkan maut. Jadi, godaan itu arahnya menuju kematian.
4) Ingatlah kebaikan Tuhan kepada kita (Yak. 1:16-17). "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang." Maksudnya, Allah itu baik bagi kita, janganlah membalas kebaikan-Nya dengan melukai hati Bapa kita dengan hidup berkubang dalam dosa.
5) Ingatlah status kita sebagai anak sulung (Yak. 1:18). Kita adalah ciptaan baru, tujuannya adalah supaya pada tingkat tertentu kita menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. Dengan status sebagai ciptaan baru, kita memiliki kehidupan baru, kehidupan persekutuan personal penuh kasih dengan Allah. Sepantasnya kita hidup menurut firman-Nya. Sebagai anak sulung, kita adalah pengelola harta Bapa kita; kita adalah pemimpin atas segala ciptaan-Nya. Kalau tidak, kita akan seperti Esau yang menyesal karena telah menjual hak kesulungannya.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung


Orang Yahudi percaya ada kuasa lain yang menawan dan bekerja secara antagonis saat manusia mau menaati hukum Allah. Ini sama dengan konsep Paulus dalam Roma 7:22-23. Jadi manusia punya 2 natur, kecenderungan yang baik (yetser hatob) dan kecenderungan yang jahat (yetser hara). Dari mana datangnya kecenderungan yang jahat itu? Orang Yahudi punya 5 pandangan:
Dari setan (Ecclesiasticus 37:3; 15:14-15). Setan meletakkan kecenderungan yang jahat itu dalam hidup manusia. Namun manusia dapat mengalahkannya dengan memaksimalkan kekuatan kehendak bebasnya.
Dari taman Eden (dalam buku apokaliptik “The Life of Adam and Eve”). Setan menyamar jadi malaikat, lalu berbicara lewat ular dan kemudian menaruh keinginan yang jahat itu pada Hawa. Setelah itu setan membuat Hawa bersumpah untuk memberi buah itu pada Adam.
Dari kejatuhan malaikat (dalam buku “The Book of Enoch”).
Dari diri manusia sendiri (The Book of Enoch 98:4). Manusia yang menciptakan dosa. Jadi dosa bukan “barang” kiriman ke dalam dunia.
Dari Allah. Beberapa rabi berpendapat demikian. Allah menciptakan kecenderungan jahat ini agar manusia memberontak pada-Nya. Tapi Allah juga memberi obat penawarnya, yaitu hukum Taurat untuk menyembuhkan manusia. Bila manusia dikuasai oleh hukum Taurat, dia tidak akan jatuh ke dalam kecenderungan jahat ini. Jadi Allah memberi kecenderungan baik di tangan kanan manusia, sekaligus memberi kecenderungan jahat di tangan kiri manusia.
Manusia cenderung mencari kambing hitam siapa yang salah, seperti dalam kisah Adam dan Hawa dahulu [sekarang di Indonesia antara cicak (KPK) dan buaya (Polri dan Kejaksaan)]. Ujung-ujungnya Allah yang menjadi penyebab utamanya. Tapi Jesus bin Sirach, yang hidup 150 tahun sebelum Yakobus, tidak setuju dengan hal ini. Dia berkata, “Jangan katakan bahwa karena Tuhan aku jadi meninggalkan jalan yang benar, karena Tuhan tidak mungkin melakukan apa yang Dia benci. Jangan berkata bahwa Tuhan memimpin aku ke jalan yang sesat, karena Dia tidak butuh orang yang berdosa (Ecclesiasticus 15:11-12).
PL dengan jelas menjabarkan bahwa Allah hanya mencobai umat-Nya bila itu berkaitan dengan kerinduan-Nya untuk mengetahui kecenderungan hati manusia dalam hal ketaatan. Allah tidak pernah mengijinkan pencobaan terjadi untuk menjatuhkan manusia.
Yakobus lalu memberitahu duduk persoalannya. Bukan Allah yang mencobai manusia. Allah tidak bisa dicobai dan Dia tidak mencobai siapapun, karena pencobaan pada dasarnya mendorong manusia jatuh ke dalam dosa. Oleh sebab itu, Allah tentu tidak ingin itu diberikan kepada manusia.
Manusia dicobai dan mencobai dirinya melalui keinginan hatinya yang jahat (Yak. 1:14). Keinginannya yang jahat itulah yang menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Jadi, nafsu jahatnya menjadi pembuka pintu atau jalan masuk bagi dosa, sehingga dosa menguasainya. Namun dosa tidak berkuasa bila manusia tidak punya nafsu jahat.
Kata mencobai (peirasmos) bisa digunakan untuk menunjukkan pencobaan yang datang dari luar (the outer trial) atau pencobaan yang datang dari dalam (the inner temptation). Dalam Yakobus 1:2 kata ini berkonotasi sebagai pencobaan yang datang dari luar. Sedang di sini (Yak. 1: 13-14) sebagai pencobaan yang datang dari dalam, dimana dorongan kuat dari dalam diri manusia menyeret (exelko) manusia ke dalam pencobaan. Dorongan yang kuat ini makin merajarela karena dibakar faktor luar yang sangat memikat (deleazo) hati. Padahal sebenarnya kata “mencobai” pada dasarnya lebih berkonotasi sebagai ujian, testing yang mempunyai akhir yang mulia, agar orang yang diuji jadi tambah kuat, suci, dan terbukti tahan uji. Bisa menang dan terbang tinggi. Jadi ujian/pencobaan ini bukan perangkap agar manusia jatuh ke dalam dosa.
Yakobus kemudian menjelaskan bahwa dosa itu membuahkan maut. Orang Yahudi juga percaya akan hal ini. Bila keinginan daging yang jahat, egois, dan gelap itu terus dipelihara, akhirnya akan melahirkan dosa. Lalu dosa yang sudah matang dierami akan melahirkan maut. Siapa yang mengerami dosa? Keinginan manusia. Kata “keinginan” (epithymia), yang menggambarkan nafsu manusia yang jahat itu, di sini berbentuk feminine. Ini untuk menggambarkan peran seekor induk burung dalam mengerami dan menetaskan anaknya. Kata “membuahkan” (apokuei) biasanya dipakai untuk menjelaskan proses perkembangbiakan burung (bertelor). Tidak dipakai untuk menjelaskan soal perkembangbiakan manusia. Bila kata ini dipakai untuk menjelaskan proses mengerami dan melahirkan dosa, maka proses ini sebenarnya sangat merendahkan martabat manusia. Manusia diibaratkan seperti burung (hewan), sehingga bisa mengerami dan bertelor atau menelorkan dosa.
Tapi untung ada pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna dari Allah. Pemberian ini tidak pernah berubah karena pertukaran bayangan. Kata “berubah” (parallage) dan “pertukaran” (tropes) merupakan kata yang biasanya dipakai untuk menjelaskan fenomena alam yang selalu berubah, seperti perubahan panjang siang dan malam, perubahan penampakan matahari karena fase pelelehan dan penyusutan, atau perubahan kecemerlangan cahaya bintang dan planet. Dapat dikatakan perubahan adalah karakteristik semua ciptaan Allah. Yang tidak berubah adalah Allah sang Pencipta dan perubahan itu sendiri. Doa pagi orang Yahudi berbunyi demikian, “Diberkatilah TUHAN Allah yang menciptakan cahaya,” yang variabel cahayanya selalu berubah, walau Allah yang menciptakannya tidak pernah berubah. Frase “setiap pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna” merupakan sebuah puisi hexameter, yaitu puisi yang baris-barisnya memuat 6 derap.
Tujuan akhir dari pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna dari Allah adalah agar anak-anak Allah dapat menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. Dalam dunia PL, semua buah sulung dikuduskan untuk Allah. Itu merupakan hak/milik Allah. Harus dipersembahkan sebagai persembahan syukur. Anak sulung juga merupakan hak Tuhan. Hidup anak sulung yang sudah diubah Tuhan melalui Injil harus dipersembahkan juga kepada Tuhan.

Tidak berangkat Yakobus membahas pencobaan, pencobaan tidak datang dari Tuhan. Vs.17, segala yang baik datang dari Tuhan. Pencobaan bertujuan jahat, jadi pencobaan bukan dari Tuhan. Pertama pencobaan berasal dari si jahat, karena tujuannya merusak dan menatuhkan iman. Yang kedua brasal dari diri sendiri, karena manusia cenderung melakukan dosa, dan dia dicobai oleh dirinya sendiri. Allah dapat menggunakan pencobaan untuk mendatangkan kebaikan. Kebaikan harus ada pembandingnya sehingga akan kebaikan itu menjadi indah. Dalam pencobaan Allah bisa menyatakan kebenaranNya (vs.17), ada yang baik dan perfek yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia.

William Barclay, tangan dan pikiran yang kosong akan mendatangkan pencobaan.

1) MARTIN LUTHER
Anda tidak bisa mencegah burung untuk terbang di atas kepala Anda, tetapi Anda bisa mencegah mereka membangun sarang di rambut Anda. Anda tidak bisa mencegah Iblis untuk mengajukan pikiran-pikiran, tetapi Anda bisa memilih untuk tidak memikirkannya atau bertindak berdasarkannya.
2) D.L. MOODY
Dosa akan menghalangi Anda dari Alkitab atau Alkitab akan merintangi Anda dari dosa. Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibrani 4:12)
3) BILLY GRAHAM (Buku pegangan pelayanan)
"Allah tidak berjanji untuk menyingkirkan kita dari pencobaan, sebab Kristus sendiri pun mengalaminya.Tanpa pernah mengalami pencobaan dan mengalahkannya, kita tidak akan memiliki adanya kesadaran akan keberhasilan dan keyakinan. Pencobaan menyatakan keadaan seseorang yang sesungguhnya. Dia dapat membuat kita menjadi lebih Kristen atau tidak Kristen. Kemenangan membuat seorang Kristen menjadi lebih kuat dan menyebabkannya menemukan sumber kuasa Pada saat-saat pencobaan, Kristus akan menjadi lebih nyata, lebih dari biasanya, bagi Anda."

Yang harus diingat tentang pencobaan:
1) Pencobaan adalah hal biasa bagi semua orang Kristen.
1Kor 10:13. Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.
2) Pencobaan berasal dari iblis (lihat pencobaan Yesus, Matius 4:1- 11).
3) Pencobaan bukanlah dosa. Menyerah padanya adalah dosa.
Allah tidak membawa kita ke dalam pencobaan, dalam arti merencanakan dan mencobainya sendiri. "Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: `Pencobaan ini datang dari Allah!` Sebab Allah tidak dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun." (Yak 1:13)

4) RICK WARREN (Kehidupan yang Digerakkan oleh Tujuan)
a.Jangan mau diintimidasi
Pencobaan bukanlah sebuah dosa. Yesus dicobai, tetapi Dia tidak pernah berbuat dosa (Ibrani 4:15). Pencobaan menjadi dosa hanya bila Anda menyerah padanya.
b.Kenali pola pencobaan dan bersiaplah menghadapinya
1Pet 5:8. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
c.Perencanaan yang bijak mengurangi pencobaan.
Ams 4:26-27. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan."
Ams 16:17. Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya.
d.Mintalah pertolongan Allah
Maz 50:15. Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.
5) JOHN SUNG ( 3 TA: TAHTA, HARTA, WANITA)
6) HO HSIAO TUNG (diri sendiri, setan, dunia ini) KPK 214.

Ayat kunci ada di vs.12, yang tekun dan yang menghadapi. Sikap menyalahkan Tuhan. Sikap yang benar, pencobaan dari dalam diri sendiri (teologi orang Ibrani).

Manusia di dalam pencobaan sering bersungut-sungut dan tidak mengerti mengapa pencobaan datang dalam kehidupan. Hikmah pencobaan: meningkatkan daya tahan, banyak pelajaran yang di dapat dari pencobaan, sehingga anak-anak Tuhan dapat selalu brsyukur. Meski ada tangisan, tetapi selalu ada damai yang mendampinginya.

Zakharius Ursinus: pencobaan adalah alat yang dipakai untuk menguji kita (sparing partner). Apa yang terjadi karena pilihan manusia itu sendiri. Yakobus menjelaskan perbedaan dari pencobaan dan ujian. Pencobaan menjauhkan anak Tuhan dari Tuhan, ujian mendekatkan anak Tuhan kepada Tuhan.

Jenis pencobaan: pencobaan yang ideal (holiness), Jonathan Edwards: bagaimana keindahan dan kesucian itu yang melihat yang penting di dalam dunia ini. Tidak ada jalan pintas untuk kesucian, Yesus datang dan menggenapkannya di kayu salib. Ketenangan dari keindahan hidup memiliki pengaruh yang besar setelah kuasa Allah. Bagaimana bisa memuji Tuhan dalam pencobaan.
Isaac M. Wise: the history of the human soul in its relations with its Maker; the history of its sin, and grief, and dead, and of the way of its recovery to hope and life and to enduring joy.
Leighton Ford: there is no detour to holiness. Jesus same to resurrection through the cross, not around it.
Thomas Chalmers: the beauty of holiness has done more, and will do more, to regenerate the world and bring in everlasting righteousness than all the other agencies put together.
Jonathan Edwards: he that sees the beauty of holiness, or true moral good, sees the greatest and most important thing in the world.
Blaise Pascal; the serene beauty of a holy life is the most powerful ifluence in the world next to the power of God.
Leonard Ravenhill: the greatest miracle that God can do today is to take an unholy man out of unholy world, and make that man holy and put him back into that unholy world and keep him holy in it.

Berbahagialah yang bertahan dalam pencobaan. Kalau bertahan kita berbahagia, kalau tidak kita berdosa. Pencobaan lebih menuju pada nafsu manusia, dari dari setan, diri sendiri. Selagi orang bernafas pasti ada nafsu, persoalannya bagaimana mengekang nafsu tersebut.

Yakobus memiliki tata cara penulisan yang baik, dari konteks kita melihat bahwa mungkin pada saat itu jemaat mula-mula mengalami pencobaan, sama dengan surat Petrus. Kata kunci adalah berbahagia, dan kata ini diulang-ulang, yang dalam bahasa aslinya memiliki arti diberkati. Yang menarik adalah bagaimana Yakobus memberikan satu paradigma, bahwa mengalami pencobaan adalah suatu berkat.

Dalam Yakobus ada tiga perbedaan dalam penterjemahan: 1. Pencobaan/ujian bersifat netra karena motivasi dan tujuan yang berbeda. shí,實yàn,驗(experimental),shì,試liàn,煉 (Trials),shì,試tàn,探(temptation)。Unsur yang penting adalah iman, agar dapat bertahan dalam pencobaan, bukan percaya kepada Allah, tetapi mempercayakan diri kepada Allah. Semua pemberian yang baik berasal dari Allah, dan seringkali manusia tidak bisa bertahan dalam berkat, sehingga dia meninggalkan yang indah. 2. Segala karunia yang sempurna untuk menyempurnakan yang tidak sempurna. Tuhan memiliki maksud yang baik dalam pencobaan. Dalam kasih sayang Tuhan, kita tetap dapat bertahan dan mencapai kepada kesempurnaan. Pencobaan yang dipakai iblis untuk menjatuhkan manusia: nafsu mata, nafsu mulut dan nafsu gengsi. Dunia akan berlalu, hanya yang bertahan di hadapan Allah yang akan menang dan hidup. Kekuatan iman tidak lebih kuat dari kasih, seperti Paulus mengatakan: apa yang bisa menjauhkan aku dari kasih Allah. Dunia penuh dengan pencobaan, mengapa ini terjadi? Tujuannya adalah Allah menggembleng kita untuk semakin beriman dan bersandar pada kasihNya.