Jumat, 18 September 2009

MENGHADAPI UJIAN IMAN

MENGHADAPI UJIAN IMAN

Yakobus 1:1-12



Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Garut

Setiap orang pasti pernah menghadapi ujian dan ujian tersebut tidaklah mudah untuk dilalui. Sebagai contoh, seorang anak SD kelas enam pernah bertanya kepada ibu gurunya, “Ibu guru apakah saya boleh tidak mengikuti ujian akhir?” Jawab bu guru, “Boleh nak, kamu boleh tidak ikut ujian, tetapi selamanya kamu harus berada di kelas ini, karena untuk meninggalkan sekolah ini, kamu harus ikut ujian dan lulus ujian atau naik kelas.” Dari diskusi di atas dapat ditarik dua konklusi: pertama, ujian itu tidaklah mudah tetapi hal yang sulit; kedua, ujian itu sangat penting sebagai sarana pengujian kualitas seseorang, apakah ia layak naik kelas ataupun tidak dan melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Demikian juga dengan ujian iman, ketika seseorang diperhadapkan dengan ujian iman, muncul berbagai respons. Ada orang yang berusaha menghindarinya dan lari dari ujian, tetapi ada juga yang berani menghadapi ujian itu. Bagaimana Sikap Orang Kristen Ketika Menghadapi Ujian Iman?
1. Hadapi semua ujian iman dengan hati yang bersukacita. Ayat 2 berkata, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Ayat 12à “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Yakobus mendorong pembacanya supaya tetap bersukacita tatkala menghadapi pencobaan. Alasannya: Allah menyediakan mahkota kehidupan bagi mereka yang berhasil mengatasi pencobaan. Selain itu, Allah sedang melatih dan memurnikan iman mereka agar kuat, kokoh dan semakin tabah. Alasan berikutnya, supaya karakter orang percaya diubahkan dan memiliki pengharapan yang teguh kepada Tuhan (Rm 3:3-5).

2. Hadapi semua ujian iman dengan hati yang tabah dan sabar. Ayat 3, menegaskan bahwa ujian terhadap iman menghasilkan ketekunan. Orang Kristen harus berpikiran positif (positive thinking) dan jangan melarikan diri dari ujian, tetapi tetaplah tabah dan sabar, karena lewat pencobaan ini Allah sedang menguji kesungguhan dan keseriusan iman kita kepada-Nya.

3. Sadarilah bahwa ujian iman bertujuan membuat kita menjadi sempurna. Ayat 4, menyatakan, “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh.” Tujuan ujian iman adalah supaya kita memiliki hubungan yang benar dengan Allah, dan sungguh mengasihi Dia dengan sepenuh hati dalam pengabdian, ketaatan dan kemurnian. Rasul Petrus menegaskan bahwa maksud Tuhan mengizinkan pencobaan adalah untuk memurnikan iman kita seperti emas yang diuji kemurniaanya di dalam api (1Ptr. 1:6-7).

Dalam kehidupan ini, kita biasanya berharap untuk tidak mengalami berbagai kesulitan. Kalimat yang seringkali muncul : “Yah… semoga semuanya lancar…sukses…tidak ada aral melintang”, itulah harapan setiap kita. Maka tidak mengherankan tatkala kita mengalami kesulitan dan tantangan, respon kita adalah kita kehilangan semangat, putus asa, bahkan berusaha mencari jalan pintas. Tidak mudah menghadapi tantangan dan kegagalan dalam hidup kita.
Yakobus melihat adanya bahaya penyangkalan iman akan Yesus ketika mengalami berbagai pencobaan. Karena itu Yakobus mengirimkan surat kepada mereka yang isinya mengajak mereka untuk memiliki mata iman yang memampukan mereka untuk melihat dan memaknai berbagai pencobaan dan kesulitan itu sebagai suatu kebahagian.
Mengapa? Karena dengan berbagai cobaan dan kesulitan itu, mereka akan semakin bertekun mengejar kesempurnaan. Dengan kacamata iman, kita akan melihat segala peristiwa dalam hidup sebagai rahmat yang telah disediakan Allah kepada kita untuk bertumbuh dewasa.
Bagaimanakah kita melihat tantangan dan kesulitan dalam hidup ini? Ada lima langkah yang perlu kita miliki :

1. Hidup harus bertahan : Berharap dan terus memuji Tuhan untuk kebaikanNya (Yak. 1:1-4)

Yakobus mendorong kita untuk "memandang semua hal dengan sukacita" ketika kita mengalami pencobaan yang menguji iman kita. Memang tidak mudah. Tetapi tatkala kita bertahan atas pencobaan itu, tekanan pada iman kita itu akan memunculkan pengalaman bahwa Tuhan mempunyai kerinduan yang terbaik untuk kita, sehingga pada akhirnya akan menjadi: "sempurna dan utuh, tidak kekurangan suatu apapun". Seringkali Tuhan mengijinkan kita berjalan melalui tantangan kesulitan karena pengalaman itu membentuk kita untuk menerima jawaban yang Dia telah janjikan. Meski di tengah rasa sakit, jika kita terus bertekad, berdiri diatas janjiNya dan percaya pada janji-janjiNya - kita akan melihat kebaikan Tuhan yang membawa kita ke tempat yang lebih baik.

2. Hidup harus berhenti dari kuatir : Minta hikmat Tuhan untuk situasi yang ada (Yak. 1:5)

Tuhan memberikan hikmat pada setiap orang yang meminta padaNya. Dia memberi itu dengan murah hati. Dia tidak keberatan kala kita meminta padaNya. Pada kenyataannya, Dia suka ketika kita datang padaNya dengan segala kebutuhan kita. Namun yang harus dipegang adalah, kita harus meminta hikmat untuk mendapat apa yang kita minta. Terlalu banyak dari kita punya alasan atas masalah kita dan kembali dengan solusi dari kita sendiri dan datang pada Tuhan hanya sebagai alternatif terakhir. Tuhan mengatakan dalam Yeremia 33:3 : "Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui. Jika kita datang pada Tuhan segera setelah kita memasuki kesulitan, Dia berjanji akan memberikan pada kita pespektif Illahi atas situasi kita. Dia dapat menunjukkan pada kita jalan menanggapi pencobaaan yang mungkin tidak pernah terjadi dalam kehidupan kita.

3. Hidup harus tanpa ragu : datang pada Tuhan - dan harapkan suatu jawaban (Yak. 1:6-8)

Ketika kita meminta pertolongan Tuhan, ingat bahwa Dia dapat dipercaya. Ketika Yesus mengundang Petrus untuk berjalan bersamanya diatas air, Petrus dapat melakukannya - selama dia terus menatap pada Yesus, dan ketika dia berfokus pada sekeliling - melihat gelombang sekeliling dia dan air yang bergelora, dia menjadi goyah. Ketika kita meminta pertolongan pada Tuhan, fokuslah pada FirmanNya dan apa yang Dia katakan pada hati kita untuk dipercayai daripada membiarkan keyakinan kita dikuasai oleh keadaan.

4. Hidup harus penuh pengetian : Tuhan tidak dibatasi oleh keadaan (Yak. 1:9-11)

Standar dunia mengatakan kekayaan seseorang memberi banyak kesempatan karena mereka mempunyai sumber untuk membuat mimpinya menjadi kenyataan, kuasa, pengaruh dlsb. Tetapi berbeda sekali, Tuhan ternyata tidak terkesan dengan kekayaan manusia, lebih pada kesediaan kita untuk percaya padaNya dan melalui ketaatan dalam apa yang Tuhan sudah katakan agar kita lakukan. Jadi jika kita kaya dalam iman, tidak ada batasan untuk apa yang Tuhan dapat genapi melalui kehidupan kita.

5. Hidup harus dalam ketekunan : Terus arahkan mata pada Tuhan (Yak. 1:12)

Melalui ketekunan dalam doa dalam setiap situasi pencobaan, memuji Tuhan dan percaya pada kebaikanNya, kita akan membangun karakter yang kita perlukan untuk menerima semua yang yang Tuhan sudah sediakan bagi kita tanpa merasa terbebani. Kemenangan yang akan muncul dari setiap situasi kita adalah gambaran kecil dari kemenangan yang menanti semua orang percaya suatu hari kelak ketika kita menerima mahkota kehidupan yang Tuhan sudah janjikan bagi siapa saja yang mengasihi Dia.

Saudara, jika kita menyimak rentetan kehidupan yang sedang kita jalani adakalanya kita tidak selalu mengalami sukacita dan kebahagiaan. Terkadang kita merasa bahwa kehidupan yang kita jalani ini teramat berat dan sulit, ada lembah-lembah kekelaman dan liku-liku kehidupan yang sedang menghimpit kita.
Saudara, pada saat-saat seperti ini kita tidak tahu harus bagaimana menghadapi kesulitan ini, keputusan dan jalan apa yang harus kita pilih, sungguh terkadang kita tidak tahu. Tetapi ada sedikit penghiburan yang bisa kita rasakan, ternyata yang namanya kesulitan hidup sudah terjadi sejak jaman dahulu kala, dan tidak melanda pada diri kita sendiri saja, ada orang lain yang juga mengalami pergumulan yang sama bahkan mungkin mereka jauh lebih berat beban yang harus dipikulnya. Artinya kesulitan dan kebahagiaan adalah sebauh bagian hidup manusia yang tidak bisa kita elakkan. Ketika penderitaan ini menimpa kita anggaplah itu sebagai ujian iman kita, tidak selama hal ini buruk, ada sisi positif yang harus kita pelajari.
1. Bersukacitalah dalam menghadapi pencobaan
2. Jangan Bimbang di dalam pencobaan
3. Bertekun di dalam Iman
4. Allah menyediakan mahkota kehidupan

Sepertinya aneh kalau kesulitan/ujian dianggap sebagai suatu kebahagiaan, karena ujian biasanya selalu menyakitkan. Tetapi dari iman Kristen mengingatkan kita bahwa ujian tidak identik dengan kepahitan karena melalui ujian orang percaya bisa mengalami Tuhan itu sendiri. Itulah sebabnya Yakobus meminta penerima surat menganggap ujian sebagai kebahagiaan karena akan menghasilkan ketekunan yang membawa seseorang lebih memahami kehendak Allah, hidup dalam doa dan mengasihi Allah juga makin belajar bersandar pada Allah.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta

Ada beberapa Yakobus, pertama Yakobus anak Zebedeus dan saudara Yohanes, ia orang yang menojol dari orang yang bernama Yakobus dan menjadi murid Tuhan Yesus Mat 4:17-22.
Kedua Yakobus, anak Alfeus ia adalah murid yang lain Mat 10:3; Kis 1:13 tetapi sedikit kita tahu tentang dia .
Ketiga Yakobus , saudara tiri Tuhan Yesus, dialah yang paling mungkin penulis surat ini.
Surat Yakobus menurut tradisi ditulis oleh Yakobus yang Adil, saudara Yesus. Surat ini ditujukan kepada "semua umat Tuhan yang tersebar di seluruh muka bumi". Dengan memakai berbagai peribahasa, Yakobus memberikan di dalam suratnya ini sejumlah petunjuk dan nasihat yang praktis untuk orang Kristen mengenai kelakuan dan perbuatan Kristen.
Surat ini tergolong "surat-surat umum" karena pada mulanya dialamatkan kepada suatu sidang pembaca yang lebih luas daripada jemaat lokal. Salam "kepada kedua belas suku di perantauan" (Yak 1:1), dan juga petunjuk-petunjuk lainnya (Yak 2:19,21) menunjukkan bahwa surat ini pada mulanya ditulis kepada orang Kristen Yahudi yang tinggal di luar Palestina.
Mungkin para penerima surat ini termasuk orang-orang pertama yang bertobat di Jerusalem dan, setelah Stefanus mati syahid terserak oleh penganiayaan (Kis 8:1) sejauh Fenisia, Siprus, Antiokhia dan lebih jauh lagi (Kis 11:19). Hal ini menerangkan :

1. mengapa pembukaan surat ini menekankan hal menanggung dengan sukacita pencobaan yang menguji iman dan menuntut ketabahan (Yak 1:2-12),
2. pengetahuan pribadi Yakobus tentang orang percaya yang "terserak" itu,
dan
3. nada yang berwibawa dari surat ini. Sebagai pemimpin gereja diYerusalem, Yakobus sedang menulis surat kepada domba-dombanya yang berserakan.

Terkenalnya pengarang ditunjukkan oleh cara ia menyebut dirinya, yaitu hanya "Yakobus" (Yak 1:1). Yakobus, saudara tiri Yesus dan pemimpin gereja di Yerusalem, pada umumnya dipandang sebagai penulis surat ini. Pidatonya dalam sidang di Yerusalem (Kis 15:13-21) dan gambaran mengenai dirinya di bagian lain dalam PB (mis. Kis 12:17; Kis 21:18; Gal 1:19; Gal 2:9,12;1Kor 15:7) sangat cocok dengan apa yang diketahui mengenai penulis surat ini. Sangat mungkin Yakobus menulis surat ini pada dasawarsa 40-an.
Tanggal yang agak dini untuk penulisan surat ini ditunjukkan oleh berbagai faktor, seperti kenyataan bahwa Yakobus menyebutkan istilah Yunani synagogue untuk menunjuk tempat pertemuan orang Kristen (Yak 2:2). Menurut keterangan sejarawan Yahudi, Yosefus, Yakobus, saudara tiri Tuhan mati syahid di Yerusalem tahun 62 M. Dalam tradisi di katakana bahwa karena saking kesalnya orang Farisi karen kesaksiannya tentang Kristus maka mereka menyuruh melemparkan dia dari bait Allah dan kemudian melempari dia dengan batu dan pentungan besar (gada) sampai mati. Kisah itu juga menyatakan bahwa Yakobus mati seperti Juruselamat, yaitu dengan mendoakan pembunuhnya, “ Yah Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

Setelah mempelajari cara menghadapi ujian (peirasmos) maka harus mempersiapkan hati yang pertama, yaitu mempertimbangkan ujian itu dengan sikap yang positif sebagai sukacita. (ayat 2-), artinya ujian bukan hal yang luar biasa tetapi hal yang memang pasti akan di hadapi.
Mathew Hendry mengatakan. One Christian grace to be exercised is joy: Count it all joy, Jam_1:2. We must not sink into a sad and disconsolate frame of mind, which would make us faint under our trials; but must endeavour to keep our spirits dilated and enlarged, the better to take in a true sense of our case, and with greater advantage to set ourselves to make the best of it. Philosophy may instruct men to be calm under their troubles; but Christianity teaches them to be joyful, because such exercises proceed from love and not fury in God. In them we are conformable to Christ our head, and they become marks of our adoption. By suffering in the ways of righteousness, we are serving the interests of our Lord's kingdom among men, and edifying the body of Christ; and our trials will brighten our graces now and our crown at last. Therefore there is reason to count it all joy when trials and difficulties become our lot in the way of our duty. And this is not purely a New Testament paradox, but even in Job's time it was said, Behold, happy is the man whom God correcteth. There is the more reason for joy in afflictions if we consider the other graces that are promoted by them.

Kedua, ujian iman menghasilkan ketekunan, (ayat 3)
Kata ketekunan dari Yuna hupomonē, hoop-om-on-ay'
From G5278; cheerful (or hopeful) endurance, constancy: - enduring, patience, patient continuance (waiting). Ujian ada hasil postifnya yaitu menjadi sabar,

Ketiga, harus menghadapinya dengan tekun, karena ketekunan menghadapi ujian akan membawa kepada kedesawaan iman atau kesempurnaan. Kata Sempurna τέλειος , teleios - tel'-i-os
From G5056; complete (in various applications of labor, growth, mental and moral character, etc.); neuter (as noun, with G3588) completeness: - of full age, man, perfect.

Bagaimana mencapai semua itu, yaitu meminta hikmat kepada Allah dengan iman (ayat 5-8). Hikmat di sini bukanlah kepandaian secara kognitif. Konsep hikmat ini berasal dari kitab-kitab hikmat Yahudi yang berarti “pengertian rohani dari Allah yang memampukan kita tetap hidup dalam kebenaran selama menjalani ujian (band. Ams 1:2-4; 2:10-15; 4:5-9)”.

Mengapa Yakobus perlu memberi nasehat seperti ini? Karena penerima surat ini memang menunjukkan sikap tidak berhikmat dalam menghadapi ujian! Mereka menyalahkan Tuhan (1:13-18), mengagungkan golongan kaya (2:1-13, terutama ay. 6-7), memiliki konsep yang salah tentang hikmat (3:13-18).

Ayat 6-8 dihubungkan dengan ayat 2-4 melalui kata “kekurangan” (leipetai): tujuan ujian adalah membuat kita tidak kekurangan apapun (ayat 4), tetapi “jika ada yang kekurangan hikmat (ayat 5)”. Ayat 5-8 terdiri dari dua bagian yang menjelaskan meminta hikmat kepada Allah. Pertama, kepastian mendapatkan hikmat (ayat 5). Kedua, syarat mendapatkan hikmat (ayat 6-8).

Dalam ayat ini Yakobus ingin menekankan kepastian mendapatkan hikmat. Penekanan ini terlihat dari penutup ayat 5 “dan hal itu akan diberikan kepadanya”. Mengapa Yakobus bisa memiliki keyakinan seperti ini? Karena karakter Allah sebagai objek doa kita! Karakter Allah ini dinyatakan dalam bentuk dua kata kerja participle: pertama memberikan kepada semua orang dengan murah hati. Ada beberapa hal menarik dari bagian ini. Kata “memberikan” memakai present tense, yang menunjukkan tindakan terus-menerus. Tindakan ini juga terbuka untuk semua orang tanpa memandang bulu (band. sikap jemaat yang memandang muka di 2:1-3). Selain itu, pemberian ini juga didasarkan pada kemurahhatian Allah. Betapa berbedanya sikap Allah dengan orang kaya yang suka menahan gaji buruh (5:4) dan bertindak sewenang-wenang (5:6). Merupakan sebuah kesalahan besar apabila jemaat justru meminta “kemurahan” orang kaya dengan cara mengambil hati mereka (2:1-7). kedua YANG tidak membangkit-bangkit.
Terjemahan “tidak membangkit-bangkit” kurang sesuai dengan kata Yunani yang dipakai. Kata oneidizw sebenarnya berarti “mencela”, “mencemooh”, “mengolok-olok” (Mat 5:11; 11:20; 27:44; Mar 15:32; 16:14; Luk 6:22; 1Tim 4:10; Ibr 10:33). Karakter Allah seperti ini tentu saja merupakan penghiburan besar bagi jemaat yang miskin, yang selama ini dihina/direndahkan oleh orang kaya, bahkan oleh saudara seiman lain yang juga miskin (2:1-6).

Menghadapi ujian ada 7B:
a. Belajar berbahagia dalam berbagai pencobaan (v 2).
b. Belajar tekun dalam iman (v 3-4).
c. Belajar bedoa dalam iman (v 5-7).
d. Belajar setia mengikuti Yesus (v 8).
e. Belajar taat akan pengaturan Tuhan (v 9-10).
f. Belajar kefanaan dunia ini (v 10a-11).
g. Belajar menerima mahkota dengan selayaknya (v 12).

Sekalipun orang Kristen tahu bahwa hidup dalam dunia akan mengalami tantangan, pergumulan, kekurangan dan kegagalan, tapi biasanya orang Kristen tidak mau mengalami itu semua, juga tak mau menyangkal diri dan memikul salib.
Di sini, Yesus berkata bahwa orang Kristen perlu mengalami pencobaan untuk menghasilkan ketekunan dan pertumbuhan iman. Hidup di manapun, negara manapun, demokratis atau komunis, tetap akan menghadapi kesulitan.

Maka orang Kristen harus:
a. Memiliki sikap yang positif dalam menghadapi ujian iman, tidak bimbang, tidak panik.
b. Minta hikmat kehidupan dari Allah untuk menghadapi ujian iman, kekurangan atau kemiskinan, bahkan penganiayaan.
c. Yakobus menjelaskan bahwa ujian adalah proses yang sementara. Pencobaan akan berakhir, bukan selamanya yang tak berakhir / tak berujung. Orang yang bertahan akan mendapatkan kemenangan. Bertahan = bisa mengalahkan. Kemenangan itu ditandai dengan memberikan mahkota pada mereka yang lulus ujian.

Jadi, hidup Kristen tak mengerikan, tapi juga tak santai. Kita harus waspada dan berjaga-jaga.

Pencobaan = pengalaman yang tak menyenangkan, bersifat negatif. Dalam keadaan itu, orang Kristen tak mudah mengambil keputusan untuk terus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Itu berarti kita harus mengambil sikap positif. Pencobaan adalah ujian bagi iman mereka. Jadi yang negative bisa dijadikan positif, yaitu menimbulkan ketekunan / ketahanan yang berakhir pada kesempurnaan / utuh / tak kekurangan / kedewasaan karakter.
Tapi, orang yang tak beriman, adalah seperti gelombang laut (v 5b), tak menerima dari Tuhan (v 7), mendua hati / tak akan tenang.

a. Menganggap kebahagiaan bukan bersyukur karena jatuh dalam dosa. Kata itu menunjukkan Yakobus mengerti tantangan orang Yahudi dalam perantauan. Jadi, Yakobus mau menghibur mereka waktu mereka jatuh dalam dosa.
b. Berbagai-bagai pencobaan = tidak jatuh dalam dosa yang sama berulang kali. Potensi untuk jatuh dalam berbagai macam dosa itu ada. Macam pencobaan itu banyak, jamak.

Bahagia, karena:
[a]. Bisa bangkit dari kejatuhan dari dosa.
[b]. Kebangkitan dari dosa, menghasilkan ketekunan / ketahanan.
[c]. Ketekunan itu akan menghasilkan hikmat.
Jadi, orang yang jatuh dalam dosa, jangan tenggelam, tapi marilah bangkit, untuk mendapatkan ketekunan dan mendapatkan hikmat.

Pada dasarnya manusia tak suka akan pencobaan. Seperti doa Bapa Kami, “Janganlah bawa kami dalam pencobaan.” Natur manusia itu lemah, sehingga dalam pencobaan, mudah jatuh. Maka kita harus benar-benar bersandar pada Tuhan. Percaya, berserah pada Tuhan. Pencobaan itu tak akan melampaui batas kekuatan kita. Tuhan tak akan mengizinkan pencobaan melebihi kekuatan kita. Tuhan pasti akan memampukan kita menghadapinya. Tujuan akhirnya adalah mencapai kesempurnaan / kedewasaan (Matt. 5:48). Tuhan tidak bertujuan untuk menjatuhkan kita.

Bagaimana menghadapi ujian iman?
[a]. Sikap positif (v 1-4).
Jangan bersedih hati / berputus asa.
Anggaplah sebagai kebahagiaan.
Yang akan menghasilkan ketekunan, sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

[b]. Hikmat dan doa (v 5-8).
Yang kekurangan hikmat, mintalah dari Tuhan.
Berdoa sesuai dengan iman, tak bimbang dan tak mendua hati.

[c]. Tetap setia (v 9-12).
Tetap setia waktu kaya, maupun miskin. Ada yang miskin menjadi kaya, biarlah bermegah. Bermegah bukan sombong, tapi bangga dengan rasa syukur. Sedangkan kaya menjadi miskin, tetap setia, karena kekayaan tidak bisa menjadi sandaran. Bagi yang setia, akan mendapat mahkota.

Tujuan pencobaan:
[a]. Mereview apa yang sudah kita pelajari.
Kesaksian waktu belajar Yunani dulu, di mana dosennya killer.

[b]. Memperbaiki kesalahan kita.
Membuat SIM di Indonesia, bisa tak perlu ujian, tapi di US, harus ujian. Test di US, boleh 3x.

[c]. Mendapatkan hal-hal yang baru.

[d]. Pasti akan berakhir.
Ujian itu ada time limitnya.

[e]. Membuat kita lebih tough / dewasa.
Yusuf setelah diuji, menjadi lebih matang, mengasihi dan peduli.

[f]. Membuat seseorang naik kelas.
Kesaksian anak yang di Bintang kelas 5, tapi di K Gading, diturunkan menjadi kelas 4, karena bahasa Inggrisnya belum cukup.

Khotbah Minggu ini pas dengan orang Islam merayakan Idul Fitri. Mereka merayakan kemenangan dari “Pencobaan” / “Ujian” puasa selama 1 bulan. Tapi ujian dan puasa banyak yang tidak sama. Puasa merupakan pilihan. Dalam kondisi khusus, mereka boleh tidak puasa. Misalnya: Pada waktu hamil, anak kecil, buruh yang bekerja keras, dll. Tapi ujian itu merupakan sebuah keharusan. Siapapun pasti akan mengalami ujian. Kita akan “Dipojokkan” sedemikian rupa sehingga kita tidak bisa lari / menolak / menunda, tidak bisa tidak harus menghadapi ujian.
Kemudian, ujian bagi setiap orang itu tak sama satu dengan yang lain. Tuhan punya “Kurikulum khusus” bagi setiap orang.

Lalu, ujian itu bersifat continuous, bahkan bertubi-tubi, tidak seperti puasa yang “Hanya 30 hari, siang saja.
Ujian juga bukan hanya bersifat makanan saja, yang lebih sulit dari menahan makan, ada banyak.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung

Tujuan : Pencobaan dapat menjatuhkan, ujian menentukan nilai pula. Bila kita beriman dan tahan tempaan, maka api ujian dapat memurnikan kita bagaikan emas murni

Kesukaan/hoby menyusun puzzle, pernah menyusun sampai 1.000 pc. Tidak banyak yang punya hobby seperti ini. Karena tidak mudah, dan harus ada ketekunan. Menyusun puzzle melatih ketekunan. Dan harus menginvestasikan waktu dan tenaga. Ada kemajuan dan sukacita saat menemukan piece yang tepat. Nats yang dibaca dapat dianologikan sebagai hal yang sama, dimana dalam menemukan kehendak Tuhan dalam perjalanan hidup yang dijalani, sampai akhir (ay.4). Dalam pergumulan yang berat tidak meragukan lagi Tuhan bekerja. Tanpa ketekunan, tidak mungkin seorang Kristen sampai pada tujuan akhir hidupnya. Ketekunan tidak mungkin otomatis terjadi, harus ada alatnya, dan alatnya adalah: ujian. Ada 2 sumber ujian: dari dalam (ay.14) –berkaitan dengan moral (tesalonika 6), dan luar (ay.2).
Seefektif apakah ujian menghasilkan ketekunan. Sebenarnya tidak mudah. Elizabeth …… mengatakan bahwa bagaimana , ada 6 tahap; Denial (menyangkal), Bargaining, menyalahkan diri sendiri/Tuhan,
Kalau seseorang bisa menghadapi ujian itu, maka ia harus melewati tahap2 itu. Dan kalau dilihat di ay. 2. Di dalam rumusan tujuan, perlu ditambahkan hikmat. Hikmat menjadi unsur penting, sebab Tuhan tahu, orang yang sedang mengalami ujian perlu pertolongan (Kolose 1:9). Dengan hikmat, pada akhirnya orang dapat mengerti maksud Tuhan dalam pergumulan yang sedang dialaminya.

Suatu pengambaran ketekekunan seperti berlatih piano, ada banyak tawaran yang lain yang bisa mengeser orientasi, namun saat ada ketekunan, maka ada hal yang dapat dicapai dan menghasilkan sesuatu pada akhirnya

Dalam dunia remaja ada banyak kasus yang kesannya sederhana bagi orang dewasa, namun saat menghadapi hal ini bagi anak-anak remaja tidak mudah, sehingga para pembimbing yang mendampingi hal ini, sungguh diperlukan ketekunan, kesabaran. Iman pembimbing yang mendampingi pun diuji, apakah kita pun beriman untuk membawa iman remaja untuk percaya dan bersandar pada Tuhan.

Saat menghadapi ujian iman, maka banyak ibu yang sungguh menangis dan berdoa. Kepercayaan dalam keluarga sungguh harus kuat, sehingga keluarga dapat dikuatkan imannya. Kepercayaan dan kekuatan dalam keluarga akan menopang keluarga untuk menghadapi tantangan yang terberat sekalipun.

Semua orang pasti pernah mengalami, apakah kita jatuh atau menghadapi ujian tersebut. Saat mengalaminya kita butuh waktu merenungkannya. Saat kita mendapatkan solusinya/pertolongannya, maka kita tahu pertolongan Tuhan nyata.

Hidup seperti lukisan, awalnya tidak jelas, pada akhirnya hasil yang indah. Ada warna-wana gelap dan terang, kombinasi warna memberi keindahan. Kita tidak bisa lari dari ujian tersebut, namun menghadapinya dengan tekun, dan mengandalkan Tuhan, karena yang lain dapat mengecewakan, dan ketiga, kita belajar dari sudut pandang Tuhan

Dalam melihat pencobaan, maka kita harus memahami;
1. Ujian atas sepengetahuan Tuhan
2. Setiap orang harus menghadapi ujian, Tuhan Yesus pun mengalami
3. Ujian terjadi untuk kebahagian diri kita dan orang percaya
Bagaimana sikap kita menghadapi ujian? ;
1. Ujian diberikan untuk mengetahui tingkat kedewasaan iman
2. Sadar bahwa Tuhan sudah menang dalam ujian, maka kita pun percaya bahwa kita pun dapat menang atasnya
3. Allah berkuasa atas ujian, dan ujian itu tidak melampaui kekuatan kita
4. Iman menjadi dasar kekuatan
5. Pastikan arah jalan hidup kita, benar dalam jalanNya


Ada penjelasan yang perlu disampaikan tentang ujian dan pencobaan. Seringkali kali ujian yang diterima malah dijadikan pencobaan bagi diri kita, yang malah membawa kejatuhan dan keinginan daging. Dalam menghadapi ujian, maka kita harus mampu melihat siapa Allah yang dipercaya, dan mengerti kedaulatan Allah.

Tidak mudah menghadapi suatu perubahan yang drastis dan babak baru, yang ada hanyalah Percaya dan berharap pada Tuhan. Tantangan yang dihadapi tidak mudah, seorang hamba Tuhan pernah menahan panggilan ini selama 13 tahun, dan bergumul bagaimana menghidupi keluarga, sempat tahun pertama di SAAT minta pulang saja. “Tuhan mungkin tidak memberikan jalan keluar, namun Tuhan memberikan Kasih dan AnugrahNya” kalimat dari Pdt. Paul Gunandi. Akhirnya kekuatan untuk melangkah adalah dengan berharap pada Tuhan dengan dasar; Grace up on Grace, yang bisa membuat kita dapat melewatinya
Kesimpulannya, bukan hanya resep bagaimana kita menghadapinya, namun kita masuk dalam prosesnya. Saat kita menghadapi masalah tersebut, maka harus punya Kepercayaan dan Harapan pada Tuhan

Ujian selalu mendatangkan kebaikan, pencobaan tidak baik. Saat menghadapi pencobaan maka sebenarnya kita tidak senang. Ujian tersebut tidak dialami langsung dan membuat kita mengerti. Ujian terlalu mahal untuk dibayar. Ilustrasi: ada jemaat yang jatuh atau pun mengalami kecelakaan, dan harus masuk ICU, sementara dana begitu besar. Saat menghadapi hal ini memang tidak mudah.
Ada pula orang yang pernah mengalami hubungan tidak baik dengan orang tua tiri pada masa remajanya, dan saat pemuda ini dewasa, dia merasa punya kuasa untuk membalas dendam, ia masuk dalam pergumulan yang berat. Namun Roh Kudus terus berbicara dalam hatinya. Sehingga pada akhirnya ada pengampunan dan rekonsiliasi. Dalam menghadapi pencobaan dan ujian, kita perlu Roh Kudus untuk memampukan kita dan memberi hikmat agar kita dapat menghadapinya.

Masalah pencobaan bukan hanya penderitaan, namun ada pula kenyamanan hidup. Dimana kita tidak berani keluar dari area nyaman. Pencobaan dapat muncul dari kenyamanan sehingga kita tidak bertumbuh dan tidak mau bergerak
Ada 3 kata kunci
• Tempation. Pakai kata Peirasmos, yang berarti ; dari pihak Allah ujian, dari pihak Iblis pencobaan, dari peristiwa yang sama bisa menyebabkan 2 aspek tersebut
• Iman, ada 3 hal yang hal perlu dipahami, yaitu What u belive, Why u belive, Why is it important.
• The Victory, kemenangan, ada 3 hal klasik yang menjadi tantangan, yaitu; harta, sekualita, tahta. (secara umumnya tantangan orang muda: lebih ke Seksualita, dewasa: lebih ke harta, orang tua: lebih ke tahta). dalam mengerjakan hal-hal tertentu, seringkali ada akar-akar yang terselubung yang menyebabkan kita alami masalah-masalah tersebut (pencobaan/ujian).
Kata berbahagialah; “pure joy” (ay.2) blessed (ay.12), kita bisa membandingkan dua kata, kalau kita menang atas pencobaan maka kita akan mengalami kedua hal ini.

Perkataan Ravi : “kalau kita percaya Yesus namun tidak mengaplikasikannya dalam ibadah, maka kita akan kecewa”
Kita perlu menyatakan seluruh ekspresi iman kita dalam ibadah kita.
“We can not worship God, without Emotion, without Reverence, without Sacrifice, without Pure Motive”
Marthin Luther King, Jr. : “Kita mati pada saat kita diam, pada saat kita harus mengatakan kebenaran”

Dalam pelayanan pun ada ambisi, yang menyebabkan kita dapat meninggalkan area kenyamanan, namun saat tidak ada jalan sama sekali, Tuhan tutup semua, maka kita perlu sungguh-sungguh bersandar pada Tuhan.

Di balik air mata, ada permata
Waktu air mata menetes, kita hanya bisa mengelus dada
Tapi jangan pernah lupa, Tuhan beserta