Jumat, 09 Oktober 2009

JANGAN BERDUSTA

JANGAN BERDUSTA
Keluaran 20: 16; Efesus 4:25

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Garut


Musa menerima ten commandment di gunung Sinai setelah mereka keluar dari tanah Mesir. Melalui sepuluh hukum ini umat Israel diajarkan tentang pentingnya ketaatan kepada Allah, supaya hubungan mereka dengan Allah dan sesama tetap harmonis, rukun dan menjadi berkat bagi orang lain. Berdasarkan kitab Keluaran pasal 20-31, Musa mencatat ada 3 kategori hukum Allah bagi bangsa Israel: 1) moral laws (Kel. 20:1-17); 2) civil laws (Kel. 21:1-23:33); 3) ceremonial laws (Kel. 24:12-31:18). Menurut John Calvin, hukum 2-3 tidak berlaku lagi bagi kita saat ini. Karena itu: a. yang no. 2 kaitannya dengan Israel; no. 3 sudah digenapi Kristus saat mati di kayu salib sebagai korban pengganti dosa. Tetapi hukum moral masih tetap berlaku hingga saat ini. Karena: 1) Hukum ini akan memimpin mereka menuju kepada praktik hidup yang kudus (1Ptr. 1:15); 2) Karena hukum itu menjadi standar/tolok ukur kehidupan moralitas yang benar.
10 Hukum moral ini dapat dikategorikan menjadi dua bagian: pertama, perintah yang berhubungan dengan Allah dan penyembahan kepada-Nya (ay.2-11); kedua, perintah yang berhubungan dengan manusia (Kel. 20:12-17). Ke-dua bagian ini diringkas Tuhan Yesus menjadi dua hukum utama dalam Matius 22:37-39à Mengasihi Allah dengan segenab hati, segenab jiwa dan segenab kekuatanmu dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Fokus utama khotbah Minggu ini berkaitan dengan prinsip hukum yang ke-9, “Jangan Berdusta.” Mengapa Jangan Berdusta?
Pertama, karena berdusta adalah pelanggaran terhadap hukum Tuhan (Kel. 20:16). Ini adalah larangan mutlak yang bersifat kekinian. Artinya, Perintah “jangan berdusta” tidak hanya ditujukan kepada umat Israel di zaman lampau, tetapi ini juga ditujukan kepada umat percaya zaman kini. Karena itu, siapa berdusta berarti ia sedang dalam status melanggar perintah Tuhan dan itu pasti mendatangkan hukuman Tuhan. Tuhan Yesus mengajarkan, “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Mat. 5:37).
Kedua, karena hukum ini melindungi nama dan reputasi orang lain (Kel. 20:16). Kita tidak boleh membuat pernyataan palsu tentang sifat dan tindakan orang lain. Kita harus bicara benar dan jujur tentang semua orang (Im. 19:16; Yoh. 8:44; 2Kor. 12:20).

Berdusta adalah mengatakan sesuatu yang bukan kebenaran, atau setengah kebenaran. Dosa dusta ada setua adanya manusia ada dibumi. Manusia sudah berdusta sejak pertama kali Adam dan Hawa. Dosa ini selalu ada di dalam sejarah kehidupan manusia, selalu terkait dengan relasi hubungan manusia. Dosa dusta merusak segala hal, relasi hubungan suami istri (keluarga), pertemanan dan persahabatan (hubungan dengan sesama) bahkan relasi hubungan manusia dengan Allah (ibadah).
Manusia tahu tidak mungkin mendustai Tuhan tetapi manusia selalu mendustai Tuhan, baik itu dalam kejujuran dalam persembahan seperti persembahan Ananias dan Safira tidak jujur dalam memberikan persembahan sehingga mengalami kematian (kisah 5:1-11). Pelayanan yang tidak jujur (Matius7:21-23) Allah tidak mengenal pelayanan kita karena kita tidak jujur dalam melayani, pelayanan kita bukan untuk Tuhan tetapi untuk kepentingan pribadi sehingga Tuhan menolak pelayanan kita.
Kejujuran yang transparansi dalam kehidupan kita harus terus kita kejar serta diusahakan setiap saat supaya kita tidak dikejar-kejar dengan rasa bersalah atau dituduh oleh hati nurani kita karena kita berusta dalam banyak hal.

Bicara mengenai hukum ke 9 bisa dihubungkan dengan yakobus 3;1-12 tentang dosa karena lidah. Seringkali orang berpikir bahwa berdusta adalah dosa yang kecil di banding dengan berjinah, mencuri atau membunuh. Tetapi jika dusta dianggap biasa maka orang akan menjadi kebal dan kurang peka terhadap teguran Allah. Ada lagu “memang lidah tak bertulang” menyoroti betapa mudahnya orang berdusta. Namun kita sebagai orang Kristen biarlah berkata yang benar, mengatakan kebenaran yang utuh dan menguasai lidah. Barangsiapa yang tidak bersalah dalam perkataannya ia adalah seorang yang sempurna Yak 3:2


Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta


Kata “dusta” artinya ingkar, mungkir, bohong, atau omong kosong. Dari sana kita belajar beberapa hal:
1. Dusta itu bukan hanya tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi tidak ada dasarnya.
2. Dusta bukan hanya kata-kata tetapi juga perbuatan (cheating), lih. Bil. 23:19.
3. Dusta perbuatan = bukan hanya melakukan hal yang dilarang tetapi juga tidak melakukan hal yang diperintahkan.
4. Dusta bukan hanya diluar (yang kelihatan) tetapi juga yang didalam hati.
5. Dusta bukan hanya mendustai orang, tetapi juga dirinya sendiri dan Tuhan.

Perintah jangan berdusta di sejajarkan dengan hukum yang lain dalam kaitan relasi manusia dengan sesamanya.
Menurut Matthew Hendry, The ninth commandment concerns our own and our neighbour's good name: Thou shalt not bear false witness, Exo_20:16. This forbids,
1. Speaking falsely in any matter, lying, equivocating, and any way devising and designing to deceive our neighbour.
2. Speaking unjustly against our neighbour, to the prejudice of his reputation; and (which involves the guilty of both),
3. Bearing false witness against him, laying to his charge things that he knows not, either judicially, upon oath (by which the third commandment, and the sixth of eighth, as well as this, are broken), or extrajudicially, in common converse, slandering, backbiting, tale-bearing, aggravating what is done amiss and making it worse than it is, and any way endeavouring to raise our own reputation upon the ruin of our neighbour's.

Jadi berdusta tidak boleh dianggap dosa yang ringan, Tuhan Yesus mengutip ini dikaitkan dengan hukum yang lain Mat 19:18 Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,
Jadi secara implisit Yesus menyatakan perintah ini menjadi sejajar dengan yang lain.. yaitu jangan membunuh-berzinah, mencuri.
Bahkan dalam Yohanes Tuhan Yesus berbicara dengan orang Yahudi dalam Yoh 8 ketika orang-orang Yahudi ingin membunuh-Nya. Iblis adalah bapak pendusta.
Orang yang berdusta dikaitkan dengan si iblis. Membela atau menyampaikan yang bukan Tuhan katakan, itu juga berdusta.

Secara umum berdusta itu adalah berbohong dan memfitnah. Dusta itu menceritakan sesuatu tentang orang lain, sikap, dan kata-katanya tetapi tidak sesuai dengan sebenarnya. Dusta itu hal yang serius dan sama beratnya dengan dosa-dosa yang lain. Akibat dosa itu mendapat hukuman Tuhan. Mis, Gehasi berdusta menggunakan nama tuannya Elisa kepada Naaman. Bahkan saat ditegur Elisa pun ia masih mengelak. Akhirnya ia terkena penyakit kusta.

1. Apa yang kamu katakan buruk tentang orang lain akan kena kapada dirimu.
2. Membicarakan kejelekan orang lain itu tidak menyelesaikan masalah tetapi menimbulkan masalah.
3. Dusta akan melahirkan dosa dusta.

Dusta tetap dusta, tidak ada hitam atau putih. Dusta ada yang disadari dan tidak disadari. Bagaimana caranya menjauhkan diri dari dusta:
1. Bersaksi untuk Tuhan
2. Perkataan kita harus baik dan membangun (Ef. 4:29)
3. Hendaklah kata-kata kita penuh kasih (Kol. 4:6)

Ini adalah perintah lama, kuno, tetapi masalah dusta adalah masalah yang sudah lama. Bahkan, hukum ini menjadi masalah yang relevan. Bagaimana kita menyikapi dusta? Ada yang mengatakan kita hidup di dunia hitam-putih (legalistic). Kedua, dilihat dulu tujuannya apakah baik atau tidak. Kalau tujuannya baik, why not (menghalalkan segala cara). Ketiga, lihat dulu situasinya, tepat atau tidak. Keempat, hal yang paling benar adalah menggabungkan semuanya itu.
Melalui hukum ke-9 ini Tuhan ingin melindungi nama atau reputasi manusia. Itu sebabnya, tidak seorang pun boleh membuat pernyataan palsu terhadap orang lain. Dalam Kolose 3:9 Paulus memerintahkan untuk menanggalkan manusia lama dan jangan saling mendustai. Ini juga menjadi problem perselisihan di dalam jemaat.

Jangan berdusta itu ada 3 hal:
1. Berkata tepat sebagaimana adanya (Mat. 5:47)
2. Bertindak bijaksana ketika menyatakan sebuah fakta.
3. Berpikir hikmat.

Hukum ini berbicara relasi antar sesama. Orang yang berdusta ini untuk mencari keuntungan diri sendiri. Misalnya, menggunakan nama orang lain. Juga, mereka mencelakakan dan merugikan orang lain. Ini ada kaitannya dengan hukum jangan membunuh, meski tidak secara langsung. Hukum ini bertujuan untuk menghargai sesama.

List kategori dusta bisa kita jabarkan dan masukan dalam beberapa kategori, misalnya:
1. Membohongi pembeli
2. Menyebarkan kabar angin
3. Memalsukan umur untuk buat SIM, daftar sekolah, buat facebook, dsb
4. Memalsukan tanda tangan orang lain (tanpa atas nama-nya)
5. Menaikan kwitansi bon pembelian barang atau bensin
6. Menitipkan absensi kehadiran kuliah atau rapat
7. Menandatangani pernyataan tidak benar
8. Membuat surat sakit, padahal tidak sakit
9. Bersikap munafik, ramah dan baik di depan, tetapi sebenarnya tidak
10. Tidak menepati janji jam kebaktian, retreat, Camp, KKR, dsb.
11. Tidak menepati janji untuk bertemu.
12. Janji telepon, tetapi tidak telepon balik.
13. Memberitahukan kepada orang lain tidak ada di rumah, padahal ada.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung


Tujuan : Di dalam dunia yang penuh dengan dusta ini, menjadi orang yang jujur, berani berkata sesuai dengan kebenaran tidak mudah, namun bersandar pada Tuhan, kita sanggup hidup tulus, setia dan benar.

Kita hidup di suatu dunia yang penuh dengan penipuan, kita sering kompromi. Dalam sebuah lirik lagu mengatakan “ yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan “ dalam pengadilanpun kebenaran dapat diputar balikkan. Saya pernah bertanya kepada peserta camp anak ‘ siapa yang tidak pernah berdusta atau berbohong? Tidak ada yang mengangkat tangan artinya 100% semuanya pernah berdusta. Kalau pertanyaan yang sama dilemparkan kepada kita siapa diantara kita tidak pernah berdusta atau berbohong? Setelah saya pikir tidak ada orang yang masuk sekolah berbohong maka ia baru berbohong, natur dosa itu membuat kita melakukannya . Minggu ini kita sampai pada hukum yang ke Sembilan “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” Sekalipun jangan mengucapkan saksi dusta hanya menempati urutan ke 9 dalam 10 hukum tetapi bila berbicara mengenai keseriusannya,tidak diragukan lagi pasti menempati tempat yang utama dalam kehidupan kita. Pertanyaannya adalah, mengapa "dusta" menjadi bagian dari 10 hukum? karena lihatlah bahwa dalam kehidupan nyata, alangkah "biasa"nya dan betapa "lumrah"nya dusta itu! Salah satu dosa yang paling awal yang dilakukan oleh setiap orang sejak dini adalah dosa ini. Anak-anak tak perlu belajar dari siapa pun untuk mahir berdusta. Mengapa kita dilarang untuk berdusta?
1. Ketika Allah berkata. “Janganlah mengucapkan saksi dusta”, Dia bermaksud bahwa kita tidak akan mengucapkan sedikitpun kebohongan, tidak pernah memberikan kesan yang salah bahkan meski hanya lewat anggukan kepala.
2. Hukum ini melarang bergosip, termasuk merusak reputasi seseorang dengan berdiam diri pada saat orang tersebut menghadapi tuduhan.
3. Kehilangan kepercayaan. Ketika kita berdusta dan sesama kita mengetahuinya maka kita menjadi orang yang tidak /sulit dipercayai.
4. Kebohongan tidak dapat disembunyikan. Allah senantiasa mengetahui kalau manusia sedang berdusta.
5. Kita diminta untuk mengatakan yang sebenarnya. Di Amerika, ketika seseorang muncul di pengadilan untuk memberikan kesaksian, dia akan meletakkan tangannya di atas Alkitab untuk bersumpah bahwa ia akan bersaksi dengan benar. Dia kemudian menyatakan bahwa dia akan mengatakan "kebenaran yang seutuhnya, tidak akan mengatakan yang lain kecuali kebenaran itu sendiri, jadi tolonglah aku, ya Allah." Setiap orang yang meletakkan tangannya di atas Alkitab seperti itu berarti dihadapan umum memanggil Allah sebagai saksinya bahwa dia mengatakan kebenaran. Melakukan hal ini dan kemudian berbohong adalah masalah yang sangat serius. Perintah ini menunjuk pada pentingnya berkata benar setiap waktu. Kata-kata adalah seperti mata pisau, anda harus berhati-hati menggunakannya. Kata-kata seorang Kristen harus bisa dipercaya. Seorang Kristen harus memegang kata-kata dan janjinya. Sebuah janji adalah suatu hal yang sangat serius, dan jika kita melanggar kata-kata kita, berarti kita juga melanggar perintah ini. Jika hal itu terjadi, maka berarti kita sedang menunjukkan pada orang-orang bahwa kita tidak bisa dipercaya. Berbohong, menipu dan mencuri adalah seperti tiga bersaudara yang jahat.
6. DUSTA, menurut Allah, adalah dosa utama, pertama, karena KEBENARAN adalah utama. Sedangkan dusta? "lawan" dari kebenaran! Ia menyembunyikan kebenaran, memutar-balikkan kebenaran, memalsukan kebenaran. Menyajikan ketidak-benaran sedemikian rupa seolah-olah itulah kebenaran. "Akulah jalan, kebenaran, dan kehidupan", (Yohanes 14:6)? Sebab itu, tak ada pilihan lain, kecuali, "Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar . Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain, dan janganlah mencintai sumpah palsu.
7. mengapa Allah menggolongkan dusta sebagai salah satu dari sepuluh dosa utama?karena SESAMA MANUSIA kita itu utama. Sebab itu, titah-Nya, "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu". "Sesama" adalah utama, ketika "dusta" dibiarkan. Ketika kebenaran dipalsukan. Ketika kata-kata dibuat tak berharga. Ketika sesama menjadi "subyek" yang menindas atau "obyek" yang diperas. Mengingat semua ini, sudah pasti ketika kita berdusta tentang sesama maka itu akan menghancurkan sesama.

Aplikasinya:
1. Efesus 4:25 : Membuang dusta
2. Matius 5:37 : mengatakan yang sebenarnya
3. Bersikap Jujur karena :
a. Amsal 3:32 ; Allah bergaul erat dengan orang jujur
b. Amsal 15 :8 ; doa orang jujur berkenan bagi Allah
c. Amsal 2:7a ; Allah akan menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur

Budaya Timur dusta itu biasa. Kalau barat, dusta itu memalukan sekali, karena memegang prinsip “honesty is the best policy.” Tidak tau apa yang benar atau ada unsur kesengajaan. Mengatakan tidak benar ditujukan kepada orang lain, pasti motifnya tidak benar, menjatuhkan orang lain. Aplikasi terhadap diri golongan pemimpin rohani: ini tidak boleh ditawar. Kalau bohong maka integritasnya pasti diragukan. Masalahnya: apakah kita berani untuk mengatakan kebenaran di budaya seperti ini. Kalau seseorang salah tegur tetapi dengan cara yang sopan. Keberanian untuk mengatakan kebenaran harus ada …, seringkali takut karena ada resiko. Seseorang yang berani mengatakan kebenaran harus berani di-recheck.

Alkitab tidak menutup-nutupi tokoh yang melakukan dusta, misal Kain, Abraham, Yakub, Ananias dan Safira.

Sharing pengalaman. Punya prinsip, “tidak bisa mentolerir kebohongan.” Ada kebohongan yang tidak bisa ditolerir, karena jahat. Jangan masuk dalam tiga golongan: SBY, Tuti, Berti. Bagaimana caranya: dekat dengan Tuhan; taati perintah Tuhan, berani melawan keinginan bohong, toleransi terhadap bohong, siap menanggung resiko untuk hidup jujur, katakan ya jika ya, tidak jika tidak.

Hukuman awal ketika bersdusata adalah rasa bersalah, dan itu adalah hukuman Allah. Tidak setuju dengan bohong putih.

Ekspresi dusta adalah tentang ketidakjujuran dan ketidak benaran. Karena dua motif: kelicikan dan kesombongan. Dusta itu sudah membudaya, misal KKR ditulis di brosur jam berapa, tetapi mulai berbeda dengan jam yang tertera di brosur. Iblis adalah bapa dari segala dusta. Orang yang berdusta seolah-olah diposisikan dalam posisi kemenangan tetapi kita lihat akan diakhiri dengan kehancuran. Yang harus kita lakukan: mencerminkan karakter Tuhan.

Dekalog ini mengtur bagaimana umat Tuhan hidup di hadapan Tuhan. Berkaitan dengan etika hidup orang Kristen. “Doing Right”: berkata benar, berpikir benar. Kalau kita mendustai itu adalah pembunuhan karakter. Orangnya masih hidup tapi karakternya mati.

Berdusta atau bohong bersumber dari hati manusia yang jahat. Ingin merusak hubungan antar sesama. Motifnya adalah kesombongan. Berdusta juga kerena egois, ingin mencelakakan sesamanya. Orang bohong adalah orang yang berpura-pura, tidak takut Tuhan.

Dua bagian: eksegese kata, “jangan mengucapkan saksi dusta.” Kel menggunakan kata Sheker. Ul menggunakan kata Sau = kosong, tak bermakna.
1. Dusta itu adalah kebiasaan sejak dari kecil.
2. Dusta sebagai mantra demi kesuksesan, misal plagiat.
3. Dusta sebagai jalan mudah untuk dapat apa yang ia mau. Bermain di daerah abu-abu. Abraham pernah bohong, dan diikuti oleh Ishak. Waktu Abraham bohong Ishak belum lahir dan Sara sudah mati. Ketika Ishak melahirkan Yakub, dan Yakub bohong kepada Ishak. Yusuf membohongi Yakub, demikian seterusnya.
4. Dusta sebagai pertahanan hidup, demi pembenaran, “saksi dusta.”
5. Dalam dunia psikologi ada istilah “defence mechanism.”
6. Dusta sebagai alasan untuk tujuan tertentu. Dusta “demi”. Sudah direncanakan. Berita bohong yang didengungkan terus-menerus, sehingga orang mempercayainya.
7. Dusta dipandang dari psikologi, orang dusta termasuk orang rendah diri.

Amsal 12:22, “Orang dusta, bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan.” Mat 5:37, “jika ya, ya; jika tidak, tidak. Lebih dari itu berasal dari si jahat.”

Francis Schaeffer, “kebenaran yang benar.” Ia menekankan kebenaran yang hakiki. Berarti ada kebenaran yang tidak benar. Kebenaran yang benar itu adalah kebenaran yang objektif, tidak berubah. Yaitu fiman Tuhan.

Konteks: bicara di pengadilan. Bersaksi tapi dusta. Dusta yang tertinggi adalah di pengadilan. Ini adalah konteks yang ultima.
Setiap dusta pasti suatu pengkhianatan. Kalau terkait dengan orang lain, pasti menghianati kepada orang lain. Itu yang dialami oleh Yesus, ketika Petrus mengkhianatan dia.

Tulus: motifasi murni. Jujur: tidak banyak alasan yang dibuat. Terbuka: semua dibuka. Orang jujur belum tentu tulus. Orang jujur belum tentu terbuka. Orang tulus ada tidak jujur. Orang terbuka belum tentu jujur dan tulus. Self reflection di hadapan Tuhan, karena dusta banyak dimensi.

Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak. Kalau ini kita lakukan, apa dampaknya. Lebih baik atau lebih buruk. Oleh sebab itu harus dimulai dari kasih.
Keluaran dikatakan “jangan bersaksi dusta”. Mempertahankan kebenaran ditengah relasi di antara sesama. Kasih menjadi dasar. Kalau semua kita lakukan tanpa kasih, tidak ada gunanya.

Mungkinkah orang tidak berdusta? Secara definitif (definisi kamus): dusta bukan hanya menyembunyikan kebenaran, salah bicara juga adalah termasuk dusta. Lima alasan salah bicara: salah menafsirkan yang dia dengar; dia tidak tau bagaimana dia harus bicara; tidak bisa mengontrol lidah sebagai alat bicara; karena bicara adalah kenikmatan (makin banyak bicara makin banyak salah); karena hati tidak ikut bicara.
Betul-betul benar, tidak kelihatan salahnya. Kita paling punya keahlian untuk menutupi dusta kita. Ada orang yang pintar berkata-kata: dari dusta menjadi tidak dusta. Harus ada ketulusan hati penting sekali; juga harus ada ketersediaan untuk rugi; harus ada kepercayaan yang kuat kepada Tuhan.
Bagaimana supaya tidak berdusta: hidup dekat dengan Tuhan; komitmen yang sungguh terhadap Tuhan; dan hidup berintegritas (berani berkata sebagaimana seharusnya kita katakan).

Ayat-ayat pembanding: ”Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat” (Amsal 10:32). ”Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia, tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan” (Amsal 11:9).
Socrates berdialog dengan muridnya (dialog meno). Murid bertanya, “Ada berapa macam orang di dunia ini?” Sócrates menjawab , ”……. Ada orang yang tahu apa yang diketahuinya. Ada orang yang tahu apa yang tidak diketahuinya. Ada orang yang tidak tahu, apa yang diketahuinya. Ada orang yang tidak tahu, apa yang tidak diketahuinya .....”
Murid, ”Sebaiknya menjadi orang yang bagaimana?” Maka, dijawab, ”Jadilah orang yang tahu apa yang diketahui, dan tahu apa yang tidak diketahui”.
1. Narcisistik tidaklah sama dengan integritas, orang yang cinta diri adalah orang yang mengutamakan dirinya di atas segalanya, kadang kala bahkan ia harus berbohong meski terhadap dirinya. Ketika melihat kenyataan dalam dirinya tidaklah sama dengan keinginan hati, ia akan berbohong dengan alasan ”logis” agar dirinya lebih diterima. Sebagian besar konsep dirinya dibangun di atas kebohongan, ia tidak pernah menjadi dirinya yang sebenarnya.
2. Integritas adalah seimbang antara konsep diri dan realitas. Ia dapat menerima kekurangan dirinya, bahkan kegagalan dan kepahitan hidup namun ia mampu melihat ke depan bagaimana maksud dan rencana Allah atas semuanya itu. Pengertian integritas dibangun dari uraian kata dalam kitab Amsal, dimana kata ”tam” atau ”yassar” = lurus, untuk menjelaskan tentang orang benar, orang yang memiliki integritas.

Hidup yang real otentik itu tidak mudah. Kita sering hidup antara ya dan tidak, in between. Misalnya di dunia timur: awal dikasih, akhir dikasih, tengah tidak dikasih. Dipersilahkan orang menafsirkan sendiri.

100 persen pembohong? Yg penting bukan hanya mengerti teori tetapi mempraktekkan teori itu. “tentara tidak bosan dengan perang” dalam dagang kita bisa terjebak dalam kebohongan. Kebohongan yang diungkapkan 100X menjadi kebenaran yang bisa diterima, ini dipakai oleh orang komunis. Dalam dunia orang yang paling menuntut kebenaran adalah orang pembohong. Kebohongan sangat merugikan diri sendiri, kapan, kepada siapa dia berbohong, shg dia hidup dalam kebohongan. Tindakan kebohongan biasanya ditutupi dengan kebohongan-kebohongan yang lain, pembohong adalah anak iblis, (Yoh.8:44) jika kita berbohong kita adalah keturunan si jahat, Fil 2 ditengah dunia yang bengkok dan terbalik ini kit aharus menjadi anak Tuhan yang baik, tiada aib, noda dan cela, dala kehidupan, kenyataan dan pelayanan. Istilah tiada aib=transpran, spt berlian clearnees, yg bening, transparan yang bening murni. Bisakah kita hidup transparant? Tidak bernoda=jujur tidak ada kepalsuan, spt kebudayaan jaman dulu ketika mengukir patung marmer dan malam, jika ada patung yang cacat didempul dengan malam, tetapi kelamaan akan kelihatan karen kadar kekerasannya beda. Tiada noda artinya tidak ada dempulan. Tiada cela;tidak ada yang bercela spt Yusuf, Daniel, Yesus. Kebohongan Rahab, bagaimana dengan kasus ini? Apakah dia salah? Pada zaman Nazi? Beberapa orang tidak mengatakan benar demi tidak terjadi pembunuhan.

Kebenaran itu harus diuji dengan tiga hal:
1.Corespondent theory: dibuktikan, dinyatakan.
2 Coheren Theory: Tahan uji. Oleh tempat dan waktu. Benar di sini, benar di sana. Kebenaran itu eksis untuk selamanya.
3. Theory harus dipraktekkan