Jumat, 04 September 2009

YESUS MENYUCIKAN BAIT ALLAH

YESUS MENYUCIKAN BAIT ALLAH
(Yoh. 2:13-22; Luk. 19:45-48)

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Garut

Sesuai tradisi, perayaan Paskah orang Yahudi diadakan setiap tahun di bait Allah di Yerusalem (Ul. 16:16). Makna perayaan itu untuk memperingati keluarnya umat Israel dari tanah Mesir (Kel. 12:1-13). Pada saat itu setiap umat Yahudi diaspora dari segala penjuru dunia datang berkumpul di bait Allah. Karena perjalanan yang jauh, maka mereka tidak bisa membawa hewan korban untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Karena itu mereka membeli hewan yang disediakan dan dijual di bait Allah. Selain itu, mereka juga harus membayar pajak bait Allah, untuk itu mereka menukarkan uang mereka untuk membayar pajak. Untuk mempermudah semuanya itu, para pemimpin agama Yahudi mengizinkan penjualan hewan korban dan penukaran uang. Dalam hal ini, para pedagang bekerja sama dengan pimpinan bait Allah (para Iman; ahli Taurat dan orang Farisi) untuk mencari keuntungan atas nama bait Allah. Karena itu, hewan korban yang dijual di sana bisa berlipat ganda harganya. Karena itu tidak heran Yesus katakan bahwa mereka menjadikan bait Allah sarang penyamun. Kemudian Tuhan Yesus marah dan mengusir para pedagang di sana. Apakah implikasi dari tindakan Yesus menyucikan bait Allah?

1. Rumah Tuhan harus dipergunakan sesuai fungsinya untuk beribadah kepada Tuhan (Yoh. 2:14-15; Mat.21:13; Mrk. 11:17)
Ayat 14-16à Jika Yesus melakukan sesuatu tindakan pasti ada alasannya yang logis dan masuk akal. Dalam hal Ia menyucikan bait Allah juga memiliki alasan yang sangat jelas. Alasan Tuhan Yesus menyucikan bait Allah adalah karena tempat itu sedang kotor secara fisik dan rohani. Secara fisik, rumah Allah mestinya dijaga kebersihan dan kelestariannya agar tetap bersih, wangi, enak dipandang dan menarik orang untuk datang ke sana. Rumah Allah bukan tempat ajang bisnis dan tempat untuk mencari keuntungan materi semata. Secara rohani, bait Allah mestinya berfungsi sebagai tempat beribadah, tempat umat percaya menjumpai dan dijumpai Tuhan dalam doa, firman Tuhan dan penyembahan, tetapi kini sudah tidak ada nuansa rohaninya. Karena itu, Yesus berkata, “Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan” (Yoh. 2:16); “Rumah-Ku disebut rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (Mat. 21:13; bdk. Mrk. 11:17). Di sini (Yoh. 2:14-16) kita melihat Yesus mengklaim bait Allah sebagai rumah Bapa-Nya. Jadi alasan Ia mengucikan bait Allah karena itu adalah rumah Bapa-Ku, bukan rumah milik sembarang orang yang boleh seenaknya disalahgunakan. Tetapi pada saat Yesus mendatangi bait Allah, apa yang Ia temukan di sana? Yesus melihat bait Allah sudah disalahgunakan, sebagai tempat ajang bisnis, tempat mencari uang, kekayaan, dan bukan lagi tempat beribadah. Karena itu, rumah Tuhan tidak boleh dinaziskan dengan menjadikannya tempat untuk meningkatkan status social, keuntungan keuangan, hiburan. Jadi kapan saja rumah Tuhan digunakan oleh orang yang berpikiran duniawi, maka rumah Tuhan kembali menjadi sarang penyamun.

2 Tuhan akan menghukum orang yang menyalahgunakan rumah Tuhan (Yoh. 2:14-16; Mat. 21:12; Mrk. 11:15-16; Luk. 19:45)
Tindakan Yesus mengusir mereka yang berjual beli di halaman bait Allah menunjukkan semangat-Nya terhadap kesucian dan doa yang sejati dari mereka menyembah Allah (Yes. 56:7; Luk. 19:45). Di sini Yesus tidak mempermasalahkan soal jual beli dan penukaran uang, tetapi yang menjadi keberatan Yesus poinnya adalah: semua kegiatan diatas dilakukan di halaman bait Allah. Jadi persoalannya ialah tempat ibadah sudah beralih fungsi sebagai tempat transaksi bisnis. Fungsi rumah Tuhan bukan untuk hal sekuler, tetapi tempat umat belajar firman Tuhan, berdoa, memuji Tuhan dan beribadah. Ketika rumah Tuhan atau gereja sudah beralih fungsi, maka Tuhan pasti marah dan tidak akan turun hadirat-Nya dan Ia tidak akan memberkati ibadah kita. Bukankah hal yang sama terjadi sekarang ini: Ada orang berkumpul mengatasnamakan ibadah kepada Tuhan Yesus, tetapi sejatinya, tujuannya, motivasinya bukan untuk Yesus. Mereka datang ke persekutuan, tetapi untuk membicarakan bisnis, menjalin kerja sama dengan rekan bisnis, mencari koneksi bisnis, bukankah ini real? Apakah motivasi anda datang ke gereja? Apakah sungguh-sungguh kepingin belajar firman Tuhan? Rindu berdoa, beribadah dan menyembah Tuhan?

Perikop ini memberi kita teladan dan pelajaran bagaimana Tuhan Yesus menghormati Bait Allah. Dalam bagian ini kita melihat Tuhan Yesus yang berbeda dengan yang dicatat dalam Injil dan pasal yang lain, ramah, sabar, kasih, dekat dengan anak-anak. Yang dihadirkan disini adalah Tuhan Yesus yang marah, cambuk, mengusir, membalik meja, menghardik. Kita memahami hal ini, jelas untuk kebaikan, pada waktu yang tepat, tempat yang tepat dan pada orang yang tepat, tegas dan keras. Hati-hati kita utk marah dengan dasar peristiwa ini. Pada dasarnya, Yesus begitu menghormati Bait Allah, Rumah Allah.
1 Yesus sejak awal mengarahkan pada Bait Allah
Ditaruh sejak awal dalam Injil Yohanes ini, berbeda dengan Injil yang lain yang diletakkan pada bagian belakang. Tentu bukan kebetulan tetapi ada maksud yaitu sejak awal Tuhan Yesus sesungguhnya mengarahkan pada Bait Allah atau pada kehadiran Allah dalam hidup ini.

2 Yesus tidak mau ada kenajisan
Bait Allah adalah sarana/ tempat orang Israel bertemu dengan Allah. Allah hadir ditengah bangsa Israel. Tempat yang penting, istimewa. Tetapi pd saat ini dalam saat-saat merayakan Paskah justru yang terjadi menjadi pasar. Artinya, tidak dipergunakan sebagaimana mestinya dimana seharusnya menjadi rumah doa, rumah perjumpaan kita dengan Allah. Jadi diharapkan kita menghargai fungsinya. Jangan untuk ambisi pribadi, tetapi kemuliaan Allah. Bait Allah menjadi tempat bersekutu, bersaksi, dan melayani.

3 Yesus tidak ingin ada yang terhalangi
Yang terkandung dibalik adanya pasar ini adalah banyak kecurangan terjadi. Hewan di Bait Allah dianggap sudah memenuhi syarat. Sementara membawa sendiri harus diuji dengan begitu banyak syarat. Belum lagi harganya membumbung tinggi. Jelas bagi org yang miskin menjadi halangan. Mereka dengan terpaksa membelinya. Dan banyak hal yang lain. Misalnya jalanan masuk menjadi sulit dlsb. Yesus tidak ingin ada seseorang atau sesuatu menghalangi seseorang datang pada Tuhan.

Ketika Yesus berada di bait Allah, serta Ia melihat halaman Bait Allah dipakai menjadi tempat berdagang oleh para penjual binatang persembahan dan para penukar uang, Ia membuat cambuk dari tali, kemudian mengusir para pedagang itu dari Bait Allah dan menjungkirbalikkan meja-meja para penukar uang serta menghamburkan uang mereka ke tanah. Mengapa Tuhan Yesus bertindak demikian? Karena Bait Suci adalah rumah Bapa-Nya. Oleh karena itu orang tidak boleh menjadikannya sebagai tempat berjualan betapapun kecil dan tidak berartinya jualan mereka. Yohanes menjelaskan tindakan Tuhan Yesus itu sebagai tindakan yang didorong oleh rasa cinta yang mendalam akan rumah Allah: Cinta akan rumah-Mu menghanguskan aku. Tuhan Yesus melakukan semua itu karena hormat kepada Bapa-Nya. Dia bertindak sebagai Anak Allah.
Para pemuka agama Yahudi tentu tidak dapat menerima tindakan Tuhan Yesus. Bait Suci adalah wewenang mereka. Oleh karena itu mereka langsung mendatangi Tuhan Yesus dan meminta tanda yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus mempunyai hak untuk melakukan semua itu. Yang mereka minta adalah sebuah tanda pengenal, tanda dari kekuasan-Nya. Permintaan itu langsung dijawab oleh Tuhan Yesus dengan menantang mereka untuk meruntuhkan Bait Allah. Memang Bait Allah yang sudah dialihfungsikan secara tidak bertanggung jawab sudah tidak ada gunanya lagi. Bait Allah yang semestinya menjadi tempat bagi orang untuk berdoa, telah dialihfungsikan menjadi suatu tempat untuk berbuat dosa! Oleh karena itu bangunan Bait Allah itu perlu diruntuhkan, dan sebagai gantinya Tuhan Yesus akan membangunnya kembali dalam waktu tiga hari.

Bait Allah melambangkan kehadiran Allah, dimana Allah bersemayam di dalam bait Allah itu. Konsep ini harus jelas dimengerti oleh umat Tuhan, sehingga kita sebagai umat Tuhan harus bisa menjaga dan memelihara bait Allah itu. Ketika Yesus melihat bait Allah yang seharusnya di jaga dan dipelihara dalam kekudusan tetapi Dia melihat bait Allah sudah beralih fungsi menjadi najis. Ada pedagang-pedagang kambing domba dan lembu disana kemudian ada penukar-penukar uang seperti pasar bukan lagi sebagai tempat yang kudus.
Oleh karena itu jika Yesus marah itu adalah hal yang sangat wajar, kemarahan Yesus bertujuan untuk mengajar kita supaya kita tidak sembarangan dalam mengelola rumah Allah. ayat17, “Sebab cinta akan rumahMu menghanguskanKu”. Tetapi kemarahan Yesus tidak bisa diterima oleh orang Yahudi serta meragukan otoritas Tuhan. mereka tidak sadar bahwa segala sesuatu adalah milik Tuhan, bahkan termasuk tubuh mereka.

Bagaimana kita menjaga rumah bait Allah?
1. Menjaganya dengan kekudusan.
2. Mengelola Rumah Allah sesuai dengan Panggilan Gereja di Dunia.
3. Pribadi-pribadi sebagai tubuh Allah harus dibangunkan dalam kebenaran.

Aplikasi :
Gereja dan rumah Tuhan pada masa sekarang ini menunjukkan gejala seperti dalam kisah ini, secara perlahan namun pasti sudah beralih fungsi bukan lagi sebagai rumah Allah untuk beribadah dan berdoa. Pengurus dan pemimpin gereja serta umat Tuhan terkadang memiliki agenda-agenda pribadi yang terselubung sehingga menjadikan rumah Tuhan menjadi “kotor seperti pasar” . mari kita kembali pada pengajaran Yesus tentang bait Allah, bahwa cinta akan rumah Tuhan itu menghanguskan Aku.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Jakarta


Paskah merupakan salah satu hari raya besar orang Yahudi. Bahkan Paskah memiliki nilai historis yang sulit dilupakan oleh mereka karena mengenang peristiwa bagaimana Allah “melewati” nenek moyang mereka dari kematian setiap anak sulung, dan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Ratusan tahun mereka tinggal di Mesir dan selama itu pula mereka tidak memiliki hak istimewa, kedudukan yang sama, kebanggaan sebagai bangsa yang merdeka, dan kebebasan beribadah karena menjadi budak di negeri itu. Tetapi malam itu, pe’sah itu menjadi momentum yang indah karena Allah hadir melawat dan melepaskan umatnya dari sebuah tirani yang kejam. Momentum itu pula yang akan dirayakan kembali di Yerusalem dan dipusatkan di Bait Suci. Yesus hadir di sana untuk merayakan hari besar itu. Tetapi apa yang terjadi? Pusat tempat perayaan, Bait suci, dipenuhi oleh orang yang berjualan. Melihat pemandangan itu, Yesus membuat cambuk dari tali lalu meengusir semua mereka yang berjualan di sana. Sebenarnya apa yang membuat Yesus bertindak demikian?
1 Hilangnya respek kepada tempat ibadah. Yesus bukannya melarang orang berjualan, tetapi tempat merek berjualan itu tidak tepat. Di dalam Bait Allah ini memang bisa dikategorikan seluruh ruang yang ada dalam Bait suci itu karena Alkitab Indonesia, King James Version, dan banyak versi lainnya tidak memberikan penjelasan. Tetapi sangat tidak mungkin bila ruang suci dan maha suci dijadikan tempat berjualan, karena hanya imam yang boleh masuk ke ruang itu. NIV memberikan penjelasan, “in the temple courts” (pelataran Bait Suci), di mana orang-orang non-Yahudi biasa beribadah di sana. Saya lebih setuju dengan NIV. Tetapi jelas, meski diluar pun sudah merusak suasana dan tidak menghormati orang-orang yang beribadah.

2 Terjadinya traksaksi yang “kotor” di sana. Ada indikasi yang kuat penjualan hewan korban dan penukaran uang di sana telah memeras rakyat.
· William Barclay mengatakan bahwa harga merpati di Bait Allah hampir 20 x lipat di luar.
· Disamping itu imam-imam menolak binatang yang tidak dibeli di Bait Allah (dengan alasan yang dicari-cari), sehingga orang terpaksa membelinya di Bait Allah dengan harga yang sangat mahal.
· Dalam hal uang, kalau orang membawa uang besar, ia harus menu­karkannya dengan uang kecil dulu, dan untuk ini sudah ditarik ongkos. Setelah itu uang kecil itu masih harus ditukarkan lagi dengan uang yang dianggap sah untuk dipersembahkan ke Bait Allah (harus mata uang Yahudi 1/2 syikal - bdk. Kel 30:13), dan untuk ini ada ongkos lagi.
Pemerasan dengan menggunakan kedok agama itulah yang Yesus tidak suka.

3 Tidak adanya keinginan merubah tradisi dan kebiasaan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. Sangat mungkin tradisi dan kebiasaan ini sudah berlangsung cukup lama. John Calvin berpendapat bahwa penyucian Bait Allah di sini tidak sama dengan penyucian Bait Allah yang ada di Mat. 21:12-13; Mar. 11:15-17; Luk. 19:45-46. Alasannya: yang ada dalam Matius, Markus, dan Lukas, menunjuk pada suatu peristiwa yang terjadi pada akhir pelayanan Yesus, tetapi yang diceritakan oleh Yohanes, terjadi pada awal pelayanan Yesus. Semua orang tutup mata, tidak mau tahu, tidak peduli, masa bodoh dengan apa yang sudah terjadi cukup lama. Bahkan, sebagian mungkin takut bila harus mengubah apa yang sudah berlangsung lama. Beda dengan Yesus. Ia datang merombak tradisi itu. Bukan ingin dikenal, pamer, cari sensasi atau popularitas. Tetapi tradisi dan kebiasaan yang mereka lakukan itu sudah keterlaluan, memalukan, dan tidak menjadi kesaksian bagi orang-orang yang baru saja datang ke kota Yerusalem dan melihat kehidupan ibadah mereka.

Hanya Yohanes yang mencatat Yesus tiga kali menghadiri Paskah di Yerusalem. Yohanes mau menjelaskan bahwa Yesus adalah Tuhan. Ada 3 hal yang ingin ditekankan.
1. Pertama, Kebiasaan buruk yang terjadi di antara iman dan kelompoknya telah terjadi KKN. Imam ikut “bermain” di sana. Aplikasi: Kalau hari ini Yesus menyucikan gereja kita apakah kita bersih dari KKN? Kalau mau bangun gedung harus dari bawah, dan kalau mau membersihkan harus dari atas. Atas itu adalah para pemimpin. Itu sebabnya, pemimpinnya harus “bersih” lebih dahulu.
2. Kedua, orang Yahudi menjadikan Bait Allah itu sebagai sentral, tetapi sejak Yesus datang pusat ibadah itu tidak lagi kepada gedung tetapi antar pribadi dengan Tuhan.
3. Ketiga, Yesus datang kedunia ini mendirikan gereja, dan gereja itu bukan gedung atau administrasinya, melainkan diri kita sendiri.

Bait Allah adalah Allah hadir dan diam di sana, juga tempat itu menjadi pusat ibadah. Di sana hadir orang-orang dari berbagai macam golongan. Ada korban yang juga akan dipersembahkan. Ada “pasar religious” di sana sudah menjadi “bisnis”. Bait Allah itu menjadi barometer akan keadaan rohani bangsa itu. Kewajiban agama mereka hanya satu kebiasaan saja, maka akhirnya mereka terjebak religiusitas tanpa spiritualitas. Tidak ada lagi relasi dengan Tuhan yang bersifat personal. Para pemimpin Bait Allah berbisnis, terjadi juga dalam gereja modern masa kini. Hermawan Kertajaya mengatakan ada kaitan antara bisnis dan spiritualitas:
1. Tahap Polarisasi: ada dua kutub yang berbeda, memisahkan anatara urusan bisnis dan spiritualitas. Jangan dicampuradukan.
2. Tahap Keseimbangan: orang menyisihkan sebagian keuntungannya untuk kegiatan sosial. Bisnis dijalankan tetapi tidak ada hubungannya dengan sosial. Ada keseimbangan antara bisnis dan sosial.
3. Tahap Integrasi: bisnis itu dijalankan secara etis dan spiritual, tidak ada suap, korupsi dari para pimpinannya. Kita bisa melakukan bisnis dan sekaligus spiritualis.

Seringkali manusia tidak menyadari kemalangannya dihadapan Tuhan. Manusia itu malang bukan karena miskin, bodoh, tidak berkuasa, tetapi karena hatinya jauh dari Tuhan. Orang Israel menjadi umat pilihan Allah seharusnya memuliakan Allah, tetapi melalui kelakuan mereka dengan berdagang dan menukar uang di Bait Allah membuat mereka menjadi menentang Allah. Yesus datang untuk melepaskan mereka dari ikatan hawa nafsu ini. Yesus datang dengan misi yang jelas, dengan otoritasnya tidak takut kepada imam hang sudah buta terhadap kebenaran. Yesus datang memulihkan mereka, dan merekonsiliasi antara manusia berdosa dengan Allah.

Menyucikan Bait Allah dengan tujuan:
1 Mempertegas fungsi Bait Allah untuk berbibadah dan berdoa, bukan untuk bisnis dan mencari keuntungan
2 Menyatakan kuasa-Nya atau wewenang-Nya sebagai Mesias. Orang Farisi dan para imam menganggap mereka berkuasa di Bait Allah. Hanya Mesiaslah yang memiliki kuasa lebih tinggi dari imam besar di Bait Allah. Itu sebabnya saat mereka minta tanda dan Yesus menjawab mereka soal mendirikan Bait Suci dalam 3 hari.
3 Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Bait Allah yang sejati. Fungsi Bait Allah sudah berubah tidak ada gunanya lagi. Kalau dirombak, akan diganti dengan yang baru, yakni diri Tuhan Yesus sendiri.

Gereja itu mengutus orang percaya pergi keluar tetapi juga membawa orang non-percaya kepada Tuhan. Kalau suasana ibadah/gereja seperti itu bagaimana bisa membawa orang luar percaya kepada Tuhan. Aplikasi: mungkin diri kita juga bisa menjadi penghalang orang datang kepada Tuhan karena kesombongan kita, ego, dan sikap-sikap kita.

Kemarahan Yesus adalah kemarahan yang wajar dan beralasan dan bukan kemarahan yang tanpa penjelasan. Hal apa saja yang membuat Yesus marah:
1. Bait Allah sudah menjadi seperti pasar dan sarang penyamun.
2. Adanya praktek jual-beli korban yang dimanipulasi.
3. Karena penajisan yang telah terjadi di Bait Allah. Bait Allah yang disebut rumah doa sudah beralih fungsi.
4. Pengertian “cinta untuk rumahMu menghanguskan aku” itu persis seperti yang terjadi dalam kemarahan Tuhan Yesus, di mana orang-orang Yahudi menjadi benci kepada-Nya dan ingin membunuh-Nya.

Hari ini gereja suka hitung-hitung soal untung rugi menyewa gedung untuk mendapatkan keuntungan dengan ibadah yang mereka lakukan. Mereka menjadikan tempat ibadah itu sebagai tempat bisnis. Hati manusia itu saat ini begitu tamak dengan uang. Gereja pun dijadikan tempat bisnis. Ada hamba Tuhan tertentu juga memegang seluruh keuangan yang masuk dalam gereja itu. Setiap bisnis yang diadakan di dalam gereja pasti akan menimbulkan masalah. Tuhan tidak suka akan hal itu. Bukan hanya gereja yang harus dibersihkan, tetapi diri kita juga perlu dibersihkan karena dalam diri kita juga banyak yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Bandung


1. Kalau membandingkan dengan Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), maka terlihat bahwa peristiwa pembasuhan bait Allah ini diletakkan di akhir pelayanan Yesus. Kalau di Yohanes di awal. Ini suatu peristiwa atau dua peristiwa:
a. Tentunya satu peristiwa yang sama. Injil sinoptik menekankan pada kronologis dari kehidupan Yesus yang mengajarkan tentang Teologis kesejarahan Yesus.
b. Injil Yohanes mencatat peristiwa-peristiwa satu minggu sebelum Tuhan Yesus disalibkan, tidak menekankan pada kronologisnya, tetapi moment-moment kebenaran yang menunjuk kepada Teologis keberadaan Kristus adalah Anak Allah dan Allag sendiri (Yohanes 1:1-5: ungkapan Ego Emi (Aku adalah…)).

2. Peristiwa pembasuhan bait suci di bait Allah yang dicatat oleh Yohanes ada 3 kebenaran yang terlengkap:
a. Adanya kemarahan di dalam kebenaran. Kemarahan Tuhan Yesus ini adalah kemarahan yang suci, kudus dan benar yaitu marah terhadap dosa. Karena bait Allah yang seharusnya menjadi rumah doa, sekarang dijadikan tempat berjualan (vs.16). di Injil sinoptik ‘sarang penyamun’. (Lukas 19:4b; Markus 11:17; Matius 21:13). Ini artinya bait Allah menjadi tempat mencari keuntungan pribadi sehingga kejahatan itu terjadi.
b. Adanya kecintaan terhadap rumah Tuhan. Vs.17 “cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku”. Ini adalah kutipan dari Mazmur 69:10. Konteks Mazmur brbicara pengalaman Daud terhadap orang-orang yang membenci Dia. Dikarenakan imannya, kecintaannya kepada Tuhan. Artinya karena imannya, status kekristenannya dia mengalami penganiayaan. Tetapi pada waktu Tuhan Yesus mengungkapkan itu bukan karena imanNya, bukan karena statusNya sebagai orang Kristen, tetapi keberadaanNya dalam mengungkapkan kebobrokan yang terjadi di dalam bait Allah. Khususnya para pemimpin/pejabat di bait Allah. siapa yang sedang diungkapkan kebobrokan hidupnya? Dia akan marah dengan menyerang bahkan membunuh. Karena kecintaannya kepada kebenaran inilah yang membuat Dia terhangus.
c. Ada konsep bait Allah yang baru yaitu kesadaran untuk ibadah.

Yesus marah karena sudah terjadi mafia penjualan, karena mereka yang membawa kambing domba sendiri ditolak dan diharuskan membeli di pelataran bait Allah. Bukan penjualannya tetapi motifnya.

Yahudi tidak peduli dengan orang kafir yang datang untuk menyembah Allah, mereka tidak mengasihi orang non Yahudi dan tidak menyambut mereka. Seharusnya mereka yang tinngal di Yerusalem menolong mereka yang datang beribadah, tetapi sebaliknya dipakai untuk mencari untung. Orang yahudi tidak peka terhadap perasaan dari orang non yahudi. Mereka dianggap dan tidak peduli terhadap orang-orang diluar yahudi sehingga mereka tidak welcome. Para peziarah yang kurang lebih harus berjalan 20 km untuk berjalan ke bait allah tetapi orang yahudi melihatnya untuk mencari keuntungan.

Kesucian bait Allah harus di jaga, termasuk pakaian dan sepatu yang dipakai pada saat beribadah. Remaja sering datang ke gereja dengan memakai pakaian dan sepatu yang seharusnya tidak dipakai ke gereja. Yesus bukan hanya menyucikan bait suci tetapi juga diri kita (remaja).

Bait Allah adalah pusat kegiatan agama orang Yahudi dan merupakan symbol tempat hadirnya Tuhan. Pada jaman perjanjian lama semua adapersiapan yang baik ketika orang melayani atau beribadah di Bait Allah.
Penukar uang: biasanya pada jaman perjanjian lama uang persembahan disiapkan dari rumah untuk diberikan kepada Allah. Uang yang bersih dan baik. Karena untuk memberikan persembahan ke Bait Allah di gunakan koin khusus. Belakangan banyak orang tidak mempersiapkan diri untuk mempersembahkan dengan koin tersebut dan Karen aitu mereka cari gampang dengan membeli saja di bait allah.
Lembu, kambing, burung merpati adala hewan korban persembahan yang juga harus terbaik dan sempurna baru bisa dipersembahkan ke Bait Allah dan sekarang mereka tidak perlu mempersiapkan diri tinggal membelinya di Bait Allah semua sudah beres. Gereja Penipu atau penipu gereja? Karya Philip Yancey yang menggambarkan disfungsi gereja dari tujuan semula kepada cara dunia yang terlalu humansentris sehingga terjadi pergeseran nilai。
@ perlu pengajaran untuk menghormati Tuhan dan baitNya.
@perlu persiapan untuk berbadah kepada Tuhan. Mempersiapkan hati untuk memberi persembahan yang terbaik itu adalah symbol dari hati yang menghormat Tuhan.
@perlu menghormati Tuhan Yesus sebagai kepala gereja dan juga tubuh itu adalah bait allah. Karena itu biarlah gereja sebagai tubuh Krsitus atau diri kita sendiri sebagai bait roh kudus adalah agen kerajaan allah untuk menegakkan kebenaran sekalipun untuk itu harus konfrontasi.

Herodes membangun bait Allah untuk menyenangkan orang Yahudi, dan biayanya mahal, supaya biayanya tertutup maka mereka menggunakan cara jual beli di bait Allah.

Pertama, kita datang ke gereja untuk ibadah bukan untuk cari keuntungan. Kesempatan beribadah di gereja itu tidak setiap hari. Sebagian besar waktu hidup kita diisi aktivitas lainnya. Ketika kita datang ke gereja, kita datang untuk beribadah, bukan untuk tujuan keuntungan lainnya. Karena itu, yang kita utamakan adalah ibadah. Ibadah kepada Tuhan.
Kedua, kita datang ke gereja untuk menyalurkan berkat, bukan menghalangi berkat Allah. Kehadiran kita di gereja seharusnya membangun iman orang, bukan menghalangi iman orang bertumbuh.
Ketiga, kita datang ke gereja untuk menegakkan kebenaran dan keadilan bukan hanyut dalam kefasikan. Sepanjang pelayananNya, Yesus aktif mengajarkan hal yang baik. Namun Ia juga tidak pernah pasif terhadap hal yang buruk. Bahaya yang dihadapi orang Kristen adalah diam. Diam tidak selalu baik. Diam terhadap kejahatan bisa menyatakan kita setuju terhadap kejahatan itu. Diam bisa menyatakan kita tidak berani berbuat benar. Diam terhadap dosa itu dosa. Dosa bisa dibagi dua: sin of commission dan sin of omission. SoC kita tahu. SoO sering kita tidak sadari atau kita tidak merasa itu dosa.

Yesus pertama keluar melayani dan mengakhiri pelayanan dengan datang ke bait Allah, jadi ini merupakan dua peristiwa yang berbeda. Yesus tidak menggunakan cambuk untuk mencambuk orang, tetapi cambuk sesungguhnya untuk mengajar.

Mengapa Yesus marah? Mereka berjualan di bait suci dan tukar menukar uang. Ini bukan intinya tetapi intinya adalah:
1. Alasan Tuhan Yesus marah terbaca di ayat 14
- orang berjualan di Bait Allah
- penjualan binatang dan penukaran uang
à namun sebenarnya kemarahan Tuhan Yesus lebih dalam kepada adanya pergeseran dan penyalahgunaan Bait Allah
2. Pengajaran di balik kemarahan Tuhan Yesus
a. Keterhilangan tujuan berada datang di Bait Allah
- Seharusnya dating untuk bertemu dengan Allah tapi diganti dengan mencari profit oriented dan self oriented
b. Pergeseran peran Bait Allah yang utama
- . Menjadi sandungan orang datang ke Bait Allah Bait Allah (pelataran tempat orang non Yahudi)
- Menjadikan Bait Allah untuk memuaskan keegoisan atau mencari kepentingan diri sendiri
(sistimatis-transaksi dipersiapkan)
3. Yang dilakukan Tuhan Yesus revolusioner sebagai gambaran hal yang sudah sangat mengakar dan berdampak negative yang luas (penafsiran mungkin lebih tepat bahwa merupakan peristiwa yang ke-2 kali)
4. Respon: murid-murid dan orang -orangYahudi
- Kembali kepada Firman dan hidup didalamnya dengan ketaatan atau sekedar tahu Firman
*. Murid-murid dapat menarik benang merah Firman yang diketahui dan apa yang dikatakan Tuhan Yesus
*. Orang Yahudi hanya tahu namun tidak mau mengetahui benang merah yang diharapkan Tuhan yesus dalam pembaharuan hidup namun mereka mengeraskan hati.
è Implikasi yang dilakukan Tuhan Yesus gambaran:
- Konsistensi penegasan kebenaran
- Kepekaan Tuhan Yesus untuk terciptanya kehidupan yang benar
- Keurgenan yang dilihat dan harus dilakukan sekarang dalam terciptanya kualitas hidup dan pelayanan

Bait Allah sbg centralitas ibadah. Pertemuan antara umat dgn Allah, di mana di sana dibangun suatu hub horizontal – vertical. Dlm hal ini tdk hanya bicara ttg kewajiban dan kebutuhan, ttp respon, relasi, interkasi rohani dari umat dgn Allah dan sesamanya.
Leon Morris: 1) TY menyatakan bhw Ia adalah “tuan” dari rumah Allah, Ia mempunyai hak dan kuasa atas bait Allah.
2) TY menyatakan ttg pekerjaan-Nya sbg imam besar
3) TY menyatakan bhw imam2 pd waktu itu tidak hidup lagi dlm kebenaran
4) TY menyatakan ttg Kebenaran dan sikap murka-Nya thd dosa.

Salomo berhasil mendirikan bait Allah dan saat ditabishkan dia membuat satu perjanjian bahwa bait Allah menjadi orientasi bagi mereka menjadi kiblat dari orang-orang yang datang dan berdoa. Hal ini sudah menjadi satu hal yang tidak dapat dihapuskan dari hati orang Yahudi. Tetapi orang Yahudi sendiri telah merubah fungsi dan tujuan dari bait Allah, hal ini yang membuat Yesus marah.

Sejak imam Eli, rumah ibadah sudah menjadi rumah kejahatan, hal ini dimulai dari mereka yang melayani di dalam bait Allah. sejak dari jaman Yohanes Pembaptis rumah Allah telah diserang demikian juga pada jaman Yesus. Melalui peristiwa ini, Yesus mengajarkan yang harus dibersihkan terlebih dahulu adalah rumah sendiri.

1. Human anger tidak sama dengan divine anger, human anger: amarah yg muncul dalam hati manusia karena maksud hati tak sampai (padahal hati manusia sudah tersemar oleh dosa bdk 2 Korintus 12:20, Yakobus 1:20), sedangkan divine anger adalah amarah Ilahi yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran dan menyucikan. Dalam perikop ini jelas Tuhan Yesus menyatakan divine anger untuk menyatakan bahwa diriNya adalah kebenaran ( Yohanes 2:20-21 ).
2. Refleksi atas catatan peristiwa ini, nampaknya dosa juga melekat dalam ritual “pelayanan” di dalam rumah Tuhan. Ironinya para pelaku adalah orang-orang Israel yang adalah umat pilihan Tuhan, para imam-imam dimana mereka mengatas namakan melayani Tuhan. Bukankah hal ini identik dengan situasi gereja hari ini? Bagaimana etos pelayanan kita? Apakah sudah lahir dari motivasi yang murni melayani Tuhan? Ataukah kita sebenarnya sedang ”berjualan” di gereja? Etos pelayanan yang baik di hadapan Allah tidak lepas dari pengorbanan, bukan mencari keuntungan.

Seorang sejarawan Yahudi bernama Josephus mencatat pada satu kali perayaan Paskah, ada kurang lebih 256,000 kambing yang dibawa untuk dipersembahkan sebagai korban. Satu keluarga minimal membawa satu ekor kambing. Ini berarti terdapat jutaan orang yang datang dari berbagai kota untuk mempersembahkan korban. Tujuan utamanya adalah bukan hanya ke Yerusalem, tetapi pusat kota dari Yerusalem, yaitu Bait Allah untuk mempersembahkan korban. Aturan yang dipakai adalah orang-orang yang ingin mempersembahkan korban harus membeli korbannya yang berupa binatang di halaman Bait Allah, daripada susah-susah datang dari jauh membawa korban dan kemudian ditolak oleh imam karena tidak sempurna, maka lebih baik bawa uang saja. Pada waktu mereka ingin membeli korban, maka mata uang dari kota atau negara yang berbeda-beda tersebut harus ditukar di situ. Ini menjadi suatu bisnis yang besar yang disetujui oleh imam-imam. Seorang penulis mengatakan pada waktu mereka menukar uang, mereka di charge 6% dan harga binatang yang dijual di halaman Bait Allah jauh lebih mahal dibanding daripada di luar. James Boyce mengatakan bahwa harga sepasang merpati di halaman Bait Allah 50 kali lipat lebih mahal daripada di luar. Oleh karena itu Tuhan Yesus masuk ke halaman Bait Allah (bagian yang paling luar dari Bait Allah) dan mengusir para pedagang tersebut.
Mengapa Tuhan Yesus begitu murka? Mengutip Mat. 21:13 Pertama-tama, Tuhan Yesus berkata “Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” (ayat 13). Di dalam Markus 11:17 dikatakan bahwa rumah doa bagi segala bangsa. Orang yang bukan Yahudi (gentiles) hanya boleh beribadah kepada Tuhan di halaman Bait Allah. Mereka tidak boleh masuk ke dalam Bait Allah. Tetapi sekarang halamannya pun telah dijadikan tempat untuk berdagang. Jadi bagaimana mereka dapat beribadah, berdoa dan memberikan korban persembahan kepada Tuhan? Dia ingin menyatakan bahwa Injil bukan hanya diperuntukkan bagi orang Yahudi, tetapi bagi segala bangsa. Mereka telah mengkomersialisasikan agama pada waktu itu. Datang bukan untuk beribadah, tetapi datang untuk berdagang di situ. Bukan hanya mereka telah menghalangi orang-orang bukan Yahudi untuk beribadah, Uang dan materi telah menjadi tuhan mereka dan itu yang mereka kejar. Oleh karena itu tidak heran apabila Tuhan datang dan membongkar semua sistem itu.

Masalah dalam bait adalah urusan imam, imam yang mengakibatkan kejadian seperti itu terjadi, mereka licik dan membuat peraturan sehingga terjadi penjualan demikian. Mereka tamak dengan menaikkan harga jual. Mereka buta, karena bait Allah adalah rumah ibadah tetapi telah merubah fungsinya.

Maksud dari kedatangan Yesus adalah untuk mereformasi ibadah manusia yang salah. Banyak dari mereka yang berada di dalam bait suci itu tidak memiliki hati nurani yang benar. Peristiwa ini menunjukan Yesus lebih dari seorang nabi, selama pelayananNya, dengan perkataan dan perbuatannya telah menunjukan bahwa dia adalah seorang Mesias dan masyarakat umum telah mengetahuinya, tetapi mereka tidak berani mengungkapkannya karena takut kepada orang-orang Yahudi. Dua kali pembersihan bait Allah menunjukan bahwa Tuhan telah memberikan kesempatan tetapi tetap tidak berubah. Kita harus menghargai rumah dan hukum Allah.

Soren Kierkegarda : Ada dua orang pergi, seorang pergi ke kuil berdoa pada Allah sejati, yang satu pergi ke bait dan berdoa pada ilah, kedua-duanya salah, karena satu salah alamat, satu salah tempat. Yang membuat ibadah tidak konsentrasi adalah hal dunia yang diwakili oleh uang. Tuhan Yesus membersihkan bait Allah untuk mengembalikan tujuan dan fungsi dari bait dan ibadah. Tuhan Yesus berbicara tentang tubuh sebagai bait Allah dan harus dibersihkan dari dosa. Jikalau mereka mau membersihkan bait Allah, maka Yesus tidak akan mati di kayu salib. Minggu Palem, Yesus menaiki keledai masuk Yerusalem dan setelah itu Dia membersihkan bait Allah. Dikatakan sebagai sarang penyamun karena orang jahat datang ke bait Allah tidak menjadi baik. Divine Anger, marah ada batasnya, dalam marahNya masih ada kemurahan. Marah tetapi tidak emosional. Marah harus rasional. Dalam khotbah tekankan bagaimana “I Love My Church”.