Jumat, 14 Agustus 2009

TANGGUNG JAWAB SEORANG WARGA NEGARA

TANGGUNG JAWAB SEORANG WARGA NEGARA
(Roma 13:1-7)
Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Garut
Kamis, 13 Agustus 2009


Ada beberapa kepatuhan yang merupakan aturan yang harus dilaksanakan tanpa melihat oknum yaitu kepatuhan istri kepada suami, anak kepada orang tua, jemaat kepada gereja dan rakyat kepada pemerintah. Pada waktu kepatuhan diberikan kepada ”oknum’ tersebut maka ada yang berpikir dan bertanya bagaimana kalau ”oknum” itu salah? Kepatuhan seseorang terhadap ”oknum” bukan berdasar pada ”salah” atau ”benar” nya oknum tersebut, tetapi berdasarkan kepada kepatuhan kita kepada Allah dan selalu didasari dengan takut akan Tuhan, sehingga kita peka mana yang sesuai dengan kehendak Tuhan mana yang tidak
Bagaimana panggilan Allah kepada kita sebagai warga negara?

Kepatuhan rakyat kepada pemerintah adalah aturan dari Allah (ay 1 tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah) karena kekuasaan pemerintah baik yang alim maupun yang lalim adalah dari Allah. Bangsa Israel mengalami beberapa kali kesulitan waktu mereka dikuasai pemerintahan mulai dari Mesir, Filistin, Midian tetapi semua itu atas ijin Tuhan untuk memurnikan mereka.

Kepedulian rakyat terhadap bangsa dan negara (ay3). Karena pemerintah adalah dari Allah maka rakyat juga harus berpikir bagaimana dan apa yang bisa dilakukan untuk bangsa dan negaraku sesuai dengan peran dan panggilan yang diberikan Allah pada kita.

Kewajiban dan Tanggung Jawab. Kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja tetapi juga seluruh rakyatnya. Rakyat harus memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya (ay 7) dan pemerintah juga seharusnya menjalankan fungsinya sebagai penerima kuasa dari Allah. Jika panggilan dan tugas ini tidak dikerjakan dengan baik maka akan ada masalah yang timbul. Orang Kristen di tempatkan di Indonesia dipanggil untuk berdoa, berkarya dan berjuang demi kesejahteraan Indonesia

Sebagai seorang percaya kepada Tuhan kita memiliki 2 status kewarganegaraan yaitu sebagai warga kerajaan Allah dan warga sebuah negara. Panggilan kita sebagai warga negara diatur oleh undang-undang baik dalam hal kewajiban maupun hak. Kita harus menjalankan kewajiban kita dan akan mendapatkan hak yang diberikan oleh negara. Tugas yang harus kita lakukan sebagai warga negara, seperti yang firman Tuhan katakan adalah:
1. Taat kepada peraturan dan hukum negara (ay 2)
Sebuah negara harus memiliki peraturan atau hukum untuk mengatur ketertiban bersama. Sebagai orang percaya kita wajib mengikuti semua ketetapan dan aturan yang ditetapkan oleh negara, jika kita tidak mentaati aturan sebenarnya kita dikatakan melawan dan melanggar ketetapan Allah, karena Allah yang menetapkan suatu pemerintahan. Tidak ada satu negara yang bisa berdiri jika Allah tidak menetapkannya. Ketaatan kita kepada pemerintah bisa menjadi kesaksian yang baik.

2. Tidak melakukan kejahatan. Kejahatan selalu ada dimana-mana, setiap kejahatan ada sanksi dan hukuman dari negara. Kejahatan menimbulkan keresahan dan kecemasan bagi banyak orang yang nantinya akan berpengaruh terhadap lancarnya pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Itulah sebabnya kita dipanggil untuk ikut menjaga ketentraman lingkungan kita.

3. Melakukan kewajiban sebagai warga negara. Dalam memajukan dan membangun sebuah negara pasti memerlukan dana yang sangat besar. Dana negara diperoleh dari komoditas hasil bumi serta kekayaan alam dan kewajiban warga dalam mebayar pajak. Oleh sebab itu kita wajib dan bertanggung jawab membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku di negara kita.

Tidak ada negara yang tidak diijinkan Allah untuk berdiri sendiri, meskipun ada pemerintahan atau pun penyelenggara pemerintahan yang melakukan penyelewengan dan korupsi kita harus tetap belajar menjadi warga negara yang baik. Ketaatan kita tidak berdasarkan pada orang lain tetapi berdasar pada Allah.

Introduction: Alkitab menegaskan bahwa orang Kristen memiliki dua kewarganegaraan. Pertama, warga negara di dunia (Indonesia); Kedua, warga negara surga (Flp 3:20). Orang Kristen harus menjadi warga negara yang baik di negara mana mereka tinggal. Adolf Hitler mempunyai dua ayat yang ia tandai secara khusus. Yang pertama ialah Rm 13: 1-7 dan kedua ialah 1 Ptr 2:13-14. "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik."
Hitler berasumsi bahwa dirinya adalah sebagai "pelayan" (KJV) atau "Hamba" Allah. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia memiliki kekuasaan yang langsung dari Allah untuk mengangkat pedang, melenyapkan para musuhnya. Tetapi ia lupa bahwa pemerintah tidak boleh bertindak sewenang-wenang tetapi harus berjalan di bawah kekuasaan yang didelegasikan. Mereka harus menjadi hamba Allah bukan yang lain, meski apa pun pandangan mereka terhadap diri mereka. Kepala negara dalam perspektif Paulus bukanlah sembarangan, tetapi fungsi mereka ialah mendatangkan kebaikan. Kebaikan itu tentunya harus sesuai dengan pandangan Allah bukan pandangan Nebukadnezar, Caesar, Napoleon, Hitler, Stalin, atau Bush. Apakah tanggung jawab seorang warga Negara?

1. Taati kepada Pemerintah dalam melakukan kebaikan (Rm. 13:2-4). Sebagai warga Negara Indonesia, Allah memerintahkan orang Kristen untuk taat kepada pemerintah, karena pemerintah merupakan lembaga yang didirikan dan ditetapkan Allah (Rm. 13:1). Selain itu, pemerintah adalah hamba Allah di dunia ini (Rm. 13:4). Tujuannya karena hidup di dunia yang tercemar dosa ini kita memerlukan pembatasan tertentu untuk melindungi kita dari kekacauan dan pelanggaran hukum. Jadi Allah menetapkan pemerintah sebagai pelaksana keadilan dan membatasi kejahatan dengan menghukum para pelaku kejahatan dan melindungi yang baik dalam masyarakat (Rm. 13:3-4; 1Ptr. 2:13-17). Namun pada saat tujuan ini mulai melenceng dan pemerintah tidak lagi melakukan fungsinya sebagai hamba Allah, misalnya pemerintah menuntut sesuatu yang bertentangan dengan firman Allah, maka kita orang Kristen harus lebih mentaati Allah daripada manusia (Kis. 5:29; Dan. 3:16-18; 6:7-11). Paulus menekankan pentingnya kepatuhan warga negara karena bangsa Yahudi sebagai suatu umat telah terkenal memberontak. Palestina pada abad pertama menjadi negara yang terus-terusan memberontak. Para pemimpin berasal dari partai Zealots (fanatik), yang sangat yakin bahwa orang Yahudi tidak boleh mempunyai raja selain Allah. Orang-orang Zealots menolak membayar pajak kepada pemerintah Roma dan menganjurkan penggulingan pemerintahan dengan kekerasan.

2. Kita wajib membayar pajak (Rm. 13:6-7)
Salah satu dari pengajaran Kristus yang paling hebat ada dalam Mat 22:21, "Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Alah." Kristus juga menjelaskan dalam Matius 22, seperti Paulus dalam Roma 13, bahwa kekuasaan pemerintah tidak absolut. Ada sesuatu kesadaran bahwa di luar wilayah juridis pemerintah duniawi, adalah kepunyaan Allah. Kristus mengajarkan bahwa gereja dan negara adalah dua bidang dan bahwa seseorang Kristen mempunyai tanggung jawab terhadap keduanya. tetapi Ia tidak mengatakan bahwa dua bidang itu sama. Dalam Matius 22, Ia juga tidak menyatakan mana yang paling penting, tetapi Ia menekankan bahwa pengikut-Nya mempunyai tanggung jawab kepada pemerintah Roma dalam hal membayar pajak.

3. Kita wajib mendoakan pemerintah (1Tim2:1-2; bdk. Yer. 29:7).
Pemerintah adalah hamba Allah (harfiah "diaken"), kata Leon Morris, "untuk menyanggupkan hamba Allah yang lain agar berhasil dengan tugas melakukan kehendak Allah." Jadi para pemimpin bertanggung jawab melaksanakannya. Dengan pimpinan Roh Allah Paulus menulis kepada Timotius, “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk para raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (ITim 2:1-4). Salah satu fungsi pemerintah sebagai hamba Allah ialah untuk menetapkan dan menegakkan hukum dan peraturan agar Injil dapat dikabarkan. Sebagai orang Kristen kita perlu berdoa bagi pemerintah kita setiap hari. Itu adalah bagian dari tanggung jawab Kekristenan kita.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
Kamis, 13 Agustus 2009


Tanggungjawab adalah perbuatan moral yang luhur dan mulia. Juga semangat, jiwa, dan eksistensi hidup manusia. Tanpa itu, manusia bisa saling menghancurkan. Kemewahan hidup, kenyamanan, dan kelimpahan hidup membuat manusia hilang akan tanggungjawabnya. Mereka lebih suka memikirkan dirinya sendiri. Dengan demikian, munculah anti-sosial, tidak mau terganggu kenyamanan yang dimikilikinya. Hari ini, gaya hidup manusia meneurut budayawan Taiwan Li Auw: No demand, no resistant, no responsibility. Hidupnya menjadi tanpa arah, cita2, tanpa moral, dan hidup sebebas-bebasnya. Berbicara tanggungjawab dari seorang warganegara, liat dulu apa tugas Negara.
Pemerintah adalah lembaga yang ditetapkan Allah. Negara menjalankan tugas2 harus sesuai yang dikehendaki Allah. Pemerintah yang buruk itu bukan lembaganya yg buruk, tetapi pejabat2nya.

Tugas pemerintah:
1. Melaksanakan keadilan dan hukum untuk melindungi warga Negara.
2. Negara juga harus menjamin ketertiban dan memberi rasa aman bagi rakyatnya.
3. Negara juga harus menciptakan kesejahteraan hidup bagi warganya, baik dalam ekonomi, pendidikan, keagaamaan, dsb.

Untuk meresponi tugas2 pemerintah harus:
1. Memiliki kesadaran nasionalis.
2. Menjadi anak bangsa yang intelek dengan motivasi pengabdian kepada bangsa dan Negara.
3. Ikut mendukung terbentuknya Negara hukum yang baik, ditegakkannya supremacy hukum.

Salah satu kesalahan Negara pada masa2 lampau adalah tidak merangkul semua golongan dan adanya perlakuan beda dengan etnis dan agama tertentu. Meski begitu, Paulus tetap mengajarkan kita untuk hormat dan tunduk pada pemerintah. Dikalangan etnis Tionghoa, masih ada orang2 yang juga aktif dan duduk dalam pemerintahan, misalnya Kwik Kian Gie. Peran kita:
1. Mendoakan Negara (lih. Yer. 29:7; 1Tim. 2:1-4)
2. Aktif memberikan sumbangsih bagi Negara. Kita sebagai control sosial dan harus mengontrol jalannya pemerintahan. Hal yang sederhana bisa kita lakukan adalah memberi contoh, misalnya tidak membuang sampah sembarangan. Survei yang ada menunjukkan kekristenan tidak memberikan pengaruh bagi masyrakat. Mereka hanya tahu kalau orang Kristen itu baik, tetapi tidak ada peran dan sumbangsinya yang nyata. Itu sebabnya, kita harus memberikan dampak yang riil bagi masyarakat kita.

Paulus mengajarkan kepada orang2 Kristen di Rom]
a adalah harus tunduk kepada pemerintah. Alasannya adalah:
1. Berasal dari Allah dan ditetapkan Allah. Berarti, mewakili Allah dan harus melaksanakan kehendak Tuhan. Mereka terikat akan hukum Allah. Mereka wajib menegakkan keadilan dan selalu mengusahakan kesejahteraan rakyatnya. Sejauh mana kita harus takluk? Ketidaktaatan hanya dibenarkan hanya dalam satu hal saja: Raja/penguasa itu menempatkan diri di tempat Tuhan. Misalnya, Daniel serta kawan2nya hidup dengan taat pada Allah di jaman raja Nebukadnezar. Kita boleh mempertahankan iman tanpa harus melakukan kekerasan.
2. Melawan pemerintah adalah melawan Allah.
3. Karena pemerintah adalah hamba Allah.

Tugas kita:
1. Memberikan jasa, sumbangsih.
2. Berbuat baik, dan membayar pajak.

Allah membentuk tiga lembaga: pemerintah, keluarga dan gereja. Pemerintah dibentuk Allah untuk boleh mengatur agar rakyat tidak melanggar Hukum (Kis. 17:24-28). Jika pemerintah meninggalkan fungsinya, ia tidak lagi berasal dari Allah, yakni tidak bekerja menurut maksud Tuhan. Jika pemerintah menuntut orang Kristen bertentangan, maka kita harus menentangnya (Kis. 5:29; Dan. 3:16-18, 6:7-11). Ketaataan itu kita wujudkan dengan membayar pajak, taat pada hukum, dan mendoakan.

Pemerintah itu dari Allah. Ditetapkan Allah. Hamba Allah (ayat 4). Berarti pemerintah hanyalah alat di tangan Allah. Berarti juga kita harus takluk (ayat 1), tidak ada optional, tidak ada pilihan (ayat 5). Kalau orang melawan pemerintah, berarti melawan ketetapan Allah . Itu akan menjadi hukuman atas dirinya. Paulus mengatakan, kalau kita berbuat baik pada pemerintah kenapa harus takut? Ditekankan juga di sini, oleh karena pemerintah alat Tuhan, maka kita juga punya kewajiban (ayat 6-7). Bagaimana sikap kita pada pemerintah? Doa syafaat untuk Negara, supaya mereka bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Bila tidak menjalankan fungsi, di sinilah kita harus menjalankan suara kenabian. Dalam sejarah gereja, Hitler tidak menjalankan fungsi Negara. Dietrich Boenhover meski Kristen, juga menjalankan rencana pembunuhan atas Hitler. Waren Wiersby mengatakan kita taat pemerintah bukan karena takut hukuman, tetapi karena kita ada kasih dan hati nurani.

Apa yang menjadi peran kita dalam bangsa dan Negara? Sudah ditekankan, kita harus mendoakan bangsa kita. Tetapi jujur, kita hanya berdoa pada saat doa syafaat di gereja. Di Negara tertentu, anak-anak di sekolah sudah diajar bagaimana berdoa bagi pemimpin dan bangsanya. Ini yang terjadi juga di Malaysia. Sama seperti keluarga, tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan pemerintah.

Kompas pernah menuliskan “Aku malu menjadi warga Negara RI”. Ini tercetak satu hari setelah kerusuhan 14 Mei 1998. Terhadap kejahatan dan kerusuhan yang terjadi pemerintah diam, tidak bertindak, membiarkan, tidak memberikan rasa aman, diskriminasi, dan . meski itu sudah berlangsung lama, tetapi masih banyak warga yang saat ini bukan malu, tetapi tidak bangga pada negaranya. Anak-anak Indonesia yang tinggal dan studi di Amerika mereka merasa bangga dengan negera itu. Mereka bisa bangga karena merasakan perlakukan beda dengan yang mereka terima waktu dinegara asalnya.

Tanggungjawab kita:
1. Menghormati pemerintah. Takluk artinya, mengakui otoritas pemerintah.
2. Menghormati dan mentaati hukum yang sudah ditetapkan. Dalam ayat 7 kata takut di sana bukan hanya hormat tetapi juga kegentaran pada hukum yang dijalankan pemerintah.
3. Memberi peringatan pada pemerintah untuk bersama-sama menjadi hamba Allah agar tidak menyalahgunakan wewenang yang sudah diberikan.
4. Menggunakan hak dan kewajiban warganegara dengan baik.
5. Berdoa untuk pemerintah dan bangsa Negara.

Tiga hal tentang pemerintah:
1. Pemerintah memiliki otoritas dan kuasa dari Allah. Kita perlu mendoakan presiden dan semua aparat dibawahnya. Lepas dari kekurangan yang ada, mereka punya otoritas dan kuasa yang Allah berikan. Mengurus gereja saja berat, apalagi mengurus Negara.
2. Pemerintah adalah tangan Allah untuk mengurus rakyatnya dengan baik.
3. Tidak semua yang dilakukan Negara berpihak pada kita.

Tiga hal yang Allah perintahkan pada kita:
1. Takluk, tunduk dan taat pada Negara
2. Mencintai dan terpanggil untuk mengabdikan hidup bagi Tuhan untuk memajukan Negara.
3. Kita harus menunaikan tanggungjawab sebagai warganegara yang baik.

Setiap orang sudah Tuhan tetapkan lahir di dalam keluarga apa dan Negara tertentu. Meski Negara kita banyak kekurangan, kita keluar pun belum tentu negara lain menerima kita. Meski secara politik tidak kondusif kita diajarkan harus mencintai Negara kita. Bagi orang2 tertentu, khususnya Tionghoa, ada pengalaman2 yang traumatik di mana Negara memperlakukan mereka dengan tidak adil. Ibu Rika ketika tinggal di Singapore karena waktu itu di Indonesia suasananya tidak kondusif, malah menjadi begitu bangga dengan Negara Singapore itu. Anehnya, di Indo dia mengakui tidak merasa bangga dengan negaranya sendiri. Meski secara politik tidak kondusif kita diajarkan harus mencintai Negara kita. Bagi orang2 tertentu, khususnya Tionghoa, ada pengalaman2 yang traumatik di mana Negara memperlakukan mereka dengan tidak adil. Ibu Rika ketika tinggal di Singapore karena waktu itu di Indonesia suasananya tidak kondusif, malah menjadi begitu bangga dengan Negara Singapore itu. Anehnya, di Indo dia mengakui tidak merasa bangga dengan negaranya sendiri. Bagaimana caranya mencitai Negara Indo? Ada hal-hal sederhana yang bisa dilakukan: tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air dan listrik, menciptakan lingkungan yang baik di sekitar rumah. Dimulai dari lingkungan yang kecil, di rumah, di gereja, dengan menciptakan kebersihan kita bisa memberikan sumbangsih bagi Negara ini.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum’at, 14 Agustus 2009


Tanggung Jawab Seorang Warga Negara
Roma 13:1-7 (bdk.: Kel 18:21; Dan 12:3)

I. Realitas yang unik = kemajemukannya.
1. 17.760 buah pulau terbentang di katulistiwa dari Sabang sampai Merauke, bila kita hitung dengan lautan yang ada di antara pulau-pulau itu ternyata hampir menyamai luas Amerika Serikat.
2. 300 suku bangsa, dimana setiap suku membawa ciri khas budayanya.
3. Semua agama besar dunia hadir di Indonesia, dan laju pertumbuhan kuantitas masing-masing pengikutnya menanjak dengan pesat, bahkan paling pesat di dunia

II. Tantangan di balik kemajemukan
Resiko perpecahan di balik kemajemukan itu, sebagai contoh :
1. India, mereka mengalami perpecahan karena agama, maka lahirlah Pakistan.
2. Pakistan pecah lagi karena soal kesukuan, lahirlah Bangladesh.
3. Korea, Vietnam, China pecah karena Ideologi.

Hanya karena pemeliharaan Allah, kesatuan dan persatuan masih ada sampai saat ini di Indonesia. Akan tetapi, di lain sisi harus kita akui pula bahwa kemajemukan ini juga menghadapkan kita kepada banyak tantangan dan persoalan yang rumit

III. Tantangan Sosiologis
Menurut UNDP yang mengeluarkan Human Development Index (HDI):
edisi April 2003 untuk Indonesia hanya mencapai peringkat 110 dari 173 negara di dunia, dan untuk wilayah ASEAN pada peringkat 12 dari 17 negara. (bdk Vietnam 104, Malaysia 68, Singapore 29) data terakhir Global Monitoring Report edisi Januari 2008 dalam laporan Education for All (EFA) :
1. Peringkat terbaik Perguruan Tinggi di dunia, yang terbaik dari Indonesia adalah UI yang mencapai peringkat 746 di dunia.
2. Peringkat EDI untuk Indonesia mencapai ke 58 dari 129 negara. peringkat EDI diperoleh dari data :
1. 18,1 juta orang masih buta aksara
2. buta aksara usia 10-14 tahun berjumlah 336.785 orang.
3. pada usia produktif 15-44 tahun 4,35 juta orang
4. Jumlah buta aksara di atas 44 tahun 13,4 juta

IV. Exegese
Konteks Roma 13, arahan Paulus tentang practical spiritual life agar hidup jemaat secara horizontal menyatakan kasih karunia Allah.
1. All Inclusive, dimana Allah turut bekerja utk mendatangkan kebaikan kepada orang-orang percaya.
2. Right Responsibility before God = to be a good citizen.
3. to come & make a blessing for the nations

V. Langkah Konkret,
Bagaimana menjadi warga Negara yang baik.
1. Takut akan Allah.Takut akan Allah membawa seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak manusia. Contoh : Daniel yang berani mengambil resiko untuk mempertahankan prinsip iman (peristiwa dapur api, gua singa)
2. Cakap/profesional. Profesionalisme tercermin dalam kecakapan manajerial untuk membawa orang-orang di sekitar dari kesulitan menuju hidup berpengharapan. Contoh : Yusuf, seorang yang cakap karena diberi karunia luar biasa dan kebijaksanaan mengelola asset negara untuk masa depan.
3. Dapat Dipercaya/Integrity
i. Yusuf harus mengalami berbagai kesukaran bahkan dipercaya oleh Potifar dan ia tidak merusak kepercayaan itu, sehingga ia diangkat sebagai kepercayaan Firaun untuk mengelola harta utama Mesir yaitu pangan!
ii. Daniel dapat dipercaya bahkan di tengah-tengah raja-raja kafir dari beberapa generasi pemerintahan mulai dari Nebukadnezar, Belsyazar, Darius, Koresh dimana rela memberikan hidup untuk menjalankan misi Allah yang ada pada zamannya.
4. Benci kepada Pengejaran Suap/Clean. Ezra tidak mengejar kehormatan dengan cara-cara menyuap atau apapun, namun akhirnya memperoleh kehormatan untuk menjalankan tugas yang tinggi.

Hidup di Negara ini kadang dilema: I Love you full susah, mau setengah-setengah susah. Negara Theokratis lebih mudah, kalau sudah demokrasi lebih susah.

Alfin Toffler: future shock and plural shock (Kejutan masa depan dan kejutan kemajemukan). Kecenderungan daripada org2 Kristen saat ini adalah lebih terperangkap pada future shock. Dalam konteks di Indonesia saat ini kental dengan plural shock (kejutan kemajemukan). Seringkali kita bersikap eksklusif, menjauh, menarik diri dari sosial, masyarakat dan bernegara. Harusnya inclusive: terlibat dan ambil andil di dalamnya. Ini panggilan orang kristen di jaman ini. Menjadi garam dan terang dunia.

Roma pasal 13: bicara dua hal (1) Kewajiban orang kristen sebagai warga negara; (2) Tugas pemerintah. Kewajiban orang kristen harus ”takluk” (ay 1). Takluk dalam arti ”berilah apa yang wajib” (ay 7): membayar pajak, membayar cukai, memberi rasa takut, dan rasa hormat. Karena ”pemerintah itu dari Allah” (ay 2). Sedangkan tugas dari pemerintah adalah melayani (ay 4) dan juga menghukum (ay 4, ”membawa pedang”).
Ada dua kata yang dipakai disini untuk menunjuk pada tugas pemerintah dalam melayani, yaitu ”diakonos” (ay 4) dan ”leiturgos” (ay 6). Dua kata ini sinonim. Tetapi mengapa dipakai secara berbeda? Mungkin ini menunjuk kepada dua tugas pemerintah dalam melayani. Sebagai diakonos, pemerintah melayani secara sosial; sedangkan leiturgos, pemerintah melayani dengan memberikan jaminan supaya warga negara bisa melakukan ibadah.

Takut = tunduk secara aktif. Mengapa harus tunduk, karena keyakinan pemerintah berasal dari Allah. Kalau ada konflik, antara tunduk kepada Allah dan kepada pemerintah, maka orang kristen harus lebih tunduk kepada Allah. Tunduk kepada pemerintah untuk mendukung pemerintah. Bagaimna secara praktis berperan sebagai warga negara: peran aktif untuk mendatangkan kebaikan.

Bagaimana kalau pemerintahnya jahat? Bagaimana kita mau tunduk?
Kita tetap hrs tunduk, krn pemerintah yg jahatpun berasal dari Allah.

Paulus bermaksud kedaulatan Tuhan atas seluruh bumi, termasuk negara. Tidak boleh ada dualisme; kedaulatan negara berasal dari Tuhan. Pada waktu itu pemerintan Romamemerintahkan pajak yg tinggi, dan org Yahudi mengajarakan utk tidak membayar pajak. Kalau pemerintahnya jahat, lebih baik ada pemerintah daripada tidak ada negara. Konteks pada waktu itu: pajak tinggi sekali. Paulus katakan, taat kepada pemerintah.

Tanggung jawab orang percaya kalau ada dilema? Bagaimana orang percaya taat? Ada prinsip civil disobidience. Kita harus lebih takut kepada Tuhan daripada kepada pemerintah.

Disini authority bukan pemerintah. Authority itu kodrati, pemerintah bisa salah. Paulus dalam hal ini memisahkan masalah spiritual dan masalah sipil. Misalnya, pada waktu Paulus di tampar. Dalam tatanan sosial ada pemerintahan yang mengatur, oleh sebab itu dia mempersoalkan. Kekristenan bukan anarkhis; tetapi mengakui otoritas pemerintahan di manapun kita berada.

Martin Luther memilahkan antara kerajaan manusia dan kerajaan Allah. Dia ingin supaya orang kristen patuh kepada pemerintah yang ada. Dan kuasa pemerintah berasal dari Allah. Calvin menjadikan Jenewa sebagai City of God.
Ada dua konsep: pesimis (siapa saja memerintah tidak peduli), dan peduli. Calvin juga akhirnya gagal. Dilanjutkan oleh Abraham Kuyper, Amsterdam dijadikan city of God. Tetapi sekarang Amsterdam jadi kota narkotika, kota yang kumuh.
Allah ada tiga kehendak: Allah insiatif seturut kehendakNya, Allah mengijinkan; Allah membiarkan seturut dengan kemauan manusia. Waktu bangsa Israel dipimpin oleh Imam, Nabi mereka cukup makmur; tetapi mereka ingin seperti negara tetangga yang punya Raja, sejak itu bangsa Israel tidak beres.
Kita di Indoensia, terlalu banyak dipengaruhi Lutheran, memilihakan negera dan iman. Hanya tau mengumpulkan persembahan untuk gereja, tetapi tidak terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat.
Prinsip:
1. Pemerintah adalah agen of God servant, untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Dia bukan teror bagi orang benar, tetapi jadi teror bagi kejahatan. Kalau menjadi terror bagi the good, maka harus menjadi pertimbangan kembali apakah harus taat. Kita dukung dalam kebaikan, tetapi kita perangi dalam kejahatan. Bagaimana dengan Hitler? Kita kembali: yang untuk kaisar harus kembali kepada kaisar, yang kepada Tuhan harus kembali kepada Tuhan. Bawa jemaat pada kesadaran: mana benar mana salah. Ada garis pemisah antara baik dan jahat.
2. Dalam hal yang biasa gunakan cara lumrah, dalam keadaan luar biasa gunakan cara istimewa. Di atas hukum masih ada kebijaksanaan kita. Jangan pikir bisa selamatkan bangsa ini, kecuali Tuhan sendiri. Jangan hanya bisa kritik tetapi tidak menolong.
3. Rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut, rasa hormat kepada yang berhak menerima rasa hormat. Gereja harus bersuara kepada isu-isu kontemporer untuk memberikan satu jawaban kepada orang kristen bagaimana bersikap.