Jumat, 21 Agustus 2009

KRISTUS ADALAH JAWABANNYA

KRISTUS ADALAH JAWABANNYA
Yoh. 5:1-18; Kis. 27:25
Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Garut
Rabu, 19 Agustus 2009


Pendahuluan
Fakta kehidupan manusia menunjukkan banyak persoalan yang dihadapi. Entah itu persoalan yang teramat besar dan sulit untuk menemukan jalan keluar ataupun masalah-masalah kehidupan sehari-hari. Ternyata persolanan ini tidak pandang bulu menimpa semua orang, baik orang kaya-maupun miskin, orang berpendidikan atau yang biasa-biasa saja, di kota mapun di desa semua tanpa terkecuali akan mengalami persoalan hidup. Yang menanjadi pertanyaan bagaimana kita bisa mengatasi dan menyelesaikan persoalan itu? Apa langkah yang harus kita tempuh. Semua itu hanya di dapat dalam Tuhan Yesus, Yesuslah jawaban semua persoalan.

I. Realita hidup adanya Persoalan. Ay 2-3a:
Pada bagian ini dikatakan bahwa ada ‘sejumlah besar’ orang sakit (ay 3a). sakit penyakit yang tidak kunjung sembuh dan berbagai macam oabat sudah diusahakan juga tidak kunjung sembuh membuat banyak orang menjadi putus asa. Di kolam Bethesdha ada banyak orang sakit yang mengharapkan kesembuhan, semua orang ingin dapat kesembuhan, tetapi nanti akan terlihat bahwa hanya 1 orang saja yang disembuhkan oleh Yesus. Ini menunjukkan bahwa sekalipun Yesus pada saat-saat tertentu memang menyembuhkan semua orang sakit yang datang kepadaNya, tetapi hal seperti itu tidak selalu Ia lakukan (bdk. Luk 5:15-16). Ay 3b mulai kata-kata ‘yang menantikan goncangan air kolam’ sampai dengan akhir ay 4 seharusnya terletak dalam tanda kurung, karena bagian ini diperdebatkan keasliannya.
Tidak ada satupun dari manuscript kuno / manuscript yang dipercaya yang mempunyai bagian ini, dan karenanya bagian ini dianggap sebagai suatu penambahan.
Kalau bagian ini memang merupakan suatu penambahan, maka:
· bagian dimana dikatakan bahwa ada malaikat yang kadang-kadang menggoncangkan air kolam, tidak bisa diterima, karena tidak didukung oleh bagian Kitab Suci yang lain.
Memang mungkin saja goncangan itu disebabkan oleh malaikat, tetapi itu bukan sesuatu yang pasti.
· tetapi bahwa dikatakan bahwa kadang-kadang air kolam itu goncang, dan orang yang pertama masuk ke kolam akan sembuh, tetap bisa diterima sebagai sesuatu yang benar, karena didukung oleh ay 7. di dalam kolam ini memberikan suatu kesembuhan yang bersifat mujijat. Banyak orang yang berusaha melogiskan hal ini dengan mengatakan bahwa di dasar kolam itu ada zat-zat yang bisa memberikan kesembuhan, sehingga hanya kalau air bergoncang, zat-zat itu naik ke atas, sehingga orang yang masuk ke kolam menjadi sembuh.
Tetapi penjelasan logis ini tak bisa menjelaskan:
· apa yang menyebabkan airnya bergoncang?
· mengapa hanya orang yang masuk pertama yang sembuh?
Karena itu, maka haruslah dipercaya bahwa di sini memang terjadi suatu mujijat.
Bahwa tidak semua orang disembuhkan, tetapi hanya yang pertama masuk kolam pada waktu airnya goncang, lagi-lagi menunjukkan bahwa Allah memang tidak biasanya menyembuhkan seadanya orang!

II. Bertekun dalam Iman Ay 5:
Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang itu sudah lumpuh selama 38 tahun. Ini untuk mengajar kita bertekun! Penderitaan yang sudah lama kita alami, tidak berarti tidak mungkin dibereskan, dan doa yang lama tidak dijawab, tidak berarti tidak dijawab selama-lamanya.
Pertanyaan Yesus pada akhir ay 6 bukanlah suatu pertanyaan konyol. Jangan berpikir: sudah jelas orang itu ingin sembuh, mengapa mesti ditanya? Ingat bahwa orang itu sudah sakit selama 38 tahun, dan juga bahwa ia selalu kalah cepat dalam berusaha masuk ke kolam kalau kolamnya bergoncang, sehingga bisa saja saat ini ia sudah putus asa sehingga kehilangan harapannya untuk sembuh. Pertanyaan Yesus ini bertujuan untuk membangkitkan pengharapan orang itu.
Ada orang-orang yang menggunakan ayat ini untuk menekankan perlunya kehendak / keinginan sebagai syarat mutlak terjadinya kesembuhan / mujijat / pembebasan dari penderitaan. Tetapi saya berpendapat ini salah, karena sekalipun kehendak / keinginan seringkali sangat penting, tetapi ini bukan syarat mutlak. Iman yang bersandar pada Tuhan maka ada kuasa didalamnya.

III. Tuhan Memberikan jalan yang Terindah
Kata-kata orang itu dalam ay 7 maksudnya adalah meminta Yesus menolongnya untuk masuk ke kolam pada saat air bergoncang.
Dalam ay 8-9 terlihat bahwa Yesus menjawab lebih dari yang ia harapkan / doakan (bdk. Ef 3:20).
Kata-kata ‘pada saat itu juga’ menunjukkan bahwa kesembuhan itu terjadi seketika, bukan proses.
Dalam Kitab Suci, mujijat kesembuhan ilahi selalu terjadi seketi­ka, kecuali dalam Mark 8:22-26.
Ada orang yang menafsirkan ay 9 itu sebagai berikut: orang itu mendengar kata-kata Yesus dalam ay 8, dan lalu dengan iman ia berusaha mentaati Yesus. Imannya inilah yang menyembuhkan dia. Tetapi cobalah baca ay 9 sekali lagi! Jelas sekali bahwa dalam ay 9 dikatakan bahwa orang itu sembuh dulu, baru mengangkat tilam­nya dan berjalan.
Apakah itu berarti bahwa orang ini memang melanggar hukum hari Sabat dengan membawa tilamnya? Dan apakah Yesus menyuruh orang itu melanggar hukum hari Sabat, dengan menyuruh orang itu mengangkat tilamnya (ay 8)?
Sebetulnya yang dilarang oleh Firman Tuhan dalam Yer 17:21-22 bukanlah membawa seadanya barang, tetapi membawa barang dalam hubungan dengan pekerjaan (bdk. Neh 13:15). Karena itu jelas bahwa orang itu tidak melanggar hukum hari Sabat dengan membawa tilamnya dan Yesus tidak menyuruh orang itu melanggar hukum hari Sabat dengan menyuruhnya membawa tilamnya.
Kuasa Tuhan dinyatakan pada saat dan waktu yang tepat atas orang-orang yang percaya dan bersandar pada Tuhan. sehingga jalan yang diberikan bukan jalan kita, tetapi jalan yang penuh dengan kasih karunia.

Memang tidak dijelaskan hari besar yang dirayakan orang Yahudi, tetapi ada beberapa hal yang menarik dalam kejadian ini. kejadian ini terjadi di Yerusalem kota kudus dan pusat agama, dekat Pintu Gerbang Domba yang identik dengan tempat memberikan persembahan, kolam Betesda yang identik dengan belas kasihan, hari raya yang identik dengan banyak orang yang lalu lalang tetapi Alkitab mencatat ada sesuatu yang menarik yaitu semua itu tidak memberikan jawaban bagi kebutuhan si lumpuh. Peristiwa kolam Bethesda menggambarkan bahwa

Hidup adalah persaingan (ay 3-4)
Ada begitu banyak orang sakit yang ada disitu berlomba-lomba untuk nyemplung kolam waktu kolam itu bergolak. Siapa cepat dia dapat, tanpa perlu mempertimbangkan siapa yang duluan datang, penyakit yang paling parah yang seharusnya didahulukan, bagaimana menolong orang lain. Sangat ironis sekali di tempat yang namanya belas kasihan tetapi sama sekali tidak ada belas kasihan. Semua mementingkan diri sendiri dan melupakan sesamanya, bahkan untuk bersyukur dengan cara membantu orang lainpun tidak ada sama sekali, satu gambaran yang sangat mengerikan. Yang penting saya dapat sembuh bodoh amat dengan orang lain.

Hidup adalah anugrah (Ay 4)
Sebenarnya kesembuhan yang diterima adalah kemurahan dari Tuhan, karena Tuhan yang berinisiatif menggoncangkan air dalam kolam tersebut bukan hanya siapa yang duluan masuk. Manusia harus menagakui otoritas mutlak Allah yang sanggup melakukan segala sesuatu

Hidup adalah pengharapan (5)
Alkitab tidak mencatat berapa kali air kolam tergonjang dalam sehari, tetapi yang jelas tiap kali air tergoncang si lumpuh ini selalu gagal. Alkitab tidak mencatat berapa kali ia gagal tetapi kalau ia sudah 38 tahun ada di tempat itu kegagalannya tidaklah terhitung. Lalu apa yang membuat ia masih bertahan? Harapan untuk sembuh, Seandainya ia putus asa dan tidak mau lagi di Bethesda maka kesembuhan itu tidak terjadi. Pergumulan, penyakit, kesulitan boleh saja terjadi dalam kehidupan kita tetapi biarlah pengharapan selalu ada dalam kamus hidup kita sehingga kita bisa menghadapi, melewati bahkan mengalahkan kesulitan.

Yesus adalah jawaban (ay 8)
Perjumpaan si lumpuh dengan Tuhan Yesus membawa satu kesembuhan yang total. Bukan hanya perubahan dari sakit menjadi sembuh tetapi dari orang yang tidak diperhitungkan menjadi orang yang diperhitungkan. Tuhan Yesus menjadikan hidup orang lebih berarti. Di saat segala sesuatu yang diharapkan manusia (yerusalem, betesda, bantuan orang lain) tidak dapat diandalkan Yesus bisa melakukan melampaui harapan manusia.

Pendahuluan:
Setiap orang tidak ada yang luput dari kesulitan, tantangan, rintangan dan pergumulan hidup, namun hasil akhir dari kesulitan tersebut baik atau buruknya, ditentukan dari bagaimana sikap dan cara kita meresponsnya. Hari ini kita melihat kemalangan yang dialami seorang yang sakit lumpuh berusia 38 tahun, akhirnya mendapat jawaban. Ia disembuhkan secara ajaib oleh Tuhan Yesus. Bagaimana caranya mendapatkan jawaban Tuhan atas persoalan hidup kita?

1. Sadarilah akan kelemahan diri sendiri (Yoh. 5:3-4)
Eksposisi: Ayat 3-4à Yohanes menceritakan, di kolam Betesda itu terdapat sejumlah besar orang yang sakit buta, timpang dan lumpuh yang sedang menantikan goncangan air di kolam itu oleh malaikat dengan harapan disembuhkan. Teks ini menjelaskan alasan mereka berada di tempat itu adalah karena mereka menyadari akan kelemahan fisik dan memiliki kebutuhan untuk disembuhkan. Demikian juga dengan kita, jika ingin mengalami pertolongan Tuhan, kita harus mengadari akan kelemahan diri sendiri dan bahwa kita tidak dapat mengandalkan kekuatan sendiri. Yeremia menulis, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh daripada Tuhan….. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan” (Yer. 17:5, 7).

2. Dengarkan suara panggilan dari Tuhan (Yoh. 5:5-7)
Eksposisi: Ayat. 5-7àYesus sengaja datang ke kolam Betesda untuk menemui orang lumpuh itu, karena Ia mengasihinya dan tahu akan kebutuhan orang itu. Yohanes mencatat bahwa Yesus melihat orang itu dan tahu akan kebutuhannya dan bertanya, “Maukah engkau sembuh?” Ini jelas merupakan sebuah pertanyaan sekaligus panggilan kasih dari Tuhan Yesus yang menekankan kepedulian-Nya atas orang sakit itu. Tuhan Yesus adalah inisiator dari karya keselamatan dan menjadi sumber pertolongan kita. Karena itu, dengarkan suara-Nya yang terus memanggil kita dan uluran tangan-Nya yang siap sedia memberikan pertolongan kepada kita. Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan yang berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28)

3. Memiliki iman dan ketaaan kepada Tuhan (Yoh. 5:8-9; Kis. 27:25)
Eksposisi: Ayat 8-9à Setelah mendengarkan jawaban orang lumpuh itu bahwa ia selalu kalah cepat masuk ke dalam kolam itu pasca terjadinya guncangan air, maka Yesus berbelas kasihan kepadanya. Kemudian Yesus perintahkan orang lumpuh itu untuk mengangkat tilamnya dan berjalan. Seketika itu juga ia memiliki iman dan ketaatan pada perintah Yesus, maka terjadilah mukjizat. Paulus berkata bahwa iman timbul dari mendengarkan firman Kristus (Rm. 10:17). Paulus ketika menghadapi ancaman angin badai di laut dalam perjalanan ke Roma, ia juga percaya dan bersandar pada Tuhan dan firman-Nya, maka ia dan seisi kapal diluputkan dari maut.

Saya bersama11 hamba Tuhan dan total 41 peserta baru mengunjungi tempat ini. Posisinya betul, dekat Pintu Gerbang Domba dan kolam itu masih ada sampai hari ini sekalipun sudah kering. Ada 3 bentuk kehidupan yang kita bisa lihat berdasarkan hukum yang berlaku di kolam Betesda. Dari 3 bentuk kehidupan ini kita bisa belajar apa dan bagaimana seharusnya kita hidup.

1. Hidup yang berdasarkan hukum yang tidak pasti. (Ayat 4)
– Kolam Betesda menghadirkan keajaiban yang terjadi sewaktu-waktu jika malaikat turun ke kolam. Maka tidak heran kita melihat begitu banyak orang berada disekitarnya untuk mengharapkan kesembuhan. Tetapi tidak ada kepastian.
– Hidup sungguh adalah sebuah ketidakpastian.
– Memprihatinkan jika kita hidup hanya sampai sejauh ini saja.

2. Hidup yang berdasarkan hukum rimba. (Ayat 5)
– Di kolam Betesda kita melihat kenyataan, siapa yang kuat dan cepat, dia yang bisa sembuh. Buktinya adalah orang yang lumpuh yang sudah 38 tahun menunggu.
– Hidup adalah persaingan dan kalau tidak hati-hati bisa menghancurkan.
– Hidup kita ada dalam lingkaran hidup yang sedemikiankah ? Sungguh menyedihkan.

3. Hidup yang berdasarkan kasih karunia. (Ayat 6-9)
– Di kolam Betesda ini Tuhan Yesus datang dan menyatakan kasih karunia-Nya.
– Kita melihat ada hukum yang lain, yang dapat menghapuskan kedua hukum di atas.
– Bagi orang yang lumpuh 38 tahun yang kelihatannya mustahil bagi Yesus tidak ada yang mustahil.
– Hidup seharusnya sampai kepada hidup yang seperti ini yaitu ada sebuah pengharapan
– Pengharapan memberi kemungkinan dalam hidup ini.

Hidup orang Kristen seharusnya menuju atau sampai pada point yang ketiga ini. Rasul Paulus pernah menulis suatu pernyataan yang sangat indah tentang hal ini: "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita." (Roma 5: 5)

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Jakarta
Rabu, 19 Agustus 2009


Dalam ayat 6, Tuhan Yesus bertanya kepada orang lumpuh ”maukah engkau sembuh? Ia tidak menjawab pertanyaan Tuhan Yesus, tetapi mengungkapkan kenyataan hidupnya yang tanpa pengharapan, karena tidak ada orang yang memperdulikannya, meskipun banyak orang disana. Kristus bertanya kepada orang lumpuh tersebut dan tidak ada jawaban baik dari orang lumpuh itu maupun orang lain. Kristus memberi pertanyaan dan juga memberi jawabannya hanya Kristuslah jawabannya.

Apa saja yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ?
1. Mengubah konsep dari orang lumpuh tersebut yang hanya berf**okus pada alat Tuhan bukan kepada Tuhan sendiri yang mampu melakukan segala sesuatu yang tidak mungkin. Pandangan dan pikiran orang yang lumpuh itu hanya terfokus kepada pengalamannya, dimana kesembuhan hanya dapat terjadi apabila dia yang pertama kali masuk ke kolam Betesda. Pertanyaan Tuhan Yesus ditujukan agar orang lumpuh dan kita sekalian apabila mengalami masalah tidak bergantung pada pengalaman diri sendiri atau orang lain, tetapi hanya bergantung kepada Kristus. Karena Kristus adalah jawabanNya (ayat 6-7)

2. Tuhan Yesus mengajar kepada orang lumpuh dan kita untuk mendengar Firman Tuhan dan mentaatinya, agar dapat melihat dan merasakan kuasa Allah (ayat 8-9).

3. Menunjukkan bahwa bukan manusia yang mencari Tuhan tetapi Tuhanlah yang mencari manusia, Tuhan Yesus memperkenalkan diri dan menyatakan kuasaNya. Dia memberi kesembuhan. Kesembuhan adalah anugerah Tuhan, orang lumpuh sembuh sebelum percaya. Tuhan Yesus berkuasa dan berdaulat memberikan kesembuhan kepada kita tanpa bergantung pada iman kita. Kalau kita disembuhkan, kita berhasil, kita dimenangkan, itu bukan karena usaha dan kebaikan kita, melainkan anugerah Tuhan. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang lumpuh memuliakan Allah, demikian juga hendaknya kita.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Bandung
Rabu, 19 Agustus 2009


Tujuan :
Orang yang sakit lumpuh 38 tahun di kolam Bethesda mendapat kemurahan dari Tuhan Yesus, ia disembuhkan karena Kristus adalah jawabannya, demikian bagi kita tidak ada hal yang terlambat bila Ia berkehendak, karena FirmanNya mengandung kuasa untuk menjawab segala kebutuhan kita

Di Yerusalem ada sebuah kolam yang cukup dalam untuk direnangi (kata kolam [kolumbethron] berasal dari akar kata kolumban, yang berarti menyelam). Namanya Betesda, yang berarti Rumah Anugerah atau Belas Kasihan. Ada orang sudah 38 tahun sakit terbaring tanpa daya, pertolongan dan pengharapan di sana, sampai akhirnya Yesus pada moment yang tepat datang dan memulihkannya.

Perjumpaan (encountering) yang mengubahkan. Yesus masuk ke dalam kegelapan hidup orang itu dan menjawab kebutuhan eksistensialisnya dengan kebaikan hati Allah (onthological goodness). Pada saat orang itu mendengar suara Yesus dan bergantung penuh atau absolut melakukan perintah-Nya (punya feeling of absolute dependency menurut pemahaman Friedrich Schleiermacher), encountering ini berubah menjadi mujizat kesembuhan. Menurut Soren Aabye Kierkegaard, seorang tokoh eksistensialis, orang sakit ini sudah melewati tahap estatik (aesthetic sphere – dimana kebenaran itu hanya menjadi obyek rasio dan hanya hidup sebagai penonton realita kehidupan, tanpa sikap dan pilihan) dan tahap etis (ethical sphere – dimana seseorang sudah mulai menentukan pilihan yang masuk akal menurut akal sehatnya). Orang sakit ini berespon positif saat ditanya Yesus, tapi sangat pesimis dengan keadaannya. Orang ini perlu melewati tahap ketiga, yaitu tahap religius (religious sphere), karena mujizat yang Yesus tawarkan melampaui kemampuan rasio untuk menerimanya (lebih dari sekedar pengalaman empiris), yang nampak tidak makes sense dan seringkali bertentangan dengan suara hati nuraninya, imannya dan pengenalannya akan Allah selama ini. Namun ini bukan sebuah double paradox yang menuju pada leap of faith into the unknown bagi orang sakit itu. Tuhan tidak pernah memberi kucing dalam karung! Sehingga kehadiran Yesus menjadi sebuah kepastian obyektif yang berhikmat dan dengan nyata dirasakan, diwartakan atau dinyatakan oleh orang sakit itu dan pada semua orang (termasuk pada orang yang membencinya). Bukan kehadiran yang samar, mengambang, bodoh dan sembunyi-sembunyi (bukan sebuah objective uncertainties in foolishness and hiddenness).

Dengan kata lain, Yesus, bukan yang lain, yang menjadi the only, bukan either/or, jawaban bagi kebutuhan eksistensialis manusia. Padahal Tuhan bisa memakai kota Yerusalem, Pintu Gerbang Domba, kolam Betesda, hari raya orang Yahudi, para pemimpin dan orang Yahudi orthodox, atau sesama orang sakit yang sudah disembuhkan untuk memulihkan orang yang sakit itu. Tapi tidak demikian ceritanya. Memang akhirnya jadi sebuah ironi, sekaligus tragedi, karena:

1. Kota Yerusalem adalah kota suci, pusat kegiatan agama Yahudi, tempat Allah bertahta dan tempat kolam itu berada.

2. Pintu Gerbang Domba adalah tempat mempersembahkan korban (termasuk korban penghapus dosa). Bagi orang Yahudi, dosa tidak bisa dipisahkan dari penderitaan dan sakit penyakit. Para rabbi berkata, “Orang yang sakit tidak akan sembuh kecuali kalau dosanya diampuni.”

3. Kolam Betesda (Rumah Anugerah atau Belas Kasihan) adalah tempat mujizat penyembuhan oleh malaikat. Sebenarnya ayat 3b-4 (“yang menantikan goncangan air kolam itu … apapun juga penyakitnya”) tidak ada dalam naskah-naskah kuno yang penting. Mungkin tambahan untuk menjelaskan aktifitas orang-orang sakit di sekitar kolam itu.

4. Hari raya orang Yahudi adalah saat khusus yang ditetapkan dan diwajibkan Allah untuk ibadah raya 3x setahun (Paskah, Pentakosta dan Pondok Daun) bagi orang Yahudi dewasa yang tinggal dalam radius 20 km dari Yerusalem.

5. Para pemimpin dan orang Yahudi orthodox adalah golongan orang yang paling merasa paham tentang kitab Suci, tapi kenyataannya hanya bisa mengeritik dengan penuh kebencian, karena orang sakit itu mengangkat tilamnya pada hari Sabat. Apalagi ketika mereka tahu bahwa Yesus lah yang memerintahkannya. Mereka tahu Yesus sudah berulang kali melanggar hukum Sabat versi orang Yahudi. Kata “meniadakan” dalam ayat 18 berbentuk lampau, dan menunjuk pada perbuatan yang telah dilakukan berulang kali.

N.B.
Orang Yahudi punya talak dan tatib yang njlimet soal hari Sabat. Ada 39 hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Salah satunya adalah membawa barang beban (mis. tidak boleh memakai gigi palsu, kaki palsu dan peniti). Jadi, “Barangsiapa membawa barang apapun dari tempat umum menuju ke rumahnya sendiri pada hari Sabat, dapat dihukum mati dengan cara dilempari batu.” Padahal kalau lembu mereka jatuh ke dalam sumur pada hari Sabat, mereka boleh menolongnya. Mengapa tidak pada seorang manusia? Hari Sabat dijadikan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat! Selain itu, Allah Bapa tidak pernah berhenti bekerja pada hari Sabat untuk menegakkan keadilan/penghukuman-Nya, mencurahkan belas kasihan serta anugerah-Nya. Allah hanya beristirahat pada hari Sabat dari pekerjaan penciptaan-Nya.

Mengapa Yesus memilih yang lumpuh sudah 38 th ini dan seola mengabaikan orang sakit yang lainnya? Ini adalah suatu rahasia yang sulit untuk dipahami. Ada beberapa hal yang bisa kita ungkapkan;
1. Adanya anugrah pemilihan Allah, bukan bersangkut paut pada pergumulan manusia, melainkan apa yang ingin Allah lakukan, bukan berdasarkan pada kemauan dan keinginan manusia, namun dalam rencana Allah

2. Kenyataan bahwa walaupun orang sudah melihat mujizat Yesus, iman tetap tidak muncul. Walaupun sudah melihat mujizat Yesus, orang-orang tetap percayanya pada kolam Bethesda.

Lumpuh ada dua jenis:
Pertama , kelumpuhan jasmani.; kaki, tangan, mata, muka dsb.
Kedua , kelumpuhan rohani; roma 3:9
Tuhan Yesus menyembuhkan keduanya terutama dalam kelumpuhan rohani.

Ada urgensitas bagi si orang ini, dan tujuan Yesus bukan hanya menyembuhkan, tapi menghadirkan kerajaan Allah. Kebutuhan manusia yang utama adalah perdamian dengan Allah, inilah yang menjadi urgensitas, karena anak Manusia mencari yang ndan menyelamatkan yang hilang. Manifestasi yang dinyatakan mengambarkan holistic karya Allah, bahwa Yesuslah menjadi jawaban.

Dalam teks bacaaan kita Yoh 5:1-18
Paling ssedikit kita menemukan tiga hal mengapa Kristus adalah jawaban;
Pertama, Kritus adalah jawaban bagi penderitaan, sakit penyakit dan manusia yang tanpa pengharapan.
Kedua, Kristus adalah jawaban bagi hal-hal yang membingungkan manusia termasuk diantaranya soal hukum agama (sabat).
Ketiga, Kristus adalah jawaban akan kebutuhan manusia untuk mengenal Allah yang sejati. Kristus menyatakan bahwa ia dan Bapa adalah satu, kedudukannya setara karena Dia juga adalah Allah.

Konsep Soren Keerkegaardv ada tiga tahapan;
Pertama, tahap estetika
Kedua, tahap etika
Ketiga, tahap religious
Sebenarnya ini lebih diarahkan kepada pergumulan Abraham dalam menghadap masa sulit. Jadi kurang cocok dimasukan dalam tahap introduksi. Sebaiknya yang perlu diekspos adalah pergumulan orang lumpuh yang sudah 38 tahun lamanya dan tidak ada harapan sampai Yesus menolongnya. Namun perlu ditekankan adalah bahwa mujizat adalah sarana atau tanda yang membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias.

Jika dikatakan dalam konteks ini tentang lumpuh rohani maka itu Nampak terlalu alegoris, lebih baik disebutkan penyakit rohani secara langsung
Dunia ini penuh dengan penderitaan, di kolam itu menggambarkan penderitaan yang tersendiri
1. Orang Egois, memikirkan dirinya sendiri, di kolam hanya memikirkan dirinya yang paling menderita dan yang paling penting untuk disembuhkan

2. Orang yang baik hati, ada 5 serambi yang dibangun, artinya ada orang-orang yang membangun serambi itu, supaya memberi keteduhan, namun tidak menyelesaikan masalah, di dunia juga banyak orang yang baik hati, namun juga tidak menyelesaikan jawaban, hanya Yesus yang bisa selesaikan. Tuhan Yesus penuh kepeduliaan dengan menanyakan, Yesus maha kuasa untuk mengampuni, menyembuhkan dan menuntasakan segala sesuatu melampaui waktu

Dalam lagu Kristus adalah jawabannya adalah hal yang mencakup semua pergumulan manusia. Ada penderitaan, maut dan keluh kesah, dll akibat dosa. Ini adalah isi perjalanan kehidupan kita, maka kita perlu ditolong oleh Tuhan.

Kolam ini yang dekat pintu gerbang Domba, disebut Bethesda = rumah doa, disana ada serambi yang menjadi tempat bagi orang-orang yang sakit lumpuh, buta dan tulang sumsum kering, mereka menantikan orang membantu mereka untuk turun ke kolam. Namun Bangunan ini dibuat tidak dapat menyelesaikan masalah mereka,

Mereka yang sakit menantikan goncangan air, mereka akan turun ke kiri dan ke kanan, ada yang di tengah-tengah yang menjadi First class, dan di pinggir sudut jadi second class, namun hanya 1 yang bisa disembuhkan, yang buta sulit, yang lumpuh akan alami kesulitan.

Dunia mencari harapan, namun sesungguhnya bukan manusia yang cari Tuhan, namun Allah yang mencari, demikianlah Yesus pun datang dan menjumpai orang tersebut. Khotbah hari Minggu harus menjadi tawaran, “maukah..” kita disembuhkan, dilepaskan dari pergumulan, hanya Kehadiran Tuhan Yesus dan kuasaNya yang bisa menolong dan membebaskan

Bethesda tidak hanya house of grace, tapi menyatakan…;
· sketsa penderitaan manusia, Penyataan hati manusia yang egois, egocentric, tidak menghiraukan orang lain yang lebih parah, keutamaan diri (kalau boleh hanya dia yang tahu air itu goncang, sehingga bisa masuk) jadi yang miskin dan susah makin parah.
· Allah menyatakan belas kasihannya, menyuruh mengangkat tilam, yang menjadi penopang hidupnya, andalannya, pada akhirnya ia dapat menemukan Yesus yang sebagai jawaban, dan meninggalkan Bethesda yang bukan menjadi tempat jawabannya.