Rabu, 29 Juli 2009

SAUDARA-SAUDARA KAUM SEBANGSAKU

SAUDARA-SAUDARA KAUM SEBANGSAKU
(Roma 9:1)

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
Rabu, 1 Juli 2009


Roma 9 : 1 – 5
Pepatah Tionghoa berkata : “ Darah lebih kental dari pada air “. Artinya hubungan darah dalam satu keluarga menjadi dasar persatuan yang kuat sekali. Orang rela berjuang mati-matian, bahkan mati demi membela kehormatan leluhur atau sanak keluarganya. Dalam setiap pribadi mengalir suatu emosi, ‘ sentiment sukuisme ’. Secara positif, Allah sebagai pencipta manusia telah menaruh hal ini, agar manusia hidup dalam keterikatan kekerabatan, semangat hidup kesatuan, saling menolong dan mengasihi.
Mengapa Paulus memakai kata-kata yang begitu keras. Roma 9 : 3 ” Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.”
Kata ’terkutuk’ berarti sesuatu yang ’ haram’ di hadapan Allah dan harus ditumpas habis. Jadi Paulus sangat emosional, ketika menyadari suku sebangsanya menolak Kristus dan binasa selama-lamanya. Alasannya sebagai berikut :
a. Sesungguhnya orang Israel telah diangkat sebagai ” anak-anak Allah ” ( Keluaran 4 : 22, Kejadian 15 : 6, 13 – 16 ). Paulus tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang Israel secara perjanjian adalah ” anak-anak Allah"ternyata harus binasa, karena menolak Kristus, cara keselamatan yang ditentukan Allah. Paulus sungguh-sungguh yakin, di luar Kristus, tidak ada jalan keselamatan, tidak ada pengampunan dosa, sehingga manusia dapat diperdamaikan dengan Allah yang maha kudus.
b. Orang Israel telah menerima kemuliaan Allah. Karena melalui orang Israel-lah hukum Taurat dan perjanjian-perjanjian anugerah diberikan kepada umat manusia. Bukankah suatu lelucon dan tidak masuk akal, bila ternyata orang Israel binasa, padahal melalui bangsa inilah firman keselamatan disampaikan. Orang lain diselamatkan, tetapi sendiri binasa.
c. Mesias ( Kristus ) secara jasmani adalah orang Israel. Suatu tamparan ke muka sendiri, Juruselamat adalah orang Israel, sedangkan kaum orang Israel masuk neraka, mengalami kebinasaan kekal. Sesuatu yang sangat menyakitkan hati.

Roma 9
Thema Paullus dalam Roma pasal 9 adalah pilihan Allah atas Israel dan hal pertama yang dibicarakannya adalah berkat pilihan Allah atas mereka ( ayat 4 dan 5 ).
Israel telah diangkat menjadi anak oleh Allah sebagai umatNya sendiri dan Allah memberikan kemuliaanNya kepada mereka. Allah juga memberikan janji-janjiNya kepada Israel , pertama2 kepada Abraham. Hal ini menunjukkan kesetiaan Allah atas umatNya.(9:1-13)
Allah adalah kudus dan harus menghukum dosa, namun Allah yang penuh kasih juga ingin menyelamatkan orang2 berdosa. Ini membuktikan akan Hal ini menunjukkan Keadilan dan Kasih Allah ( 9:14-18)
Indah sekali jika kita melihat Roma 9 : 30-33, dimana Allah telah melimpahkan kasih karuniaNya dengan membuka pintu keselamatan kepada bangsa2 lain.

Paulus memulai suratnya dengan kesedihan yang mendalam karena orang2 Yahudi yang menolak keslamatan. Kasih Paulus begitu besar dan mendalam bagi orang2 Yahudi yang tidak mengalami anugrah keslamatan / kasih karunia dalam Yesus, sampai Paulus mengatakan demi saudara2 sebangsanya, Paulus rela/ bersedia terkutuk demi menolong mereka. Kata yang dipakai adalah: anathema ini adalah kata yang sangat mengerikan: di bawah kutukan atau diserahkan sepenuhnya kepada Allah untuk dibinasakan.
Kita bersyukur mengalami kasih karunia dalam Kristus, namun pertanyaannya:apakah kita punya kasih yang besar dan mendalam seperti Paulus,mengasihi orang2 yang masih diluar keselamatan?

Penolakan orang Yahudi terhadap Yesus, membuat kesedihan yang mendalam di hati Paulus, bukan kemarahan juga bukan bernada kutukan tetapi kesusahan karena hati yang hancur. Paulus melihat orang orang Yahudi bukanlah umat yang perlu dicambuk dengan kemarahan tetapi umat yang dirindukan dengan penuh kasih. Bahkan Paulus mau menyerahkan hidupnya, ia bersedia dikutuk( anothema = ada dibawah kutukan, yakni diserahkan sepenuhnya kepada Allah untuk dibinasakan) asal dapat memenangkan orang-orang Yahudi untuk Kristus. Pikiran Paulus itu senada dengan perkataaan Musa dalam Keluaran 32:32 ketika orang Israel membuat anak lembu emas dan mereka memujanya Allah menjadi gusar maka Musa berdoa untuk mereka: Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu… jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kau tulis. Disini kita mendapatkan kebenaran bahwa orang yang ingin menyelamatkan orang berdosa ia harus sungguh-sungguh mengasihinya.

Kata adelfos (Yunani) adalah persaudaran sedarah. Ikatan persaudaran secara nasional dan secara daging Paulus dengan Israel secara daging memang sangat kuat, karena tidak ada suku bangsa di dunia ini dimana Allah sendiri yang memproklamirkan bahwa Israel adalah bangsa pilihan-Nya dan di katakan sebagai biji mata-Ku – kesayangan-Ku - kemuliaan-Ku.
Ikatan persaudraan dan sebagai umat Allah memberikan ikatan yang kuat dan itu juga mendorong Paulus :
1. Bahwa kebenaran dalam Kristus tidak bisa di tawar atau dig anti dengan hukum Taurat ataupun kebenaran diri.
2. Kebenaran dalam Kristus sebagai finalitas
3. Karena begitu krusialnya kebenaran itu dan juga betapa besar kasih Paulus kepada bangsa Israel relah menukar diri-nya sebagai ganti agar mereka yang di kasihi bisa diselamatkan
4. Hanya ada dua orang dalam ALkitab yang relah di kutuk demi membela bangsanya dihadapan Tuhan yaitu. Musa dan Paulus

Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta.
Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus,

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum’at , 3 Juli 2009


Tujuan:
Mengasihi kaum sebangsa adalah hal yang lumrah, namun merindukan mereka diselamatkan merupakan hal yang lebih indah dan tidak mudah. Oleh karena itu perlu kita bayar harga bagi keselamatan jiwa mereka.

Kesimpulan pasal 8 Paulus adalah penjelasannya tentang kebenaran Allah yang dinyatakan dalam Kristus, dan hasilnya adalah pembenaran. Bagaimanapun juga, beberapa pembaca surat Paulus mungkin akan merasa bahwa rencana Allah dalam menyelamatkan manusia melalui Kristus yang terpisah dari Hukum Taurat telah mengimplikasikan bahwa Allah telah menolak umat pilihanNya Israel serta janjiNya kepada mereka. Dari pasal 9 sampai 11, Paulus menjelaskan bahwa Allah belum menolak umatNya.
Kasih yang besar dinyatakan oleh Paulus melalui tulisannya dalam surat Roma, kita bisa mempelajari beberapa hal yang penting
”Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta, suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus.”

Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus dan aku tidak berdusta – ini merupakan sumpah yang paling serius yang mungkin bisa diucapkan oleh seorang manusia. Paulus memohon kepada Kristus untuk menyelidiki hatinya, apakah ia mengatakan kebenaran; dan menegaskan apakah dalam hal ini, hati nuraninya bebas dari segala macam tipu muslihat, dan Roh Kudus yang menjadi saksi bahwa apa yang dikatakannya itu benar. Dengan demikian kita ketahui, bahwa kesaksian dari seorang manusia dengan kesadarannya sendiri sangat berbeda dengan kesaksian dari Roh Kudus, tetapi rasul Paulus pada saat yang bersamaan memiliki keduanya.
Sang rasul masih memiliki sebuah bagian yang menyakitkan untuk memberitahukan kepada orang-orang sebangsanya – orang Yahudi, bahwa Allah telah memilih orang-orang kafir, dan telah menolak mereka, karena penolakan mereka terhadap Kristus dan InjilNya, hal ini penting karena sang rasul harus meyakinkan mereka bahwa ia telah disiksa oleh mereka karena Paulus telah menerima Injil, dan hal ini tidaklah menggembirakan hati Paulus karena mereka akhirnya tidak berkenan di hadapan Tuhan, tetapi hal ini terus menjadi beban dalam pemikiran Paulus yang akhirnya menghasilkan beban berat dan penderitaan yang berkelanjutan.
Bahkan dalam ayat 3 dituliskan bahwa Aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku kaum sebangsaku secara jasmani. Padahal Paulus mengerti dengan sangat jelas bahwa keselamatan bukanlah karena dirinya atau karena mereka taat melakukan hukum Musa, tetapi melainkan hanya anugrah Allah saja. Doa yang sama yang pernah dipanjatkan oleh Musa, ketika Musa mengetahui bangsanya telah berdosa dan menyembah patung emas, maka Musa meminta Tuhan agar mengampuni dosa bangsanya, jikalau tidak, Musa rela namanya dihapuskan dari kitab kehidupan yang telah ditulis (Keluaran 32:32).

Penutup
Paulus mengekspresikan keseriusannya untuk saudara-saudara sebangsanya secara jasmani, bahkan rela untuk menerima penghukuman asalkan hal itu bisa menyelamatkan mereka. Sementara satu-satunya yang bisa menyelamatkan kita hanyalah Tuhan Yesus Kristus, Paulus menunjukkan kedalaman cinta yang jarang.

Yesus Kristus mengatakan: Yoh 15:13 “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”

Seperti Yesus, ia rela berkorban supaya yang lain bisa diselamatkan. Seberapa besar perhatian kita untuk mereka yang belum mengenal Kristus? Apakah kita rela mengorbankan waktu, uang, tenaga, kenyamanan, dan keamanan kita supaya mereka datang dan percaya kepada Yesus?

Ayat 1 dan ayat 2: Untuk menekankan kata: demi saudara. Berarti ada hidup yg dibagikan. Hidup bisa ditambahkan, dikurangi atau dikali lipatkan. Hidup dibagikan sedikit sekali, Dimulai dari harus hidup demi Allah, dilanjutkan demi diri sendiri, kemudian hidup bagi orang lain, dan akhirnya hidup bagi bangsa.

Latar belakangnya: Roma 9-11. Bangsa Israel takabur, merasa diri sebagai umat pilihan yang dikenan Tuhan. Merasa selalu dicintai walau perbuatan mereka menolak Allah. Paulus menekankan: Allah tidak lagi melihat keturunan tetapi dari iman. Ps 10 berusaha mendirikan kebenaran sendiri, menganggap inilah yang terbaik. Allah telah membangkitkan sesuatu supaya Israel sadar. Keselamatan telah sampai kepada bangsa lain supaya membuat mereka cemburu. Kita dipilih Allah untuk membuat bangsa Isarel cemburu. Hakim 3: 1-2 Allah menyisakan bangsa lain supaya menjadi sparing partner Israel, berlatih berperang.
Paulus ingin menekankan: Jangan takabur!
Abraham diselamatkan karena iman. Bukan karena perbuatan, hak prerogatif ada di pihak Allah. Karena itu harus mengabarkan Injil. Karena mereka sudah ditetapkan, maka pengabaran Injil harus dilakukan supaya orang benar muncul.
Mat 5: Garam dan Terang, bagaimana garam bisa menggarami kalau tidak ada sentuhan. Kita harus proaktif masuk baru bisa mempengaruhi. Mengabarkan Injil juga harus masuk ke masyarakat, tidak bisa omong dari jauh.
Ada orang-orang yang melawan Tuhan seperti homoseks, lesbian. Apakah kita bisa menerima orang seperti mereka? Kita seringkali tidak mau merangkul orang seperti mereka.
Ilustrasi: Di Tokyo ada desa yang biasa kena gempa bumi. Ada seorang beragama Shinto bertobat menjadi Kristen, dia diusir dan membangun lumbung di gunung. Tahu-tahu, dari gunung dia melihat pantai airnya surut. Bagaimana menyelamatkan orang-orang desa? Dia membakar lumbungnya sendiri yang adalah hasil kerjanya selama ini. Akhirnya, orang desa naik ke gunung karena ingin memadamkan api. Kenapa kamu gila bakar lumbung? Lihat sana! Desa kalian sudah banjir kena tsunami. Apakah kita bisa mengorbankan diri sedemikian rupa?

Tema ini berbicara respon Paulus terhadap bangsa Israel. Dunia sekarang dipenuhi sikap egois dan cuek. Tapi, dari firman Tuhan kita melihat kepedulian Paulus terhadap bangsa Israel. Beberapa implikasi:
1. Harus ada hati peduli pada orang lain (ayat 2). Paulus memakai kata berduka cita dan bersedih hati. Injil dulu dia tolak, tetapi sekarang Kebenaran hanya ada dalam Kristus dan bukan dalam Hukum Taurat. Tekun melaksakan Taurat tetapi tidak ada janji keselamatan. Rom 10: 1, 11: 14, Musa juga punya kepedulian yang sama. Yesus juga di Mat 23: 37, Yesus memandang Yerusalem dan menangisi kota tersebut. Kita yang sudah diselamatkan juga harus concern kepada orang yg akan binasa. Responnya adalah membagikan kasih kepada orang lain. Basicnya adalah hati yang peduli. Kalau tidak peduli, maka tidak ada langkah kedua.
2. Paulus mau terkutuk dan terpisah dari Kristus. Anatema. Excommunicated. Dikucilkan dari hadirat Allah kalau mendatangkan keselamatan. Ada tindakan nyata, sikap rela berkorban. Paulus melakukan perjalanan misi pertama, kedua dan ketiga yang begitu jauh dan panjang dan menuntut pengorbanan. Ini juga teladan Yesus di Yohanes 3: 16: begitu besar kasih Allah akan dunia ini, actionnya adalah memberikan anak-Nya yang tunggal untuk kita. Makan roti dan anggur adalah pengorbanan Kristus yang harus diimplementasikan dalam hidup kita.

Pepatah Tiong Hoa, darah lebih kental dari air. Artinya, hubungan keluarga sangat erat. Dalam pribadi mengalir sentimen sukuisme, secara positif, Tuhan menaruh demikian supaya manusia hidup dalam kekerabatan, saling tolong menolong dan mengasihi.
Kenapa kata2nya begitu keras? Rela terkutuk, adalah sesuatu yang haram di hadapan Allah dan harus ditumpas. Paulus rela berkorban dan memilih untuk dipisahkan. Dia melihat kalau bangsa Isarel menolak Kristus akan binasa untuk selamanya.
a. Org Israel telah diangkat menjadi anak Allah. Bagaimana mungkin anak-anak Allah secara perjanjian akan binasa? Faktanya, di luar Kristus tidak ada pengampunan dosa.
b. Israel telah mendapat hukum-hukum, janji-janji dan mujizat Allah. Bukankah lelucon jika Israel binasa, padahal melalui bangsa inilah Firman keselamatan dinyatakan.
c. Mesias atau Kristus secara jasmani lahir dari Israel. Ini adalah tamparan besar, berasal dari bangsanya tetapi ditolak bangsanya sendiri. Karenanya emosi Paulus demikian terdorong agar kaum bangsanya diselamatkan.

Paulus melihat keistimewaan Israel di dalam status. Sebagai anak, diangkat seperti In Christo. Paulus juga menyatakan kasih Kristus di kayu salib menjadi motivasi dalam rencana Agung Allah. Ada aspek keistimewaan Israel dan puncaknya adalah Yesus yang lahir dalam daging melalui bangsa Israel.
Tuntutan Israel. Paulus menuntut Israel untuk mengabarkan keselamatan bagi bangsanya. Saudara2 berarti orang yang dekat dengan kita.

Ini isi hati Paulus kepada bangsanya. Konteks sebelumnya adalah kesukacitaan Paulus. Di sini dukacita Paulus karena memikirkan orang yang belum percaya. Kita paling bersuka cita, tapi sukacita benar pasti mendatangkan dukacita mendalam karena masih banyak orang belum diselamatkan. Selama masih ada orang belum percaya maka kita harus memiliki kesedihan ini. Bahaya besar kalau hati kita sudah tidak tergerak. Kalau hati kita tak ada kesedihan kudus melihat gelapnya dunia pastilah tidak benar. Paulus mau terkutuk dan terpisah, tidak ada pengorbanan yang lebih besar daripada Pengorbanan Paulus seperti di ayat ketiga.
Kita bisa PI tanpa kasih dan rela berkorban, tentunya dampak PI kita sangat kecil. Apakah kita masih memiliki hati Paulus? Ini sesuatu yang luar biasa. Sukacita keselamatan yang benar mendatangkan pujian bagi Allah selama-lamanya. Bahaya terbesar bagi kita adalah kehilangan pujian Allah tersebut.

Roma 9 menjelaskan kesedihan hati Paulus yang mendalam, karena orang Yahudi menolak keselamatan melalui iman. Paulus ingatkan: Bangsa Yahudi yang sejati bukan hanya dilahirkan melalui fisik saja, tetapi melalui janji Tuhan kepada Abraham. Roma di sini Paulus ingatkan: Jadi apa yang kita hendak katakan? Bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran tapi diselamatkan karena iman. Bangsa Israel yang melalui hukum malah tidak sampai kepada keselamatan itu.
Ini membuat Paulus rela mati dan terkutuk. Motivasi Paulus sangat berbeda dengan org sebangsanya.
Dengan melakukan hal baik, seolah2 membuat Allah berhutang. Motivasi paulus adalah semata2 belas kasihan Allah, Pauluslah yang berhutang. Inilah konsep yang berbeda.

Ayat 4: kenyataan orang Israel. 1. Orang Israel mendapat kehormatan besar dari Allah. Krn diangkat dan dipimpin langsung oleh Allah. 2. Telah menerima perjanjian Allah (diateke). Berjanji dan menepati. 3. Mereka menerima Hukum Taurat yang diterima langsung oleh Allah, betapa sempurnanya krn Allah sendiri yang memberinya. 4. Ibadah (lateria) diajar sendiri oleh Allah bagaimana menyembah Allah. 5. Mrk telah menerima janji2 Allah, disebut epagelia, jaminan Allah, seharusnya takluk. Tapi Israel ternyata tegar tengkuk, mrk ada dlm kebenaran tapi tidak hidup dalam kebenaran. Dukacita: suneidesis: kesedihannya boleh diuji. Akhirnya paulus berkata: Rela dipisah dari Kristus.
Ada banyak sekali gereja Tuhan yang jemaatnya seperti Israel. Dekat dengan kebenaran dan tidak hidup dalam kebenaran. Th 1980 - 2000, gereja meningkat 300 persen. Tapi kok hidup bangsa kita terpuruk? Nyatalah kita mungkin belum terbeban bagi bangsa ini.

Hamba Tuhan adalah panggilan mulia, tetapi dalam postmodern ada pergeseran nilai Hamba Tuhan. Ada dosen selalu ingatkan: Pdt dan Penginjil belum tentu Hamba Tuhan, krn ada yang hanya kerja cari nafkah. Yang sejati pasti ada menangisi jiwa. Kita harus teocentris dan bukan egocentris. Milis Kristen kita banyak tulisan yang seharusnya mengintrospeksi diri, banyak istilah menyembelih domba. Ini satu kritikan yang luar biasa.

Ada ironi besar. Ironi terbesar adalah Israel. Belanda juga 350 th di Indonesia tapi sangat minim pengaruh kekeristenannya. Seharusnya 1 abad sudah cukup mempengaruhi Nusantara. Bangsa datang bukan memberi dampak positif tapi justru menimbulkan antipati. Paulus merasakan ironi besar. Kenyataannya tidak mungkin dibalik.
Apa yang Tuhan kerjakan lewat Paulus, krn sudah mengenal nilai ironi hanya bisa ditemukan dalam Kristus, kebenaran dan Injil itu menjadi keyakinan yang kokoh dalam dirinya. Apa yang menjadi keyakinan dan tradisi dalam hidup bangsanya hanya sekunder dan apa yang menajdi nilai kebeanaran Kristus seharusnya menjadi milik bangsanya.
Dalam ironi inipun Allah tidak gagal, khusunya dlm keluarga adalah ironi jika sebagian keluarga ada yg selamat tapi malah ada yg antipati terhadap kekeristenan.
Ironi juga jika sudah 5 th percaya tp tidak dikenal sbg orang kristen. Sudah percaya tp tdk ada yg kita Injili.
Michael Jackson juga ironi, hidup terkenal tapi mewarisi hutang 500 juta dollar di hari kematiannya.

Kematian Kristus di kayu salib, adalah kebutuhan mutlak dan mendasar manusia. Ayat 1-3 Paulus sangat berbeban, sampai rela terkutuk.
1, Keterikatan dgn orang sekitar harus menyentuh keselamatan mereka. Penginjilan bukan teori tapi dimulai dari hati. Percuma melakukan kalau tidak ada hati. Yoh 3: 16 begitu besar kasih Allah. Keselamatan dimulai dari hati. Tidak akan mungkin jemaat berani berjuang, kalau mrk tidak merasakan ada sesuatu yang menggelisahkan hati mereka kalau orang sekitarnya tidak selamat. Hubungan selalu terikat dalam kepentingan bisnis dan pribadi, makanya karena rugi uang dan waktu memecahkan hubungan. Sesungguhnya, Jiwalah yg terpenting.
2. Kebersaman kita dgn orang sekitar adl kesempatan terindah untuk menyatakan injil secara pribadi. Sudah bukan waktunya secara KKR besar2an. Pemberitaan Injil scr efektif adl hub pribadi.
3. Ada anugerah Allah yg khusus untuk setiap jiwa yg diperjuangkan. Kalau setiap jemaat mau mendoakan spy percaya Tuhan pasti ada anugerah khusus. Di Gardujati, selalu doakan jumlah orang yg sama, ini bukan sia2 tapi ada anugerah khusus bagi orang itu.

Paulus menyatakan kasih yg amat dalam terhadap kaum sebangsanya dan saudaranya sendiri. Ini bukan suatu kebohongan tapi Roh Kuduslah yg membuktikannya.
1. Kasih ini diwujudkan dengan kesedihan yg amat sangat. Sangat berduka cita. Dalam kehidupan Paulus selalu diseling perasaan ini. Kasih itu mendatangkan sukacita besar. Tapi juga dukacita.
Ibu terhadap anak juga orang yang kita kasihi. Dukacita adalah menurut kehendak Tuhan, menghasilkan pertobatan dan tidak disesalkan. Kita harus sukacita tapi juga ada dukacitanya.
Yeremia, seorang nabi yg meratapi bangsanya. Dukacita menurut kehendak Tuhan.
2. Kasih yang amat besar diwujudkan dengan rela berkoban. Musa dan Paulus pernah menyatakan hal ini. Hanya Yesus yang terkutuk dan terpisah dari Allah Bapa, Allahku mengapa engkau meninggalkan Aku? Yesus yang menjadi contoh teladan kita. Siapa kaum sebangsa kita? Org terdekatlah yg menjadi objek pertama yg harus kita kasihi, dgn mengabarkan Injil pada mereka. Di Indonesia bangsa ini adalah objek kesayangan kita. Orang Tionghoa Indonesia suka merasa suku bangsanya ada di Tiongkok padahal kita orang Indonesia. Seyogyanya, keduanya menjadi perhatian kita.
3. Org di gereja yang belum percaya juga menjadi objek kita.