Sabtu, 28 Maret 2009

SAATNYA DIMULIAKAN

SAATNYA DIMULIAKAN
Yohanes 12:20-36

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
25 Maret 2009
Yohanes 12:19, diakihir dengan kalimat pernyataan ” lihatlah, semua dunia datang mengikuti Dia” . Ayat 20-22 adalah percakapan murid-murid Yesus dengan orang Yunani, dan mereka meminta untuk bertemu Yesus.
Tetapi Yesus tidak meresponi mereka namun mulai berbicara ayat 23, ”Telah tiba saatnya Anak Manusia di muliakan”.
Joh 12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Yesus bicara tentang hari kematian-Nya di kayu salib semakin dekat.
Dan kemtaian-Nya di kayu sakib dikaitkan dengan saatnya kemuliaan
1. Tidak ada kemuliaan tanpa salib, harus menyangkal diri memikul salib bisa memuliakan Yesus.
2. Membawa dunia datang kepada Kristus melalui salib. Pemberitaan salib harus menjadi pusat pemberitaan untuk membawa dunia kepada Kristus
3. Hanya dengan meninggikan Kristus yang di salib, maka kita bisa membawa dunia datang kepada Kristus dan memuliakan-Nya bagian ini Yesus ingin menegaskan tentang berkata bahwa ini waktunya disalib.
Hanya dengan mencintai Tuhan kita dapat mencitai diri kita dengan benar dan mencintai orang yang kita cintai dengan tepat.
Yesus mengosongkan diri = tak mencintai diri.
James Elliot mengatakan, ”Orang yang bijak adalah orang yang tak mempertahankan apa yang tak mungkin dipertahankan.” Semua orang pasti mati, bedanya mati karena apa?
Mati karena kekenyangan, keenakan, atau mati karena Tuhan?

Diceritakan di sini bahwa orang Yunani datang kepada Filipus. Mengapa harus ke Filipus? Penafsir mengatakan bahwa Filipus adalah nama Yunani, jadi orang Yunani datang kepada orang Yunani. Filipus datang pada Andreas. Andreas adalah nama Yunani. Filipus dan Andreas membawa orang-orang itu pada Yesus. Banyak orang tak bisa membawa / mempertemukan orang pada Yesus.
V 23, ”Telah tiba saatnya,” Yesus berkata berkali-kali bahwa waktu-Nya belum tiba. Tapi di sini, sekarang waktunya telah tiba.
”Dimuliakan” = konsep pendengar Yesus waktu itu berbeda dengan maksud Yesus. Pendengar menganggap bahwa dimuliakan = penjajah akan dikalahkan / bertekuk lutut. Tapi maksud Yesus adalah kematian-Nya.
V 24, biji itu harus mati, sama seperti Yesus yang harus mati, supaya Ia harus menghasilkan banyak buah.
V 25, barangsiapa cinta nyawanya akan kehilangan. Ini diucapkan Yesus berulang-ulang (Mis.: Lk. 17:33), menunjukkan kalimat ini sangat penting, maka diulang-ulang.
Mencintai nyawa = egoisme dan keinginan merasa aman.
Melalui kalimat ini, Yesus berkata bahwa kita harus rela mati bila memang itu berguna bagi Tuhan.

Apa yang ditawarkan Yesus ini bukan jalan yang populer. Dunia menawarkan jalan instant, mudah, enak, etc. Dunia menawarkan bahwa orang umur 40 ke atas kalau bisa tak usah bekerja lagi. Maka bisnis MLM begitu populer. Mengorbankan orang lain tak apa, yang penting diri sendiri mencapai sukses dan pensiun dini.
Yesus menawarkan jalan yang berlawanan dengan jalan dunia.
Mario Teguh begitu populer, mengapa banyak pendeta yang mengabarkan nilai-nilai yang jauh lebih dalam dari Mario (berasal dari Alkitab) koq kurang populer?
Mario bicara mengenai hal yang umum dan dengan skill komunikasi yang baik.

Manusia memang suka langsung hasilnya, tapi tak mau prosesnya. Tuhan berkata bahwa jalan kemuliaan itu lewat proses jalan penderitaan. Kalau mau dimuliakan, kita harus lewat proses mati terhadap dosa.
Harga yang harus dibayar ”Tidak seberapa,” karena 1 yang mati, tapi dilipatgandakan. Seperti anak kecil menyerahkan 5 roti dan 2 ikan, diserahkan pada Tuhan, maka bisa berlipat ganda.

Yesus melalui kematian untuk memperoleh kemuliaan. Saat kita menerima Yesus = kita mematikan si aku yang lama. Kalau kita mematikan si aku yang lama, maka kita akan bertumbuh, dan akan bertambah-tambah karunia rohani, sehingga kita bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Orang yang begini tidak egois, bahkan rela menyerahkan nyawa bagi orang lain. Wan cheng ta wo, xi sheng xiao wo.

Telah tiba saatnya = merujuk pada peristiwa yang belum terjadi, yaitu kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya dan kedatangan-Nya. Ke 3 hal itu merupakan 1 kesatuan.
Melalui kalimat itu, Yesus ingin mengatakan bahwa hidup itu datang melalui kematian. Hal ini sulit dimengerti manusia, karena manusia berpikir bahwa setelah mati, ya selesai, tak ada hidup. Mati = tak ada hidup. Tapi, melalui salib, hal yang paradox ini, menjadi kebenaran.
Kematian Yesus disamakan dengan biji gandum yang mati = Yesus taat pada Bapa untuk mati bagi umat manusia. Melalui kematian-Nya ada banyak buah / keselamatan.
Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi Yesus, tapi juga bagi kita. Kita harus rela berkorban untuk injil, sehingga banyak orang diselamatkan.

No cross, no crown. No guts, no glory. Tanpa salib, tak ada kemuliaan. Melalui salib, Yesus menunjukkan ketaatan, kesetiaan dan kuasa yang sempurna.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum’at, 27 Maret 2009

Konteks dari perikop ini (Yoh. 12:20-36) adalah dimulai dari pelayanan Tuhan Yesus yang membangkitkan Lazarus dari kematian. Mukjizat ini menarik banyak orang Yahudi termasuk orang Yunani datang percaya kepada-Nya (Yoh. 12:11, 17-19). Kemudian Yesus memasuki kota Yerusalem disambut dengan puji-pujian (Yoh. 12:12-19). Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan, mengapa?

1. Karena Yesus akan segera mati, bangkit, dan dimuliakan di sorga (Yoh. 12:16, 23, 33; 17:1, 5; bdk. Why. 5:6-14)à Ini adalah fokus kepada pribadi Yesus Kristus yang dimuliakan, setelah melakukan karya penebusan dosa manusia melalui kematian, dan kebangkitan-Nya dari kematian. Istilah “dimuliakan” Yun. verb. “doxazō” (to render glorious, full of glory, honour and magnify), artinya: diberikan kemuliaan, dipenuhi oleh kemuliaan, hormat dan keagungan. Noun: Yun. “doxa” (glory, honour, dignity, praise, worship; God’s glory, God’s splendor). Dengan kata lain, Yesus menjawab mereka, bahwa waktunya sudah tiba untuk membuka jalan kepada Allah bagi orang-orang percaya Yunani (Gentiles) dan Yahudi (Jewish) dan menyatukan (to fuse) mereka ke dalam satu tubuh, yaitu tubuh Kristus melalui pengorban-Nya di kayu salib (Yoh. 10:16).

2. Karena melalui kematian Yesus banyak orang akan diselamatkan dan memuliakan Tuhan (Yoh.12:24-25) Fokus pada poin ini adalah bahwa kematian Kristus, tidak hanya membawa kemuliaan bagi diri-Nya sendiri, tetapi juga mendatangkan kemuliaan bagi banyak orang. Manusia berdosa seharusnya mati, binasa dan masuk dalam hukuman di neraka, tetapi kini mereka dapat diselamatkan, dimuliakan dan membawa kemuliakan bagi Allah.
Yesus menggambarkan tujuan kematian-Nya dengan memakai istilah perkebunan atau anatomi tanaman, yaitu sebutir biji gandum. Jika satu biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, maka ia akan menghasilkan banyak buah. Demikian juga dengan Kristus. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia akan menyelamatkan banyak orang berdosa dan mereka akan memuliakan Allah. Kematian dan kebangkitan Kristus menunjukkan bahwa Ia telah membayar hukuman dosa kita dan bahwa Ia berkuasa terhadap kematian serta membuktikan Ia memiliki hidup yang kekal karena Dia adalah Allah. Karena itu, Tuhan Yesus berkuasa memberikan hidup yang kekal itu kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Mengenai tujuan dari kematian Kristus, John F. Walvoord (The Bible Knowledge Commentary: Victor Books, 1983) menulis: “His (Jesus) death led to glory and life not only for Himself but also for others.” Pada ayat 25, Tuhan Yesus berkata, “Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Istilah “tidak mencintai nyawanya” tidak berarti kita boleh bunuh diri, tidak perduli dengan hidup ini, dan boleh menghancurkan hidup yang Tuhan beri ini. Tetapi, dipakai sebagai perbandingan dengan tindakan Kristus yang rela berkorban dan mati bagi kita. Ini berarti: kita juga dituntut mau dan bersedia mati demi iman atau keyakinan kita dalam Kristus, jika hal ini memuliakan Kristus. Dengan kata lain, seorang Kristen tidak lagi hidup mengutamakan dirinya sendiri, tetapi mengutamakan kepentingan orang lain. Dia menjadikan Kristus sebagai tuan dan Tuhan di atas kepentingan pribadi. Karena itu, serahkanlah diri saudara kepada Kristus yang mengontrolnya, maka hidup kekal dan abadi menjadi milik saudara.
Kesimpulan: Tuhan Yesus berkata: “Saatnya Ia Dimuliakan” karena?
1. Ia akan segera mati, bangkit dan dimuliakan di surga.
2. Melalui kematian-Nya banyak jiwa diselamatkan dan akan memuliakan Allah.

Perkataan Tuhan Yesus ”Telah tiba anak manusia dimuliakan” menurut Alkitab New International Version Tuhan Yesus sedang berbicara mengenai kematian dan kebangkitannya. Kedatangan orang-orang Yunani, juga berbicara mengenai cakupan keefektifkan dari penyaliban Tuhan Yesus. Artinya, kematian dan kebangkitan Yesus juga ditujukan untuk bangsa-bangsa lain.

Sudah tiba saatnya, yaitu kematian Tuhan Yesus. Saat itu dinyatakan sebagai saat kemuliaan Kristus, dimana Kristus sebagai sumber kehidupan baru bagi siapa yang mau mengikut Dia dan melayani Dia. Dalam bagian sebelumnya orang-orang Farisi berkata : “Lihat, seluruh dunia datang mengikuti Dia.” Dalam Ay 20 dikatakan ada beberapa orang Yunani yang mendekati para murid dan mengajukan permintaan : “Tuan, kami ingin bertemu Yesus”. Ketika murid-murid memberitahukan hal itu kepada Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus mengatakan “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.”
Sebelumnya selalu dikatakan saatNya belum tiba ( 7:30, 8:20)
Saat kematian Tuhan Yesus digambarkan sebagai saat pemuliaanNya (ay 24)
Pertama : Karena ada kaitan erat antara salib dan kebangkitan, diantara penderitaan dan pemuliaan.
Kedua : Kematian Tuhan Yesus digambarkan seperti jatuhnya biji gandum ketanah kemudian bertumbuh dan berbuah banyak. Gambaran biji gandum sering dipakai para rabi Yahudi untuk menjelaskan kebangkitan. Sama seperti biji gandum yang jatuh ketanah dan mati, namun kemudian tumbuh, demikian juga orang-orang yang beriman itu akan mati, namun nanti akan bangkit dalam kemuliaan. Tuhan Yesus mengkaitkan gambaran yang sudah dikenal tersebut, dengan mengkaitkan kehidupanNya, melalui kematianNya akan menghasilkan buah yang berkelimpahan. Apa yang dikatakan Tuhan Yesus terhadap diriNya juga berlaku bagi murid-muridNya.
Biji gandum yang jatuh ketanah dan mati untuk menghasilkan buah yang banyak antara lain :
I. Mengambarkan karya penyelamatan Tuhan Yesus yang mati, bangkit, dan naik ke Sorga.
II. Mengambarkan jalan yang juga harus ditempuh oleh orang-orang yang percaya, karena relasi yang erat antara Tuhan Yesus dan jemaat.
III. Mengambarkan gereja yang missioner berarti menjadi gereja seperti biji gandum yang jatuh ketanah dan mati untuk menghasilkan buah bagi banyak orang.
Pertama, kemuliaan Kristus berhubungan erat dengan kemuliaan salib Kristus itu sendiri. Kedua, kemuliaan berkaitan dengan pelayanan. Barangsiapa melayani Aku ia akan dimuliakan Bapa. Pelayanan ini juga mencakup pelayanan penginjilan kepada orang-orang Yahudi dan Yunani. Ketiga, tujuan akhir dari pelayan adalah Allah Bapa dimuliakan.

Winston Churchill: We make a living by what we get. We make a life by what we give. Hidup yang bermakna agung adalah hidup yang memberi. Dalam bagian ini Yesus mengajarkan paradoks bahwa: mati adalah jalan untuk hidup, direndahkan untuk ditinggikan, dihina untuk dimuliakan, menderita untuk mengalami kebahagiaan.

P.T. Fouryth (teolog Inggris): ”Bagi kita Kristus adalah salib-Nya. Keseleuruhan Kristus baik di sorga atau di bumi terletak di dalam apa yang Dia kerjakan di atas salib. Kita belum mengerti tentang Kristus sampai kita mengerti arti salib-Nya.” Dalam Injil Yohanes, penekanan tentang Messias yang menderita. Kayu salib merupakan berita yang santer! Dan itulah tujuan utama dari Yohanes: Kristus yang menderita dan dimuliakan yang puncaknya adalah kayu salib. Kita tahu bahwa kisah Injil adalah kisah kayu salib. Injil ditulis pada akhirnya adalah untuk mengisahkan tentang kayu salib. Injil Yohanes adalah kisah salib itu sendiri. Dan itulah saat-Nya, Kristus memperoleh kemenangan mutlak, dan Ia mendapatkan kemuliaan yang diberikan oleh Bapa-Nya. Rasul Paulus mengatakan, ”Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia, dan mengaruniakan nama di atas segala nama.”

Puncak dari popularitas Yesus sampai didatangi oleh orang2 Yunani. Nampaknya mereka adalah para pembesar karena ada semacam protokoler. Dalam kondisi ini TY tidak terpancing jatuh dalam popularitas. Murid-murid ingin terkenal, tetapi TY malah lebih mempersiapkan kematiaannya. Yang sulit adalah menangkap perasaan TY ketika Dia berkata ”Saatnya akan tiba untuk dimuliakan”. Murid-murid tidak bisa menyelami hal itu.

Fokus dari pernyataan Tuhan Yesus itu adalah soal kedatangan-Nya ke dunia. Apa yang dibicarakan di sini berbicara dua hal: Pertama, berkorban untuk orang banyak. Kedua, menggenapi rencana Allah untuk melayani manusia. Makna telah tiba saatnya bisa dikontraskan dengan ayat 43, bukan dalam arti menjadi terkenal, tetapi menggenapi kehendak Allah Bapa, datang ke dalam dunia, mati bagi umat manusia. TY juga datang untuk menjadi terang bagi umat manusia. Dengan kematian-Nya banyak orang akan diselamatkan, sama seperti biji gandum yang jatuh dan mati.

Enam karya Keselamatan:
Humiliation (kehinaan)
Inkarnasi
Kematian
Turun Ke dalam Kerajaan Maut
Kemuliaan (exaltation)
d. Kebangkitan
e. Naik Ke Sorga
f. Datang ke 2 Kali

Dalam bagian ini ada dua hal penting: Ada penyertaan Tuhan dan akan dihormati Allah Bapa. Kalau mau disertai dan dihormati Allah Bapa, dia harus mengikuti Aku. Analoginya seperti biji gandum, dari tempat/posisi di bawah, mati, baru bisa ditempati di atas, atau dimuliakan. Analogi ini sama dengan proses bagaimana Kristus dimuliakan. Secara teori hal ini gampang dibicarakan, tetapi realitanya sangat sulit. Yesus pernah berkata, ”Jiwaku terharu” dalam bahasa Mandarin disebut ”Jiwaku sedih sekali”. Yesus tahu akan tujuannya datang ke dalam dunia ini, mati, disalibkan bagi umat manusia.

Minggu ini adalah minggu Palm. Minggu Palm mengingatkan jemaat untuk mempersiapkan diri untuk menyambut Kristus. Ada istilah Efipani, kunjungan, di mana sama seperti seorang raja yang sedang menaiki kuda, berarti ada berita bahaya atau menyedihkan. Kalau naik keledai, itu berarti ada berita sukacita. Bagian perikop ini merupakan saat-saat yang menegangkan dimana Tuhan Yesus akan mengakhiri pelayanan-Nya dan menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Ini juga berarti, apa yang sudah Tuhan Yesus lakukan adalah hal yang sempurna, dan siap menerima kemuliaan.

Mengapa hidup Yesus sangat mulia?
Yesus melepaskan haknya sebagai Anak Allah, keseteraan dengan Allah Bapa pun dilepas-Nya.
Yesus memberi hidup-Nya. Lih. Ayat 25. Yesus memberi hidupnya sehingga lewat kematian-Nya menjadikan orang lain hidup.
Yesus melayani umat-Nya. Lih. Ayat 26. Yesus memenuhi setiap kebutuhan hidup umat-Nya.

Banyak orang berbicara kehormatan dan kekuatan bila mereka memiliki harta benda, uang, dan kekayaan lainnya. Di dalam perikop ini kita melihat cara Yesus yang sangat berbeda. Untuk dimuliakan Tuhan Yesus taat dan tunduk pada kehendak Allah Bapa. Melaluinya kita juga bisa belajar bagaimana melayani Allah dengan benar, hidup dengan benar dihapan Allah, dan berkenan dihadapan Allah.

Para Yunani itu kemungkinan adalah orang terkenal, dan tenar maka mereka ingin bertemu dengan Yesus yang terkenal. Tetapi pada saat ini Yesus sedang memberitakan tentang kemuliaan yang tidak sama dengan yang manusia kenal tentang kemuliaan. Manusia mengenal kemuliaan itu semuanya bagi diri sendiri, bagi ketenaran dan kehebatannya. Tidak jarang untuk mendapatkan kemuliaan itu bagi dirinya, manusia rela mengorbankan orang lain demi kemuliaan bagi dirinya. Tetapi kemuliaan yang dikatakan dan dijelaskan oleh Yesus, sangat berbeda dari konsep kemuliaan dunia. Ia membicarakan inti kemuliaan yang sejati:
1. Kemuliaan itu adalah karya penyelamatan à Ia layak di muliakan karena Ia menyelamatkan orang berdosa dan bukan justru mengorbankan orang lain untuk mencapai kemuliaan bagi dirinya.
2. Kemuliaan itu adalah kematian dan kebangkitan à Ia memberikan diri-Nya sebagai korban bagi orang berdosa. Ini standart kemuliaan yang tidak dapat dicapai oleh siapapun.
3. Kemuliaan itu adalah melayani Dia, menurut Tuhan Yesus. à orang yang melayani Bapa harus mengikuti Yesus. Dihormati oleh Bapa adalah kemuliaan yang bukan dari dunia ini.
Kalau orang ingin bertemu dengan Yesus karena popularitas dan ingin menunjukkan kemuliaannya, ia tidak akan pernah bertemu dengan Yesus dan malah Yesus tidak akan pernah ditemui, tetapi pertemuan dengan Yesus tanpa popularitas adalah pertemuan yang berkualitas yang menyebabkan kita mengerti bahkan mengenal makna kemuliaan yang Yesus sampaikan.

Di Filipina biasa dilakukan peristiwa penyaliban, di mana ada orang-orang yang rela disalib. Tujuan dari orang-orang yang melakukan itu adalah ingin merasakan bagaimana Yesus itu disalib. Orang-orang Katolik pun kadang bisa mengalami apa yang disebut: stigmata (ada tanda-tanda penyiksaan penyaliban). Tetapi kemuliaan Yesus dilakukan dengan pengorbanan dirinya dan penggantian hukuman yang seharusnya diterima oleh orang-orang berdosa.