Sabtu, 14 Maret 2009

CELAKALAH AKU, BILA TIDAK !

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
Kamis, 12 Maret 2009

CELAKALAH AKU, BILA TIDAK !
1Korintus 9:16
Paulus berkata 3x ”Celakalah” è Rom. 7:24; 14:20 dan I Kor. 9:16.
Bahasa aslinya dalam I Kor. 9:16 diterjemahkan ”Grief.”
Grief adalah tingkat kesedihan yang ke 4 = tertinggi (sad, unhappy, sorrow dan grief).
Paulus sangat sedih kalau ia tak memberitakan injil.
Apa yang membuat kita sangat sedih hari ini???
Apa motivasi Paulus memberitakan injil?
Bukan supaya mendapatkan banyak harta.
Ada orang melayani supaya jemaatnya banyak dan . . . persembahannya banyak.

Bukan karena takut kehilangan pekerjaan.
Ia sudah memiliki pekerjaan tukang tenda.
Ia bisa dikata tak takut kehilangan pekerjaan sebagai hamba Tuhan.

Bukan karena supaya namanya / gerejanya berkembang.
Ia bukan melayani untuk gereja / dirinya sendiri.

Ia melayani hanya karena kasih Tuhan yang besar kepada dirinya dan kepada orang lain.
Kasih Allah lebih besar dari semua kejahatan manusia.
Memang manusia kadang bisa begitu jahat, mis.: orang Niniwe (Asyur), tapi kasih Tuhan masih lebih besar.

Ada perubahan hidup Paulus setelah diubah oleh Tuhan.
Paulus memiliki image / harga diri yang baru, yaitu Kristosentris.
Di pasal 9 ini, ia sedang mengalami kritikan mengenai kerasulannya.
Karena, walaupun ia adalah rasul, tapi ia memiliki pekerjaan sebagai tukang tenda.
Paulus menjawab melalui pernyataan, bahwa:
Goal dalam hidup bukan seperti yang diinginkan oleh kebanyakan orang. Paulus mau hidupnya bukan sebagai rintangan bagi pemberitaan injil (v 12b).
Paulus ingin hidup memberikan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya untuk Tuhan (v 15).
Paulus ingin memberitakan injil. Karena ia tahu bahwa hanya Kristus yang menentukan hidup manusia (II Kor. 5:10, 18, 19).

Dari kata ini, kita melihat kesedihan Paulus bukan karena ia dikritik/dituduh bukan rasul, tapi karena tak memberitakan injil.
Memang dalam bagian sebelumnya, Paulus membuat pembelaan diri mengenai dirinya sebagai rasul.
Tapi, hal itu bukan kesedihannya yang mendalam, tapi kalau ia tak memberitakan injil.
Mengapa ia begitu semangat?
Karena ia yakin kuasa injil (Rom1:16) dan tak merasa malu untuk terus memberitakan injil.Orang Roma punya konsep bahwa berita injil itu adalah kebodohan.
Maka orang banyak tak berani memberitakan injil karena akan dianggap bodoh.
Dari angket GII Hok Im Tong, diketahui bahwa hal yang paling lemah adalah tak memberitakan injil. GBI Keluarga Allah, Solo, tukang becak, pembantu RT, dll, begitu berani untuk memberitakan injil.
Paulus memiliki hak sebagai rasul dan hak hidup dari pemberitaan injilnya.
Ia melepaskan hak sebagai rasulnya dan hak untuk mendapat hidup dari pemberitaan injilnya itu (IKor. 9:19).
Hamba tak memerlukan jubah kebesaran, dihargai manusia, atau menyenangkan manusia.
Tujuan hamba Tuhan adalah untuk menyenangkan Tuhan.

Pemberitaan injil adalah kewajiban untuk membalas kasih Tuhan.
Atau dianggap sebagai hutang.
Membayar hutang adalah kewajiban (Rom. 1:14-15).
Orang membayar hutang bukan untuk dipuji, tapi memang karena kewajiban.
Justru orang yang tak membayar hutang yang menjadi bahan cibiran.

Mengapa Paulus begitu semangat untuk PI?
1. Karena, ia merasakan begitu besarnya anugerah keselamatan dari Tuhan kepada dirinya yang berdosa, dan dia mengatakan bahkan dia lebih berdosa dari semua orang (I Tim. 1:15-16).

2. Oleh karena itu, waktu ia mengatakan ”Celakalah,” ia berkata mengenai dirinya sendiri, sebagai orang yang sudah menerima anugerah besar itu, seharusnya ia memberitakan pada orang lain, supaya orang lain juga mendapatkan anugerah keselamtan yang sama.

3. Karena ia sadar bahwa sebagai orang yang mengalami penebusan dia harus mentaati amanat agung memberitakan injil (Mat. 28:19).

V 16-17 :
1 Memberitakan injil adalah hidupnya à Tentu di dasarkan kepada pemikiran bahwa hidupnya bukan miliknya tapi miliki Kristus Gal 2:19-20, IKor 6:19-20 dia telah mengalami penebusan dari budak dosa dari hukuman Allah. Jadi kalau masih ada di dunia adalah memberitakan Injil satu keharusan.
2 Memberitakan Injil bukan untuk memegahkan diri. PI adalah kehidupannya. Hidupnya harus memberitakan injil. Jadi, kalau ia PI, bukan untuk dibanggakan. Karena hidupnya, tidak bisa tidak memberitakan injil.
Orang percaya seperti seorg budak yang telah mengalami penebusan kalau dia bekerja bukan untuk memegahkan dirinya tetapi menjadi “ kebangggan “karena bisa dipakai Tuhan memberitakan Injil Yesus . Ia tak bisa bangga karena ia sudah bekerja.
Atau seorang anak belajar, ia tak perlu bangga. Karena, memang tugas seorang pelajar adalah belajar.
3 PI hanya dalam dunia. Di Surga, kita tak PI. Di Surga, kita memuji Tuhan, dll., tapi, tak PI.

Paulus mengerti bahwa agenda Allah hanya 1 untuk menyelesaikan persoalan dosa dalam dunia adalah dengan PI. kalau agenda Allah itu, mengapa kita tak menyesuaikan agenda kita dengan agenda Tuhan.
Dalam Alkitab, ada 2 orang yang rela namanya di hapuskan dalam kitab kehidupan, yaitu Musa dan Paulus (Rom. 9:3). Paulus mencintai orang Israel dia rindu agar mereka menerima Kristus. Kata celakahlah aku itu adalah bentuk keseriusan Paulus dalam memberitakan Injil, bahwa hanya di dunia ini dan itu adalah agenda serius dari Tuhan.
Sudahkah kita hamba Tuham memiliki cinta mati kepada orang berdosa ini / untuk PI?
Kalau pemimpin gereja saja tak memiliki, bagaimana jemaat bisa memiliki?

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum.at, 13 Maret 2009

Paulus adalah Rasul terakhir yang bergabung dengan murid-murid Kristus yang tidak berguru langsung seperti murid yang lain, tetapi ia menjadi salah satu rasul karena langsung mengalami tangan Tuhan dalam hidupnya. Tidak bisa lari dan tidak bisa menghindar. Nampaknya ia seperti dipaksa oleh Allah dalam memutar haluan hidupnya yang sangat bertentangan dengan Injil itu sendiri. Tetapi bila mempelajari kehidupan Paulus kita akan melihat dia begitu agresif terhadap pemberitaan Injil. (Ia menjadi begitu buas, kuat, luar biasa, pokoknya ia akan bangkit bagi Injil) Bagi dia hidup ini adalah memberitakan Injil. Istilah yang di pakai dalam bagian ini memberitakan Injil, memenangkan, menyelamatkan.
Paulus mengatakan “celakalah aku, bila tidak memberitakan Injil” celaka ini bukan suatu ungkapan biasa, tetapi suatu ungkapan yang mengerikan, menakutkan dan membuat Paulus begitu sulit hidup bila ia ternyata tidak memberitakan Injil.
Manusia menganggap bahwa kalau tidak ada makanan, pakaian, rumah atau jatuh sakit dll berarti celakalah hidupnya. Tetapi Paulus tidak memandang itu semua sebagai penyebab dari celakanya hidup ini, bagi dia yang paling celaka itu adalah jika tidak memberitakan Injil. Mengapa memberitakan Injil?
1. Karena celaka bagi orang percaya yang tidak memberitakannya. (apakah bukti bahwa sesorang sudah percaya? Tidak ada bukti lain selain dari pada ia memberitakan Injil)
2. Karena injil itu memenangkan orang dari suatu pertarungan dosa.
3. Karena Injil itu menyelamatkan orang dari kematian kekal kepada hidup kekal.
Mungkin kita tidak perduli dengan jiwa yang binasa, orang2 disekitar kita, atau kita berkata bahwa kita sudah cukup padat melayani Tuhan. Apapun alasannya, pokoknya bukti seseorang sudah percaya dan hidup di dalam Kristus maka ia pasti memberitakan Injil. Karena dia tahu khasiat, makna, betapa pentingnya Injil itu. Injil itu satu-satunya khabar yang baik di dengar oleh siapapun karena Injil itu mengandung makna hidup di dunia ini dan hidup nanti.

· Pemberita Injil adalah suatu keharusan (ay.16)
· Pemberita Injil adalah tugas penyelengaraan (ay.17)
· Pemberita Injil adalah penguasaan dan penyangkalan diri (ay.19)
· Pemberita Injil adalah tujuan hidup (ay.24-27)

Ada dua hal yg berhubungan dengan kewajiban: obligatory dan facultative. Panggilan ini memberitakan Injil adalah obligatory. Paulus tidak membuat keputusan sendiri, tetapi ditentukan oleh Allah. Hal ini didasari pemahaman tentang hubungannya dengan Tuhan, yaitu hubungan tuan dan hamba. Sebagai hamba, ia tidak punya pilihan, kecuali melakukan perintah tuannya. Jika tidak melakukan, maka aku membangkang.

Kalimat intropeksi diri. Orang percaya pasti berkaitan dengan Injil. Hal ini adalah suatu hubungan yang dalam dengan Injil, pemahaman yang mendalam, sama seperti dalam Rom 1:16-17. Sehingga ada kesimpulan bahwa tidak bisa tidak ia akan memberitakan Injil. Kita tidak hanya menjadi pendukung dan orang percaya saja, tapi menjadi pemberita Injil.

Apa jadinya kalau ada seseorang yang mendapatkan sesuatu yang penting dan luar biasa tetapi dia tidak memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan? Misal: obat penyakit Kanker. Dia akan disebut orang pelit, egois dan kejam. Kalau seseorang mendapatkan dan memiliki sesuatu yang luar biasa, maka ia seharusnya akan menyampaikannya kepada yang lain. Hal ini yang menjadi pemikiran dari Rasul Paulus sehingga berkata “Celakalah aku bila tidak menyampaikan Injil. Mengapa dia berkata seperti itu? Ada 3 hal yang mendesak Paulus untuk memberitakan Injil:
1. Spiritual necessity. Keperluan rohani yang muncul sebagai hasil dari kejatuhan dan keberdosaan manusia yang tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Rasul Paulus mengatakan bahwa hal ini lebih dari sekedar willingness tetapi adanya suatu compelling force. Suatu kebutuhan yang mendesak.
2. A stewardship entrusted. Tugas pelayanan yang dipercayakan oleh Allah dalam rangka tujuan penyelamatan Allah yang harus digenapi, yang harus dilakukan dengan setia (full commited) oleh karena anugrah Allah yang sudah dialami.
3. The Gospel itself. Ada kuasa dari Injil tersebut, kuasa Injil yang mendobrak, kuasa Injil yang mematahkan dan kuasa Injil yang menyelamatkan

Paulus mengerti bahwa ia dapat percaya kepada Tuhan, bukan karena paksaan, melainkan anugrah yang ia dapatkan. Sehingga pada waktu ia dilarang, maka ia tetap memberitakan Injil karena itu adalah hak khusus, karena ia menyadari bahwa apa yang sudah dialaminya menjadi nyata. Mat 28:18-20 merupakan penyataan segala kuasa sudah diberikan kepadanya dan Tuhan akan menyertai murid-muridNya. Karena itu seandainya seseorang tidak memberitakan Injil, Celakakalah aku jika tidak…. (1) maka ia tidak akan mengalami kuasa Tuhan, kuasa yang menyertai, contoh yang mengalami kuasa Tuhan: Petrus, dan Yohanes, ada mujizat dan kuasa Tuhan dinyatakan . (2) tidak disertai Tuhan, banyak yang tidak menyadari bahwa Tuhan tidak menyertai lagi, contoh seperti keberadaan tabut Allah, tidak berarti Allah hadir jikalau mereka tidak taat pada Tuhan (3) celaka karena kehilangan jiwa yang tersesat dan hilang.
Hal ini berkaitan dengan tugas yang utama dalam hidupnya. Ada banyak tokoh misi yang menyatakan kehidupan mereka yang membayar harga yang besar mengekspresikan spirit yang sama. Pemahaman celaka perlu dipahami;
1. Bagaimanakah tiba pada kesadaran Celakalah..
1. Perenungan yang terus berlanjut akan nilai keselamatan yang diterimanya
2. Kerugian besar: mengerogoti kerohaniannya sendiri
3. keuntungan: mendapatkan berkat dan pengalaman rohani bersama dengan Allah (menjadi orang yang sangat bodoh)
2. Tuntutan pemberitaan Injil
1. Bahwa tugas pelayanan pemberitaan Injil dan pelayanan misi merupakan panggilan yang menuntut ketaatan yang sepenuhnya .
2. Pelayanan tugas pemberitaan Injil dan merupakan keharusan bagi setiap orang percaya karena menyatu dengan hati Allah yang penuh kasih bagi manusia yang berdosa dan bagi mereka yang hidup bagaikan domba tak bergembala yang tidak mengenal dan percaya kepada Allah yang benar.
3. Dalam pemahaman dan kesadaran panggilan tugas pelayanan pemberitaan Injil sebagai tugas yang mulia dari Allah maka ada kerelaan melepaskan untuk menerima hak-hak yang menghalangi diri dalam ketaatan memenuhi tugas panggilan mulia ini.
4. Setiap orang percaya harus memahami seperti Rasul Paulus berkata ”Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” sehingga tugas pemberitaan Injil menjadi keharusan dan ”life style”.

“Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”.
Konteks :
Pekabaran Injil yang disampaikan oleh Paulus bukan sekedar verbalisme, melainkan motivasi dan komitmen secara total kepada berita Injil. Jadi segala kiprah dalam hidupnya hanya untuk satu tujuan, yakni: Berita Injil. Untuk itu Paulus bayar harga, rela melepaskan hak bahkan rela memberi seutuh hidupnya.

Selain hal itu, Paulus melayani dengan bijak, mengerti konteks “dunia” dimana Allah menempatkan dia baik di kalangan orang Yahudi maupun non yahudi sehingga jerih lelah pelayanannya memberi dampak yang jelas bagi kemajuan berita Injil.

Dietrich Boenhoffer, dalam buku The Cost of Discipleship memberikan 2 istilah antara cheap grace dan cost grace. Pada masa pelayanannya, Gereja banyak memberitakan cheap grace, dimana kasih tanpa keadilan, pengampunan tanpa tanggung jawab; tetapi cost grace, anugerah yang mahal yang harus diberitakan dengan komitmen.yang memberikan perubahan.

Sekilas info tentang Crystal Cathedral yang didirikan oleh Robert Schuller, terkena imbas krisis global. Cash flow untuk maintenance dan persembahan yang masuk tidak mencapai balance sehingga beberapa senior pastor harus mendapatkan pemutusan hubungan kerja (majalah standart edisi terakhir). Nampaknya kita harus jeli melihat antara “symbol” pekabaran Injil dan realitas pekabaran Injil itu sendiri, sehingga jerih lelah yang kita lakukan bukan sekedar untuk memperjuangkan sebuah symbol.

Bagi yang tidak menerima : (1)karena mereka dibawah murka Allah (2) hidup dalam ketidakpastian (3) kebinasaan
Bagi yang tidak memberitakan (1) berhutang atas injil (2) tidak taat akan perintah Allah

Background tentang celakalah sebenarnya berkaitan dengan makanan yang dipersembahkan, dan Paulus membela akan hak-haknya; dan diantaranya ia harus disejahterakan oleh jemaatnya, namun ia dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak mau menerima hal ini. Banyak orang yang hitung untung dan rugi dalam pemberitaan Injil. Dan Menarik bahwa Paulus dalam kebutuhan yang utama ia tidak minta, malahan ia mengatakan bahwa ia celaka jika tidak memberitakan Injil. Banyak orang lebih berat kepada kebutuhan hidup, daripada hidup bersekutu dengan Tuhan. Perlu mendorong jemaat lebih melihat nilai hidup. Dan ketika Paulus mengatakan celakalah sebenarnya berkaitan dengan kuasa Roh Kudus, karena sebesar apapun kalau tidak ada kuasa dan perkerjaan Roh Kudus maka tidak ada perkara yang terjadi. Jadi harus dimulai dengan suatu pertobatan total.

Paulus adalah orang yang mengenal dirinya, sehingga ia berkata demikian. Ia pernah berkata dirinya orang yang paling berdosa. Ia pun mengerti bahwa dirinya tak berlayak atas jabatan rasul, maka ia melihat anugrah yang besar dan ia tahu celakalah jikalau tidak. (1) Perlu pemenangan bagi jiwa yang menjadi prioritas dan bukan hanya job (2) membangun networking dan jaringan yang lebih luas, dan supaya pemberitaan lebih mudah . Paulus sadar bahwa ia adalah hamba, dan ia siap diutus oleh yang memilikinya.

Paulus punya keyakinan yang kokoh, di Galatia, ia mengatakan jikalau ada orang yang menyampaikan hal yang lain, maka terkutuklah ia. Dalam Filipi juga sama, yang penting adalah Kristus yang diberitakan. Lukas 10, diungkapkan Yesus mengutus murid2Nya, ternyata saat ia pulang, murid2Nya bersukacita karena berita Injil, hal ini dicatat sebagai hal yang berkenan pada Allah Bapa. Sukacita pemberitaan Injil akan mengobarkan semanggat untuk melakukannya

I. karena Semua Manusia Membutuhkan Keselamatan (1Kor 9:19-23). Apakah tujuan Paulus memberitakan Injil? Supaya ia boleh memenangkan sebanyak mungkin orang berdosa bagi Kristus. Istilah, “supaya aku dapat memenangkan/ menyelamatkan” diulang sebanyak enam kali (6X) pada ayat 19-23. Menyelamatkan jiwa yang terhilang merupakan sasaran atau tujuan dari penginjilan yang ditekankan Paulus.
II. Karena Memberitakan Injil adalah Kewajiban Setiap Orang Kristen (1Kor 9:16). Paulus memakai frasa “Itu (PI) adalah keharusan bagiku.” Istilah “keharusan” menekankan suatu kewajiban yang muntak dan harus dilakukan. Jika tidak, hanya ada dua kemungkinan: kita taat kepada Allah atau melawan Allah. Itu berarti: memberitakan Injil bukan suatu pilihan dan keputusannya ditentukan diri kita masing-masing. Artinya: anda suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, itu merupakan kewajiban yang harus segera dilaksanakan
III. Karena Adanya Pertanggungjawaban di Hadapan Allah (1Kor 9:24-27). Ketika Paulus berbicara tentang kewajiban memberitakan Injil, yang ia sadari adalah adanya evaluasi atau penghakiman akhir atas setiap aspek hidupnya, pada saat Kristus datang kedua kali untuk menjemput umat tebusan-Nya

Orang yang terangkat sampai ke tingkat ke-3 di langit. Tidak pernah bicara tentang hal itu. Ia sudah mengalami anugrah yang luar biasa. Ia tidak menjadi membanggakan diri, namun merendahkan diri, yang terkecil, dan bahwa pada masa tuanya ia mengatakan bahwa ia adalah orang yang paling berdosa. Maka sikap apakah yang harus dimiliki? Dalam bagian ini pun Paulus tidak menuntut upah apapun. Celakalah aku bila Tidak, tidak hanya memberitakan Injil, namun bagimana konklusi dalam hidup kita, arti dan hakekat hidup kita. Hati-hati jangan memikirkan tentang kehidupan belaka, namun sebaliknya bagaimana hidup di hadapan Tuhan. Bonhoffer rela dari Amerika kembali ke Jerman, orang-orang percaya yang menderita. Dalam misi kali ini kita tidak hanya meminta dana, namun minta hati mereka untuk melayani;
· Paulus mulai dengan rasa berat menghadapi orang yang susah banget
· Berjerih payah tanpa imbalan apa-apa
· Rela berasimili demi injil dengan pelbagai kiat
· Menjadi segala-galanya asal orang percaya, menghadap Allah tanpa kecewa, karena tekun dan serius agar tidak suam2 dibuang

Paradoks :
· Rela sekalipun terpaksa, rela memaksa diri
· Upah tanpa upah
· Seperti namun bukan
· Utuh karena terbagi-bagi

Arti Celakalah Aku
1. Aku tidak terpilih lagi, tidak ingin menjadi hamba Tuhan yang sembarangan, bukan orang yang boleh ada dan boleh tidak
2. Tidak terpakai lagi, ada hadir, namun tidak berguna
3. Tidak berhasil, karena tanpa tujuan, berlari-lari tanpa pahala
4. Tidak bertahan, tidak ada sesuatu yang dipertahankan, tidak dibuang artinya:
a. ditolak, seperti jaman Yehezkiel, ada di bait Allah namun menyembah berhala
b. dibuang, pernah dipakai, namun tidak terpakai lagi, ini ada harga yang harus dibayar
c. ditenggelamkan, karena keteledoran
d. dimuntahkan , sama seperti jemaat di Laodikia, tidak dapat dinikmati

4 macam salesman ;
1. Menjual sesuatu yang tidak mau beli jadi beli
2. Menjual sesuatu yang tidak ada kepada orang yang mencari
3. Terjadi trasnsaksi yang dijual bukan milik sendiri dan pembeli tidak ingin membeli Barang.
4. Lebih dari butir 3, ditambah dengan tidak rela menjadi rela.

Demikianlah Tugas pemberitaan Injil menyatakan kebutuhan yang utama, dan orang dari yang tidak mau akhirnya mengalami anugrah yang berlimpah karena pekerjaan pemberitaan Injil