Sabtu, 14 Februari 2009

JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
Kamis, 12 Februari 2009
JANGAN BERBUAT DOSA LAGI
Yohanes 8 :1-11
Orang-orang Farisi dan ahli Taurat datang menghadap Yesus ingin menjebak dan mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus. Mereka membawa 1 permasalahan: wanita yang berzinah. Mereka mau melihat keputusan Yesus terhadap masalah ini.
Ada 3 kejahatan yang sangat serius dan bisa dilempari batu: penyembahan berhala; pembunuhan dan berzinah (Im. 20:10; Ul. 22:13-24).
Ada beberapa dilema dalam masalah ini:
Pertama,Kalau Yesus menyetujui melempari batu, maka Yesus akan kehilangan nama baik, karena selama ini, Yesus dikenal sebagai orang yang penuh belas kasihan.
Kedua, Kalau Yesus menyetujui melempari batu, maka Yesus melanggar hukum Romawi yang melarang menjatuhkan hukuman mati
Ketiga, Kalau Yesus tidak menyetujui, maka Yesus melanggar hukum Musa.
Keputusan Yesus di luar dugaan mereka semua, ay 7"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Joh 8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
1. Jadi Yesus mengajarkan bahwa dosa adalah bagian hidup manusia artinya semua manusia adalh berdosa
Ada dosa yang kelihatan, tapi juga yang di dalam pikiran dan hati, mungkin mereka tidak berzinah secara terangan-terangan tapi mungkin mereka berzinah melalui pikiran atu persaan atau dosa yang lain, iri hati- kebenceian dst. Itu sebabnya kita tdk boleh menghakimi Mat 7:1
Mat 7:3-5 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Mat 7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Joh 8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
Kepada wanita berzinah, Yesus mengajar:
Yesus memberikan kesempatan bertobat dan memperbaiki hidupnya.
Yesus menunjukkan belas kasihan kepada orang berdosa ini adalah anugerah orang farisi menghendaki penghukuman, itu hukum taurat. Dalam anugerah Allah selalu ada belas kasihan kepada orang berdosa yg mau bertobat.

Ay 6, Walaupun pertanyaan ini adalah jebakan supaya Yesus melakukan kesalahan yaitu kalau Dia mengizinkan untuk di lempari batu, Dia menyalahi hukum pemerintah Romawi Yesus di persalahkan dan kalau tidak menghukum berarti kompromi dengan dosa.
Yesus menyelesaikan dosa dan konsep tentang berdosa dalam ay 7: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa” àDengan kata lain tidak orang yg tidak berdosa,Yesus mau mengatakan bahwa Semua orang berbuat dosa (Roma 3:23).
Jadi bukan perbuatannya, tapi manusianya. Bukan karena dia berzinah dia berdosa tetapi karena dia orang berdosa, maka ia berzinah.
Dosa berzinah sangat cepat mendapatkan resiko dan respon dari manusia. Padahal dosa berzinah secajajar dgn dosa lain seperti Gal 519-21 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. itu semua sama.Jadi Paulus mensejajarkan dosa cabul dgn dosa yang lain
Joh 8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Menujukan hanya Yesus yang tidak berdosa

Ay 11, Akupun tidak menghukum engkau, Berarti Yesus bisa menghukum tapi DIA tdk menghukum, yang berhak menghukum karena Tuhan, tetapi memberikan anugerah pengampuan karena yang berhak mengampuni hanya Tuhan. Jadi yang bisa menyelesaikan dosa adalah Tuhan Yesus bukan hukum taurat.

Dalam pelayanan, ada pelayan yang berdosa. Bagaimana sikap gereja???
Bahkan pemimpin juga berdosa.
Misalnya: MUI melarang merokok, apakah itu sebenarnya strategi untuk korupsi lebih banyak lagi, karena melalui larangan itu, pabrik rokok akan “Terpancing” untuk menyogok.

Tema minggu lalu adalah buanglah semua berhala.
Usul tema: kemunafikan dan ketidakberdayaan.
1. Sang wanita terlihat begitu tak berdaya, sedangkan orang Farisi terlihat begitu berkuasa / ambisius. Padahal dalam hati, mereka tak memiliki kepuasan, maka mereka ingin mencobai Yesus. Mereka juga mempraktekkan hidup ganda, apakah mereka betul hidup suci, atau mereka sendiri juga berzinah. Bahkan ada penafsir yang berkata bahwa wanita yang berzinah ini langganan dari orang Farisi.
Seharusnya wanita yang tak berdaya ini mendapat belas kasihan, tapi orang Farisi memakainya sebagai alat untuk menjebak Yesus.

2. Siapa yang berhak menghukum?
Yesus mau menyadarkan hukum moral dalam hati, dari pada yang tertulis. Dan benar, setelah Yesus mengatakan bahwa yang tak berdosa boleh melempar batu, satu per satu pergi, dimulai dari yang tua.
Hanya Yesus yang tak pergi, itu berarti bahwa hanya Yesus yang berhak menghukum. Itulah Yesus. Yesus adalah Allah sendiri yang berdaulat mengampuni dosa.
Namun, Yesus tak menghukum, melainkan memberi anugerah.
Yesus juga menghargai wanita ini dengan menyebut “Gunei,” istilah yang sama yang Ia gunakan untuk ibunya, Maria.
Jadi istilah itu adalah istilah yang terhormat = Yesus menghargai wanita ini.

Dietrich Bonhoeffer: Cheap grace dan costly grace. Jangan berpikir bahwa orang yang berdosa bisa berdosa seenaknya, kemudian bisa minta ampun lagi. Itu membuat pengorbanan Yesus menjadi murah.
Jadi orang bisa tak berdosa lagi, bila melihat harga yang mahal dari pengorbanan Yesus.

Pepatah Chinese: 1 langkah jatuh, menyesal seumur hidup. Tapi, dalam Tuhan, ada pengampunan (I Yoh. 1:9). Jadi bagi orang berdosa, ada pengharapan dan pengampunan.
Lalu bagaimana sikap kita kepada orang berdosa??? Selama masih hidup, ia masih ada kemungkinan berdosa, tapi juga ada kemungkinan bertobat.
Sepanjang orang itu masih ke gereja, orang itu mendengar Firman Tuhan, ia bisa berdosa.
Orang Farisi adalah orang yang tak memberi kesempatan bagi orang berdosa. Kalau gereja seperti ini, maka gereja itu akan terkenal sebagai gereja yang tak memiliki kasih.

Betapa jahatnya hati manusia. Tersembunyi bagi manusia, tapi terbuka bagi Tuhan. Tuhan tahu semua isi hati manusia.
Manusia suka berbuat dosa bila merasa sendiri / tak ada yang melihat.
Dosa:
1. Kelihatan / tidak.
2. Ketahuan / tidak.
3. Sekarang / nanti.
Wanita.
Wanita ini berbuat zinah, ketika ia merasa tak ada orang yang melihat.
Orang Farisi.
Memberikan banyak “Kebingungan” pada Yesus.
1. Umur wanita ini ada yang mengatakan antara 12 tahun sampai 12 ½ tahun.
Kalau umurnya di bawah 12 tahun, ia bisa bebas tanpa dihukum.
Kalau umurnya di atas 12 ½ tahun, ia harus dihukum.

2. Kalau wanita ini dihukum, maka ia melanggar apa yang diomongkan-Nya sendiri selama ini. Tapi kalau tak dihukum, ia melanggar hukum Musa.

3. Dosa itu sama semua. Paulus meletakkan semua dosa sama (Gal. 5).
Mengapa sebagai pemimpin, mereka tak menghalangi perbuatan itu??? Mengapa mereka tak menyadari kegagalan mereka, sebagai pemimpin, tapi “Jemaatnya” berdosa.
Yesus sangat tenang, waktu angin ribut, juga waktu diberi dilemma semacam ini.
Kita.
Bagaimana dengan kita sendiri??? Apakah ketika tak ada orang yang melihat / tahu, kita berbuat dosa??? Bagaimana kalau Very Idham Henyanshah; Dorce dan orang-orang berdosa lainnya ada di tengah kita??? Bagaimana kalau aktifis gereja, pelayan, penatua, pendeta berdosa???

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
13 Februari 2009

Tujuan : Patut bersyukur bila Tuhan masih berkenan mengampuni. Hal- hal yang memalukan harus kita tanggalkan. Tuhan bersabda jangan berdosa lagi, adalah suatu peringatan yang indah, vital dan prima

Latar Belakang: Tuhan Yesus dihadapkan pada suatu jebakan dari ahli Taurat dan orang Farisi.
Jebakan ini berhubungan dengan dua hukum yang bertentangan pada masa itu. Yaitu hukum Taurat yang masih dijunjung tinggi oleh orang Yahudi, yang menyatakan hukuman mati atas orang yang berzinah dengan cara pelemparan batu ( Ul. 22;24) dan hukum pemerintahan Roma yang melarang tindakan hukuman mati bagi siapa pun menurut hukum adat istiadat Yahudi ( hukum Taurat). Bandingkan dengan Yoh 18:31
JIka Tuhan Yesus menuruti hukum Taurat, Ia akan dituntut oleh pemerintahan Roma karena bertindak main hakim sendiri. Jika Tuhan Yesus menuruti hukum Roma dan menolak hukum Taurat, maka Tuhan Yesus akan dicap sebagai penghianat bangsa dan akan dibenci oleh bangsa Yahudi.

Dihadapkan pada jebakan dan penolakan keberadaan Diri-Nya sebagai Allah, Yesus Kristus menyatakan kasih dan pengampunan Ilahi yang dinyatakan dalam beberapa hal sbb:
a. Semua manusia adalah orang berdosa. (Ay 7)
Orang Farisi dan ahli Turat sadar mereka orang berdosa sehingga mereka pun tidak berani melempar perempuan itu. Ini adalah suatu pengakuan yang nyata.
b. Yesus Kristus mempunyai kuasa untuk menghukum manusia yang berdosa dan juga memberi pengampunan ay 11 àtidak menghukum engkau
Tidak menghukum perempuan itu bukan berarti bertoleransi atas dosa yang telah diperbuat. Perkataan ini menunjukkan akan ketidakberdayaan manusia atas dosa yang membawa mereka kepada maut. Hanya dalam diri Yesus Kristus sebagai Allah itu sendiri yang mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa manusia dan memberikan hidup (kelepasan, dan kelegaan dari kungkungan dosa)
c. Yesus Kristus datang untuk memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. (ay. 11)

Satu hal yang sulit dihadapi ketika Yesus menghadapi dua hukum. Yesus memperlihatkan sikap bagaimana menyikapi kejatuhan orang lain. Ia memperlihatkan ungkapan kasih Allah. Bdk. Salomo dalam memutuskan kasus perebutan bayi. Yesus mengambil keputusan tanpa melawan hukum sekaligus menyatakan hikmatNya. Tuhan hadir bukan untuk ubah budaya, tetapi hadir tanpa mendistorsi kebudayaan. Jangan legalistik tetapi ada belas kasih.

Tiga hal: (1) Orang berdosa mencobai Tuhan Yesus. Yesus menghadapi buah simalakama (2) Orang berdosa disuruh untuk menghakimi. Ttp mereka tidak sanggup untuk menghakimi karena mereka juga orang berdosa. (3) Orang berdosa ngotot dan kalah.

Yesus menghadapi dilema: maju kena mundur kena. Mengapa Yesus melarang berdosa lagi? (1) ada konsekuensi penghukuman (2) Yesus sudah membebaskan diadari perempuan itu dari hukuman (ay.7, 11: bukan alasan untuk tidak mendisplin dosa jemaat tetapi menyatakan rencana penebusan Allah di salib. Aplikasi: (1) jangan mempermainkan anugerah Tuhan dengan terus berdosa karena ada konsekuensi; (2) Tuhan Yesus sudah membebaskan kita, apa balasan kita? jangan berbuat dosa lagi tetapi memuliakan Dia dengan tubuhmu.

Dua hal: (1) Apa yg menjadi standar manusia menghukum seseorang? Taurat, adat, hukum negara? Manusia masih bisa kompromi, tetapi Allah tidak bisa kompromi. Upah dosa= maut. (2) Cara pandang Tuhan Yesus menghadapi orang berdosa à belas kasih, simpati, rahmat kepada yg berdosa. Ilustrasi: kontrak mati pencopet di Yogyakarta, sekali mencopet tidak bisa bertobat lagi karena sudah terikat kontrak mati. (cf. Harian Kompas). Itulah cara dunia ketika memandang seorang berdosa: tiada ampun, tiada belas kasihan. David Atkinson: pengampunan adalah suatu konsep perubahan dinamis. Pengampunan mematahkan perangkap ke dalam suatu determinisme fatalistik. Pengampunan sadar akan adanya kenyataan kejahatan, kesalahan dan ketidakadilan, namun berusaha menanggapi kesalahan dengan cara yg kreatif untuk kemungkinan-2 baru.

Yang mereka tuntut adalah judgement dan punishment. Mereka sudah judge, tetapi mereka menuntut punishment dari Yesus. Yesus ada judgement, ttp tidak memberi punishment, karena ada belas kasihan. Yesus tidak tolerir dosa. Perempuan ini diseret ke orang ramai sudah merupakan punishment. Mereka mengharapkan lebih dengan tujuan menjerat Yesus. Belas kasihan: tahu judgment, tetapi mau melepaskan punishment, itulah compassion.

Christianity Today: Paus Benedictus: “Luther was right” dlm hal Sola Fide dan Sola Gracia. Tiga hal besar: (1) paradigma baru: pelayanan Yesus adalah pelayanan yg berbeda. Sorotan Injil: orang2 yg tidak layak tetapi diberi anugerah (2) soroton teologis: Karl Barth: dalam manusia, orang akan jadi dua hal: being in itself; being to itself, tolok ukur standar dari luar. (3) pengampunan dan kasih melahirkan suatu pertobatan.

Yesus: “Jangan berbuat dosa lagi”. Apakah perempuan ini berbuat lagi atau tidak? Koridornya hukum kasih. Ada dua kebenaran dalam hal kasih (1) tidak melepaskan seseorang dari tanggung jawab dosanya. Ketika seseorang terus berdosa, ada hukuman (2) diberi kesempatan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi. Pengampunan adalah kesempatan untuk memulai yang baru, berbuat yg benar.

Latar belakang hukum yg ditegakkan oleh Ahli Taurat adalah Im 20: perempuan bersuami yg menyeleweng. Ul 22:23f: klasifikasi mencakup gadis. Ada hukum positif dan hukum negatif. Hukum positif: jiwa dari undang-undang itu sendiri. Bukan spt Polantas menunggui orang yg melanggar lalu lintas. Yesus ingin orang mengenal hukum positif, yaitu bagaimana menjaga kehidupan supaya kudus. Aplikasi: mengajak jemaat untuk melihat hukum2 Allah dari sisi positif: sadar hukum, taat, takut. Yesus memberi kesempatan kepada wanita itu untuk tidak berdosa lagi. Tetapi bandingkan perikop berikut: Yesus terang dunia.

Peran orang Farisis dan ahli Taurat: (1) jika mereka tidak berfungsi sbg gembala, maka mereka mengurus apa yg tidak harus diurus. (2) disitu ada kebencian pada Yesus, sehingga apapun digunakan untuk serang Yesus. (3) para tokoh agama tidak berfungsi sbg terang. Mereka adalah pencipta kegelapan, tidak menjadi inspirasi kebenaran bagi manusia, tetapi membawa kegelapan (dlm diri wanita itu) menjadi lebih gelap lagi dengan cara penyelesaian mereka. Yesus bercerita tentang grace dan law. Law seharusnya membuat orang memahami grace tetapi grace tidak membuat law tiada. Tokoh agama: menciptakan hukum, tetapi tidak menerapkan pd diri sendiri. Yesus: ukuran yg mereka buat sendiri, mereka sendiri tidak lolos. (1) Yesus memberi kesempatan kepada wanita itu. (2) Yesus bicara perubahan. Jangan berbuat dosa lagi. (3) Yesus mendorong perempuan untuk memulai yg baru: “Pergilah …”

Rumah ibadah dijadikan tempat pengadilan bukan lagi tempat untuk beribadah. Ada hakim, pendosa dan pendakwa. Tetapi tidak ada pengacara. Mereka tidak datang untuk menyelesaikan dosa tetapi untuk menghakimi. Yesus tahu maksud busuk mereka.
Mereka melepaskan pria itu, tetapi menangkap perempuan itu.
1. Yesus tahu apa yang menjadi motifasi mereka. Ada yang mengatakan Yesus menulis, Hukum Taurat, hukum kasih, daftar2 dosa.
2. Kalimat Tuhan Yesus tidak memberikan hukuman itu tetapi lebih menyadarkan mereka akan keberadaan mereka, siapa mereka dan bagaimana mereka sendiri. Maka mereka pergi.
3. Kesempatan itu Tuhan Yesus berikan agar perempuan itu mengalami perubahan.

(1) Dosa itu variable, perempuan itu memang berzinah. Tetapi ahli taurat itu menangkap yang lemah melepaskan yang kuat. (2) Dosa itu dilakukan dengan bebas tetapi pasti akan dibuka. (3) Dosa itu ada konsekuensinya: dipermalukan dan kematian. (4) Dosa membutuhkan pengampunan, bukan dibahas, dilihat. Dosa harus dihentikan, ditinggalkan maka Tuhan Yesus mengatakan jangan berbuat dosa lagi.

Yohanes: Yesus adalah Allah. Ps.8: Yesus adalah Allah yg punya hak untuk mengampuni. Yesus berkuasa. Ps.4: Akulah Kristus itu. Untuk orang2 yg bertobat ada berbagai cara untuk terapi: behavior, kognitif dan family therapy (karena ia memberontak dlm keluarga, sehingga penerimaan keluarga itu penting). Bagaimana sikap gereja terhadap orang berdosa? Kapan gereja bisa menerima kembali orang berdosa? Kapan gereja bisa membuka tangan menerima orang berdosa?

· Mengajak orang yg datang (1)yg belum jatuh ke dalam dosa, jangan berdosa (2) yg sudah diampuni, jangan berdosa lagi. Perzinahan tidak hanya satu pihak (konteks: wanita itu tetapi juga prianya). Definisi: Zinah dalam pikiran juga berzinah. Seksualitas dan sadism. Seksualitas: terpikat terikat hanya melalui seks. Tdk melihat ada cara lain. Sadism: powerlessness to be. Ia tidak bisa hadir dengan keadaan dirinya sendiri tetapi dengan sadisme. Tokoh agama: lupa bhw agama punya dua arti dari agama: relegare dan religare. (1) diikat (untuk hidup sesuai yg ditetapkan); (2) sekali lagi: beri kesempatan.
· Pengalaman Paulus: dia sadar dia gagal; dia ingin buat baik tetapi tidak bisa. Nafsu manusia: ingin yg paling menyenangkan menjadi godaan yg besar sekali. Dosa lahir dari godaan luar dan nafsu di dalam. Akibat: maut.
· Sebenarnya melanggar satu hukum sama dengan melanggar semua. 1 mobil punya 5 pintu, satu tidak dikunci semua bisa dicuri. Zinah dan irihati sama. Hari ini kita datang kpd Tuhan tidak ada yang lebih baik satu dari yang lain. Dalam dunia sekuler ini kita perlu hidup yang sakral, ketika semua orang pergi, Tuhan Yesus tinggal di sana sendirian. Ia datang untuk melepaskan orang berdosa. Rahmat lebih indah daripada taurat. Pada umumnya manusia berdosa, kalau tahu, sengaja...:
a. Tidak takut Tuhan
b. Tidak mempertimbangkan akibat
c. Tidak jaga martabat (citra ciptaa itu indah, manusia akan melarat)
d. Tidak jadi berkat (tidak berfikir bahwa ada akibat).
Ketika Tuhan Yesus bertanya tidak adakah yang menghukum, tetapi mengapa Dia juga tidak menghukum? Hanya Yesus yang tahu apa yang ada di dalam hati wanita itu. Entahkah di bertobat karena takut mati, sakit, dll. Jadi hanya Yesus yang tahu apa yang di dalam hati perempuan itu. Alkitab tidak menulis apa2 yang ditulis oleh Tuhan Yesus.
· Between judge as the savior. Tugas kita adalah kalau bisa memberikan pengampunan mengapa tidak. Ampun itu tidak hitung lagi, bukan hanya forgive tetapi juga forgetting. Yang mengampuni itu menderita dan yang diampuni juga menderita. Yesus tahu ia harus di hukum, tidak bisa tidak di hukum, maka Ia menanggung dan mengampuni manusia. Domba Allah menghapus dosa manusia, Ia menanggung laknat, kutuk manusia. Ia menanggungnya dan membebaskan manusia berdosa itu. Ia datang bukan meniadakan tetapi Ia menggenapinya. Let go à Yesus melepaskan dia. Ada yang pergi tetap membawa dosa (batu2 mereka ada). Tetapi perempuan ini pergi dengan kelegaan karena ia mengalami pengampunan. Banyak orang yang ahli taurat tetapi kehilangan rahmat.