Jumat, 06 Februari 2009

“HANCURKAN BERHALA –BERHALA KEHIDUPAN’

Pmbahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
Kamis, 05 February 2009

“HANCURKAN BERHALA –BERHALA KEHIDUPAN’
(Kel 20:4-6)
Exo 20:1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
Exo 20:2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
Exo 20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
Exo 20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
Exo 20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
Exo 20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
Exo 20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Secara umum, ada 3 bentuk kalimat dalam bahasa Indonesia, maupun bahasa yang lain, yaitu:
[1]. Indicative (casual / ordinary statement).
[2]. Imperative.
[3]. Interrogative.
Kalimat imperative / perintah itu sendiri dibagi 2 lagi: command dan prohibition.
Command = Kalimat perintah yang bersifat aktif.
Prohibition = Kalimat perintah yang bersifat pasif.
Kalimat prohibition itu juga ada 2 jenis: permanent prohibition (lo) dan temporary prohibition (al).
Dalam kontex 10 hukum ini, prohibition yang dipakai adalah permanent prohibition.
Sedangkan temporary prohibition banyak dipakai di Amsal, yang mengindikasikan kemungkinan disesuaikan pada zaman berikutnya.
Dalam bagian ini, Tuhan sendiri memberikan permanent prohibition untuk manusia bukan hanya memiliki obyek sembahan yang lain (hukum I), tapi juga cara menyembah yang sama seperti penyembahan bangsa lain (hukum II).
Konsep penyembahan yang benar bukan hanya di dalam gereja, tapi dalam hidup.
Yesaya mengingatkan bahwa penyembahan itu dilakukan setiap hari (Yes. 50:4).
Manusia membutuhkan Tuhan dalam hidupnya, kalau mendapat ilah yang salah (menyembah berhala / idolater), maka hidupnya akan letih lesu.
Kata “Letih lesu” yang sama dipakai untuk menunjukkan orang yang letih lesu karena menyembah berhala (Yes. 44:12).

Berhala = bukan hanya patung, tapi juga 3 ta = Tahta, Harta, Wanita.
Dalam bahasa Chinese, cemburu = ce sie = membenci yang jahat.
Mengapa manusia mau membuat berhala?
[1]. Secara natur, manusia dicipta serupa dan segambar dengan Allah.
Maka manusia memiliki pikiran, kehendak, emosi.
Maka kalau manusia berkehendak membuat berhala = ingin lepas dari control Allah = dosa.
Justru pada saat manusia ingin bebas dari Allah = mencelakakan / mematikan / membahayakan dirinya sendiri = boomerang.
Oleh karena Allah tahu hal itu, maka Allah melarang jangan membuat berhala.
[2]. Karena manusia ingin mengutamakan / mencari kekuatan yang lain.
Manusia meragukan kekuatan Allah (I Yoh. 2:16), maka mencari kekuatan yang lain.

Berhala dikaitkan dengan tradisi Chinese (dalam suasana Imlek).
Banyak orang Chinese yang masih terikat dengan tradisi yang tanpa disadari, walaupun sudah masuk gereja.
Mis.: Ada yang masih memiliki patung-patung.
Tapi, hati-hati waktu berkhotbah tentang hal ini, karena ada banyak jemaat yang memang masih demikian, sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tak dikehendaki.
Berhala modern = hari Minggu masih berdagang, bertemu customer, mau prospek orang yang memang hanya bisa hari Minggu, sehingga semua itu menghalangi tak bisa ke gereja.
Berkat kalau kita membuang semua berhala dalam hidup kita (Im. 26:3-13).

Manusia suka membuat idol (berhala) dalam hidupnya. Mis.: American Idol, dll.
Idol = sesuatu / seseorang yang diperilah, sehingga menggantikan Allah sendiri.
Tuhan sangat tidak suka akan hal itu.
Maka Tuhan mau mengembalikan masyarakat yang polytheist menjadi monotheist.
Berhala modern = Mamon.
Mamon terjemahan umum adalah uang / harta, tapi kata “Mamon” itu ditulis dalam huruf besar = sesuatu yang diperoknum sedemikan rupa, sehingga menggantikan Allah.
Tuhan mau kita mengutamakan dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati (v 6, cf. Matt. 22).
Bukan hanya ada perlunya saja, baru ingat Tuhan.
Mis.: Mobil kalau bannya semua baik, tak perlu ke bengkel, tapi kalau kempes, baru ingat bengkel. Manusia juga, kalau semua baik, tak perlu Tuhan, kalau ada masalah baru ingat Tuhan.

Berhala = sesuatu yang “Bisa” menggantikan Allah, yang menjadi sandaran kita.

Tuhan mau kita memprioritaskan kasih kita pada Tuhan, bukan yang lain.
Maka dikatakan di sini mengenai “Allah yang cemburu.”
Bila manusia tak mengasihi Allah dengan segenap hati / membagi kasih kepada yang lain, maka Allah akan cemburu (v 5).
Kalau Allah sudah cemburu, maka Tuhan akan memberikan hukuman, bahkan sampai kepada keturunannya.
Tuhan berkata bahwa kalau ada orang yang mengasihi saudaranya, keluarganya, pekerjaannya, segala milikinya, . . . , ia tak layak (Lk. 16).
Berhala yang utama pada zaman ini adalah pekerjaan, karena, resesi / tekanan hidup / kebutuhan sehari, membuat seseorang menjadikan pekerjaan berhala baginya.

Waktu Israel keluar dari Mesir, Allah ingin orang Israel benar-benar hidup yang baru, tak seperti orang Mesir. Orang Mesir adalah orang yang Polytheist.
Manusia ingin Allah yang dapat dikontrol. Allah tak bisa dikontrol, maka manusia ingin mencari Allah baru. Dari situlah berhala itu muncul.
Maka waktu manusia ingin mengatur sesuatu, dari situlah muncul berhala.
Salomo orang yang sangat berhikmat, tapi jatuh dalam penyembahan berhala.
Tuhan merobek kerajaan menjadi 2 = hukuman Tuhan.
Kalau Tuhan menghukum, hukuman-Nya serius.
Maka ada perkataan “Mari menyembah Allah Daud,” bukan “Allah Salomo,” karena Allah Salomo tak jelas.
Kecemburuan Allah diulang di Yohanes, bahkan sampai Yakobus.
Allah mau kita mentaati Dia bukan dengan paksa, tapi dengan tulus / rela.
Karena, Allah tahu kalau kita menyembah yang lain, maka hidupnya akan hancur.
Setiap orang punya berhala dalam hidupnya.

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum’at, 06 February 2009

Tremper Longman III mengatakan,”Ketika kita mengamati hukum-hukum Musa, kita mendapati bahwa hukum-hukum ini berhubungan dengan isu-isu penting yang beraneka ragam dan mencakup hubungan antara Allah dengan manusia dan antara sesama manusia. Umpamanya, kita dapat melihat bahwa sebagian besar hukum-hukum dalam Kitab Imamat dan Bilangan berhubungan dengan ibadah formal bangsa Israel, tetapi ada juga hukum-hukum yang berhubungan dengan bangsa Israel sebagai seorang anggota masyarakat dan dalam menjalankan peraturan-peraturan moral yang khusus. Kitab Keluaran dan Ulangan juga berisi hukum-hukum yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluk bermoral, anggota masyarakat dan orang-orang yang beribadah.”
Dasar dari hukum Perjanjian Lama adalah Dasa Titah. Dalam Dasa Titah ini ada tiga hukum yang diangkat ketika kita menggumuli tanggungjawab kita, kepada hukum yang telah diberikan oleh Allah sendiri kepada bangsa Israel.
Pertama, hukum moral menyatakan prinsip-prinsip Allah untuk berhubungan yang benar dengan Dia dan dengan sesama. Sepuluh hukum merupakan ekspresi kehendak Allah yang paling jelas dan kuat untuk umat-Nya.
Kedua, hukum-hukum sipil. hukum-hukum ini mengatur bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah yang menjadi umat pilihan-Nya.
Ketiga, ialah hukum ritual yang menggambarkan bagaimana bangsa Israel harus menyembah Tuhan.
Dasa Titah berlatar belakang sejarah, dalam hal ini sejarah dari anugerah Allah kepada bangsa Israel. Jadi bukannya kebetulan bahwa Dasa Titah di mulai dengan sebuah prolog sejarah yang mengingatkan pembebasan dari Mesir. Pemberian Dasa Titah kepada bangsa Israel di Sinai terjadi dalam sebuah konteks hubungan yang ramah, di mana Allah ingin menjalin sebuah relasi dengan umat-Nya. Allah membuat kehadiran khusus-Nya berdiam di tengah bangsa Israel, sebab itu kekudusan-Nya tidak akan membiarkan pemberontakan sedemikian nyata tetap berlangsung.
Hukum kedua dari dasa Titah ini, bermaksud agar kita menjauhkan diri dari penyembahan kepada berhala, baik itu berhala batu atau logam yang mencobai bangsa Israel, atau berhala2 yang tidak berbentuk seperti kuasa, kontrol dan kekayaan di masa kini.
Tangan kita terlampau cepat merasa aman dan bebas dari bahaya penyembahan berhala, hanya karena kita tidak menyimpan satu patung pun di rumah kita. Namun demikian, “dosa besar” ini tidak terutama berkenaan dengan ada tidaknya benda-benda tertentu di luar kita. Idolatry adalah bahaya serius, sebab ia merasuk, menusuk dan menyusup ke dalam jiwa. Karena itu, tepat sekali apa yang dikatakan William Barclay,”Bahwa penyembahan berhala bukanlah sebuah relik antik dari masa silam, melainkan ancaman nyata untuk masa sekarang.”
Pola pikir dan sikap hidup yang bagaimanakah yang dapat dikategorikan sebagai penyembahan berhala? Barclay mengungkapkan akan hal ini dalam dua hal.
Pertama, penyembahan berhala dimanifestasikan dalam bentuk sikap dan praktek memperlakukan alat sebagai tujuan. Benda yang awal mulanya dengan tujuan baik, dimaksudkan untuk membantu manusia merasa dekat dengan Tuhan, lambat laun berubah fungsi dan posisi menjadi “tuhan” itu sendiri. Tidak lagi sekadar “alat ibadah” tapi “pusat ibadah”. Karena itu, penyembahan berhala adalah dosa yang sangat serius. Ini merupakan “kudeta” terang2an terhadap Allah.
Kedua, idolatry menurut Barclay, adalah ketika orang menukar “pribadi” dengan “materi”. Ketika benda lebih diutamakan ketimbang manusia. Inti penyembahan berhala adalah, orang menyembah benda, bukan pribadi. Beribadah kepada benda mati, bukan kepada Allah yang hidup. Berhala bisa berwujud apa saja. Pokoknya, apa saja yang bukan Tuhan – yang oleh seseorang dianggap sebagai yang paling penting dan paling utama dalam hidupnya, itulah berhala. Dan ini justru merupakan ciri paling mencolok dari modernisasi.
Idolatry sampai saat ini masih bernapas dan bertenaga. Ia sama sekali bukan cuma penyakit orang2 primitif. Ketika “alat” menjadi “tujuan” dan ketika “benda” lebih penting dari Allah atau “manusia”, penyembahan berhala hadir di situ. Ada aspek lain dari idolatry yang sama berbahayanya, yaitu bahwa di samping mempertuhankan berhala, orang-orang memberhalakan Tuhan.
Brasnilaw Malinowsky, seorang antropolog terkenal, menulis sebuah buku yang berjudul “Science, Magic and Religion”. Kesimpulannya, kata Malinowsky, ketika sesuatu sudah dapat dikerjakan sendiri oleh tangan manusia, maka mereka tidak memerlukan bantuan dari luar. Science sudah cukup, dan Tuhan tidak perlu ikutan. Baru tatkala keadaan bertambah buruk, tak bisa lagi dikendalikan oleh science, manusia membutuhkan magic. Artinya, manusia membutuhkan Tuhan, tapi “Tuhan” dalam pengertian tertentu. Yaitu Tuhan yang melayani kebutuhan serta kepentingan tertentu. Tuhan yang melayani kebutuhan serta kepentingan manusia. “Tuhan magic” .
Almarhum Pdt. Eka Darmaputera mengatakan,”Tuhan ini disembah dan dipuja, tapi ujung2nya untuk melayani manusia! Itulah inti penyembahan berhala. Berhala disembah, tapi apakah untuk kehormatan berhala itu sendiri? Tidak! Berhala itu disembah sebagai suatu metode penakluk agar ia bersedia melayani si penyembahnya.”
Kategori yang ketiga yang disebut sebagai religion, yaitu ketika manusia menyembah Tuhan semata-mata karena Dia Tuhan. Apapun yang dilakukan-Nya, apapun yang Dia berikan. Tanpa syarat, tanpa pamrih. Dia adalah Allah Mahakuasa yang memiliki kita, dan kita adalah hamba-hamba-Nya. Aku menyembah-Mu, Tuhan, karena Engkau adalah Tuhan! Yang empunya kehidupan ini, dan yang layak untuk menerima penyembahan, puja dan puji dari selama-lamanya sampai selamanya.
Penutup: Mazmur 63:1-5

Aksiologi seseorang mempengaruhi keutamaan hidup seseorang. Aksiologi adalah cara pikir filosofis dalam sistem nilai hidup seseorang. Aksiologi dalam dunia pendidikan dalam masa kanak-kanak, adalah abstrak tapi makin lama akan semakin konkret. Saya berdialog dengan anak-anak, mereka igin sekali jadi Spiderman. Saya katakan untuk menjadi Spiderman susah karena gedung pencakar langit jarang, ada lagi yang mau menjadi wonder woman. Masalahnya dalam hidup kita tatanan nilai dalam hidup orang Kristen, kita seharusnya kita memuliakan Tuhan. Ada porsi dalam hidup kita yang menjadi idola. Harusnya keutamaan yang kita berikan.

Beberapa tahun ini sedang gencarnya disukai oleh orang tertentu, khususnya HT menghancurkan patung, boneka, dsbnya. Tetapi mereka mulai mempertanyakan Keluaran 20 ini. Sederhana saja, ayat 3, artinya yang tidak berbentuk, ayat 4-5 adalah yang berbentuk, dan efeknya.

Tuhan selalu mengingatkan kita supaya kita terlepas dari ketergantungan mental dan rohani, dari yang bukan Tuhan. Ada istilah yang sangat bagus, Escape from fredom adalah istilah yang sangat bagus ketika kita dibebaskan dari dosa, dan ketergantungan rohani yang bukan Tuhan, kita itu tidak betah dengan kebebasan yang bukan Tuhan. Renungkan dalam hidup kita, apakah kita bebas di dalam Tuhan? Apakah kita melarikan dari fredom yang Tuhan berikan. Bukan sesuatu yang mungkin secara nyata, tetapi kecenderungan hati yang selalu ingin dijajah dan dijajah lagi.

2 hal dari poin ini:
Apa itu berhala? Sering kali yang dimaksud berhala berupa patung atau kasat mata. Dalam poin ini, mungkin jemaat kita tidak ada yang memilikinya. Tapi FT tidak hanya bermaksud demikian, FT berkata bahwa “allah lain” artinya tidak ada yang akan dijadikan tandingan di hadapan-Nya, karena Dialah yang paling agung dan mulia. Musa memulai dengan menyebut dengna Tuhan Allah. Kemudian ayat bicara tentang aplikasi, allah yang lain itu apa? Ayat ke 5 adalah jangan sujud menyembahnya artinya mencurahkan segenap daya, melebihi apa diberikan kepada Tuhan. Jadi apa itu berhala sesungguhnya? Tanpa kita sadar, kita melakukan perselingkungan rohani karena selain memiliki Allah tetapi tanpa disadari di hati yang terdalam ada allah lain. Perselingkuhan ini sangat bahaya, ada jemaat yang mensakralkan salib, simpan di bawah bantal supaya tidak ada roh jahat. Bahkan ada yang berdoa menghadap gambar Tuhan Yesus, bukankah itu adalah berhala?
Hancurkan berhala-berhala dari kehidupanmu. Tentu ada alasan Tuhan berkata demikian, ada 2 alasan? Pertama, karena ada ancaman hukuman. Tuhan akan menyatakan hukuman-Nya atas orang yang menyembah allah lain, karena Allah cemburu. Bukan hanya emosi semata-mata, tapi hak dan kemuliaan-Nya direbut dari Allah oleh manusia. Kedua, Tuhan akan membalas. Dalam bahasa asli menggunakan kata “afa”, memiliki arti penghukuman karena penyelewengan yang dialih fungsikan kepada ciptaan, maka Tuhan akan membalasnya. Juga karena Allah begitu mengasihi kita, masa kita membalas dengan mengkhiananti cinta kasih-Nya. “Khesed” Tuhan bukan hanya sekadar baik, tetapi khesed adalah kebaikan Tuhan dari kekal sampai selama-lamanya, kasih yang tidak berakhir. Ayat 2, Allah menyatakan kasih-Nya kepada umat Israel, Inilah alasan yang kedua. Di dalam hal ini, penulis memaparkan siapa diri Allah dan siapa manusia (Israel), mereka adalah orang yang hidup yang tanpa pengharapan, terbelenggu. Ini adalah pertolongan tangan Tuhan, sehingga manusia dibebaskan dari belenggu.

Pertanyaan yang saya ajukan adalah mengapa Tuhan melarang sesembahan patung dan berhala:
patung dan berhala itu palsu. Segala sesuatu yang divisualkan adalah palsu. Allah adalah roh, ketika hal ini divisualkan maka itu adalah sesuatu yang salah, Allah yang benar adalah roh dan kita harus menyembah dalam Roh dan Kebenaran (Yoh 4:24). Tetapi kecenderungan manusia memang demikian, memvisualkan segala sesuatu, bisa dilihat, diraba, didengar seperti orang Israel ketika mereka membuat lembu emas.
Ada yang namanya ketimpangan dan percabangan hati. Jika adalah ilah dan Allah itu akan saling berjuang. Kita tidak bisa menyembah Tuhan + berhala, kita harus memilih.
Ayat 4, sebab Aku Tuhan Allahmu, itu merupakan syema bahwa Tuhan itu hidup. Mzm 135: 15-17 Tuhan ingin katakan, bahwa apapun yang dibuat manusia itu dilayani, tapi Tuhan tidak dilayani. Seharusnya kamu percaya kepada Allah yang hidup ini, bukan pada allah yang mati.

Apa saja bisa kita jadikan berhala.
Tinjau dari sudut kegunaan. Semua itu tidak ada kegunaan.
Dari sudut relasi. Jika kita bekas penyembah berhala, maka kita tidak lagi ada kontak dengan hal itu.
Bagaimana jika itu pemberian orang? kita bisa menolaknya.
Bagaimana bila patung itu ada roh jahat? Orang percaya tidak bisa dirasuk setan, tapi bisa diganggu.

Dalam rangka perayaan tahun baru Imlek yang akan berakhir tgl 9 Pebruari 2009, pada hari Cap Go Me-nya, dikaitkan dengan tema minggu perlu ditekankan tentang berhala, idola, patung dan ukiran, serta mamon dan penyembahan yang abstrak dalam hidup orang percaya, bagi kaum Kristiani perlu ditekankan :
Naga dan singa yang ikut meramaikan tahun baru itu adalah simbolik perlawanan terhadap roh jahat dan mengundang berkat dan rejeki, khusus tentang naga tidak perlu dikaitkan dengan naga dan ular tua yang melambangkan iblis roh jahat, agar tidak menyalahpahami kebudayaan yang selama ini sudah ada.
Penyembahan papan nama orangtua yang sudah meninggal dan nenek moyang. Asal mula kejadian itu adalah suatu cerita tentang anak yang tidak hormat kepada orangtua - ibu yang janda, selagi ia membajak di sawah di siang harinya, selalu dikirimi makanan, terlalu pagi atau terlambat datang menjadi hal yang dimasalahkan anaknya, membuat ibunya hidup dalam ketegangan. Namun pada suatu hari ia melihat seekor anak domba menerima susu dari induknya dengan sikap hormat berlutut, kesadaran membuat ia ingin memohon maaf kepada ibunya, namun disalahpahami oleh ibunya sehingga jeritan ia membuat ibunya melarikan diri daripadanya dan akhirnya terjun dan mati dalam telaga. 3 hari 3 malam ia mencari ibunya yang hilang tanpa hasil, maka ia mengambil sebuah kayu dari dasar telaga, di bawa ke rumah dan menaruhnya di meja tengah di ruang utama. Ia pamit waktu pergi dan melapor pulang kepada kayu yang ia anggap sebagai ibunya dan menyuguhi makanan dan berkata-kata kepada kayu itu seolah-olah ibunya masih hidup. Hal itu menjadi tradisi tionghoa untuk memasang papan nama menghadirkan orang yang sudah meninggal, agar teringat dan memberi hormat khusus ditanggal 1 dan 15 setiap bulannya, dengan makanan yang ditaruh dihadapannya. Sebenarnya menghormati orangtua adalah minum air ingat sumbernya, berbakti kepada orangtua menjadi keharusan hidup orang yang bermoral, bagi orang Kristen perlu mengetahui bahwa menyembah nenek moyang (pai cu cung) sebenarnya cu itu akar, cung itu sumber, Lukas 3:33 : manusia pertama Adam adalah anak Allah, maka menyembah nenek moyang terakhir harus menyembah Allah. Pepatah : Hidup sebutir nasi lebih indah daripada mati sekuintal padi (selagi orangtua masih hidup harus dihormati dan disayangi).
Dalam kotbah minggu ini jangan ada sikap menyerang orang yang belum kenal Tuhan dan perlu mendoakan orang yang terikat oleh penyembahan yang salah.