Jumat, 23 Januari 2009

SATU-SATUNYA JALAN

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Jakarta
Kamis, 22 January 2009

SATU-SATUNYA JALAN
Matius 7:12-14
Mat 7:12: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Mat 7:13 :Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;
Mat 7:14: karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Ayat ini terletak di dalam kontex khotbah Yesus di bukit.
Ayat ini terletak hampir di bagian akhir dari khotbah Yesus itu.
Dalam bagian ini, Yesus ingin supaya pendengarnya mulai mengambil keputusan untuk melakukan apa yang sudah didengarnya.
Apa yang dikhotbahkan Yesus sungguh sangat berbeda dari apa yang dilakukan di dalam dunia.
Bagi orang dunia, kalau ada orang yang berbuat jahat, maka harus dibalas.
Seperti orang Israel sekarang, yang berkata, “Kalau ada 1 orang Israel mati, maka harus membalas membunuh 1000 orang Palestina.”
Tapi, orang yang melakukannya akan terlepas dari siklus kejahatan dunia ini.
1. Orang harus mengambil respon untuk mengikuti jalan Tuhan.
Tak banyak orang yang mau melakukannya, sehingga digambarkan seperti orang yang masuk melalui pintu yang sempit.

2. Orang yang mengambil respon ini akan menghadapi kesulitan.
Sempit = sulit melewatinya.
Tapi, ia harus tetap setia.
Ia harus tetap bertahan dalam kesulitan itu.
Ill. David, seorang pendaki Himalaya yang mendaki gunung itu bersama 40 orang lainnya. Dalam perjalanan pulang, ia kehabisan oksigen. Ia pingsan dan hampir mati, tapi tak ada 1 orangpun yang mau memberikan oksigennya padanya. Mungkin mereka berpikir kalau mereka membagikan oksigennya, maka mereka akan mati.
Ia harus memiliki sikap hidup yang rela berkorban / tak suka membandingkan diri dengan orang lain.
Orang yang demikian, bisa keluar dari keegoisannya.

3. Orang yang mengambil respon ini akan mendapat berkat Tuhan.
Seperti Yesus yang pernah berkata, bahwa Ia adalah pintu (Yoh. 10:7, 9), dan domba yang masuk melaluinya akan mendapatkan padang rumput dan hidup yang berkelimpahan.

Dalam khotbah Yesus di bukit ini, Yesus memberikan banyak hal.
Dalam kontex ayat 11, Bapa yang baik, Bapa itu baik kepada semua orang.
Yesus menekankan bahwa orang yang memiliki relasi baik dengan Bapa yang baik kepada semua orang, maka ia harus menyatakan itu dalam relasi dengan manusia.
Nah, untuk memiliki relasi yang baik dengan Bapa, harus melalui 1 jalan, yaitu Yesus.
Tak banyak orang yang mau melalui pintu itu (minoritas), karena memang akan mengalami kesulitan (pintu yang sempit).
Kesulitan itu makin lama makin sulit.
Tak banyak orang bisa bertahan sampai pada akhirnya.
Penulis lagu “It’s well with my soul” bisa bertahan waktu keluarga meninggal, tapi ketika ia dipojokkan oleh gereja yang menganggapnya orang terkutuk dan mengucilkannya, sehingga ia bisa mengalami bencana seperti itu, ia tak tahan. Ia menjadi gila pada akhirnya.
Ada orang Kristen yang mengeluarkan semua hartanya untuk menyembuhkan anaknya di Singapore. Setelah habis hartanya, anaknya meninggal. Ketika anaknya meninggal, iapun meninggalkan Tuhan. Ia mengikuti ajaran penginjilan bagi orang mati.
Yohanes pembaptis, dalam penderitaannya, dalam penjara, juga “Meragukan” Yesus yang dibaptisnya sendiri.
Satu-satunya jalan untuk bisa dikuatkan dalam iman melewati kesulitan yang dahsyat itu, yaitu adanya komunitas.
Seorang pendeta kulit hitam, tinggal di Chicago, sangat pandai berkhotbah, menikah agak “Terlambat.” Ia sangat bahagia memiliki istri yang sangat mengasihinya. Suatu kali, waktu ia menjemput istri yang baru pulang dari suatu tempat di airport, sangat terkejut, karena bukan istrinya yang datang, tapi mayat istrinya dalam sebuah peti mati. Seluruh iman, konsep theologianya hancur dalam kesedihan yang dalam. Tapi, ia berhasil dikuatkan oleh adanya seorang sahabat yang mengatakan, “Tuhan, mengasihimu.”

Jalan sempit itu adalah melawan arus.
Orang yang sudah percaya pada Tuhan, ia harus memiliki hidup yang melawan arus dengan tegas.
Ia tak boleh ikut berdosa, hidup dalam daerah abu-abu.

Masalah kebanyakan orang, bukan ia tak tahu, tapi tak mau melakukannya.
Apakah orang tak tahu, bahwa hanya ada 1 jalan keselamatan? Bahwa manusia tak bisa hidup hanya karena roti saja? Bahwa manusia harus mencari dulu kerajaan Allah? Dll., tapi yang menjadi masalah adalah melakukannya.
Seperti Paulus, rasul besar yang berkhotbah pada orang Efesus selama 3 tahun, siang malam, tak berhenti, dengan bercucuran air mata, pada setiap jemaat, tapi . . . apa hasilnya? (Ef. 20:31). Dan kalau kita melihat Why. 2, jemaat pertama yang ditegur adalah jemaat Efesus!!! Apakah mereka tak tahu? Apakah mereka tak mengerti? Bukan. Yang menjadi masalah adalah mereka tak melakukannya.
Maka, dalam minggu penginjilan ini, kita perlu belas kasihan Tuhan, bukan supaya mereka hanya tahu, tapi bisa menggerakkan hati manusia, untuk mengambil keputusan untuk “Berjalan lewat jalan yang hanya 1 itu.”

Pembahasan Firman Tuhan
Hamba Tuhan Pooling Bandung
Jum’at 23 Januari 2009

- Kehidupan selalu diperhadapkan pada pilihan.
*. pada umumnya manusia menentukan pilihan yang terbaik baginya baik yang ingin dia dapatkan dengan usahanya sendiri maupun yang diharapkan didapatkan dari orang lain.
*. selain itu manusia lebih suka menerima daripada memberi

- Disaat seseorang ingin menerima yang baik maka seharusnya juga harus memikirkan bagaimana memberikan yang baik juga kepada sesama.
* namun kenyataannya keegoisan dan kepentingan diri sendiri membuat banyak orang termasuk didalamnya orang-orang percaya justru hanya ingin menerima yang baik sedangkan tidak punya hati dan semangat untuk memberi yang baik bagi sesama meskipun dia dapat melakukannya.

- Matius 7:12-14 merupakan bagian pengajaran Tuhan Yesus dalam kumpulan khotbah di bukit. Tuhan Yesus menekankan perihal melakukan kebenaran kepada sesama sebagaimana kebenaran itu ingin diperlakukan kepada diri sendiri. Hukum ini bukan sekedar untuk dipahami dan dipercayai karena memiliki logika yang pantas namun untuk dilakukannya. Ini pola pikiran positif dari Tuhan Yesus.
- Kebenaran ini menjadi penegasan bahwa kehidupan yang kita jalani untuk dinikmati dengan benar haruslah dimulai dengan betapa sangat penting memperhatikan kehidupan setiap kita khususnya sebagai orang percaya untuk hidup dengan baik sehingga dengan demikian apa yang kita harapkan yang baik telah dan akan diterima dari Kristus juga dapat kita berikan kepada sesama.
* oleh karena mendapatkan yang terindah dalam Kristus merupakan hadiah yang terbaik dan tidak tertandingi dalam segala apa yang ditelah dan akan diterima. Hasil perenungan ini bahwa kita telah menerima sebagai yang kita butuhkan maka mengantar kita membagikannya.
à karena kita menempatkan diri pada masalah dan keadaan kita sebelumnya.

- ”masuklah ... lebarlah pintu dan luaslah jalan
* banyak orang melalui dan berada didalamnya karena
à memberi kebebasan untuk melampiaskan gairah dan keinginan. Didalam jalan yang lebar ada pilihan jalan kecil yang menawarkan kehidupan yang lebih spesifik yang menawarkan kehidupan dosa yang lebih mendetail.
à paling mengerikan adalah jalan yang lebar itu menuju kebinasaan. Oleh karena jalan itu menjauhkan diri seseorang dari hadirat Allah

- Jalan satu-satunya dalam pengertian: jalan kehidupan ... ”pintu itu sesak..”
*. pintu yang dimaksudkan adalah jalan pertobatan dan percaya kepada Kristus. ”sesak” karena tidak banyak orang mau melaluinya.
à menuntut diri untuk keluar dari dosa, untuk menjalani kehidupan yang melawan arus. Perubahan hidup dituntut sehingga membatasi segala keinginan dan bahkan rela melepaskan banyak hal yang tidak benar dan tidak sesuai yang Tuhan kehendaki.

- jalan kehidupan ... ”jalannya sempit..”
*. akhir perjalanan masih panjang dan jalan itu sempit. Memberikan gambaran pilihan jalan kehidupan selalu berhadapan dengan perlawanan. Perjalanan diperhadapkan pada pilihan untuk menjalani kehidupan penyangkalan diri dan memikul salib.
à kesiapan berhadapan dengan godaan dan menolak tawaran yang menjerumuskan hidup jauh dari Tuhan
à berhadapan dengan jalan kesulitan/kesukaran dan penderitaan dalam segala penolakan dan sasaran kebencian
@ tidak mengherankan sedikit orang yang menghendaki melalui jalan yang sesak dan sempit.
# tidak ingin dibatasi dan tidak ingin melewatkan untuk mengalami kesenangan didalam dunia yang dianggapnya sebagai kesempatan.

- pilihan bagi jalan sesak dan sempit merupakan pilihan yang membawa kehidupan meskipun tidak mudah dilewatinya. Namun tidak sendiri karena kasih Kristus yang telah mati dan bangkit menjadi pengharapan penyertaan-Nya.

Peribahasa ”Ada banyak jalan menuju Roma” sering dikaitkan dengan jalan menuju sorga. Di Roma ada air mata tetapi di sorga tidak ada. Yesus mengkontraskan ajaran-Nya dengan ajaran para ahli Taurat di mana ada dua macam pengajaran. Pintu yang sempit dan luas. Ini menjadi sebuah pilihan. Banyak orang masuk pada pintu yang luas, tetapi menuju kebinasaan. Sementara pintu yang sesak dan sempit itu sedikit yang memilih. Para pendengar (remaja) diperhadapkan pilihan dari kedua pintu itu. Pilih yang mana? Untuk konteks khotbah di remaja, arahkan biar remaja memilih yang benar, yang sesak dan sempit itu, dibandingkan memilih jalan menuju kebinasaan itu di mana ada kesenangan dunia, foya-foya, dan hidup dengan sebebasnya. Jalan yang luas itu juga sering dikaitkan dengan sebuah pengajaran sesat.

Matius 7 ini berbicara tentang etika kehidupan orang kristen di tengah-tengah masyarakat: Harus tampil beda dengan orang-orang lain. Ayat 12 berbicara tentang etika itu: memperlakukan orang lain dengan baik lebih dahulu. Kita harus menuntut diri lebih dahulu sebelum menuntut orang lain. Sementara ayat 13-14 berbicara mengenai sebuah pilihan: Jalan sempit dan luas. John Stott: di dalam pintu yang lebar itu kita kita bisa membawa semua kesenangan kita, nafsu, hobi dsb di mana semuanya itu bisa menjauhkan kita dari Tuhan. Banyak orang mau ke sana karena lebih suka memilih kebebasan dan kesenangan itu. Kristus mengajarkan kita harus melepaskan semua kesenangan itu, dan memilih jalan yang sempit itu: jalan salib. Meski berat, ujungnya adalah menemukan kehidupan yang menyenangkan dan kekal.

Jalan yang sempit itu harus kita cari. Jalan yang sempit juga harus di tempuh, sebuah keputusan pribadi, juga sebuah jalan keselamatan dimana kita harus mengorbankan apa yang kita senangi. Ada tiga hal yang akan disampaikan:
Pilihan arah hidup kita (agar tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri)
Pilihan pengaruh hidup (pengajaran dan siapa yang harus kita taati)
Pondasi hidup (bangunan seperti apa yang kita bangun untuk menjadi kekuatan pondasi hidup kita).

Paranorma mama Lauren, ”Semua agama itu menuju kepada jalan yang sama.” Apa yang dikatakan itu merupakan sebuah pemahaman universalisme. Dalam konsep keselamatan, ada empat macam pandangan tentang sebuah keselamatan:
Universalisme (semua orang akan diselamatkan).
Pluralisme (semua agama itu sama hanya caranya saja yang beda, orang boleh punya satu agama)
Inklusivisme (semua agama itu menyelamatkan, tetapi orang itu tidak akan pindah ke agama/kepercayaan lain).
Eksklusivisme (hanya percaya kepada Yesus saja).

Tuhan Yesus adalah pintu satu-satunya yang benar. Pintu itu dikontraskan dengan para ahli Taurat. Yang Yesus tekankan adalah sebuah pertobatan. Pertobatan itu harus nyata. Barangsiapa mau memasuki pintu pertobatan itu (Tuhan Yesus), akan mengalami perubahan sejati.

Hanya menambahkan 1 ayat Alkitab: Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kis. 4:12)

Hidup banyak pilihan. Pilihan harus dilakukan dengan hikmat agar tidak mudah jatuh dan terjerumus. Banyak orang lebih memilih apa yang enak dan menyenangkan dan tidak mau memikirkan hasil akhir dari pilihan itu. Padahal, jalan yang sempit itu tidak selalu menyulitkan. Akhir dari jalan yang sempit itu memang belum kelihatan, tetapi ending-nya menyenangkan dan membahagiakan. Tuhan menyediakan jalan keselamatan. Untuk menuju jalan keselamatan itu kadang kita harus memikul salib tersebut (ada harga yang harus dibayar).

Matius lebih berbicara mengenai etika Kristen, Lukas berbicara mengenai keselamatan. Kalau ingin menekankan keselamatan bisa menggunakan ayat-ayat lain seperti Yoh. 14:6 atau Kis. 4:12. Dalam Lukas ada penekanan untuk menuju pintu yang sempit itu harus berjuang, ada usaha, dan mengambil sebuah keputusan. Keselamatan itu bukan otomatis terjadi pada seluruh anggota keluarga, tetapi keputusan pribadi dari anggota keluarga itu.

Kepada para pendengar-Nya, Yesus seolah-olah mengatakan posisi mereka ada di mana: jalan sempit atau lebar? Banyak orang menyangka sudah ada di jalan yang sempit, tetapi sejujurnya berada di jalan yang lebar. Mereka seolah-olah adalah para domba, tetapi sebenarnya para serigala yang menyamar sebagai domba. Karena dalam ayat berikutnya dikatakan mereka menyebut nama Tuhan tetapi Tuhan tidak mengenal mereka ” Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” (Mat. 7:22).