Jumat, 12 Desember 2008

“MENUJU KE SION”

“MENUJU KE SION”
Maz 84:6-8
Pembahasan 5 Desember 2008


Ditulis oleh keturuanan dari Korah. Pasal 42, kerinduan kepada Allah seperti merindukan air, artinya dalam kesesakan hidup manusia merindukan Allah. YHWH adalah Sang Pemelihara, setia dalam janjiNya, dan Dia adalah Allah yang kekal. Orang yang kembali kepada Tuhan dari tempat pembuangan atau pulang dalam pertobatan akan dipelihara. Mezbah menjadi satu bukti nyata Allah memberi anugerah kepada orang yang percaya kepada Dia. Mezbah menjadi bukti penyertaan Tuhan. Di dalam penyerahan, manusia mendapat pertobatan. Tuhan menjadi tumpuan harapan bagi mereka. Burung layang-layang adalah burung yang tau tempat kembalinya … manusia tempat perhentiannya adalah di hadapan Tuhan. Jika ini terjadi, maka lembah kekelaman menjadi suatu sumber kebahagiaan, kekuatan, pengharapan bagi orang yang sungguh kembali kepada Tuhan.
Keadaan jemaat sekarang semakin sulit (banyak pengangguran), seakan tidak ada harapan cerah di depan mereka, maka kita tekankan ada pengharapan besar di dalam Tuhan, jika kita datang kepadaNya. Perhatikan kebaktian (khusunya kebaktian 3 Gardujati), semakin bertambah. Berarti, di dalam kesulitan hidup manusia kembali kepada Tuhan. Orang yang datang kepada Tuhan, akan mendapatkan sukacita di atas sukacita. Tuhan menjadi perisai bagi orang yang mau berlindung kepada Dia. Allah tidak menahan sesuatu yang indah kepada orang yang jujur di hadapanNya. Dan Mazmur ini, diakhiri dengan “orang yang bersandar kepada Tuhan pasti diberkati.” Sion adalah tempat di mana Tuhan meletakkan takhtanya, kota Raja, bait Allah dibangun diatasnya. Sion menjadi kerinduan orang yang jauh di hadapan Allah. Baru diserambinya saja, sudah mendapatkan kebahagiaan, apalagi jika masuk ke dalamnya.
Diri kita harus menjadi contoh bagi jemaat. Jika kita sendiri tidak merindukan rumah Tuhan, bagaimana jemaat Tuhan! Ayat 3, “berseru” diterjemahkan “bersorak sorai,” orang berseru menjadi sorak-sorai.
Maz 42, di dalam kesedihan ada penghiburan, dalam kekelaman ada cahaya terang, dan sebagainya. Perisai ada dua fungsi, menahan pukulan dari musuh, dan menjadi suatu reflektor cahaya untuk menghancurkan musuh.

Cerita pengalaman ketika khotbah di suatu gereja, begitu banyak yang terlambat. Pada waktu mau khotbah, baru ruangan penuh. Apakah kejadian ini menjadi refleksi kerinduan jemaat ke rumah Tuhan (Sion)?

Ayat 13, merupakan jawaban dari pergumulan orang yang datang ke rumah Tuhan. Dokter yang dipercaya oleh masyarakat pasti laris sekali, meskipun jauh tetap dikunjungi, karena mereka percaya kepada dokternya. Orang akan rindu kediaman Tuhan, jika ia memiliki percaya sungguh-sungguh, percaya bahwa Allah sumber segala-galanya bagi hidupnya. Tidak semua orang yang ke gereja punya motif yang murni untuk bertemu Tuhan. Sebetulnya orang ke gereja itu benar percaya kepada Tuhan atau tidak? Berbahagialah orang yang menaruh percaya.

Ayat 6, jika orang punya hasrat saja untuk datang ke rumah Tuhan itu sudah merupakan kebahagaiaan. Dan jika punya hasrat (respons) itu juga adalah anugerah.

Ayat 8, berjalan makin lama makin kuat. Dalam dunia ini, kalau berjalan makin lama makin capek. Tetapi jika ada sesuatu yang berharga di depan yang mau di tuju, maka makin lama makin kuat. Karena ia akan mendapat sesuatu yang lebih berharga, dia tidak melihat capeknya tetapi melihat Allah.

Tujuan hidup manusia adalah rumah Bapa. Tujuan ini adalah tujuan yang memacu kita untuk mendapatkan kekuatan dari Tuhan, dari lembah air mata menjadi mata air.

Seorang jemaat, rindu setiap kali mau persekuatuan. Dia selalu menanti nantikan, karena dari sana ia mendapatkan topangan dari rekan-rekan dan dari Tuhan. Jika orang mau rindu ke rumah Tuhan, maka orang itu mesti lebih dulu mengalami Tuhan.

Tiga bagian, (1) berbahagia: bisa diam di dalam rumah Tuhan. Rindu karena ada keterikatan dalam komunitas. Kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang bernilai kekal; orang yang kekuatannya di dalam Tuhan. Meskipun banyak tantangan selangkah demi selangkah menuju sion, itu tujuan; berhak berkomunikasi.
Bersandar kepada Allah, Tuhan matahari dan perisai, tidak menahan kebaikan.

ada 5 hal, yaitu:
1. Semua berdasarkan cinta kasih, itu yang membuat mereka rindu ke rumah Tuhan. Misalnya Yakub, untuk mendapatkan Rahel dia rela bekerja untuk mendapatkannya, itu demi cinta.
2. Oleh karena cinta, Pemazmur rela untuk melakukan apa saja. bandingkan dengan Abraham mempersembahkan Ishak, Hanna mempersembahkan Samuel.
3. Oleh karena cinta, Pemazmur ingin menjadi orang yang lebih berguna. ketika melalui lembah baka, ia menjadi mata air.
4. Membuat semangat. Nuh dan anak-anak membangun bahtera dengan semangat.
5. Membuat menjadi lebih beriman.

Antara kehidupan sekarang yang dia alami vs pengharapan dalam iman, ada 3 hal: (1). Kerinduan yang sejati adalah Tuhan. apapun tujuan manusia dalam hidup ini tetap akhirnya akan berhadapan dengan Tuhan. Banyak orang yang rindu segala hal, tapi ada satu hal yang dirindukan manusia yaitu Tuhan. Semua yang manusia buat dalam dunia ini adalah mencoba untuk memenuhi kebutuhan fisik. Jiwa punya satu kebutuhan yaitu Tuhan. (2) Kebahagiaan yang sejati ada pada Tuhan. Perhatikan bagaimana karya Tuhan, dalam burung pipit, dan sebagainya. (3) Kehidupan yang sejati, “apabila melintasi lembah baka …” hidup yang sejati itu adalah yang akan datang bukan sekarang. Biarpun fisik lemah. Apa arti Hidup yang sejati? Apabila mereka melintasi lembah baka. Jiwa tidak pernah lemah, dan teguh sampai selesai.

ayat 4, “memuji-muji Tuhan”, memiliki makna memuji dalam arti terus-menerus yang sungguh dengan sepenuh hati.

Home sweet home, itulah yang dialami pemazmur dalam perenungannya akan rumah Tuhan. Mengapa pemazmur merindukan rumah Tuhan? inilah yang harus ditemukan jemaat. Rumah Tuhan dituju karena merupakan tempat jawaban; kerinduan yang dalam karena Allah; mengenal Allah dan mengalami anugerahNya (dua macam burung pipit dan layang-layang, matahari); pilihan dan ketetapan hati.

Motif pemazmur datang ke rumah Tuhan karena rindu. Mengapa rindu? karena cinta. kalau tidak cinta mana mungkin rindu. Bertemu dengan Tuhan Yesus dulu, bergaul baru ada kerinduan untuk Tuhan.

Mzm 84 kawan dari Mzm 42 merupakan ekspresi akan kerinduan akna rumah Tuhan. Sikap pemazmur merupakan suatu ekspresi menuju kerumah Allah di sion. Jadi bagaimana sikap kita beribadah di rumah Allah?
betapa disenangi diam rumahMu. Intinya, dia memuji karena bait Allah dan Allah itu sendiri. Jiwaku merindukan pelataran Tuhan adalah ekspresi hati, biarlah umat percaya tidak membiarkan kesenangan dunia mencekik haus akan Tuhan.
Rajin beribadah di rumah Tuhan. Berkat kebahagiaan merupakan hak istimewa umat Tuhan. Pemazmur mendemonstrasikan imannya dengan ziarah.
Memiliki hati yang tekun di dalam Tuhan. Jadi ini merupakan suatu ungkapan di bait Allah.

Ungkapan hasrat yang dalam: pengakuan terhadap kasih Allah yang sudah dialaminya; di dalam Allalah ia mengenal kehidupan. Pengakuan dan mempercayai pemeliharaan Allah: mengantar dia memahami Allah; memberikan kekuatan menghadapi tantangan kehidupan; memberikan jawaban atas doa.

ayat 4, burung pipit dan layang: menggambarkan ada perhentian / mendapat ketenangan, kehangatan, landasan untuk membesarkan anak-anak. demikian juga dengan orang percaya akan mendapatkan ketenangan di rumah Tuhan.

ayat 7, seharusnya semakin berjalan semakin loyo, disini semakin banyak berjalan semakin kuat. Fisik mereka pasti lemah, tenaga pasti lemah, mungkin iman mereka tidak pernah lemah karena ada harapan, karena bertemu dengan Tuhan. Ada apa di Sion, sehingga mereka makin lama makin kuat? Karena di rumah Tuhan, berkat-berkat dicurahkan; ada hati yang terpuaskan; ada kebahagiaan; ada sorak-sorai.

John Piper mengatakan “jika perasaan kita mati terhadap mati maka penyembahan itu juga mati untuk Tuhan.” Apakah jemaat juga memiliki hati yang mengebu dalam Tuhan?
mantap hidup beribadah dalam Tuhan
mantap hidup dalam anugerah

Untuk sesuatu yang berharga, pasti ada atensi, ada tempat dan waktu yang dia berikan.

Ketika menjadi PRT dia tidak punya kesempatan untuk melayani Tuhan, sekarang dia punya kesempatan dan dia tidak sia-siakan, dia melayani Tuhan. Sekarang dia bergumul karena kesemapan kerja itu hanya menjadi PRT, hanya diberi kesempatan sekali seminggu yaitu hari minggu ke gereja. DIa ingin sekali, melayani Tuhan selain hari minggu. Dan sekarang dia bergumul untuk persoalan ini. Satu kerinduan yang luar biasa, dan pasti punya hubungan pribadi dengan Tuhan.

Kekristenan memiliki keunikan karena lebih banyak bicara hubungan dengan Tuhan. Martin Luther, “I and Thou relationship.” Hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan sehingga dia akan merasakan pemeliharaan tuhan.

Mazmur dari pelayan Tuhan untuk melayani Tuhan. Korah adalah segolongan imam yang tersisih dari garis utama imam, karena zaman Musa mereka meberontak. Kerinduan mereka untuk kembali tergambar dalam Mazmur ini. Ada satu kebutuhan eksistensialis yang mau dijawab. Apa yang kita cari dalam hubungan kita dengan Tuhan. Fenomenanya banyak, tetapi apa yang kita cari dalam hubungan kita dengan Tuhan?

Ayat 6, berbahagia manusia yang kekuatannya di dalam EWngkau. Dari kecil kita bergantung pada kekuatan sendiri, sehingga kita percaya ada kekuatan di dalam diri kita. Dari dependent kepada independent. Lain dengan kematangan rohani, bergerah dari independent kepada yang dependent. Hati ini yang terus dipelihara untuk bersandar kepada Tuhan.

Ada 4 hal:
ay.2-5 bicara soal kerinduan. Why? Karena ada pemeliharaan
ay. 6-8 bicara soal kekuatan. Karena berjalan bersama dengan Allha
ay.9-10 bicara soal doa.
ay.10-11 bicara soal kebahagiaan.
Kesimpulan: mari jemaat percayalah kepada Allah karena engkau akan diberkati.

Tuhan adalah sumber kekuatan yang sejati, kata ini bisa keluar jika orang ini mencintai Tuhan. Orang yang bisa mencintai Tuhan adalah orang yang sudah disentuh hatinya oleh Tuhan. Orang Kristen sendiri harus punya hati pada Tuhan, tandanya seperti apa? Ada kerinduan yang besar, terhadap sesuatu apapun juga, kerinduan untuk beribadah kepada Tuhan. Jika jemaat tidak rindu lagi, jangan2 kita telah jatuh kepada penyembahan berhala.

Ayat 2, “rindu akan sesuatu / seseorang.” Jika mereka tidak datang ke Bait Allah maka ada sesuatu yang hilang. Di sini para peziarah, rumah mereka jauh dari bait Allah setidaknya 1 kali setahun mereka pergi untuk berziarah. Berkat tetap sampai kepada mereka di tempat tinggal mereka, tetapi ada sesuatu yang hilang jika tidak ke rumah Allah. Jemaat Tuhan harus diajar, untuk fokus kepada Allah daripada berkatnya. Ketika kita mencari Allah maka bukan hanya pribadi Allah yang kita terima tetapi juga berkatNya. Tuhan ingin memurnikan gereja Tuhan, dari yang mencari berkat menuju mencari Allah.
Mother Theresia, dia sering merasakan bahwa Allah tidak hadir dalam pelayanannya. Tapi dia berkata, "walaupun saya tidak merasakan kehadiran Allah, saya akan tetap mengasihi Allah, melayani Allah."