Sabtu, 29 November 2008

GIMANA NANTI

GIMANA NANTI (Lukas 14:28-35)
Pembahasan 7 November 2008
Garam dari laut pada umumnya tidak akan ubah keasinannya. Tetapi garam dari gunung berubah jika kena oksigen. Di dalam ujian waktu itu sendiri garam di gunung bisa kehilangan asinnya. Jikalau tidak mau kehilangan asinnya harus dilarutkan di dalam air. Yang satu harus dikeringkan, yang satu harus dilarutkan. Di Israel kebanyakan bukan garam di laut, tetapi garam di gunung. Ada unsur prediksi di luar kemampuan manusia. Kita harus mengajak mulai, bejalan dan terpelihara dan tergenapi bersama Kristus dan kita meraih kemenangan dan kesusksesan bersama Kristus. kalau kita berani bayar harga kita pasti dipelihara.

1. Kita harus memiliki kemampuan plus. Ini artinya ketika kita berperang kita harus menjadi manusia potensial, maksimal serta optimal. Saya mengambil rahasia kekuatan dari fil 2:14. Paulus mengatakan bahwa segala kekuatanku ini berasal dari Tuhan. Contoh: TuhanYesus selalu menggenapi kekurangan kita. Peristiwa Kana Yesus bantu air menjadi anggur, Yesus membuat 5 roti 2 ikan menjadi cukup bagi 5000 orang, ketika murid2 mencari ikan di Galilea Yesus membuat mereka dapat menjala ikan 153 ekor. Kalau membicarakan hal ini saya ingat lagu Bersama Yesus Lakukan Perkara Besar
2. Kita harus memiliki keberanian plus. Ini bukan asal berani. Yesus meninggal kediaman takhta-Nya. Ia menggunakan hak-Nya untuk melepaskan hak-Nya. Bagi saya Paulus pun melihat hal yang sama, tetapi bukan semuanya berguna. Ia melepaskan apa yang tidak berguna. “Barang siapa yang tidak melepaskan miliknya ia tidak berhak menjadi murid Kristus.”
3. Kita harus memiliki keyakinan plus. Di sini saya ingin berbicara tentang manusia harus memiliki ketangguhan dan tawakal. Kalau kita menjadi murid Tuhan ada kejadian yang ada di dalam genggaman Tuhan dan kita tidak dapat berbuat apa2. Contoh: Habel yang harus mati karena orang terdekat, Ayub dilemahkan imannya oleh istrinya, orang yang menghianati Yesus juga orang terdekat, dsb. Setiap kejadian ada di dalam genggaman Tuhan. Jadi bagi saya baik yang benar atau pun merugikan kita yakin itu berada di dalam pengetahuan Tuhan. Tidak apa2 kita jalani semuanya.
4. Milikilah kepedulian plus. Kalau garam sudah tidak asin tidak ada gunanya. Kita harus menjadi orang yang yang diperlukan orang lain dan perlu hikmat dan bersahabat dengan orang lain. Kita harus berbsiskan pada umat pilihan. Ini ada 4 poin:
a. Keselamatan umat Allah. Ketika Musa meninggalkan kenyamanan Mesir demi umat Allah. Esther mempertaruhkan nyawa demi kepentingan umat Allah. Mudah mencapai jabatan, tetapi bagaimana mempertahankan.
b. Harus bertahan di dalam kesulitan.
c. Harus memperhatikan kedewasaan umat.
d. Harus berdasarkan kepentingan umat pilihan. Dari umat, oleh umat, untuk umat.

Perikop ini berbicara tentang harga menjadi seorang murid Yesus. Di dalam hal ini ada dua hal yang saya dapatkan di dalam perikop ini:
1. Seorang murid harus relah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus. Contoh: Ketika Tuhan Yesus memanggil Petrus dari menjadi penjala ikan menjadi penjala manusia, ia meninggalkan segala sesuatu. Sepertinya rugi, tetapi ketika Petrus melihat kebelakang, banyak orang bertobat kerena pemberitaannya, maka ia akan sangat berbahagia.
2. Seorang murid tidak boleh menjadi “tawar” sehingga ia tidak dapat lagi memberi pengaruh nilai-nilai kerajaan Allah. Ini menuntut ketekunan, penyangkalan diri dan konsistensi sebagai murid Kristus

Saya melihat ada 3 hal
1. Hidup di dalam perencanaan dan tanggung jawab. Charles Swindol mengatakan bahwa jauh dari Tuhan adalah hal yang menakutkan, karena Tuhan tidak menyesuaikan kehendak-Nya dengan kehendak kita. Kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan-Nya. disepanjang perjalanan hidup kita ini ada banyak propaganda yang menawarkan kepuasan di dalam dunia ini. Asal ada uang apa pun dapat kita dapatkankan. Hendry Nouwen mengatakan bahwa ada kalanya kita harus menjauh dari iklan2 itu karena itu kosong belaka. Kita harus mendekat kepada Tuhan. Mat. 12:36. Kalau untuk hal yang kecil Allah menuntut, apalagi tanggung jawab kehidupan
2. Melepaskan segala sesuatu yang mengikat dirinya dengan dunia. Ada yang mengatakan bahwa ikut Tuhan itu identik dengan kesuksesan dan kegemilangan. Kita sebagai orang Kristen percaya bahwa berkat itu dari Tuhan. Amsal 20:22, berkat Tuhan yang menjadikan kaya. Saat ini Obama menjadi headline news yang menjadi harapan. Orang Kristren juga memiliki “Obama”, pengharapan. Ayub adalah contoh yang baik. Iman yang sungguh tidak ada pernah hilang.
3. Mempersembahkan hati kepada Tuhan dengan tepat dan benar. Zaman modern ini dimotivasi oleh evolusi dalam segala hal. Kekudusan sudah ditinggalkan. Manusia menikmati kenikmatan dosa. Masyarakat telah terjangkit epidemi depresi, pembunuhan, dsb. Rasul Paulus kepada jemaat Korintus menunjukkan kekhawatirannya dengan erosi rohani ini. Inilah yang terjadi di dalam jemaat dan masyarakat. Bukan Kristus lagi yang utama. Malah kita diterangan dan digarami oleh dunia. Doa John Calvin: “hatiku kupersembahkan kepada-Mu yang Tuhan...” Inilah yang menjadi fokus hidup dan panggilan orang percaya. Bijaksana dan melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.

Saya melihat 3 kecaman Yesus kepada mereka yang mengikut-Nya:
1. Tetap mencintai yang yang fana
2. Tetap mencintai dunia
3. Tetap tidak menjadi garam

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang percaya harus menghitung harga seorang murid:
1. Melepaskan hal yang fana
2. Menjadi garam
3. memikul salib
Menjadi pengikut Yesus perlu menghitung harga bersaksi, dsb., tetapi yang pasti Yesus memberikan kekuatan kepada kita.

Dua perumpamaan ini hanya terdapat di dalam Injil Lukas. Latar belakang historisnya adalah orang banyak yang mengikuti Yesus itu belum memahami siapa Yesus sebenarnya. Menurut mereka Yesus adalah seorang penguasa dunia yang menuju Yerusalem untuk mendirikan kerajaan-Nya. Tetapi Yesus pergi ke sana untuk mati di di sana. Ia berkata kepada mereka, hitunglah harganya dan apa arti mengikut Aku yang sebenarnya. Ini disampaikan dengan dua perumpamaan. Kedua perumpamaan ini mengajarkan hal yang sama. penekanannya adalah, khususnya yang pertama. Hitunglah biayanya sebelum engkau mulai membangunnya. Yang kedua, hitung prajurit sebelum perang.

Yesus megajarkan agar mereka menjadi murid2 yang berkomitmen. Yesus ingin para pengikutnya sungguh2 berkomitmen. Ungkapan nanti bagaimana menunjukkan kekhawatiran. Sedanglan ungkapan bagaimana nantilah menunjukkan iman bahwa nanti Tuhan pasti menolong.

Sebuah pepatah Indonesia berkata: sedia payung sebelum hujan. Kita harus mempersiapkan menghadapi hal tersulit di dalam hidup. Bagaimana masa depan kita, mengharuskan kita merencana. Yesus menuntut komitmen dan loyalitas murid-Nya. Ada banyak pengikut Yesus, apakah mereka sudah siap menghitung harga? Yesus memberikan perumpamaan seorang yang membangun menara dan perumpamaan seorang raja yang akan berberang. Yesus mengatakan bahwa jika seseorang memutuskan ingin ikut Yesus, ia harus mengetahui harganya. Leon Morris berkata: pemuridan adalah memberikan loyalitas pertama kepada seseorang. Konteks di sini apakah yang menjadi harga seorang murid:
1. Mengasihi Tuhan lebih dari yang lain.
2. Memikul salib dan mengikut Yesus. Ini setiap hari. Tradisi di kekaisaran Romawi korban harus memikul salibnya sendiri ke tempat eksekusi. Ini berarti bahwa korban bersalah dan pemerintah Romawi tidak.
3. Menyerahkan segala milik kita untuk melayani Tuhan.

Jadi, gimana nanti kehidupan ktia mengikut Yesus, apakah kita setia sampai akhir? Ini ditentukan oleh komitmen kita sekarang.

Seorang rekan pelayanan Billy Graham. Seandainya ia setia mungkin ia akan menjadi terkenal seperti Billy Graham. Ini dimulai dengan seorang wanita Afrika yang menggendong bayi dan bayinya meninggal dunia karena tidak ada hujan. Ini membuat ia mengambil keputusan untuk meninggalkan Tuhan. Ia membuat buku yang berjudul Selamat Tinggal Tuhan. Ketika kita mengikut Yesus tanpa komitmen maka ini akan sangat merugikan.

Ayat 25 pada terjemahan Indonesis seolah memisahkannya dengan bagian sebelumnya. Orang-orang banyak melihat Yesus dan mengikuti Dia dengan motivasi yang salah. Yesus akhirnya berbalik dan mengajarkan tentang pikul salib:
Ia mengatakan bahwa pengikut-Nya harus mengikutnya lebih dari siapa pun. Yesus ingin memurnikan iman para pengikut-Nya. Salib berbicara tentang kematian. Yesus tidak akan benar2 hidup dalam diri kita kalau kita tidak benar2 mati atas kedagingan. Yesus memanggil orang2 yang berkomitmen dan di gereja iman mereka boleh dimurnikan

Setiap orang Kristen sedang membangun dan sedang berperang. Membangun yang penting harus selesai, berperang yang penting harus menang. Zaman sekarang banyak orang Kristen yang gagal mengalahkan Iblis. Di dalam ay. 25 banyak orang berduyun-duyun mengikuti Tuhan Yesus. Yesus tidak optimis dengan orang banyak yang mengikuti-Nya, malah dengan serius menyatakan syarat2 mengikut dia. Banyak tidak selalu bagus. Yesus mementingkan kualitas lebih daripada kuantitas. Di zaman Gideon 32.000 orang menjadi prajurit, tetapi hanya 300 orang yang dipilih karena kualitas. Jikalau kita mengikut Yesus Kita harus memikul salib dan melepaskan segala sesuatu untuk mengikut Dia.

Belakangan ini saya sering menyaksikan Amrozi yang begitu fanatik sekalipun salah. mungkin orang Kirsten tidak banyak seperti dia. Meninggalkan semua untuk mengikut Yesus.

Kita sering mendengar soal komitmen. Dalam konteks ini saya melihat kalau Yesus mengatakan di mana sebenarnya fokusmu dan konsentrasimu. Yesus sendiri adalah seseorang yang sedang membangun. Ia juga berperang melawan Iblis sampai selesai di Golgota. Yesus mewajibkan murid-murid Nya untuk melakukan hal yang sama. ini mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan. Hamba Tuhan juga demikian dengan mengejar sukses dan tanpa memikirkan siapa yang dimuliakan.

Jika kita mengutamakan Kristus, kita barus berfungsi sebagai garam. Betapa banyak orang Kristen zaman sekarang di dalam hidup mereka setiap hari tidak memuliakan Tuhan. Beberapa orang tidak mau menjadi orang Kristen karena orang Kristen tidak menjadi contoh.

Yang saya temukan di dalam perikop ini adalah citra seorang pengikut Yesus. Bagaimana bisnis dan pekerjaanmu mencitrakan kamu sebagai pengikut Yesus. Pemuridan itu hubungannya dengan garam itu. Banyak orang Kristen yang mungkin hebat di dalam bisnis dan pekerjaan tetapi gagal mencitrakan dirinya sebagai pengikut Yesus. Saya menemukan 3 poin:
1. Komitmen
2. Penyerahan total kepada Tuhan. Jika kita tidak melepaskan segala sesuatu mengikut Yesus maka kita tidak akan mencitrakan diri sebagai pengikut Yesus. Saya memiliki teman yang dulunya penjual daun pisang, tetapi sekarang telah memiliki hotel dan armada angkutan, dsb. Sebelum Krisis ia menginvestasikan 1 triliun untuk membangun hotel dan armada-armada angkutan yang baru. Ia berkata bahwa saya rela sekalipun semua ini harus disita karena krisis dan investasi adalah dari bank, karena ini semua milik Tuhan dan awalnya saya juga tidak memiliki apa-apa.
3. Citra sebagai murid Yesus meneladani Yesus. Kita harus bekerja secara tuntas. Orang Kristen harus bekerja secara tuntas, harus sampai jadi, harus sampai kelihatan. Kalau gereja bekerja seperti ini, ia sudah mencitrakan Kristus.

Sia2 berjerih payah, sia2 mengangkat senjata. ini berkaitan dengan ladang pembangunan dan peperangan. Intinya adalah menjadi seorang pengikut Yesus yang sejati. Di dalam hal ini ada tiga hal:
1. Tegas dan Tuntas. Tega mengasihi Tuhan di atas kekasihnya. Pusat perhatian dan pilihan adalah Tuhan, bukan pemberian-Nya
2. Tegas dalam tekatnya. Memikul salib, rela mati, tidak setengah mati.
3. Tuntas. Rela meninggalkan segala sesuatu

Jadi dia bisa menahan emosi dia waktu kasih dan tetap bisa mengekang kasih itu, Tuhan diutamakan. Seekor babi yang dimasukan ke dalam air dan hiding masih muncul maka ia tidak akan mati. Komitmen kita harus penuh:
1. Kita menjadi tertawaan karena tidak selesai
2. Berberang berani mati, tetapi kalah total. Kita harus memiliki perhitungan. Kita harus mencapai keseimbangan. Kalau tahu ada hari ini kenapa hari itu tidak menghitung
3. Tidak usah taku 10.000, takut satu saja di antara sepuluh ribu. Seorang yang menggadaikan rumah untuk meminjam uang di bank akhirnya menyesal setelah di sita. Gimana nanti harus dijawab nanti gimana. Di dalam hal ini ada 7 hal:
a. Berangkat dengan tergesa-gesa
b. Urusan nanti
c. Masa bodoh
d. Pasti ada jalan, asal lewat
e. Spekulasi
f. Untung-untungan
g. Gegabah.

Perikop ini tidak bisa dilepaskan dalam konteks ‘mengikut Yesus”, Yesus pada saat itu sudah mendekati masa penderitaan, dan orang banyak mengikuti Yesus dengan berbagai macam motivasi.Di sini Yesus menekankan tentang prioritas dan harga yang harus dibayar. Leon Morris, bukan harafiah, tapi maksudnya prioritas, terutama.Banyak orang menganggap anugrah Tuhan itu murah bahkan murahan, tapi mahal karena dibayar dengan darah Sang Putra Allah. Sebelum mengikut Yesus, harus dipikirkan dulu, karena ada harga dan salib yang harus dipikul. Jadi sebelum mengambil keputusan, harus dipikirkan terlebih dahulu.

Matius 6:33 Dalam hidup ini kita harus mengutamakan Tuhan. Banyak jemaat juga dalam mengikut Yesus, kadang pasang surut, ketika kesulitan datang, kadang mereka undur lagi. Walau tak mudah mengikut Yesus.

Sesuai thema , kita mesti mantap melangkah menjadi murid Kristus. Jadi tidak sekedar ikut2an, bukan hanya sebagai follower tapi disciple. Kesungguhan dan keseriusan dalam mengikut Yesus diajarkan oleh Yesus melalui 3 perumpamaan.1.membenci artinya:lessly love (kurang mengasihi,karena ada yang lebih bersifat kekal, artinya kasih kita kepada Tuhan harus lebih besar ). 2. Menara (kebun anggur), harus diamati,supaya jangan diserang pencuri.Jadi menjadi murid Yesus mesti setia. 3. Perang:harus ada persiapan khusus.

Pada waktu Yesus memanggil orang mengikutiNya tidak pernah dengan iming2 (janji2), tapi saat ini justru banyak Hamba Tuhan mengajarkan theologia sukses. Bandingkan Matius 10:37, Kalau kita lebih mengasihi bapa,anak lebih dari kasih kita kepada Tuhan, maka kita tidak layak mengikut Yesus.Dalam hukum ke 5,hormatilah ayahmu dan ibumu, Tuhan tentu tidak pernah mengajarkan hal yang kontradiksi.

Dalam ayat 33:demikian pula….. Kalau mau mengikut Yesus harus ada top priority, adalah Tuhan.Yohanes 6:25,26. Suatu teguran yang sangat CS Lewis, kalau kita mengasihi Tuhan dengan sungguh2, justru kita baru bisa mengasihi keluarga kita dengan sungguh2.Kualitas kasih kita justru kasih Allah, justru akan melandasi ,mewarnai kasih kita kepada keluarga.

Perikop ini bicara soal harga seorang murid Yesus. Bukan berarti kita mesti membuang keluarga, tapi kita mesti menyerahkan seluruh yang kita miliki:materi, keluarga, cita2,kepentingan diri, kita serahkan kepada Tuhan untuk melayani dan mengikuti Yesus. Memikul salib: merupakan lambang penderitaan, kematian, kehianaan, cemooh, penolakan, aniaya.