Sabtu, 29 November 2008

Berencana Tanpa Kekuatiran

Berencana Tanpa Kekuatiran (Mat. 6:25-34)
Pembahasan 28 November 2008


John Stott, ia menerbitkan buku yang merupakan kesimpulan dari pelayanannya. Ia menulis di dalam bukunya bahwa khotbah di bukit merupakan bagian yang paling menonjol di mana Kekristenan bertemu langsung dengan kebudayaan. John Stott membagi Khotbah di bukit manjadi 12, khususnya dalam perikop ini ia sebut sebagai Christian Ambition. John Stott mengatakan adalah tidak sulit untuk menjadi relevan jika kita tidak peduli untuk menjadi setia; adalah tidak sulit menjadi setia jika kita tidak peduli untuk menjadi relevan.

Versi saya perikop ini merupakan bagian dari pelayanan Yesus di Galilea. Saya membagi pembahasan ini menjadi 3.
1. The Problem. Apakah masalah yang dihadapai? John Stott menbagi dua bagian ini, ayat 11-24 merupakan ambisi yang salah (duniawi). Kata kuatir (merimna: kata benda) berhubungan dengan meriso, yang artinya menarik ke dalam berbagai arah yang membuat kita pecah. Ini disebabkan dnegan perhatian atau pun kekuatiran. Dengan kata lain, kehilangan fokus karena suatu hal. Karjanya: merimnal, menjadi resah akan sesuatu. Mengapa kita kuatir? Ayat 25, 31, 34 berbicara tentangan kekuatiran. Ada 3 kekuatiran dari dunia ini:
a. Makan
b. Minum
c. Dipakai
Apa sebabnya kuatir?
a. Karena kita tidak tahu yang penting. Kita bisa tahu yang penting jika tahu nilai
b. Hati yang bercabang, yaitu ada dua tuan (Allah dan Mamon).
c. Kurang percaya (ayat 30). Tidak ada pertumbuhan iman, iman kekanak-kanakan
d. Tidak fokus (ayat. 34). Mengkuatirkan yang belum terjadi secara berlebihan.

2. The Reality. John Stott: kita harus waspada dengan apa yang menjadi tanggung jawab iman Kristen:
a. Orang Kristen tidak lepas dari apa yang dia hadapi sehari-hari. Bertanggung jawab bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
b. Orang Kristen juga bertanggung jawab memperhatikan orang lain. Allah memberikan segala sesutu kepada bunga bakung, burung2, dsb.
c. Orang percaya tidak dikecualikan dengan pengalaman kesulitan.

3. The Answer. “Pandanglah burung di langit...” “Perhatikanlah bunga...” “Ingatlah Bapamu yang si sorga...” “Carilah dahulu Kerajaan Allah...”. dsb. (ayat 33). Konsep kerajaan Allah (model, konsep, pembebasan yang real). John Stott: kerajaan Allah adalah Yesus Kristus yang memerintah di dalam seluruh berkat dan iman.
a. Jalan keluarnya adalah cari dulu Kerajaan Allah. Ini hubungannya keselamatan.
b. Carilah kebenarannya. Ini lebih luas dari kerajaan Allah, karena berhubungan dengan pribadi dan sicial righteusness. Selain kita mengalami keselamatan kita juga menjadikan kebenaran-Nya dijalankan. Paul Knitter: ada dua hal yang harus seimbang, yaitu kasih dan keadilan baru ada joy.

Di dalam Natal ini biarlah kita sungguh2 mencari Kerajaan Allah. Biarlah berita Natal membawa mereka memahami konsep yang penting, memahami nilai yang benar.

Tuhan ingin para murid-Nya memiliki kualitas hidup yang berbeda dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, yaitu.
1. Mempercayakan diri kepada pemeliharaan Allah
2. Mengutamakan yang kekal, daripada yang fana
3. Tidak berpusat pada diri, tetapi pada Allah
Tuhan mengingatkan mereka kembali akan betapa berharganya manusia di mata Allah sehingga Ia pasti memelihara mereka. Apalagi mereka adalah umat Allah, Tuhan pasti mencukupkan segala kebutuhan mereka.

Ketika kita membahas kekuatiran. Merimna dibagi menjadi 2, merisa dan nous. Yakobus mengatakan orang yang mendua hatinya tidak akan tenang dalam hidupnya (Yak. 1:8). Yakobus menekankan kekuatiran tidak terkeculi dialami juga oleh anak2 Tuhan. Memang tidak bisa diingkari kehidupan manusiawi kita menuntut kebutuhan jasmaniah. Hanya saja kita perlu mengajak jemat untuk lebih fokus kepada yang kekal, tidak di persimpangan jalan. Seprang pendeta tua pernah berkata berkaitan dengan hal ini
1. Menimbulkan kekuatiran yang luar biasa
2. Tidak mampu melangkah. Kekuatiran dapat digolongkan sebagai penyakit hidup. Tidak ada orang hidup yang tanpa kuatir.
Di dalam Natal ini mari kita mengajak jemaat kepada Tuhan, panggilan Kristus supaya tidak bercabang hatinya.

Zaman ini adalah zaman yang sangat mengundang kekuatiran bagi manusia. Krisis ekonomi sosial politik, agama, membuat otang kuatir, khususnya yang tinggal di Indonesia.
1 Tuhan berkata jangan kuatir karena ini adalah suatu dosa. Tuhan dapat diandalkan. Jika kita masih kuatir kita tidak percaya kepada Tuhan.
2 Kekuatiran itu tidak berguna. “Tidak seorang pun dapat menambah jalan hidup dengan kekuatiran..” Banyak kerugian karena kekuatiran. Seperti Marta tidak ada tempat di dalam hatinya bagi firman Tuhan, karena banyak perkara2 yang lain yang memenuhi hatinya.
Bagaimana kita menjadi orang yang tidak kuatir:
1. Pandangan burung2 di udara
2. Pikirkanlah bungan bakung
3. Carilah kerajaan Tuhan dan kebenarannya
4. Jangan terlalu kuatir dengan hari besok

Saya berpikir apakah perokop ini relevan atau tidak. Perokop ini dengan situasi sekarang rasanya tidak real. Tetapi Roh Kudus menguatkan saya justru inilah yang relevan, karena Tuhan membandingkan dengan orientasi hidup. Apakah ada bedanya dengan orang yang kenal Tuhan dengan yang tidak kenal Tuhan. Realitanya sama denga semua orang, tetapi apa yang kita kejar? Seharusnya berbeda. Kita harus tahu apa yang penting dan nilai yang pening. Orang yang kenal Tuhan ternyata tidak tahu apa yang penting.

Saya akan membahas gaya hidup orang2 yang tidak kenal Tuhan di dunia Greco-Roman pada khobah saya nanti. Saya tidak setuju jika kita tidak merencana di dalam hidup ini. Jika kita tidak berencana, kita merencanakan kegagalan. Bagaimana seorang yang kenal Tuhan bisa tidak khawatir. Pasal 6:78, dikatakan kalau doa pun jangan seperti orang2 yang tidak kenal Tuhan. Alangkah menyedihkan jika orang2 yang kenal Tuhan hidup di dalam kekuatiran.

Para ahli membedakan khawatir atas beberapa macam. Secara umum kita bagi dua saja. Pertama, khawatir yang positif. Khawatir ini adalah realitas emosi yang menunjuk pada tujuan yang lebih besar dan berguna. Mis: ibu khawatir apakah bayinya cukup susah, napasnya normal? Kuning? Maka ia mengasuh bayinya dengan cermat. Seorang murid khawatir tidak lulus ujian, maka ia belajar. Seperti rasa sakit, anxiety adalah sistem peringatan emosi tentang adanya bahaya. Kedua, yang negatif. Worry anxiety. Ia tidak membangun dan tidak berguna. Ia merupakan ketakutan yang berlebih-lebihan atas sesuatu yang tidak mungkin atau hanya ada dalam pikiran.

Orang yang khawatir adalah tanda orang yang kurang beriman (30b little faith). “The beginning of anxiety is the end of faith, and the beginning of true faith is the end of anxiety.”
Rata-rata seseorang khawatir atas hal-hal.
40% -- hal-hal yang tidak pernah terjadi.
30% -- hal-hal yang terjadi di masa lampau yang tidak bisa diubah.
12%-- pendapat orang lain tentang kita, kebanyakan tidak benar.
10% -- kesehatan, yang semakin parah jika kita stres.
8% -- masalah yang memang harus dihadapi.
Selama bertahun-tahun, seorang wanita susah tidur karena dia takut rumahnya kemalingan. Suatu malam, suaminya mendengar suara ribut di dalam rumah, sehingga ia keluar kamar untuk memeriksa. Ia benar-benar bertemu maling. “Selamat malam, senang bertemu kamu. Cepat ke sini dan bertemu istri saya. Dia sudah menanti 10 tahun untuk bertemu kamu.”

Saya pikir konteks khotbah zaman in snaga relevan dengan kondisi jemaat yang sulit. Musuh dari iman adalah kuatir soal kebutuhan fisik, dsb. Hal yang sama dialami pengikut2 Yesus. Saya melihat frase jangan kuatir ini diulang 4 kali oleh Yesus. Semuanya berbentuk present imperative yang sifatnya langsung dan kontinuitas.
1. Kekuatiran berarti tidak percaya akan pemeliharaan Allah atas umat-Nya
2. Kekuatiran hanya membuang energi kita. Seorang filsuf berkata kita berjalan lebih cepat dari bayangan kita. Artinya kekuatiran ini adalah sesuatu yang tidak terjadi tetapi kita memboroskan banyak energi sia2
3. Kekuatiran tidak relevan, tidak menambahkan sesuatu.

Tuhan mendorong mereka ecara total kepada pemeliharaan Allah. Ini tidak meniadakan perencanaan. Bagaimana berencana tanpa kuatir:
1. Percaya akan providensia Allah atas hidup kita
2. Yakin akan janji pemeliharaan Allah. Perhatikan bunga bakung, burung2 di udara.
3. Mengutamakan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Prioritas Kerajaan Allah, bukan soal kebutuhan fisik.
4. Serahkan kepada Allah yang di luar kontrol kita. Allah tidak melarang kita mempuat perencanaan, tetapi kekuatiran. Serahkan melalui doa dan pimpinan-Nya. Di sinilah kita belajar percaya. Yesus tidak pernah berbicara bahwa pengikut2-Nya tidak menghadapi masalah.

Kita dorong jemaat memasuki tahun yang baru sekalipun banyak masalah dengan beriman dengan penyerahan total kepada kehendak Tuhan.

Suatu hari Martin Luther, pemimpin besar gereja itu, merasakan kekuatiran yang amat sangat sampai-sampai ia lupa bahwa Allah sanggup menolongnya keluar dari masalah-masalah itu. Kemudian Pada Suatu pagi ia melihat isterinya memakai pakaian hitam-hitam layaknya orang yang sedang berkabung. Luther bertanya "Siapa yang meninggal?". "Kamu belum tahu? Allah telah meninggal" jawab isterinya. "Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu? Allah tidak mungkin mati. Ia hidup dalam kekekalan. Sungguh jahat kamu berkata seperti itu." Istrinya menjawab: "Lalu mengapa akhir-akhir ini kamu dihantui kekuatiran kalau Allah itu tetap hidup?" Saat itu juga Luther menjadi sadar betapa bijaksananya isterinya yang ingin menyampaikan bahwa sebenarnya Allah tidak akan mengijinkan kita anak-anakNya kuatir tentang apapun juga.
Kuatir menakutkan lebih banyak orang ketimbang kecelakaan kerja, kata Rober Frost. Alasannya, lebih banyak orang yang penuh kuatir dari pada bekerja penuh. Dampaknya, kuatir sering mengantar orang pada kegagalan.
Kuatir sangat dekat dengan ketakutan lalu lahirlah kegagalan.
Bila kita mengisi hati kita dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekuatiran untuk masa depan, kita tak memiliki hari ini untuk di syukuri.
Kenyataan seringkali tidak seburuk yang dikuatirkan.
Tak ada orang akan tenggelam oleh beban suatu hari. Tetapi bila beban esok ditambah ke beban hari ini, tak ada orang yang sanggup menanggungnya. George Macdonald
Kekuatiran tak akan melenyapkan kesedihan esok, tetapi akan menghilangkan kegembiraan hari ini. Leo Buscaglia
Sehari kuatir lebih melelahkan daripada seminggu kerja.John Lubbock
Petrus mengatakan apa yang harus kita lakukan dengan semua kekhawatiran kita. Kita harus menyerahkannya kepada Tuhan. "Serahkan semua khawatirmu padaNya." artinya "menyerahkan kepada " atau "mempercayakan kepada." Kita harus menyerahkan kekhawatiran kita –pada Tuhan.
1Pe 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Kedamaian yang sejati
Ada seorang raja yang akan memberikan hadiah pada seniman yang dapat membuat suatu lukisan terbaik tentang kedamaian. Banyak seniman yang mencoba. Raja melihat semua lukisan itu. Tetapi hanya ada dua yang ia suka, dan ia harus memilih salah satu di antaranya.
Salah satu lukisan menggambarkan danau yang tenang. Danau itu bagaikan cermin yang sempurna bagi gunung-gunung yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Di atasnya langit biru dengan awan di sana-sini. Semua orang yang melihatnya akan berpendapat itulah lukisan yang sempurna tentang kedamaian. Lukisan yang satu lagi menggambarkan gunung-gunung juga, tetapi tampak tegak, angkuh dan kasar. Langit hitam berawan gelap, ada halilintar di situ. Di bawah ada air terjun yang airnya bergejolak. Tampak tak ada kedamaian sama sekali.
Tetapi raja melihat di belakang air terjun ada sarang burung. Di antara riak gejolak air, duduk seekor induk burung yang sedang memberi makan pada anaknya – dengan penuh kedamaian. Lukisan yang mana yang Anda kira akan memang? Raja memilih lukisan yang kedua.
“Karena,” kata raja, “damai bukan berarti tempat yang tidak ada kegaduhan, permasalahan dan kerja keras. Kedamaian berarti bila di tengah-tengah semuanya itu tetap ada ketenangan di hati dan tanpa kuatir. Itulah makna sejati kedamaian.”
Kekuatiran adalah upaya untuk melindungi diri seperti selimut. Dengan kuatir seolah-olah kita berjaga-jaga. Kekuatiran itu seperti alarm dan seringkali tidak terjadi. Antara kekuatiran dengan ketakutan, secara psikologi dibendakan menjadi dua, yang memiliki objek dan tidak memiliki objek.

Penyebab kekuatiran. Jilius Caesar mengatakan biasanya banyak orang kuatir karena hal yang tidak dilihatnya. Penyebab kekuatiran juga banyak karena masa lalu. Bagaimana mengatasi kekuatiran ini? Kekuatiran bukan untuk dihilangkan tetapi dilawan. Ada 2 hal:
1. Kedepankan fakta
2. Lawanlah kekuatiran dengan tidak memberikan perlawanan. Artinya berserah bahawasannya kekuatiran itu akan hilang

Rasa kuatir itu datang seperti cinta. Ditampung menyusahkan hati, diusir tidak mau pergi2. Seorang filsuf mengatakan bahwa kekuatiran itu seperti tulang yang lebih di dalam tubuh dan membuat tidak nyaman. Kekuatiran itu menyatakan ketidakpercayaan kepada Allah. Tuhan berkata serahkanlah (Yunani: lemparkanlah) kekuatiran kita kepada Allah. Kita kuatir karena kita semakin tertambat kepada dunia ketimbang kepada Allah. Dua kunci yang harus kita lakukan sebagai anak2 Tuhan:
1. Berdoa
2. Mempraktikkan penyerahan diri yang terus-menerus kepada Allah

Empat pencuri yang menghancurkan kehidupan manusia:
1. Keadaan (yang tidak bisa dikendalikan)
2. Sesama
3. Harta benda
4. Kekuatiran. Ini paling jahat dibandingkan yang lain karena bekerja di dalam diri manusia. Salomo mengatakan bahwa kekuatiran itu membungkukkan badan orang.

Kekuatiran itu tidak pernah berdiri sendiri. Pikiran itu selalu berobjek hanya saja sering tidak disadari. Apa dan mengapa kuatir khusunya pada zaman ini. Di sini kita melihat kuatir dan mencari. Lantas ditutup carilah. Kekuatiran selalu membuat priorotas, yang menentukan itu pada akhirnya nilai.

Kita lihat sebenarnya manusia itu cenderung mengidentikan dirinya dengan objek. Kuatir uang jadi kita sama dengan uang, dsb. Tatkala sesuatu yang kita miliki itu lebih dari kerajaan Allah di sanalah kita mulai kepada sikap berdosa.

1Nilai yang bernilai: Hidup itu lebih penting dari makanan dan à burung-burung

Tubuh itu lebih penting dari pada pakaian. à bunga bakung

Latar belakang dari ungkapan Yesus dalam ayat 25 “karena itu...” Ia memulainya dari apa yang baru saja dibahasnya. Orang menghabiskan waktu dan hidupnya hanya untuk harta dan segala sesuatu yang pasti binasa, serta bisa dicuri bahkan disimpan dimanapun juga bisa dibongkar. Untuk menegaskan itulah maka Yesus berbicara cukup panjang dan tegas serta lugas.

Perlu diperhatikan bahwa kuatir tidak sama dengan waspada. Waspada itu penting agar kita tahu berencana, karena tanpa waspada orang tidak suka berencana. (Yakobus 4:13-17)

2Percaya yang mempercayai: Tuhan Yesus mau kita menaruh kepercayaan penuh kepada Allah. Dan Ia menyebutnya dengan sebutan yang memiliki relasi à Bapamu yang disorga. (2 Petrus 3:8-9). Tuhan Yesus sendiri pernah dicobai mengenai segala sesuatu tentang dunia ini waktu Iblis berkata “aku akan memberikan seluruh dunia ini dan isinya jika engkau sujud meyembah kepadaku” (Mat 4:8-11). Kuatir itu akan pergi dengan sendirinya bila kita percaya kepada Bapa yang di sorga bukan bapa yang di bumi ini.

3Kerajaan di dalam Kerajaan: tidak bisa disangkal bahwa manusia suka dengan teritorial. Hak, kuasa dll. Tetapi Tuhan Yesus memberitahukan bahwa kalau kita mencari sesuatu untuk membangun kerajaan bagi kita, carilah kerajaan Allah dan kebenaranya (kerajaan Allah tidak dapat dipisahkan dari kebenaran Allah, orang yang berkata bahwa ia telah berada di dalam kerajaan Allah, harus membuktikan bahwa ia hidup dalam kebenaran kerajaan Allah) mencari kerajaan Allah tanpa kebenarannya tidak akan pernah dapat membawa kita untuk menemukan kerajaan Allah.

* Milikilah nilai hidp yang sesuai dengan pandangan Allah, karena itu akan membawa kita kepada mempercayaiNya dan memiliki kerajaan dan kebenarannya.

Dimulai ay 19-24 tentang mengabdi kepada Allah atau Mamon, ketidak berdayaan manusia untuk mengantungkan hidupnya kepada Mamon (harta-kuasa- keniknatan dunia) . Dan usaha manusia mendekati Tuhan dengan hidup bergantung pada mammon. Pada umumnya manusia bisa membagi prioritas dalam kehidupan ini. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan engkau tidak bisa mengabdi kepada dua tuan kepada Allah dan kepada mammon . Karena dimata hartamu ada di situ hatimu ada.
Kemduian ay 25 di mulai memberikan alasan yang seharus memnjadi prioritas dengan memberikan urutan bahwa HIDUP (Nyawa) itu lebih penting dari makan dan minum.. kalau tdk ada kehidupan apa arti makanana dan minuman apa yang akan diberi makan dan minum kalau manusia tdk bernyawa lagi dan TUBUH lebih penting dari pakaian tdk ada gunanya pakain yang indah dan mahal tanpa tubuh.
Ay 26 TUHAN Jesus kemudian compare dengan burung yang tdk menabur atau menuai atau mengumpulkan bekal tapi diberikan ,akan Bapa disorga bukan kah manusia lebih berharga dari burung?
Burung dan Manusia siapa lebih berharga?
Ay 27 Apakah kekuatiran membuat perubahan atau manambah sehasta kehidupan?
Ay 28 tentang Pakaian dibandingkan dengan rumput ? mereka tumbuh tanpa bekerja dan memintal, Tp di badingkan dgn Salomo raja yg kaya itu tdk berpakaian dari salah satu bunga itu.
Bunga tidak pernah memakai baju atau memijam cara manusia berpakaian tp manusia memakai bunga.
Ay 30 Jika Hal yg sepele begitu di perhatikan Tuhan bukankah bukan DIa terlebih lagi mendandani manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Persoalan KAMU Kurang PERCAYA?
Ay 31-32 Hal-hal yang kamu kuatirkan adalah hal yang adalah hal –hal yg di utamakan oleh orang tidak mengenal Allah ( prioritas orang tidak percaya)
AY 33 Pucak-Nya Orang Percaya TOP Prioritas nya adalah MENCARI KERAJAAN ALLAH DAN KEBENARANNYA.. Maka makan dan minum-akan di tambahkan..
Ay 34 Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari- Tuhan yang mengcover
Pasti ada kesusahan dalam kehidupan ini kita tidak punya kuasa mengerti apa yng terjadi pada hari Esok
Maka orang benar hidup oleh Iman percaya kepada Allah bukan kepada apa yg di lihat.


Ayat sebelumnya  tak bisa mengabdi pada 2 tuan (v 24).
Yesus suka membuka pikiran dengan cara perbandingan.
Hidup > makanan.
Manusia > binatang / tumbuhan.
Orang beriman > orang yang tak mengenal Allah.
Orang beriman hendaklah berfocus pada kerajaan Allah (puncak, v 33), bukan pada kehendak diri.

Tubuh > pakaian.
Orang Papua kalau diberi pakaian, malah sakit.
Jadi orang Papua tak mandi.

Kekhawatiran karena manusia jatuh dalam dosa.
Orang yang hidup di zaman yang canggih, makin kaya, makin pandai, justru makin banyak khawatir.
Orang yang hidup sederhana, yang memikirkan hidup dari sehari ke sehari, lebih tidak khawatir.
Krisis global melanda orang yang hidup di zaman canggih, membuat orang khawatir.
Orang yang lebih banyak ilmu, lebih banyak tahu, lebih banyak bisa memikirkan mengenai apa yang akan terjadi di masa depan (meramal), sehingga lebih banyak khwatir, padahal belum tentu terjadi.

Maka Tuhan mau kita hidup:
1. Sederhana.Ada Tuhan di balik segala sesuatu.
Tidak hidup complicated, tapi simplicity.
2. Berserah.
3. Trust (v 34).
Hidup sehari demi sehari.
Setiap hari berjalan bersama Tuhan.

Hidup manusia banyak dikuasai oleh keinginan, bukan kebutuhan.
Tuhan pasti memenuhi kebutuhan kita.
Kita khawatir karena ingin memiliki keinginan dunia yang mengikat kita.
Itu namanya kekhawatiran yang tak perlu.

Perikop ini ada dalam rangkaian khotbah Yesus di bukit.
Konsep hidup harus diperbaharui  egocentric berubah menjadi Theocentric.
2 perubahan yang Allah kehendaki:
1. Berhentilah khawatir.
Khawatir dapat dikendalikan.
Berhenti memikirkan hal-hal dunia ini, yang sementara, karena ada hal yang lebih penting.

2. Cari dahulu kerajaan Allah.
Cari dahulu = prioritas.
Memprioritaskan kehendak Allah, sehingga kehendak Allah dapat dinyatakan dalam hidupnya.
Ia yang dikuasai oleh kehendak Allah, bisa keluar dari hal-hal yang menguasainya selama ini, yaitua kekhawatiran hidup.

Kebenaran Allah.
Menjadi berkat dan berbuah, menjadi manfaat bagi sesama manusia.

2 hal yang dapat kita pelajari:
1. Percaya / tak khawatir butuh latihan yang panjang.
Khususnya dalam kondisi krisis global, kita melatih diri kita untuk tak khawatir.
Pengalaman berjalan dengan Tuhan di tengah krisis, membuat kita kuat.
Pengalaman pribadi Bu Ester, dari kelimpahan, setelah papa sakit, kehilangan semua, tapi mama melatih untuk pasrah pada Tuhan.
Sebelum tidur, mama mengajak doa.

2. Cari dulu Tuhan.
Dalam kekhawatiran, jangan mengedepankan khawatir, tapi kehendak Tuhan.
Pengalaman pribadi, bagaimana harus memberi persepuluhan, walau sebenarnya tak cukup untuk membayar biaya sekolah anak ke America.
Tapi, Pdt. Hanna mengingatkan, bahwa dalam keadaan yang sulit, tetap harus taat.

Khawatir adalah hal yang wajar dan universal.
Semua orang pernah dan sering khawatir memikirkan mengenai hal-hal sehari-hari (sandang pangan).
Tapi, Jesus mengingatkan supaya kita jangan khawatir, sehingga mengambil sukacita kita, menguasai kita.
Khawatir ternyata sia-sia, karena tak bisa menambahkan apa-apa dalam hidup kita.
Ada 365 janji Tuhan mengenai “Jangan takut” = setiap hari Tuhan mengingatkan bahwa kita jangan khawatir = penghiburan Tuhan dari sehari ke sehari.
Ada Tuhan yang hidup, yang berkuasa, yang memelihara dan memperhatikan kita.
Tuhan yang berjanji, Ia yang akan menggenapi.

Ada iklan di TV, jangan khawatir, karena benih unggul, pupuk bersubsidi, dan harga jual dinaikkan pemerintah.
1. Stop.
Jangan terlalu cepat melangkah dan merencanakan hidup kita.
Mungkin kita sudah terlalu jauh berjalan sendiri dan tidak pada jalur yang seharusnya.

2. Pandanglah.
Change view.
Petrus melihat Yesus, bisa berjalan di atas laut, begitu melihat gelombang, mulai tenggelam.
Karena, ia mengalihkan pandangan.
Daud juga tak melihat Goliat, tapi melihat Tuhan.

3. Renungkan.
Manusia itu diciptakan lebih tinggi dari binatang dan tumbuhan, tapi, manusia lebih “Lemah” dari mereka, karena manusia khawatir, mereka tidak.

Kesimpulan
Jangan khawatir!!!