Jumat, 01 Agustus 2008

Bumi Pertiwi Tercinta

Persekutuan Hamba Tuhan 1 agustus 2008


Bumi Pertiwi Tercinta
Yesaya 1:7-9; 16-18

1. Nama Yesaya dalam ibrani, Yesya Yahu: Allah keselamatan. Nama ini sengaja saya kutip karena ada hub dengan misinya. Temanya Yesaya ada dua: 1. keselamatan ada dalam Allah penebus, bukan perbuatan manusia. 2. Yesaya memberitakan bahwa Allah Yang Mahakudus tidak mengijinkan kecemaraan terjadi di antara mereka. Yesaya ternyata banyak memiliki doktrin tentang Krsitus yang begitu detil sehingga para ahli menyebutkan bahwa dia disebut the evangelical prophet. Maka secara garis besar, khotbahnya pada bagian pertama adalah tentang pemberontakan yang dihadapkan dengan penghukuman dan anugerah (7-10). Tetapi pada ayat 16-18 adalah anugerah. Ada beberapa catatan penting pada pasal 1-20: pertama dalam ayat 4: ini dinyatakan bahwa umat pilihan yang seharusnya memiliki karakteristik Allah telah sampai pada masa krisis sehingga berubah menjadi pelaku kejahatan. Akar penyebabnya adalah mereka telah meninggalkan Tuhan. Bahkan mereka berani menjauhi Tuhan. Kedua (7-9): diungkapkan akibat sikap mereka menjadi penghancuran atas Yehuda. Ada catatan yang menarik dalam ayat 9: kata sedikit orang menunjuk kepada ramnon akan muncul sang Tunas yaitu Kristus. Jadi Tuhan masih beri kesempatan kepada umat yang hancur itu. Bagaimana caranya? Ada 4 hal yang penting diperhatikan:
a. bangsa itu harus bertobat (1:16) bertobat artinya berbalik 180 derajat.
b. memperbaiki dan menjaga moralitas (ay.17). Mengendalikan artinya bukan membiarkan kekejaman. Memperjuangkan kesejahteraan umum.
c. belajar menjadi bangsa yang taat (ay.19-20), artinya mau terbuka, iklusif, tidak melawan dan berontak, belajar tertib dan teratur.
d. mereka diajak kembali ke jalan Tuhan (ay.18), memohon belas kasih Tuhan adalah perkara penting dan mengakui segala dosa dan kembali ke jalan Tuhan.

2. Menarik bahwa orang Israel tetap beribadah kepada Tuhan (ay.13-15). Manusia terjebak dengan ritual, karena dianggap sebagai alat untuk menyuap Tuhan. Antara ibadah dengan kehidupan real tidak seimbang. Oleh karena itu, Tuhan berkata dalam ay.14. selanjutnya pada ayat 18 menjadi puncak, pertobatan menjadi hal krusial. Negeri ini pun demikian, satu sisi mereka menyembah Tuhan tetapi satu sisi mereka membunuh orang. Barangkali kita juga terjebak dalam konsep yang sama. Jadi ada dua poin, 1. 2. pertobatan lebih penting daripada tingkah laku agama.

3. Ada dua bagian penting, tentang kasih dan anugerah.
Kasih Tuhan mencakup beberapa hal: pemeliharaan-Nya tetapi aspek lain juga menegur. Kasih Allah ini membuat umat untuk memandang supaya umat melihat anugerah Allah. Perintah lainnya jelas bhwa mereka harus bertobat. Message kebangsaan menjadi penting dalam keadilan. Dalam Daniel jelas bahwa takhta mesianis kokoh dalam keadilan.

4. Inti dari berita yang disampaikan adalah penghukuman Allah atas Israel. Yang menarik dari awal pasal 1 sampai terakhir intinya sama, yaitu Allah menghukum Israel karena pemberontakan. Intinya karena tidak ada pengenalan akan Allah.
Dalam sila pertama dan pembukaan UUD, core-nya sama, yaitu Tuhan. Hal ini tidak berbeda dengan bangsa Israel, kita tahu Tuhan tetapi pengetahuan itu tidak sampai pengenalan maka hal itu hanya sampai isinya, hanya kulitnya saja. 2) adanya hajaran Tuhan, dinyatakan dalam istilah ayat 7 negara Israel akan hancur, dihukum dengan api. Banyak penafsir: berkaitan dengan hukuman melalui Edom, kerajaan Isarel utara, Filistin, Syria, Babel. Semua bangsa ini dikirim untuk menghajar Israel supaya mereka sadar bahwa ada sesuatu yang salah. Sehingga diharapkan Israel bertobat kembali kepada Tuhan. Namun, sayang hajaran ini tidak membuat mereka bertobat, manusia biasanya jatuh dalam lingkaran yang sama.

5. Suara kenabian Yesaya yang merupakan kelu kesah dan hardikan terhadap umat Israel yang dapat diringkas dalam 4 hal:
a. mereka dipilih untuk menjadi bangsa yang kudus, tetapi sebaliknya mereka menjadi bangsa yang bergelimang dengan dosa (Kel 19:6)
b. mereka menyebut diri umat Allah, tetapi perilaku mereka tak ubahnya “kaum yang sarat dengan kesalahan” (Bil 16:41)
c. mereka disebut keturunan Abraham, tetapi kenyataannya mereka keturunan si jahat (bdk. Yoh 8:33, 39, 44)
d. mereka seharusnya hidup sebagai anak Allah, tetapi kenyataannya mereka berperilakua buruk seperti anak-anak dunia.

Ada 3 poin (3 H):
a. Hati yang dipulihkan: hukuman atas dosa, healing and restoration, akibat-akibat dosa umat Tuhan (ay.2-9)
b. Hubungan yang benar: Allah muak dan jijik dengan ibadah umat-Nya, sikap umat Tuhan dalam ibadah . JI Packer pernah mengatakan bahwa “ibadah sejati adalah menyadari siapa Tuhan dan siapa saya”
c. Harapan yang terbentang: cara Allah di dalam anugerah-Nya merangkul dan memulihkan kembali umat-Nya Israel, sebagai umat pilihan-Nya dan biji mata-Nya.

6. Babel sejak PL dikenal sebagai Kerajaan iblis, ketika Yehuda jatuh kepada Babel mereka sedang jatuh kepada kerajaan Iblis. Sehingga mereka perlu diselamatkan. Tapi pertama, mereka harus bertobat. Menyadari keberdosaan:
a. Pertobatan adalah harga mati.
b. Melatih diri untuk tindakan yang nyata berbuat baik.
c. Pemulihan dari Allah, di dalam Tuhan tidak ada dalam perbuatan baik.
d. Perbuatan baik tidaklah menjamin bahwa kitabenar di hadapan tuhan didasarkan atas anugerah Tuhan dan kasih Tuhan.

7. Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa kekristenan tidak pernah hidup dalam ruang hampa yang steril dari bobroknya dunia ini. Dari semula kekristenan lahir dalam dunia yang begitu jahat dan untuk itulah kekristenan eksis. Calvin berpendapat, Negara dan Gereja masing-masing independen, namun karena tunduk kepada Allah maka masing-masing harus saling melayani. Gereja dan Pemerintahan sangat terkait dan saling mempengaruhi satu dengan lain.
Apa arti negarawan sesungguhnya? Jenis manusia yang secara total hanya mempersembahkan hidupnya bagi negara? Ataukah ia orang berkemampuan adimanusiawi yang mampu menyelesaikan setiap persoalan bernegara? Apa yang harus dilakukan seseorang agar bisa menjadi negarawan?Kata “negarawan” memiliki pemahaman tentang satu sosok orang yang begitu agung tokoh yang membersitkan aura, menghimpun seluruh energi bangsa untuk mendatangkan rasa terhormat. Konon Soekarno adalah negarawan. Apa hasilnya? Negeri ini hampir bankrut membiayai nama besarnya. Soeharto juga dianggap negawaran. Hasilnya, Indonesia nyaris lenyap dari sejarah dunia. Pada dua kasus ini, konsep negarawan pada titik terjauhnya jadi identik dengan kekuasaan yang total, dan bengis, kemudian hangus. Yesaya adalah seorang negarawan yang sejati
Soe Hok Gie (17 Desember 194216 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 19621969. Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, RRT. Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian.
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya. (1983).
John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).
8. Bangsa Israel adalah umat pilihan Allah yang dipanggil mulai dari Abraham yang dijanjikan akan menjadi bangsa yang besar yang diberkati Tuhan supaya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Musa menulis: “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Allah memilih mereka bukan karena mereka pintar, kaya dan lebih unggul dari bangsa lain, melainkan supaya mereka menjadi bangsa percontohan, sebuah gambara tentang bagaimana Allah berhubungan dengan bangsa-bangsa lain di bumi. Selain itu, Allah memilih Israel juga supaya melalui mereka, Mesias datang ke dunia.
Namun, di tengah perjalanan hidup mereka, sebagai umat pilihan, Israel lupa akan tugas dan tanggung jawab mereka yang dulunya diberkati dan sekarang mereka harus menjadi saksi dan berkat bagi bangsa di sekitar mereka. Kini mereka justru menjadi kutuk dan batu sandungan. Mengapa? Karena mereka telah menjalani suatu kehidupan yang memberontak kepada Allah. Mereka tidak setia dan tidak taat kepada perintah-perintah firman Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Mereka telah melakukan dosa penyembahan berhala dan dosa moralitas (mis. Berzinah, berbuat jahat, melakukan ketidakadilan terhadap anak yatim dan para janda serta membunuh orang lain.
Ayat 2à mereka memberontak kepada Allah
Ayat 3à mereka tidak mengenal Allah
Ayat 4à mereka berpaling dari Tuhan
Ayat 4à mereka menjalani kehidupan dengan tingkah laku dan moralitas yang jahat dan berdosa kepada Allah yang dilukiskan seperti kejahatan orang-orang di kota Sodom dan Gomora (ay.10).
Ayat 13, 15à mereka berbuat jahat dan membunuh (ay. 4, 13. 16-17).
Celakanya, meski hidup di tengah kondisi yang bobrok, jijik, nazis dan kotor, bangsa Israel tetap menjalankan/melakukan aktivitas keagamaan mereka dengan tekun, rajin dan setia (ay. 11-15).
a. Mereka tetap membawa korban persembahan kepada Allah di bait suci (ay.11-13a).
b. Mereka tetap menghadiri pertemuan-pertemuan pada hari Sabat (ay.13b-14).
c. Mereka tetap berdoa dengan setia (ay.15).

Alhasil, Allah yang dulunya menetapkan persembahan korban, tetapi justru kini Ia menolaknya; Ia yang menetapkan/menguduskan hari Sabat, kini justru Ia membenci pertemuan umat-Nya di hari Sabat; Ia yang memerintahkan agar umat-Nya berdoa dan berjanji menjawabnya, kini justru Ia memalingkan muka-Nya dan tidak mau mendengar doa-doa umat-Nya. Akhirnya Ia menjatuhkan hukuman/murka-Nya atas umat Israel.
Dalam kondisi demikianlah nabi Yesaya melayani. Ia melayani sebagai nabi pada waktu bangsa Israel perbagi jadi dua kerajaan (Kerajaan Utama/ Israelà ibu kotanya di Samaria; Kerajaan Selatan/ Yehuda à ibu kotanya Yerusalem. Kedua kerajaan ini melakukan dosa di mata Tuhan seperti melawan Allah dengan berbalik dariNya kepada berhala, melakukan ketidakadilan dan menindas orang miskin.
Alhasil, akhirnya murka Allah turun atas umat Israel. Kerajaan Utama (Israel atau Samaria) ditawan ke Asyur sekitar 722 BC. Kerajaan Selatan (Yehuda) ditawan ke Babel sekitar 586 BC (ay.7-9).
Hubungan harmonis antara umat percaya dengan Allah akan membawa dampak bagi kelangsungan hidup sebuah bangsa.
Demikian juga dengan kehidupan kekristenan kita hari ini, di mana hubungan kita yang baik dan harmonis dengan Allah akan membawa dampak bagi kesaksian yang baik di tengah keluarga, lingkungan rumah tangga, di tempat kita bekerja dan bahkan seluruh bumi pertiwi tercinta Indonesia.

Hari ini marilah kita belajar bersama dari firman Tuhan yang diambil dari Yesaya 1:1-20.
Dalam konteks ini kita melihat bagaimana hubungan harmonis antara umat dan Allah akan membawa dampak bagi kelangsungan hidup suatu bangsa, kita melihat relevansi tema kita, kita dipanggil untuk menjadi berkat bukan untuk egois menikmati sendiri. Menjadi berkat bagi Indonesia, dalam lingkup kecil keluarga dalam lingkup besar adalah negara. Jadi bagaimana caranya menjadi berkat?
a. setiap dosa membawa konsekuensi hukuman Allah. Jemaat harus menyadari keberdosaan mereka akan membawa dampak
b. Allah telah menawarkan solusi dalam dosa manusia (10-18). Ini adalah panggilan anugerah untuk bertobat. Di kala manusia jatuh bangun dalam dosa ada pengharapan bahwa Allah tetap memanggil untuk menerima anugerah-Nya.
c. manusia harus merespon panggilan Allah dengan hati yang hancur

9. Ada dua hal penting, yaitu national building dan spiritual building:
nation building: bangsa Israel telah hancur dimana negeri itu menjadi sunyi orang asing memakan hasil bumi. Ini yang perlu diperhatikan, bahwa konsep membangun negeri yang hancur tidak lepas dari konsep pembangunan spiritual. Yesaya menyerukan dua hal penting ini, tapi bagaimana mungkin jika semakin hari semakin jauh dari Tuhan. Yesaya tidak berhenti sampai disana tapi juga ada seruan pertobatan, itulah yang menjadi solusi awal. Tapi juga harus ada buah pertobatan agar mereka mengusahakan keadilan dan mengendalikan orang yang kejam.

10. Hati-hati supaya kita tidak hanya melayani tema, dan tidak melayani Firman. Inti yang sangat indah adalah restorasi dan transformasi dimana konteksnya adalah kovenan dimana Allah yagn berperkara. Kovenan selalu sifatnya adalah anugerah, Allah yang mau berjanji keapda manusia yagn tidak berarti. Dalam kondisi Israel yagn terpuruk tetapi Tuhan yang aktif. Yesaya dalma hal ini menjadi agen-Nya. Allah mengehendaki transformasi menjadi sesuatu yang jelas, total dan renewal. Ada aspek dari Tuhan tapi ada bagian manusia di dalam transformasi bahwa mereka dipanggil untuk memperbaharui diri mereka sendiri, menyadari keadaan mereka sendiri, menghentikan kebersalahan mereka.

11. Bicara tentang bangsa merupakan pergumulan besar. Jadi masalah disini adalah raja-raja yang tidak takut akan Tuhan. Dia membawa bangsanya untuk jatuh membelakangi Tuhan. Dalam konteks Indonesia, jemaat tidak masuk ambil bagian dalam kehidupan bangsa karena dari kecil sudah diintimidasi. Bulan Agustus ini merupakan kesempatan untuk ambil bagian masuk dalam government menjadi kepanjangan tangan Tuhan. Suatu buku tentang Obama, letaknya di government bukan gereja dalam kesejahteraan bangsa. Peran gereja dan negara menurut Calvin terpisah tetapi di jaman hakim-hakim menjadi satu. Seharusnya ada orang-orang kita ada dalam struktur pemerintahan, jika tidak kita hanya bicara di balik tembok saja.

12. Saya mengawali dengan pergumulan kontemporer. Mengutip Wimar Witoelar: dari soros sampai sosro, yaitu:
C: capital- tidak lepas dari batas teritorial termasuk Indonesia menjadi sasaran negara maju untuk penanaman modal.
C: company- munculnya perusahaan raksasa seperti Microsoft.
C: competition- ayam goreng McD dengan ayam goreng Suharti.
C: comunication- transfer kebudayaan menjadi tidak terbatas dan tanpa filter.
Gereja yang adalah komunitas dari tanah air, sudahkah kita menjadi icon untuk menjadi solusi dalam setiap masalah, untuk menjadi suatu fungsi yang jelas.
kemampuan personal yang belum terkendali: dalam khotbah Pak Caleb ada hal yang disebutkan, yaitu potential thingking: inspiring untuk melihat ada apa di balik sesuatu. Israel pada saat itu terpuruk, dan hidup keagamaan tidak menadi solusi bahkan memperlihatkan bahwa bangsa kafir semakin berkembang.

13. Yesaya membawa suatu semangat harapan, suatu keadaan yang hancur ia tetap menyerukan suatu harapan pembaharuan. Baru-baru ini media massa memberitakan peringatan ulang tahun Nelson Mandela: dia adalah orang luar biasa, ia di penjara 20 tahun tetapi harapannya tidak kandas. Jika kita punya semangat harapan untuk berdoa bagi negeri ini adalah suatu harapan yang besar. Dalam hal ini juga ada seruan moral: dalam kehidupan Israel, mereka mengenal kehidupan agama, tapi tidak menajdi jalan memerangi dosa tapi menjadi jalan untuk memaklumi akan dosa. Seperti Indonesia, agama menjadi jalan kompromi untuk keluar dari dosa. Persis seperti kondisi di jaman Yesaya, sumber sebagai suatu self excuse.

14. Ada tiga hal:
Israel memiliki status istimewa di hadapan Tuhan. Ternyata mereka behenti dalam status sebagai milik Tuhan. Dalam Bumi pertiwi tercinta juga tidak hanya berhenti sampai status, kita menjadi bagian tetapi persoalannya adalah apa yang dapat kita berikan. Dalam implementasi iman kita adalah bagaimana kita hidup sebagaimana Tuhan kehendaki dan bukan menanti apa yang Tuhan ingin berikan.
Suatu tragedi karena status yang begitu dekat dengan Tuhan menjadi alat pencemaran di mata Tuhan. Jika dekat dengan kebenaran seharusnya kebenaranlah yang mengalir, tetapi persoalan manusia bukanlah tidak tahu tapi bagaimana hidup dalam kebenaran Allah. Ada harapan: bahwa dalam bagian ini tetap konsisten tetap memiliki Israel dan memberi harapan dan menempatkan Israel begitu istimewa. Tapi apakah kita mau mengambil kesempatan itu untuk memainkan peranan yang Tuhan kehendaki.

15. Pada ay.16 . Tuhan bilang sudah bertindak segalanya tapi kita tidak bertobat. Manusia tidak mampu berbuat apa-apa, tapi bekerja lewat orang yang kudus. Yesaya juga melihat bahwa dirinya juga adalah orang yang tidak suci dan berada ditengah orang yang tidak suci. Karena di dalam diri kita juga belum taat dengan sungguh. Tetapi di dalam ay.20 disebutkan sungguh Tuhan yang mengucapkannya.

16. Bangsa yang berdosa, rakyat yang durhaka dan anak-anak yang rusak moral karena meninggalkan Allah dan menistakan Dia, hati mereka jauh dan langkah mereka mundur dari Dia yang maha kuasa.
Tatkala raja tidak menjawab, imam tidak menjadi harapan, nabi dimunculkan Tuhan agar mereka kembali pada jalan yang benar, hidup dalam terang sesuai dengan Firman menjadi anak-anak yang terkasih, pertobatan membawa bangsa back to bible, to basic, to God. Pada bulan mantap bernegera, menjelang HUT RI ke-63, bangsa ini perlu kembali kepada Tuhan agar hukum, politik, ekonomi, keamanan terpulihkan kembali sebagai bangsa yang terpilih dan terpandang.
Calvin menjadikan Geneva sebagai the city of God, Abraham Kyper menjadikan Amsterdam kota penyataan kebesaran Allah melalui politik, kebudayaan, hukum, edukasi, dan ekonomi, Francis Sheaffer menjadikan dunia ini our Father’s world, meraih dan merangkul semua cendekiawan dari pelbagai bidang ilmu, sastra, seni, budaya, saintist, technocrat kristen memberi pengaruh kepada dunia, we are the citizen of the world perlu juga menjadi nabi di jaman kita agar orang-orang yang hidup bersama dengan kita dapat meninggalkan kesia-siaannya (Yeremia 2:5).
Restorasi bangsa hanya dapat dimulai dengan pemulihan hubungan dengan Allah. Di jaman Jonathan Edward orang berdosa di hadapan Allah yang maha dahsyat bertobat, di jaman John Wesley semua tempat maksiat tutup, Charles Wesley menggubah lagu membawa pertobatan yang nyata (perlu kita perhatikan lagu yang dipakai di gereja kita, karena seperti Fanny Crosby dengan gubahannya dapat menyentuh jiwa dan membuat orang bertobat dan menangis), di jaman D.L. Moody manusia berduyun-duyun kembali kepada jalan yang benar, perlu kita memberi dampak yang nyata agar bangsa ini dapat berkenan di hati Tuhan, mulai dari kita dan jemaat kita sebagai penyambung lidah Allah di jaman yang suram ini.
Kiranya kita dapat menjadi tunas di mana Tuhan membangun kembali satu bangsa sesuai dengan covenant barunya (Yesaya 6:13)
Mikha 6:2, 6-10 :
Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan Tuhan, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab Tuhan mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia beperkara dengan Israel.
”Dengan apakah aku akan pergi menghadap Tuhan dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah Tuhan kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkan anak sulungku kerena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?”
”Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Dengarlah, Tuhan berseru kepada kota: adalah bijaksana untuk takut kepada nama-Nya: ”Dengarlah, hai suku bangsa dan orang kota! Masakan Aku melupakan harta benda kefasikan di rumah orang fasik dan takaran efa yang kurang dan terkutuk itu?