Jumat, 13 Juni 2008

Hormatilah Orang Tuamu

Hormatilah orang tuamu

Ef. 6:1-4

Candra Wijaya, Ev.

Perikop pembahasan kita berada pada acuan nasihat praktis Paulus guna memenuhi panggilan ilahi sebagai orang percaya dalam konteks keluarga. Pertanyaannya mengapa Paulus menyinggung soal keluarga? Khususnya tentang hormat menghormati orang tua? Secara tekstual ada tiga alasan mengapa Paulus menekankan pentingnya menghormati orang tua, yaitu:

1. Orang tua wakil Tuhan. Alkitab Terjemahan LAI “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian (Bdk. Kol. 3:20). Matthew Henry berkomentar pada nats ini Paulus hendak berbicara orang tua sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini. Dikatakan sebagai wakil Tuhan lantaran tugas orang tua tidaklah mudah. Mereka harus mendidik anak dalam ajaran dan nasihat dari Tuhan. Maka logika pemikirannya, orang tua yang membawa ajaran Tuhan tentu adalah wakil Tuhan atas ajaran dari Tuhan. Tidak heranlah jika seseorang membangkang atau tidak taat kepada orang tuan berarti ia tidak taat juga kepada Tuhan.

2. Perintah Allah langsung. Sangat tidak asing bagi kita bahwa menghormati orang tua adalah perintah Allah sejak jaman Musa di dalam hukum Taurat. Paulus disini hendak mengulangi kembali perintah tersebut sebagai tekanan penting bagi jemaat yang dimungkinkan mayoritas bukanlah keturunan Yahudi. Perintah ini penting mengingat intensitas Hukum Taurat yang berfungsi sebagai usus didacticus; mengajar tata cara prilaku moral bangsa Israel jauh pada masa Musa.

3. Memberi berkat bagi orang percaya. Paulus – masih dalam kajian Perjanjian Lama – menegaskan kembali bahwa menghormati orang tua mendatangkan berkat atas Janji Tuhan. Berkat ini meliputi rasa bahagia dan panjang umur. Tentu saja dapat dikatakan seseorang berbahagia adalah orang yang menghormati orang tuanya.

Livia, Ev.

Ada dua pengertian yang berbeda antara sikap taat (ay. 1) dan sikap hormat (ay. 2). Taat artinya wajib melaksanakan tuntutan yang diminta daripadanya. Hormat artinya melakukan tugas dengan penuh kasih kepada orang yang dilayaninya.

Sebagai seorang anak, ia harus taat kepada ortu. Namun demi mempertahankan sikap tersebut, tidak berarti ia harus membangkang kepada Allah. Demikian juga dengan seorang anak yang telah mencapai usia dewasa, tidak baik apabila ia berlaku kasar dan sewenang-wenang terhadap ortunya. Anak harus taat kepada ayah-ibu, hingga ia beranjak dewasa. Namun yang lebih penting lagi setiap orang harus tahu bahwa sikap hormat kepada ayah-ibunya adalah merupakan tanggung jawab seumur hidupnya.

Agus Susanto, Ev.

Paulus, dalam 1 Kor 4:15, “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu”. Perhatikan kata “bapa”. Guru belum tentu bisa menjadi bapa. Ada yang bisa mengajar tapi belum tentu bisa menjadi bapa. Dan sebaliknya, ada bapa tetapi belum tentu bisa menjadi guru.

Kata “mengajar” di sini memakai frase “bring them up”, berarti ada suatu tanggung jawab dari ortu untuk mengajar. Juga berarti “togetherness”, jika ada orang yang mengajar anak, tidak berarti ayah melepaskan tanggung jawab untuk orang lain mengajar tetapi ia juga turut mengajar.

Timoty Liem, Pdt.

Membandingkan: Ayat 2 dengan Kel. 20:12, “menghormati supaya panjang umur”. Ada implikasi yang diperoleh rasa hormat dari anak kepada orang tua: “supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi”. Manusia ingin panjang umur, bahagia, keadaan baik.

Siapa anak? Anak adalah benih dari orang tua. Orang tua ingin benih itu menjadi benih yang baik. Supaya generasi berikut lebih baik dan lebih takut kepada ortu. Anak itu adalah anugerah Tuhan (Maz 127:3). Ayah ingin anak itu berbahagia. Supaya orang tua berbahagia dan bangga.

Siapa bapa? Apa tugasnya? Bapa mendidik anak dengan kesabaran untuk membuka pikiran dan hati anak, bukan dengan amarah. Mendidik itu harus dengan kesabaran, caranya dengan membuka pikiran dan hati sehingga anak mengerti apa yang benar dari yang salah, baik dari yang tidak baik. Jalannya adalah dialog dengan anak-anak.

Tuti, Sdri.

Dua konteks: anak kepada ortu dan ortu kepada anak. Anak mesti menghormati ortu dan ortu harus mendidik dengan kasih. Mengapa mesti menghormati ortu? Karena tiga alasan: (1) Orang tua sebagai alat Tuhan; (2) Perintah Tuhan (3) Mendapatkan bahagia dan panjang umur.

Albert Rumbo, Pdt.

Paulus disini memberikan penekanan “inilah hukum yang pertama yang memiliki janji (dari sepuluh hukum)”, “supaya kamu akan diberkati”, yaitu dengan cara “menghormati ortu”. Menyembah dan menghormati itu berbeda. Anak bukan menyembah tetapi menghormati orang tua. Beberapa prinsip:

1. Tuhan bekerja melalui keluarga dan ortu bagian yang penting didalamnya.

2. Relasi antara ortu dengan anak. Kita mesti mendidik anak seperti yang Tuhan mau bukan seperti yang kita mau. Menghormati berarti memberikan tempat yang utama dalam hidup ini.

Fu Dong Qiang, Ev.

Ayat 1, “taatilah …”. Paulus megajarkan bagaimana anak-anak harus taat kepada ortu. Tetapi bukan asal “menurut”. Sebagai anak-anak Tuhan harus ada satu kebenaran yang mantap. Dan dari dasar inilah anak-anak harus taat kepada orang tua.

Pada waktu seorang anak taat kepada ortu, maka ada berkatnya, yaitu “panjang umur”. Tetapi panjang umur tetap ada batasnya. Kita mesti memikirkan panjang umur itu dari sudut pandang Alkitab. Berkat yang sesungguhnya adalah “kita ada di tangan Tuhan”. Arti dan nilai manusia bukan bergantung pada berapa panjang hidup di dalam dunia ini.

Alkitab mengajarkan “jangan memukul anak pada waktu marah”. Hukuman dengan kesalahan harus sepadan. Hukuman itu tujuannya supaya anak bisa bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Dididik atau diajar ialah memberikan bekal untuk kehidupannya, juga memberikan kecukupan untuk hal-hal rohaninya.

Budi, Ev.

Setiap laki-laki pasti menjadi bapa, tetapi tidak setiap laki-laki berfungsi sebagai bapa. Tiga jenis bapa: (1) Disiplin tinggi belaskasihan sangat rendah = ayah yang otoriter; (2) Belaskasihan tinggi, disiplin rendah = menjadikan anak gampangan; (3) Antara disiplin dan belaskasihan seimbang.


Irene, Ev.

Untuk mentaati ortu sangat gampang, karena dididik dengan baik, tanpa kekerasan. Tetepi ternyata tidak semua orang tua mendidik dengan cara yang sama, bisa mendidik dengan baik. Kenyataannya adalah banyak yang dididik dengan keras dan kasar.

Namun demikian, sebagai sebagai orang kristen kita harus taat kepada orang tua. Karena tiga alasan,

1. Anak-anak itu adalah kepunyaan Allah. Jadi kekuatan kita itu dari Allah.

2. Anak-anak sebagai pengikut Kristus.

3. Untuk melakukan kebenaran dan sebagai tugas kekristenan.

Tan Giok Lie, Ev.

Orang tua adalah wakil Tuhan. Ia adalah orang yang ditonton anak-anak. Anak-anak melihat tingkah lakunya, bukan huma kata-katanya. Kalau tidak selaras, maka sebagai konsekuensi logis anak akan seperti itu.

Ada tiga jenis anak: easy child, difficult child, easy to warm up. Difficult child, biasanya anak dengan dua hal, Nantang dan Lupa. Ortu yang bijaksana, mesti menset prinsip dengan bijaksana, misal aturan “begini” maka ortu juga mesti taat dengan aturan tersebut. Jika anak menantang biasanya mesti ada disiplin. Kalau ortu tidak pernah memukul mungkin karena anak easy child. Bagaimana dengan yang difficult? Harus memukul. Catatan: (1) Jangan dengan tangan, tetapi dengan alat. (2) Memukul ditempat aman. (3) Tujuannya supaya anak jera dan tidak mengulangi kesalahan.

Jangan membangkitkan amarah artinya artu fair. Perlakukan yang tidak fair itu yang membangkitkan amarah anak. (Catatan tentang umur panjang: di Indonesia ada 900 ribu lansia. Cuma 1% lansia sejahtera; 3,5% mandiri; 5% masih bekerja; 35% sakit atau meinggal; 54% masih bergantung pada anak. Masa lansia adalah masa purna bakti harus disiapkan dengan biak).

Febe, Sdri.

Ini adalah Dasar kehidupan Kristen. Ada dua bagian: (1) Tanggung jawab anak, “taat”; (2) Tanggung jawab bapak, “mendidik”.

Bao Qiang, Ev.

Anak-anak harus menghormati ortu. Jika ortu mau dihormati tergantung bagaimana ortunya. Di dalam ayat 4 ada tiga macam tugas ortu:

1. Mengajar. Jika mendidik harus sesuai dengan ajaran Tuhan sendiri.

2. Memperingati.

3. Memelihara. Merupakan satu tanggung jawab setiap ortu. Orang tua dan anak itu setara. Bukan karena ortu yang memelihara anak lalu ortu lebih tinggi.

Mulyawan, Sdri.

Apa perbedaan “perintah menghormati ortu” antara konsep kekritenan dengan konsep budaya pada umunya? Seorang bapa adalah seorang imam yang membawa keluarga kepada Tuhan. Berkatnya adalah berkat yang maksimal baik secara kuantitas (panjang umur) dan secara kualitas (bahagia).

Agus Setiono, Ev.

Penghormatan adalah bagian kasih yang penting. Salah satu dosa terbesar yang pernah dilakukan manusia adalah tidak hormat kepada ortu. Sebagaimana ayah taat kepada Tuhan demikianlah anak seharusnya taat kepada ortu.

Ketaatan kepada ortu membawa kepada berkat: bahagia dan panjang umur. Karena ketidaktaatan kepada orang tua adalah pemberontakkan kepada Allah.

Badrin Susanto, Ev.

Ada dua hal:

1. Hormat kepada ortu merupakan bukti bahwa kita dewasa di dalam Kristus. Jika anak-anak dididik yang sungguh hidup dalam Kristus maka karakter Kristus ada di dalam dirinya.

2. Hormat kepada ortu akan mendatangkan kebahagiaan. Ams 23:14-15. Jika kita hormat kepada ortu, pertama yang berbahagia adalah Tuhan karena itu adalah perintah Tuhan. Yang kedua, yang bahagia adalah ortu. Dan ketiga anak itu sendiri yang bahagia karena dia akan menikmati berkat-berkat kekayaan dalam keluarga itu.

Arson Arunde, Ev.

Tiga hal,

1. Bicara mengenai tanggung jawab anak, yaitu “taat kepada ortu” (ay 1).

2. Bicara mengenai tanggung jawab ortu, yaitu “mendidik anak-anak” (ay 4).

3. Ukuran anak taat kepada ortu adalah “di dalam Tuhan” (ay 1); dan ukuran didikan ortu kepada anak-anak adalah “di dalam Tuhan” (ay 4)

Yanto Sugiarto, Ev.

Dua pertanyaan,

1. Mengapa kita menghormati? (1) Karena Tuhan yang memerintahkan. Setiap perintah yang dilanggar pasti ada konsekwensi yang diterima. (2) Karena melalui mereka kita hadir. (3) Karena merekahlah yang memeliharan dan mencukupi kebutuhan kita.

2. Bagaimana caranya? (1) Mentaati apa yang mereka perintahkan. (2) Harus belajar bicara yang santun kepada ortu. (3) Kita harus bangga atas kehadiran mereka meski ada banyak kekurangan mereka. (4) Berikanlah kasih dan perhatian dan hal-hal terbaik yang bisa kita berikan.

Yunedy Renaldo, Pdt.

Menghormati ortu gampang jika ortu mematuhi perintah Tuhan, memberikan teladan dan mengasihi. Jika tidak, bagi anak-anak sulit untuk menghormati.

Ada dua kata yang penting,

1. “Taat”. Anak-anak bisa taat atau tidak, tergantung kepada apakah perintah ortu itu bertentangan dengan perintah Tuhan atau tidak (Kis. 4:19).

2. “Hormat”. Menghormati itu adalah kewajiban. Ortu melakukan firman atau tidak kita harus menghormati.

Caleb Tong, Pdt.

Paulus di sini bicara tentang student of the Lord. Bicara tentang hubungan antara ortu dan anak, dan anak dan ortu. Dan harus ada kerja sama antara keduanya (Sejak pasal 5, Paulus bicara hidup dipimpin oleh Roh: bagaimana hidup suami-istri, keluarga dan hidup bermasyarakat, bersandar pada Tuhan dalam peperangan rohani).

Istilah “taat” (obey) = bukan hanya suatu kewajiban (duty), tetapi suatu hak istimewa (privilege). Batasnya adalah “di dalam Tuhan”. Berkat yang diperoleh adalah bahagia dan panjang umur. Kenyataannya, ada yang bahagia tetapi tidak panjang umur, tetapi ada yang panjang umur tetapi tidak bahagia. Maka dalam khotbah ini, kita mesti memberikan konsep hidup kekal.

Istilah “bring them up”. Bagaimana caranya? Nurturing them, memberi kecukupan dan yang terbaik kepada anak-anak.

Ada 6 hal yang penting dalam mendidik anak: Chestening = menegur, menghajar; Discipline = mendisiplin mereka; Instructing = mengarahkan; Trainning = melatih; Correcting = mengoreksi supaya tidak mengulang kesalahan; Consulting = berdialog dengan anak.

Soli Deo Gloria

Kelompok III