Jumat, 16 Mei 2008

Kasih Tanpa Rasa Takut

1 Yoh. 4:15-21

Hamba Tuhan 1

Kesulitan terbesar dalam mengasihi terletak dalam prakteknya, ketika kasih itu ingin dijabarkan dan dilakaukan. Biasanya ada benturan yang hebat karena dua hal:

1. Pertama, ada dua dunia yang berbeda. Ketakutan yang bersangkut paut dengan teror (kalau kita ada dalam dunia aman kasih kita ok-ok, namun pada saat kita keluar dari confortable zone maka akan ada teror). Kasih yang sempurna adalah kasih yang tanpa takut pada teror.

2. Kedua, adanya kasih yang tidak sempurna. Bagaimana kasih itu melimitasi kebendian-kebencian.

Kalau kedua benturan ini membuat kita takut mengasihi, maka itu akan menjadi sebuah hukuman, “katakutan mengandung (berisi) …” Kalau ini terjadi berarti menunjukkan adanya ketidakyakinan adanya kuasa Allah.

Aplikasi: Kasih yang tanpa rasa takut melampaui kejelekkan kepada keindahan. Seringkali ketika kita berinteraksi dengan orang lain maka sering kita terikat dengan kejelekkan (dan itu menjadi framework kita). Kasih itu tidak demikian. Kasih Allah selalu memunculkan keindahan ditengah kejelekkan. Karena di dalam kasih ada kemurnian.

Hamba Tuhan 2

Kasih yang sempurna (17) “melenyapkan ketakutan”. Hanya kasih Krtistus yang sempurna, karena totalitas hidupnya ada di tangan Bapa. Yohanes ingin membuktikan kasih Kristus sempurna karena dia rela menderita.

Hamba Tuhan 3

Hari penghakiman adalah hari yang paling ditakuti oleh orang Yahudi karena mereka akan bertemu dengan Kristus sebagai hakim. Tetapi kita tidak usah takut oleh karena ada kasih. Kasih itu apa? Allah di dalam kita dan kita di dalam Allah. Fakta Allah di dalam kita, kasih Allah yang sempurna sudah menyapa kita, dan fakta kita di dalam Allah melalui Roh Allah yang sudah diam di dalam kita, yang memampukan kita mengasihi Allah. Kasih Allah yang sempurna yang sudah kita miliki itu menjadi jaminan bahwa kita tidak akan mengalami penghukuman.

Aplikasi, kalau kekekalan itu saja sudah diberikan kepad kita, mengapa kita takut dengan realita hidup kita sekarang?

Hamba Tuhan 4

Kasih tanpa rasa takut,

1. Kita tidak takut akan perubahan. Dunia kita sedang ada dalam perubahan dalam politik, budaya, agama. Dalam perubahan kita tidak stagnasi, tetapi kita harus ada inovasi.

2. Mengatasi masalah perbedaan, misalanya perbedaan pendapat, kesukaan dan lain-lain. Dan dalam perbedaan itu kita harus memberikan kesempatan kepada orang untuk berkembang.

3. Bicara masalah pengorbanan dengan jiwa dan harta.

4. Masalah berani action. Jangan hanya tau situasi dan kita tidak bisa apa-apa. Mesti ada sesuatu yang orang kristen bisa lakukan untuk memberikan andil kepada masyarakat.

Hamba Tuhan 5

Dilihat dari kualitas dan kuantitas tulisan, Yohanes merupakan salah satu murid terpandai. Ia menentang berbagai ajaran sesat, termasuk dualisme. Di zaman sekarang ajaran dualisme muncul dalam kehidupan sehari-hari, misalnya masalah kasih dan ketakutan. Dua hal ini jangan didualismekan. Kasih pasti nyata dalam bentuk tidak takut. Kasih itu muncul dalam kehidupan sehari-hari dengan jelas dan pasti. Kasih yang tidak sempurna itu tidak ada. Kalau ada kasih pasti tidak takut, kalau ada ketakutan pasti tidak ada kasih.

Ada macam-macam ketakutan, misalnya ketakutan mengatakan kebenaran. Yohanes mengatakan, “inilah kasih itu …” (20),

1. Kasih itu tidak takut mengatakan kebenaran. Kebenaran itu keras, bukan kerena toleransi.

2. Kasih itu tidak takut memberikan yang terbaik (10).

3. Kasih itu tidak takut sakit, penderitaan, lelah, bahkan kematian demi kebenaran.

4. Kasih tidak takut penghakiman (10), “Yesus diberikan sebagai pendamaian kepada kita”. Tidak perlu dikejar-kejar oleh rasa bersalah.

5. Kasih tidak takut mengasihi. Kasih tak takut membangun (Oikodomeo) orang.

Hamba Tuhan 6

Dua hal menyangkut kasih dalam

1. Kedewasaan rohani. Kasih itu menjadi suatu fakta kedewasaan (pengenalan yang benar akan Allah, memiliki hati yang percaya yg penuh dan wujud ibadah kepada Allah).

2. Kasih dihubungkan dengan penghakiman

- mengatasi ketakutan terhadap penilaian Allah (penghakiman)

- kasih dan ketakutan tidak berjalan dalam waktu bersama

- sebaliknya kasih membuktikan: memiliki dan mengejar kebenaran, tidak membenci sesama dan proaktif mengasih.

Hamba Tuhan 7

Takut adalah kerena dosa. Dan di dalamnya tidak ada pengharapan. Moultman memberikan teologi pengharapan. Dasarnya, Yesus dan salibnya. Dia mengemukakan 4 pengharapan: Dari Allah, Bumi / alam semesta, Masing-masing pribadi, Sejarah.

Kita mengharapkan Allah, bumi baru, hidup kekal, ketika menghadapi akhir zaman. Oleh sebabitu, kalau ada Allah kita ada pengharapan. Visi ini juga diutarakan oleh Yohanes. Di dalam kasih tidak ada ketakutan, tiga hal:

1. Yesus telah menebus dari dosa.

2. Relasi kita dengan Allah dipulihkan.

3. Bersandarkan kepada Roh kita memiliki kesaksian hidup, Dia membentu kita untuk memiliki kesaksian hidup.

Hamba Tuhan 8

Ada 8 tipe orang tua (parenting style) dalam pengasuhan,

1. Ortu borju (gourmet style), mengasuh anaknya penuh ambisi, layaknya merawat karir dan harta mereka. Didikan ortu tipe ini akan melahirkan anak-anak model “superkids”.

2. Ortu intelek (college degree parents), sangat mengutamakan pendidikan anaknya. Mereka sering memaksakan keinginannya agar anaknya memasuki sekolah yang mahal dan bermutu. Mengenyam pendidikan sesuai dengan harapan ortu.

3. Ortu selebritis (gold medal parents), menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Ortu selebritis menginginkan anaknya untuk bersaing dengan orang lain.

4. Do-it your self parents, mengasuh anaknya secara alami. Semua dikerjakan oleh anak secara mandiri. Sebenarnya ortu tidak mau urus anak. Seakan-akan anak diberikan kemandiriran padahal tidak.

5. Ortu paraniot (outward bound parents), memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuannya sederhana, agar anak-anak kelak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Mereka selalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, sehingga sebenarnya tidak sengaja mendidik anak dalam kecurigaan.

6. Ortu instant (prodigy parents), ortu yang sukses dalam karir namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Karena itu, mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata dan memandang sekolah dengan sebenah mata. Sekolah justru sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anak.

7. Ortu ngerumpi (encounter group parents), merupakan ortu yang sangat menyenangi pergaulan. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai ortu.

8. Ortu ideal (milk and cookies parents), merupakan kelompok ortu dengan latar belakang masa kanak-kanak yang bahagia, masa kecil yang sehat dalam manis. Mereka cenderung hangat dan menyayangi anak-anak dengan tulus, peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.

Hamba Tuhan 9

Yohanes selalu mengatakan, “love is act”. Di dalam ayat 3 dia memberikan yang konkrit, “keeping His commandment”. Kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Persoalannya kita selalu gagal melakukan apa yang harus kita lakukan. Kita selalu tidak taat kepada firman Allah.

Hamba Tuhan 10

Kalau kasih sudah memenuhi seseorang maka tidak ada tempat bagi ketakutan atau teror. Kita tidak takut di bawa kepada suasana ketakutan. Sebagaimana Yesus hidup di dunia, kita juga bisa hidup seperti itu. Yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus, membawa keluar kita dari ketakutan. Dan kasih itu mesti bertumbuh. Kalau kita berani menghadap takhta Tuhan, maka kita tidak ada rasa takut.

Ada 4 penekanan,

1. Kita hidup dalam Allah, berarti kita hidup dalam kebenaran yang menyingkirkan semua kepalsuan.

2. Kita hidup dalam firman, firman itu yang menghidupkan roh kita sehingga punya keperkaan apakah itu berasal dari Allah atau dari si jahat.

3. Hidup dalam terang. Terang itu masuk, gelap itu hilang. Di mana ada terang di situ tidak ada gelap. Dalam konteks Yohanes, “Dimana ada kasih tidak ada ketakutan”.

4. Kita hidup dalam kasih. Ada tiga istilah: belum komplite, belum perfect, belum matur. Akan dilengkapi oleh Tuhan, sampai menjadi matang.

4 hal yang perlu penekanan: Iman yang lebih kuat; Keberanian yang lebih mantap; Hikmat yang lebih sempurna; dan Kuasa atau kemapuan untuk menghadapi segala sesuatu.