Jumat, 15 Februari 2008

Petani yang Bijak

Petani yang Bijak

(Yakobus 5:7-8)

Ev. Badrin

Surat Yakobus ditujukkan kepada ke12 suku di perantauan, yang sedang tertekan dan mengalami pencobaan. Ada 5 hal orang dewasa secara rohani : Pasal 1. orang yang sabar dalam menghadapi segala cobaan, baik dari dalam maupun luar; Pasal 2: tidak berhenti melakukan kebenaran; Pasal 3: menguasai lidah (lidah tiu kecil tetapi terkadang u dikuasai, dan orang yg dewasa mampu dengan kuasa Tuhan mengendalikan); Pasal 4: selalu membawa damai, bukan pertengkaran; Pasal 5: tekun berdoa dan sabar dalam segala situasi dan kesulitan. Khusus pasal 5, Yak berbicara tentang kedatangan Tuhan Yesus, ada 2 kata ayat 7 dan 9.

Ada 2 sikap yang harus ada dalam menanti: sabar dan tekun. Sabar dilukiskan seperti petani yang bijak, sementara orang yang tekun dilukiskan oleh nabi-nabi dalam PL.

Sabar bukan berarti santai tetapi terus bekerja menantikan kedatangan Kristus; petani yang sabar menanti. Bln September dan Oktober musim hujan sehingga petani Yahudi harus sabar, kurang lebih 7 bln petani sabar menantikan masa tuaian

Harus sabar karena: 1. Orang yang sabar pasti memiliki keteguhan hati hati (ay.8), tidak pernah terkontaminasi dengan berbagai situasi; 2. Tidak bersungut-sungut dan tidak saling mempersalahkan (ay.9); 3. Akan menikmati kebahagiaan sebagai pahala yang Tuhan sediakan (ay. 10); 4. Akan menikmati kuasa dan belas kasihan dari Allah (ay.11).

Ev. Ong Sie Kok

Diajak belajar bersama TUhan untuk menabur dimana Tuhan sudah bekerja terlebih dahulu. Beberapa hal yang dipelajari: petani harus menabur di tempat yang tepat, 2. Dengan cara yang tepat, 3. Momen yang tepat, 4. Dengan sikap rohani yang tepat

Pdt Agus Gunawan

Konteks: berbicara tentang orang-orang Kristen yang susah. Bagaimana mengikuti Tuhan? Seperti petani yang menanti dan bekerja, sekalipun ada porsi yang bukan bagiannya. Petani menanti terikat oleh waktu, mis. Hujan ditentukan oleh waktu, dan dia harus menanti. Metafor petani menggambarkan supaya 1. jemaat yang menderita bertekun di dalam Tuhan; 2, bersabar di dalam ketekunan, ada 2 hal : determinasi (ketetapan hati) dan konsistensi, 3. Bersabar di dalam penderitaan (konteks: penderitaan di dalam jemaat), sebagai contoh adalah nabi Ayub yang saleh dan menderita bukan karena kesalahannya sendiri, Ayub dipilih sebagai contoh supaya jemaat mengikut Tuhan seperti Ayub.

Ev. Danny Boy

Petani yang bijak: 1. petani tahu ilmu pengetahuan bertani secara otodidak, 2. memiliki ketekunan dan kesabaran, menantikan jalan keluar dari Allah bukan dari manusia

Pdt. Handi Kurniawan

Sabar dalam berbagai aspek dalam menanti kedatangan Tuhan, ada harga yang harus dibayar mahal. Petani yang bijak: 1. Bisa memahami adanya penggeseran/ perubahan arus zaman, 2. Harus memahami adanya peniadaan atau penghapusan istilah-istilah vital dalam kehidupan kita, sebagai contoh Alah yang El-Shaddai menjadi uang yang El-Shaddai, dosa diganti sebagai hak asasi manusia. 3. Memahami posisi kita sekarang ini, 4. Memahami pemberita Injil.

Ev. Hengky

Issue: kesabaran, dan ada 2 aspek: aspek yang menyangkut waktu: sekarang dan akan datang. Waktu sekarang adalah suatu respon yang dialami, akribos =hidup yang bijak yang dialami diperhatikan dengan seksama = memiliki ketekunan, mengikuti proses, dan tidak gentar, sementara waktu yang akan datang; dikaitkan dengan iman: memegang janji Tuhan, keyakinan yang terbaik akan diterimanya

Ev. Freda Adjan

Ada tiga hal: 1. Sabar itu punya tujuan: sampai Tuhan datang (sabar dalam menantikan musim, dia bekerja); 2. Sabar dalam meneguhkan hati (jangan bersungut-sungut); 3. Sabar sambil tekun (tekun karena adanya pengharapan kepada Tuhan yang penyanyang dan penuh belas kasihan

Pdt. Timothy Liem

Sharring pengalaman ketika praktek dua bulan di desa. Penderitaan adalah harga yang harus dibayar sepanjang hidupnya. Petani orang yang bahagia bukan secara materi tetapi bahagia karena menghargai dirinya sendiri. Petani yang bijak adalah orang yang menjalani hidup apa adanya, tidak menuntut. Bdk. Mat. 28:30, belajarlah kepada-Ku… kalau bisa menerima.

Ev. Bong San Bun

2 kata sabar (makrotuia) dan tekun (hupomone), beda makna sedikit artinya, sabar: tidak cepat marah, balas dendam, sedangkan tekun: tidak cepat mundur. Ayub orang tekun tapi kurang sabar, dia cepat marah.

Pdt. Hanna

Ujian iman menghasilkan ketekuan dan ketekunan itu harus sempurna. Contoh Yoh pembaptis ragu apakah TY adalah orang yang dia nantikan atau bukan karena kondisi yang dia alami; padahal dia pernah mendengar dan menyaksikan apa yang Tuhan Yesus lakukan.

Pdt. Samuel Suwandi

Bdk. Ayub. 42:5; bagian akhir kitab Ayub setelah Ayub mengalami penderitaan. Ayat yang merupakan kesimpulan yang membuat Ayub mengerti rencana Tuhan. Ayub mengenal Allah bukan hanya kata orang tetapi melihat langsung. Menurut J.I. Packer Yang dialami Ayub dengan Allah “knowing God” dia betul2 mengenal Allah secara personal apa yang dikehendaki-Nya setelah melewati berbagai hal.

Pdt. Christiay Cohen

Semboyan dari tukang sol sepatu: sabar, betah, ojo dumeh

Kesabaran selalu menyimpan harapan, Alkitab mengajarkan bukan fatalistik. Lawan dari kesabaran adalah masa bodo, pasrah, kehilangan kekuatan

Pdt. Caleb Tong

Di dalam penaburan dan penuaian, seorang petani mengharapkan hasil, maka dengan tekun ia menantikan hujan gugur, namun dalam konteks kedatangan Tuhan Yesusia mengetahui bahwa benih tanah hujan kesempatan dan berkat yang ia terima semata-mata adalah berkat anugerah Tuhan saja. Dalam perikop ini mengangkat beberapa hal:

  1. Hujan gugur dan hujan semi: bila Tuhna Yesus belum datang cocok tanam tetap harus dijalankan bila musim gugur tidak berhasil masih ada kesempatan di musim semi ini merupakan harapan yang positif.
  2. Sebelum hujan gugur tiba mungkin terjadi masing2 yang tidak diinginkan karena ketidakberhasilan dapat menjadi masalah timbulnya sengketa dalam keuntungan2, namun sekalipun dijalankan oleh tahun pencobaan yang datang dari si jahat, seperti yang dialami oleh Ayub, namun ketekunan dalam kesabaran oleh alasan mengalihkan kita kepada hal yang remeh.
  3. Tatkala TY datang sekalipun belum saat tuaian tiba, pengadilannya di depan tahta bisa merupakan pengalaman: a. Karena dosa sebelum tuaian berhasil; b. Karena sikap dalam menjalankan tugas sebagai petani yang bijak.
  4. Harapan seorang petani merindukan tuaian ada 3 maksud yang indah, merupakan 3 jenjang yang berbanding: a. Mempersiapkan kebutuhan makanan dari hasil tuaian; b. Membagikan berkat yang berlimpah dari tuaian; c. Mendapatkan biji yang unggul untuk dipersiapkan pada masa mendatang. Petani yang bijak mempunyai triple concern dan yang utama adalah biji unggul yang diperolehnya.
  5. TY sudah diambang pintu dan akan datang kembali segera waktunya oleh banyak bagi kita, maka selaku petani yang bijak kita harus mengutamakan yang vital dan prima, karena menantikan masalah itu memang baik, tetapi merindukan pemberi berkat dari berkat itu sendiri sangat berbeda.
  6. Dalam konteks ini seseorang petani yang sabar melantik tuaian, merindukan musim hujan, perlu dilengkapi dengan peneguhan iman yang keeping up your caunjed karena nabi2 PL bahkan para rasul orang2 memiliki jiwa yang sama.